EDUPEDIKA Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran https://journal. id/index. php/edupedika DOI: Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 ISSN 2829-4319 ETNOMATEMATIKA: EKSPLORASI POLA GEOMETRIS DALAM MOTIF KAIN TENUN SASAK Aulia Nur Azima1*. MarAoatun Sholihah2. Mutiara Dwi Anjani Putri Wahyudi3. Dea Mustika4, 1,2,3,4 Pendidikan Matematika. FKIP Universitas Mataram *Corresponding Author:azymaaulia@gmail. Kata Kunci: Etnomatematika. Tenun Sasak. Pola Geometris. Abstrak: Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya tercermin dalam tradisi menenun masyarakat Sasak di Lombok. Nusa Tenggara Barat. Kain tenun Sasak bukan hanya memiliki nilai estetika dan filosofi, tetapi juga menyimpan konsep-konsep matematis yang dapat dianalisis melalui pendekatan etnomatematika. Dalam konteks ini, etnomatematika menjadi jembatan antara warisan budaya dan ilmu matematika formal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep geometris yang terkandung dalam motifmotif kain tenun Sasak, seperti Subahnale. Rangrang. Bintang Empat, dan Kabut. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif berpendekatan etnografi melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap pengrajin tenun di Desa Sukarara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif-motif tersebut mengandung prinsip-prinsip matematika seperti simetri lipat dan putar, transformasi . ranslasi, refleksi, rotas. , serta pola fraktal. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Sasak telah menerapkan konsep-konsep matematika secara intuitif dalam proses menenun. Selain memperkaya pemahaman tentang budaya lokal, hasil penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan kain tenun sebagai media pembelajaran matematika yang kontekstual, sehingga siswa dapat memahami materi secara lebih konkret dan bermakna. Keywords: Ethnomathematics. Sasak geometric patterns. Abstract: Indonesia is known as a country with a rich and diverse culture, one of which is reflected in the weaving tradition of the Sasak people in Lombok. West Nusa Tenggara. Sasak woven cloth not only has aesthetic and philosophical value but also contains mathematical concepts that can be analyzed through an ethnomathematics In this context, ethnomathematics serves as a bridge between cultural heritage and formal mathematics. This research aims to explore the geometric concepts contained in the motifs of Sasak woven fabrics, such as Subahnale. Rangrang. Bintang Empat, and Kabut. The research was conducted using a qualitative method with an ethnographic approach through in-depth interviews, participatory observation, and documentation of weavers in Sukarara Village. The research results show that these motifs contain mathematical principles such as fold and rotational symmetry, transformations . ranslation, reflection, rotatio. , and fractal patterns. These findings indicate that the Sasak community has intuitively applied mathematical concepts in the weaving process. In addition to enriching the understanding of local culture, the results of this research also open up opportunities to use woven fabrics as a contextual medium for teaching mathematics, allowing students to grasp the material in a more concrete and meaningful way. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keberagaman suku, budaya, adat istiadat, dan agama atau kepercayaan yang dianut (Zenobia, 2. Begitu pula dengan Pulau Lombok yang merupakan salah satu wilayah di Nusa Tenggara Barat. Suku yang ada di Pulau Lombok bernama suku Sasak. Di dalam suku Sasak, terdapat banyak sekali budaya yang sampai saat ini masih EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 dipertahankan keberadaannya. Salah satu warisan budaya yang kaya dan memiliki nilai historis serta estetika tinggi terutama bagi Masyarakat suku Sasak ini adalah kerajinan kain tenun khas Sasak . ain songke. (Qatrunnada dkk. , 2. Kerajinan kain tenun Songket ini merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh Masyarakat suku Sasak yang disebut Tradisi bertenun. Selain sebagai sebuah tradisi. Kerajinan kain tenun Songket dapat dijadikan sebagai salah satu usaha yang dapat memberikan pendapatan bagi masyarakat sehingga kerajinan kain tenun Songket sangat penting untuk dilestarikan (Fitri, 2. Proses pembuatan kain tenun Songket ini membutuhkan keterampilan, kesabaran dan pengetahuan mendalam mengenai kain tenun tradisional. Menurut Marsigit . alam Hastuti, 2. Etnomatematika merupakan suatu ilmu yang mengombinasikan matematika dan budaya serta mengeksplorasi hubungan diantara keduanya. balik keindahan kain tenun songket, tersimpan kekayaan simbolik dan filosofi yang tertuang dalam setiap motif, khususnya pada pola-pola geometri. Setiap pola-pola geometris yang dihasilkan, mulai dari bentuk dasar seperti garis, lingkaran, hingga pola yang lebih kompleks memiliki makna dan fungsi Pola geometris yang muncul dalam kain tenun tersebut mencerminkan berbagai konsep matematika, seperti simetri, transformasi, dan fraktal (Zahara dkk. , 2. Dengan memahami etnomatematika dalam kain tenun Songket, kita dapat melihat bahwa matematika bukan hanya ilmu yang abstrak dan teoritis, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan budaya dan kehidupan masyarakat (Susar & Mulyatna, 2. Pendekatan ini juga membuka peluang untuk mengembangkan metode pembelajaran matematika yang lebih kontekstual dan berbasis budaya, sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep matematis dengan lebih mudah melalui contoh nyata dari warisan budaya mereka sendiri (Rohviana & Pardi, 2. Dari uraian di atas maka fokdrsus permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sejarah pembuatan kain tenun Songket dan penerapan pola geometri dalam motif kain tenun Songket. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui bagaimana sejarah pembuatan kain tenun Songket serta penerapan pola geometri dalam motif kain tenun Songket tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi, yang bertujuan untuk memahami dan mendokumentasikan praktik tradisional menenun kain songket di Lombok serta aspek matematika yang terkandung di dalamnya. Metode etnografi dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali informasi secara mendalam mengenai sejarah, teknik, dan nilai budaya yang melekat dalam proses pembuatan kain tenun melalui interaksi langsung dengan pengrajin dan komunitas setempat. Pendekatan ini juga membantu dalam menginterpretasikan bagaimana konsep etnomatematika diterapkan dalam pola dan struktur motif kain yang diwariskan secara turun-temurun. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Subjek dalam penelitian ini adalah para pengrajin kain tenun di Desa Sukarara yang memiliki pemahaman luas mengenai sejarah dan teknik menenun. Pemilihan subjek dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan individu yang telah lama berkecimpung dalam dunia tenun dan memahami berbagai aspek dalam proses pembuatannya. Hal ini mencakup sejarah perkembangan kain polos hingga munculnya motif-motif khas seperti Subahnale, yang memiliki makna religius dan estetis dalam masyarakat Sasak (Musodiqoh & Kusno, 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tentang sejarah perkembangan motif, teknik penenunan, serta filosofi yang terkandung dalam kain songket Lombok. Observasi partisipatif dilakukan dengan menyaksikan langsung proses menenun, mulai dari pemilihan bahan, penyusunan pola, hingga tahap akhir penyelesaian kain. Dokumentasi berupa foto dan catatan lapangan digunakan sebagai bukti pendukung untuk memperkuat hasil penelitian. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengikuti model analisis kualitatif interaktif yang terdiri dari empat tahap utama, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan secara berulang untuk memastikan akurasi informasi yang diperoleh. Data yang relevan kemudian direduksi dengan memilah informasi yang berkaitan dengan aspek etnomatematika dalam motif tenun. Penyajian data dilakukan dalam bentuk deskripsi naratif yang menghubungkan antara konsep matematika dan motif-motif geometris dalam kain tenun. Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola utama dalam penerapan etnomatematika pada kain tenun Sasak. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas mengenai keterkaitan antara tradisi lokal dan konsep matematika, serta mendukung pelestarian budaya melalui pendekatan ilmiah. Selain itu, hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada dunia pendidikan dengan mengintegrasikan konsep etnomatematika dalam pembelajaran matematika berbasis budaya lokal, sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep matematika dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan mereka. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan pak Adi, seorang narasumber yang ada di desa Sukarara. Lombok Tengah. Kain tenun yang dihasilkan oleh suku Sasak di Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat menyimpan unsur-unsur matematika dan filosofis yang dapat dijadikan sumber belajar. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Peneliti : Bagaimana sejarah pembuatan kain tenun yang ada di Lombok? Subjek : Pada zaman dahulu nenek moyang di pulau Lombok tidak memiliki pakaian untuk menutup diri. Sehingga nenek moyang di pulau Lombok membutuhkan pakaian untuk melindungi diri dari cuaca sebagai bagian dari kebutuhan hidup dan budaya mereka. Sejak saat itu, mereka mengembangkan keterampilan menenun dari serat alami. Jika tidak ada kain tenunan ini mungkin saja nenek moyang kita dahulunya akan telanjang. Nenek moyang kita sudah sangat lama melakukan pembuatan kain tenun tersebut, kain pertama yang di tenun nenek moyang kita yaitu kain polos tanpa motif. Pada awalnya, nenek moyang hanya membutuhkan kain sebagai pelindung tubuh yang dapat melindungi tubuh mereka dari berbagai macam cuaca. Sehingga mereka mulai mencoba menenun kain sederhana dari serat alami tanpa hiasan atau pola yang rumit. Seiring berjalannya waktu, terciptalah kain pertama dengan motif yang dibuat oleh nenek moyang di pulau Lombok yaitu motif subahnale. Hal ini didapatkan dari hasil wawancara yang dilakukan, yaitu: Peneliti : Apa motif pertama yang dibuat dalam kain tenun songket? Subjek : Kain pertama yang di tenun nenek moyang kita yaitu kain polos tanpa motif. Sehingga seiring berjalannya waktu, motif Subahnale diyakini sebagai salah satu motif pertama yang dibuat oleh nenek moyang di pulau Lombok. Motif ini berasal dari tradisi menenun masyarakat Sasak di Lombok dan memiliki pola khas yang menyerupai tulisan Arab AuSubhanallah,Ay sehingga dinamakan Subahnale. Motif Subahnale merupakan bagian dari warisan budaya yang sangat dihormati oleh masyarakat Sasak. Motifnya bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka. Peneliti : Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu buah kain tenun? Subjek : Proses atau waktu yang dibutuhkan dalam menenun tergantung pada motif yang akan dibuat, contohnya seperti kain motif subahnale ini termasuk motif yang sulit dan memerlukan waktu yang lumayan lama hingga 3 bulan lebih untuk menjadi sebuah Sedangkan, untuk kain dengan motif yang mudah contohnya kain motif rangrang hanya memerlukan waktu 1 minggu untuk menjadi sebuah kain. Pada kain songket yang memiliki motif seperti belah ketupat, segiempat, atau pola geometris lainnya pada proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan teknik yang digunakan. Secara umum, pembuatan kain songket bisa memakan waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Peneliti : Apakah ada faktor yang mempengaruhi lama pengerjaan? Subjek : Faktor yang mempengaruhi lama pngerjaan yaitu. Keahlian pengraji. Pengrajin yang sudah berpengalaman bisa bekerja lebih cepat dibandingkan pemula. Tingkat Kerumitan Motif. Motif sederhana mungkin bisa selesai dalam hitungan minggu, sedangkan motif rumit dengan detail kecil bisa membutuhkan waktu lebih lama. Ukuran Kain. Semakin besar kain yang dibuat, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Ada empat motif kain tenun yang akan dibahas dalam karya ilmiah ini, yaitu motif subahnale, motif rangrang, motif bintang empat, dan motif kabut yang masing-masing akan dibahas hubungannya dengan konsep geometri, simetri, transformasi, dan fraktal sebagai berikut: Motif Subahnale Motif Subahnale merupakan motif kain songket yang umum bisa ditemukan di desa Sukarara dan juga motif ini sebagai motif pertama yang dibuat oleh masyarakat Suku Sasak (Turmuzi dkk. , 2. Dalam proses pembuatan motif subahnale membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 2 minggu sampai 3 bulan. Motif ini memiliki bentuk yang menyerupai bunga ceplok yang dikelilingi oleh motif geometris seperti sarang lebah yang disebut sangkar. Selain itu, motif songket Subahnale juga dilengkapi dengan gambar- gambar flora dan fauna, seperti bunga Remawe, burung merak, anggrek, dan lainnya. Makna dalam motif ini berasal dari kata "Subhanallah", yang merujuk pada penghargaan kepada Tuhan atas keindahan dan keagungan ciptaan-Nya (Putri dkk. , 2. Gambar 1. Motif Subahnale Dalam motif subahnale terdapat pola geometri yaitu transformasi. Dimana dalam motif subahnale ini memiliki pola yang berulang. Pola ini biasanya dibuat dengan teknik tenun yang memastikan setiap pola motif dipindahkan secara sejajar dalam jarak yang sama, menciptakan efek pengulangan yang harmonis. Terlihat jelas pada motif ini muncul berulang atau motif EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 yang sama akan muncul kembali di posisi lain dengan jarak yang tetap, baik ke samping maupun ke bawah. Pergeseran ini mencerminkan konsep translasi dalam matematika, di mana suatu objek dipindahkan tanpa mengalami rotasi atau perubahan skala. Pola berulang akibat translasi ini tidak hanya memberikan keindahan visual tetapi juga mencerminkan keteraturan dan keseimbangan dalam desain kain songket, yang merupakan ciri khas dari kain tradisional khas Suku Sasak ini. Gambar 2. Analisis Matematika pada Motif Subahnale Motif Rangrang Motif kain tenun Rangrang berasal dari Sasak di Lombok. Nusa Tenggara Barat. Kain tenun ini memiliki ciri khas berupa pola geometris yang unik dengan susunan warna mencolok, seperti merah, kuning, biru, hijau, atau ungu. Pola dalam motif Rangrang sering berbentuk segitiga yang tersusun berulang, menciptakan kesan celah atau "berlubang," yang dalam bahasa Sasak disebut "rangrang. " Secara filosofis, motif Rangrang melambangkan ketangguhan, kebersamaan, dan semangat perempuan Sasak dalam menjalani kehidupan. Tenun ini umumnya digunakan dalam upacara adat atau sebagai bagian dari pakaian tradisional (Efendi dkk. , 2. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Gambar 3. Motif Rangrang Dari segi matematika, motif kain tenun Rangrang memiliki pola geometris yang dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep-konsep dasar geometri kepada siswa. Pola segitiga yang berulang dalam motif ini dapat membantu memahami konsep seperti simetri, pencerminan, dan pengulangan pola (Junaidi dkk. , 2. Selain itu, garis-garis lurus dan sudut yang terdapat dalam motif ini dapat digunakan untuk menjelaskan konsep garis lurus dan bentuk dua dimensi. Gambar 4. Analisis Matematika pada Motif Rangrang Motif Bintang Empat Motif Bintang Empat merupakan salah satu motif khas dalam kain tenun tradisional Lombok yang menampilkan pola berbentuk bintang dengan empat sudut yang tersusun secara Pola ini biasanya dipadukan dengan warna-warna cerah dan kontras, seperti kuning, merah, biru, dan hijau, menciptakan tampilan yang dinamis dan penuh energi. Secara filosofis, motif ini melambangkan keseimbangan, harmoni, serta ketangguhan masyarakat Sasak dalam menjalani kehidupan (Rispawati, 2. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Gambar 5. Motif Bintang Empat Dari segi matematika, motif Bintang Empat memiliki banyak unsur geometri yang Bentuk bintang yang muncul dalam motif ini merupakan gabungan dari segiempat dan segitiga, sehingga dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep dasar geometri dua dimensi (Fauzi & Setiawan, 2. Selain itu, motif ini juga memiliki sifat simetri yang kuat. Setiap bintang dalam pola kain memiliki simetri putar sebesar 90A atau 180A, tergantung pada orientasi desainnya. Selain simetri putar, terdapat juga simetri refleksi, yang berarti motif ini dapat direfleksikan terhadap garis tertentu tanpa mengubah bentuknya. Konsep transformasi geometri juga terlihat jelas dalam motif ini. Pola bintang yang berulang menunjukkan adanya translasi atau pergeseran dalam jarak yang tetap di seluruh kain. Selain itu, beberapa pola bintang juga tampak mengalami rotasi atau perputaran, memberikan variasi dalam desain keseluruhan. Dengan berbagai konsep geometri yang terkandung di dalamnya, motif Bintang Empat tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya, tetapi juga bisa menjadi media pembelajaran matematika yang menarik. Melalui motif Bintang empat, siswa dapat lebih mudah memahami konsep pola, simetri, serta transformasi geometri (Sabilirrosyad, 2. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Gambar 6. Analisis Matematika pada Motif Bintang Empat Motif Kabut Motif Kabut dari Lombok adalah salah satu motif tenun tradisional yang memiliki keunikan dalam pola dan maknanya (Nurhalimah dkk. , 2. Secara visual, motif ini sering menampilkan pola belah ketupat yang tersusun secara berulang, dengan variasi hiasan di dalamnya, menyerupai kabut yang menyelimuti pemandangan. Dalam perspektif geometri, motif ini dapat dianalisis melalui berbagai konsep seperti simetri, transformasi, dan fraktal. Gambar 7. Motif Kabut Dari segi simetri, motif Kabut menunjukkan simetri refleksi . karena pola belah ketupat dan ornamen di dalamnya memiliki pasangan yang simetris di sepanjang sumbu vertikal dan horizontal. Selain itu, terdapat simetri rotasi dalam beberapa variasi motifnya, di mana elemen-elemen di dalam belah ketupat terlihat berputar dalam pola tertentu. Dari perspektif transformasi geometri, motif ini banyak menerapkan translasi . dalam EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 susunan pola yang berulang secara teratur. Hal ini menciptakan efek visual yang harmonis dan konsisten di seluruh kain. Selain itu, adanya pola yang lebih kecil di dalam belah ketupat utama juga menunjukkan konsep fraktal, yaitu pengulangan pola dalam skala yang lebih kecil, mencerminkan keteraturan matematis yang ditemukan di alam. Motif Kabut ini tidak hanya memperkaya estetika kain tenun Lombok tetapi juga dapat digunakan dalam pembelajaran konsep geometri, terutama dalam memahami pola, simetri, dan transformasi (Hastuti dkk. , 2. Keteraturan pola ini menunjukkan bagaimana seni tradisional dan matematika saling berkaitan dalam menciptakan desain yang indah dan Gambar 8. Analisis Matematika pada Motif Kabut KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kain tenun Sasak tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya yang tinggi tetapi juga mengandung konsep-konsep matematika yang dapat dianalisis melalui pendekatan etnomatematika. Berbagai motif seperti Subahnale. Rangrang. Bintang Empat, dan Kabut mencerminkan prinsip-prinsip geometri seperti simetri, transformasi, fraktal, dan pola berulang. Temuan ini menegaskan bahwa matematika tidak hanya hadir dalam dunia akademik tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya dalam warisan budaya mereka. Selain itu, etnomatematika dalam kain tenun Sasak dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan bagi siswa, sehingga mereka dapat memahami konsep matematika dengan cara yang lebih menarik dan bermakna. DAFTAR REFERENSI Budiarto. Masruroh. Azizah. Munthahana. Awwaliya. Nikmah. , & Yusrina. Etnomatematika Teori. Pendekatan. Dan Penelitiannya. Zifatama Jawara. dAoAmbrosio. Ethnomathematics and Its Place in the History and Pedagogy of Mathematics. For the Learning of Mathematics, 5. , 44Ae48. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Deda. , & Amsikan. Geometry concept on the motifs of woven fabric in Kefamenanu Journal of Research and Advances in Mathematics Education, 4. , 23Ae30. Efendi. Sudarmawan. & Supir. Tenun Kain Songket Di Desa Sukarara. Kecamatan Jonggat. Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha, 4. Article 1. https://doi. org/10. 23887/jjpsp. Fauzi. , & Setiawan. Etnomatematika: Konsep Geometri pada Kerajinan Tradisional Sasak dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 20. Article 2. https://doi. org/10. 30651/didaktis. Fitri. Suharsono. , & Suwendra. Pola Manajemen Pemasaran Produk Industri Kerajinan Kain Tenun Songket di Desa Sukarara Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha, 11. Article 2. https://doi. org/10. 23887/jjpe. Grasellia. Hutagalung. Putri. Mailani. , & Saragih. Etnomatematika Pada Ragam Kebudayaan di Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara. Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif, 8. Article 9. https://oaj. com/index. php/jpit/article/view/4765 Hastuti. Sutarto. Sri Supiyati. , & Zainuddin Untu. Etnomatematika: Eksplorasi Transformasi Geometri Tenun Suku Sasak Sukarara. Jurnal Elemen, 6. Article Intan. Etnomatematika: Eksplorasi Transformasi Geometri Tenun Suku Sasak Sukarara. Jurnal Elemen, 7. Article 2. Irawan. Septiani. , & Wulan. Analisis Etnomatematika Suku Sasak Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Matematika. Sebatik, 27. Article https://doi. org/10. 46984/sebatik. Junaidi. Wulandari. , & Hamdani. Subahnale dan Rang-rang Pembelajaran Matematika SMP. Griya Journal of Mathematics Education and Application, 1. , 660Ae668. https://doi. org/10. 29303/griya. Lestari. Jasmine. Rahayu. Sutanto. Zalianty. , & Putri. Melestarikan Identitas Lokal: Upaya Masyarakat Sade Mempertahankan Tradisi Wetu Telu Di Tengah Arus Globalisasi. Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformatif, 8. Article 12. https://oaj. com/index. php/jpit/article/view/7388 Maharani. Kesuma. Ridha. , & Nasuhan. Makna Simbolik Lipaq Saqbe Bedasarkan Sureq (Moti. Di Kabupaten Polewali Mandar. Pepatudzu : Media Pendidikan Dan Sosial Kemasyarakatan, 20. Article 1. https://doi. org/10. 35329/fkip. EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Mariani. Akbar. Ihsani. , & Candra. Pembelajaran Kultural Melalui Motif Kain Songket: Analisis Terhadap Karakteristik Masyarakat Suku Sasak. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7. , 5764Ae5773. Mendoca. Disnawati. , & Suddin. Eksplorasi Etnomatematika Pada Kain Tenun Masyarakat Desa Lamaksenulu. MATH-EDU: Jurnal Ilmu Pendidikan Matematika, 6. , 123Ae Musodiqoh. , & Kusno. Eksplorasi Etnomatematika pada Kain Songket Palembang. Jurnal Wahana Pendidikan, 12. , 167Ae182. https://doi. org/10. 25157/jwp. Nirwani. Pandangan Hidup Masyarakat Sasak dalam Leksikon Nama Sasakan: Sebuah Tinjauan Linguistik Antropologi. Deskripsi Bahasa, 1. Article https://doi. org/10. 22146/db. Nurhalimah. Wijaya. , & Bimantoro. Klasifikasi Kain Songket Lombok Berdasarkan Fitur GLCM dan Moment Invariant Dengan Teknik Pengklasifikasian Linear Discriminant Analysis (LDA). Jurnal Teknologi Informasi. Komputer. Dan Aplikasinya (JTIKA), 2. , 173Ae183. https://doi. org/10. 29303/jtika. Purbaningrum. Cahyani. Bilad. Wulandari. Dewi. Afifah. Rahma. Chofifah. Lestari. Arliana. Aufa. Aprilio. Aprilianda. Wulandari. Nuryana. Istinabila. , & Kusuma. Etnomatematika Beberapa Sistem Budaya di Indonesia. Zifatama Jawara. Putri. Hardiman, & Sila. Analisis Ikonografi Motif Subahnale Kain Songket Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha, 10. Article 1. https://doi. org/10. 23887/jjpsp. Qatrunnada. Wayan. , & Wangi. Studi Nilai Etika Pada Penggunaan Songket Subahnale Dalam Mengeksplorasi Nilai Tradisi Suku Sasak. PRASI, 19. Article 01. https://doi. org/10. 23887/prasi. Rispawati. Implementasi Marketing Mix Dalam Kegiatan Pemasaran Kain Tenun Pada Galeri Tenun Desa Setanggor Lombok Tengah. Juremi: Jurnal Riset Ekonomi, 4. Article 3. Rohviana. , & Pardi. Etnomatematika pada Budaya Sasak di Rumah Adat Bale Tani Desa Rembitan Sebagai Sumber Belajar Matematika. Teaching and Learning Journal of Mandalika (Teache. ISSN 2721-9666, Article https://doi. org/10. 36312/teacher. Sabilirrosyad. Ethnomathematics Sasak: Eksplorasi Geometri Tenun Suku Sasak Sukarara Dan Implikasinya Untuk Pembelajaran. https://doi. org/10. 20414/jtq. Jurnal Tatsqif, 14. Article EDUPEDIKA: Jurnal Studi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 4 No. 2 Agustus 2025 Septiana. Hikmah. Wulandari. , & Prayitno. Eksplorasi Etnomatematika pada Motif Kain Tenun Desa Sukarara dan Implikasi dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 8. , 1725Ae1736. Susar. , & Mulyatna. Systematic Literature Review: Etnomatematika Pada Ikat Tenun Nusantara. Jurnal Pendidikan Integratif, 5. Article https://ejurnals. com/ojs/index. php/jpi/article/view/602 Turmuzi. Sudiarta. , & Suharta. Systematic Literature Review: Etnomatematika Kearifan Lokal Budaya Sasak. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 6. , 397Ae413. https://doi. org/10. 31004/cendekia. Zahara. Yati. , & Wahyun. Eksplorasi Etnomatematika Pada Kain Tenun Delamak Masyarakat Rejang Provinsi Bengkulu. Inspirasi Edukatif: Jurnal Pembelajaran Aktif, 6. Article 2. https://ejurnals. com/ojs/index. php/jpa/article/view/1796 Zenobia. Upacara Menuak Pada Masa Kehamilan 7 Bulan Pada Masyarakat Melayu Sebrang Kota Jambi. Krinok: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Sejarah, 3. Article 1. https://doi. org/10. 22437/krinok.