JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 POTENSI JENIS-JENIS SAGU DI DISTRIK KAIS KABUPATEN SORONG SELATAN Franklin D Paik. Sri Anggasari Makatita . Krisna Fransina Lermatin. Hendry James Yoel Aidore. 1,2,3,. Program Studi Agribisnis. Universitas Werisar 1. Paikifranklin@gmail. Srianggasarimakatita@gmail. Krisnafransina24@gmail. com 4, aidorehendry23@gmail. ABSTRACT This study aims to: . determine the diversity of sago species based on morphological characters and kinship . determine the growth rate and abundance of sago species found in the Natural Sago Forest (HSA) of Kais District, and . knowing the production potential of sago types found in HSA Kais District. The research was conducted for 1 month in September 2022, located in the Natural Sago Forest of Kais District. South Sorong Regency. The research methods used are surveys and field observations. Types of sago taken from sample plots in the study area at the MT level. This study uses the Potential Inventory technique by drawing Line Plot Systematic Sampling or sampling based on pathways. The Base Line that is made cuts the contour lines to make it easier to see the characteristics of vegetation. The results showed that there were 5 types of sago based on the naming of the local naming of the community, namely. Raimamare . ago nipa. Kororo . ed sag. Mugici . ild sago or forest sag. Fiaro/Demago . ed sag. and Bitafo . lanting sag. Mugici and Bitafo have the highest importance index compared to other types. Very dominating because this type of sago is found in all observation plots. The age range of sago trees in the Natural Sago Forest of Kais district ranges from 16. 2 years 5 years. The production potential of each type of superior sago is the Kororo type with the traditional extracted wet sago starch production process of 266. 8 kg. Keywords: Metroxylon. Potential. Kais. South Sorong ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk : . mengetahui keragaman jenis sagu berdasarkan karakter morfologi dan tingkat kekerabatan . mengetahui tingkat pertumbuhan dan kelimpahan jenis-jenis sagu yang terdapat di Hutan Sagu Alam (HSA) Distrik Kais, dan . mengetahui potensi produksi jenis sagu yang terdapat di HSA Distrik Kais. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan pada bulan September 2022, bertempat di Hutan Sagu Alam Distrik Kais Kabupaten Sorong Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan observasi Jenis-jenis sagu yang diambil dari petak contoh dalam areal penelitian pada tingkat MT. Penelitian ini menggunakan teknik Inventarisasi potensi dengan penarikan contoh Line Plot Systematic Sampling atau pengambilan sampel berdasarkan jalur. Jalur Utama (Base Lin. yang dibuat memotong garis kontour agar lebih mudah melihat karakteristik vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis sagu berdasarkan penamaan lokal masyarakat yaitu. Raimamare . agu nipa. Kororo . agu mera. Mugici . agu liar atau sagu huta. Fiaro/Demago . agu mera. dan Bitafo . agu tana. Mugici dan Bitafo memiliki indeks nilai penting tertinggi dibandingkan jenis lainnya. sangat mendominasi sebab jenis sagu ini terdapat pada seluruh petak ukur Rentang umur pohon sagu pada Hutan Sagu Alam distrik Kais berkisar antara umur 16,2 tahun sampai 36,5 tahun. Potensi produksi tiap jenis sagu unggul adalah jenis Kororo dengan proses produksi pati sagu basah hasil ekstraksi secara tradisional adalah 266. 8 kg. Kata kunci: Metroxylon. Potensi. Kais. Sorong Selatan PENDAHULUAN Sagu (Metroxylon spp. ) merupakan kelompok tumbuhan dari suku Palmae yang memiliki manfaat, selain dapat digunakan sebagai bahan makanan, juga dapat diolah menjadi dekstrin yang banyak digunakan dalam industri, kosmetik, farmasi dan perstisida (Dirjen Inventarisasi Hutan, 1. Harsanto . mengemukakan bahwa secara komersil dikenal tiga jenis sagu yaitu sagu Ihur e-ISSN: 0000-0000 (Metroxylon rumphii. Mart. Syvestre. Mar. , sagu Tuni (Metroxylon rumphi. dan sagu Molat (Metroxylon sagu. Rott. Kartoepoernomo . dalam Sagrim . , melaporkan bahwa berdasarkan hasil interpretasi foto udara, luar areal hutan sagu di Indonesia 000 ha atau sekitar 51,30% dari 2,20 juta Ha areal sagu di dunia dan 90% areal sagu di Halaman 181 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Indonesia berada di Papua. Luas hutan sagu diKabupaten Sorong Selatan adalah 149. 778,42 ha yang menyebar diwilayah Imekko, yakni Inanwatan. Metemani. Kais dan Kokoda (Haryanto et al, 2. Areal hutan sagu alam di wilayah IMMEKO mencapai 95%, sedangkan sisanya merupakan sagu tanam (Yumte, 2008. PPLH Unipa, 2008. Tumbuhan sagu dikelompokan dalam lima tingkat pertumbuhan yaitu tingkat semai . , sagu TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Sagu Sagu, sago, lapia atau angkrik (Metroxylon sp. termasuk ordo Spadiciflorace. Familia Palmae. Dari Famili Palmae, banyak yang dapat menghasilkan tepung karbohidrat. Tepung sagu tulen diambil dari salah satu anggota family Palmae, yaitu dari Genus Metroxylon yang selanjutnya lazim disebut palma sagu, lapia, sago atau angkrik. Palma sagu (Metroxylon s. dalam botani digolongkan berbunga/berbuah sekali (Hepaxanthi. dan palma sagu yang berbunga/berbuah dua kali atau lebih (Pleonanthi. Dari golongan tersebut yang memiliki nilai ekonomis penting adalah hepaxanthic, palma sagu ini mengandung karbohidrat lebih banyak dibandingkan pleonanthic. Golongan Hepaxanthic terdiri atas lima varietas Metroxylon sagus. Rott. atau sagu Molat Metroxylon rumphii. Mart. atau sagu Tuni Metroxylon rumphii. Mart. Sylvestre Mart, atau sagu Ihur Metroxylon rumphii. Mart. Longispinum Mart, atau sagu Makanaru Metroxylon rumphii. Mart. Microcantum Mart, atau sagu Rotan Dari kelima varietas ini yang memiliki arti ekonomis penting adalah varietas Ihur. Tuni dan Molat. Ihur dan Tuni terdapat duri pada pelepahnya sedangkan Molat tidak berduri sehingga disebut sagu perempuan. Sagu Tuni dan Molat rasanya enak, sedangkan sagu Ihur kurang enak. Sagu Tuni dan Ihur mempunyai kemampuan menghasilkan anakan yang tinggi, sedangkan sagu Molat pada umumnya anakan yang dibentuk jauh lebih sedikit. Habitus Ihur dan Tuni tumbuh lebih kuat dari pada Molat dengan tinggi batang Ihur 10 Ae 20 m. Tuni 10-12 m dan Molat 9-10 m (Harsanto, 1. Jenis Ae Jenis Sagu Tanaman sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah. lapia atau napia di Ambon. tumba di Gorontalo. Pogalu atau tabaro di Toraja. rambiam atau rabi di kepulauan Aru. Tanaman sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae. Famili Palmae. kawasan Indo Pasifik terdapat 5 marga . e-ISSN: 0000-0000 muda, pohon sagu belum masak tebang (BMT), pohon sagu masak tebang (MT) dan pohon lewat masa tebang (LMT) (Dephut, 1. Informasi mengenai potensi pohon produktif (BMT dan MT) merupakan dasar dalam penyusunan rencana pengusahaan dan pembinaan sesuai asas Potensi jenis Ae jenis sagu yang tumbuh di HSA sagu Imekko khususnya Distrik Kais hingga saat ini belum diketahui. Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon. Arenga. Corypha. Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi. Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu : yang berbunga atau berbuah dua kali (Pleonanthi. dan berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthi. yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri atas 5 varietas penting yaitu : Metroxylon sagus. Rottbol atau sagu molat Metroxylon rumphii. Martius atau sagu Tuni. Metroxylon rumphii. Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu ihur Metroxylon rumphii. Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru Metroxylon rumphii,Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur. Tuni, dan Molat. Beberapa pustaka menyebutkan bahwa variasi varietas pada hutan sagu alam umumnya rendah, sedangkan dusun sagu umumnya lebih tinggi. Hal ini dikarenakan penduduk pemilik dusun sagu umumnya akan membawa jenis-jenis sagu yang baru untuk ditanam di dusun sagunya apalagi jika diyakini bahwa jenis sagu tersebut memiliki potensi produksi dan kualitas yang tinggi. Data menunjukan bahwa hutan sagu alam di Timika hanya dijumpai 1 jenis. Agats 3 jenis. Mamberamo 3 jenis, di pulau Biak 21 jenis. Wasior lebih dari 9 jenis dan dusun sagu Sentani memiliki 27 jenis . varitas berduri dan 14 varitas tidak berdur. Diduga bahwa masih banyak jenis-jenis sagu yang belum diinventarisir di daerah sekitar danau Sentani. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa daerah sekitar danau Sentani merupakan pusat keragaman jenis sagu tertinggi di Papua, di mana beberapa jenis sagu memiliki potensi produksi dan kualitas hasil yang tinggi. Adanya jumlah varitas yang tinggi di suatu daerah berkaitan erat dengan kebiasaan budidaya sagu yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam rumpun-rumpun tanaman sagu alam, biasanya ditemukan campuran dari berbagai varietas tanaman sagu. Menurut Mifoharrachman dkk. Halaman 182 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 dalam Luhulima . , di Papua ditemukan 20 jenis tanaman sagu yang dapat dibagi ke dalam 4 kelompok genetik. Produksi pati dari varietasvarietas ini berbeda-beda mulai dari 27 kg sampai dengan 207, 5 kg per pohon. Di Timika, tanaman sagu terdiri atas Metroxylon sagu f. longispinum Raudewink dan dilaporkan areal tersebut dibagi menjadi hutan-hutan sagu dan hutan-hutan yang mempunyai sagu . ebanyakan merupakan pandanous dan spesiesspesies pohon lainny. (Maturbongs, 1. Perbedaan antara jenis sagu dapat dilakukan berdasarkan tinggi pohon, kandungan pati yang dimiliki, habitat pertumbuhan, warna daun pedang pada fase anakan, susunan pelepah, ketebalan kulit, susunan dan bentuk duri pada batang, panjang duri, adanya duri pada pelepah, warna pelepah, umur panen dan warna pati kering. Perbedaan jenis yang dilakukan saat ini adalah masih terbatas pada kriteria kandungan pati yang dimiliki, umur panen, warna pati, adanya duri pada pelepah dan batang, warna daun pedang dan bentuk serta susunan duri pada batang dan pelepah. Jenis-jenis sagu yang dijumpai di Distrik Inanwatan (Saga. Puragi, dan Puragi Besa. Provinsi Papua Barat yaitu jenis sagu Demao . agu berdur. , sagu Raja . agu berdur. dan sagu Mola . agu tidak berdur. Sagu jenis Demao populasinya paling banyak dan mendominasi daerah distrik Inanwatan sampai ke daerah distrik Kokoda. Jenis sagu Raja hanya dijumpai di beberapa lokasi saja di daerah distrik Inanwatan dan Kokoda dalam jumlah tegakan yang terbatas. Sagu jenis Mola merupakan jenis sagu introduksi dan sengaja ditanam oleh penduduk setempat (Luhulima, 2. Potensi Hutan Sagu Distrik Kais memiliki potensi hutan sagu terluas ketiga di Kabupaten Sorong Selatan setelah Distrik Inanwatan dan Distrik Kokoda yakni 946,69 ha atau 15,87% luas hutan sagu di kabupaten ini terdapat di Distrik Kais (Sagrim. METODOLOGI Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan pada bulan September 2022, bertempat di Hutan Sagu Alam Distrik Kais Kabupaten Sorong Selatan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan observasi lapangan. Jenis-jenis sagu yang diambil dari petak contoh dalam areal penelitian pada tingkat BMT dan MT. Sampel di ambil dari tiap jenis yang berbeda, tiap sampel log sagu yang akan di ekstraksi adalah pada bagian pangkal batang, bagian tengah dan ujung batang sagu, untuk melihat hasil pati tiap Penelitian menggunakan teknik Inventarisasi e-ISSN: 0000-0000 Peranan Sagu Sagu, sebagai salah satu tanaman pangan, memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat di Indonesia, terutama di wilayah timur Indonesia. Namun, hingga saat ini, pemanfaatan sagu belum mencapai potensinya secara optimal. Meskipun sagu memiliki peran penting sebagai sumber karbohidrat, penggunaannya saat ini masih bersifat tradisional dan terus berkembang. Tampaknya, di pasar internasional, tepung sagu baru digunakan oleh Jepang sebagai bahan dasar untuk membuat glukosa, sirup berfruktosa tinggi, dan sorbitol. Di Indonesia, peran sagu sangat mendukung pelaksanaan Inpres No. 20 tahun 1979 tentang upaya diversifikasi pangan. Ini dikarenakan potensi produksi sagu yang tinggi, dan di samping itu, sagu memiliki peluang besar untuk dijadikan makanan yang populer di kalangan masyarakat. Dengan teknologi pangan yang canggih, sagu bisa diolah menjadi makanan lezat dan bergizi Diketahui bahwa sagu memiliki kandungan kalori yang relatif serupa dengan kalori jagung kering atau beras yang sudah digiling. Bahkan, beberapa menyebutnya memiliki kandungan kalori yang jauh lebih tinggi daripada yang terdapat dalam ubi kayu atau kentang. Oleh karena itu, sagu dianggap sebagai salah satu komoditi pangan yang dapat menjadi solusi terhadap tantangan di bidang pangan di masa depan. Meskipun kandungan proteinnya lebih rendah dibandingkan dengan bahan pangan lain, akan tetapi kekurangan ini dapat diganti dengan mengkonsumsi sumber pangan lainnya mengingat sagu adalah tanaman daerah penghasil ikan yaitu di sekitar lahan rawa, tepi sungai dan muara sungai dekat laut. Dengan demikian sagu berperan dalam intensifikasi pemanfaatan lahan juga. Hal ini mengingat bahwa lahan dimana sagu tumbuh, merupakan lahan yang untuk komoditi tanaman lain tidak mampu tumbuh dengan baik dan produktif, sementara itu lahan pertanian mengalami penyempitan untuk pemikiman dan industrialisasi. Sagu dimasa yang akan datang berpeluang besar dalam hal industri bahan pangan, industri makanan ternak, bahan energi dan industri lainnya (Harsanto, potensi dengan teknik penarikan contoh Line Plot Systematic Sampling atau pengambilan sampel berdasarkan jalur. Jalur Utama (Base Lin. yang dibuat memotong garis kontour agar lebih mudah melihat karakteristik vegetasi. Sedangkan teknik jenis-jenis pengetahuan dan penamaan lokal masyarakat. Sampel yang diamati adalah seluruh vegetasi yang berada di dalam plot pengamatan. Membuat jalur inventarisasi disesuaikan dengan luasan HSA dengan petak contoh/plot di kiri dan Halaman 183 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 kanan jalur berukuran 20 x 20 m, untuk menghitung jumlah Semai. Sagu Muda. Sagu Belum Masak Tebang. Sagu Masak Tebang dan Lewat Masak Tebang, penentuan jarak antar jalur dan penentuan jumlah petak contoh (DepHut,1. Pengenalan Jenis Pohon Sagu dilakukan melalui pengenalan nama daerah . engenal jenis loka. dan identifikasi ciri dan jenis morfologi. Peletakan jalur pertama dilakukan secara acak sedangkan jalur kedua dan seterusnya dilakukan secara sistematik dengan jarak antar jalur maksimal 1 km . engan intensitas sampling minimal = 2%), untuk kelompok hutan sagu pewakil yang panjang base linenya kurang dari 2,5 km jumlah jalur ukur harus dibuat minimal 3 jalur (DepHut, 1. Penafsiran potensi tiap jenis untuk menentukan sagu unggul dengan cara mengekstraksi beberapa batang pohon sagu . agian pangkal, tengah dan ujun. berukuran 30 cm dari Kerapatan Jenis Kerapatan Relatif (KR) Dominansi Jenis Dominansi Relatif (DR) Frekuensi Jenis Frekuensi Relatif (FR) tiap jenis yang ditemukan,dalam petak ukur pengamtan agar diketahui berapa kandungan jumlah pati basah. Pengamatan dilakukan terhadap jenis sagu dilakukan berdasarkan pada nama daerah dan karakter morfologi . atang, daun, pelepah dan Informasi jenis sagu yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan NTSYS untuk mengetahui tingkat kekerabatan. Jumlah pohon sagu menurut tingkat pertumbuhan dihitung dan ditentukan menurut lima tingkat pertumbuhan yaitu : tingkat semai . inggi < 0. sagu muda, . 5 Ae 3 pohon Belum Masak Tebang (BMT). Masak Tebang (MT) dan pohon Lewat Masak Tebang (LMT). Analisis vegetasi sagu ditentukan berdasarkan kerapatan jenis, kerapatan reltif, dominansi jenis, dominansi relative, frekuensi jenis, frekuensi relatif dan indeks nilai penting. Jumlah individu suatu jenis x 100% Luas areal seluruh petak contoh. Kerapatan Suatu Jenis x 100% Total kerapatan seluruh jenis Total dari basal area suatu jenis luas areal seluruh petak contoh Dominansi suatu jenis x 100% Total dominansi seluruh jenis Jumlah petak contoh di mana jenis dijumpai x jumlah petak contoh seluruhnya x 100% Frekuensi suatu jenis x 100% Total frekuensi seluruh jenis Estimasi rata-rata potensi pati sagu per pohon didasarkan pada persamaan korelasi antara rata-rata diameter setinggi dada (Db. dalam cm, tinggi bebas pelepah (Tb. dalam m dan kandungan pati sagu (Ws ) dalam kg per pohon. Yumte . memformulasikan korelasi antara 3 . parameter tersebut melalui persamaan korelasi: Ws =1,792 (Db. 0,648(Tb. 0,874 Dbh dan Tbp diukur pada setiap pohon fase MT dalam suatu sampel segmen dan kemudian dihitung rata-ratanya. Dengan memasukkan rata-rata Dbh dan Tbp ke dalam persamaan, maka akan diperoleh produktivitas rata-rata per pohon pada setiap sampel. Hasil perhitungan rata-rata produktivitas pati adalah dalam satuan kg per pohon berat basah (BB). Untuk mendapatkan rata-rata potensi per hektar diperoleh melalui hasil perkalian antara potensi per pohon dengan kerapatan pohon per hektar. Penafsiran umur pohon sagu dilakukan pada tiap jenis dengan tingkat pertumbuhan BMT. MT yang ditemukan dalam plot pengamatan dengan rumus penentuan umur pohon sagu. Estimasi umur sagu pembentukan pangkal batang, umur pembentukan batang seluruhnya serta umur pembentukan sisa daun yang masih ada. Estimasi umur sagu dapat dinyatakan dengan rumus : Ups = Up (Bd D) Di mana : e-ISSN: 0000-0000 Umur pada saat terbentuknya pangkal batang. (Umur pembentukan pangkal batang sagu rata-rata 3 Ae 5 tahu. Bekas daun yang terdapat pada kulit batang sagu Jumlah daun yang masih duduk pada batang sagu Jumlah daun yang terbentuk dalam satu tahun. (Banyaknya daun yang terbentuk dalam satu tahun rata-rata 3 Ae 4 tangka. Halaman 184 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Pendugaan produksi per pohon dilakukan pada beberapa sampel perwakilan tiap jenis yang ditemukan untuk menentukan jenis unggul berdasarkan tabel yang telah disusun. X bobot pati basa volume empulur Volume contoh Dimana, volume = ArA x Tinggi, dengan A = 3,14, r = Jari-jari batang tanpa kulit dan tinggi tanaman atau sampel yang diamati dengan bobot basah merupakan rata-rata dari bobot pati basah dari tiga sampel yang Data hasil pengamatan dianaisis secara statistik dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Produksi pati per batang = HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Jenis dan Tingkat Kekerabatan Berdasarkan pengamatan terdapat 5 jenis sagu dengan nama lokal yaitu Raimamare. Kororo. Mugici. Fiaro/Demago. Bitafo. Tiap jenis memiliki karakter morfologi yang berbeda-beda. Masyarakat mengenal dan membedakan ciri jenis-jenis sagu ini berdasarkan karakter morfologi pelepah, duri, daun dan warna pati yang dihasilkan setelah dilakukan Data karakter morfologi 5 jenis sagu yang ditemukan dapat dilihat pada tabel 1. Iskandar . dalam La hisa dkk . menjelaskan bahwa system klasifikasi rakyat dikenal pula dengan folk taxonomies yaitu sistem penamaan yang menggunakan nama daerah atau nama lokal sesuai dengan bahasa yang digunakan dalam Sedangkan pemberian nama dagang dikenal masyarakat lokal sebagai nama dalam bahasa indonesia untuk mempermudah dalam membedakan jenis sagu pada saat dijual selain itu dari nama dagang ini dapat membedakan jenis sagu yang baik dan tidak menurut masyarakat setempat. Jenis-jenis sagu yang biasa dibudidayakan adalah sagu mola . ama dagan. / Bitafo . ama daera. dan sagu nipah/Raimamare, sedangkan jenis sagu yang tumbuh secara alami dan mendominasi hampir semua tempat adalah sagu duri/Mugici, sagu duri panjang atau Kororo dan sagu duri pendek atau Fiaro meskipun demikian, jenis sagu ini memiliki rasa yang enak dan gurih sehingga oleh masyarakat biasanya dibudidayakan (Sagrim, 2. Gambar 1. Karakter Morfologi batang jenis sagu Bitafo . Mugici . Fiaro . Raimamare . dan Kororo . Gambar Karakter Morfologi daun jenis sagu Bitafo . Mugici . Fiaro Raimamare . dan Kororo . e-ISSN: 0000-0000 Halaman 185 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Berdasarkan nama umum sagu nipah atau Raimamare sering ditemukan ditepi sungai, tumbuh terendam dalam air walaupun jenis ini terdapat pula pada tanah kering atau tanah mineral sampai pada ketinggian 16 m dpl pada lokasi penelitian. Sagu merah atau kororo, disebut sagu merah oleh masyarakat distrik Kais sebab jenis sagu ini pada saat ditebang bagian dalam isi sagu akan berubah memerah jika dibiarkan beberapa saat kemudian, sedangkan mugici atau sagu liar paling sering di temukan pada semua petak ukur pengamatan, dikatakan sagu liar sebab jenis sagu ini tumbuh secara alami dan mendominasi seluruh areal hutan Jenis Fiaro/Demago memiliki ciri duri yang rapat pada fase pohon akan terlihat bentuk duri berselang seling. Selanjutnya jenis Bitafo memiliki ciri duri yang tidak padat, jenis ini biasanya dibudidayakan oleh masyarakat sebab memiliki rasa yang enak dan jumlah pati yang banyak sehingga dikenal dengan sebutan sagu tanam. Kelima jenis sagu yang ditemukan pada lokasi penelitian disajikan pada tabel 1. Dari kelima jenis sagu yang ditemukan pada plot pengamatan bentuk dan warna kulit batang tidak menunjukkan perbedaan, namun pada karakter lingkar batang, warna kulit dan tinggi menunjukkan Ukuran lingkar batang tiap jenis sagu berkisar antara 100-137 cm, jenis sagu dengan lingkar batang paling kecil adalah Bitafo . , sedangkan jenis sagu dengan lingkar batang paling besar adalah Kororo . Selain lingkar batang, dapat dtunjukkan pula bahwa tinggi dari kelima jenis sagu menunjukkan variasi yang berkisar antara 5- 12,7 m. Jenis sagu paling tinggi adalah Mugici . ,7 . sedangkan jenis sagu paling pendek adalah Kororo . Untuk mempermudah pengukuran pada pelepah dan daun maka tiap jenis yang diukur merupakan sagu pada fase BMT. Tiap jenis sagu memiliki permukaan batang kasar, berwarna coklat hingga coklat kemerahan. Pada punggung pelepah jenis bitafo, mugici, kororo dan fiaro memiliki duri dengan warna hijau dan hijau keputihan sedangkan jenis raiamamare atau lebih dikenal dengan sagu nipah tidak memiliki duri, permukaan rata dan licin. Susunan pelepah pada batang pohon sagu bersilang pada semua jenis yang diamati. Pengamatan terhadap karakter morfologi daun menunjukkan kelima jenis sagu secara umum memiliki karakter morfologi yang sama, kecuali pada ukuran panjang dan lebar daun. Ukuran daun paling panjang ditunjukkan pada jenis sagu Bitafo, sedangkan daun paling pendek ditunjukkan oleh jenis sagu Kororo. Sementara ukuran daun paling lebar ditunjukkan oleh jenis sagu Fairo . dan daun paling sempit adalah Mugici . ,9 c. (Gambar Tata letak anak daun pada kelima jeis sagu juga menunjukkan pola yang sama yaitu bersilang, permukaan dan tepi daun tampak halus dan rata. Daun (Lanceolotu. , ujung meruncing agak lebar berinduk pada tulang daun di tengah. Pada pengamatan warna daun sagu tiap jenis berwarna hijau, panjang anak daun berukuran 132 cm . Ae 166 cm . dan lebar antara 6,9 cm . Ae 11 cm . Gambar 3. Karakter morfologi pelepah Raimamare b. Bitafo c. Kororo d. Fiaro e. Mugici e-ISSN: 0000-0000 Halaman 186 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Gambar 4. Morfologi duri pada jenis sagu Kororo . Mugici . Bitafo . dan Fiaro . Mugici Morfologi pelepah dari kelima jenis sagu juga menunjukkan variasi, terutama pada panjang, warna dan keberadaan duri pada permukaan pelepah, sedangkan susunan pelapah menunjukkan pola yang Ukuran pelepah paling panjang ditunjukkan oleh jenis sagu Bitafo . ,3 . , sedangkan pelepah paling pendek ditunjukkan oleh Mugici dan Fiaro yaitu 7,5 m. Untuk karakter warna pelepah, dari kelima jenis, 3 jenis memiliki warna pelepah hijau yaitu Raimamare. Mugici dan Bitafo, sedangkan dua jenis lainnya (Kororo dan Fiar. memiliki warna pelepah yang berbeda yaitu hijau namun terdapat warna putih yang bergaris di permukaan Karakter morfologi duri pada pelepah juga menunjukkan variasi baik pada tingkat kepadatan dan ukuran. Dari kelima jenis sagu yang ditemukan, keberadaan duri hanya pada empat jenis sagu yaitu Kororo. Bitafo. Fiaro dan Mugici, sedangkan Raimamare tidak memiliki duri. Jenis sagu Fiaro sedangkan Bitafo dan Kororo memiliki tingkat duri yang jarang. Dilihat dari ukuran duri, maka jenis sagu yang memiliki duri paling panjang Mugici . , sedangkan duri paling pendek ditunjukkan pada jenis sagu Bitafo . ,4 c. Duri hanya terdapat pada empat jenis sagu yang ditemukan yaitu jenis Kororo. Bitafo. Fiaro dan Mugici. Jenis Kororo memiliki ukuran panjang 5 cm dan duri terpendek 0. 8 cm dengan tingkat kepadatan tidak padat. Kororo dikenal dengan sebutan sagu duri pendek, sedangkan sagu berduri panjang adalah jenis Fiaro/Demago dengan ukuran panjang duri 5,6 cm dan duri terpendek 0,5 cm tingkat duri yang padat . Bitafo memiliki ukuran duri terpanjang 7,5 cm dan terpendek 0,4 cm tingkat duri tidak padat, selanjutnya jenis Mugici yang dikenal sagu liar atau sagu hutan memiliki ukuran duri terpanjang 18 cm dan duri terpendek 0,7 cm tingkat duri padat. Tabel 1 Karakter Morfologi jenis sagu Bentuk Lingkar . Permukaan Raimamare Silindris Kasar Fiaro/Demago Silindris Kasar Jenis Sagu Bitafo Silindris Kasar Warna Kulit Coklat Coklat Coklat tua Tinggi . Bentuk Ujung Permukaan Tepi Pertulangan Tata Letak Warna Penjang . Lebar . Lanset Meruncing Rata Rata Sejajar Bersilangan Hijau Lanset Meruncing Rata Sejajar Bersilangan Hijau tua Panjang . Susunan Warna Bersilangan Hijau Bersilangan Hijau keputihan Pelepah Anak Daun Batang Karakter Morfologi e-ISSN: 0000-0000 Lanset Meruncing Rata Rata Sejajar Bersilangan Hijau Mugici Silindris Kasar Coklat Lanset Meruncing Halus Rata Sejajar Bersilangan Hijau Kororo Silindris Kasar Lanset Meruncing Rata Rata Sejajar Bersilangan Hijau Bersilangan Hijau Bersilangan Hijau Bersilangan Hijau keputihan Coklat Halaman 187 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Duri Punggung Tingkat Panjang . Pendek . Sumber: Paiki Dkk 2022 Tak berduri Berduri Padat Berdasarkan analisis kemiripan karakter morfologi maka lima jenis sagu yang ditemukan di hutan sagu alam distrik Kais dapat dikelompokan menjadi 2, kelompok I terdiri atas Kororo (KR). Mugici (MGC). Fiaro (FI) dan Bitafo (BI), kelompok II adalah Raimamare (RM). Kelompok I Berduri Jarang Berduri Padat Berduri Jarang merupakan jenis sagu yang memiliki duri . uri padat dan duri tidak pada. , sedangkan kelompok II merupakan jenis sagu tidak berduri. Pengelompokan kemiripan karakter 5 jenis sagu tersebut dapat dilihat pada gambar dendogram berikut ini Gambar 5. Dendogram Kemiripan 5 Aksesi Keterangan : RM = Raimamare. KR = Kororo. MGC = Mugici. FI = Fiaro. BI = Bitafo Hasil analisis pengelompokan berdasarkan karakter morfologi batang, anak daun, pelepah dan duri menunjukkan adanya kemiripan karakter dengan persentase kemiripan berkisar antara 36% 65%. Persen kemiripan tertinggi ditunjukkan oleh jenis sagu Mugici (MGC) dan Fiaro (FI), sedangkan kemiripan terendah adalah ditunjukkan oleh jenis sagu Raimamare (RM) dengan Mugici (MGC). Fiaro (FI). Bitafo (BI) dan Kororo (KR). Perbedaan disebabkan karena jenis Raimamare (RM) tidak memiliki duri sementara jenis lainnya merupakan jenis sagu berduri. Tabel 2. Matriks Kemiripan antar lima jenis sagu MGC MGC RM = Raimamare. KR = Kororo. MGC = Mugici. FI = Fiaro. BI = Bitafo Sumber: Paiki Dkk 2022 Tingkat Pertumbuhan Flach . , sebagaimana dikutip dalam Haryanto produktivitas pati per pohon sagu didasarkan pada fase pohon sagu MT. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa hanya dalam fase MT, tanaman sagu memiliki kandungan pati terbesar di bagian Sedangkan sagu fase BMT belum menghasilkan pati maksimal sebagai cadangan e-ISSN: 0000-0000 Sagu fase LMT adalah sagu yang sudah tidak memiliki cadangan pati karena terserap untuk masa pembungaan dan pembuahan. Setelah melewati fase LMT, pohon sagu secara alamiah akan mati dan roboh karena mengalami pembusukan pada batangnya. Dalam penelitian ini jumlah tingkat pertumbuhan sagu kelima jenis sagu yang terdapat pada semua petak ukur di tampilkan pada Tabel3. Halaman 188 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Mugici mendominasi karena ditemukan pada seluruh petak contoh dengan jumlah tingkat pertumbuhan pohon 61 terdiri atas 32 BMT, 23 MT dan 11 LMT jumlah semai sebanyak 1. 408 dan sagu muda (SM) 166, diikuti bitafo,kororo, fiaro/demago dan Hal ini sejalan dengan penelitian Sagrim . jenis sagu yang mendominasi Hutan diwilayah HSA wilayah Imekko adalah sagu liar/ mugici Ae nama dagang/nama daerah (Metroxylon rumphii Mart. Var Sylvestr. Jumlah semai yang begitu banyak pada setiap rumpun yang diamati menunjukan bahwa persaingan setiap individu jenis dalam memperebutkan nutrisi dalam tanah. Sehingga pada setiap rumpun hanya terdapat jumlah BMT dan MT yang sedikit. Hasil dari studi yang dilakukan oleh Botanri . mengenai struktur populasi sagu di Pulau Seram menunjukkan bahwa terdapat penurunan signifikan dalam populasi, yaitu dari populasi BMT sebanyak 18,89 individu per hektar hingga mencapai populasi MT sebanyak 4,57 individu per hektar. Di samping itu, disebutkan pula bahwa struktur populasi sagu di dominasi oleh tingkat anakan dengan tingkat kegagalan untuk tumbuh ke fase berikutnya mencapai 85%. Tabel 3. Jumlah tingkat pertumbuhan lima jenis sagu di seluruh petak contoh Nama Lokal Pohon Anakan BMT LMT Raimamare Kororo Mugici Fiaro/Demago Bitafo Jumlah Rata-rata SM=sagu muda. BMT = belum masak tebang. MT=masak tebang. LMT=lewat masak tebang Sumber: Paiki Dkk 2022 Rumpun Pada kondisi liar, pertumbuhan rumpun sagu akan melebar yang ditunjukkan dengan pertumbuhan jumlah anakan yang banyak dalam berbagai tingkat Anakan tersebut sedikit yang tumbuh menjadi pohon dewasa, tingkat pertumbuhan dibedakan antara lain tingkat anakan . inggi batang 0-50 c. , tingkat sapihan . - 150c. , tingkat tiang . cm Ae 5 . , tingkat pohon (> 5 . (Harsanto,1. Struktur Vegetasi Strukur vegetasi hutan sagu alam yang diamati mencakup kerapatan jenis, dominansi jenis, frekuensi, kerapatan relative, dominansi relative, frekuensi relative dan indeks nilai penting. Hasil perhitungan terhadap komponen struktur vegetasi menunjukkan jenis sagu Mugici memiliki nilai tertinggi dalam kerapatan relative dan frekuensi relative, sementara jenis sagu Bitafo memiliki nilai dominasi relative dan frekuensi relative yang paling tinggi dibandingkan jenis lain. Hal ini turut berpengaruh pada tingginya indek nilai penting dari kedua jenis sagu tersebut. Berbeda dengan jenis sagu Raimamare yang memiliki nilai kerapatan relative, dominansi relative dan frekuensi relative yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis sagu lainnya yang ada di dalam hutan sagu alam distrik Kais (Tabel . Tabel 4. Kerapatan jenis, dominansi relative, frekuensi relative dan Indeks Nilai Penting Jenis Sagu Kerapatan Dominansi Relatif (%) Frekuensi relative Indeks Nilai Relatif (%) (%) Penting (%) Bitafo Kororo Mugici Raimamare Fiaro Indeks Nilai Penting (INP) adalah parameter paling besar, maka jenis itu sangat mempengaruhi kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan kestabilan suatu ekosistem (Osmar, 2. tingkat dominansi jenis-jenis dalam suatu komunitas Berdasarakan perhitungan struktur vegetasi, maka Jenis-jenis yang dominan dalam suatu Bitafo dan Mugici memiliki nilai INP yang paling komunitas tumbuhan akan memiliki indeks nilai tinggi hal ini menggambarkan tingkat pengaruh penting yang tinggi, sehingga jenis yang paling kedua jenis sagu tersebut sangat mempengaruhi dominan akan memiliki indeks nilai penting yang e-ISSN: 0000-0000 Halaman 189 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 kestabilan ekosistem di dalam hutan sagu alam distrik Kais. Potensi Pati Per Pohon Pada pengukuran tinggi dan diameter pohon sagu tingkat masak tebang pada plot pengamatan 1 5, diameter batang sagu berkisar antara 28 Ae 47 cm dan tinggi batang pohon berkisar antara 7 Ae 22 m. pada tabel pengamatan plot 1 Ae 5 potensi pati basah per pohon berkisar antara 79,78 kg Ae 271,26 kg. Rata Ae rata produksi pati per pohon adalah 160. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jong . , dimana produktifitas sagu Sorong selatan mencapai 152 kg/pohon. Yumte . melaporkan hasil produksi pati basah perpohon berkisar antara 87 Ae 368 kg dengan rata-rata berat basah mencapai 186,68 kg. Jumlah Nama Lokal pohon MT Raimamare Kororo Mugici Fiaro/Demago Bitafo Jumlah Rata-rata Sumber: Paiki Dkk 2022 Tabel 5. Potensi Produksi per Hektar Jumlah Produksi Pati Produksi Pati . g/jenis ) . er plo. Umur Pohon Sagu Umur pembentukan pangkal batang (U. menurut Flach . dalam Harsanto . umumnya adalah 3 Ae 5 tahun, pada perhitungan ini yang dipakai adalah perhitungan pembentukan pangkal batang sagu pada umur 3 tahun. Hal ini didasarkan pada observasi dan wawancara langsung kepada pengenal jenis lokal dan pemilik Hutan Sagu Alam, menurut pengetahuan lokal pengenal jenis/ pemilik hak ulayat bahwa pangkal batang sagu terbentuk sekitar 3 tahun sudah bisa terlihat pangkal batang dari atas permukaan tanah. Bekas daun (B. yang dihitung adalah bekas daun dari atas permukaan tanah yang menempel pada batang sagu sampai dengan bekas daun terakhir pada bebas pelepah sebelum pangkal daun pertama. Perhitungan bekas daun yang tidak kasat mata akan Potensi Produksi . on/ H. menggunakan teropong untuk melihat bekas daun pada batang pohon. Untuk mengukur daun (D) yang masih tinggal dan menempel pada pohon sagu perhitungan dilakukan dengan menghitung langsung secara kasat mata dan juga melihat menggunakan Daun yang terbentuk dalam satu tahun (D. rata Ae rata 3 Ae 4 tangkai, pada perhitungan ini yang dipakai adalah 4 tangkai. Umur Pohon Sagu tiap plot menunjukan bahwa umur tiap jenis sagu bervariasi dari umur 16,2 tahun sampai 36,5 tahun . Perhitungan umur pohon sagu ini dilakukan pada tingkat pertumbuhan pada fase Masak Tebang (MT) dan tiap jenis yang ditemukan pada petak ukur berdasarkan estimasi umur pohon sagu yang dikemukakan oleh Flach . dalam Harsanto . Tabel 6. Rata-Rata Umur Pohon Sagu Jenis Raimamare Kororo Mugici Fiaro/demago Bitafo Sumber: Paiki Dkk 2022 Dari hasil perhitungan dapat dijelaskan bahwa kisaran umur pohon sagu untuk bertumbuh dan membentuk pohon membutuhkan waktu yang lebih panjang. Hal ini diduga bahwa pada sagu yang tumbuh pada hutan sagu alam di distrik Kais dipengaruhi oleh kondisi lahan serta tingkat persaingan untuk memperoleh unsure hara. Menurut Sagu dapat tumbuh di tanah gambut, bahkan di Serawak sagu terutama ditanam di tanah gambut (Flach dan Schuiling, 1. Di daerah Arandai e-ISSN: 0000-0000 Rata-rata Umur Pohon Sagu 21 - 22 tahun 16 tahun - 7 bulan 20 -5 bulan 17 -2 bulan 19 tahun (Bintuni. Irian Jay. sagu ditemukan tumbuh pada tanah gambut dengan ketebalan lebih dari 4,5 m. Pada tanah gambut pohon sagu memperlihatkan berbagai gejala kekahatan hara, yang ditandai oleh kurangnya jumlah daun dan umur masak tebang lebih panjang sampai 15-17 tahun karena laju pertumbuhan lebih lambat. Pada daerah gambut yang agak kering, sagu biasanya bertumbuh bersama dengan tumbuhan hutan lain, sehingga jumlah rumpun per hektar lebih sedikit. Halaman 190 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Pengukuran Pati Sagu Perhitungan pati basah tiap jenis didasarkan pada jenis yang ditemukan di dalam dan diluar plot Beberapa jenis yg diambil diluar plot pengamatan untuk mengurangi beban pengangkutan sampel dari dalam hutan sagu sehingga pengambilan sampel, sebab tidak keseluruhan batang pohon sagu diambil, hanya bagian pangkal, tengah dan ujung batang yang diambil sebagai sampel (Table . Proses ekstraksi pada penelitian ini dilakukan secara tradisional. Hal ini karena mengingat lokasi yang cukup jauh dari ibukota Distrik sehingga tidak memungkinkan membawa mesin pengolahan sagu dan sampel tiap jenis sagu tidak dapat diangkut ke tempat pengolahan sagu. Proses pengolahan yang dilakukan adalah penebangan masing-masing jenis sagu dan pembagian sampel menggunakan chain saw, tiap sampel di pangkur atau biasa dikenal dengan istilah AtokokA kemudian empulur hasil pangkur diekstrak secara tradisional dengan menggunakan pelepah sagu sebagai tempat meremas empulur dan kain sebagai penyaring ampas perasan dan pati hasil perasan, semua proses yang dilakukan menggunakan Tiap sampel pati basah hasil ekstraksi langsung ditimbang dan dicatat hasilnya. Tiap sampel yang diolah berukuran 30 cm per jenis pada bagian pangkal, tengah dan ujung batang sagu (Gambar . Tabel 7. Hasil Pengukuran bobot empulur, kulit dan pati basah Bobot Kulit . Raimamare Kororo Mugici Fiaro Bitafo Rata-rata P = pangkal. T = tengah. U= ujung Sumber: Paiki Dkk 2022 Jenis sagu Bobot empulur . Bobot pati Basah . Tabel 11. Panjang dan diameter . sampel tual pangkal, tengah dan ujung Panjang Batang -----m----Raimamare Kororo Mugici Fiaro Bitafo Rata-rata diameter Sumber: Paiki Dkk 2022 Jenis sagu Tual Pangkal Tual Tengah Tual Ujung Panjang Panjang Panjang ------------------------------cm-----------------------------------30 Panjang batang kelima jenis sagu berkisar antara 8 m Ae 10,6 m, masing-masing batang dibagi tiga bagian . angkal,tengah dan ujun. dan diambil sampel berukuran 30 cm dari tiap bagian batang Diameter tual terbesar adalah jenis sagu Kororo . pada bagian ujung . Bobot kulit tertinggi adalah jenis sagu Mugici . ,5 k. pada bagian pangkal batang sagu dan terendah jenis Raimamare dengan bobot kulit . ,1 k. pada bagian ujung batang sagu. Bobot empulur tertinggi dan terendah adalah jenis sagu Kororo . ,9 k. pada bagian ujung dan bobot empulur terendah . pada bagian pangkal. Selanjutnya bobot pati basah tertinggi adalah jenis Kororo . ,5 k. pada bagian e-ISSN: 0000-0000 tengah dan terendah adalah jenis sagu Fiaro . pada bagian pangkal . Jika dihitung ratarata diameter masing-masing sampel tual pangkal . ,8 c. , tual tengah . dan tual ujung . Hal ini menunjukan bahwa semakin besar diameter batang sagu maka akan berpengaruh terhadap jumlah empulur yang dihasilkan sebaliknya jika diameter batang kecil maka empulur yang dihasilkan Produksi produksi pati basah per pohon pada lokasi penelitan di Distrik Kais berkisar antara 7 kg Ae 266. 8 kg . Jenis Kororo memiliki kandungan pati basah lebih tinggi dibandingkan keempat jenis lainnya dengan berat Halaman 191 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 pati basah adalah 266. 8 kg per pohon. Raimamare dengan berat pati basah 211. 7 kg/pohon. Mugici dengan berat pati basah 199. 4 kg/pohon. Fiaro dengan berat pati basah 154. 3 kg/pohon dan Bitafo dengan berat pati basah 106. 7 kg/pohon. Tabel 8. Perhitungan Berat Pati Basah Tiap Sampel/ Pohon Raimamare Kororo Mugici Fiaro Bitafo Pangkal Tengah Ujung Jumlah BPB BPB = Berat Pati Basah Sumber: Paiki Dkk 2022 PENUTUP Kesimpulan Terdapat 5 jenis sagu berdasarkan penamaan lokal masyarakat . ama daera. yang tumbuh pada Hutan Sagu Alam Distrik Kais kabupaten Sorong Selatan yaitu. Raimamare . agu nipa. Kororo . agu mera. Mugici . agu liar atau sagu huta. Fiaro/Demago . agu mera. dan Bitafo . agu tana. Koefisien kemiripan jenis sagu Mugici dan Fiaro adalah 0,65, jenis sagu Kororo san Bitafo adalah 0,55. DAFTAR PUSTAKA Amarilis. Perbanyakan Tanaman Sagu (Metroxylon spp. ) Secara Ex Vitro (Di Persemaian Polibag dan Raki. dan In Vitro Melalui Kultur Jaringan. Tesis S2. IPB. Bogor. Bintoro. Bercocok Tanam Sagu. IPB Press. Bogor. Bintoro. Syarifudin. Dewi. Destieka A. Sagu Mutiara Hijau Khatulistiwa yang Dilupakan hal 25 Ae Digreat Publishing. Bogor Departemen Kehutanan. Pedoman Inventarisasi Sagu. Direktorat Jendral Inventarisasi dan Tata Guna Lahan. Jakarta Dewi. Karakterisasi Berbagai Aksesi Sagu (Metroxylon spp. ) di Kabupaten Sorong Selatan. Papua Barat. Tesis S2. IPB. Harsanto. Budidaya dan Pengolahan Sagu. Kanisius. Yogyakarta Haryanto. Potensi dan Pemanfaatan sagu dalam Mendukung Ketahanan Pangan di kabupaten Sorong Selatan Papua Barat. Jurnal Pangan. BPPT. e-ISSN: 0000-0000 Nilai INP tertinggi ditunjukan pada jenis Mugici . ,85%) dan Bitafo . ,69%). Produksi pati basah tertinggi ditunjukan oleh jenis Mugici yaitu 266. 8 kg. Saran