Ilmu Al-QurAoan (IQ) Jurnal Pendidikan Islam Volume 8 No. ISSN: 2338-4131 (Prin. 2715-4793 (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 37542/x7nm2m19 Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa di SMAN 2 Sape Muhammad Chaisar1. Nasaruddin2. Kaharuddin3 1,2,3Universitas Muhammadiyah Bima 1mhmmdchsr@gmail. Abstract: This study aims to describe the implementation of religious moderation values in the learning process of Islamic Religious Education (PAI) at SMAN 2 Sape and analyze its influence on the formation of students' attitudes of tolerance. This study uses a qualitative approach with a descriptive method, while data collection techniques are carried out through observation, indepth interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that PAI subject educators at SMAN 2 Sape actively integrate the principles of religious moderation in the learning process, including the values of tolerance, rejection of violence, commitment to national integrity, and respect for diversity. The implementation of these values has been proven to provide a positive contribution to the formation of inclusive student characters, respecting differences, and upholding the values of diversity. Based on these findings, the study recommends the need to strengthen contextual, dialogical, and inclusive learning strategies to support the internalization of religious moderation values and foster a tolerant attitude in students in a sustainable manner. Keywords: Religious Moderation. Islamic Religious Education. Tolerance. Students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Sape serta Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape menganalisis pengaruhnya terhadap pembentukan sikap toleransi peserta didik. Penelitian ini pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidik mata pelajaran PAI di SMAN 2 Sape secara aktif mengintegrasikan prinsip-prinsip moderasi beragama dalam proses pembelajaran, meliputi nilai toleransi, penolakan terhadap kekerasan, komitmen terhadap keutuhan bangsa, serta penghargaan terhadap keberagaman. Implementasi nilai-nilai tersebut terbukti memberikan kontribusi positif dalam pembentukan karakter peserta didik yang inklusif, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan perlunya penguatan strategi pembelajaran yang kontekstual, dialogis, dan bersifat inklusif guna mendukung internalisasi nilai-nilai moderasi beragama serta menumbuhkan sikap toleran dalam diri peserta didik secara berkelanjutan. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Pendidikan Agama Islam. Toleransi. Siswa. Pendahuluan Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi. Keberagaman ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti etnis, bahasa daerah, budaya lokal, dan agama yang dianut. Setiap wilayah memiliki kekhasan identitas yang berkontribusi pada kekayaan budaya Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang plural dan multikultural, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan 2 Dengan itu perlu kesadaran kolektif dan pendekatan pendidikan yang menekankan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai dalam kehidupan berbangsa. 3 Kemajemukan ini di satu sisi merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya, namun di sisi lain dapat menimbulkan potensi konflik apabila tidak dikelola secara bijaksana. 4 Dalam kehidupan beragama di Indonesia, keberagaman pemahaman keagamaan dan praktik ibadah merupakan suatu keniscayaan sosiologis yang lahir dari kompleksitas historis, kultural, dan teologis Riska Astriyani. M Tahir, and Mukhtar M Salam. AuPenerapan Nilai-Nilai Moderasi Dalam Kurikulum Merdeka Belajar,Ay Seling: Jurnal Program Studi PGRA 9, no. : 198Ae204. Salmiah Salmiah. AuUpaya Guru PAI Dalam Menanamkan Toleransi Antar Umat Beragama Pada Peserta Didik Di UPT SDN 1 Amparita. Ay (IAIN Parepare, 2. Ahmad Saefudin et al. AuIntegrasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Ke Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PAI SMP Kelas IX,Ay EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan 21, no. : 262Ae74. Silfia Dewi. M Afif Zamroni, and Aris Adi Leksono. AuPenanaman Sikap Moderasi Beragama Pada Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembelajaran PAI,Ay Irsyaduna: Jurnal Studi Kemahasiswan 4, no. : 1Ae IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 85 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman etnis, budaya, serta tradisi keagamaan, menghadirkan lanskap keagamaan yang plural baik dari segi mazhab, aliran, maupun ekspresi spiritualitas. Keberagaman ini, di satu sisi, mencerminkan kekayaan spiritual bangsa, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan gesekan apabila tidak dikelola dengan pendekatan yang bijak dan inklusif. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan dan strategis untuk merawat keberagaman serta memperkuat kohesi sosial adalah moderasi beragama. 5 Moderasi beragama merupakan suatu sikap keberagamaan yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan. 6 Moderasi tidak berarti memoderasi ajaran agama itu sendiri, tetapi lebih kepada cara umat beragama mengelola keyakinannya dengan tidak ekstrem, baik dalam bentuk liberalisme maupun radikalisme. Nilai-nilai utama yang dikandung dalam moderasi beragama antara lain adalah toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, dan penghargaan terhadap tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama. 8 Dengan mengedepankan sikap moderat, diharapkan masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam menanamkan dan membentuk karakter generasi muda yang moderat dan toleran. Salah satu instrumen penting dalam dunia pendidikan adalah Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebagai mata pelajaran yang tidak hanya mengajarkan aspek kognitif tentang ajaran Islam. PAI juga berfungsi sebagai sarana pembentukan akhlak, etika sosial, dan spiritualitas peserta didik 9. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berorientasi pada nilai-nilai moderasi beragama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang inklusif, adaptif terhadap keberagaman, serta berjiwa toleran dalam Abdul Wahid. AuModerasi Beragama Dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam: Implementasi Dalam Pendidikan Multikultural Di Indonesia,Ay Scholars: Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan 2, no. 29Ae36. Vika Rahmatika. AuImplementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam TPQ Melalui Kegiatan Mengaji Al-QurAoan Di TQ Nurul Khikmah,Ay Altifani: Jurnal Pengabdian Masyarakat Ushuluddin. Adab. Dan Dakwah 1, no. : 159Ae67. Jamil Abdul Aziz. Ahamad Solihin, and Guntur Wijaya. AuPeran Guru Akidah Akhlak Dalam Penanaman NilaiNilai Moderasi Beragama Pada SiswaAy 7, no. : 220Ae29. Maulana Achmad Hasan and Mualimul Huda. AuPembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Moderasi Beragama Dengan Metode Insersi,Ay in ICIE: International Conference on Islamic Education, vol. 2022, 125Ae38. Ahmadi Ahmadi and Nur Afifah. AuPenanaman Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Madrasah Ibtidaiyah (MI),Ay Kartika: Jurnal Studi Keislaman 2, no. : 128Ae41. 86 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape kehidupan sosial yang pluralisti. 10 Nilai-nilai seperti toleransi, anti-kekerasan, keseimbangan, dan komitmen kebangsaan yang terkandung dalam konsep moderasi beragama dapat menjadi fondasi penting dalam mengembangkan kesadaran keberagamaan yang damai dan terbuka terhadap perbedaan. Masyarakat Indonesia nilai-nilai pembelajaran agama di sekolah tidak hanya menjadi instrumen pembinaan moral dan spiritual, tetapi juga menjadi mekanisme preventif terhadap berkembangnya sikap eksklusif, radikal, dan diskriminatif 11. Kebutuhan akan pendekatan moderat dalam pendidikan agama semakin mendesak mengingat meningkatnya fenomena intoleransi, ujaran kebencian berbasis agama, serta polarisasi sosial yang marak terjadi di ruang publik maupun media digital. Dalam situasi ini, pembelajaran PAI tidak cukup hanya mentransmisikan aspek-aspek normatif ajaran Islam, melainkan harus mampu menjadi ruang reflektif dan dialogis yang mendorong peserta didik untuk memahami nilai-nilai ajaran agama secara substansial dan 13 Dengan mengintegrasikan moderasi beragama dalam kurikulum, metode, dan interaksi pembelajaran, guru PAI berperan penting dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga bijak secara sosial dan etis dalam merespons dinamika keberagamaan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, upaya mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pembelajaran harus dilakukan secara sistematis, terencana, dan kontekstual sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan sosial budaya mereka. SMAN 2 Sape, sebagai salah satu sekolah menengah atas negeri yang berada di Kecamatan Sape. Kabupaten Bima. Nusa Tenggara Barat, merupakan satuan pendidikan yang memiliki latar belakang sosial budaya dan keagamaan yang cukup beragam. Lingkungan masyarakat sekitar yang majemuk memberikan tantangan tersendiri bagi guru dalam mendesain pembelajaran yang tidak hanya informatif secara materi, tetapi juga transformatif dalam membentuk karakter peserta didik. Waliyu Alamzyali. AuStrategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Sikap Toleransi Beragama Siswa Di SMP Negeri 9 Malang,Ay 2023. Abdul Azis Eka Saputra and M Mufaizah. AuUpaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Di SMAN 14 Surabaya,Ay Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial 2, no. : 127Ae35. Awang Faisal and Agus Setiawan. AuOptimalisasi Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama Pada Peserta Didik,Ay Al-Rabwah 18, no. 70Ae82. Munir Munir. AuUpaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Moderasi Beragama Siswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 07 Bontang Tahun Pembelajaran 2022/2023,Ay NABAWI: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam 3, no. : 253Ae63. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 87 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin Sehingga SMAN 2 Sape menjadi salah satu laboratorium sosial yang representatif untuk menelusuri bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dapat diimplementasikan secara konkret dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI di SMAN 2 Sape serta menganalisis dampaknya terhadap pembentukan sikap toleransi peserta didik. Penelitian ini penting untuk memberikan gambaran mengenai sejauh mana pendekatan moderasi beragama telah meresap dalam proses pembelajaran di sekolah, serta bagaimana kontribusinya dalam membentuk peserta didik yang memiliki kesadaran sosial, empati antarumat beragama, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan praktik pembelajaran PAI yang lebih humanis, inklusif, dan kontekstual di era masyarakat multikultural saat ini. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bertumpu pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial yang terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya terkait dengan implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Sape. Pendekatan kualitatif dipilih karena dinilai paling sesuai untuk mengeksplorasi makna, persepsi, serta dinamika interaksi sosial yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, melainkan dipahami melalui narasi, pengalaman, dan konteks budaya yang melingkupinya. 14 Teknik pengumpulan data meliputi observasi terhadap proses pembelajaran di kelas, wawancara mendalam dengan guru PAI dan siswa kelas XI dan XII, serta studi dokumentasi terhadap silabus. RPP, dan hasil evaluasi 15 Guru PAI dan siswa dijadikan sumber data utama karena keterlibatan langsung mereka dalam proses pembelajaran. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpula. 16 Pendekatan ini menekankan pada makna di balik tindakan, sehingga mampu menangkap dinamika sosial, budaya, dan Hanif Hasan et al. Metode Penelitian Kualitatif (Yayasan Tri Edukasi Ilmiah, 2. Rizal Safarudin et al. AuPenelitian Kualitatif,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 3, no. : 9680Ae94. Fitria Widiyani Roosinda et al. Metode Penelitian Kualitatif (Zahir Publishing, 2. 88 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape psikologis yang melatarbelakangi praktik pendidikan moderasi beragama di sekolah. Dengan menggunakan metode ini, penelitian diharapkan tidak hanya mendeskripsikan bentuk-bentuk implementasi nilai moderasi seperti toleransi, anti-kekerasan, dan komitmen kebangsaan, tetapi juga menelaah kontribusinya secara menyeluruh dalam membentuk sikap inklusif, empatik, dan toleran di kalangan peserta didik. Hasil yang diperoleh melalui pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif dan relevan, yang tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga dapat dijadikan rujukan praktis dalam pengembangan kebijakan dan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis moderasi di tingkat sekolah menengah. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil penelitian secara komprehensif menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Sape telah mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama secara konsisten dan terencana dalam seluruh aspek proses pembelajaran. Integrasi ini tampak tidak hanya pada ranah materi ajar yang diajarkan kepada peserta didik, tetapi juga pada pendekatan pedagogis, interaksi edukatif di kelas, serta pada suasana lingkungan belajar yang dibangun. Hal ini mengindikasikan bahwa moderasi beragama telah menjadi bagian dari kerangka berpikir dan strategi edukatif para guru dalam membentuk karakter keagamaan siswa yang seimbang, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Materi ajar yang disampaikan dalam kurikulum PAI dimodifikasi untuk memuat muatan nilai-nilai moderat yang relevan dengan konteks kehidupan kebangsaan dan kemajemukan sosial budaya Indonesia. Misalnya, pembahasan tentang toleransi antar umat beragama tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga disertai dengan studi kasus dan refleksi sosial untuk memperkuat kesadaran empatik dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Materi tentang jihad, misalnya, diajarkan dengan pendekatan historis dan semantik, guna menghindari penyempitan makna dan potensi distorsi yang dapat berujung pada radikalisme. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator sekaligus agen transformasi nilai, yang mengarahkan pemahaman keagamaan siswa pada kerangka yang kontekstual, humanistik, dan nasionalistik. Strategi pembelajaran yang digunakan pun mencerminkan prinsip-prinsip pedagogi moderat, seperti dialog interaktif, diskusi kelompok, metode studi kasus, serta pendekatan reflektif yang memberi ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat secara terbuka namun tetap dalam bingkai etika akademik dan adab keilmuan. Guru mendorong siswa untuk berpikir kritis, tidak menelan informasi secara dogmatis, dan terbuka terhadap IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 89 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin perbedaan pandangan. Hal ini menjadi fondasi penting dalam membentuk profil pelajar yang tidak hanya religius, tetapi juga demokratis dan menghargai keberagaman. Lebih lanjut, guru PAI juga menanamkan nilai-nilai moderasi beragama melalui keteladanan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Dalam interaksi sosial dengan siswa maupun rekan sejawat, para guru memperlihatkan karakter yang toleran, ramah, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Keteladanan ini menjadi sarana pembelajaran afektif yang efektif, karena peserta didik secara tidak langsung mengalami internalisasi nilai melalui pengalaman konkret. Nilai-nilai moderasi itu sendiri, setidaknya terdapat empat prinsip utama yang secara eksplisit dan implisit diintegrasikan ke dalam pembelajaran: toleransi, anti-kekerasan, komitmen kebangsaan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Toleransi diartikulasikan sebagai kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, yang diperkuat melalui pemahaman multikultural dan multireligius. Anti kekerasan ditekankan sebagai penolakan terhadap segala bentuk ekstremisme, baik dalam bentuk ujaran kebencian, tindakan diskriminatif, maupun kekerasan fisik yang mengatasnamakan agama. Komitmen kebangsaan dijelaskan melalui relasi harmonis antara ajaran Islam dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara. Sedangkan penghargaan terhadap kearifan lokal menjadi bentuk konkret dari contextualization ajaran agama dengan budaya setempat, seperti pelestarian nilai adat, gotong royong, dan etika sosial masyarakat Sape. Hasil integrasi ini telah menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan karakter dan wawasan keberagamaan siswa. Peserta didik cenderung memiliki pandangan yang lebih terbuka, inklusif, dan tidak kaku dalam memahami keberagaman. Mereka mampu mengekspresikan identitas keagamaannya secara moderat dan selaras dengan nilai-nilai Dengan demikian, integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI di SMAN 2 Sape tidak hanya bersifat teoritis, tetapi telah bertransformasi menjadi praksis pendidikan yang efektif dalam membentuk profil pelajar Pancasila yang religius, nasionalis, dan toleran. Dalam kerangka yang lebih luas, temuan ini juga merefleksikan keberhasilan implementasi kebijakan nasional tentang penguatan moderasi beragama yang dicanangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Peran guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kebijakan tersebut terbukti strategis dalam menjembatani nilai-nilai universal Islam dengan realitas sosial bangsa Indonesia yang majemuk. Oleh karena itu, praktik yang telah berlangsung di SMAN 2 Sape dapat dijadikan model pengembangan bagi satuan pendidikan 90 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape lain dalam upaya membangun sistem pendidikan agama yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kognitif keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter yang damai, moderat, dan kontributif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Integrasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran Implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Sape terlihat nyata dalam praktik kelas, khususnya dalam pengintegrasian nilai toleransi, anti kekerasan, dan komitmen kebangsaan. Ketiga nilai tersebut tidak hanya diajarkan dalam bentuk teori, tetapi ditanamkan secara aplikatif dan kontekstual melalui pendekatan pedagogis yang menekankan dialog, refleksi kritis, dan studi Nilai toleransi diimplementasikan melalui berbagai kegiatan diskursif yang mendorong peserta didik untuk terbuka terhadap keragaman pandangan dalam Islam dan antaragama. Guru PAI secara sadar mengangkat isu-isu perbedaan mazhab dalam Islam sebagai bahan diskusi yang membangun. Dalam proses ini, siswa diajak untuk memahami bahwa perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan harus dimaknai sebagai khazanah intelektual dalam sejarah keislaman. Di samping itu, guru juga menanamkan sikap hormat terhadap keberadaan agama-agama lain, serta pentingnya hidup berdampingan secara damai dan adil. Dalam narasi yang dibangun guru, perbedaan tidak diposisikan sebagai ancaman, tetapi sebagai manifestasi dari kehendak Tuhan . dan sebagai kekayaan sosial yang memperkaya kemanusiaan. Pemahaman semacam ini secara langsung menumbuhkan sensitivitas sosial dan empati keberagaman dalam diri peserta didik. Nilai anti kekerasan ditanamkan melalui edukasi kritis terhadap gejala dan wacana radikalisme keagamaan yang cenderung eksklusif, intoleran, dan menghalalkan kekerasan dalam menyampaikan klaim Guru secara eksplisit menyampaikan bahwa tindakan kekerasan atas nama agama merupakan bentuk penyimpangan terhadap nilai-nilai Islam yang hakiki, yakni rahmatan lil Aoalamin. Islam ditekankan sebagai agama yang menempatkan kasih sayang, musyawarah, dan resolusi damai sebagai jalan utama dalam menyelesaikan perbedaan dan konflik. Siswa diajak untuk mengkaji berbagai studi kasus terkait konflik bernuansa agama di Indonesia dan dunia, serta melakukan refleksi terhadap dampaknya terhadap stabilitas sosial dan kemanusiaan. Melalui pembelajaran berbasis kasus ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga kesadaran moral dan sosial terhadap pentingnya menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Nilai komitmen kebangsaan diperkuat melalui penanaman pemahaman bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan merupakan IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 91 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin bagian integral dari keimanan. Hal ini merujuk pada prinsip Auhubbul wathan minal imanAy . inta tanah air adalah bagian dari ima. , yang menjadi dasar teologis penguatan identitas kebangsaan dalam kerangka keberagamaan. Dalam pembelajaran, guru memadukan ajaran-ajaran Islam yang mendukung persatuan, keadilan sosial, dan tanggung jawab kolektif sebagai warga negara, dengan narasi sejarah perjuangan bangsa yang melibatkan tokoh-tokoh Islam. Peserta didik didorong untuk berkontribusi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kegiatan-kegiatan sosial, kepedulian terhadap isu-isu lingkungan, serta menghormati simbol-simbol negara, tanpa harus mengorbankan identitas keagamaan mereka. Sehingga, melalui proses pembelajaran yang integratif dan kontekstual, ketiga nilai utama dalam moderasi beragama tidak hanya menjadi bagian dari pengetahuan kognitif siswa, tetapi juga tertanam dalam dimensi afektif dan psikomotorik mereka. Siswa tidak hanya tahu, tetapi juga bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai toleransi, antikekerasan, dan nasionalisme religius yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam dan keindonesiaan. Model pembelajaran semacam ini memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan generasi muda yang religius, demokratis, dan berkarakter moderat, yang mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang plural dan dinamis. Sementara itu, penghargaan terhadap tradisi lokal diimplementasikan dengan cara memberikan ruang bagi siswa untuk memahami bahwa praktik budaya setempat yang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam dapat dijadikan sebagai sarana memperkuat nilai-nilai sosial dalam Islam. Guru membimbing siswa untuk tidak mudah menghakimi praktik tradisi sebagai bidAoah atau syirik, melainkan mengkajinya secara kontekstual dan Dalam hal metodologi, guru PAI menerapkan pendekatan yang partisipatif dan dialogis, seperti diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi personal 17. Strategi ini dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif peserta didik serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu-isu keberagaman yang berkembang di lingkungan sekitar mereka. Model pembelajaran ini tidak hanya memperkuat pemahaman kognitif siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran afektif dan sosial yang mendalam. Respons dan Perilaku Siswa Siti Nurdina Awalita. AuNilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam Rahmatan LilAoalamin Tingkat Madrasah IbtidaAoiyah,Ay Journal of Contemporary Islamic Education 4, no. : 1Ae12. 92 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape Respon peserta didik terhadap model pembelajaran yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai moderasi beragama di SMAN 2 Sape secara umum menunjukkan kecenderungan yang positif dan konstruktif. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, terlihat bahwa internalisasi nilai-nilai moderat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya diterima secara pasif oleh siswa, melainkan juga mendorong perubahan sikap yang signifikan dalam kehidupan sosial mereka, baik di lingkungan sekolah maupun dalam interaksi keseharian di masyarakat. Salah satu indikator utama keberhasilan tersebut tampak dalam meningkatnya sikap toleransi dan inklusivitas siswa dalam merespons perbedaan pandangan keagamaan. Sebagian besar peserta didik menunjukkan keterbukaan dalam berdialog dan berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki latar belakang pemikiran, agama, maupun budaya yang berbeda. Diskusi lintas keyakinan yang difasilitasi dalam pembelajaran, baik melalui studi kasus maupun simulasi sosial, mendorong siswa untuk memahami perspektif keagamaan lain secara proporsional dan tanpa prasangka. Siswa tidak hanya diajak mengetahui perbedaan, tetapi juga diajarkan cara menyikapinya secara arif, sehingga tidak menimbulkan konflik atau pertentangan yang bersifat eksklusif. Selain itu, terdapat penurunan signifikan dalam kecenderungan penggunaan ujaran kebencian . ate speec. maupun stereotipe negatif terhadap kelompok keagamaan lain. Fenomena ini menunjukkan adanya internalisasi nilainilai empati, saling menghargai, dan anti-diskriminasi, yang merupakan pilar penting dalam moderasi beragama. Para siswa menjadi lebih sadar akan dampak buruk dari generalisasi negatif dan narasi kebencian, serta mulai mengganti pola komunikasinya dengan bahasa yang lebih inklusif dan konstruktif. Sikap seperti ini mengindikasikan bahwa siswa tidak hanya memahami konsep toleransi secara teoritis, tetapi juga telah mengimplementasikannya dalam praktik kehidupan sosial mereka. Respon positif peserta didik juga tercermin dalam meningkatnya kesadaran sosial dan etika keberagamaan, khususnya dalam menghormati teman yang memiliki latar belakang kepercayaan dan praktik keagamaan yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap tidak mengintervensi praktik ibadah teman sekelas, menghindari komentar merendahkan terhadap keyakinan tertentu, serta menunjukkan dukungan terhadap kegiatan keagamaan yang beragam. Kesadaran ini berkembang tidak hanya dalam konteks formal pembelajaran di kelas, tetapi juga terlihat dalam interaksi informal antar siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di media sosial. Fenomena tersebut memperkuat argumen bahwa pembelajaran berbasis nilai-nilai moderasi beragama memiliki dampak transformatif dalam membentuk karakter siswa sebagai individu yang religius, humanis, dan nasionalis. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 93 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin Mengenai pendidikan karakter, respons siswa ini menunjukkan tercapainya tujuan afektif yang diharapkan dalam pendidikan agama, yaitu melahirkan generasi muda yang mampu hidup harmonis dalam keberagaman dan berkontribusi dalam menjaga kohesi sosial di tengah tantangan globalisasi dan polarisasi identitas. Secara keseluruhan, respon positif peserta didik terhadap pendekatan pembelajaran yang moderatif ini mencerminkan keberhasilan guru dalam mentransformasikan ajaran keagamaan menjadi kekuatan etis dan sosial yang aplikatif. Hal ini juga mendukung visi pendidikan nasional untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan Penilaian afektif yang dilakukan guru PAI secara berkala termasuk observasi terhadap perilaku siswa di luar ruang kelas menjadi bagian integral dalam mengukur sejauh mana nilai-nilai moderasi telah membentuk karakter peserta didik. 18 Evaluasi ini mencakup indikator seperti sikap saling menghargai, perilaku kooperatif, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara damai. Faktor Pendukung dan Penghambat Proses implementasi nilai-nilai moderasi beragama di SMAN 2 Sape berlangsung secara sistematis dan menyeluruh, mencakup dimensi kurikulum, metode pembelajaran, interaksi antarwarga sekolah, serta budaya sekolah secara keseluruhan. Nilai-nilai seperti toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal tidak hanya disampaikan secara teoritis dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), tetapi juga diinternalisasi melalui pendekatan kontekstual yang melibatkan pengalaman langsung dan refleksi kritis peserta didik terhadap dinamika sosial di sekitarnya. Implementasi ini menunjukkan bahwa pendidikan agama dapat menjadi instrumen efektif dalam menanamkan nilai-nilai moderat jika dilakukan secara konsisten dan berbasis realitas. Keberhasilan implementasi moderasi beragama tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor strategis yang bekerja secara sinergis dalam membentuk ekosistem pendidikan yang inklusif dan suportif. Pertama, lingkungan sekolah yang terbuka dan menerima perbedaan menciptakan atmosfer belajar yang kondusif bagi pengembangan sikap saling menghormati dan dialogis. Kedua, dukungan dari kepala sekolah, guru, dan wali kelas menjadi kekuatan penting dalam menjamin kesinambungan dan konsistensi nilai-nilai moderasi dalam praktik pendidikan sehari-hari. Ketiga, tersedianya materi ajar yang kontekstual dan relevan Zainal Abidin Muhja. Aji Tasya Kamila, and Liza Shahnaz. AuImplementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Umum Agama Islam Di Universitas Borneo Tarakan,Ay JIIPJurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 5, no. : 5673Ae81. 94 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape memudahkan guru PAI dalam mengaitkan ajaran Islam dengan realitas sosial yang dihadapi peserta didik, sehingga nilai-nilai yang diajarkan tidak bersifat abstrak tetapi aplikatif. Melalui kombinasi ketiga faktor ini, nilai-nilai moderasi beragama dapat dihidupkan secara nyata dalam kehidupan sekolah dan memberi dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter kebangsaan dan toleransi yang kokoh di tengah masyarakat multikultural. Gambar 1 Faktor pendukung moderasi beragama Implementasi nilai-nilai moderasi beragama di SMAN 2 Sape didukung oleh sejumlah faktor strategis yang secara sinergis menciptakan ekosistem pembelajaran yang kondusif dan berorientasi pada penguatan karakter peserta didik. Faktor-faktor ini tidak hanya mendukung keberlangsungan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang moderat, tetapi juga memperkuat posisi nilai-nilai keagamaan yang inklusif sebagai bagian integral dari budaya Pertama, lingkungan sekolah yang inklusif menjadi fondasi utama dalam membangun atmosfer belajar yang kondusif bagi pengembangan sikap toleran, adil, dan terbuka terhadap keberagaman. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya merujuk pada kebijakan dan peraturan sekolah yang nondiskriminatif, tetapi juga tercermin dalam interaksi keseharian antar warga sekolah, baik antarsiswa maupun antara siswa dengan guru dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam suasana semacam ini, peserta didik merasa dihargai dalam identitas mereka, sekaligus belajar untuk menghargai orang lain yang berbeda latar belakang agama, budaya. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 95 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin maupun sosial-ekonomi. Inklusivitas ini menjadi pintu masuk yang efektif bagi internalisasi nilai-nilai moderasi, karena peserta didik berada dalam lingkungan yang mendukung pembelajaran sosial dan emosional secara alami. Kedua, dukungan dari kepala sekolah dan wali kelas memegang peran strategis dalam memperkuat sinergi antar elemen pendidikan di Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner dan responsif terhadap isu-isu keberagaman menjadi kunci keberhasilan implementasi pendidikan moderasi beragama. Kepala sekolah memberikan ruang kebijakan dan dukungan administratif bagi guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam, untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang berorientasi pada nilai. Di sisi lain, wali kelas menjadi jembatan antara nilai-nilai yang diajarkan dalam mata pelajaran agama dengan praktik pembinaan karakter di luar jam pelajaran. Kolaborasi antara guru PAI, wali kelas, dan kepala sekolah menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak bersifat sektoral, tetapi menyeluruh dan berkesinambungan. Ketiga, ketersediaan materi ajar yang kontekstual sangat mendukung efektivitas implementasi nilai-nilai moderasi. Guru diberikan keleluasaan untuk memilih atau bahkan menyusun bahan ajar yang relevan dengan realitas sosial siswa, sehingga ajaran Islam tidak diposisikan sebagai doktrin yang abstrak, melainkan sebagai panduan moral yang hidup dan aplikatif. Materi pembelajaran yang dikontekstualisasikan dengan isu-isu aktual seperti toleransi antarumat beragama, penolakan terhadap kekerasan, radikalisme, dan penguatan komitmen kebangsaan, menjadikan proses belajar lebih bermakna dan mampu menyentuh dimensi afektif peserta didik. Dengan cara ini, nilai-nilai keagamaan tidak diajarkan sebagai hafalan kognitif semata, melainkan sebagai bagian dari proses reflektif yang membentuk kesadaran etis siswa. Ketiga faktor strategis tersebut lingkungan sekolah yang inklusif, dukungan kelembagaan dari kepala sekolah dan wali kelas, serta ketersediaan materi ajar yang kontekstual membangun fondasi kuat bagi keberhasilan internalisasi nilai-nilai moderasi beragama dalam diri siswa. Dalam konteks ini, proses pembelajaran menjadi lebih dari sekadar transmisi ia menjadi ruang transformasi karakter yang melahirkan pribadi-pribadi religius yang humanis, toleran, dan siap hidup dalam masyarakat yang plural. Namun demikian, terdapat pula beberapa faktor penghambat yang perlu diperhatikan. Masih terdapat pengaruh eksternal dari paham-paham keagamaan yang eksklusif yang diakses siswa melalui media sosial atau lingkungan luar sekolah. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan kognitif apabila tidak ditangani secara tepat. Selain itu, terbatasnya literatur atau sumber ajar tentang moderasi beragama yang komprehensif menyebabkan guru harus 96 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape berupaya lebih dalam mengembangkan materi secara mandiri. Perbedaan latar belakang pemahaman siswa terhadap nilai keberagaman juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi siswa yang tumbuh dalam lingkungan homogen atau berpandangan sempit. Gambar 2 Mengtaasi hambatan dalam pendidikan moderasi beragama Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang bersifat simultan dan terintegrasi. Peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan menjadi sangat krusial agar mereka memiliki landasan konseptual yang kuat serta keterampilan pedagogis yang memadai untuk menginternalisasikan nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran. Upaya ini perlu didukung dengan penyediaan materi ajar kontekstual yang dapat mengaitkan ajaran Islam dengan realitas sosial siswa secara langsung. Dalam menghadapi resistensi peserta didik, guru perlu mengedepankan pendekatan yang dialogis, terbuka, dan persuasif, sehingga pembelajaran menjadi ruang yang aman untuk berbagi pandangan tanpa menghakimi. Selain itu, komitmen dari pihak manajemen sekolah untuk memperkuat kebijakan dan budaya sekolah yang inklusif merupakan faktor pendukung yang tidak dapat diabaikan. Melalui upaya kolektif ini, kendala-kendala yang dihadapi dalam implementasi moderasi beragama dapat diatasi secara efektif, sehingga tujuan pendidikan yang damai, toleran, dan berkeadaban dapat tercapai secara optimal. Temuan penelitian mengenai implementasi nilai-nilai moderasi beragama di SMAN 2 Sape memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana dan praktik pendidikan, baik secara teoretis, praktis, maupun sosial. Secara teoretis, hasil ini memperkuat asumsi bahwa IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 97 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin pendidikan agama tidak hanya berfungsi sebagai transmisi doktrin keagamaan, tetapi juga sebagai sarana strategis dalam membentuk sikap keberagamaan yang inklusif, toleran, dan menghargai keberagaman. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan karakter dan multikultural yang menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai hidup bersama dalam masyarakat yang plural. Secara praktis, keberhasilan guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi ke dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa sekolah dapat berperan sebagai agen transformatif dalam mencegah berkembangnya paham radikal dan intoleran, melalui strategi pedagogis yang kontekstual, reflektif, dan berbasis pengalaman peserta didik. Hal ini sekaligus menegaskan perlunya penguatan kapasitas guru dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip moderasi beragama secara sistematis dalam kurikulum dan pembelajaran. sisi lain, secara sosial, keberhasilan implementasi ini mencerminkan bahwa internalisasi nilainilai moderat di lingkungan sekolah mampu membentuk budaya damai, saling menghormati, dan kohesi sosial yang kuat di tengah realitas keberagaman. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menjadi dasar yang kuat bagi para pengambil kebijakan untuk menjadikan moderasi beragama sebagai bagian integral dalam desain pendidikan nasional dan program pengembangan profesi guru secara berkelanjutan. Kesimpulan Implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Sape menunjukkan efektivitas yang cukup signifikan dalam membentuk karakter peserta didik yang toleran dan inklusif. Proses pembelajaran yang diterapkan telah mampu menginternalisasikan prinsip-prinsip Islam yang rahmatan lil Aoalamin melalui pendekatan yang humanis, kontekstual, dan dialogis. Dalam hal ini, guru PAI berperan strategis sebagai agen perubahan, tidak hanya sebagai penyampai materi ajar, tetapi juga sebagai teladan dalam menanamkan sikap keberagamaan yang moderat, damai, serta menghargai keberagaman. Strategi pedagogis yang digunakan mencakup penguatan narasinarasi keagamaan yang menekankan pentingnya toleransi, sikap saling menghormati antarumat beragama, serta kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian integral dari ajaran Islam. Dengan pendekatan yang menekankan integrasi nilai-nilai moderasi beragama ke dalam proses pembelajaran. Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah tidak lagi terbatas pada penguasaan aspek kognitif semata, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan dimensi afektif dan praksis keberagamaan peserta didik. Melalui proses ini, 98 | IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Di Sman 2 Sape pembelajaran PAI mampu membentuk sikap keberagamaan yang inklusif, dialogis, dan berorientasi pada perdamaian. Peserta didik tidak hanya memahami ajaran Islam sebagai kumpulan norma-norma teologis, melainkan juga mampu menerjemahkannya ke dalam praktik kehidupan sosial yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, dan penghargaan terhadap keragaman. Implementasi pendekatan ini menempatkan pendidikan agama sebagai instrumen transformatif dalam membangun karakter peserta didik yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pendidikan yang demikian menjadi semakin relevan untuk mencegah munculnya sikap eksklusif dan intoleran yang dapat mengancam keutuhan sosial. Oleh karena itu, penguatan kurikulum berbasis moderasi beragama merupakan langkah strategis yang harus terus dikembangkan secara sistematis dan berkelanjutan. Upaya ini harus didukung oleh pelatihan guru secara berkala agar para pendidik memiliki pemahaman yang mendalam serta metodologi yang tepat dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi ke dalam praktik Selain itu, pembudayaan nilai-nilai moderasi di lingkungan sekolah juga menjadi aspek penting untuk menciptakan atmosfer pendidikan yang sejalan dengan semangat kebhinekaan. Dengan demikian, sekolah dapat berperan sebagai laboratorium sosial dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya religius secara individu, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian dalam masyarakat yang majemuk dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saran Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, saran yang dapat diajukan untuk pengembangan penelitian selanjutnya adalah perlunya eksplorasi lebih mendalam mengenai dinamika internalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui pendekatan pedagogis yang berbeda, seperti penggunaan media digital atau model pembelajaran berbasis proyek . rojectbased learnin. Penelitian selanjutnya juga disarankan untuk memperluas cakupan subjek dan lokasi penelitian guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang implementasi nilai-nilai moderasi beragama di berbagai konteks sosial dan kultural. Selain itu, analisis komparatif antara sekolah berbasis keagamaan dan sekolah umum dapat menjadi fokus kajian lanjutan guna melihat perbedaan strategi dan efektivitas dalam penguatan nilainilai moderat di lingkungan pendidikan formal. IQ (Ilmu Al-qurAoa. : Jurnal Pendidikan Isla. Volume 8 No. 02 2025 | 99 Ammad Chaisar. Nasaruddin. Kaharuddin Daftar Pustaka