JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 IDENTIFIKASI PERSEBARAN SPASIAL UMKM EKONOMI KREATIF DI KABUPATEN PRINGSEWU Surya Tri Esthi Wira Hutama . Berliana Adinda . Baiq Rindang Aprildahani . Chrisna Trie Hadi Permana. Laila Kusuma Ditama . Pariwisata. Institut Teknologi Sumatera. Lampung. Indonesia . Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Lampung. Lampung. Indonesia . Perencanaan Wilayah dan Kota. Institut Teknologi Sumatera. Lampung. Indonesia . Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Negeri Sebelas Maret. Surakarta. Indonesia . Perencanaan Wilayah dan Kota. Institut Teknologi Sumatera. Lampung. Indonesia *e-mail : surya. hutama@pariwisata. ABSTRAK Kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara agraris. Salah satunya di Kabupaten Pringsewu dengan kontribusi ekonomi paling besar berasal dari sektor pertanian. Namun pada 5 tahun terakhir, terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB, sehingga membutuhkan alternatif pengembangan ekonomi lainnya. Kondisi ini menuntut kualitas sumber daya manusia untuk memunculkan aktivitas olahan produk-produk bernilai dari potensi lokal Kabupaten Pringsewu. Kemunculan usaha berbasis kreativitas saat ini telah bermunculan di Kabupaten Pringsewu, sehingga perlu untuk mengembangkan usaha yang berbasis ekonomi kreatif. Pada artikel ini, dilakukan pemetaan klaster dengan pendekatan Analisis Hot Spot, terhadap seluruh pelaku usaha ekonomi kreatif. Analisis ini menunjukkan eksistensi jumlah dan persebaran para pelaku usaha ekonomi kreatif yang mengelompok di Kabupaten Pringsewu. Klaster ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu dominan terbentuk di Kecamatan Pagelaran. Pagelaran Utara dan Gadingrejo. Klaster yang terbentuk pada penelitian ini berupa kluster sektor kriya, musik, fashion, makanan ringan dan sektor kreatif lainnya. Penelitian ini menunjukkan terdapat pengelompokan usaha ekonomi kreatif terjadi di Kecamatan Gadingrejo dan Pagelaran Utara yang merupakan kecamatan di luar ibukota Pringsewu. Keberadaan pelaku usaha ekonomi kreatif dapat menjadi alternatif penggerak roda ekonomi di kawasan diluar ibukota Pringsewu. Kata Kunci : Klaster. Ekonomi Kreatif. Analisis Hot Spot ABSTRACT Indonesia's wealth of natural resources makes Indonesia an agricultural country. One of them is in Pringsewu Regency with the largest economic contribution coming from the agricultural sector. However, in the last 5 years, there has been a decline in the contribution of the agricultural sector to GRDP, necessitating other economic development alternatives. This condition demands the quality of human resources to produce processed activities of valuable products from the local potential of Pringsewu Regency. The emergence of creativity-based businesses is currently emerging in Pringsewu Regency, so it is necessary to develop creative economy-based businesses. In this article, cluster mapping was carried out using a Hot Spot Analysis approach for all creative economy business actors. This analysis shows the existence of the number and distribution of creative economy business actors clustered in Pringsewu Regency. The creative economy cluster in Pringsewu Regency is dominantly formed in Pagelaran. North Pagelaran and Gadingrejo Districts. The clusters formed in this research are craft sector clusters, music, fashion, snacks and other creative sectors. This research shows that there is a grouping of creative economic businesses occurring in Gadingrejo and Pagelaran Utara sub-districts, which are sub-districts outside the capital Pringsewu. The existence of creative economy business actors can be an alternative driving force for the economy in areas outside the capital Pringsewu. Keywords: Cluster. Creative Economy. Hot Spot Analysis PENDAHULUAN Kekayaan sumber daya alam Indonesia, berdampak pada kebergantungan ekonomi negara terhadap sektor yang berbasis sumber daya alam. Besarnya ketergantungan ekonomi terhadap sumber daya alam juga terjadi di Pulau Sumatera, salah satunya di Kabupaten Pringsewu. Provinsi Lampung. Dari keseluruhan pendapatan daerah JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Kabupaten Pringsewu sektor paling besar disumbangkan oleh sektor pertanian, peternakan, dll. Namun sejak tahun 2016 Ae 2021, persentase sektor pertanian, peternakan, dll menurun 1% dari keseluruhan pendapatan. Pertumbuhan ekonomi Lampung masih bertumpu pada sektor pertanian yang masih rentan, sehingga perlu meningkatkan daya saing produk pertanian dan penumbuhan sektor-sektor baru dalam menunjang pertumbuhan ekonomi (Dardanila. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya sektor ekonomi alternatif di Kabupaten Pringsewu. Kekayaan dan keragaman suku bangsa dan budaya di Kabupaten Pringsewu menjadi potensi budaya yang dapat dikembangkan. Tingginya suku pendatang disebabkan program transmigrasi untuk mendistribusikan penduduk dari Pulau Jawa ke seluruh Indonesia, salah satunya di Kabupaten Pringsewu. Potensi keragaman bangsa dan budaya tersebut dapat merepresentasikan budaya melalui cara-cara yang unik, inovatif, dan kreatif dalam beradaptasi (Budianto et al. Potensi tersebut mulai terlihat dari karakteristik kelompok seni yang perkembangan dan keberlanjutan dipengaruhi asal usul, geografi, dan tata kelolanya (Kong, 2. Ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor yang memiliki kemampuan mendorong kinerja pada sektor industri yang mencakup industri kreatif (Ichsan & Verena, 2. Kondisi menunjukkan bahwa adanya peluang berkembangnya berbagai aktivitas ekonomi kreatif dari kekayaan keragaman suku dan budaya yang ada di Kabupaten Pringsewu. Ekonomi kreatif merupakan berbagai aktivitas ekonomi yang memanfaatkan kreativitas, pemikiran, teknologi, dan kebudayaan hasil interaksi manusia sebagai komoditas utamanya (Comunian, 2. Ekonomi kreatif di Indonesia dinilai berdampak positif di tahun 2015, berdasarkan Hasil Survei Ekonomi Kreatif oleh Badan Pusat Statistik dan Badan Ekonomi Kreatif nilai PDB ekonomi kreatif mencapai 852 triliun dengan laju pertumbuhan sebesar 4,38%. Dengan nilai tersebut sektor ekonomi kreatif berkontribusi pada PDB Indonesia sebesar 7,38%, sehingga hal ini menjadi contoh keberhasilan bagi seluruh daerah bahwa ekonomi kreatif merupakan sektor strategi yang mampu menjadi kekuatan baru perekonomian di masa yang akan datang. Meningkatnya aktifitas ekonomi kreatif yang telah terlatih terindikasi dapat bertindak sebagai penyangga potensi penurunan ekonomi, sehingga dapat mengimbangi dan mempertahankan mereka dalam proses pemulihan (Mazilu et al. , 2. Pengembangan ekonomi kreatif merupakan pilihan tepat untuk menjaga ketahanan ekonomi dalam kondisi krisis global dikarenakan Ekonomi kreatif yang berbasis lingkungan merupakan pendekatan ekosistem untuk merevitalisasi lingkungan berbasis budaya yang mengintegrasikan penduduk perkotaan dengan ekonomi regional dan masyarakat sipil (Stern & Seifert, 2. Selain menjaga ketahanan, ekonomi kreatif memiliki dinamika perubahan lingkungan yang cepat dikarenakan pergeseran digital dan globalisasi, sehingga mengarah pada munculnya pemain baru, koeksistensi yang sangat struktur besar dengan entitas mikro, transformasi progresif dari rantai nilai dan berkembang perilaku dan harapan konsumen (Doyle, 2. Dampak dari ekonomi kreatif juga berdampak dalam menciptakan ide Ae ide kreatif maupun inovasi baru terhadap usaha disekitarnya, sehingga dapat menambah kemampuan untuk bersaing dalam dunia ekonomi (Bimantara et al. , 2. Sebagai upaya dalam mengembangkan ekonomi kreatif maka diperlukan suatu ekosistem yang kondusif dalam pengembangan usaha yang lebih besar. Para pelaku usaha ekonomi kreatif juga merupakan wirausahawan yang mengandalkan kontak, koneksi, dan pengetahuan lokal mereka tentang usaha tersebut (Feldman & Francis, 2. Dimana bekerja secara berkelompok menjadi peluang untuk dapat berkembang dan terkoneksi secara bersama. Hal ini sejalan dengan definisi klaster yaitu suatu usaha yang terkonsentrasi secara geografis dengan subsector yang sama (Sandee, 2. Pengklasteran dapat memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan dan wilayah di mana klaster usaha beroperasi, termasuk peningkatan daya saing, produktivitas yang lebih tinggi, pembentukan perusahaan baru, pertumbuhan, profitabilitas, pekerjaan pertumbuhan dan inovasi (Bagwell, 2. Dalam upaya peningkatan klaster ekonomi, maka perlu mengubah keseimbangan antara budaya dan perdagangan, salah satunya dengan gagasan tentang klaster yang melibatkan hal yang jauh lebih luas variasi bentuk ruang, fisik dan non fisik, dari bangunan, jalan dan kuartal ke seluruh ekonomi regional yang saling berkolaborasi, dari pelaku usaha besar, menengah dan kecil (Mommaas, 2. Pengelompokan dan pengembangan usaha ekonomi kreatif akan berdampak pada perbaikan lingkungan kota, baik secara estetis maupun kualitas lingkungan. Lingkungan dari Kota Kreatif menjanjikan vitalitas perkotaan, kekhasan, sentralitas, kekayaan penciptaan dan di atas semua kondisi JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 untuk ''mengendarai gelombang'' perubahanAy demi kepentingan kota (Landry, 2. Pengembangan ekonomi kreatif merupakan ruang untuk lahirnya inovasi terhadap produk yang dihasilkan Berdasarkan kekayaan lokal di Kabupaten Pringsewu (Tri et al. , 2. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu adanya ruang bagi klaster ekonomi kreatif yang menjadi tumbuhnya ekosistem yang kondusif. Dalam menjawab kondisi tersebut, artikel ini akan mengidentifikasi pola persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif yang membentuk klaster di Kabupaten Pringsewu. Diharapkan melalui riset ini, dapat berdampak bagi para stakeholder dalam mengembangkan ekonomi kreatif, sehingga dapat berdampak lebih signifikan pada pelaku usahanya. DATA DAN METODE Pengelompokan pelaku usaha ekonomi kreatif disajikan secara spasial berdasarkan jumlah pelaku usaha di setiap desa/kelurahan. Data pelaku usaha ekonomi kreatif yang bersumber dari data persebaran ekonomi kreatif Kabupaten Pringsewu tahun 2021 akan disajikan secara spasial, sehingga dapat menggambarkan ciri khas khusus dan identitas wilayah tersebut. Dimana data tersebut telah divalidasi dengan Pemerintah Kabupaten Pringsewu. Proses analisis klaster akan dilakukan terhadap pelaku usaha ekonomi kreatif menggunakan metode analisis Hot Spot. Analisis Hot Spot merupakan alat yang digunakan untuk menghitung Getis-Ord statistik. Z-score dan pvalue dari suatu fitur untuk diketahui gambaran klaster secara spasial. Untuk menjadi area Hot Spot, alat ini akan mengidentifikasi kedekatan data di sekitar fitur yang memiliki kedekatan nilai. Fitur tersebut dianggap sebagai Hot Spot yang signifikan secara statistik ketika jumlah atribut yang dikaitkan nilai disekitarnya berbeda dari jumlah yang diharapkan ketika fitur dibagi secara acak di atas ruang . an der Zee et al. , 2. Pengelompokan juga akan berlaku terbalik bila nilai Z-score memiliki nilai yang rendah dengan sekitarnya, sehingga akan terbantuk Cold Spot. Analisis ini dapat memberikan tampilan yang akurat menggambarkan konsentrasi pengelompokan, dapat mengungkapkan variansi kelompok kecil, dan berkorelasi terhadap kepadatan kelompok (Wang & Varady, 2. Melalui analisis ini dapat mengidentifikasi kedekatan jumlah para pelaku usaha ekonomi kreatif, sehingga dapat disimpulkan area Hot Spot yang terbentuk. Area Hot Spot yang muncul akan menginformasikan besarnya implikasi dari lokasi tertinggi keberadaan pusat aktivitas pelaku ekonomi kreatif. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Persebaran Pelaku Usaha Ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu Jumlah pelaku usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu berjumlah 1. 482 pelaku usaha ekonomi kreatif (Gambar . dengan 3 sub sektor memiliki jumlah pelaku usaha terbanyak, yaitu pada sub sektor kriya dengan total 734 pelaku usaha. sub sektor fashion dengan total 334 pelaku usaha dan sub sektor kuliner dengan total 258 pelaku usaha. Berdasarkan jumlah, ketiga sub sektor ini dapat diandalkan dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu. Pada Gambar 1 dan Gambar 2 merupakan persentase persebaran pelaku usaha kreatif di Kabupaten Pringsewu dimana dengan jumlah pelaku usaha terbanyak, yaitu pada sub sektor kriya dengan persentase 49% pelaku usaha, sub sektor fashion dengan persentase 23% pelaku usaha cdan sub sektor kuliner dengan persentase 17% pelaku usaha. Berdasarkan peta persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif (Gambar . , menunjukkan bahwa pelaku usaha tersebar cukup merata di setiap kecamatan. Beberapa kecamatan dengan jumlah paling signifikan berada di Kecamatan Gadingrejo. Pagelaran dan Pagelaran Utara. Berikut persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Kriya Fashion Kuliner Seni Pertunjukan Penerbitan Musik Lain - lain Sumber: Bappeda Kabupaten Pringsewu, 2022 Gambar 1. Persebaran Pelaku Usaha Berdasarkan Sektor Ekonomi Kreatif di Kabupaten Pringsewu Sumber: Hasil Analisis, 2022 Gambar 2. Peta Persebaran Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif di Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Kriya Sub sektor kriya pada ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu merupakan sub sektor dengan jumlah terbesar dengan persentase sebesar 49% yang terdiri tiga kelompok kegiatan kriya yang dilakukan, yaitu pelaku pengolahan bambu dan kayu. pelaku pengolahan tekstil atau kain. dan pelaku pengolahan lainnya seperti besi dan Sub sektor kriya menjadi salah satu sektor yang menjadi ciri khas di Kabupaten Pringsewu yang dikenal dengan bambunya, sehingga terdapat banyak pengrajin bambu yang mengolah bambu menjadi kerajinan tangan dan barang-barang untuk dirumah atau furniture. Beberapa produk kriya yang dihasilkan berupa peralatan rumah tangga, meuble hingga keset (Gambar . Sumber: Database Ekonomi Kreatif Kab Pringsewu, 2022 Gambar 3. Produk Sub Sektor Kriya Kabupaten Pringsewu Persebaran pelaku usaha sub sektor kriya terkelompok di Kecamatan Gadingrejo dengan kegiatan pengolahan Sedangkan di Kecamatan Ambarawa. Pagelaran dan Banyumas memiliki kegiatan pengolahan kain perca atau tekstil. Berdasarkan hasil analisis Hot Spot menunjukkan bahwa titik pengelompokan membentuk Hot Spot berada di Kecamatan Gadingrejo. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok pelaku usaha kriya tidak hanya terpusat namun memiliki pengelompokan jumlah yang signifikan. Kondisi ini dapat menjadikan Kecamatan Gadingrejo memiliki peluang sebagai pusat ekosistem sektor kriya di Kabupaten Pringsewu. Terbentuknya pengelompokan JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 pelaku usaha kriya dengan bahan baku bambu dikarenakan kebutuhan masyarakat dengan suku jawa di Kecamatan Gadingrejo yang memiliki pola kebiasaan menggunakan peralatan kebutuhan sehari Ae hari. Gambar 4 . Peta Persebaran Jumlah Usaha Sub Sektor Kriya Kabupaten Pringsewu. Peta Klaster Analisis Hot Spot Sub Sektor Kriya Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Fashion Sub sektor fashion pada ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu merupakan sub sektor dengan jumlah terbesar dengan persentase sebesar 22,52% yaitu sebanyak 358 pelaku usaha. Dalam sub sektor ini terdapat tiga kelompok kegiatan fashion yang dilakukan, yaitu sebanyak 50% pada kegiatan tapis. 47,2% pada kegiatan menjahit dan koleksi baju fashion. dan 2,8% yaitu kegiatan pembuatan baju sulam seperti sulam (Gambar . Sub sektor fashion dengan kegiatan tapis mayoritas di Kabupaten Pringsewu menjadi salah satu kegiatan yang diprioritaskan dengan tersedianya sentra tapis di Pekon Lugusari. Kecamatan Pagelaran yang mendukung para pelaku usaha di bidang ini dan juga mengembangkan potensi lokal. Peran dari keberadaan pelaku usaha ekonomi kreatif pada sektor fashion sangat penting, terutama dalam menjaga kearifan lokal di Kabupaten Pringsewu. Sumber: Database Ekonomi Kreatif Kab Pringsewu, 2022 Gambar 5. Produk Sub Sektor Fashion Kabupaten Pringsewu Berdasarkan peta persebaran pelaku usaha sub sektor fashion menunjukkan bahwa kegiatan ini terkelompok di Kecamatan Pagelaran. Pagelaran Utara dan Banyumas (Gambar 6. Kondisi eksisting saat ini telah terbentuk pusat kegiatan tapis atau sentra tapis di Kecamatan Pagelaran. Berdasarkan hasil analisis Hot Spot yang dilakukan, menunjukkan bahwa pengelompokan pelaku usaha paling kuat berada di Kecamatan Pagelaran dan Pagelaran Utara (Gambar 6. Hal ini menunjukkan bahwa pengelompokan pelaku usaha di kedua kecamatan tersebut dapat membentuk suatu ekosistem aktivitas fashion, dimulai dari aktivitas penyediaan bahan baku yang JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 saat ini masih didapatkan dari luar Kabupaten Pringsewu, produksi hingga kegiatan pemasaran produk fashion di Kabupaten Pringsewu. Sumber: Hasil Analisis, 2022 Gambar 6. Peta Persebaran Usaha Sub Sektor Fashion Kabupaten Pringsewu. Klaster Sub Sektor Fashion Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Kuliner Sub sektor selanjutnya dalah sub sektor kuliner yang merupakan 3 sub sektor terbesar di Kabupaten Pringsewu. Dimana persentase dari sub sektor kuliner di Kabupaten Pringsewu mencapai 17% yang terdiri dari: olahan makanan lain . neka kue, olahan jagung dan lainny. , olahan singkong, olahan pisang, kopi, dan olahan minuman lain . lahan daun kelor dan rempah-rempa. (Gambar . Produk olahan kuliner di Kabupaten Pringsewu merupakan hasil olahan dari produk komoditas local seperti singkong, pisang, jagung dan kopi yang merupakan komoditas basis di Kabupaten Pringsewu berdasarkan RPJMD Kabupaten Pringsewu Tahun 20172022. Pembentukan klaster makanan akan meningkatkan daya tarik suatu tempat dengan membantu membentuk identitas dan citra tempat yang unik, merangsang ekonomi kreatif dan pembangunan di wilayah pedesaan (Lee & Wall, 2. Sumber: Database Ekonomi Kreatif Kab Pringsewu, 2022 Gambar 7. Produk Sub Sektor Kuliner Kabupaten Pringsewu Pelaku usaha sub sektor kuliner di Kabupaten Pringsewu tersebar hampir di seluruh kecamatan Kabupaten Pringsewu dengan intensitas yang berbeda-beda. Pelaku ekonomi sub sektor kuliner tersebar di Kecamatan Pagelaran Utara. Kecamatan Pagelaran. Kecamatan Gadingrejo, dan Kecamatan Sukoharjo. Berdasarkan hasil analisis Hot Spot menunjukkan bahwa pengelompokan pelaku usaha kuliner paling kuat di Kecamatan Pagelaran Utara. Hal ini berpeluang bagi Kecamatan Pagelaran Utara sebagai pusat dari ekosistem olahan kuliner, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan hingga aktivitas pemasaran produk kuliner. Produksi terhadap produk kuliner, dipengaruhi tingginya produksi dan variasi produk pertanian sebagai bahan baku di JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Kecamatan Pagelaran Utara. Selain itu produk makanan yang dihasilkan memiliki kedekatan dengan kondisi social masyarakat yang sudah sejak lama berada di Kecamatan Pagelaran Utara. Sumber: Hasil Analisis Hot Spot, 2022 Gambar 8. Peta Persebaran Usaha Sub Sektor Kuliner Kabupaten Pringsewu, . Peta Klaster Sub Sektor Kuliner Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Seni Pertunjukan Salah satu sub sektor ekonomi kreatif lainnya di Kabupaten Pringsewu adalah seni pertunjukan yang pada sub sektor ini mengangkat seni budaya atau tradisi lokal. Di Kabupaten Pringsewu pelaku sub sektor kesenian pertunjukan terdiri dari seni budaya lokal, seperti sanggar tari, kesenian wayang kulit, kesenian ketoprak, kesenian beladiri pencak silat, dan kesenian kuda kepang/kuda lumping/reog (Gambar . Keberadaan pelaku usaha ekonomi kreatif di sektor pertunjukan yang ada di Kabupaten Pringsewu merupakan kebudayaan dari suku Jawa yang merupakan mayoritas penduduk di Kabupaten Pringsewu. Sumber: Database Ekonomi Kreatif Kab Pringsewu, 2021 Gambar 9. Produk Sub Sektor Seni Pertunjukan Kabupaten Pringsewu Persebaran Pelaku usaha sub sektor seni pertunjukan di Kabupaten Pringsewu tersebar hampir di Kecamatan Gadingrejo. Sukoharjo. Ambarawa dan Pringsewu dengan intensitas yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil analisis Hot Spot, menunjukan bahwa pengelompokan pelaku usaha seni pertunjukan paling signifikan berada di Kecamatan Gadingrejo (Gambar . Mayoritas suku yang menempati Kecamatan Gadingrejo adalah suku jawa, sehingga berimplikasi pada aktivitas social budayanya. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Gadingrejo berpeluang sebagai pusat dari ekosistem seni pertunjukan, sehingga dapat dikembangkan jenis aktivitas yang dapat mengembangkan seni pertunjukan. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 . Sumber: Hasil Analisis, 2022 Gambar 10. Peta Persebaran Usaha Sub Sektor Seni Pertunjukan Kabupaten Pringsewu, . Peta Klaster Sub Sektor Seni Pertunjukan Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Penerbitan Sub sektor ekonomi kreatif selanjutnya adalah sector penerbitan yang dalam sub sektor ini jenis kegiatan usaha di Kabupaten Pringsewu meliputi 56% jenis usaha tekstil dan sablon serta 44% jenis usaha percetakan Di Dalam sub sektor penerbitan di Kabupaten Pringsewu hasil produk yang dihasilkan seperti buku, undangan, brosur, sticker, banner, dan lain-lain yang berkaitan dengan sektor penerbitan (Gambar . Sumber: Database Ekonomi Kreatif Kab Pringsewu, 2021 Gambar 11. Produk Sub Sektor Penerbitan Kabupaten Pringsewu Pelaku usaha sub sektor penerbitan di Kabupaten Pringsewu tersebar di Kabupaten Pringsewu dengan intensitas yang berbeda-beda. Pelaku ekonomi sub sektor penerbitan didominasi oleh Kecamatan Gadingrejo. Sukoharjo. Adiluwih, dan Ambarawa (Gambar . Berdasarkan hasil analisis Hot Spot menunjukkan bahwa terbentuk pengelompokan paling signifikan di Kecamatan Sukoharjo (Gambar . Kondisi menjadi peluang bagi Kecamatan Sukoharjo untuk mengembangkan aktivitas penerbitan sebagai identitas dan kekuatan ekonomi Persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif sektor penerbitan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengelompokan di Kabupaten Pringsewu. JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Sumber: Hasil Analisis, 2022 Gambar 12. Peta Persebaran Usaha Sub Sektor Penerbitan Kabupaten Pringsewu. Peta Klaster Sub Sektor Penerbitan Kabupaten Pringsewu Pola Klaster Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif Sub Sektor Musik Sektor terakhir yang memiliki kontribusi cukup besar di Kabupaten Pringsewu adalah sub sektor ekonomi kreatif adalah musik. Dimana sub sektor ini mengangkat seni budaya lokal dan juga musik modern. Kabupaten Pringsewu sektor musik terdiri dari pelaku seni musik, orgen tunggal, musik band, kesenian campur sari/karawitan, qasidah dan orkes keroncong. Pelaku usaha sub sektor musik di Kabupaten Pringsewu tersebar di Kecamatan Gadingrejo. Sukoharjo dan Ambarawa (Gambar . Berdasarkan hasil analisis Hot Spot, menunjukkan bahwa pengelompokan Pelaku ekonomi sub sektor musik paling signifikan berada di Kecamatan Gadingrejo (Gambar . Berikut adalah peta persebaran jumlah usaha ekonomi kreatif sub sektor musik di Kabupaten Pringsewu. Sumber: Hasil Analisis, 2022 Gambar 13. Peta Persebaran Usaha Sub Sektor Musik Kabupaten Pringsewu. Peta Klaster Sub Sektor Musik Kabupaten Pringsewu JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Potensi Terbentuknya Pusat Ekonomi Kreatif di Kabupaten Pringsewu Berdasarkan hasil identifikasi terhadap persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pingsewu menunjukkan bahwa terdapat 6 sub sektor ekonomi kreatif yang memiliki porsi paling besar terhadap keseluruhan ekonomi kreatif. Subsektor tersebut yaitu Kriya. Fashion. Kuliner. Seni Pertunjukan. Penerbitan dan Musik yang tersebar di Kabupaten Pringsewu. Persebaran dari setiap subsektor ekonomi kreatif tersebut memiliki intensitas yang berbeda-beda. Data persebaran para pelaku usaha, selanjutnya dianalisis dengan metode analisis Hot Spot. Berdasarkan analisis ini menunjukkan potensi terbentuknya pusat ekonomi sektor Berdasarkan pengelompokan sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu: C Persebaran pelaku usaha subsektor kriya secara signifikan terpusat di Kecamatan Gadingrejo hingga disebagian wilayah Kecamatan Sukoharjo. C Persebaran pelaku usaha subsektor fashion membentuk kelompok terpusat di Kecamatan Pagelaran dan Pagelaran Utara. Hal ini didukung dengan adanya sentra pengrajin tapis yang sudah terbentuk. C Persebaran Subsektor selanjutnya adalah subsector kuliner yang berdasarkan hasil analisis membentuk kelompok terpusat di Kecamatan Pagelaran Utara. C Persebaran Subsektor pertunjukan memiliki pengelompokan yang terbentuk terpusat di Kecamatan Gadingrejo hingga diperbatasan Kecamatan Pringsewu. C Persebaran Subsektor penerbitan membentuk pengelompokan terpusat di Kecamatan Sukoharjo. Sisanya tersebar di Pringsewu. Ambarawa. Pardasuka. Adiluwih dan Gadingrejo. C Persebaran Subsektor music membentuk pengelompokan terpusat di Kecamatan Gadingrejo hingga di desa yang berbatasan dengan kecamatan Sukoharjo. Beberapa persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu dipengaruhi budaya dan pengetahuan sebagai masukan yang diperlukan untuk penciptaan produk ekonomi kreatif (Miguel & HerreroPrieto, 2. Hal ini menjadi salah satu bentuk kekuatan akar rumput secara budaya terhadap usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsewu. Kecamatan yang membentuk pusat ekonomi kreatif berada di Kecamatan Pagelaran. Pagelaran Utara dan Gadingrejo. KESIMPULAN Berdasarkan artikel ini, menunjukkan bahwa pada beberapa kecamatan di Kabupaten Pringsewu memiliki potensi ekonomi kreatif, sehingga mampu menjadi kekuatan baru perekonomian di masa yang akan datang. Para pelaku usaha ekonomi kreatif di Kabupaten Pringsdewu menyadari ekonomi eksternal mampu mempengaruhi sebagian besar industri kreatif dan menentukan konkritnya persebaran usaha (Lazzeretti et al. , 2. Penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pembentukan ruang-ruang ekonomi kreatif dimana ruang merupakan aset vital dalam mempertahankan segmen ekonomi budaya, sehingga para pelaku kreatif tidak bergerak secara individu dalam produksi yang mendukung "kolaborasiAy dan kreasi bersamaAy (Donald et al. , 2. Ruang tersebut harus dapat diakses secara finansial, bersifat multiguna, sehingga dapat mendukung proses artistik (Bain & McLean. Berdasarkan hasil analisis, menunjukkan bahwa Kecamatan Gadingrejo. Pagelaran. Pagelaran Utara dan Sukoharjo dapat dijadikan sebagai pusat ruang interaksi para pelaku usaha ekonomi kreatif. Selain itu, keberadaan aktivitas ekonomi kreatif juga berperan dalam memberikan ide dan inovatif terhadap aktivitas ekonomi lain di wilayah sekitarnya. Berdasarkan analisis Hot Spot menunjukkan kedekatan angka pelaku usaha ekonomi kreatif secara tidak langsung dapat secara kuat berimplikasi pada kelurahan disekitarnya. Hal ini menjadi peluang untuk memperkuat pengembangan ekonomi kreatif sesuai dengan klasifikasi produknya, sehingga dapat dengan tepat sasaran dan signifikan berkembang. Dari sudut pandang implikasi kebijakan, strategi dapat difokuskan beberapa pendekatan, mengingat konsentrasi spasial industri kreatif di beberapa tempat, otoritas regional dapat memutuskan untuk melakukannya mendukung konsentrasi ini atau memberikan kebijakan untuk menumbuhkan industri kreatif di tempat tersebut (Bagwell, 2. Berdasarkan paradigma baru, ketiga kecamatan tersebut perlu untuk dipertimbangkan, mengingat pentingnya pusat secara teritorial yang berfokus pada peningkatan modal sosial dari kolektivitas manusia dan berada di wilayah tertentu (Boccella & Salerno, 2. Upaya tersebut dapat berupa pelatihan, penguatan kelembagaan, bantuan modal hingga pemasaran, sehingga dapat mengembangkan ekonomi kreatif di wilayah JOURNAL OF PLANO STUDIES VOLUME 1 No. 1 JUNI 2024 ISSN ONLINE : 3047-2857 Tentu upaya yang perlu dilakukan adalah merangsang dan memperkuat hubungan antara aktor sosial dan institusional dan untuk mempromosikan kebijakan dalam mendukung pembangunan daerah (Boccella & Salerno. Diharapkan dengan kesadaran terhadap potensi klaster yang terbentuk, para pelaku usaha dapat bersinergi untuk meningkatkan keunggulan usaha kreatif lokal dengan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif sebagai upaya meningkatkan ekonomi di Kabupaten Pringsewu. DAFTAR PUSTAKA