https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 e-ISSN: 2964-2876, p-ISSN: 2964-9579 DOI: https://doi.org/10.38035/jpmpt.v1i3 Received: 12 Juli 2023, Revised: 26 Juli 2023, Publish: 01 Agustus 2023 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ Pengaruh Persepsi Risiko, Overconfidence, dan Loss Aversion terhadap Pengambilan Keputusan Investasi Saham (Studi Kasus Generasi Milenial Wilayah Jakarta Barat) Rahmat Ilahi1, Fathihani Fathihani2, Riki Aprianto3 1 Universitas Dian Nusantara, Jakarta, Indonesia, rahmaet212@gmail.com Universitas Dian Nusantara, Jakarta, Indonesia, fathihani.@undira.ac.id 3 Universitas Dian Nusantara, Jakarta, Indonesia, rikiaprianto2104.@gmail.com 2 Corresponding Author: rahmaet212@gmail.com1 Abstract: This study analyzes the influence of risk perception, overconfidence and loss aversion on stock investment decision making among millennials in West Jakarta. Increased interest in investing leads to increased interest in buying company shares or stock mutual funds so researchers are interested in examining what influences their investment decisions. This study uses quantitative research methods, by collecting data through questionnaires distributed to millennials in the region. The dependent variable in this study is investment decision making, with the independent variables being risk perception, overconfidence, and loss aversion. Risk perception and overconfidence significantly influence stock investment, while loss aversion has no significant effect. These findings suggest that millennials are increasingly interested in investing due to the ease and convenience of buying and selling stocks. Keyword: Risk Perception, Overconfidence, Loss Aversion, Investment Decision Making. Abstrak: Penelitian ini menganalisis pengaruh dari persepsi risiko, overconfidence dan loss aversion terhadap pengambilan keputusan investasi saham di kalangan generasi milenial di Jakarta Barat. Meningkatnya minat berinvestasi menyebabkan meningkatnya minat untuk membeli saham perusahaan atau reksa dana saham sehingga peneliti tertarik untuk meneliti apa saja ysng mempengaruhi keputusan inventasi mereka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan mengumpulkan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada generasi milenial di wilayah tersebut. Variabel dependen pada penelitian ini yaitu pengambilan keputusan investasi, dengan variabel independennya yaitu persepsi risiko, overconfidence, dan loss aversion. Persepsi risiko dan overconfidence secara signifikan mempengaruhi investasi saham, sedangkan loss aversion tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi milenial semakin tertarik untuk berinvestasi karena semakin mudah dan nyamannya membeli dan menjual saham. 150 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 Kata Kunci: Persepsi Risiko, Overconfidence, Loss Aversion, Pengambilan Keputusan Investasi. PENDAHULUAN Seiring dengan berkembangnya pengetahuan mengenai investasi, minat generasi milenial untuk berinvestasi pun semakin meningkat. Perkembangan teknologi juga berperan penting dalam menarik minat mereka, terutama dengan hadirnya berbagai aplikasi sekuritas yang memudahkan proses jual beli saham secara praktis dan efisien. Pasar modal sebagai salah satu media investasi keuangan memiliki berbagai jenis produk yang disebut dengan efek atau surat berharga (Fathihani, 2020). Saat ini aksesibilitas yang semakin mudah, kesempatan untuk berinvestasi di pasar saham menjadi semakin terjangkau dan menguntungkan, sehingga menginspirasi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam upaya membangun portofolio keuangan yang stabil dan menguntungkan. Generasi milenial memiliki kecenderungan untuk mengandalkan teknologi untuk mengakses informasi tekait investasi. Hal ini mendukung pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang investasi untuk membuat keputusan investasi yang cerdas. Pengetahuan yang memadai sangat diperlukan, hal –hal yang sangat penting untuk diketahui adalah bagaimana menilai kinerja perusahaan dalam beberapa tahun (Siti et al., 2021). Berdasarkan data KSEI pada akhir semester I tahun 2022, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 4.002.289, dengan 99,79% merupakan investor individu lokal. Dari gambar diatas terdapat data menarik bahwa investor saham didominasi oleh investor berusia di bawah 40 tahun, yaitu gen z dan milenial sebesar 81,64% dengan nilai aset yang mencapai Rp144,07 triliun. Sedangkan 60,45% investor berprofesi sebagai karyawan swasta, pegawai negeri, guru dan pelajar, dengan nilai aset mencapai Rp358,53 triliun (KSEI, 2022). Hal ini tentu menjadi kabar baik karena banyak kalangan anak muda dari gen z hingga milenial mulai tertarik berinvetasi, yang biasanya mereka seringkali merasa takut untuk berinvestasi karena prosesnya terlihat rumit. Investor saham masih terkonsentrasi di pulau Jawa yaitu sebesar 69,59%, sudah termasuk 13,97% yang berdomisili di DKI Jakarta, dengan nilai total aset mencapai Rp3.772,32 triliun. Wilayah DKI Jakarta masih mendominasi dengan nilai aset mereka di pasar modal, sebesar Rp 3.469,01 triliun, yang dimiliki oleh investor sebanyak 1.340.032 triliun (KSEI, 2022). Hal Hal ini tentu mengindikasikan bahwa masyarkat DKI Jakarta masih mempentingkan kesadaran akan pentingnya investasi. Hal ini juga didukung oleh penelitian Saraswati (2022) yang menyimpulkan bahawa kesadaran generasi milenial untuk berinvestasi di DKI Jakarta sangat tinggi (3,42 dari 4,00). Pilihan investasi terbesar adalah real estate dan saham. Tujuan dari penelitan ini yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi generasi milenial dalam mengambil keputusan investasi pada portofolio saham. Adapun variabel independen pada penelitian ini yaitu persepsi risiko, overconfidence dan loss averson dengan variabel dependen pengambilan keputusan investasi. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Apakah persepsi resiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi saham? 2. Apakah overconfidance berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi saham? 3. Apakah loss aversion berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi saham? 151 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 METODE Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuntitatif dengan kajian pustaka. Dalam analisis teori atau hubungan setiap variabel, peneliti melakukan pengujian melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Metode penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme menganalisis populasi atau sampel tertentu, dengan pengumpulan data menggunakan instrumen dan analisis data bersifat kuantitatif atau statistik. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2018). Penelitian ini dilakukan pada generasi milenial sekitar wilayah jakarta barat dengan total responden sebanyak 100 orang. informasi yang dikumpulkan mencakup data usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan dari setiap responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pengukuran (Outer Model) Hasil yang diperoleh dari pengujian outer model atau model pengukuran menggunakan analisis convergen validity, discriminant validity, uji nidimensionalitas yang dapat diketahui sebagai berikut: 1. Convergen Validity Pengujian validitas konvergen merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu hubungan antara indikator dengan konstruk atau variable laten. Apabila nilai loading factor dari hasil pengujian lebih besar daripada tingkat yang telah ditetapkan maka dapat dikatakan bahwa indikator yang digunakan telah memenuhi validitas konvergen. Diketahui bahwa batas minimum bahwa data loading faktor dapat dikatakan memenuhi validitas konvergen adalah 0,7. Berikut ini merupakan hasil pengujian validitas konvergen dalam penelitian ini. Sumber: Data Peneliti (2023) Gambar 1. Pengujian dengan SEM PLS 3 Berdasarkan hasil pengujian yang tersaji pada gambar 1 diatas, diketahui bahwa nilai hasil pengujian dari masing masing indicator yang digunakan untuk menggambarkan variabel yang diuji berada diatas dari 0,7. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa indicator yang digunakan untuk menggambarkan variabel yang diuji telah memenuhi validitas konvergen. 152 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 2. Discriminant Validity Validitas diskriminan merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk memastikan bahwa setiap konsep dari masing-masing variabel laten berbeda. Pengujian validitas diskriminan dalam penelitian ini dengan membandingkan nilai AVE pada tabel FornellLarcker Criterion serta tabel cross loading hasil pengujian. Jika nilai akar AVE lebih besar dari korelasi antar variable latent maka discriminant validity terpenuhi. Berikut ini merupakan hasil pengujian validitas diskriminan dalam penelitian ini. Tabel 1 Fornell-Larcker Criterion X1 X2 Persepsi Risiko (PR) 0.893 Overconfidence (OC) 0.926 0.898 Loss Aversion (LA) 0.867 0.828 Pengambilan Keputusan Investasi 0.927 0.909 (PKI) Sumber: Data Peneliti (2023) X3 Y 0.869 0.871 0.850 Berdasarkan hasil pengujian Fornell-Larcker Criterion yang tersaji pada tabel 1 diatas, diketahui bahwa nilai AVE yang diamati lebih kecil dari pada korelasi variabel latent sehingga hasil pengujian Fornell-Larcker Criterion belum terpenuhi. Sumber: Data Peneliti (2023) Gambar 2. Pengujian dengan SEM PLS 3 Sesudah Deliminasi Setelah melakukan pengujian ulang dengan menghilangkan indikator variabel yang nilaikorelasinya paling kecil dari setiap variabel X yaitu indikator PR4,OC4, LA5 dan indikator dari variabel Y yaitu PKI2 dan PKI4 sehingga diketahui kembali hasil pengujian Fornell-Larcker Criterion sebagai berikut: Tabel 2 Fornell-Larcker Criterion Sesudah Deliminasi Persepsi Risiko (PR) Overconfidence (OC) Loss Aversion (LA) Pengambilan Keputusan Investasi (PKI) X1 0.914 0.909 0.841 0.925 X2 X3 Y 0.913 0.795 0.901 0.909 0.837 0.933 Sumber: Data Peneliti (2023) 153 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 Berdasarkan hasil ulang pengujian Fornell-Larcker Criterion yang tersaji pada tabel 4.3 dan hasil pengujian Cross Loading yang tersaji pada tabel 4.3 diatas, diketahui bahwa nilai AVE yang diamati lebih besar dari pada korelasi variabel latent sehingga dapat disimpulkan pengujian Fornell-Larcker Criterion terpenuhi. Tabel 3 Cross Loading LA1 LA2 LA3 LA4 OC1 OC2 OC3 OC5 PKI1 PKI3 PKI5 PR1 PR2 PR3 PR5 Persepsi Risiko Overconfidence Loss Aversion 0.779 0.721 0.815 0.737 0.803 0.843 0.840 0.834 0.895 0.873 0.817 0.912 0.922 0.920 0.900 0.759 0.673 0.766 0.685 0.917 0.925 0.914 0.898 0.854 0.876 0.789 0.824 0.787 0.843 0.866 0.881 0.907 0.944 0.903 0.695 0.729 0.731 0.746 0.801 0.786 0.754 0.786 0.768 0.766 0.753 Pengambilan Keputusan Investasi 0.766 0.713 0.809 0.751 0.798 0.819 0.831 0.843 0.946 0.945 0.906 0.845 0.831 0.837 0.865 Sumber: Data Peneliti (2023) Setelah hasil pengujian untuk hasil penguijan validitas diskriminan berdasarkan pengujian Fornell-Larcker Criterion diketahui selanjutnya yaitu menguji nilai cross loading dari masing-masing indikator yang sudah di deliminasi untuk menggambarkan ketiga variabel yang diteliti dalam penelitian. Berdasarkan hasil pengujian Fornell-Larcker Criterion yang tersaji pada tabel 2 dan hasil pengujian Cross Loading yang tersaji pada tabel 3 diatas, diketahui bahwa nilai AVE yang diamati lebih besar daripada variabel lain yang diteliti. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel yang diteliti dalam penelitian ini telah memenuhi validitas diskriminan. 3. Uji Unidimensionalitas Uji unidimensionalitas merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji apakah indikator konstruk yang diteliti tidak bias atau dengan kata lain variabel yang diteliti telah digambarkan seacara sesuai. Apabila nilai composite reliability lebih besar dari 0,7 dan nilai average variance extracted (AVE) lebih besar dari 0,5 maka dapat disimpulkan bahwa variabel yang diteliti dalam penelitian ini tidak mengalami unidimensional. Berikut ini merupakan hasil pengujian unidimensional dalam penelitian ini. Tabel 4 Composite Reliability dan Cronbach’s alpha Cronbach's rho_A Composite AVE Alpha Reliability Persepsi Risiko 0.934 0.934 0.953 0.835 Overconfidence 0.934 0.934 0.953 0.834 Loss Aversion 0.930 0.932 0.950 0.827 154 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Pengambilan Keputusan Investasi Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 0.925 0.927 0.952 0.870 Sumber: Data Peneliti (2023) Melihat pada tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa nilai composite reliability dan cronbach’s alpha dari keseluruhan kosntruk memiliki nilai lebih > 0,7, maka untuk uji unidimensionalitas/reliabilitas tidak terdapat masalah. Sehingga data pada penelitian dapat dinyatakan valid dan reliabel. Model Struktural (Inner Model) Model Struktural atau Inner Model memiliki tujuan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antar konstruk dan R Square (Trenggonowati dan Kulsum, 2018). Pada pengujian model struktural atau inner model dilakukan dengan cara 3 (tiga) tahap yaitu dengan menggunakan nilai R2 , Q2 , dan Goodness of Fit. Tabel 5 R Square R Square Pengambilan Investasi (Y) Keputusan 0.885 R Square Adjusted 0.881 Sumber: Data Peneliti (2023) Pada tabel 5 (R Square) diatas dapat diketahui nilai R Square pada variable Pengambilan Keputusan Investasi sebesar 88,5%, sementara sisanya sebesar 11,5% dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 𝑄! = 1 βˆ’ (1 βˆ’ 𝑅!" ) 𝑄! = 1 βˆ’ (1 βˆ’ 0,885) 𝑄! = 1 βˆ’ (0,115) 𝑄! = 0,885 Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa nilai Q Square pada penelitian ini sebesar 0,885. Jika dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan maka nilai Q square hasil pengujian lebih besar dari 0. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa nilai observasi yang dihasilkan oleh model bernilai baik. Tabel 6 Goodness of Fit SRMR d_ULS d_G Chi-Square NFI Saturated Model Estimated Model 0.041 0.041 0.203 0.203 0.373 0.373 203.856 203.856 0.891 0.891 Sumber: Data Peneliti (2023) Berdasarkan hasil pengujian Goodness of Fit yang tersaji pada tabel 6 diatas diketahui bahwa nilai SRMR hasil pengujian sebesar 0,041 dan hasil pengujian tersebut lebih kecil daripada 0,08. Sementara itu, nilai NFI hasil pengujian sebesar 0,891 dan hasil pengujian tersebut lebih besar dari 0,9. Berdasrkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data dari sampel yang diteliti telah mengikuti distribusi teoritis. 155 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 Pengujian Hipotesis Uji hipotesis merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independent terhadap variabel dependen. Pengambilan keputusan pada pengujian ini dengan membandingkan nilai t-hitung hasil pengujian dengan nilai t yang telah ditetapkan. Bersarnya nilai t yang ditetapkan dalam penelitian ini sebesar 1,96. 0.490 Tabel 7 Path Analysis Sample Standard Mean (M) Deviation (STDEV) 0.475 0.113 0.320 0.301 0.171 0.204 Original Sample (O) Persepsi Risiko -> Pengambilan Keputusan Investasi Overconfidence -> Pengambilan Keputusan Investasi Loss Aversion -> Pengambilan Keputusan Investasi T Statistics (|O/STDEV|) P Values 4.350 0.000 0.104 3.067 0.002 0.118 1.448 0.148 H1: Pengaruh Persepsi Risiko Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai t-hitung dari hasil pengujian antara variabel Persepsi Risiko terhadap Pengambilan Keputusan Investasi sebesar 4,350. Jika dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan maka nilai t-hitung hasil pengujian lebih besar dari 1,96. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara Persepsi Risiko terhadap Pengambilan Keputusan Investasi pada Generasi Milenial Wilayah Jakarta Barat. Keputusan Investasi juga dipengaruhi oleh persepsi seseorang terhadap suatu risiko. Pada penelitian Robbins and Judge (2008:175) Persepsi adalah proses dimana individu mengatur dan menginterprestasikan kesan-kesan sensor mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Saraswati, 2022). Sedangkan pada penelitian Ahmad dkk, (2020) telah mendefinisikan variabel Persepsi Risiko mengacu pada bagaimana investor memandang risiko aset keuangan, berdasarkan kekhawatiran dan pengalaman mereka. Pada penelitian ini Persepsi Risiko berpengaruh terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hikmah dan Rustam (2020) menunjukkan hasil bahwa Persepsi Risiko berpengaruh positif terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Jadi bisa disimpulkan bahwa pegambilan keputusan investasi saham pada generasi milenial dipengaruhi oleh persepsi risiko mereka. jadi semakin positif persepsi risiko yang dimiliki oleh generasi milenial, maka kecenderungan untuk mengambil keputusan investasi akan semakin tinggi. H2: Pengaruh Overconfidence Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai t-hitung dari hasil pengujian antara variabel Overconfidence terhadap Pengambilan Keputusan Investasi sebesar 3,067. Jika dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan maka nilai t-hitung hasil pengujian lebih besar dari 1,96. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara Overconfidence terhadap Pengambilan Keputusan Investasi pada Generasi Milenial Wilayah Jakarta Barat Terlalu percaya diri juga dianggap sebagai penilaian yang berlebihan terhadap kemampuan, kinerja, dan peluang seseorang untuk sukses. Pada penelitian Moore dan Healy (2008) dijelaskan bahwa terlalu percaya diri sebagai keyakinan yang lebih baik lebih baik 156 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 daripada orang lain (overplacement), serta kepastian yang berlebihan mengenai keakuratan keyakinan seseorang (overprecision). keyakinan yang berlebihan (overprecision).(Syed Zulfiqar Ali Shah, Maqsood Ahmad, 2018) Pada penelitian ini Overconfidence berpengaruh terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adiputra (2021) mununjukkan bahwa Overconfidence berpengaruh positif terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Jadi bisa disimpulkan bahwa pegambilan keputusan investasi saham pada generasi milenial dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri (overconfidence) dalam mengambil keputusan invetasinya. jadi semakin besar overconfidence yang dimiliki oleh generasi milenial, maka kecenderungan untuk mengambil keputusan investasi akan semakin tinggi. H3: Pengaruh Loss Aversion Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa nilai t-hitung dari hasil pengujian antara variabel Loss Aversion terhadap Pengambilan Keputusan Investasi 0,148. Jika dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan maka nilai t-hitung hasil pengujian lebih besar dari 1,96. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara Loss Aversion terhadap Pengambilan Keputusan Investasi pada Generasi Milenial Wilayah Jakarta Barat. Loss Aversion merupakan kecenderungan seseorang memberikan penjelasan yang masuk akal untuk bias ini karena kerugian lebih signifikan daripada keuntungan dalam jumlah yang setara, keuntungan yang pasti lebih disukai daripada keuntungan probabilistik, dan kerugian probabilistik lebih disukai daripada kerugian yang pasti . Loss aversion dapat menyebabkan investor mengambil keputusan yang kurang rasional, seperti tidak mengambil risiko yang seharusnya diambil atau terlalu banyak mempertahankan investasi yang sudah merugi. Loss Aversion menurut Zat dan Khan (2017) mengacu pada penghindaran kerugian dimana investor berpikir lebih aktif atau sadar untuk melindungi penurunan modal dan ketakutan akan kerugian daripada pertumbuhan investasi mereka (keuntungan). Pada penelitian ini Loss Aversion tidak berpengaruh terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Septi dkk. (2019) menunjukkan bahwa Loss Aversion tidak berpengaruh terhadap Pengambilan Keputusan Investasi. Jadi bisa disimpulkan bahwa pegambilan keputusan investasi saham pada generasi milenial tidak dipengaruhi oleh kecenderungan menghindari kerugian (loss aversion) dalam mengambil keputusan invetasinya. jadi semakin tinggi sikap loss aversion yang dimiliki oleh generasi milenial, maka kecenderungan untuk mengambil keputusan investasi akan semakin rendah. . Conceptual Framework Beracuan ke penjabaran di atas, didapat kerangka berpikir pada ulasan ini Sumber: Data Peneliti (2023) Gambar 3. Rerangka Konseptual 157 | P a g e https://greenpub.org/JPMPT Vol. 1, No. 3, Juli - September 2023 KESIMPULAN Berdasarkan penuturan di atas, rumusan hipotesis pada artikel selanjutnya, yaitu: 1. Persepsi Resiko berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan investasi saham 2. Overconfidance berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan investasi saham 3. Loss Aversion tidak berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan investasi saham REFERENSI Adiputra, I. G. (2021). The Influence of Overconfidence , Representative Bias , and Risk Tolerance in Investment Decision Making : Evidence on Stock Investors in Indonesia. March. Ahmad, M., Zulfiqar, S., & Shah, A. (2020). Overconfidence heuristic-driven bias in investment decision-making and performance : mediating effects of risk perception and moderating effects of financial literacy. Fathihani. (2020). Authentic Happiness As a Mediator of Learning Organization. 2(1), 112– 124. https://doi.org/10.31933/DIJMS Hikmah, & Rustam, T. ananda. (2020). Pengetahuan nvestasi, Motivasi Investasi, Literasi Keuangan dan Persepsi Resiko Pengarugnya Terhadap Minat Investasi Pada Pasar Modal. Junal Manajemen Dan Keuangan, 8(November), 131–140. KSEI. (2022). Didominasi Milenial dan Gen Z, Jumlah Investor Saham Tembus 4 Juta. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, 1–2. Saraswati, H. (2022). Kesadaran investasi generasi milenial di DKI Jakarta Indonesia. Akuntabel, 19(2), 357–365. https://doi.org/10.30872/jakt.v19i2.10935 Septi, N., Ainia, N., & Lutfi, L. (2019). The influence of risk perception , risk tolerance , overconfidence , and loss aversion towards investment decision making. 21(3), 401–413. Siti, B., Hidayati, A., Bintang, S., & Putra, M. (2021). Pengaruh Pengetahuan Investasi , Manfaat Investasi , Motivasi Investasi , Modal Minimal Investasi Dan Return Investasi Terhadap Minat Investasi Di Pasar Modal ( Studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram ) Latar Belakang Pasar mo. 9(1). Syed Zulfiqar Ali Shah, Maqsood Ahmad, F. M. (2018). Heuristic biases in investment decision-making and perceived market e ffi ciency A survey at the Pakistan stock exchange. https://doi.org/10.1108/QRFM-04-2017-0033 Zat, M. I. R., & Khan, U. (2017). Impact of availability bias and loss aversion bias on investment decision making , moderating role of risk perception. 1(1), 17–28. 158 | P a g e