Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 ESTU UTOMO HEALTH SCIENCE JURNAL ILMIAH KESEHATAN http : //w. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG MANAJEMEN LAKTASI DENGAN PEMBERIAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI DESA KEMBANGSARI Emy Kurniawati. Melinasari. , . Program Studi Sarjana Keperawatan STIKES Estu Utomo Email : emy@stikeseub. ABSTRAK Latar Belakang: Pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi akan berpengaruh pada keberhasilan ibu dalam pemberian ASI dan mengurangi masalah yang timbul. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen laktasi cenderung lebih sering memberikan ASI kepada bayinya. Sebaliknya, jika seorang ibu memiliki pengetahuan yang kurang tentang manajemen laktasi, maka kemungkinan ibu akan kesulitan dalam memberikan ASI yang cukup untuk bayinya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa Kembangsari. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, menggunakan metode observasional analitik, pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 33 orang, pengambilan sampel menggunakan purposive Sampling. Instrument penelitian mengunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dan pemberian ASI. Analisis bivariat menggunakan uji kendallAos tau-b. Hasil: Tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dalam tingkat cukup sebanyak 21 responden . 6%), pemberian ASI dalam kategori cukup 24 responden . 2%). Hasil uji kendallAos tau b diperoleh nilai p value 0,001 . < 0,. artinya ada hubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa Kembangsari. Simpulan: Terdapat hubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa Kembangsari. Dengan hasil penelitian ini lebih meningkatkan pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi, dikarenakan pengetahuan yang tinggi akan meningkatkan pemberian ASI. Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan. Manajemen Laktasi. Pemberian ASI ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE LEVEL ABOUT LACTATION MANAGEMENT AND BREASTFEEDING MOTHERS IN KEMBANGSARI VILLAGE Emy Kurniawati. Melinasari. , . STIKES Estu Utomo Undergraduate Nursing Study Program Email : emy@stikeseub. ABSTRACT Background: Maternal knowledge about lactation management will affect the success of breastfeeding and reduce problems that arise. A mother who has good knowledge about lactation management tends to breastfeed her baby more often. Conversely, if a mother has less knowledge about lactation management, then it is likely that she will have difficulty in providing adequate breast milk for her baby. Objective: This study aims to determine the relationship between the level of knowledge of lactation management with breastfeeding mothers in Kembangsari Village. Methods: This study is a quantitative study, using analytic observational method, cross sectional approach with a total sample of 33 people, sampling using purposive sampling. The research instrument used a questionnaire on the level of knowledge about lactation management and breastfeeding. Bivariate analysis using Kendal tau b test. Results: The level of knowledge about lactation management in the sufficient level as many as 21 respondents . 6%), breastfeeding in the sufficient category 24 respondents . 2%). The results of Kendall's tau b test obtained a p value of 0. < 0. means that there is a relationship between the level of knowledge about lactation management with breastfeeding in breastfeeding mothers in Kembangsari Village. Conclusion: There is a relationship between the level of knowledge about lactation management and breastfeeding mothers in Kembangsari Village. With the results of this study, it is better to increase the mother's knowledge about lactation management, because high knowledge will increase breastfeeding. Keywords: Knowledge level, lactation management, breastfeeding PENDAHULUAN (ASI) Air Susu Ibu merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Pemberian ASI diberikan secara eksklusif sampai umur 6 bulan dan tetap mempertahankan ASI dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI sampai 2 tahun (Afrida & Aryani, 2. Pemberian ASI yang optimal dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas serta memiliki dampak jangka panjang pada kecerdasan dan kinerja seseorang pada saat dewasa (Horta et al. , 2. World Health Organization (WHO) menargetkan pada tahun 2025, prevalensi dari pemberian ASI eksklusif di dunia mencapai 50%. Data ASI eksklusif bayi yang berusia Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 kurang dari 6 bulan di tingkat dunia selama periode 2014-2020 mencapai prevalensi sebesar 44%. Asia Tenggara memiliki nilai prevalensi hampir sama dengan prevalensi dunia yaitu sebesar 45%, yang artinya keberhasilan ASI eksklusif masih dibawah 50% dari populasi (UNICEF, 2. Berdasarkan data dari Riskesdas 2018 prevalensi bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan sebesar 37,3%. Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi yang ada di Indonesia memiliki prevalensi bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sebesar 30,0% (Riskesdas, 2. Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah, berdasarkan data dari dinas kesehatan kabupaten Boyolali Tahun 2019, di kabupaten Boyolali cakupan bayi yang diberikan ASI esklusif adalah sebanyak 63, 8 %, pada tahun 2020 meningkat yaitu sebesar 64, 6% dan tahun 2021 meningkat sebesar 75,8% dari target 54% (Dinkes Boyolali, 2. Pemberian ASI yang optimal dapat membantu mengurangi mortalitas dan morbiditas pada bayi dan ibu, tapi untuk saat ini banyak kejadian dimana ASI itu tidak dapat diberikan secara optimal dikarena beberapa hal. Dampak dari tidak diberikannya ASI pada bayi, yakni ibu dan anak menjadi rentan terhadap penyakit. Balita yang tidak diberikan ASI eksklusif berpeluang 61 kali lipat mengalami stunting dari pada balita yang diberikan ASI eksklusif (IDAI, 2. Pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi berperan penting dalam pemberian ASI, ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang manajemen laktasi akan berpeluang baik dalam perilaku pemberian ASI eksklusif sebesar kali, dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan kurang tentang manajemen laktasi (Herry, 2. Pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi akan berpengaruh pada kebehasilan ibu dalam pemberian ASI dan mengurangi masalah yang timbul. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen laktasi cenderung lebih sering memberikan ASI kepada bayinya. Sebaliknya, jika seorang ibu memiliki pengetahuan yang kurang tentang manajemen laktasi, maka kemungkinan ia akan kesulitan dalam memberikan ASI yang cukup untuk bayinya. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan April 2023, dengan wawancara yang dilakukan kepada 5 orang ibu menyusui di Desa Kembangsari. Didapatkan 2 orang ibu menyusui memiliki pengetahuan yang cukup ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan tentang manajemen laktasi, 3 diantaranya memiliki pengetahuan yang kurang tentang manajemen laktasi. Tiga ibu menyusui mengatakan memiliki hambatan dalam pemberian ASI seperti pekerjaan, puting lecet, dan nyeri pada payudara. Dua ibu menyusui mengatakan memberikan ASI 8-10 kali sehari, 2 ibu menyusui mengatakan memberikan ASI lebih dari 5 kali sehari, 1 orang ibu menyusui mengatakan memberikan ASI sehari 4 kali. Berdasarkan latar belakang dan studi pendahuluan yang telah dilaksanakan peneliti tertarik untuk mengambil penelitian tentang Auhubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa KembangsariAy. Tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pengetahuan manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa Kembangsari METODE Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Posyandu Desa Kembangsari. Musuk. Kabupaten Boyolali, yang dilaksanakan pada bulan juli 2023. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu menyusui di Desa Kembangsari yang memiliki bayi yang berusia 0-24 bulan yaitu sebanyak 54 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui di Desa Kembangsari yang berjumlah 33 responden. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan adalah purposive sampling dengan kriteria inklusi: ibu yang masih menyusui bayinya dan ibu yang memiliki bayi berusia 0-24 bulan. Pada penelitian ini semua data dikumpulkan melalui lembar kuesioner yang peneliti bagikan ke 33 responden. Peneliti secara pribadi melakukan orientasi di setiap posyandu di Desa Kembangsari melalui kader posyandu. Setelah itu, sebelum pengumpulan data peneliti mengidentifikasi terlebih dahulu dengan kriteria inklusi. Peneliti menemui responden dengan datang ke posyandu setempat. Peneliti menjelaskan terlebih dahulu tujuan dan manfaat penelitian serta kesukarelaan dalam berpartisipasi dalam mengisi kuesioner. Responden mengisi kuesioner yang terdiri dari: kuesioner tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dan Pemberian ASI. Pengambilan data dilakukan bulan juli 2023. Kuesioner yang dilaporkan dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian. Pertama, karasteristik demografi, meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak. Bagian Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan kedua adalah pernyataan-pernyataan dalam ISSN CETAK : 1979-1879 meliputi tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dan pemberian ASI. Kuesioner tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi di adopsi dari penelitian Alfidayana . , 15 pertanyaan yang valid dengan rentang nilai 0,429-0,659 dan reliabel dengan nilai cronbachAos alpha 0,880. Kuesioner ini terdiri dari 15 pertanyaan dengan skor benar = 1, salah = 0. Kuesioner pemberian ASI merupakan kuesioner modifikasi dari penelitian Sembiring . dari 20 item pertanyaan dimodifikasi menjadi 18 item pertanyaan yang dilakukan uji validitas dan reliabilitas kepada 20 responden. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan di tempat yang sama dengan tempat penelitian yaitu Desa Kembangsari dengan sampel yang berbeda dengan sampel penelitian, dan didapatkan hasil 13 item pertanyaan yang valid dengan rentang nilai 0,485-0,853 dan reliabel dengan nilai cronbachAos alpha 0,891. Kuesioner ini terdiri dari 13 pertanyaan, apabila menjawab benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Analisis Data/Data analysis Analisa data bivariat menggunakan uji normalitas dengan shapiro wilk. Uji hipotesa dalam penelitian ini menggunakan analisis Kendal tau b, karena datanya tidak berdistribusi normal dan skala datanya ordinal- ordinal. Analisis bivariat menggunakan SPSS Versi 25. Entri dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 25 (IBM SPSS. Chicago. IL. USA). Karakteristik responden, pengetahuan tentang manajemen laktasi dan pemberian ASI dengan menggunakan statistik deskriptif. Normalitas data dianalisis menggunakan uji normalitas deskriptif. Uji korelasi kendallAos tau-b digunakan untuk mengkorelasikan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI dengan nilai p kurang dari 0,05 dianggap signifikan secara statistik HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu Usia Ibu 19 Ae 30 tahun 31 Ae 40 tahun 41 Ae 50 tahun Total Jumlah Presentase (%) Sumber : data primer diolah . ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Tabel 1 menunjukkan karakteristik responden mayoritas berusia 19-30 tahun yaitu sebanyak 21 responden . 6%), 31- 40 tahun sebanyak 10 responden . 3%), 41- 50 tahun sebanyak 2 responden . 1%). Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Total Jumlah Presentase (%) Sumber : data primer diolah . Tabel 2 menunjukkan tingkat pendidikan responden terbanyak adalah tamatan SMA/SMK yaitu sebanyak 15 responden . 5%), tamatan SMP sebanyak 11 responden . 3%), tamatan perguruan tinggi sebanyak 5 responden . 2%) dan tamatan SD sebanyak 2 responden . 1%). Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Petani PNS IRT Swasta Lain- lain Total Jumlah Presentase (%) Sumber : data primer diolah . Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas jenis pekerjaan adalah IRT sebanyak 20 responden . 6%), swasta sebanyak 8 responden . 2%), petani 2 responden . 1%), lain-lain 2 responden . 1%). PNS 1 responden . 0%). Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas Paritas Primipara Multipara Total Jumlah Presentase (%) Sumber : data primer diolah . Tabel 4 menunjukkan karakteristik responden mayoritas multipara sebanyak 21 . 6%), primipara sebanyak 12 responden . 4%). Tingkat Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi dan Pemberian ASI (Hasil Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 Analisis Univaria. Tabel 5 Rata-rata Tingkat Pengetahuan Tentang Manajamen Laktasi di Desa Kembangsari 2023 Pengetahuan Jumlah Presentase (%) Kurang Cukup Baik Total Sumber : data primer diolah . Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi yang cukup yaitu sebanyak 21 . 6%), kurang sebanyak 8 . 2%) dan baik sebanyak 4 . 1%). Tabel 6 Rata-rata Pemberian ASI Pada Ibu Menyusui di Desa Kembangsari 2023 Pemberian ASI Kurang Cukup Baik Total Jumlah Presentase (%) Sumber : data primer diolah . Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pemberian ASI yang cukup yaitu sebanyak 24 . 7%), kurang sebanyak 6 . 2%), baik sebanyak 3 . Uji Normalitas Tabel 7 Hasil Uji Normalitas Tingkat Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi Dengan Pemberian ASI Pada ibu menyusui Mean P-Value Tingkat Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi Pemberian ASI Sumber : data primer diolah . Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa hasil uji normalitas didapatkan nilai signifikasi tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi sebesar 0. 000 (<0. dan pemberian ASI sebesar 0. 000 (<0. yang berarti bahwa kedua data tidak berdistribusi normal, sehingga dapat dilakukan uji hipotesa menggunakan uji kendallAos tau-b. Uji Korelasi KendallAos Tau-B Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Manajemen Laktasi Dengan Pemberian ASI (Hasil Analisis Bivaria. ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Tabel 8 Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Manajemen Laktsi Dengan Pemberian ASI Pada Ibu Menyusui Pemberian ASI Total Tingkat Pengetahuan Kurang Kurang Cukup Baik Total Correlation Cukup Baik N % 5 2 6. 7 3 9. Sumber : data primer diolah . Berdasarkan analisis korelasi KendallAos tau b diperoleh nilai 0. 001 atau lebih kecil dari 0,05 . 001< 0. yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di desa kembangsari. Nilai koefisien korelasi KendallAos tau b adalah sebesar 0. 551 yang berarti kekuatan hubungan antara variabel kuat. Nilai korelasi positif menunjukkan bahwa arah korelasi positif atau searah. PEMBAHASAN Karakteristik responden berdasarkan usia dari 33 responden mayoritas merupakan ibu usia 19-30 tahun yaitu sebanyak 21 responden . 6%). Ibu yang berusia di bawah atau sama dengan 35 tahun menghasilkan ASI lebih banyak daripada ibu yang lebih tua. Sedangkan ibu usia 19-23 tahun biasanya dapat memproduksi ASI yang cukup dibandingkan ibu usia 30 tahun karena kondisi fisiknya masih baik (Indrayati et al. Menurut tingkat Pendidikan responden mayoritas adalah tamatan SMA/SMK yaitu sebanyak 15 responden . 5%). Dengan pendidikan yang tinggi maka memiliki pengetahuan yang baik maka akan berpengaruh pada sikap dan perilaku yang baik, khususnya dalam pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan merupakan salah satu komponen yang mewujudkan dan mendukung terjadinya perilaku. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi maka pengetahuan akan memiliki pengetahuan yang Menurut teori menyatakan bahwa orang yang memiliki pendidikan tinggi akan merespon yang rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang akan mereka dapatkan. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 akan lebih mudah menerima hal baru sehingga informasi lebih mudah diterima khususnya tentang ASI eksklusif (Wirdaningsih et al. , 2. Hasil analisis data distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan di desa kembangsari dari 33 responden mayoritas adalah IRT sebanyak 20 responden . 6%). Ibu yang bekerja kemungkinan tidak memberikan ASI eksklusif karena kebanyakan ibu bekerja mempunyai waktu merawat bayi lebih sedikit, sedangkan ibu tidak bekerja memiliki waktu lebih banyak dirumah merawat bayinya, sehingga ibu dapat memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, seorang ibu yang memiliki kewajiban untuk bekerja cenderung memiliki waktu yang sedikit untuk menyusui bayinya akibat kesibukan kerja, keadaan ini menyebabkan ibu menghentikan pemberian ASI pada bayinya (Adityaningrum et al. , 2. Distribusi paritas responden menunjukkan bahwa Sebagian besar ibu dengan paritas multipara sebanyak 20 responden . ,6%). Ibu multipara erat kaitannya dengan pengetahuan yang didapat dari pengalaman menyusui sebelumnya. Ketika seorang ibu sebelumnya sudah pernah mengalami menyusui, maka hal itu akan menjadi pengetahuan baginya ketika menyusui kembali dimasa selanjutnya. Ketika sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, maka kemungkinan bahwa ibu dapat mengatasi permasalah Ae permasalahan yang mungkin saja dihadapi (Mabud et al. , 2. Hasil penelitian ini menunjukkan responden berdasarkan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dari 33 orang mayoritas dalam tingkat cukup sebanyak 20 . 6%). Pengetahuan . adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek melalui pancaindra yang dimilikinya. Panca indra manusia guna pengindraan terhadap objek yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan perabaan (Masturoh & Anggita, 2. Dari hasil penelitian terhadap 33 responden, diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pemberian ASI yang cukup yaitu sebanyak 24 . 7%). Pemberian ASI merupakan bayi yang hanya diberi ASI saja selama 6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formulasi, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih (IDAI, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI dibedakan menjadi 3 faktor yaitu faktor pemudah . redisposing factor. , faktor ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan pendukung . nabling factor. dan faktor pendorong . einforcing factor. (Rudi Haryono & Setyaningsih, 2. Uji KendallAos tau b, menunjukkan . 0,001 atau < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha Sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Desa Kembangsari. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Woja et al. , . yang berjudul hubungan pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan perilaku pemberian ASI di Posyandu Seruni Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan perilaku pemberian ASI yang dibuktikan dengan nilai pvalue 0,006 (<0,. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Nugroho & Agesti . dengan judul hubungan pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Kadugemlo Pandeglang tahun 2020 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p-value 0,074 (>0,. Nugroho & Agesti . yang mengatakan tidak ada hubungan antara antara pengetahuan manajemen laktasi dengan pemberian ASI eksklusif disebabkan tidak adanya dukungan dari keluarga dan Dukungan keluarga seperti ibu, suami, dan ibu mertua dapat mempengaruhi perilaku ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Dukungan keluarga mempunyai hubungan yang bermakna dalam perilaku pemberian ASI eksklusif, dukungan keluarga yang dimaksud seperti dorongan keluarga untuk memberikan ASI segera setelah lahir, membantu dalam mengurus bayi dan tidak memberikan makanan tambahan sebelum bayi berusia 6 bulan. Notoatmodjo . menyatakan bahwa pengetahuan merupakan faktor penting dalam membentuk tindakan seseorang . vert behavio. dimana pengetahuan ini berasal dari hasil tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan. Budiman & Riyanto . menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantarnya adalah: Pendidikan, informasi/media massa, sosial budaya dan ekonomi, lingkungan, pengalaman, usia. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan dapat membentuk perilaku tertentu, sehingga seseorang berperilaku dengan memegang Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan ISSN CETAK : 1979-1879 keyakinan yang dipegangnya. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Duhita et al. , 2. Perilaku merupakan seperangkat perbuatan atau Tindakan seseorang dalam melakukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah aktivitas dari manusia baik yang diamati maupun tidak dapat diamati oleh interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan (Triwibowo & Pusphandani, 2. Perilaku atau tindakan dalam penelitian saya adalah pemberian ASI, dalam melakukan pemberian ASI dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu faktor pemudah (Pendidikan, pengetahuan, nilai-nilai adat budaya, umur, pekerjaan, pengalaman menyusu. , faktor pendukung . endapatan keluarga, ketersediaan waktu, kesehatan ib. dan faktor pendorong . ukungan keluarga, duknngan petugas kesehata. (Rudi Haryono & Setyaningsih, 2. Pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi merupakan faktor yang dapat memengaruhi dalam perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai manajemen laktasi maka akan berperilaku atau berbuat sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Adapun hal-hal yang perlu diketahui ibu mengenai manajemen laktasi meliputi manfaat ASI, teknik dan posisi menyusui, perlekatan bayi, frekuensi dan durasi menyusui hingga ASI perah . emerah, menyimpan dan menghangatkan ASI). Sehingga dengan pengetahuannya yang luas ini, ibu menyusui dapat mempersiapkan proses menyusui sejak dari kehamilan sehingga hambatan-hambatan yang mungkin terjadi selama proses menyusui di masa nifas dapat diminimalisir (Peprianti et al. , 2. Hariani et al . mengatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki ibu melandasi perilaku ibu dalam pemberian ASI kepada bayi. Pemberian ASI akan mempengaruhi asupan ASI dan berdampak pada peningkatan grafik pertumbuhan bayi. Hal ini sesuai dengan teori Bloom yang menyatakan bahwa, pemberian ASI oleh responden tersebut kemungkinan, didukung dengan pemahaman mengenai ASI dan sikap yang baik sehingga grafik pertumbuhan bayi baik KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian: tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi di desa Kembangsari termasuk dalam tingkat cukup yaitu sebanyak 21 responden . 6%). ISSN CETAK : 1979-1879 Vol. XVII. No. 2 Juli 2023 Estu Utomo Health Science-Jurnal Ilmiah Kesehatan Pemberian ASI pada ibu menyusui di desa Kembangsari yaitu sebagiam besar termasuk dalam kategori cukup yaitu sebanyak 24 responden . 7%). Tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi memiliki hubungan signifikan dengan pemberian ASI pada ibu menyusui . ilai p sebesar 0. 001, a < 0. 05, koefisien korelasi 0. Tingkat kekuatan hubungan dalam kategori kuat serta memiliki nilai positif atau searah, yang artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang manajemen laktasi maka pemberian ASI meningkat. DAFTAR PUSTAKA