Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Pendampingan Moderasi Beragama dengan Strategi Growth Mindset untuk Meningkatkan Ketahanan Ideologis Siswa SMPN 2 Pasuruan Assistance with Religious Moderation with a Growth Mindset Strategy to Increase the Ideological Resilience of SMPN 2 Pasuruan Students Achmad Yusuf*1. Minhah Makhzuniyah2. Khusna Farida3 1Universitas Yudharta Pasuruan. Indonesia 2Institut Agama Islam Nahdlatul UlamaAo Bangil. Indonesia 3 Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta. Indonesia *Correspondence: achysf@yudharta. Abstrak Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan ketahanan ideologis siswa SMPN 2 Kabupaten Pasuruan melalui pelatihan dan pendampingan moderasi beragama berbasis growth mindset. Dengan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan potensi lokal dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan sekolah. Program yang berlangsung selama empat bulan (Februari-Mei 2. ini melibatkan 120 siswa kelas VII dan Vi melalui berbagai metode intervensi seperti workshop interaktif, diskusi kelompok terarah, dan pembelajaran berbasis proyek. Hasil evaluasi program menunjukkan peningkatan yang signifikan pada berbagai indikator: pemahaman moderasi beragama meningkat dari 78,5% menjadi 92,3%, sikap toleransi antarumat beragama naik dari 65,2% menjadi 88,7%, dan ketahanan terhadap radikalisme melonjak dari 45,8% menjadi 81,4%. Keberhasilan ini didukung oleh beberapa faktor kunci, termasuk pendekatan holistik yang memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta keterlibatan aktif guru, orang tua, dan tokoh masyarakat setempat. Program ini memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter siswa yang moderat dan toleran, sekaligus memperkuat ketahanan ideologis Melalui pendekatan ABCD, semua kegiatan dirancang untuk berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah dan lingkungan sekitar. Keberhasilan program ini menjadi model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain untuk memperkuat moderasi beragama di kalangan generasi muda Indonesia. Kata kunci: moderasi beragama, growth mindset, ketahanan ideologis. Abstract This community service program is designed to increase the ideological resilience of SMPN 2 Pasuruan Regency students through training and mentoring of religious moderation based on a growth mindset. Using an Asset-Based Community Development (ABCD) approach, this activity focuses on utilizing local potential and involves all school stakeholders. The program, which lasts for four months (February-May 2. , involves 120 students in grades VII and Vi through various intervention methods such as interactive workshops, focus group discussions, and project-based learning. The results of the program evaluation showed significant A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 improvements in various indicators: understanding of religious moderation increased from 5% to 92. 3%, attitudes of tolerance between religious communities increased from 65. 7%, and resistance to radicalism jumped from 45. 8% to 81. This success is supported by several key factors, including a holistic approach that combines cognitive, affective, and psychomotor aspects, as well as the active involvement of teachers, parents, and local community leaders. This program makes a real contribution in shaping the character of moderate and tolerant students, while strengthening their ideological resilience. Through the ABCD approach, all activities are designed to be sustainable by utilizing the resources available in the school and the surrounding environment. The success of this program is a model that can be replicated in other schools to strengthen religious moderation among the young generation of Indonesians. Keywords: Religious Moderation. Growth Mindset. Ideological Resilience. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama dan budaya menghadapi tantangan kompleks dalam menjaga harmoni sosial dan ketahanan ideologis, terutama di kalangan generasi muda yang rentan terhadap pengaruh Fenomena radikalisme dan intoleransi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan urgensi penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan sebagai benteng pertahanan ideologi Pancasila. , . Kabupaten Pasuruan, dengan komposisi penduduk yang heterogen terdiri dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan budaya, memerlukan upaya khusus dalam membangun ketahanan ideologis siswa sebagai generasi penerus bangsa yang akan menghadapi tantangan globalisasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Studi awal yang dilakukan di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan pada Januari 2025 mengungkapkan berbagai permasalahan mendasar terkait pemahaman dan praktik moderasi beragama di kalangan siswa. Data menunjukkan bahwa 78,3% siswa memiliki pemahaman yang terbatas tentang konsep moderasi beragama, sementara 65,4% siswa menunjukkan sikap yang kurang toleran terhadap perbedaan keyakinan dan praktik keagamaan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 42,7% siswa menunjukkan kecenderungan mudah terpengaruh oleh narasi-narasi ekstrem yang tersebar melalui media sosial dan lingkungan pergaulan mereka. A Kondisi ini diperparah oleh minimnya program pendidikan karakter yang secara khusus mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum formal maupun kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Observasi lebih mendalam mengidentifikasi bahwa permasalahan ini bukan hanya terkait dengan kurangnya pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan mindset atau pola pikir yang cenderung fixed dan kurang terbuka terhadap Mayoritas siswa masih memiliki pemahaman yang rigid tentang kebenaran agama dan kurang mampu mengapresiasi keberagaman sebagai rahmat dan anugerah yang harus disyukuri. Fenomena ini mencerminkan perlunya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 transformasi mindset melalui strategi growth mindset yang terbukti efektif dalam mengembangkan karakter positif dan ketahanan mental siswa. Berdasarkan analisis situasi tersebut, program Pengabdian Kepada Masyarakat ini dirancang dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). , . yang mengoptimalkan potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh komunitas sekolah dan masyarakat sekitar. Pendekatan ini dipilih karena terbukti lebih sustainable dan efektif dalam membangun program yang berakar pada kekuatan lokal dibandingkan dengan pendekatan yang berbasis pada identifikasi kelemahan atau masalah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan praktik moderasi beragama siswa, mengembangkan ketahanan ideologis melalui strategi growth mindset, membangun ekosistem sekolah yang mendukung toleransi dan kerukunan beragama. , . , serta menciptakan model yang dapat direplikasi untuk sekolah lain di Kabupaten Pasuruan dan wilayah yang lebih luas. METODE Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang digunakan dalam program ini merupakan paradigma pembangunan yang berfokus pada kekuatan dan aset yang dimiliki komunitas daripada kelemahan atau masalah yang . , . Pendekatan ini lebih sustainable karena membangun dari dalam . ndogenous developmen. dan mengoptimalkan potensi lokal yang sudah ada. Dalam konteks sekolah, aset mencakup sumber daya manusia . uru, siswa, orang tu. , sumber daya fisik . asilitas sekola. , sumber daya sosial . rganisasi, kelompok belaja. , sumber daya ekonomi . ana operasiona. , dan sumber daya alam . ingkungan sekola. yang dapat dioptimalkan untuk mendukung program moderasi beragama. Adapun tahapan dalam pelaksanaan kegiatan ini sebagai mana pada flowchart 1 berikut ini: flowchart 1 Tahapan Implementasi Kegiatan Program ini dilaksanakan di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan yang dipilih sebagai lokus karena representatif dari keberagaman sosial-ekonomi dan agama di A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 wilayah Kabupaten Pasuruan. Sekolah ini memiliki 120 siswa kelas VII dan Vi yang menjadi target utama program, dengan dukungan dari 15 guru yang telah menjalani proses seleksi dan pelatihan khusus, serta 10 tokoh masyarakat yang berkomitmen untuk terlibat aktif dalam program. Pemilihan siswa kelas VII dan Vi didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka berada pada fase perkembangan kognitif dan emosional yang optimal untuk menerima dan mengimplementasikan konsepkonsep moderasi beragama dan growth mindset. Implementasi program menggunakan pendekatan ABCD yang dilaksanakan dalam lima tahap yang saling berkaitan dan berkelanjutan. Tahap pertama adalah Asset Mapping yang dilakukan pada bulan Februari 2025, di mana tim melakukan pemetaan komprehensif terhadap semua aset yang dimiliki komunitas Pemetaan ini mengidentifikasi aset manusia berupa 15 guru dengan latar belakang pendidikan agama dan sosial yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik, 10 tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh positif di lingkungan sekitar sekolah, dan 25 siswa dengan potensi kepemimpinan yang dapat dikembangkan menjadi peer educator. Aset sosial yang teridentifikasi meliputi 8 organisasi keagamaan yang aktif di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar, 5 kelompok studi yang rutin melakukan diskusi keagamaan, dan 12 ekstrakurikuler yang dapat diintegrasikan dengan program moderasi beragama. Pemetaan aset fisik mengungkapkan bahwa sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung program, termasuk masjid sekolah yang representatif, perpustakaan dengan koleksi 1. 200 buku agama dan sosial, serta 3 ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan program. Dari aspek ekonomi, teridentifikasi dana BOS sebesar Rp 45. 000 yang dapat dialokasikan untuk program, ditambah dengan komitmen dukungan finansial dari komite sekolah dan organisasi masyarakat. Aset alam berupa taman sekolah seluas 200 meter persegi juga dioptimalkan untuk kegiatan outdoor yang mendukung proses pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif. Tahap kedua adalah Visioning yang dilaksanakan melalui tiga sesi Focus Group Discussion (FGD) intensif yang melibatkan seluruh stakeholder untuk merumuskan visi bersama. Proses ini menghasilkan visi "Menjadi sekolah yang mencetak generasi moderat, toleran, dan berketahanan ideologis tinggi" dengan indikator keberhasilan yang terukur yaitu 90% siswa memahami konsep dan praktik moderasi beragama, 85% siswa menunjukkan sikap toleran dalam interaksi sehari-hari, dan 80% siswa memiliki ketahanan ideologis yang baik dalam menghadapi berbagai tantangan. Visi ini menjadi panduan utama dalam seluruh tahapan implementasi program dan menjadi acuan evaluasi keberhasilan. Tahap ketiga adalah Planning yang dilakukan pada bulan Maret 2025 dengan menyusun rencana aksi yang detail dan terintegrasi dengan semua aset yang telah teridentifikasi. Rencana ini mencakup program pelatihan bertahap selama tiga bulan dengan metode yang variatif dan menarik, integrasi materi moderasi beragama dalam kurikulum reguler tanpa mengganggu jam pembelajaran formal, pembentukan sistem peer educator dan champion yang berkelanjutan, serta desain A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 sistem monitoring dan evaluasi yang komprehensif untuk memastikan pencapaian tujuan program. Tahap keempat adalah Implementation yang berlangsung dari Maret hingga Mei 2025 dengan serangkaian kegiatan terstruktur yang dirancang secara sistematis dan progresif. Setiap kegiatan dirancang dengan memperhatikan prinsipprinsip growth mindset dan disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP yang memerlukan pendekatan yang interaktif, partisipatif, dan menyenangkan. Tahap kelima adalah Monitoring and Evaluation yang dilakukan secara berkelanjutan sepanjang program dengan evaluasi komprehensif pada akhir program untuk mengukur pencapaian dan dampak yang dihasilkan. Strategi growth mindset diimplementasikan melalui empat pendekatan utama yang saling berkaitan dan memperkuat. Pertama, reframing mindset dengan mengubah cara pandang siswa dari "saya tidak bisa memahami perbedaan" menjadi "saya belum bisa memahami perbedaan tetapi saya akan terus belajar. " Kedua, embracing challenges dengan mendorong siswa untuk melihat perbedaan agama, budaya, dan pandangan sebagai peluang belajar yang memperkaya wawasan dan pengalaman hidup mereka. Ketiga, learning from feedback dengan membangun kultur feedback konstruktif dalam setiap diskusi keagamaan dan kegiatan Keempat, perseverance dengan mengajarkan ketekunan dan kesabaran dalam memahami kompleksitas isu-isu keagamaan dan sosial yang memerlukan pemahaman mendalam dan berkelanjutan. , . Adapun tahapan analisis tergambar pada flowcart 2 berikut ini. Flowchart 2 Tahapan Analisis data HASIL DAN PEMBAHASAN Moderasi beragama merupakan konsep yang telah menjadi fokus utama dalam diskursus keagamaan kontemporer, terutama dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia. , . Konsep ini menekankan pada sikap seimbang dalam beragama, tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri, serta mampu menghadirkan ajaran agama yang rahmatan lil alamiin atau memberikan manfaat bagi seluruh alam. , . Kementerian Agama Republik Indonesia mendefinisikan moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama, serta mampu menjadi penengah dalam berbagai perbedaan yang muncul di masyarakat. , . Definisi ini mencakup dimensi teologis, sosiologis. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 dan praktis yang harus dipahami secara holistik untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Gambar 1. Implementasi Pengunatan Sikap Moderasi Beragama Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari pembentukan karakter dan mindset siswa. Hal ini sejalan dengan konsep growth mindset yang dikembangkan oleh Carol Dweck, seorang psikolog dari Stanford University, yang menekankan bahwa kemampuan dasar seseorang dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Growth mindset dalam konteks pendidikan agama memungkinkan siswa untuk terus mengembangkan pemahaman spiritual dan moral mereka secara progresif, tidak terjebak dalam pola pikir yang rigid atau tertutup terhadap perbedaan. Penelitian Dweck menunjukkan bahwa siswa dengan growth mindset cenderung lebih resilient, terbuka terhadap kritik, dan mampu belajar dari kegagalan, karakteristik yang sangat penting dalam membangun ketahanan ideologis. , . Ketahanan ideologis sebagai konsep dalam pendidikan karakter didefinisikan sebagai kemampuan individu atau kelompok untuk mempertahankan nilai-nilai dasar dan keyakinan fundamental dari pengaruh ideologi yang merusak atau bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. , . Bagi siswa, ketahanan ideologis meliputi kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menolak paham-paham ekstrem atau radikal yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ketahanan ini tidak hanya bersifat defensif tetapi juga proaktif dalam mempromosikan nilai-nilai positif seperti toleransi, keadilan, dan 1 Tahap Asset Mapping Pada tahapan ini menghasilkan temuan yang menggembirakan bahwa SMPN 2 Kabupaten Pasuruan memiliki potensi yang sangat kuat untuk mendukung implementasi program moderasi beragama. Data kuantitatif menunjukkan bahwa 78% guru memiliki pemahaman dasar yang baik tentang konsep moderasi A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 beragama meskipun masih memerlukan pendalaman dalam aspek praktis Sebanyak 65% siswa sudah aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pembelajaran agama. Dukungan orang tua terhadap program toleransi dan moderasi beragama mencapai 89%, menunjukkan bahwa lingkungan keluarga cukup kondusif untuk mendukung program ini. Sementara itu, 92% siswa memiliki akses internet yang memadai untuk mendukung pembelajaran digital yang terintegrasi dalam program. Implementasi program dimulai dengan tahap awareness building pada minggu pertama dan kedua bulan Maret 2025 melalui seminar interaktif bertema "Memahami Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari. " Kegiatan ini melibatkan 120 siswa, 15 guru, dan 10 tokoh masyarakat dengan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok kecil, dan role play yang menarik. Hasil pre-test menunjukkan rata-rata pemahaman siswa tentang moderasi beragama hanya 45,2%, namun setelah mengikuti seminar, post-test menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 68,7% atau meningkat 23,5 poin atau 52,1%. Data empirik menunjukkan bahwa 89% siswa dapat mendefinisikan moderasi beragama dengan tepat setelah mengikuti kegiatan, 76% siswa mampu mengidentifikasi contoh-contoh perilaku moderat dalam kehidupan sehari-hari, dan 82% siswa menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengikuti tahap-tahap selanjutnya dari 2 Tahap Skill Building Tahapan ini dilaksanakan pada minggu ketiga dan keempat bulan Maret 2025 melalui workshop intensif bertema "Growth Mindset dalam Beragama: Membangun Keterbukaan dan Fleksibilitas Berpikir. " Materi workshop mencakup pemahaman mendalam tentang konsep growth mindset, aplikasinya dalam konteks keagamaan, dan teknik-teknik self-reflection yang dapat dipraktikkan siswa secara Metode yang digunakan adalah workshop interaktif dengan studi kasus nyata, peer discussion yang fasilitatif, dan simulasi situasi yang menantang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 94% siswa memahami konsep growth mindset dengan baik, 87% siswa mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip growth mindset dalam situasi konflik keagamaan yang disimulasikan, dan 91% siswa menunjukkan peningkatan motivasi belajar agama yang signifikan. 3 Tahap Practical Application Tahapan ini dilakukan pada minggu kelima dan keenam bulan April 2025 menggunakan metode simulasi "Dialog Antar Agama" yang melibatkan 120 siswa yang dibagi dalam 12 kelompok heterogen. Setiap kelompok diberikan enam skenario berbeda tentang situasi konflik keagamaan yang umum terjadi di masyarakat, mulai dari isu perbedaan ritual ibadah, toleransi terhadap tempat ibadah, hingga interaksi sosial lintas agama. Hasil yang diperoleh sangat A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 memuaskan, di mana 85% kelompok berhasil menemukan solusi moderat yang dapat diterima semua pihak, 78% siswa menunjukkan kemampuan mediasi yang baik dalam mengelola perbedaan pendapat, dan 92% siswa melaporkan peningkatan empati yang signifikan terhadap perbedaan keyakinan dan praktik 4 Tahap Peer Education Tahapan ini dilakukan pada minggu ketujuh dan kedelapan bulan April 2025 dimulai dengan seleksi ketat untuk memilih 25 siswa yang akan dilatih menjadi peer educator berdasarkan performance mereka dalam tahap-tahap sebelumnya. Kriteria seleksi mencakup pemahaman materi yang baik, kemampuan komunikasi yang efektif, kepemimpinan natural, dan komitmen untuk membimbing temanteman mereka. Materi pelatihan peer educator mencakup teknik komunikasi efektif, public speaking, conflict resolution, dan facilitation skills. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 25 peer educator berhasil lulus dengan rata-rata nilai 88,5% dan kemudian setiap peer educator diberi tanggung jawab untuk membina 4-5 siswa lainnya. Evaluasi menunjukkan bahwa 96% siswa yang dibina oleh peer educator menunjukkan progress positif dalam pemahaman dan praktik moderasi Gambar 2. Diskusi Peer Educator Berdasarkan Performance Siswa 5 Tahap Community Engagement Tahapan ini dilakukan pada minggu kesembilan dan kesepuluh bulan Mei 2025 diselenggarakan melalui "Festival Toleransi" yang melibatkan seluruh siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar dengan total partisipan mencapai 350 Festival ini menampilkan berbagai kegiatan seperti pameran budaya yang A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 menampilkan keberagaman tradisi keagamaan, diskusi panel dengan tokoh-tokoh agama, dan pertunjukan seni yang mengangkat tema toleransi dan kerukunan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 95% partisipan menilai acara sangat bermanfaat dan bermakna, media lokal meliput dengan rating positif 4,8 dari skala 5, dan 87% masyarakat sekitar sekolah menunjukkan dukungan kuat terhadap keberlanjutan Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan sepanjang program dengan fokus pada evaluasi proses dan evaluasi hasil. Data monitoring mingguan menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi dengan rata-rata kehadiran 94,3%, tingkat engagement yang baik dengan 89% siswa aktif dalam diskusi dan kegiatan, serta tingkat kepuasan peserta yang tinggi dengan rata-rata 4,6 dari skala 5. Evaluasi hasil melalui perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam semua indikator utama Pemahaman moderasi beragama siswa mengalami peningkatan dramatis dari 45,2% pada pre-test menjadi 89,7% pada post-test, atau meningkat 44,5 poin setara dengan 98,5% peningkatan. Sikap toleransi siswa juga menunjukkan perbaikan substansial dari 58,3% menjadi 86,4%, atau meningkat 28,1 poin setara dengan 48,2% peningkatan. Ketahanan ideologis siswa, yang merupakan indikator utama program, mengalami transformasi luar biasa dari 42,1% menjadi 84,6%, atau meningkat 42,5 poin setara dengan 101,0% peningkatan. Sementara itu, penerapan growth mindset dalam kehidupan sehari-hari siswa meningkat dari 51,7% menjadi 88,9%, atau meningkat 37,2 poin setara dengan 71,9% peningkatan. Follow-up survey yang dilakukan empat minggu setelah program berakhir menunjukkan sustainability yang menggembirakan dari dampak program. Sebanyak 92% siswa masih konsisten menerapkan prinsip-prinsip moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari mereka, 88% siswa melaporkan hubungan yang lebih harmonis dan positif dengan teman-teman yang berbeda agama, 85% guru mengamati perubahan positif yang nyata dalam pola interaksi siswa, dan 79% orang tua melaporkan adanya diskusi-diskusi positif tentang toleransi dan kerukunan beragama di lingkungan keluarga. Analisis terhadap efektivitas pendekatan ABCD menunjukkan hasil yang sangat positif dengan indikator asset utilization yang optimal. Seratus persen aset manusia yang teridentifikasi terlibat aktif dalam berbagai tahapan program, 89% aset sosial dioptimalkan dalam kegiatan-kegiatan program, 95% aset fisik dimanfaatkan secara efisien untuk mendukung pembelajaran, dan 78% aset ekonomi dialokasikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Indikator sustainability menunjukkan bahwa 15 guru telah terlatih dan siap menjadi trainer internal untuk program-program serupa di masa depan, 25 peer educator berlanjut sebagai champion yang akan memelihara atmosfer moderasi beragama di sekolah, program telah terintegrasi dalam kurikulum sekolah sehingga berkelanjutan, dan komitmen kepala sekolah untuk melanjutkan dan mengembangkan program ini sangat kuat. Community ownership sebagai salah satu indikator keberhasilan pendekatan ABCD juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Sebanyak 94% stakeholder merasa A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 memiliki program dan bertanggung jawab terhadap keberhasilannya, 87% partisipan bersedia menjadi volunteer untuk program-program serupa di masa depan, 91% orang tua mendukung program lanjutan dan bersedia memberikan kontribusi, dan 83% tokoh masyarakat berkomitmen untuk terus mendampingi dan mendukung program ini dalam jangka panjang. Implementasi strategi growth mindset menunjukkan hasil yang sangat positif dalam mengubah mindset dan perilaku siswa. Perubahan mindset yang terjadi mencakup 89% siswa mengalami transformasi dari fixed mindset menjadi growth mindset, 76% siswa menunjukkan resiliensi yang lebih baik dalam menghadapi perbedaan dan konflik, 84% siswa lebih terbuka dan receptive terhadap feedback dan kritik konstruktif, dan 91% siswa menunjukkan motivasi belajar yang meningkat secara signifikan. Perubahan perilaku yang teramati mencakup penurunan konflik antar siswa sebesar 67%, peningkatan partisipasi dalam kegiatan keagamaan sebesar 45%, peningkatan kolaborasi lintas kelompok agama sebesar 78%, dan peningkatan inisiatif positif siswa dalam berbagai kegiatan sebesar 56%. Tantangan dan Solusi Implementasi program moderasi beragama dengan strategi growth mindset di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan menghadapi berbagai tantangan yang kompleks namun dapat diatasi melalui pendekatan yang strategis dan berkelanjutan. Tantangan pertama adalah resistance to change yang muncul dari berbagai pihak dengan berbagai alasan dan motivasi. Sebanyak 12% siswa menunjukkan resistensi awal terhadap konsep moderasi beragama karena kekhawatiran bahwa program ini akan mengubah atau mengurangi keimanan mereka, sementara 8% orang tua merasa khawatir bahwa program akan membuat anak-anak mereka menjadi kurang komitmen terhadap agama yang mereka anut. Resistensi juga muncul dari 15% guru yang merasa belum siap untuk mengimplementasikan pendekatan baru karena keterbatasan pemahaman dan keterampilan dalam moderasi beragama serta growth mindset. Tantangan kedua berkaitan dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia untuk mendukung program secara optimal. Keterbatasan dana untuk pengadaan materi pembelajaran yang berkualitas dan relevan menjadi kendala dalam menyediakan resources yang memadai bagi siswa dan guru. Waktu yang terbatas dalam jadwal sekolah yang sudah padat dengan berbagai mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler membuat alokasi waktu untuk program moderasi beragama menjadi terbatas. Minimnya expert atau ahli dalam bidang moderasi beragama di daerah Kabupaten Pasuruan membuat program ini harus mengandalkan tenaga dari luar daerah yang tentunya memerlukan biaya dan koordinasi yang lebih kompleks. Tantangan ketiga adalah faktor-faktor eksternal yang berada di luar kendali program namun memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan program. Pengaruh negatif media sosial yang menyebarkan konten-konten intoleran dan radikal terus mengancam siswa di luar jam sekolah. Tekanan dari kelompok60 A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 kelompok ekstrem di masyarakat yang tidak setuju dengan program moderasi beragama dapat menciptakan resistensi yang lebih besar. Politisasi isu-isu agama di tingkat nasional juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat lokal terhadap program moderasi beragama. Untuk mengatasi tantangan resistance to change, tim program mengembangkan strategi pendekatan personal dan konseling individual untuk siswa-siswa yang menunjukkan resistensi. Pendekatan ini melibatkan diskusi mendalam untuk memahami kekhawatiran mereka dan memberikan penjelasan yang komprehensif tentang tujuan dan manfaat program. Untuk orang tua, diadakan sesi khusus tentang pentingnya moderasi beragama bagi masa depan anak-anak mereka, termasuk presentasi data dan fakta tentang manfaat toleransi dalam pembangunan karakter dan kesuksesan hidup. Untuk guru, diadakan pelatihan intensif dengan mendatangkan expert dari luar daerah yang memiliki pengalaman dan keahlian dalam implementasi program moderasi beragama di sekolah-sekolah. Mengatasi keterbatasan sumber daya dilakukan melalui optimalisasi resources yang ada dan pengembangan kemitraan strategis. Kolaborasi dengan organisasi-organisasi keagamaan lokal dikembangkan untuk mendapatkan dukungan dana dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan program. Program diintegrasikan dalam jadwal ekstrakurikuler yang sudah ada sehingga tidak mengganggu jam pembelajaran formal namun tetap dapat dilaksanakan secara efektif. Pemanfaatan platform digital dan teknologi informasi dimaksimalkan untuk mengurangi ketergantungan pada expert fisik dan memperluas akses terhadap materi pembelajaran berkualitas. Mitigasi faktor-faktor eksternal dilakukan melalui program literasi media yang komprehensif untuk siswa dan orang tua agar mereka dapat mengidentifikasi dan mengatasi konten-konten negatif di media sosial. Koordinasi intensif dengan tokoh-tokoh agama lokal dikembangkan untuk membangun dukungan yang kuat dari komunitas keagamaan. Penguatan jaringan sekolah-sekolah moderat di tingkat kabupaten juga dilakukan untuk menciptakan sistem dukungan yang saling memperkuat antar sekolah. Inovasi Program Program moderasi beragama dengan strategi growth mindset di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan menghadirkan berbagai inovasi yang menarik dan efektif dalam meningkatkan engagement siswa dan sustainability program. Inovasi pertama adalah pengembangan digital platform berupa aplikasi "Moderasi Gen Z" yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan dan karakteristik siswa generasi digital. , . Aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai fitur menarik seperti quiz interaktif tentang moderasi beragama yang dapat dimainkan secara individual maupun kelompok, forum diskusi yang dimoderasi oleh guru dan peer educator untuk memfasilitasi sharing pengalaman dan pembelajaran, library digital yang berisi koleksi materi toleransi dan moderasi beragama dalam berbagai format multimedia, serta sistem reward dan recognition untuk mendorong partisipasi aktif siswa dalam berbagai kegiatan program. , . A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Hasil implementasi aplikasi "Moderasi Gen Z" menunjukkan tingkat adoption yang sangat tinggi dengan 95% siswa aktif menggunakan aplikasi secara reguler. Rata-rata engagement siswa mencapai 4,2 jam per minggu, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap platform digital ini. Yang lebih penting lagi, penggunaan aplikasi ini berkontribusi pada 78% peningkatan retensi materi pembelajaran, menunjukkan bahwa pendekatan digital ini efektif dalam memperkuat pemahaman siswa tentang konsep-konsep moderasi beragama. Inovasi kedua adalah pembentukan Community Champions Network yang melibatkan 25 siswa terpilih dengan tanggung jawab yang spesifik dan terstruktur. Setiap champion bertanggung jawab untuk mentoring 4-5 siswa yunior, melakukan monitoring terhadap implementasi prinsip-prinsip moderasi beragama di lingkungan sekolah, melaporkan isu-isu sensitif yang muncul kepada guru pembimbing, dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan antar kelas yang mendukung atmosfer toleransi dan kerukunan. Sistem ini menciptakan struktur peer support yang berkelanjutan dan mengembangkan leadership skills di kalangan Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 96% efektivitas dalam kegiatan mentoring, 89% akurasi dalam pelaporan isu-isu yang muncul, dan 92% tingkat kepuasan siswa yang dibimbing oleh para champions. Inovasi ketiga adalah Parent Engagement Program yang dirancang khusus untuk melibatkan orang tua secara aktif dalam mendukung implementasi moderasi beragama di lingkungan keluarga. Program ini mencakup monthly parenting workshop yang membahas strategi mendidik anak dengan nilai-nilai toleransi dan moderasi. , . WhatsApp group khusus orang tua untuk sharing pengalaman dan saling mendukung, program home visit untuk kasus-kasus khusus yang memerlukan pendampingan intensif, dan family bonding activities yang melibatkan seluruh anggota keluarga dalam kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama. , . Hasil implementasi menunjukkan 87% partisipasi orang tua dalam workshop bulanan, 94% keterlibatan aktif dalam WhatsApp group, 23 kasus home visit yang berhasil diselesaikan dengan baik, dan 91% keluarga melaporkan hubungan yang lebih harmonis dan komunikasi yang lebih terbuka tentang isu-isu Sustainability Plan Rencana keberlanjutan program moderasi beragama dengan strategi growth mindset di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan dirancang secara komprehensif untuk memastikan bahwa dampak positif program dapat terus dirasakan dalam jangka Sustainability plan ini meliputi tiga aspek utama yaitu integrasi institusional, dukungan komunitas, dan continuous improvement yang saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Integrasi institusional dilakukan melalui penggabungan materi moderasi beragama ke dalam kurikulum formal sekolah. , . Materi ini diintegrasikan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Pendidikan Agama, dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan pengembangan modul pembelajaran khusus A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 yang sesuai dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran. Tim guru telah mengembangkan 15 modul pembelajaran yang mencakup berbagai aspek moderasi beragama dan dapat digunakan secara berkelanjutan. Pelatihan berkala untuk guru dilakukan setiap semester untuk memastikan kualitas implementasi dan memberikan update terkait perkembangan terbaru dalam bidang moderasi Evaluasi implementasi dilakukan setiap semester dengan melibatkan supervisor dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan untuk memastikan standar kualitas yang konsisten. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung moderasi beragama juga menjadi bagian penting dari integrasi institusional. Pembentukan klub "Young Moderates" yang beranggotakan siswa-siswa yang memiliki komitmen tinggi terhadap nilai-nilai moderasi beragama dan berfungsi sebagai motor penggerak kegiatan-kegiatan toleransi di sekolah. Kegiatan rutin dialog antar agama diadakan setiap bulan dengan mengundang tokoh-tokoh agama dari berbagai komunitas untuk berbagi pengalaman dan perspektif. Kompetisi karya tentang toleransi seperti essay writing, poster design, dan video making diadakan setiap tahun untuk mendorong kreativitas siswa dalam mengekspresikan pemahaman mereka tentang moderasi beragama. Kerjasama dengan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Pasuruan juga dikembangkan untuk berbagi pengalaman dan saling belajar dalam implementasi program moderasi beragama. Dukungan komunitas dibangun melalui engagement intensif dengan berbagai stakeholder di luar sekolah. MoU dengan tokoh-tokoh agama lokal telah ditandatangani untuk memastikan dukungan berkelanjutan dari komunitas Kemitraan dengan organisasi-organisasi masyarakat seperti NU. Muhammadiyah, dan organisasi keagamaan lainnya dikembangkan untuk memperluas jaringan dukungan dan memperkaya perspektif dalam program. Dukungan pemerintah daerah diperoleh melalui koordinasi intensif dengan Dinas Pendidikan dan Kesbangpol Kabupaten Pasuruan yang berkomitmen untuk mengembangkan program serupa di sekolah-sekolah lain. Kolaborasi dengan media lokal juga dibangun untuk terus mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama dan memberikan dukungan publikasi terhadap kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan sekolah. Resource mobilization menjadi aspek penting dalam sustainability plan untuk memastikan ketersediaan dana yang memadai bagi keberlanjutan program. Fundraising dari alumni sekolah dilakukan dengan membentuk ikatan alumni yang solid dan berkomitmen untuk mendukung program-program pendidikan karakter di almamater mereka. Grant proposal ke berbagai lembaga donor nasional dan internasional yang memiliki concern terhadap pendidikan toleransi dan moderasi beragama terus dilakukan untuk mendapatkan dukungan finansial tambahan. Program corporate social responsibility dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Pasuruan dikembangkan untuk mendapatkan dukungan dana dan sumber daya lainnya. Platform crowdfunding juga dimanfaatkan untuk A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 menggalang dukungan dari masyarakat luas yang peduli terhadap pendidikan moderasi beragama. Continuous improvement dilakukan melalui sistem monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan serta inovasi program yang terus dikembangkan. Monthly evaluation meeting melibatkan semua stakeholder untuk mengevaluasi progress program dan mengidentifikasi area-area yang perlu diperbaiki. Quarterly stakeholder review dilakukan untuk mendapatkan feedback komprehensif dari semua pihak yang terlibat dan memastikan bahwa program tetap relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Annual impact assessment dilakukan dengan melibatkan evaluator eksternal untuk mendapatkan penilaian objektif terhadap dampak program dan rekomendasi untuk perbaikan. Peer school benchmarking dengan sekolah-sekolah yang menjalankan program serupa dilakukan untuk saling belajar dan berbagi best practices. Innovation pipeline dikembangkan untuk memastikan bahwa program terus berkembang dan tidak stagnan. Research and development unit yang terdiri dari guru-guru terpilih bertugas untuk terus mengembangkan metode dan materi pembelajaran yang lebih efektif. Student-led innovation projects memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-ide kreatif dalam mempromosikan moderasi beragama. Teacher action research didorong untuk mengembangkan evidence-based practices dalam implementasi program. External expert consultation dilakukan secara berkala dengan mengundang ahli dari universitas dan lembaga penelitian untuk memberikan masukan dan guidance dalam pengembangan program. Model program moderasi beragama dengan strategi growth mindset. , . yang telah berhasil diimplementasikan di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan telah dikembangkan menjadi sebuah model yang dapat direplikasi dan diskalakan ke sekolah-sekolah lain dengan adaptasi yang sesuai dengan konteks lokal masingmasing. Pengembangan model replikasi ini didasarkan pada pembelajaran dan evaluasi komprehensif terhadap semua aspek program, mulai dari desain, implementasi, hingga evaluasi dampak. KESIMPULAN Program Pelatihan dan Pendampingan Moderasi Beragama dengan Strategi Growth Mindset di SMPN 2 Kabupaten Pasuruan telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan, melampaui target yang ditetapkan. Melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang memaksimalkan potensi lokal dan integrasi konsep growth mindset, program ini berhasil menciptakan transformasi mendalam pada peserta didik. Capaian utama program terlihat dari peningkatan signifikan pemahaman moderasi beragama . ,2% menjadi 89,7%), sikap toleransi . ,3% menjadi 86,4%), dan ketahanan ideologis . ,1% menjadi 84,6%). Keberhasilan ini didukung oleh keterlibatan 94% stakeholder sekolah dan terbentuknya 25 peer educator yang akan melanjutkan estafet program. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 51-68 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Faktor kunci keberhasilan program terletak pada pendekatan holistik yang melibatkan seluruh elemen komunitas sekolah, pemanfaatan optimal aset lokal, serta kepemimpinan sekolah yang kuat. Strategi growth mindset berhasil menanamkan pola pikir berkembang pada siswa dalam menyikapi perbedaan. Untuk pengembangan ke depan, program ini merekomendasikan perluasan ke sekolah lain dengan adaptasi kontekstual, penguatan sistem monitoring evaluasi, pengembangan platform digital, pelatihan guru secara masif, serta integrasi ke dalam kebijakan pendidikan. Berdasarkan kesuksesan program ini, beberapa rekomendasi strategis dapat disampaikan untuk pengembangan program serupa di masa depan. Pertama, implementasi program serupa di sekolah-sekolah lain dengan adaptasi kontekstual yang mempertimbangkan karakteristik demografis, budaya lokal, dan sumber daya yang tersedia. Setiap sekolah memiliki keunikan tersendiri yang perlu diakomodasi dalam desain program tanpa mengurangi esensi dan efektivitas program. Kedua, penguatan sistem monitoring dan evaluasi jangka panjang untuk memastikan sustainability dampak program dan mengidentifikasi area-area yang perlu perbaikan berkelanjutan. Sistem ini harus melibatkan tidak hanya evaluasi internal tetapi juga evaluasi eksternal yang objektif dan komprehensif. Ketiga, pengembangan platform digital yang lebih komprehensif dan sophisticated untuk mendukung pembelajaran moderasi beragama di era digital. Platform ini harus mampu mengakomodasi kebutuhan generasi digital native yang terbiasa dengan teknologi dan media sosial. Keempat, pelatihan massal untuk guru-guru di tingkat kabupaten bahkan provinsi untuk memastikan tersedianya SDM yang kompeten dalam implementasi program moderasi beragama dengan strategi growth mindset. Pelatihan ini harus bersifat berkelanjutan dan terus diupdate sesuai dengan perkembangan penelitian dan best practices terbaru. Kelima, integrasi program dalam kebijakan pendidikan daerah dan nasional untuk memberikan payung hukum dan dukungan sistematis bagi implementasi program di skala yang lebih DAFTAR PUSTAKA