Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 1566-1575 Phytochemical Analysis Based on GC-MS and Evaluation of DPPH Antioxidant Activity of Ethanol and N-Hexane Extracts from Bidara Leaves (Ziziphus mauritiana Lam. Analisis Fitokimia Berbasis GC-MS dan Evaluasi Aktivitas Antioksidan Metode DPPH dari Ekstrak Etanol dan N-Heksan Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lam. Maharani Zahra a*. Rahma Yulia a. Syarifah Nadia a. Bunga Rimta Barus a a Department of pharmacy. Faculty of pharmacy and health. University of Tjut Nyak Dhien. Medan. Indonesia *Corresponding Authors: maharani2101. mz@gmail. Abstract Background: The increasing public interest in herbal medicine which is safer and rarely causes side effects has made people use more natural ingredients as a source of bioactive compounds. One promising plant is the bidara leaf (Ziziphus mauritiana Lam. ), known for its rich supply of secondary metabolites, including alkaloids, flavonoids, glycosides, and terpenoids, which boast pharmacological benefits, especially in their role as antioxidants. Objective: This research is conducted to determine the phytochemical compounds and examine the antioxidant potential of bidara leaf extracts prepared with ethanol and n-hexane, using experimental method. Methods: The extraction was done through maceration using 96% ethanol and n-hexane as solvents, and then we analyzed the phytochemicals via phytochemical screening and GC-MS. For checking antioxidant activity, we used the DPPH method, which involved figuring out the maximum wavelength, the operating time, measuring absorbance, and calculating the IC 50 value. Results: From the phytochemical analysis, it turned out that ethanol extracts of bidara leaves feature a richer array of bioactive compounds, including alkaloids, flavonoids, glycosides, and terpenoids or steroids, in contrast to the n-hexane extracts, which only include alkaloids, glycosides, and terpenoids or steroids. Analysis using GC-MS identified that the ethanol extract was dominated by fatty acid ester compounds, including methyl palmitate and methyl oleate, while the n-hexane extract contained nonpolar compounds such as squalene and tetratetracontane. Through the DPPH approach, the antioxidant activity of ethanol and n-hexane extracts was demonstrated by ICCICA values of 4. 488 AAg/mL and 7. 54 AAg/mL, respectively, both of which are classified as very strong, although still lower than vitamin C, which has an ICCICA of 2. 47 AAg/mL. Conclusion: The analysis indicates that the ethanol extract exhibits stronger antioxidant activity compared to the n-hexane extract. Keywords: Bidara leaves (Ziziphus mauritiana Lam. Ethanol extract. N-hexane. GC-MS. Phytochemistry. Antioxidants. DPPH. Abstrak Latar belakang: Meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan herbal yang dianggap lebih aman dan memiliki efek samping yang minimal, mendorong pemanfaatan bahan alam sebagai sumber senyawa bioaktif. Salah satu tanaman yang menjanjikan adalah daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ), yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, dan terpenoid dengan aktivitas farmakologis, terutama sebagai Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia dan mengevaluasi aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan n-heksan daun bidara melalui pendekatan eksperimental. Metode: Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan n-heksan, diikuti dengan analisis fitokimia menggunakan skrining fitokimia dan GC-MS. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH, meliputi penentuan panjang gelombang maksimum, waktu operasi, pengukuran absorbansi, dan perhitungan nilai IC 50. Hasil: Melalui pemeriksaan fitokimia, ditemukan ekstrak etanol daun bidara mempunyai komposisi senyawa bioaktif yang lebih kompleks, seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, dan terpenoid/steroid, dibandingkan ekstrak n-heksan yang hanya mengandung alkaloid, glikosida, dan terpenoid/steroid. Analisis menggunakan GC-MS mengidentifikasi bahwa ekstrak etanol didominasi oleh senyawa ester asam lemak, termasuk methyl palmitate dan methyl oleate, sementara ekstrak nheksan mengandung senyawa yang apolar seperti squalene dan tetratetracontane. Melalui pendekatan DPPH, ekstrak etanol menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan ekstrak n-heksan, dengan nilai ICCICA masingmasing sebesar 4,488 AAg/mL dan 7,54 AAg/mL, meskipun masih di bawah vitamin C yang mempunyai IC50 2,47 AAg/mL. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak n-heksan. Kata Kunci: Daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. Ekstrak Etanol. N-heksan. GC-MS. Fitokimia. Antioksidan. DPPH. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received: 23/10/2026. Revised: 18/12/2026. Accepted: 30/12/2026. Available Online : 03/06/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif pengobatan di Indonesia semakin berkembang dan telah diproduksi secara massal, seiring dengan persepsi masyarakat bahwa penggunaan obat alami sering kali dikaitkan dengan tingkat efek samping yang lebih rendah daripada terapi farmasi modern . Keanekaragaman senyawa bioaktif dalam tumbuhan, baik spesifik maupun non-spesifik, menjadikan setiap tanaman memiliki potensi farmakologis yang luas serta dapat digunakan sebagai obat tradisional yang Salah satu contoh tanaman yang memiliki potensi tersebut adalah bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ), yang dikenal tahan terhadap kondisi panas dan kering, serta banyak ditemukan di wilayah Asia Barat dan Afrika Timur . Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Ziziphus mauritiana Lam. atau daun bidara diketahui memiliki sejumlah senyawa bioaktif, termasuk saponin, flavonoid, tanin, alkaloid, dan antrakuinon, yang berhasil diidentifikasi menggunakan uji tabung serta pereaksi khusus . Studi lain mengungkapkan bahwa bagian daun dari tanaman ini memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan buah matang dan buah mentah, berdasarkan uji DPPH . Senyawa antioksidan sendiri berperan penting dalam menjaga kesehatan, hal ini dikarenakan oleh kekuatan senyawa tersebut untuk menetralkan radikal bebas, yaitu partikel reaktif yang tidak stabil dan berpotensi merusak struktur sel, sehingga dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan gangguan kardiovaskular. Ekstraksi merupakan teknik untuk memisahkan komponen bioaktif yang berasal dari tumbuhan kering . dengan bantuan pelarut yang sesuai, salah satu metode yang umum digunakan adalah maserasi. Ekstraksi ini dilakukan dengan merendam bahan dalam pelarut pada suhu rendah atau tanpa pemanasan, sehingga kandungan senyawa aktif tetap terjaga. Keberhasilan ekstraksi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti lama perendaman, suhu, jenis pelarut, perbandingan antara bahan dan pelarut, serta ukuran partikel Ketika proses perendaman berlangsung, terjadi perbedaan tekanan osmotik antara bagian luar dan dalam sel yang memicu kerusakan pada struktur dinding serta membran sel. Proses ekstraksi menyebabkan disrupsi membran sel, sehingga memungkinkan pelepasan senyawa metabolit sekunder dari sitoplasma dan pelarutannya secara efisien ke dalam medium organik yang digunakan . Sementara itu, metode GC-MS (Gas Chromatography - Mass Spectrometr. dilakukan untuk memisahkan senyawa volatil melalui kromatografi gas dan menganalisisnya secara kualitatif maupun kuantitatif berdasarkan rasio massa terhadap muatan . menggunakan spektrofotometri massa . Pemilihan pelarut etanol . dan n-heksan . on-pola. diharapkan dapat mengekstrak kelompok senyawa bioaktif yang berbeda, sehingga memungkinkan perbandingan efektivitasnya sebagai sumber antioksidan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan fitokimia dan mengevaluasi aktivitas antioksidan ekstrak daun bidara menggunakan pelarut etanol dan n-heksan. Hipotesis penelitian adalah bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam profil senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan antara kedua ekstrak, dengan ekstrak etanol diduga memiliki aktivitas yang lebih kuat karena kemampuannya mengekstrak senyawa antioksidan polar seperti flavonoid. Analisis dilakukan menggunakan GC-MS untuk identifikasi senyawa dan metode DPPH untuk uji aktivitas antioksidan Metode Penelitian Alat dan Bahan Beberapa instrumen laboratorium digunakan pada pelaksanaan penelitian ini seperti blender, lemari pengering, alat maserasi, corong pisah, gelas ukur, batang pengaduk, gelas beaker. Rotary Evaporator, cawan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. porselin, waterbath, timbangan, serta spektrofotometer UV-Vis dan GC-MS untuk mendukung proses ekstraksi dan analisis. Daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) digunakan sebagai komponen utama dalam penelitian ini berasal dari daerah Hamparan Perak. Deli Serdang, dengan tambahan bahan kimia seperti etanol 96%, n-heksan, serbuk DPPH, dan vitamin C sebagai reagen pendukung. Dalam penelitian ini. Sampel daun diambil secara purposif dari pucuk tanaman sehat yang berumur sekitar 6 bulan, dengan kriteria daun utuh, tidak berlubang, dan berwarna hijau tua. Pembuatan Simplisia Daun bidara segar sebanyak 4 kg dikumpulkan langsung dari Hamparan Perak. Deli Serdang, sebagai bahan utama. Tahapan awal dalam pembuatan simplisia mencakup sortasi basah guna memisahkan komponen yang tidak dibutuhkan, dilanjutkan dengan pencucian menggunakan air mengalir untuk membersihkan kotoran. Proses ini kemudian diikuti oleh pengeringan dalam lemari khusus pada suhu antara 30 hingga 45AC. Setelah pengeringan, dilakukan penyortiran kering untuk membuang daun-daun yang tidak memenuhi kriteria standar kelayakan, penggilingan untuk memperkecil ukuran bahan, dan penyimpanan dalam wadah berwarna coklat guna melindungi dari paparan cahaya langsung serta kontaminasi. Pembuatan Pereaksi Berbagai pereaksi disiapkan dalam penelitian ini untuk mendukung analisis senyawa, masing-masing dengan prosedur spesifik. Larutan asam klorida 2N disiapkan melalui pengenceran 16,67 mL HCl pekat dengan penambahan aquadest hingga volume akhir mencapai 100 mL. Reagen Bouchardat diperoleh melalui pelarutan 4 gram kalium iodida dan 2 gram iodium ke dalam aquadest. Dragendorff dibuat dari campuran larutan KI dan bismut nitrat dalam asam asetat yang kemudian diencerkan. Reagen Mayer disiapkan dengan mencampurkan larutan HgClCC . erkuri(II) klorid. dan KI . alium iodid. , lalu diencerkan hingga mencapai volume 100 mL. Reagen Lieberman-Burchard diperoleh melalui pencampuran asam asetat anhidrat, asam sulfat pekat, dan senyawa kloroform. Reagen Wagner diperoleh melalui pencampuran iodium dengan kalium iodida, yang kemudian diencerkan dan disimpan di dalam wadah gelap untuk menjaga stabilitasnya. Selanjutnya, larutan besi. klorida 1% disiapkan dengan melarutkan 1 gram FeClCE dalam air hingga volume akhirnya mencapai 100 mL . Peembuatan Ekstrak Daun Bidara Daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) diekstraksi menggunakan teknik maserasi dengan pelarut etanol 96% dan n-heksan. Tahapan awal meliputi sortasi basah dan pengeringan daun menggunakan lemari pengering, diikuti sortasi kering. Waktu maserasi ditentukan berdasarkan optimisasi pendahuluan untuk mendapatkan rendemen ekstrak maksimal, ekstraksi maserasi dilakukan dengan rasio simplisia dan pelarut 1:10 . untuk memaksimalkan yield ekstraksi. Sebanyak 100 gram simplisia diekstraksi dalam 1000 mL Untuk ekstrak etanol, maserasi dilakukan selama lima hari, kemudian diulang dua kali masingmasing selama dua hari, sehingga total waktu maserasi adalah 9 hari. Durasi ini dipilih berdasarkan metode standar untuk ekstraksi metabolit sekunder polar hingga semipolar guna memastikan kelarutan senyawa bioaktif maksimal. Filtrat hasil ekstraksi diuapkan dengan rotary evaporator, kemudian dipanaskan dalam water bath sampai terbentuk ekstrak kental. Ekstrak tersebut selanjutnya ditimbang untuk menentukan Ekstraksi dengan n-heksan dilakukan dengan prosedur serupa, menggunakan 100 gram serbuk daun dan pelarut sebanyak 1000 mL, dengan durasi dan pengulangan yang sama, lalu hasil ekstrak diuapkan hingga diperoleh bentuk kental . Rendemen ekstrak dihitung menggunakan rumus: Rendemen (%) = (Berat ekstrak kering / Berat simplisia awa. x 100% dengan nilai rendemen yang diperoleh sebesar 32,5%. Pemeriksaan Skrining Fitokimia Ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) dianalisis secara fitokimia untuk mendeteksi keberadaan metabolit sekunder, meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid, steroid, tanin, dan Uji alkaloid dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam metanol, diikuti dengan pemeriksaan menggunakan empat reagen berbeda yaitu Bouchardat. Dragendorff. Mayer, dan Wagner di mana masing-masing reagen memberikan indikasi positif berupa perubahan warna atau pembentukan Pengujian flavonoid dilakukan dengan cara merebus serbuk menggunakan air panas, lalu ditambahkan magnesium dan asam klorida pekat, yang menghasilkan perubahan warna kuning kemerahan sebagai indikasi positif. Saponin diuji melalui pembentukan busa stabil setelah pengocokan sampel dalam air Untuk triterpenoid dan steroid, ekstraksi dilakukan dengan n-heksan dan diuji menggunakan pereaksi Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Salkowsky dan Lieberman-Burchard, yang menunjukkan perubahan warna spesifik. Tanin diuji dengan etanol dan larutan FeClCE, ditandai dengan warna biru kehitaman atau hijau kecoklatan. Sementara itu, glikosida diuji melalui pelarutan dalam etanol dan asam asetat anhidrat, diikuti penambahan asam sulfat, yang menghasilkan cincin ungu sebagai tanda positif . Pemeriksaan Skrining Fitokimia menggunakan Metode GC-MS Metode Gas ChromatographyAeMass Spectrometry (GC-MS) digunakan dalam skrining fitokimia ekstrak etanol dan n-heksan daun bidara, sebagai teknik analisis yang efektif dalam mengidentifikasi berbagai senyawa kimia, terutama yang bersifat volatil dan semi-volatil . Sampel dilarutkan dan diinjeksi ke dalam inlet GC, lalu dibawa oleh gas helium sebagai fase gerak menuju kolom Rtx-5MS, tempat pemisahan senyawa terjadi berdasarkan interaksi dengan fase diam. Senyawa dengan volatilitas tinggi akan terelusi lebih awal, sedangkan yang lebih berat keluar belakangan . Setelah pemisahan, senyawa diarahkan ke detektor dan dianalisis melalui spektroskopi massa menggunakan proses ionisasi Electron Impact (EI) dengan energi 70 Spektrum massa yang dihasilkan menunjukkan rasio massa terhadap muatan . dalam rentang 50Ae 550, memungkinkan identifikasi senyawa berdasarkan waktu retensi dan pencocokan dengan pustaka data seperti NIST. Kolom kromatografi yang digunakan umumnya berbahan silika kapiler sepanjang 30 meter dengan diameter 0,25 mm . , dan pemanasan bertahap dari 50AC hingga 280AC membantu memisahkan senyawa berdasarkan titik didihnya . Teknik ini sangat sensitif dan mampu mendeteksi senyawa dalam konsentrasi sangat rendah, meskipun terbatas pada senyawa volatil dan memerlukan perawatan serta biaya Uji Antioksidan menggunakan Metode DPPH Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol dan n-heksan dari daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) dilakukan melalui metode DPPH dengan modifikasi . Sebelum pengujian, dilakukan validasi metode dengan memastikan stabilitas larutan DPPH . bsorbansi kontrol negatif tidak berubah signifikan selama waktu inkubas. dan linearitas respon pada rentang konsentrasi yang digunakan. Larutan stok DPPH 200 ppm dibuat dengan melarutkan serbuk DPPH dalam etanol absolut. Panjang gelombang maksimum ditentukan melalui scanning larutan DPPH 40 ppm pada rentang 400-800 nm, yang menghasilkan absorbansi maksimum pada 515 nm. Rentang konsentrasi uji . -5 pp. ditentukan berdasarkan hasil uji pendahuluan untuk mendapatkan persen inhibisi antara 20% hingga 80%, yang diperlukan untuk perhitungan ICCICA yang Sebanyak 1 mL larutan sampel pada berbagai konsentrasi . , 2, 3, 4, dan 5 pp. dicampur dengan 2 mL larutan DPPH 40 ppm dalam tabung reaksi. Campuran dihomogenkan dan diinkubasi di tempat gelap selama 30 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 515 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Kontrol negatif dibuat dengan mencampurkan 1 mL pelarut . dengan 2 mL larutan DPPH. Sebagai kontrol positif, digunakan larutan vitamin C pada rentang konsentrasi yang sama. Persentase aktivitas antioksidan dihitung menggunakan rumus: % Aktivitas = [(Absorbansi Kontrol Ae Absorbansi Sampe. / Absorbansi Kontro. x 100% Kurva regresi linier antara persentase inhibisi dan konsentrasi sampel dibuat untuk menghitung nilai ICCICA, yaitu konsentrasi ekstrak yang diperlukan untuk menghambat 50% radikal DPPH . Hasil Dan Pembahasan Hasil Skrining Fitokimia Sebanyak 4 kg daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) dikeringkan pada suhu 30Ae45AC hingga 100 gram serbuk simplisia, yang kemudian diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dan n-heksana. Dari 100 gram serbuk, diperoleh ekstrak etanol sebanyak 18,1 gram dan ekstrak n-heksana sebanyak 3,2 gram. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh sifat kepolaran pelarut, etanol yang memiliki sifat polar lebih efisien dalam mengekstraksi senyawa polar, seperti flavonoid dan alkaloid, sedangkan n-heksana yang apolar lebih cocok untuk senyawa apolar seperti lipid. Selain itu, titik didih yang lebih rendah pada n-heksana menyebabkan penguapan lebih cepat, sehingga volume ekstrak yang dihasilkan lebih kecil. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol dari daun bidara mengandung alkaloid, flavonoid, terpenoid atau steroid, serta glikosida, sementara ekstrak n-heksana hanya menunjukkan keberadaan alkaloid, terpenoid atau steroid, dan glikosida . Terdeteksinya glikosida dalam ekstrak n-heksan yang notabene non-polar merupakan temuan yang tidak biasa. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya glikosida Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dengan aglikon yang sangat non-polar, atau adanya emulsi/partikel halus yang terbawa selama proses partisi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi keberadaan dan identitas glikosida dalam fraksi nheksan ini . Hasil Analisis GC-MS EEDB Gambar 1. Kromatogram GC-MS Ekstrak Etanol Daun Bidara (EEDB) Analisis GC-MS terhadap ekstrak etanol daun bidara mengungkapkan keberadaan 35 senyawa volatil dan semi-volatil yang terdeteksi sebagai puncak-puncak kromatogram, dengan puncak dominan pada waktu retensi 14,482 menit menunjukkan konsentrasi tertinggi . ,82%). Senyawa utama yang teridentifikasi adalah methyl palmitate, ester dari asam palmitat, yang dikenal memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan . Selain itu, senyawa lain seperti Pentadecanoic acid, methyl ester dan Methyl 12-acetoxy-9octadecenoate memperkaya profil kimia ekstrak dengan variasi struktur dan kejenuhan lipid . Ekstrak ini juga mengandung metabolit sekunder seperti terpenoid dan triterpenoid, serta metabolit primer berupa ester dan alkohol rantai panjang yang berperan dalam metabolisme lipid dan struktur membran sel . Kandungan senyawa lipofilik dan semi-polar ini menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut yang efektif untuk ekstraksi senyawa bioaktif dari daun bidara, mendukung potensi penggunaannya dalam bidang farmasi, kosmetik, dan pengobatan herbal . Berdasarkan hasil analisis GC-MS, ekstrak etanol daun bidara didominasi oleh senyawa methyl palmitate, methyl oleate, serta ester asam lemak tak jenuh lainnya. Senyawa-senyawa ini memiliki struktur dengan ikatan rangkap yang berperan penting dalam mekanisme penangkapan radikal bebas. Ikatan rangkap pada ester tak jenuh memungkinkan stabilisasi radikal melalui delokalisasi elektron sehingga mampu mendonorkan atom hidrogen secara lebih efektif dalam reaksi peredaman radikal DPPH. Hal ini sejalan dengan hasil uji antioksidan yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki nilai ICCICA lebih rendah . ,488 AAg/mL), menandakan aktivitas antioksidan lebih kuat. Sebaliknya, ekstrak n-heksan didominasi oleh senyawa tetratetracontane, hidrokarbon jenuh rantai sangat panjang yang secara kimia tidak memiliki gugus fungsional reaktif ataupun ikatan rangkap yang memudahkan reaksi penangkapan radikal. Meskipun ekstrak n-heksan juga mengandung squalene, senyawa triterpenoid yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan, mekanisme kerja squalene lebih efektif pada sistem biologis berbasis lipid dan membran, bukan pada sistem radikal larut etanol seperti DPPH. Dengan demikian, meskipun squalene memiliki potensi antioksidan, efektivitasnya dalam metode DPPH relatif lebih rendah dibanding ester tak jenuh pada ekstrak etanol. Hal ini menjelaskan mengapa ekstrak n-heksan memiliki ICCICA lebih tinggi . ,54 AAg/mL) dibanding ekstrak etanol. Dengan demikian, perbedaan aktivitas antioksidan antara kedua ekstrak secara langsung berkaitan dengan profil senyawa yang teridentifikasi melalui GC-MS, di mana kandungan ester tidak jenuh pada ekstrak etanol lebih sesuai terhadap mekanisme reaksi DPPH dibanding dominasi hidrokarbon jenuh pada ekstrak n-heksan. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil Analisis GC-MS ENDB Gambar 2. Kromatogram GC-MS Ekstrak N-heksan Daun Bidara (ENDB) Analisis GC-MS terhadap ekstrak daun bidara dengan pelarut n-heksan mengidentifikasi 36 senyawa volatil dan semi-volatil yang terpisah dalam kromatogram, dengan komponen utama berupa tetratetracontane yang muncul pada waktu retensi 21,923 menit dan menyumbang 63,61% dari total area, menunjukkan dominasi senyawa hidrokarbon jenuh rantai panjang . Senyawa lain seperti methyl oleate, phytol, dan neophytadiene juga terdeteksi, mencerminkan keberadaan ester asam lemak dan alkohol berantai panjang yang umum dalam ekstrak minyak nabati . Selain metabolit primer seperti elaidic acid dan nonacosane, ditemukan pula metabolit sekunder seperti squalene, lupeol acetate, dan turunan vitamin E yang berperan dalam aktivitas biologis tanaman . Senyawa-senyawa ini menunjukkan bahwa n-heksan secara selektif mengekstrak komponen non-polar dengan berat molekul tinggi, seperti lipid dan hidrokarbon, yang umumnya berfungsi sebagai pelindung alami dalam kutikula tanaman . Temuan ini menegaskan efektivitas n-heksan dalam memperoleh fraksi kimia apolar dari bahan alam, yang relevan untuk studi fitokimia dan pengembangan produk berbasis ekstrak tumbuhan. Aktivitas antioksidan yang lebih rendah pada ekstrak n- heksan, meskipun mengandung squalene, diduga kuat disebabkan oleh dua faktor: Squalene lebih efektif sebagai antioksidan dalam sistem lipid . ipophilic antioxidan. , sedangkan uji DPPH berlangsung dalam medium etanol. Komposisi yang didominasi oleh hidrokarbon jenuh panjang seperti tetratetracontane yang secara inheren tidak memiliki gugus fungsional yang dapat meredam radikal bebas. Hasil ini menunjukkan bahwa efektivitas suatu ekstrak sebagai antioksidan tidak hanya bergantung pada ada tidaknya senyawa aktif tertentu, tetapi juga pada kesesuaian metode uji dengan sifat kelarutan senyawa tersebut . Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol dan n-heksan dari daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) dilakukan dengan metode DPPH, dimulai dengan persiapan larutan induk serta penentuan panjang gelombang maksimum. Setelah itu, waktu reaksi . perating tim. diukur untuk mengetahui durasi optimal pembentukan produk stabil antara DPPH dan senyawa antioksidan. Absorbansi larutan DPPH yang telah bereaksi dengan ekstrak kemudian diukur, dan nilai IC50 ditentukan sebagai indikator kekuatan aktivitas Penurunan nilai absorbansi menunjukkan kemampuan ekstrak tersebut dalam menangkap radikal bebas, di mana semakin besar penurunan tersebut, semakin tinggi potensi antioksidan dari sampel Hasil Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum DPPH Larutan DPPH pada konsentrasi 40ppm yang dilarutkan dalam etanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-VIS untuk mengetahui titik serapan tertingginya. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai absorbansi maksimum tercapai panjang gelombang 515nm dengan angka absorbansi sebesar 0,449. Panjang gelombang tersebut masih berada dalam kisaran operasional alat UV-VIS, yaitu antara 400 hingga 800nm, sehingga sesuai untuk digunakan dalam analisis aktivitas antioksidan. Hasil Pengukuran Operating Time Penetapan waktu reaksi bertujuan untuk mengidentifikasi durasi paling efektif yang diperlukan agar proses interaksi antar senyawa berlangsung secara maksimal dan menghasilkan produk yang stabil, yang ditandai dengan tidak adanya penurunan absorbansi. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai operating Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. time untuk larutan DPPH stabil pada rentang waktu antara menit ke-6 hingga menit ke-7 dan menit ke-20 hingga menit ke-21. Hasil Analisis Nilai IC50 Tabel 1. Data Hasil Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Bidara Sampel Ekstrak Etanol Daun Bidara Konsentrasi (AAg/mL) Absorbansi 0,361 0,319 0,281 0,240 0,208 % Peredaman 19,59 28,95 37,41 46,54 53,57 ICCICA 4,488 AAg/mL Ekstrak Etanol Daun Bidara Peredaman (%) Konsentrasi . Grafik 1. Kurva Hubungan Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Bidara dengan Persentase Aktivitas Antioksidan Berdasakan tabel 1 hasil diatas menunjukkan terjadinya penurunan Pada konsentrasi 1 ppm hingga 5 ppm, penurunan nilai absorbansi pada larutan ekstrak etanol daun bidara mengindikasikan aktivitas antioksidan, di mana semakin rendah tingkat absorbansi yang terukur, semakin tinggi kemampuan ekstrak tersebut dalam menetralisir radikal bebas. Efek ini mencerminkan efektivitas senyawa antioksidan yang terkandung dalam sampel. Hasil perhitungan ICCICA sebesar 4,488 AAg/ml (ICCICA < 50 AAg/m. mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun bidara termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat. Tabel 2. Hasil Data Aktivitas Antiosidan Ekstrak N-Heksan Daun Bidara Sampel Ekstrak N-heksan Daun Bidara Konsentrasi (AAg/mL) Absorbansi 0,354 0,332 0,312 0,291 0,275 % Peredaman 21,158 26,057 30,51 35,189 38,75 ICCICA 7,54 AAg/mL Ekstrak N-heksan Daun Bidara Peredaman (%) Konsentrasi . Grafik 2. Kurva Hubungan Konsentrasi Ekstrak N-Heksan Daun Bidara dengan Persentase Aktivitas Antioksidan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Berdasakan tabel 2 diatas menunjukkan terjadinya penurunan pada nilai absorbansi pada konsentrasi 1 ppm hingga 5 ppm, penurunan nilai absorbansi pada larutan ekstrak n-heksan daun bidara mengindikasikan aktivitas antioksidan, di mana semakin rendah tingkat absorbansi yang terukur, semakin tinggi kemampuan ekstrak tersebut dalam menetralisir radikal bebas. Efek ini mencerminkan efektivitas senyawa antioksidan yang terkandung dalam sampel. Hasil perhitungan ICCICA sebesar 7,54 AAg/ml (ICCICA < 50 AAg/m. , mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun bidara termasuk dalam kategori antioksidan sangat Tabel 3. Data Hasil Aktivitas Antioksidan Vitamin C Sampel Vitamin C Konsentrasi (AAg/mL) Absorbansi 0,309 0,253 0,196 0,144 0,059 % Peredaman 31,18 43,65 56,34 67,92 86,85 ICCICA 2,47 AAg/mL Vitamin C Peredaman (%) Konsentrasi . Grafik 3. Kurva Hubungan Konsentrasi Ekstrak Vitamin C Daun Bidara dengan Persentase Aktivitas Antioksidan Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan terjadinya penurunan Pada konsentrasi 1 ppm hingga 5 ppm, penurunan nilai absorbansi pada larutan vitamin c daun bidara mengindikasikan aktivitas antioksidan, di mana semakin rendah tingkat absorbansi yang terukur, semakin tinggi kemampuan ekstrak tersebut dalam menetralisir radikal bebas. Efek ini mencerminkan efektivitas senyawa antioksidan yang terkandung dalam 2,47 AAg/ml (ICCICA < 50 AAg/m. Kesimpulan Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana Lam. ) yang diperoleh dengan pelarut etanol dan n-heksan mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, glikosida, dan terpenoid/steroid, namun flavonoid hanya ditemukan pada ekstrak etanol. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa ekstrak etanol didominasi oleh ester asam lemak seperti methyl palmitate dan methyl oleate, sedangkan ekstrak n-heksan mengandung senyawa non-polar seperti squalene dan tetratetracontane. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa kedua ekstrak memiliki potensi sangat kuat, dengan ekstrak etanol menunjukkan efektivitas lebih tinggi (ICCICA = 4,488 AAg/mL) dibandingkan ekstrak n-heksan (ICCICA = 7,54 AAg/mL), meskipun keduanya masih di bawah efektivitas vitamin C sebagai kontrol (ICCICA = 2,47 AAg/mL). Temuan ini menegaskan bahwa jenis pelarut sangat memengaruhi efisiensi ekstraksi senyawa aktif, di mana etanol lebih optimal dalam mengekstrak komponen antioksidan. Temuan ini secara empiris membuktikan bahwa polaritas pelarut sangat menentukan profil senyawa dan aktivitas biologis yang diekstraksi, dengan etanol 96% menunjukkan kinerja yang lebih optimal untuk mengisolasi senyawa antioksidan dari daun bidara. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun bidara memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber antioksidan alami dalam formulasi sediaan fitofarmaka, suplemen kesehatan, atau bahan aktif dalam industri pangan fungsional. Oleh karena itu, ekstrak etanol daun bidara berpotensi untuk Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dikembangkan lebih lanjut sebagai sumber antioksidan alami, dengan ekstraksi menggunakan etanol 96% sebagai metode pilihan. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan yang dapat memengaruhi pelaksanaan, analisis, maupun penulisan artikel jurnal ini. Referensi