Strategi Pendidikan Anak Jalanan Oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) di Kota Malang Indari Program Studi Pendidikan Ilmu Sosial. Universitas Negeri Surabaya ndhaindari@gmail. ST. Fatimah MTsN Sumber Bungur Pamekasan 3 stfatimah0708@gmail. Dalilah Madrasah Aliyah Sumber Bungur dalilahjihan080@gmail. Abstrak Permasalahan anak jalanan sebagai permasalahan yang tak ada ujung pangkalnya, bagaikan lingkaran setan yang tak habis-habisnya. Dalam penangannya diperlukan adanya penelitian terhadap program pemberdayaan anak jalanan yang dilakukan JKJT dalam rangka pengentasan anak jalanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pendidikan oleh JKJT dalam rangka meningkatkan pengentasan anak jalanan. Program pembinaan yang diberikan oleh JKJT kepada anak jalan tidak hanya dibidang Rendahnya tingkat pendidikan anak dan remaja jalan tidak luput dari perhatian Agustinus Tedja selaku pendiri JKJT. Selain mendirikan rumah belajar untuk anak dan remaja jalanan. Agustinus Tedja juga memberikan pelatihan skill dan keterampilan lainya kepada anak asuhnya, seperti fotografi, memasak, menjahit, merakit CCTV, kerajinan kayu dan musik. Kata Kunci: Strategi 1. Pendidikan 2. Anak Jalanan 3. JKJT 4. Street Children's Education Strategy by the East Java Humanitarian Network (JKJT) In Malang City Abstract The problem of street children is a problem that has no end, like an endless vicious circle. To handle this, research is needed on the street children empowerment program carried out by JKJT in the context of alleviating street children. The aim of this research is to determine JKJT's strategy in order to improve the eradication of street children. The coaching program provided by JKJT to street children is not only in the field of education. The low level of education of street children and teenagers has not escaped the attention of Agustinus Tedja as the founder of JKJT. Apart from establishing a learning house for street children and teenagers. Agustinus Tedja also provides skill training and other skills to his foster children, such as photography, cooking, sewing, assembling CCTV, woodworking and music. Keywords: Strategy 1. Education 2. Street Children 3. JKJT 4. PENDAHULUAN Fenomena anak-anak yang bekerja di jalanan adalah masalah sosial di semua negara-negara berkembang tidak terkecuali Indonesia. Di Amerika Latin, fenomena anak jalanan dimulai pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Hal itu dimulai di Haiti, setelah kediktatoran Duvalier pada tahun 1986 dan telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1990-an (J. Cynat, at. al, 2. Diperkirakan ada 250. 000 anak dan remaja yang terlibat di jalanan (SICY) di Kenya (M. Goodman, at. al, 2. Pada tahun 2015 jumlah anak jalanan di Indonesia 400 anak jalanan yang tersebar di di 21 provinsi. Anak-anak jalanan umumnya membentuk jaringan mereka sendiri, sistem sosial, keluarga pengganti, atau geng yang mereka andalkan untuk perlindungan, uang, dan dukungan emosional dan sosial. Alasan yang menyebabkan anak-anak bekerja di jalanan disebkan oleh faktor sosial ekonomi dan politik, faktor lingkungan, faktor budaya dan faktor keluarga (M. Harris, at. al, 2. Fenomena anak jalanan tidak dapat diangkat tetapi dapat dikurangi (K. Mert and H. Kadiolu, 2. Upaya lebih untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak serta dukungan yang efektif untuk pendidikan mereka mungkin merupakan solusi yang mungkin untuk berhasil menghadapi fenomena anak jalanan yang bertahan lama. Juga baik untuk memberikan pelatihan kepada orang tua tentang pengasuhan anak yang efektif dalam hal efektivitas kasih sayang orang tua dan dalam hal bimbingan untuk anak-anak (G. Kayiranga and I. Mukashema, 2. Dukungan keluarga memainkan peran penting dalam mencegah anak-anak bekerja di luar rumah. Untuk alasan ini, persepsi ibu tentang tingkat dukungan sosial yang mereka terima, keterampilan pemecahan masalah mereka dan hubungan antara anakanak dan orang tua mereka adalah faktor yang harus dipertimbangkan (T. Zarezadeh, 2. Peran masyarakat sangat penting untuk menanggulangi permasalahan ini. Penanganan anak jalanan tidak bisa hanya berpangku tangan pada program dan kebijakan pemerintah. Kepedulian masyarakat juga dibutuhkan untuk membantuh terwujudnya program pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, terutama masyarakat sekitar. JKJT (Jaringan Kemanusiaan Jawa Timu. merupakan komunitas social yang bergerak pada bidang pemberdayaan anak jalanan dan marjinal di kota Malang. Tujuan dibentuknya komunitas ini bukan lantas seperti target pemeritah AuBebas Anak JalananAy, tetapi lebih kearah humanitas yang seharusnya mereka dapatkan. Kualitas lebih ditekankan dan pergerakannya lebih kearah konsep makro ketimbang mikro. Sehingga, fokusnya adalah per individu karena manusia itu unik dan memiliki kebutuhan berbeda. Meskipun kecil dan tidak berdampak besar, tetapi konsistensi dan kegiatan yang memiliki focus lebih jelas pengukuranya dan lebih menitikberatkan pada pengembangan karakter baik dari anak-anak itu sendiri, maupun anggota komunitas ini. Tujuan penelitian ini adalah . Strategi JKJT dalam rangka meningkatkan pengentasan Anak Jalanan. Subtasi yang harus dilihat untuk mengurai/mengatasi persoalan. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma positivistic. Paradigma positivisme menurut beberapa pendapat yaitu komunikasi merupakan sebuah proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan upaya pengiri pesan untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Q. -A. Ardianto & Elvinaro, 2. Jadi, paradigma positivisme ini memandang proses komunikasi ditentukan oleh pengirim . ource-oriente. Berhasil atau tidaknya sebuah komunikasi bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pengirim dalam mengemas pesan, menarik perhatian penerima ataupun mempelajari sifat dan karakter penerima untuk menentukan strategi penyampaian pesan. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan perspektif deskriptif kualitatif. Perspektif deskriptif kualitatif adalah perspektif dalam penelitian kualitatif yang tidak memiliki nama formal atau tidak memenuhi tipologi perspektif penelitian kualitatif yang ada. Penelitian deskriptif kualitatif cenderung tidak melakukan interpretasi data yang mendalam. Penelitian tersebut menggambarkan simpulan yang komprehensif atas suatu fenomena atau kejadian dalam bahasa sehari-hari. Dengan harapan dapat memberikan gambaran mengenai program yang dilakukan dalam rangka pengentasan anak jalanan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan tiga bentuk, yaitu wawancara, observasi dan materi audio visual. Wawancara (M. LJ, 2. adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara . yang mengajukan pertanyaan, dan yang diwawancarai . yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Bungin . menyatakan bahwa metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman . Penelitian menggunakan wawancara semi terstruktur sebagai metode utama dalam penggalian data di Populasi dalam penelitian ini adalah pendiri JKJT dan beberapa anak asuh yang tergabung dalam JKJT. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi JKJT Dalam Rangka Peningkatan Pendidikan Anak jalanan Pembinaan yang terus dilakukan ini akhirnya membawa dampak yang baik. Selain dibidang pendidikan, beberapa pembinaan yang dilakukan seperti memasak, menjahit, merakit CCTV, fotografi, kerajinan kayu dan musik kini beberapa dari murid binaan tersebut sudah mampu menghasilkan pendapatan Untuk menampung semua itu. JKJT memiliki rumah belajar, yaitu di daerah Muharto dan Jagalan. Disana mereka belajar bersama-sama artinya tidak dibedakan dengan kelas tetapi usia, anak-anak, remaja, dan dewasa. Tidak ada guru yang mengajar disini, yang ada hanya pendamping. Pendidikan Pendidikan merupakan suatu proses yang mencakup tiga dimensi, individu, masyarakat atau komunitas nasional dari individu tersebut, dan seluruh kandungan realitas, baik material maupun spiritual yang memainkan peranan dalam menentukan sifat, nasib, bentuk manusia maupun masyarakat. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran, yang dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu, transformasi nilai, dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang Dengan demikian pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan spesialis atau bidangbidang tertentu, oleh karena itu perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis (P. Wijayanti, 2. Wajib sekolah 12 tahun memang tak mudah dilakukan oleh kalangan kaum Sebab, kebanyakan dari mereka tidak mampu memenuhi biaya yang harus mereka keluarkan untuk sekolah anak-anak mereka. Untuk lulus SD saja perjuangannya sangat berat. Sehingga dengan ikut bekerjanya anak-anak mereka akan sedikit bisa meringankan beban keuangan di keluarga mereka. Meskipun sekolah gratis sudah ditetapkan pemerintah. Namun, masih tetap ada saja sekolah yang meminta pungutan lain. AuSetiap minggu aku dan timku melakukan pendidikan gratis. Materi yang diberikan sama seperti pendidikan di sekolah formal dengan harapan lewat pendidikan suatu hari nanti kehidupan mereka jauh lebih baikAy(Agustinus Tedja B. Pendiri JKJT). Agustinus Tedja Bawana adalah pendiri Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT). Beliau adalah sosok yang sangat peduli terhadap masa depan anak-anak jalanan, terutama di bidang pendidikan. Tingkat pendidikan yang rendah itulah yang mendasari awal terbentuknya JKJT. Untuk menampung semua itu. JKJT memiliki rumah belajar, yaitu di daerah Muharto dan Jagalan. Disana mereka belajar bersama-sama artinya tidak dibedakan dengan kelas tetapi usia, anakanak, remaja, dan dewasa. Tidak ada guru yang mengajar disini, yang ada hanya Lokasi rumah belajar Muharto berada di ujung pemukiman yang dipadati oleh rumah-rumah penduduk. Akses masuk ke lokasi belajar hanya bisa dilalui dengan mengendarai sepeda motor atau berjalan kaki. Selain itu, tepat disamping pemukiman terbentang sungai Berantas yang sewaktu-waktu dapat mendatangkan banjir apabila musim hujan datang. Kegiatan belajar mengajar tersebut dilaksanakan setiap hari minggu jam 10. 00 sampai dengan jam 12. 00 WIB. Anak-anak belajar dibawah tenda putih terbuka yang biasanya digunakan oleh organisasi Palang Merah Indonesia. Dahulu, sebelum terdapat tenda, anak-anak belajar di halaman rumah salah satu penduduk yang meminjamkan halamannya sebagai tempat belajar anak-anak Muharto. Berdasarkan data yang ada di JKJT, anak-anak binaan di Muharto yang mengikuti kegiatan belajar di sini kurang lebih berjumlah 90 orang, anak-anak usia sekolah dasar mendominasi disini, dan sebagian lainnya adalah anak TK serta SMP, bahkan ada anak yang tidak mengenyam pendidikan disokolah formal (Nurkholois, 2. AuDengan adanya sekolah gratis ini, bertujuan untuk mengurangi jumlah anak yang turun ke jalan karena rendahnya tinkat pendidikanAy(Iin, 27 tahu. Rumah belajar yang didirikan oleh JKJT ini tidak sama seperti sekolah belajar pada umumnya. Di sini seluruh anak belajar dengan metode pendampingan, dimana mereka tidak dikumpulkan perkelas, tetapi mereka dikumpulkan bersama-sama berdasarkan usia mereka, kemudian didampingi relawan-relawan yang ada di JKJT. Para pendamping berperan sebagai guru dan memberikan pembelajaran kepada anak-anak binaan yang berkumpul dan sebagian besar pendamping yang ada di sini adalah mahasiswa dari berbagai universitas di Malang. Fotografi Fotografi atau photography . alam bahasa inggri. berasal dari dua kata yaitu photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti tulisan atau lukisan. Jadi, fotografi adalah proses melukis/menulis/perekam suatu gambar dengan bantuan cahaya melalui sebuah media perekam, baik film, sensor digital atau lainnya (S. Evelin, 2. Fotografi desain sangat berkaitan erat dengan desain komunikasi Foto desain digunakan untuk membantu proses komunikasi, menggambarkan suatu keadaan, dan menunjang sebuah produk. Foto jenis ini dibuat berdasarkan suatu konsep desain untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan keinginan desainer (R. Mahardika, 2. AuPendidikan Iwan hanya sampai kelas 5 SD. Hal ini tidak menghentikan dirinya untuk memperkaya diri, baginya pendidikan tidak hanya bersumber dari bangku sekolah. Tekadnya yang kuat membuatku tergerak untuk mengajarinya berbagai keterampilan. Anak-anak ku hanya punya banya ketermpilan, ini untk bekal masa depan meraka. Iwan amat tertarik dengan fotografi, sudah 2 tahun dia belajar fotografi darikuAy(Agustinus Tedja B, pendiri JKJT). AuKeinginan saya sendiri untuk belajar fotografi, sambil liat video membuat saya juga suka dengan video. Tetapi sama Ayah diajari basicnya dari kamera, entah itu dalam membuat video atau fotografiAy (Iwan,28 tahu. Pembinan yang dilakukan JKJT tidak hanya dibidang pendidikan, akan tetapi dibidang lainnya. Misalnya dibidang fotografi, hal ini tentu saja membantu anak asuh untuk lebih berkembang dan tentu saja menjadi bekal untuk masa depan mereka. Contohnya Iwan yang tertarik dengan dunia fotografi. Hal itu terus ia dalami dan kini jika ada permintaan salah satunya wedding photography ia juga ikut menanganinya. Untuk foto prewedding iwan dan rekan-rekannya memasang tarif 1-5 juta rupiah. Hal ini tentu saja tidak lepas dari bimbingan dan dorongan seorang Agustinus Tedja yang akrab dipanggil dengan sebutan Ayah. Masalah yang Sering Dihadapi Jaringan Kemanusiaan Dalam Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan Dalam upaya pemberdayaan anak jalanan tentu tidaklah mudah, banyak kendala yang dihadapi. JKJT salah satu lembaga independent yang mengurusi anak dan remaja jalanan. Mengurusi anak dan remaja jalanan seolah mengurusi masalah yang tidak ada habisnya. Sebagian besar masalah yang muncul masih berkutat pada masalah legalitas. Misalnya, dalam hal kepemilikikan akte kelahiran. KTP, surat nikah dan bahkah surat perceraian. Tidak jelasnya asal usul seringkali membuat anak dan remaja jalanan sulit mendapat pengakuan legalitas secara hukum. Hal inilah yang sering kali membuat Agustinus Tedja harus terjun langsung ke Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil untuk membantu anak asuhnya mengurus legalitas secara hukum. Tidak lengkapnya dokumen yang dimiliki menjadi salah satu penyebab anak jalanan sulit mendapat pengakuan diri secara Anak-anak asuhnya selalu ditemani untuk mengurus berkas kependudukan karena sebagian diantara tidak mengerti cara untuk mengurusnya. Tingkat pendidikan yang rendah membuat anak-anak asuhnya kesulitan dan bingung mengikuti aturan birokrasi pemerintah yang rumit. Andaisaja Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mau meluangkan sedikit waktu untuk memberikan penyuluhan kepada anak-anak jalanan mungkin suatu saat nanti mereka bisa menguruh sendiri masalah legalitas hukum mereka. Akte Kelahiran Akte kelahiran adalah dokumen penting yang harus dimiliki bagi setiap warga Negara, karena akte kelahiran adalah bukti awal tentang seseorang diakui menjadi warga Negara, sehingga dengan akte kelahiran tersebut seseorang bisa berhak untuk mendapatkan hak-hak lainnya sebagai warga Negara yang sah. Dengan akte kelahiran juga seseorang memiliki jaminan dan kepastian hukum mengenai status keperdataannya yang meliputi identitas, nama dan kewarganegaraannya serta hubungan hukum dengan orang tuanya. Akta kelahiran merupakan catatan otentik yang dibuat oleh pegawai catatan sipil selaku pejabat yang berewenang berupa catatan resmi tentang tempat dan waktu kelahiran anak, nama anak dan nama orang tua anak secara lengkap dan jelas, yang dilegalkan dengan memberikan tanda tangan dari pejabat yang berwenang dengan tujuan untuk memperoleh status kewarganegaraan anak. Pentingnya memiliki akte kelahiran juga pergunakan untuk anak jika akan masuk sekolah (R. Hasnizar, 2. E-KTP e-KTP adalah Electronic-Kartu Tanda Penduduk merupakan Kartu Tanda Penduduk yang dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaan berfungsi secara komputerisasi. Asal kata : Electronic-KTP, atau Kartu Tanda Penduduk Elektronik b. Bentuk Fisik : Bahan polyvinyl chloridePVC Tampilan : Hampir sama dengan Kartu Tanda Penduduk biasa ditambah chip sehingga berfungsi sebagai smart card terdapat foto digital dan tandatangan Isi : Nomor Induk Kependudukan (N. ), nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, agama, status perkawinan, golongan darah, alamat, pekerjaan, kewarganegaraan, foto, masa berlaku, tempat dan tanggal dikeluarkan KTP, tandatangan pemegang KTP. Nama dan nomor induk pegawai pejabat yang menandatanganinya e. Data Base : Semua data base penduduk ditampung dalam 1 Database Nasional (B. Nurrohman, 2. Pengelolaan pendaftaran penduduk merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota, dimana dalam pelaksanaannya diawali dari desa/kelurahan selaku ujung tombak pendaftaran penduduk, hingga setiap warga terdaftar secara administrasi sebagai warga negara Indonesia dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Dalam pelayanan tersebut perlu dilakukan dengan benar dan cepat agar penduduk sebagai warga negara merasa dapat pelayanan yang memuaskan. Sebagai salah satu langkah untuk membantu berbagai pekerjaan mengenai pendaftaran kependudukan yang sesuai dengan berbagai standar yang diperlukan maka pemerintah mulai membuat sebuah kebijakan dengan mengadakan program yang dahulu dikenal dengan Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (M. Febriharini, 2. Setiap penduduk Indonesia Wajib dan harus memiliki KTP yang mempunyai spesifikasi dan format KTP Nasional dengan sistem pengamanan khusus. SIMPULAN Program pembinaan yang diberikan oleh JKJT kepada anak jalan tidak hanya dibidang pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan anak dan remaja jalan tidak luput dari perhatian Agustinus Tedja selaku pendiri JKJT. Selain mendirikan rumah belajar untuk anak dan remaja jalanan. Agustinus Tedja juga memberikan pelatihan skill dan keterampilan lainya kepada anak asuhnya, seperti fotografi, memasak, menjahit, merakit CCTV, kerajinan kayu dan music. Hal ini tentu saja menjadi usaha untuk menumbuhkan rasa wirausaha dan juga untuk menhasilkan pendapatan sendiri. Masalah yang sering muncul dalam pembinaan anak jalan adalah masalah legalitas, seperti kepemilika akte kelahiran. KTP, surat nikah dan bahkan surat cerai. Agustinus Tedja selalu terjun klangsung untuk mendampingi anak asuhnya dalam mengurus legalitas secara hukum. Tingkat pendidikan yang rendah membuat anak-anak asuhnya kesulitan dan bingung mengikuti aturan birokrasi pemerintah yang rumit. REFERENSI