MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Agustus 2025 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 59-70 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index KEBENARAN HEGEMONIK AGAMA Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo4 Mahasiswa Magsiter Iniversitas Islam Jakarta (UIJ)1 Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun-Bekasi2 Dosen Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA)3,4 hasbiabi355@gmail. alkhobir@gmail. lamet_munawar@iprija. budi_utomo@iprija. Abstract: Anarchic violence against jamaah Ahmadiyah and AuAliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)Ay by Front Pembela Islam (FPI) constitutes a form of truth claim among religious groups in religious society. The religious interpretation which formerly opened now reduced to become the closed interpretation. The formerly is the substantive interpretation now become the hegemonic This is one of the greatest theological challenge facing by religious community. This article will show the patterns of attitude and idea among religious comminity members which stimulate hegemonic truth claim in order to find out the friendly, egalitarian, and tolerant forms of religions, so the hegemonic truth claim of the religion should be avoided. Keyword: Kebenaran. Hegemonik. Kebenaran. Klaim. Kebenaran Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo PENDAHULUAN Klaim kebenaran . ruth clai. merupakan tantangan teologis terbesar yang dihadapi oleh umat beragama dalam interaksinya dengan yang lain. Imbas dari klaim kebenaran ini seringkali terjadi penyesatan dan kekerasan terhadap pemeluk agama/keyakinan dan pandangan lain seperti yang di alami oleh jamaah Ahmadiyah dan AKKBB belum lama ini. Dewasa ini, interaksi antar dan sesama umat beragama memang dirasa kan semakin intens, seperti dalam pertemuan-pertemuan antar tokoh agama, seminar, dan bahkan dalam acara-acara bernuansa sosial. Pada tingkat pribadi, hubungan antar elit agama semakin akrab, penuh toleransi, dan terlibat dalam usaha mencairkan kebekuan yang selama ini masih Tetapi tunggu dulu, dalam tataran teologis masih ditemukan banyak problem. Yakni bagaimana penganut agama harus menampilkan diri di hadapan sesama penganut agama dan di tengah-tengah penganut agama lain dengan menawarkan jalan kebenaran dan keselamatan masing-masing. Tawaran jalan kebenaran dan keselamatan ini mestinya harus didasarkan pada kebenaran substantif agama dengan mengedepankan toleransi, inklusivitas, kesetaraan, dan kebebasan yang terkandung di dalamnya, tidak berdasarkan pada hegemoni kekuatan mayoritas pengikut Klaim kebenaran . ruth clai. 1 atas dasar hegemoni kekuatan mayoritas pengikut agama ini memunculkan agama mayoritas dan agama minoritas. Agama minoritas seringkali menjadi objek penindasan sebagaimana yang di alami oleh jamaah Ahmadiyah. Dari sini muncul pula otoritarianisme agama, yakni klaim aliran/ kelompok sebagai yang paling berhak atas tafsir agama untuk menghakimi dan menghukum tafsir agama yang diberikan oleh orang lain seperti yang dilakukan oleh Forum Umat Islam (FUI) terhadap aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Fenomena klaim kebenaran yang didasarkan pada hegemoni kekuatan mayoritas pengikut agama ini setidaknya merupakan fakta yang bertentangan dengan pesan universal yang disampaikan oleh agama-agama yang ada di dunia, baik agama smitik maupun agama non 1 Klaim kebenaran . ruth clai. ajaran agama secara sepihak juga dapat dipandang sebagai penyebab munculnya segregasi sosial. Ketika umat agama tertentu mengklaim ajaran agamanya paling benar, maka sesungguhnya ia telah menuduh ketidakbenaran ajaran keagamaan pihak lain. Klaim dan tuduhan seperti itu bisa muncul di antara para pengikut agama yang berbeda atau dalam satu agama, serta kelompok-kelompok yang ada dalam satu agama. Pada saat klaim dan tuduhan dilontarkan, secara tidak sadar telah terbentuk pemilahan di antara umat beragama atau kelompok di dalam satu agama. Anggapan demikian semakin dikukuhkan ketika mereka terlibat dalam kompetisi. Faktor-faktor seperti itu di satu sisi dianggap dapat memunculkan konflik di antara mereka, tetapi pada sisi yang lain mereka dapat bersatu ketika mereka merasa perlu melakukan kerja sama. Selain karena truth claim, segregasi sosial, menurut F. Schuon, juga dapat terjadi akibat tafsir keagamaan dan ideologi keagamaan yang dikembangkan. Karena adanya perbedaan demikian, maka masing-masing kelompok merasa perlu memiliki wadah tersendiri sehingga dengan wadah itu, dapat meneguhkan dan mensosialisasikan hasil-hasil tafsirannya. Sehingga adanya umat beragama dan kelompok keagamaan, dapat dilihat dalam konteks seperti ini. Karena truth claim pada akhirnya memunculkan konsep in group dan out group. Munculnya konsep ini bisa jadi akan melahirkan peluang-peluang untuk kompetisi dan konflik di antara mereka. Kompetisi dan konflik yang bergerak atas alasan agama atau faham keagamaan ataupun karena alasan kepentingan komunitas. Selengkapnya lihat Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1. Fritchof Schuon. Mencari Titik Temu Agama-agama . (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1. , dan Don Sermada. AuTeori tentang Fungsi Agama,Ay dalam Basis. November, x, 1981. 60 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Dalam konteks Islam, klaim kebenaran hegemonik agama tersebut juga mengabai kan pluralitas dan inklusivitas yang digagas oleh Al-QurAoan dan telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw pada periode Madinah. 2 Terkait dengan fenomena ini dapat diajukan beberapa Mengapa klaim ke benaran hegemonik agama muncul dan berkembang di negeri ini? Apa usaha usaha yang harus dilakukan untuk menampilkan kembali watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran? Atas dasar itu, tulisan ini akan berusaha untuk menelusuri dan sekaligus memetakan sikap dan pandangan umat beragama yang memunculkan klaim kebenaran hegemonik dan berusaha untuk menampikan kembali watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran. Sehingga klaim kebenaran hegemonik agama dapat dihindarkan. Untuk mempermudah pemahaman dalam menangkap ide dan gagasan yang disampaikan, maka makalah ini ditulis dengan sistematika sebagaimana berikut, yaitu: latar belakang masalah. klaim kebenaran dan konflik kekerasan di Indonesia. sikap dan pandangan umat beragama dan usaha menampilkan kembali watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran. dan kesimpulan. PEMBAHASAN Klaim Kebenaran dan Konflik Kekerasan di Indonesia AuYang BenarAy dan AukebenaranAy adalah dua hal yang berbeda. Yang per tama bersifat absolut-objektif, sedangkan yang kedua bersifat relatif-subjektif. Yang pertama terkait dengan Dia Yang Benar, sedangkan yang kedua terkait dengan dia pencari Yang Benar. Relativitas dan subjektivitas kebenaran setidaknya telah ditunjukkan oleh mujtahid ketika memberikan tafsir ter hadap kehendak Tuhan yang termuat dalam teks-teks keagamaan. Ia mengatakan: AuraAoyi saawab walakin yahtamil al-khathaAo wa raAoyuhu khathaAo walakin yahtamil al-awab . endapatku benar tetapi ada kemungkinan salah dan pendapatnya salah tetapi ada kemungkinan bena. Ay Kebenaran agama adalah milik siapa pun. Kebenaran agama tidak milik orang atau kelompok Apabila demikian halnya, mengapa kebenaran agama kemudian di klaim terutama oleh kelompok mayoritas? Ukuran kebenaran agama tidak diukur dari substansinya tetapi di ukur dari kuantitas pendukungnya. Pengkafiran dan penyesatan yang menimpa agama dan keyakinan minoritas di Indonesia seperti kelompok al-QiyAdah al-IslAmiyyah. Lia Eden, dan lainnya secara umum dilakukan oleh kelompok mayoritas seperti organisasi-organisasi keagamaan Islam dan lembaga-lembaga resmi pe merintah. Fenomena pengkafiran dan penyesatan ini juga pernah terjadi pada pengikut Darul Arqam di Malaysia. Selama logika kebenaran mayoritas ada selama itu pula pengkafiran dan penyesatan agama dan keyakinan minoritas akan terus berlangsung. Inilah wujud kebenaran hegemonik agama yang seringkali menebarkan konflik dan kekerasan. 2Setidaknya naskah Piagam Madinah yang telah sampai kepada kita dapat dijadikan bukti bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengusung nilai-nilai pluralitas dan ingklusifitas dalam kepemimpinannya. Di antara prinsip-prinsip umum Piagam Madinah adalah monoteisme, persatuan dan kesatuan, persamaan dan keadilan, kebebasan beragama, bela negara, pelestarian adat yang baik, supremasi hukum . , serta politik damai dan Berikut di antara cuplikan pasal-pasal dalam Piagam Madinah: . sesungguhnya mereka satu umat, lain dari . manusia yang lain. kaum Muhajirin dan Quraisy sesuai keadaan . mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin. Banu Awf, sesuai keadaan . mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara . Banu SaAoidah, sesuai keadaan . mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin. Banu al-Hars, sesuai keadaan . mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin. Informasi lebih lengkap lihat Ibnu Hisyam. Sirah al-Nabiy (Beirut: Dar IhyaAo al-Turas al-Arabiy. Jil. II, t. Montgomery Watt. Islamic Political Thought (Edinburg: Edinburg University Press, 1. , 160. dan Ahmad Sukarjda. Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945: Kajian Per bandingan tentang Dasar Hidup Bersama dalam Masyarakat yang Majemuk (Jakarta: UI-Press, 1. Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. 61 | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo Klaim kebenaran hegemonik agama pada perjalanan selanjutnya me lahirkan konflik dan kekerasan terhadap kelompok agama dan keyakinan minoritas. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat yang dibangun oleh agama itu sendiri. Sebab secara teoritis, setiap agama oleh penganutnya diyakini mengajarkan sikap toleran, penghormatan, dan pengakuan atas eksistensi agama dan keyakinan lain. Dalam konteks ini. Islam . an juga agama lai. telah menegaskan toleransi, penghormatan, serta pengakuannya terhadap agama lain sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Al-QurAoan: Lakum dnukum waliya dn . agimu agamamu dan bagiku Bahkan tidak hanya itu. Islam juga mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap bentuk perbedaan amaliah yang bersifat furAoiyyah di kalangan intern umat Islam dengan prinsip LanA aAomAlunA walakum aAomAlukum . agi kami amaliah kami dan bagi kalian amaliah Secara praktis, prinsip ini belum disadari sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia yang multi agama dan ke percayaan. Mereka masih enggan menerimanya secara total. Kecenderungan homogenitas dalam arti sebenarnya masih tampak dimana-mana. Masih banyak kesulitan melakukan dialog di antara kelompok-kelompok yang ada. Andaikan ada dialog, hal itu masih bersifat ceremonial dan formalistik yang belum menyentuh pada problem inti . ore proble. yang dihadapi. Drama konflik dan tindakan kekerasan yang diakibatkan oleh klaim ke benaran hegemonik agama terus menghiasi lembaran sejarah kehidupan bangsa yang konon sangat toleran dan akomodatif hingga hari ini. Drama konflik dan tindakan kekerasan tersebut dapat disaksikan di Indonesia dan daerah-daerah yang dulunya masuk wilayah Indonesia dari mulai konflik Baucau Timor-Timur pada Januari 1995 sampai konflik Kupang pada De sember Kesemuanya merupakan ragam konflik yang dipicu oleh SARA . uku, agama, ras, dan antar golonga. Konflik-konflik berbasis isu agama terjadi pada beberapa kerusuhan di Surabaya pada 9 Juni 1996. Situbondo pada 10 Oktober 1996. Tasikmalaya pada 26 Desember 1996. Bekasi pada 18 September 1996. Rengas Dengklok pada 31 Januari 1997. Konflik antar etnik terjadi antara Dayak dan Madura di Sanggau Ledo Kalimantan Barat pada 30 Desember 1996 dan pada 30 Januari 1997 dan juga di Kota Waringin Timur pada 1999. 3 Kemudian konflik yang dipicu oleh isu hubungan antar kelompok juga dapat dilihat pada kasus di TimorTimur pada 1 Januari 1995. Pekalongan pada 24 November 1995. Timika dan Nabire. Irian Jaya pada 12 Maret 1996 dan 3 Juni 1996. Banjarmasin pada 23 Mei 1997. Ujung Pandang pada September 1997, dan Ketapang pada 22 November 1998. 4 Tidak hanya itu, konflik dan kerusuhan juga terjadi di Mataram pada Januari 2000. 5 Konflik dan kekerasan yang terjadi di negeri ini dengan mengatasnamakan agama terus diputar oleh kelompok mayoritas agama tertentu, dan korban nya adalah kelompok minoritas. Sikap dan Pandangan Umat Beragama Berpijak pada paparan mengenai pengkafiran dan penyesatan pengikut agama dan keyakinan minoritas oleh kelompok mayoritas yang berujung pada tindakan konflik kekerasan, ada satu pertanyaan yang dapat dimuncul kan di sini: Bagaimana cara mengeliminasi klaim kebenaran hegemonik agama? Sehingga watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran, dapat di tampilkan kembali. Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu harus diketahui gambaran mengenai sikap keberagamaan yang ditampilkan oleh umat beragama. Mengingat sikap keberagamaan yang ditampilkan umat beragama sangat menentukan bagaimana pandangan mereka terhadap se sama dan antar umat beragama. 3 Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI. Konflik Sosial Bernuasa Agama di Indonesia. Seri II (Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2. , 227. 4 Syamsul Hidayat. Profetika No. I/1999, ii, i. 5 Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI. Konflik Sosial Bernuasa Agama di Indonesia. Seri II, (Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2. , 53. 62 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Terkait dengan sikap keberagamaan ini. Budhi Munawar Rahman, menulis bahwa: dalam penelitian ilmu agama agama setidaknya ada tiga sikap keberagamaan yang dapat disebutkan, yaitu: sikap eksklusivisme, inklusivisme, dan paralelisme. Pertama, sikap eks klusif. 7 Sikap ini merupakan pandangan yang dominan dari zaman ke zaman, dan terus dianut sampai saat ini. Bagi agama Islam inti pandangan ini adalah bahwa agama dan keyakinan yang paling absah dan diterima di sisi Tuhan (Alla. adalah Islam. Beberapa ayat yang dipakai sebagai ungkapan eksklusivitas Islam adalah sebagai berikut: AuBarang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima . gama it. dari padanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi. Ay8 AuSungguh, agama pada Allah adalah Islam . unduk pada kehendakny. Ay9 Sedangkan bagi agama Kristen inti pandangan model ini adalah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan yang sah untuk keselamatan. AuAkulah Jalan dan Kenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Ay10 Kedua, sikap inklusif. 11 Pandangan ini membedakan antara kehadiran penyelamatan dan aktivitas Tuhan dalam tradisi agama-agama lain, dengan penyelematan dan aktivitas Tuhan dalam Yesus Kristus. AuMenjadi inklusif berarti percaya bahwa seluruh kebenaran agama nonKristiani mengacu kepada KristusAy. Teolog terkemuka yang menganut pandangan ini adalah Karl Rahner. Ia memunculkan satu pertanyaan: Bagaimana terhadap orang orang yang hidup sebelum dokumen Konsili Vatikan II yang memuat pandangan inklusif itu hadir, atau orangorang yang sesudahnya tetapi tidak pernah tersentuh injil? Untuk menjawabnya ia memunculkan istilah inklusif, the anonymous christian, yaitu orang-orang non Kristiani. Dalam pandangan nya, mereka selamat, sejauh mereka hidup dalam ketulusan hati terhadap Tuhan, karena karya Tuhan pun ada pada mereka, walaupun mereka belum pernah mendengar kabar 12 Tetapi pandangan ini dikritik oleh pandangan pluralis, sebagai yang membaca agama lain dengan kacamata agama sendiri. Sementara kalangan Islam inklusif berpandangan bahwa agama semua Nabi adalah satu. Mereka adalah saudara satu ayah. ibu mereka banyak, namun agama mereka satu. Kalangan Islam inklusif menganut pandangan Al-QurAoan tentang adanya titik temu agama-agama,14 di mana masing-masing umat telah ditetapkan sebuah shirAoah . alan menuju kebenara. dan minhaj . ara atau metode menuju kebenara. Menurut kalangan Islam inklusif ini. Allah memang tidak menghendaki adanya kesamaan manusia dalam segala hal . Adanya perbedaan menjadi motivasi berlomba dalam kebaikan. dan Allah akan menilai dan menjelaskan berbagai perbedaan itu. 6 Budhi Munawar Rahman. Islam Pluralis (Jakarta: Paramadina, 2. , 44. 7 Informasi lebih detail terkait dengan sikap keberagamaan yang eksklusif ini silahkan lihat Hendrik Kraemer. AuChristian Attitudes toward Non-Christian Religions,Ay dalam Karl E. Braaten dan Robert W. Jenson. A Map of Twentieth Century Teologhy. Reading from Karl Barth to Radical Pluralism (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 8 QS. Ali Imran . : 85. 9 QS. Ali Imran . : 19. 10 Yohanes 14: 6. 11 Informasi lebih detail terkait dengan sikap keberagamaan yang inklusif ini silahkan lihat Karl Rahner. AuChristianity and the non-Christian Relegions,Ay dalam Karl E. Braaten dan Robert W. Jenson. A Map of Twentieth Century Teologhy. Reading from Karl Barth to Radical Pluralism (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 231-246. 12 Pandangan mengenai keselamatan bagi orang yang belum tersentuh Injil ini mirip-mirip dengan pandangan Islam yang manyatakan bahwa Allah tidak akan menyiksa seseorang sampai datang kepadanya seorang utusan (QS. Al-IsraAo . : . 13 Budhi Munawar Rahman. Islam Pluralis (Jakarta: Paramadina, 2. , 46. 14 QS. Ali Imran . : 64. 15 QS. Al-MaAoidah . : 48. Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. 63 | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo Ketiga, sikap paralelisme. 16 Pandangan ini percaya bahwa setiap agama . gama-agama lain di luar Kriste. mempunyai jalan keselamatannya sendiri, dan karena itu klaim bahwa kristianitas adalah satu-satunya jalan . ikap eksklusi. , atau yang melengkapi atau mengisi jalan yang lain . ikap inklusi. , haruslah ditolak, demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis. Tokoh utama yang mengemukakan pandangan pluralis ini adalah John Harwood Hicks dalam karyanya God and The Universe Faiths . Sementara tafsir Islam Pluralis adalah pengembangan secara lebih liberal dari Islam Banyak upaya yang ditempuh untuk mengembangkan paham Islam pluralis ini. Misalnya perbedaan antara Islam dan Kristen serta agama lain diterima sebagai perbedaan dalam meletakkan prioritas antara pe rumusan iman dan pengalaman iman. Menurut kalangan Islam pluralis seperti Frithjof Schuon dan Seyyed Hussein Nashr, setiap agama pada dasarnya dis truktur oleh kedua hal tersebut. Hanya saja setiap agama selalu menganggap yang satu mendahului yang kedua. Persis dalam pembedaan ini, sikap pluralis bisa diterima, karena misalnya antara Islam dan Kristen perbedaannya terletak dalam menaruh mana yang lebih penting antara kedua hal tersebut. Islam mendahulukan perumusan iman . alam hal ini adalah tawhi. dan peng alaman iman mengikuti perumusan iman tersebut. Sementara Kristen, men dahulukan pengalaman iman . alam hal ini pengalaman akan Tuhan yang menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan dalam sakramen misa dan ekarist. , dan perumusan iman mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis mengenai trinitas. Perbedaan dalam struktur perumusan dan pengalaman iman ini hanyalah ekspresi kedua agama ini, sebagaimana ungkap Nashr yang dikutip oleh Budhi Munawar Rahman, dalam merumuskan dan mengalami Tuhan yang sama. 18 Jadi pada dasarnya pandangan pluralis ini tidak menganggap bahwa tujuan yang ingin dicapai di depan adalah keseragaman bentuk Sebab gagasan mengenai pluralisme agama berdiri di antara pluralitas yang tidak berhubungan dan kesatuan monolitik, seperti kata Raimundo Panikkar. Berdasarkan klasifikasi tiga sikap dan pandangan keberagamaan sebagai mana telah diuraikan di atas, sikap dan pandangan keberagamaan masyarakat Indonesia menurut saya masuk dalam kategori sikap dan pandangan yang pertama, yaitu sikap dan pandangan eksklusif dengan klaim bahwa agama saya-lah yang paling benar di sisi Tuhan sedangkan agama lain adalah salah/sesat, dan berarti pula anti pluralitas agama. Karena nalar yang dikembangkan oleh sikap dan pandangan ini adalah nalar agama yang tidak toleran, tidak akomodatif terhadap segala perbedaan, lebih suka mencari titik perbedaan, dan ukuran kebenaran yang digunakan adalah kebenaran mayoritas. Pengkategorian ini didasarkan pada fakta-fakta empiris, seperti: ke tegangan, konflik, kekerasan, memberikan vonis sesat terhadap kelompok lain, sampai kepada pengkafiran terhadap sesama agama. Beberapa kasus ketegangan, konflik, kekerasan, telah disinggung pada paragraf terdahulu yang ternyata jumlah mencapai bagus kasus. Untuk kasus pengkafiran misalnya telah dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri Forum Umat Islam (FUI) Indonesia terhadap Ulil Absar Abdalla. Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), yang dianggapnya murtad, kafir, dan melenceng dari ajaran Islam sehingga darahnya halal Padahal sama-sama membaca syahadat, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain yang diwajibkan. Selain itu juga ada buku yang dikarang oleh Hartono Ahmad Jaiz yang intinya menuduh ada pemurtadan di IAIN. 16 Informasi lebih detail terkait dengan sikap keberagamaan yang pluralis ini silahkan lihat. John Hicks. God and the Universe Faiths (Oxford: One World Publication. , 1993. 17 Budhi Munawar Rahman. Islam Pluralis (Jakarta: Paramadina, 2. , 48. 18 Pandangan pluralis ini misalnya dikemukakan oleh Seyyed Hussein Nashr dalam AuThe One and The Many,Ay dalam Parabola terbitan 22/3/94. 19 Budhi Munawar Rahman. Islam Pluralis (Jakarta: Paramadina, 2. , 49. 64 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Kecenderungan keberagamaan yang monolitik seperti itu akhir-akhir ini semakin gencar dipropagandakan oleh mereka yang mempunyai sikap dan pandangan keberagamaan yang eksklusif yang selalu memancing kerusuhan, keonaran, dan bahkan memakan korban orangorang yang tidak berdosa. Meledaknya dua hotel di Jakarta (JW. Marriot dan Ritz Carlto. beberapa waktu yang lalu disinyalir juga akibat dari sikap dan pandangan keberagamaan model Akibat dari sikap dan pandangan keberagamaan model ini, kebenaran substantif agama akhirnya menjadi sesuatu yang terkorbankan. Sementara kebenaran hegemonik agama yang didasarkan pada kuantitas pengikut semakin menguat. Usaha Menampilkan Kembali Watak Agama yang Ramah. Egaliter, dan Toleran Untuk mengeliminasi klaim kebenaran hegemonik agama dalam kerangka menampilkan kembali watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran, maka harus ada upaya merubah sikap dan pandangan keagamaan masyarakat Indo nesia yang semula eksklusif menjadi sikap dan pandangan keberagamaan yang pluralis. Sikap dan pandangan ini cocok untuk dijadikan sebagai alat dalam menyikapi interaksi sesama dan antar umat beragama di Indonesia. Sikap dan pandangan pluralis ini meyakini bahwa setiap agama mempunyai jalan ke selamatannya sendiri dan tidak harus seragam. Karena itu lebih menitik berat kan pada adanya upaya pembentukan nalar agama yang toleran, akomodatif terhadap segala perbedaan, tidak menghakimi umat agama lain, dan lebih menitikberatkan pada aspek pencarian titik temu agama-agama. Upaya merubah sikap dan pandangan keagamaan masyarakat Indonesia yang semula eksklusif menjadi sikap dan pandangan keberagamaan yang pluralis sebagai prasarat untuk mengeliminasi klaim kebenaran hegemonik agama dalam kerangka menampilkan kembali watak agama yang ramah, ega liter, dan toleran, dapat dilakukan dengan beberapa hal. Pertama, kaharusan menggunakan metode dan pendekatan yang be ragam dalam melakukan studi agama. Selama ini studi agama lebih banyak dilakukan dengan hanya menggunakan metode dan pendekatan tertentu, seperti: pendekatan teologis. Pendekatan teologis adalah pendekatan normatif, subjektif terhadap agama, yang bisa dilakukan oleh seorang penganut suatu agama dalam memahami agama orang lain dengan perspektif agama yang di anutnya. Kajian pendekatan teologis model seperti ini, menurut Amin Abdullah 20 mengarah kepada keberpihakan kepada agama tertentu, lebih bersifat eksoteris, tertutup, dan final-konkret. Selain pendekatan teologis perlu juga disampaikan di sini pendekatan falsafati yang oleh Amin Abdullah dinyatakan sebagai pendekatan tekstual hermeneutis dengan pola pikir kualitatif, sehingga pesan teks dapat dilihat secara lebih mendalam dari apa yang ditampilkan oleh teksnya selama tidak menyalahi prinsip-prisip universal yang diusungnya. 22 Sehingga dapat di peroleh pandangan yang terbuka, inklusif, dan abstrak, karena lebih menitik beratkan pada aspek ide-ide fundamental, yang kemudian dapat membentuk pola berfikir kritis dalam mencari esensi dan semangat suatu pesan atau data dan fakta, dan akhirnya membawa pada mentalitas, kepribadian, dan alam pikiran yang mengutamakan kebebasan intelektual, sekaligus memiliki sikap toleran terhadap berbagai pandangan yang berbeda dan terbebas dari dog matisme dan fanatisme. 20 M. Amin Abdullah. Ulumul QurAoan. No. VII/1997, 56-57. 21 Contoh model studi dengan pendekatan ini tampak pada pengkajian Al-QurAoan yang dilakukan secara tekstual yang menyimpulkan bahwa pembahasan agama-agama yang ada di dalamnya tidak lain dalam kerangka mencapai kebenaran agama Islam yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw, sementara agama lain dinilai palsu dan telah diselewengkan para penganutnya. Kesimpulan ini didukung oleh adanya fakta tekstual bahwa Al-QurAoan selalu mengajak kepada din al Islam dan aqidah tawhid dan menyatakan dengan tegas bagi mereka yang beragama selain Islam dan menyimpang dari aqidah tawhid maka mereka tidak akan selamat dan termasuk orang yang rugi di akherat nanti. Al-QurAoan juga menyimpulkan bahwa diutusnya Nabi Mahammad Saw dengan membawa petunjuk dan dn al-haqq adalah untuk mengalahkan semua agama yang ada (QS. , 2:28. 3:19,85. 6:19. 18:110. 22:34. 9: 33. 48:28. dan 61:. 22 M. Amin Abdullah. Ulumul QurAoan. No. VII/1997, 56-57. Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. 65 | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo Contoh model studi dengan pendekatan ini misalnya tampak pada studi agama dalam Al-QurAoan yang juga merujuk pada pesan yang sama dengan pandangan teologis di atas. Hanya saja berbeda dalam mencermati pesan tersebut. Bahwa missi Al-QurAoan yang membawa ke pada Islam dan tawuid dan din al-haqq, bukanlah Islam dalam arti agama resmi yang diakui secara historis, tetapi lebih dititik beratkan pada makna Islam dan tawhid itu sendiri, yaitu ketundukan, kepasrahan, dan komitmen tunggal hanya kepada Tuhan. Makna inilah yang merupakan petunjuk dan din al-haqq yang dibawa setiap rasul dan terdapat dalam setiap agama. Jadi Al-QurAoan memang berpihak dan melakukan truth claim, tetapi keberpihakan nya kepada ide-ide dasar keberagaman yang benar yaitu: kepasrahan, ke tundukan, dan komitmen tunggal hanya kepada Allah. Imbas masih menonjolnya pendekatan teologis dalam studi agama di Indonesia, sangat wajar apabila kemudian menimbulkan truth claim oleh penganut agama tertentu, tidak toleran, apologis, dan tidak terbuka, seperti yang terjadi hingga hari ini. Selain dua pendekatan di atas, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Hidayat mengenai visi Al-QurAoan tentang metode dan pen dekatan studi agama-agama, setidaknya masih ada tujuh pendekatan. Ke delapan pendekatan itu adalah pendekatan historis, pendekatan kritik, pen dekatan rasional intuitif, pendekatan psikologis, pendekatan sosiologis, pen dekatan dialogis, dan pendekatan perbandingan. 23 Penggunaan pendekatan falsafati ini lebih sering digunakan untuk membangun teologi yang lebih terbuka dan mencari persambungan atau titik temu agama-agama. Dalam konteks studi Islam, titik temu agama-agama dapat dielaborasi melalui kisah-kisah yang dilukiskan sendiri oleh Al-QurAoan dengan Ibrahim sebagai tokohnya. Nama Ibrahim termaktub dalam Al-QurAoan sebanyak enam puluh sembilan kali. Penyebutan sebanyak ini menunjukkan betapa pentingnya kepeloporan dan ketokohan Nabiyullah Ibrahim as. Ibrahim (Abraha. Ae lah sosok Nabi dan Rasul Allah yang dijadikan rujukan oleh semua agama samawi . baik Yahudi. Nashrani, maupun Islam. Semua mengakui bahwa Ibrahim adalah panutan dan teladan umat beriman. Diskursus agama Ibrahim, secara panjang lebar termaktub dalam ayat 130-141 surat Al-Baqarah. Firman Allah. AuDan tidak ada yang benci kepada millah . Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami memilihnya di duniaAy. Ayat ini jelas memperlihatkan betapa idealnya millah Ibrahim bagi umat manusia. Pemakaian term millah memberikan distingsi . dengan kata al-dn, sungguh pun dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti agama. Jika al-din itu agama yang telah disertai Kitab Suci sebagai pranata ibadah dan sosial, maka al-millah tidak memiliki peninggalan Kitab Suci dan hanya suhuf . embaran-lembara. Kemudian, bagaimana sebenarnya essensi millah Ibrahim sampai dijadikan tipologi keyakinan . yang ideal? Dalam Tuhan semesta alam sehingga manusia itu tidak akan mati, kecuali menyerahkan diri . kepadaNya. Karenanya, millah Ibrahim bukanlah Yahudi. Nasrani, maupun lainnya, namun millah hanafiyah. keyakinan yang lurus dalam memegang monotheisme yang jauh dari keyakinan dualisme Tuhan. Dengan demikian maenstream millah Ibrahim adalah sikap penyerahan dan ketertudukan secara totalitas terhadap hukum dan aturan Tuhan. Sikap ini sekaligus menegasikan semua kekuatan selain-Nya. Kelaliman Namrud pada masa Ibrahim as merupakan salah satu tantangan yang harus dikikis habis guna mengimplementasikan ajaran millahnya. Begitu pula sikap otoritarin Azar . yah Ibrahi. yang mengharuskan menyembah berhala. Keagungan Ibrahim bagi umat beriman sesudahnya bermuara pada plat-form kalimatin sawaAo yang memungkinkan adanya ruang temu dari agama-agama samawi, bahkan seluruh keyakinan dan kepercayaan umat manusia. Plat-form tersebut sebagaimana dijelaskan Allah. AuAllA naAobuda illallAh walA nushrika bihi shaiAoan walA yattakhidha baAoduna baAodan arbAban min dnillAhAy (QS. Ali Imran . : . Maksudnya, hendaknya memurnikan keyakinan dan kepercayaan hanya kepada Tuhan dan membebaskan diri dari semua relasi dan kekuatan selain-Nya. Walhasil, teologi yang menjadi pijakan Ibrahim adalah Aoaqidah taharruriyah . eologi pembebasa. Dari sini pula kemudia Musa as menghancurkan rezim FirAoaun dan Qarun di Mesir. Yesus melawan absolutisme raja Romawi. Muhammad Saw memerangi kelaliman kuffar Makkah. Kalimatun sawAAo di sini dengan sendirinya membangun wacana pluralis me bagi umat manusia. Bahwa simbol-simbol atau slogan-slogan agama secara legal formal, bukanlah essensi keimanan dan kepatuhan seseorang. Apapun predikat dan label agama manusia sepanjang memegang teguh komitmen keimanan kepada Tuhan (Alla. , maka dia telah tercakup dalam frame agama yang lurus . 24 Syamsul Hidayat dalam Profetika. , 136. 66 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | Kedua, keharusan mengintensifkan dialog antar agama secara ter struktur dan terjadwal dengan baik. Tidak hanya sekedar melakukan dialog ketika telah terjadi ketegangan dan bentrokan antar pengikut agama. Dialog antar agama yang selama ini dilakukan umumnya ketika sudah dalam kondisi tersebut. Dialog yang dilakukan ketika telah terjadi ketegangan telah meng ingatkan saya pada suatu peristiwa yang terjadi di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 antara etnis Dayak dan Bugis yang hampir saja terjadi pertumpahan darah, pada saat melakukan penelitian mengenai integrasi sosial masyarakat Kalimantan Timur. Beruntung pertumpahan darah batal terjadi berkat dialog yang diprakarsai semua pihak termasuk tokoh agama dan aparat penegak hukum di sana. Berdasarkan investigasi yang saya lakukan terhadap penduduk di sana ternyata memang dialog antar penganut agama jarang bahkan mungkin tidak pernah terjadi sebelum ketegangan tersebut terjadi. Para pemimpin agama kurang berperan dalam membangun ke sadaran akan pluralitas agama yang dianut oleh masyarakat. Baru setelah ketegangan itu terjadi penggalakan dialog di antara umat agama dilakukan secara intensif. Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk oleh peme rintah dalam konteks demikian harus terus ditingkatkan perannya yang me nurut hemat saya selama ini dirasakan masih sangat kurang, karena lebih bersifat seremonial dan keberadaannya secara praksis masih terbatas pada daerah perkotaan . i tingkat kabupate. belum menyentuh masyarakat pe desaan yang secara kultur masih berwawasan sempit sehingga mudah dipengaruhi, digiring, dimobilisasi, untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Melalui forum tersebut, dapat disampaikan berbagai pandang an mengenai kemajemukan . yang menjadi bagian dari realitas masyarakat dunia, yakni masyarakat yang beraneka ragam, baik agama, suku, daerah, adat kebiasaan dan sebagainya. Kemajemukan itu menimbulkan kesan keunikan dan karena keunikannya itu diperlukan yang unik pula yaitu perlakuan berdasarkan paham kemajemukan. Dalam suasana kemajemukan seperti ini diharapkan tumbuh sikap saling menerima sebagaimana adanya, komunikasi semakin intensif, tumbuh sikap bersama yang sehat, mengakui segi-segi kelebihan orang lain dan mendorong sama-sama melakukan kebajikan dalam masyarakat. Perbedaan yang ada diterima dalam kerangka perbedaan atau setuju dalam perbedaan . gree and disagreemen. Ketiga, penanaman sikap toleran, akomodatif, terbuka terhadap segala perbedaan, serta pluralis, harus ditanamkan mulai sejak usia dini melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Tugas ini tidak semata mata menjadi tugas orang tua tetapi juga menjadi tugas pemerintah dengan cara mengevaluasi kembali terhadap proses pendidikan dan pengajaran akidah/keyakinan baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun per guruan tinggi, menyangkut materi pelajaran/perkuliahan, guru, dan dosen yang mengampu mata pelajaran/mata kuliah tersebut. Guru dan dosen yang mengampu mata pelajaran/mata kuliah tersebut harus benarbenar mem punyai wawasan yang luas dan keahlian dibidang tersebut. Dengan kata lain, guru dan dosen diwajibkan dapat membentuk sikap sebagaimana dimaksud bagi siswa/mahasiswa yang diajar dan dididiknya. Reevaluasi terhadap pro ses pendidikan dan pengajaran akidah/keyakinan ini sangat penting meng ingat selama ini telah terjadi kesalahan dalam proses pendidikan dan pengajarannya sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam membentuk sikap toleran, akomodatif, terbuka terhadap segala perbedaan belum sepenuhnya berhasil. Misalnya guru mata pelajaran Akidah adalah lulusan Syariah bukan lulusan Ushuludin dengan konsentrasi Akidah filsafat. Menurut saya ini juga termasuk dari kesalahan kebijakan yang diwakili Departemen Agama sebagai kepanjangan tangan pemerintah. Mestinya perekrutan guru itu harus ter buka, yang diterima mendaftar tidak hanya mereka yang lulusan Tarbiyah, tetapi juga lulusan lain seperti Syariah. Dakwah, dan juga Ushuluddin, di sesuaikan dengan keahlian masing-masing. Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. 67 | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo Karena mata pelajaran agama Islam itu tidak hanya satu melainkan banyak jumlahnya. Jika ini dilakukan, maka konsekuensinya adalah harus ada kebijakan baru mengenai kurikulum yang diajarkan di fakultas-fakultas yang ada di lingkup Perguruan Tinggi Agama (PTA), yakni dengan menambah mata kuliah tentang cara dan model pengajaran di fakultas lain selain Fakultas Tarbiyah. Sehingga lulusan selain Tarbiyah juga mempunyai wawasan tentang kependidikan dan kepengajaran yang baik. Mengingat urgensi pendidikan dan pengajaran akidah/keyakinan mesti nya guru atau dosen yang diserahi tugas mengajar mata pelajaran/ matakuliah tersebut paling tidak kalau di perguruan tinggi harus bergelar doktor sedangkan di bangku sekolah dasar/menengah haruslah bergelar magister, sebagai parameter bahwa memang mereka ahli dalam bidang tersebut dan dianggap mempunyai kemampuan untuk mantransformasikan sikap toleran, akomodatif, terbuka terhadap segala perbedaan, kepada pe serta didiknya. Keempat, membuka forum kajian mengenai agama-agama yang me libatkan semua agama yang diakui dan berhak hidup dan berkembang di negeri ini. Dalam forum ini dapat dikembangkan kajian mengenai teologi agama-agama di dunia yang selama ini mungkin masih dianggap tabu, karena sudah masuk dalam ranah dasar agama. Dengan adanya dialog teologi ini para pengikut agama semakin memahami dan mengerti konsep dasar teologi agama masing-masing dan pada saat yang sama juga mengenal dan memahami konsep dasar teologi agama lainnya. Dengan cara ini sikap saling pengertian dan hormat menghormati semakin Dari keempat hal tersebut, diharapkan sikap dan pandangan keberagamaan masyarakat bangsa Indonesia yang secara umum dinilai eksklusif dapat berubah menjadi sikap dan pandangan yang pluralis, sehingga klaim kebenaran hegemonik agama dapat tereliminasi dan watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran, dapat ditampilkan kembali. 68 | MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Agustus 2025 | KESIMPULAN Berdasarkan ulasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai mana dijelaskan di bawah ini. Pertama, klaim kebenaran atas dasar hegemoni kekuatan mayoritas pengikut agama disamping memunculkan agama mayoritas dan minoritas juga memunculkan otoritarianisme Klaim kebenaran berimbas pada adanya penyesatan dan kekerasan terhadap agama Karena itu, ia merupakan tantangan teologis terbesar yang dihadapi oleh umat beragama dalam interaksinya dengan yang lain. Konflik dan kekerasan sebagai akibat dari klaim kebenaran hegemonik agama sangat bertentangan dengan semangat yang dibangun oleh agama itu sendiri yang secara teoritis meng ajarkan sikap toleran, penghormatan, dan pengakuan atas eksistensi agama dan keyakinan lain. Kedua, sikap dan pandangan keberagamaan masyarakat Indonesia dapat dikategorikan sebagai yang eksklusif. Karena nalar yang dikembangkan adalah nalar agama yang tidak toleran, tidak akomodatif terhadap segala perbedaan, lebih suka mencari titik perbedaan, dan ukuran kebenaran yang digunakan adalah kebenaran mayoritas. Akibatnya, kebenaran substantif agama menjadi sesuatu yang terkorbankan. Sementara kebenaran hege monik agama yang didasarkan pada kuantitas pengikut semakin menguat. Ketiga, untuk mengeliminasinya dalam kerangka menampilkan kembali watak agama yang ramah, egaliter, dan toleran, dapat dilakukan dengan beberapa hal: . keharusan menggunakan metode dan pendekatan yang beragam dalam melakukan studi agama. keharusan mengintensifkan dialog antar agama secara terstruktur dan terjadwal dengan baik. Tidak hanya sekedar melakukan dialog ketika telah terjadi ketegangan dan bentrok an antar pengikut agama. Dialog antar agama yang selama ini dilakukan umumnya ketika sudah dalam kondisi tersebut. penanaman sikap toleran, akomodatif, terbuka terhadap segala perbedaan, serta pluralis, harus di tanamkan sejak usia dini melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Tugas ini menjadi kuwajiban orang tua dan pemerintah dengan cara melakukan reevaluasi terhadap materi akidah ditingkat pendidikan dasar, menengah, maupun kurikulum perguruan tinggi, proses pendidikan dan pengajaran, dan perekrutan tenaga pengajar serta keahliannya. membuka forum kajian mengenai agama-agama yang melibatkan semua agama yang diakui dan berhak hidup dan berkembang di negeri ini. Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo: [Kebenaran Hegemonik Agam. | Hasbiyallah. Solahuddin. Slamet Munawar. Budi Utomo REFERENSI