Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 579-587 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Pola Pengasuhan Otoriter dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Dampaknya terhadap Karakter Anak Usia Dini di Medan Area Khoirun Nadya1. Siti Nurhalizah2. Masganti Sit3 Info Artikel Abstract Keywords: Authoritarian Parenting Style. Child Character. Islamic Education. Muslim Families. This study aims to examine the application of authoritarian parenting styles in Muslim families towards early childhood from an Islamic educational perspective and its impact on character formation. The 0Ae6 age period is a crucial phase for the development of children's personality, morals, and socio-emotional skills. This study was conducted on Jalan Seto. Medan District, using a qualitative method with a case study approach. Participants consisted of five Muslim parents with children aged 4Ae6 years old selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and observations and then analyzed using an interactive model that includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was maintained through source triangulation, member checks, and audit trails to ensure transparency and credibility of the findings. The results show that authoritarian parenting styles are characterized by dominant parental control, one-way communication, and a lack of respect for children, which negatively impacts self-confidence, independence, and the internalization of noble morals. These findings confirm that authoritarian parenting styles have the potential to hinder the development of children's natural instincts and contradict Islamic educational values that emphasize compassion, role models, and dialogue. This study recommends the implementation of a more balanced and humanistic democratic parenting pattern, as well as strengthening the synergy between parents and PIAUD teachers to support the formation of Islamic character at an early age. Kata kunci: Pola Asuh Otoriter. Karakter Anak. Anak Usia Dini. Pendidikan Islam. Keluarga Muslim. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan gaya pengasuhan otoriter dalam keluarga Muslim terhadap anak usia dini dari perspektif pendidikan Islam dan dampaknya terhadap pembentukan karakter. Periode usia 0Ae6 tahun merupakan fase penting bagi perkembangan kepribadian, moral, dan keterampilan sosial-emosional anak. Penelitian ini dilakukan di Jalan Seto. Kecamatan Medan, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan terdiri dari lima orang tua Muslim dengan anak berusia 4Ae6 tahun yang dipilih melaluipurposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia Email: khoirun0308232037@uinsu. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia Email: siti0308233119@uinsu. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia Email: masganti@uinsu. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mendalam dan observasi kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber, member check, dan audit trail untuk memastikan transparansi dan kredibilitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan otoriter ditandai dengan kontrol orang tua yang dominan, komunikasi satu arah, dan kurangnya penghargaan terhadap anak yang berdampak negatif pada kepercayaan diri, kemandirian dan internalisasi akhlakul karimah. Temuan ini menegaskan bahwa gaya pengasuhan otoriter berpotensi menghambat perkembangan fitrah alami anak dan bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, teladan, dan Penelitian ini merekomendasikan penerapan pola pengasuhan demokratis yang lebih seimbang dan humanis, serta penguatan sinergi antara orang tua dan guru PIAUD untuk mendukung pembentukan karakter Islami di usia dini. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 29 November 2025 20 Desember 2025 23 Desember 2025 27 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Khoirun Nadya. Nurhalizah. , & Sit. Pola Pengasuhan Otoriter Dalam Perspektif Pendidikan Islam Dan Dampaknya Terhadap Karakter Anak Usia Dini Medan Area. Jurnal Ar-Raihanah, . , 579-587, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Khoirun Nadya, khoirun0308232037@uinsu. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Masa dari lahir hingga usia enam tahun merupakan periode yang sangat penting yang disebut masa keemasan. Periode ini sangat penting untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Anakanak berkembang pesat di banyak bidang seperti keterampilan fisik, kemampuan berpikir, bagaimana mereka bergaul dengan orang lain, sertakesadaran emosional dan moral. Karena itu, mereka membutuhkan stimulasi, pengajaran, dan pengasuhan terbaik untuk membantu mereka menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan mandiri (RofiAoah et al. , 2. Namun demikian, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah orang tua masih menerapkan paradigma pengasuhan otoriter yang menekankan kepatuhan absolut tanpa memberikan ruang bagi anak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan atau mengekspresikan identitas mereka. Praktik pengasuhan demikian berpotensi menimbulkan dampak adversif terhadap pembentukan karakter anak usia dini, seperti minimnya kepercayaan diri, ketergantungan berlebihan terhadap figur otoritas, serta keterbatasan dalam kemampuan membuat keputusan secara otonom (Ambariani & Rakimahwati, 2. Pengasuhan otoriter merujuk pada strategi parenting yang mengimplementasikan regulasi ekstrem ketat dengan ekspektasi kepatuhan mutlak tanpa ruang negosiasi. Santrock . mengidentifikasi bahwa anak yang tumbuh dalam situasi tersebut sering mengalami masalah kesehatan mental yang buruk seperti kesedihan, kekhawatiran, dan rasa takut. Mereka juga menunjukkan inisiatif yang terbatas dan kompetensi komunikasi yang rendah dibandingkan dengan kelompok anak lainnya. Sejalan dengan itu. Baumrind mengargumentasikan bahwa implementasi pendekatan otoriter dapat membentuk anak menjadi individu dengan kecenderungan perfeksionisme, orientasi introvert, serta defisit kepercayaan diri (Shofuroh & Wulandari, 2. Baumrind mendeskripsikan bahwa orang tua dengan orientasi otoriter memiliki karakteristik mengontrol dan menerapkan sanksi secara konsisten, dengan ekspektasi bahwa anak harus mematuhi seluruh direktif yang ditetapkan. Paradigma pengasuhan ini juga mengonstruksi sistem regulasi yang rigid tanpa Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 membuka kesempatan bagi anak untuk berkontribusi dalam diskusi atau pengambilan keputusan. Baumrind mengatakan bahwa orang tua otoriter berkonsentrasi pada membimbing, mengelola, dan mengevaluasi perilaku anak, tetapi mereka tidak mempertimbangkan bagaimana perasaan anak secara emosional (Fauziyah et al. , 2. Beberapa indikator pengasuhan otoriter yang diidentifikasi Baumrind mencakup: frekuensi tinggi pemberian hukuman . ermasuk sanksi fisi. , kecenderungan bersikap direktif . emaksakan kehendak tanpa dialo. , penerapan disiplin keras, serta manifestasi emosi negatif dan sikap rejeksi. Sementara itu, perspektif Yamin dan Irwanto mengkarakterisasi pengasuhan otoriter melalui defisit komunikasi dua arah, dominasi parental yang kuat, prevalensi hukuman, implementasi aturan koersif, rigiditas perilaku, serta dampaknya berupa rendahnya inisiatif anak, inkonsistensi disiplin, keragu-raguan, dan vulnerabilitas terhadap kecemasan (Ilham, 2. Baumrind dalam (Tahira et al. , 2. mengungkapkan bahwa aplikasi strategi pengasuhan yang sangat restriktif dapat menghasilkan individu dengan karakteristik tertutup, defisit kepercayaan diri, serta tendensi perfeksionisme. Metode ini mengharuskan anak untuk mengikuti semua aturan yang ditetapkan oleh orang tua dan jika mereka melanggar aturan, akan diberikan hukuman fisik sebagai Santrock dalam (Tahira et al. , 2. menjelaskan bahwa pola pengasuhan otoriter dimanifestasikan melalui sikap parental yang tegas dan dapat memicu respons psikologis negatif seperti ketakutan, kecemasan, dan erosi kepercayaan diri pada anak. Cara orang tua membesarkan anak sangat mempengaruhi bagaimana anak tumbuh. Setiap orang tua memiliki cara berpikirnya sendiri tentang bagaimana merawat dan membantu anak mereka. Meskipun semua orang tua memiliki intensi positif untuk kesejahteraan anak, aspirasi tersebut membentuk pendekatan pengasuhan yang mereka adopsi. Secara ideal, orang tua seharusnya mengseleksi strategi pengasuhan yang tepat dengan menjadi role model positif dan memfasilitasi eksplorasi potensi serta minat anak (Bun et al. , 2. Rahmawati . menjelaskan bahwa teori Diana Baumrind mengidentifikasi tiga tipe utama gaya pengasuhan: otoriter, demokratis . uga disebut otoritati. , dan permisif. Gaya otoriter ditandai dengan aturan yang ketat, hukuman yang keras, dan komunikasi satu arah di mana orang tua berbicara kepada anak-anak tetapi tidak banyak mendengarkan. Penelitian Rahmawati . menunjukkan bahwa cara orang tua membesarkan anak memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan karakter. Anak yang tumbuh dalam lingkungan gaya demokratis lebih cenderung menjadi bertanggung jawab, mandiri, dan disiplin diri. Di sisi lain, pengasuhan otoriter dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial dan emosional anak karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbagi pikiran atau ikut serta dalam percakapan. Lebih lanjut. Rahmawati . juga menekankan bahwa praktik pengasuhan sangat dipengaruhi oleh konteks budaya lokal dan sistem nilai keluarga. Dengan demikian, budaya dan pengasuhan adalah dua entitas yang saling terkait dalam proses pembentukan karakter pada anak (Rahmawati, 2. Berdasarkan perspektif pendidikan Islam, pola pengasuhan Islami berfokus pada membesarkan anak dengan kasih sayang . , kebahagiaan . , dan akhlak yang mulia . khlaq karima. sejak usia dini. Orang tua disarankan untuk menjadikan rumah mereka tempat yang bahagia dan penuh perhatian dengan bermain, tertawa, dan bersikap hangat, karena kebahagiaan membantu anak merasa aman dan kesiapan anak menerima arahan pendidikan. Memberikan banyak kasih sayang dan perhatian kepada anak sangat penting untuk perkembangan emosional mereka. Hal ini membantu mereka merasa percaya diri dan belajar memahami serta peduli terhadap perasaan orang Pola pengasuhan Islami juga mengajarkan kebaikan dan perilaku lembut, seperti yang ditunjukkan oleh contoh Nabi Muhammad SAW. Hal ini juga disebutkan dalam Surah Ali 'Imran ayat 159, yang menyatakan bahwa bersikap kasar bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Pola asuh islami membantu anak tumbuh dengan mengajarkan mereka cara berperilaku dan mengembangkan akhlak Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 yang baik. Ini termasuk mengikuti aturan, mempelajari apa yang benar dan apa yang salah, mengelola perasaan mereka dengan cara yang sehat, dan menjalin persahabatan yang baik dengan orang lain, semuanya berdasarkan ajaran Islam (Amalia et al. , 2. Dalam perspektif pendidikan Islam. Pengasuhan anak usia dini bukan hanya tentang membuat anak berperilaku baik, tetapi juga tentang mengajarkan anak adab dan akhlak sejak dini. Imam alGhazali mengatakan bahwa akhlak adalah kondisi yang menetap dalam diri manusia dan secara alami tanpa memerlukan pertimbangan rasional yang panjang. Akhlak bukan sekadar perbuatan lahiriah atau pengetahuan moral, melainkan keadaan batin yang telah menyatu dalam diri seseorang. Menurut al-Ghazali, pengembangan karakter akhlak didasarkan pada keseimbangan empat aspek jiwa yang meliputi kemampuan untuk memperoleh pengetahuan atau hikmah, kemampuan untuk mengendalikan amarah sehingga melahirkan keberanian, kekuatan syahwat yang terkendali sehingga melahirkan kesederhanaan, serta keadilan sebagai penyeimbang seluruh potensi tersebut. Al-Ghazali membagi akhlak menjadi akhlak terpuji . , seperti sabar, syukur, ikhlas, jujur, dan tawakal, serta akhlak tercela . , seperti sombong, riyaAo, dengki, dan kikir. Akhlak dapat dibina dan diubah melalui proses pendidikan yang berkesinambungan melalui mujAhadah, riyAsah, dan pembiasaan amal saleh hingga nilai-nilai kebaikan tersebut melekat menjadi karakter. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, perspektif ini menyoroti hal seperti pembentukan karakter hendaknya dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan, bukan pemaksaan, karena akhlak yang sejati lahir dari kesadaran batin, bukan kepatuhan yang bersifat lahiriah (Laili & Sofa, 2. Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ta'dib adalah bentuk pendidikan Islam yang berfokus pada pengembangan adab yang merujuk pada kemampuan individu untuk mengenali perbedaan antara benar dan salah serta menjadi manusia yang beradab. Proses ini melibatkan pembelajaran moral dan spiritual yang mendalam yang bertujuan untuk membentuk karakter yang bertanggung jawab. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang memprioritaskan kepatuhan terhadap aturan dan disiplin eksternal, ta'dib mendorong pengembangan karakter dari dalam dengan membantu individu memahami dan menghayati nilai-nilai melalui pengalaman dan refleksi daripada sekadar mengikuti otoritas eksternal (Rachmadianti. Irma, 2. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya mengkaji penerapan pola pengasuhan otoriter dalam keluarga Muslim terhadap kanak-kanak masa awal serta dilihat melalui lensa pendidikan Islam. Masa dari lahir hingga usia enam tahun merupakan periode penting dalam kehidupan seorang anak, karena pada masa inilah karakter, nilai-nilai moral, serta keterampilan sosial dan emosional mereka Cara orang tua mendidik anak selama periode ini memainkan peran utama dalam membentuk kepribadian anak di masa depan. Dalam konteks keluarga Muslim perkotaan, khususnya di wilayah Jalan Seto Kecamatan Medan Area terdapat dinamika kehidupan yang khas, seperti aturan keluarga yang ketat, tuntutan prestasi akademik, serta keterbatasan waktu interaksi antara orang tua dan anak. Kondisi ini dapat menyebabkan orang tua menggunakan pendekatan otoriter dalam pengasuhan mereka. Gaya pengasuhan ini dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak dan juga memengaruhi proses pembentukan pembiasaan ibadah, pembentukan akhlak, dan pertumbuhan sosial-emosional yang merupakan tujuan utama Pendidikan Agama Islam Anak Usia Dini (PAUD). Meskipun banyak penelitian telah mengkaji pengasuhan otoriter dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak usia dini, sebagian besar berfokus pada faktor psikologis umum dan tidak terkait erat dengan konsep pendidikan Islam. Selain itu, penelitian tentang pengasuhan otoriter dalam keluarga Muslim yang tinggal di daerah perkotaan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pembentukan kebiasaan beribadah, pembentukan akhlak, dan perkembangan sosial-emosional pada anak usia dini yang selaras dengan nilai-nilai Islam masih kurang dieksplorasi. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini berupaya mengkaji peran pola pengasuhan otoriter dalam kerangka pendidikan anak Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 usia dini islami di daerah Jalan Seto Kecamatan Medan Area, sekaligus penelitian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan kajian PIAUD dan memberikan panduan berharga bagi orang tua dan pendidik PAUD dalam mengembangkan pendekatan pengasuhan yang lebih seimbang, humanis, dan berbasis nilai yang selaras dengan ajaran Islam. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk meneliti secara mendalam implementasi pola pengasuhan otoriter dalam keluarga Muslim dan pengaruhnya terhadap perkembangan karakter anak usia dini. Penelitian ini dilakukan di Jalan Seto. Kecamatan Medan Area, daerah perkotaan dengan mayoritas penduduk Muslim yang masih mempraktikkan nilainilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti pembiasaan ibadah, penerapan norma moral, dan peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama bagi anak. Penelitian ini melibatkan lima orang tua Muslim yang memiliki anak berusia antara 4 dan 6 tahun. Partisipan dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang berarti mereka dipilih berdasarkan kriteria spesifik yang selaras dengan fokus utama penelitian. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama pengumpulan dan interpretasi Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang bertujuan untuk memahami secara menyeluruh metode pengasuhan otoriter dan bagaimana metode tersebut memengaruhi praktik ibadah, perkembangan moral, serta perkembangan sosial dan emosionalislami anak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan interaktif yang melibatkan pengorganisasian informasi, penyajian yang jelas, dan pengambilan kesimpulan berdasarkan temuan. (Solihat et al. , 2. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan informasi dari orang tua dan tokoh masyarakat setempat, serta teknik member check yang mengonfirmasi ulang hasil wawancara kepada partisipan guna memastikan keakuratan dan meningkatkan kredibilitas temuan. Selain itu, teknik audit trail diimplementasikan secara sistematis untuk mendokumentasikan seluruh proses penelitian, dari pengumpulan data hingga analisis untuk memastikan transparansi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Menghukum Anak Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa dalam beberapa keluarga di Jalan Seto, orang tua masih menerapkan hukuman sebagai cara untuk menegakkan disiplin pada anak. Orang tua memberikan perintah secara langsung dan menuntut kepatuhan dari anak tanpa memberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau alasan. Ketika anak dianggap melanggar aturan, respon orang tua umumnya berupa kemarahan atau pemberian hukuman. Seperti yang disampaikan salah satu orang tua: AuJika anak saya susah diatur, sesekali saya sabar setelah itu saya akan marahi atau saya kasih hukumanAy Berdasarkan hasil observasi ketika orang tua memarahi atau memberikan hukuman, anak cenderung diam, menundukkan kepala, dan menjawab dengan suara pelan. Anak jarang mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat saat menerima perintah dari orang tua. Dalam beberapa situasi, anak terlihat menunggu arahan lanjutan sebelum melakukan suatu aktivitas. Tidak Menghargai Anak Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa beberapa orang tua jarang memberikan apresiasi terhadap perilaku positif anak. Ketika anak melakukan hal yang baik, respon orang tua cenderung berupa pujian singkat atau bahkan tidak memberikan respon sama sekali. Salah satu orang tua mengungkapkan: Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Ay Ya, bagusAy Pujian tidak disampaikan secara konsisten dan tidak disertai penjelasan mengenai perilaku positif yang telah dilakukan oleh anak. Orang tua lain juga menyampaikan: AuKalau anak saya bisa pakai baju sendiri atau merapikan mainan, ya itu hal yang biasa. Saya tidak perlu memuji, nanti anak saya jadi sombongAy Berdasarkan hasil observasi, anak terlihat ragu ketika diminta melakukan tugas secara mandiri dan sering menunggu arahan dari orang tua meskipun tugas tersebut sudah biasa dilakukan. Dalam beberapa kesempatan, anak tidak segera mengakui kesalahan yang dilakukan dan memilih diam ketika ditanya oleh orang tua. Tidak Mendengarkan Anak Hasil Observasi dan wawancara menunjukkan bahwa komunikasi antara orang tua dan anak biasanya bersifat satu arah. Orang tua cenderung memberikan arahan tanpa melibatkan anak dalam pengambilan keputusan atau mempertimbangkan pendapat mereka. Anak-anak jarang memiliki kesempatan untuk menyampaikan preferensi atau emosi mereka. Salah satu orang tua menyatakan: AuBiasanya saya cuma bilang apa yang harus dilakukan anak dan jarang nanya pendapat anak soal apapunAy Berdasarkan hasil observasi, anak tampak kesulitan menyampaikan pendapat dan lebih sering mengikuti keputusan orang tua tanpa memberikan tanggapan. Anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawab ketika diminta memilih kegiatan dan terlihat menunggu persetujuan orang tua sebelum bertindak. Ringkasan temuan hasil observasi dan wawancara disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Matriks Temuan Pola Pengasuhan Otoriter dan Perilaku Anak Kategori Perilaku Orang Temuan Perilaku Dampak pada Anak Tua Anak Menghukum Memberikan Anak saat Anak takut mengekspresikan diri. Anak dan dimarahi, ketika menundukkan kepala, kesabaran dan pemahaman fitrah anak tidak patuh. dengan kebebasan. Rasa takut kepada dan Allah tergeser oleh rasa takut arahan berlebihan pada manusia, serta sebelum bertindak. kejujuran diri. Tidak Jarang memberikan Anak ragu melakukan Mengurangi kepercayaan diri dan Menghargai terhadap tugas mandiri, kemandirian Anak perilaku positif anak. instruksi mengembangkan rasa syukur dan segera penghargaan terhadap kebaikan. mengakui kesalahan. Potensi ibadah dan akhlak mulia kurang optimal tumbuh, serta internalisasi nilai adab dan tanggung jawab terganggu. Tidak Tidak melibatkan Anak kesulitan Menurunkan rasa percaya diri Mendengarkan dalam menyampaikan dan kemandirian anak, sulit Anak waktu berpikir kritis dan mengambil memilih keputusan sendiri, menyebabkan jarak emosional dengan orang tua, serta menghambat kejujuran dan tanggung jawab, dapat membuat anak sulit memahami Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menginternalisasi nilai empati serta rasa khusyuk kepada Allah. Pembahasan Temuan mengenai praktik menghukum anak mendukung argumen yang dikemukakan oleh (Karennina & Ramlah, 2. yang menyatakan bahwa orang tua seringkali menerapkan aturan ketat pada anak dengan membatasi kebebasan mereka dan mengharapkan kepatuhan penuh terhadap semua instruksi. Orang tua bersikap tegas dalam menetapkan aturan-aturan ini. Jika anak tidak patuh, mereka dihukum atau didisiplinkan sebagai cara untuk mengajari mereka mengikuti aturan. Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa orang tua berusaha mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin dan tanggung jawab dengan mengawasi anak-anak mereka secara ketat, meskipun pendekatan yang mereka ambil biasanya ketat dan mengontrol. Menurut (Mil & Setia Ningsih, 2. orang tua yang memiliki pendekatan otoriter seringkali memberikan hukuman tanpa menjelaskan alasan di balik hukuman tersebut secara jelas dan rasional. Pendekatan pola asuh seperti ini dapat menyebabkan anak-anak kesulitan mengelola perilaku mereka, menunjukkan keengganan, dan kesulitan mengikuti arahan orang tua. Oleh karena itu, meskipun pola asuh memainkan peran penting dalam perkembangan anak, banyak orang tua masih menggunakan gaya pengasuhan yang ketat yang tidak banyak memberikan dukungan emosional dalam lingkungan keluarga (Karimah et al. , 2. Dari sudut pandang Islam fitrah mengacu pada potensi bawaan manusia yang meliputi kesadaran spiritual, kemampuan berpikir, dan kecenderungan alami untuk beribadah kepada Allah SWT. Gagasan ini ditemukaan dalam QS. Ar-Rum ayat 30 yang menyatakan bahwa manusia pada awalnya diciptakan dalam keadaan fitrah alami dan penting untuk mengembangkan dan memelihara keadaan ini melalui pendidikan yang sesuai. Fitrah tidak berkembang dengan sendirinya melainkan sangat dibentuk oleh pengalaman dan lingkungan pendidikan yang dialami anak sejak usia dini. Oleh karena itu, pendidikan yang salah atau tidak tepat dapat mencegah fitrah terwujud sepenuhnya. Dalam konteks ini, gaya pengasuhan otoriter yang melibatkan kontrol ketat, sedikit komunikasi, dan fokus pada kepatuhan tanpa pemahaman, dianggap sebagai bentuk pendidikan yang bertentangan dengan tujuan memupuk fitrah. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti itu belajar untuk patuh melalui paksaan daripada melalui pemahaman nilai-nilai. Akibatnya, pertumbuhan spiritual, moral, dan intelektual mereka tidak mencapai potensi penuhnya yang merupakan tujuan penciptaan manusia yang hanif (Rosita. Iskandar, 2. Temuan mengenai tidak menghargai anak sesuai dengan yang dikemukakan (Mil & Setia Ningsih, 2. yang mencatat bahwa orang tua seringkali percaya bahwa tindakan mereka selalu benar dan menolak menerima kritik dari siapa pun. Pola pikir ini menyebabkan orang tua mengabaikan pendapat anak yang mengakibatkan perasaan tidak adil, kurangnya pengakuan, dan kurangnya kesadaran akan kebutuhan emosional anak mereka. Membangun fondasi emosional yang kuat bagi anak-anak sangat penting karena hal itu secara signifikan memengaruhi perkembangan mereka di banyak aspek kehidupan. Ketika anak tidak menerima dukungan emosional yang cukup dari orang tua, guru, atau pengasuh lainnya, mereka mungkin menghadapi kesulitan dalam mengembangkan keterampilan emosional. Anak-anak tanpa dukungan ini seringkali kesulitan mengelola emosi mereka dan menjalin hubungan yang baik. Memiliki dasar emosional yang kuat sangat penting untuk pertumbuhan anak di banyak bidang seperti berpikir, berbicara, bergaul dengan orang lain, dan keterampilan fisik. Pola pengasuhan otoriter yang minim kehangatan emosional bertolak belakang dengan teladan Rasulullah SAW dalam mendidik anak. Pengasuhan anak dalam Islam berfokus pada metode Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 yang menghargai kebaikan, kesabaran, dan pemahaman akan kemampuan anak yang sedang Nabi Muhammad SAW menunjukkan bagaimana mendidik anak dengan cara yang lembut dan tidak kaku dan membimbing mereka secara perlahan untuk mempelajari tauhid, mengembangkan akhlak yang baik dan membangun hubungan yang membantu mereka memahami nilai-nilai agama. Ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak melibatkan lebih dari sekadar mengikuti aturan tetapi juga mencakup mendukung perkembangan nilai-nilai akhlak dan kesadaran anak yang dipupuk melalui rasa aman dan dihormati. Pengasuhan kasih sayang dicontohkan Rasulullah SAW menjadi fondasi penting dalam ajaran Islam, karena membantu anak tumbuh secara spiritual, emosional, dan moral secara optimal, tidak seperti metode yang menggunakan kekerasan atau terlalu banyak kontrol berlebihan (Mahfud et al. , 2. Studi Tahirah menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki dasar emosional yang kuat lebih mungkin untuk: . mengelola perasaan mereka dengan cara yang sehat, . membentuk hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar mereka, . mengatasi kesulitan, . berprestasi baik di sekolah dan dalam kehidupan, dan . merasa bahagia dan memiliki kesehatan mental yang baik (Tahirah dkk. , 2. Selain itu, penelitian oleh (Yulianti & Bulqis, 2. bahwa pola pengasuhan otoriter ditandai oleh orang tua yang kurang menghormati anak dan hanya menggunakan komunikasi satu arah. Anak-anak tidak diperbolehkan untuk menyampaikan pikiran atau pendapat mereka. Ketika anak tumbuh dalam lingkungan seperti itu, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya diri yang kuat. Hal ini karena perilaku apa pun yang menantang, memberontak, atau mempertanyakan aturan dipandang negatif oleh orang tua. Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengekspresikan diri, berpikir sendiri, dan mengendalikan hidup mereka sendiri. Pola pengasuhan otoriter berfokus pada kepatuhan yang ketat tanpa memberi anak kesempatan untuk berbagi pikiran atau menyuarakan pendapat. Akibatnya, anak sering kali mengikuti aturan bukan karena memahami alasan moral di baliknya, tetapi karena takut dihukum. Hal ini dapat menghambat anak dalam mengembangkan nilai-nilai akhlakul karimah seperti kejujuran, kebaikan, kesabaran, dan tanggung jawab karena anak tidak melihat hubungan antara apa yang dikatakan orang tua dan rasa benar atau salah mereka sendiri. Selain itu, tekanan yang terus menerus dan aturan yang ketat dapat menyebabkan perasaan negatif pada anak, seperti rendah diri, kecemasan, dan kesulitan mengekspresikan diri sehingga kemampuan mereka dalam menampilkan perilaku mulia secara proaktif juga terbatas. Oleh karena itu, meskipun pola asuh otoriter dapat meningkatkan disiplin dan kepatuhan secara eksternal, pembentukan akhlak yang tulus dan karakter Islami yang kuat memerlukan pendekatan yang lebih seimbang, yaitu melalui keteladanan orang tua, komunikasi efektif, dan penghargaan terhadap perilaku positif yang sesuai nilai moral Islam (Charysma, 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pengasuhan otoriter dalam keluarga Muslim di Medan Area ditandai dengan kontrol orang tua yang dominan, komunikasi satu arah, dan kurangnya penghargaan terhadap anak yang berdampak negatif pada perkembangan karakter anak usia dini. Dampak ini terlihat pada rendahnya kepercayaan diri, kemandirian, perkembangan sosial-emosional, dan internalisasi akhlakul karimah. Dari perspektif pendidikan Islam, gaya pengasuhan ini berpotensi menghambat perkembangan fitrah anak. Oleh karena itu, urgensi penerapan gaya pengasuhan demokratis sangat penting sebagai implementasi nilai-nilai Islam, karena menekankan kasih sayang, teladan, komunikasi dua arah, dan penghargaan terhadap inisiatif anak, sehingga mendukung perkembangan karakter Islami yang optimal. Temuan ini juga menekankan peran strategis guru pendidikan anak usia dini dalam memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua, termasuk memberikan bimbingan dan pendidikan tentang gaya pengasuhan Islami dan demokratis. Melalui Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kolaborasi ini, pengasuhan anak dapat diselaraskan antara rumah dan sekolah, sehingga mendukung perkembangan anak dengan karakter mulia, kemandirian, dan tanggung jawab. REFERENCES