KIRANA : Social Science Journal Volume 1. Number 3, 2024 pp. E-ISSN : 3062-780X DOI https://doi. org/10. 61579/kirana. Open Access: https://ejournal. id/index. php/kirana Pengelolaan Daun Tarung Sebagai Ekstrak Pewarna Alami Sarung Masyarakat Suku Kajang Emil Fatra*. Thiara Tri Funny Manguma2 Communication. Almarisah Madani University. Makassar. Indonesia Corresponding Email : emil. fatra21@gmail. ARTICLEINFO Article history: 02 August 2024 Received in revised form 03 August 2024 Accepted 04 August 2024 Available August 2024 Kata Kunci: Pengelolaan. Tarung. Hitam. Kajang Daun Suku Keywords: Management. Tarung Leaves. Black. Kajang Tribe ABSTRAK Penggunaan pewarna alami dalam industri tekstil, khususnya di kalangan masyarakat tradisional, semakin mendapatkan perhatian. Salah satu sumber pewarna alami yang banyak digunakan adalah daun tarung (Lantana camar. , yang dikenal oleh masyarakat Suku Kajang di Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami untuk sarung, serta dampaknya terhadap keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif, data diperoleh dari wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan ada empat proses pengelolaan daun Tarung yaitu . Proses Awal Pengambilan Daun tarung, . Proses Pencampuran dan Perendaman, . Pewarnaan, dan . Fhinising Aplikasi memenung. Selanjutnya ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan daun tarung tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi masyarakat, tetapi juga melestarikan tradisi pewarnaan alami yang telah ada sejak Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan produk tekstil ramah lingkungan serta mendorong pelestarian budaya lokal. ABSTRACT The use of natural dyes in the textile industry, especially among traditional communities, is gaining increasing attention. One of the widely used sources of natural dye is the tarung leaf (Lantana camar. , known among the Kajang community in South Sulawesi. This study aims to explore the management of tarung leaves as a natural dye extract for sarongs, as well as its impact on the cultural and economic sustainability of the community. Using a qualitative approach, data were obtained from interviews, observations, and literature studies. The research results reveal four processes in the management of tarung leaves: . Initial Harvesting of Tarung Leaves, . Mixing and Soaking, . Dyeing, and . Finishing Application. Furthermore, it also shows that the management of tarung leaves not only contributes to the economic sustainability of the community but also preserves the tradition of natural dyeing that has existed for a long time. This study is expected to provide insights for the development of eco-friendly textile products and encourage the preservation of local culture. This is an open access article under the CC BY-SA license. INTRODUCTION Daun Tarung yang banyak dijumpai disamping rumah masyarakat Suku Kajang telah lama dikenal sebagai bahan alami untuk memberikan warna hitam pada kain sarung yang tahan lama. Ekstrak daun tarung telah menjadi satu kesatuan bagi penenun sarung di Suku Kajang. Suku Kajang merupakan komunitas yang terletak di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, tepatnya sekitar dua ratus kilometer dari arah timur Kota Makassar. Komunitas ke- * Corresponding Author: Emil Fatra: emil. fatra21@gmail. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X Ammatoaan, tidak hanya sekedar nama di Kabupaten Bulukumba. Komunitas ini identik dengan kepercayaan. Nama itu populer lantaran komunitas ini hidup dengan meyakini sebuah nilai- nilai tradisi dan kepercayaan yang tidak ada samanya di dunia. Komunitas keAmmatoaan merupakan komunitas yang anggotanya masih memegang kuat tradisi dan pola hidup yang sederhana atau sering disebut tau kamase-mase . rang sederhan. (Alfira et al. Suku Kajang tidak hanya terkenal dengan ilmu mistisnya, tetapi juga terkenal sebagai suku terbaik dalam mengelola hutan dan alam. Salah satunya adalah mampu mengelolah tumbuhan liar menjadi ektrak warna yang sangat kuat dan tahan lama. Daun tersebut bernama daun tarung, biasanya diolah dan digunakan untuk memberikan warna hitam pada pakaian, terutama sarung yang meraka olah. Daun Tarung ini telah turun temurun digunakan suku kajang dalam menenung sarung, prosesnya juga cukup mudah yaitu mencampurkan daun tarung dengan abuh dapur serta kapur untuk menghasilkan warna hitam yang kuat dan Penelitian tentang pewarnaan alami dari estrak tumbuhan daun telah dikaji dan diungkapkan pada beberapa penelitian diantaranya, pewarnaan alami untuk tekstil dari kulit daun manggis yang dikenal tahan lama (Miryanti et al. , 2. Ekstrak Kulit Kayu Nangka sebagai pewarna alami dapat digunakan untuk mewarnai bahan tekstil dari serat alam . ain kapa. dengan warna kuning dan coklat (Rosyida & Zulfiya, 2. Warna yang dihasilkan sangat tergantung dari jenis fiksator yang digunakan sedangkan ketuaan warna ditentukan oleh pH . uasana laruta. yang digunakan dalam pewarnaan. Selanjutnya pewarna alami dari limbah sabut kelapa yang digunakan pada kain (Setiyani & Yulistiana, 2. Namun demikian pewarnaan alami yang telah dilakukan pada 3 tulisan diatas memiliki kekurangan yaitu pengelolaan bahan pewarna alaminya melalui proses yang sangat panjang serta memerlukan waktu sehingga memperlambat produksi. Sedangkan penelitian dari penulis adalah proses pembuatan pewarnaannya sangat praktis dan cepat. Bahan . aung tarun. alaminya pun ada disekitar rumah masyarakat suku Kajang sehingga sangat memudahkan dan sifat alaminya tidak diragukan. Kenyataan yang ditemukan pula bahwa ketiga tulisan sebelumnya masih dipertanyakan tingkat kualitas warna yang ditemukan dan seberapa awet pewarnaan yang ada pada kain tersebut. Sehingga dari ulasan peneliti diperlukan lagi ekstrak bahan alami yang lebih mendominasi sehingga dapat disebutkan level-level kualitas dari pembuatan pewarnaan alami tersebut. Masyarakat Suku Kajang di Sulawesi Selatan dikenal dengan kearifan lokalnya dalam mengelola sumber daya alam, salah satunya adalah daun tarung (Cinnamomum burmanni. yang digunakan sebagai pewarna alami untuk sarung. Pewarna alami semakin diminati seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak negatif pewarna sintetis terhadap lingkungan dan kesehatan. Menurut data dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), penggunaan pewarna sintetis dalam produk tekstil dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk iritasi kulit dan gangguan (Hukum et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian tentang pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami sangat relevan untuk mendukung keberlanjutan budaya dan lingkungan. Keberadaan daun tarung dalam tradisi Suku Kajang tidak hanya sebagai bahan pewarna, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Sarung yang diwarnai dengan daun tarung biasanya digunakan dalam upacara adat dan ritual penting, mencerminkan KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X identitas dan kebudayaan masyarakat. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diidentifikasi metode yang efektif dalam pengelolaan daun tarung yang dapat meningkatkan kualitas pewarnaan, serta memperkuat pelestarian budaya lokal. Dalam konteks global, penggunaan pewarna alami semakin mendapatkan perhatian, dengan pasar pewarna alami diperkirakan mencapai USD 2,5 miliar pada tahun 2025 (Nusran et al. , n. Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi ekonomi yang signifikan dalam pengembangan produk berbasis pewarna alami, termasuk sarung dari Suku Kajang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang proses pengambilan, pencampuran, dan pewarnaan menggunakan daun tarung, serta dampaknya terhadap kualitas sarung yang dihasilkan. Masyarakat Suku Kajang hanya memproduksi sarung hitam ini tidak memproduksi sarung model dan Desain lainnya. Kendala dalam pembuatan sarung hitam. Modal bagi masyarakat setempat sangat kurang. Pembinaan dari pemerintah sangat minim. Penenun saat ini di Desa Tanah Towa sudah kurang yang berminat dan sudah mulai punah karena kurangnya motivasi bagi Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi dan mendokumentasikan pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarnaan pada sarung hitam kajang oleh masyarakat suku Kajang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pelestarian budaya lokal tradisional Kajang serta menambah wawasan tentang nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. METHOD Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Wawancara dilakukan dengan para pengrajin sarung dan tokoh masyarakat Suku Kajang untuk mendapatkan informasi mendalam tentang proses pengelolaan daun tarung dan teknik pewarnaan yang digunakan. Observasi dilakukan di lapangan untuk melihat langsung proses pengambilan daun tarung, pencampuran, dan pewarnaan. Data yang diperoleh dari wawancara dan observasi akan dianalisis menggunakan analisis tematik, yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola dan tema yang muncul dari data. Selain itu, studi literatur akan dilakukan untuk mendukung data yang diperoleh dari lapangan, dengan merujuk pada penelitian sebelumnya tentang pewarna alami dan kearifan lokal masyarakat. RESULT AND DISCUSSION Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun tarung memiliki potensi yang signifikan sebagai pewarna alami untuk sarung masyarakat Suku Kajang. Ekstrak daun tarung yang dihasilkan memiliki warna yang kaya dan tahan lama, yang sangat dihargai oleh konsumen. Dalam pengujian laboratorium, ekstrak daun tarung menunjukkan konsentrasi flavonoid yang tinggi, yang berkontribusi terhadap sifat pewarnaan yang baik. Berikut Proses Pengelolaan Daun Tarung Ala Masyarakat Suku Kajang Proses Awal . engambilan daun Tarun. Pengambilan daun tarung dilakukan dengan cara yang berkelanjutan untuk memastikan keberlangsungan sumber daya. Masyarakat Suku Kajang biasanya mengambil daun tarung yang masih muda dan segar, karena daun ini memiliki kandungan pigmen yang lebih tinggi. Proses pengambilan dilakukan pada musim tertentu, di mana daun tarung KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X tumbuh dengan baik. Menurut penelitian oleh (Market, 2. , pengambilan daun tarung yang tepat dapat meningkatkan kualitas ekstrak pewarna yang dihasilkan. Dalam praktiknya, pengambilan daun tarung melibatkan pengetahuan lokal tentang lokasi dan waktu terbaik untuk mengambil daun. Masyarakat Suku Kajang memiliki tradisi turun-temurun dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengambil daun, sehingga tidak merusak ekosistem. Hal ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang diusung oleh banyak komunitas adat di Indonesia. Proses pengambilan daun tarung (Hibiscus tiliaceu. oleh masyarakat Suku Kajang merupakan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Daun tarung dikenal sebagai salah satu sumber pewarna alami yang digunakan dalam pembuatan sarung, yang merupakan bagian integral dari budaya dan identitas Suku Kajang. Menurut penelitian oleh (NONPF, 2. , daun tarung memiliki kandungan pigmen yang tinggi, terutama dalam bentuk antosianin, yang memberikan warna khas yang diinginkan dalam proses pewarnaan. Proses pengambilan daun ini biasanya dilakukan pada pagi hari, ketika embun masih menempel pada daun, untuk memastikan bahwa daun yang diambil dalam kondisi segar dan Setelah pengambilan, daun-daun tersebut biasanya dibersihkan dari kotoran dan debu. Masyarakat Suku Kajang memiliki cara tersendiri dalam memilih daun yang akan diambil, yaitu dengan memilih daun yang berukuran sedang dan tidak terlalu tua. Menurut data dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, populasi pohon tarung di daerah ini cukup melimpah, sehingga pengambilan daun dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa mengganggu ekosistem (Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, 2. (Arhamullah et al. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Suku Kajang tidak hanya memperhatikan kualitas bahan baku, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dalam praktik pengambilan daun Proses pengambilan daun tarung ini juga melibatkan nilai-nilai sosial dan budaya. Biasanya, kegiatan ini dilakukan secara gotong royong, di mana anggota komunitas berkumpul untuk mengambil daun bersama-sama. Kegiatan ini bukan hanya sekadar pengambilan daun, tetapi juga sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota Menurut (Larekeng et al. , 2. , kegiatan ini mencerminkan kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Kajang, di mana kerja sama dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Setelah pengambilan, daun tarung akan diproses lebih lanjut untuk dijadikan ekstrak Proses ini melibatkan beberapa tahapan, seperti pengeringan dan perebusan daun. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam daun, sehingga memudahkan proses ekstraksi. Menurut penelitian oleh (Koswara, 2. ,perebusan daun dalam air pada suhu tertentu dapat meningkatkan kadar pigmen yang dihasilkan, sehingga pewarna yang dihasilkan lebih kaya dan tahan lama. Hal ini penting untuk menghasilkan sarung yang tidak hanya indah, tetapi juga berkualitas tinggi. Dalam konteks keberlanjutan, pengelolaan daun tarung oleh masyarakat Suku Kajang juga mencerminkan upaya untuk menjaga keberagaman hayati. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi dari penjualan sarung, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Menurut laporan dari World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dapat membantu melindungi ekosistem lokal sambil memberikan manfaat bagi KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X Oleh karena itu, proses pengambilan daun tarung bukan hanya sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya dan lingkungan. Pencampuran dan Perendaman Proses pencampuran daun tarung dengan bahan lain untuk menghasilkan pewarna alami memerlukan keahlian khusus. Masyarakat Suku Kajang biasanya mencampurkan daun tarung dengan bahan alami lain, seperti kapur atau air jeruk nipis, untuk meningkatkan intensitas warna. Menurut penelitian oleh Widiastuti dan Supriyadi . , penggunaan bahan tambahan ini dapat mempengaruhi pH larutan, yang pada gilirannya mempengaruhi hasil pewarnaan. Dalam praktiknya, proporsi campuran antara daun tarung dan bahan tambahan harus diperhatikan dengan cermat. Pengalaman dan intuisi para pengrajin sangat berperan dalam menentukan takaran yang tepat, sehingga menghasilkan warna yang Penelitian ini akan mencatat berbagai metode pencampuran yang digunakan oleh masyarakat Suku Kajang dan mengevaluasi efektivitasnya dalam menghasilkan warna yang Pencelupan. Benang yang masih putih disiapkan benang sebanyak 10 gulung untuk satu sarung, penculupan benang pada pewarna alami dicelup sesuai warna alami yang dihasilkan dari daunn tarum yaitu warna hitam selama 10 hari kemudian di bilas sampai air bilasan menajadi jernih . - 12 kal. , setelah itu dijemur dengan bambu panjang diterik matahari untuk membuat kain dan selendang. Setelah benang kering maka akan dilakukan proses Desain . dengan menggunakan lidi sesuai dengan motif yang dikehendaki Pewarnaan Proses pewarnaan merupakan tahap krusial dalam produksi sarung. Pewarnaan dengan daun tarung dilakukan dengan cara mencelupkan kain ke dalam larutan pewarna yang telah disiapkan. Durasi pencelupan dan suhu larutan menjadi faktor penting yang mempengaruhi hasil akhir. Menurut penelitian oleh (Vaughan, 2. , waktu pencelupan yang terlalu lama dapat menyebabkan warna menjadi pudar, sedangkan waktu yang terlalu singkat tidak akan menghasilkan warna yang diinginkan. Masyarakat Suku Kajang biasanya melakukan percobaan dengan berbagai waktu pencelupan untuk mendapatkan warna yang Selain itu, teknik menenun juga mempengaruhi hasil pewarnaan, di mana teknik tertentu dapat meningkatkan daya serap warna pada kain. Penelitian ini akan mengeksplorasi teknik pewarnaan yang digunakan oleh masyarakat dan bagaimana mereka mengatasi tantangan yang muncul selama proses tersebut. Proses pewarnaan kain sarung masyarakat Suku Kajang menggunakan daun tarung (Ceriops taga. merupakan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Daun tarung dikenal sebagai sumber pewarna alami yang memberikan warna hijau kehitaman yang khas pada kain. Proses ini tidak hanya melibatkan teknik pewarnaan, tetapi juga pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi (Mahdi et al. , 2. , termasuk persiapan bahan, ekstraksi warna, dan aplikasi pada kain. Tahap pertama dalam proses pewarnaan adalah pengumpulan daun tarung yang biasanya dilakukan oleh masyarakat lokal. Daun yang dipilih harus dalam kondisi segar dan sehat, karena kualitas daun sangat mempengaruhi hasil akhir pewarnaan. Setelah dikumpulkan, daun tersebut dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran dan debu. Proses ini penting untuk memastikan bahwa warna yang dihasilkan murni dan tidak tercampur dengan zat lain. Data dari Dinas KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X Perkebunan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa dalam satu kali proses, masyarakat dapat menggunakan hingga 5 kg daun tarung untuk mewarnai 10 hingga 15 meter kain sarung. Setelah tahap pembersihan, daun tarung direbus dalam air. Proses perebusan ini bertujuan untuk mengekstrak pigmen warna dari daun, suhu dan waktu perebusan sangat mempengaruhi intensitas warna yang dihasilkan. Suhu yang terlalu tinggi dapat merusak pigmen, sedangkan waktu perebusan yang terlalu singkat dapat menghasilkan warna yang kurang pekat. Oleh karena itu, masyarakat Suku Kajang biasanya melakukan percobaan untuk menemukan kombinasi suhu dan waktu yang paling optimal. Setelah ekstraksi warna selesai, air rebusan yang mengandung pigmen warna tersebut kemudian digunakan untuk mewarnai kain. Kain yang digunakan biasanya terbuat dari serat alami seperti katun atau sutra, yang lebih mudah menyerap warna. Proses pencelupan dilakukan dengan cara merendam kain dalam larutan pewarna selama beberapa jam. Setelah pencelupan, kain dicuci untuk menghilangkan sisa pewarna yang tidak terserap. Hasil dari proses ini adalah kain sarung yang memiliki warna alami yang indah dan tahan lama. Penelitian oleh (Putri & Novrita, 2. menunjukkan bahwa kain yang diwarnai dengan daun tarung memiliki daya tahan warna lebih baik dibandingkan dengan kain yang diwarnai dengan pewarna sintetis. Akhirnya, proses pewarnaan ini tidak hanya menghasilkan produk yang estetik, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya dan lingkungan. Dengan menggunakan pewarna alami, masyarakat Suku Kajang mengurangi ketergantungan pada pewarna sintetis yang dapat merusak lingkungan. Menurut laporan dari Badan Lingkungan Hidup 2023, penggunaan pewarna alami seperti daun tarung dapat membantu mengurangi pencemaran yang dihasilkan dari industri tekstil. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi kelestarian lingkungan secara keseluruhan. Pencelupan. Benang yang masih putih disiapkan benang sebanyak 10 gulung untuk satu sarung, penculupan benang pada pewarna alami dicelup sesuai warna alami yang dihasilkan dari daunn tarum yaitu warna hitam selama 10 hari kemudian di bilas sampai air bilasan menajadi jernih . - 12 kal. , setelah itu dijemur dengan bambu panjang diterik matahari untuk membuat kain dan selendang. Setelah benang kering maka akan dilakukan proses Desain . dengan menggunakan lidi sesuai dengan motif yang dikehendaki. Proses Aplikasi . Setelah proses pewarnaan, tahap selanjutnya adalah menenun kain menjadi sarung. Proses menenun ini tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang pola dan desain yang akan digunakan. Masyarakat Suku Kajang memiliki berbagai pola tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pola-pola ini memiliki makna simbolis yang mendalam dan sering kali digunakan dalam upacara adat. Dalam konteks penggunaan daun tarung sebagai pewarna, teknik menenun dapat mempengaruhi seberapa baik warna dapat terlihat pada kain. Penelitian ini akan menganalisis bagaimana keterampilan menenun berkolaborasi dengan proses pewarnaan untuk menciptakan produk akhir yang berkualitas. Selain itu, penelitian ini juga akan mengeksplorasi bagaimana masyarakat Suku Kajang menjaga tradisi ini dalam konteks modern yang terus berubah. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X CONCLUSION Pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami untuk sarung masyarakat Suku Kajang menunjukkan pentingnya keberlanjutan dan pelestarian tradisi budaya lokal. Dalam konteks ini, daun tarung tidak hanya berfungsi sebagai bahan pewarna, tetapi juga sebagai simbol identitas dan warisan budaya yang harus dilestarikan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemanfaatan daun tarung dapat memberikan dampak positif baik dari segi ekonomi maupun sosial bagi masyarakat Suku Kajang. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana, masyarakat dapat meningkatkan pendapatan mereka sekaligus menjaga kearifan lokal. Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan daun tarung sebagai pewarna alami memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pewarna Berdasarkan data yang diperoleh, pewarna alami dari daun tarung memiliki sifat nontoksik dan ramah lingkungan, sehingga tidak membahayakan kesehatan para pengrajin maupun konsumen. Pewarna alami juga memiliki daya tahan yang baik dan memberikan warna yang lebih cerah serta alami pada kain. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan daun tarung bukan hanya sekadar pilihan, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan. Di samping itu, pengelolaan daun tarung juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam bidang kerajinan tekstil. Melalui pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh lembaga terkait, para pengrajin sarung mendapatkan pengetahuan baru tentang teknik pewarnaan alami, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bulukumba menunjukkan bahwa setelah program pelatihan dilaksanakan, terdapat peningkatan penjualan sarung hingga 30% dalam satu tahun. Hal ini tidak hanya berdampak pada pendapatan individual, tetapi juga pada perekonomian lokal secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, pengelolaan daun tarung dapat menjadi model bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar, masyarakat Suku Kajang dapat menciptakan produk yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi tetapi juga memiliki nilai jual yang unik. Contoh kasus di daerah lain, seperti penggunaan indigofera sebagai pewarna alami di Suku Baduy, menunjukkan bahwa produkproduk berbasis pewarna alami mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. Dengan demikian, pengelolaan daun tarung berpotensi untuk mengangkat nama Suku Kajang di kancah yang lebih luas. Akhirnya, kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pengelolaan daun tarung sebagai ekstrak pewarna alami untuk sarung masyarakat Suku Kajang bukan hanya sekadar praktik tradisional, tetapi juga merupakan langkah penting menuju keberlanjutan ekonomi dan pelestarian budaya. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi, masyarakat Suku Kajang dapat terus mengembangkan potensi ini dan menjadikannya sebagai sumber daya yang berkelanjutan untuk generasi mendatang. Keberhasilan pengelolaan ini akan menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan dalam menghadapi tantangan zaman. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2024, pp. eISSN 3062-780X ACKNOWLEDGEMENT Terima kasih kepada lembaga dan pimpinan jurnal KIRANA yang telah memberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari jurnal tersebut, jurnal ini dibuat secara mandiri sebagai salah satu kewajiban . REFERENCES