Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 412-419 Hepatoprotective potential of Euphorbia heterophylla L. leaf extract in reducing bilirubin levels in Wistar rats induced with INH and rifampicin Potensi hepatoprotektif ekstrak daun Euphorbia heterophylla L. dalam menurunkan kadar bilirubin pada tikus Wistar yang diinduksi INH dan rifampisin Khamdiyah Indah Kurniasih a*. Fauziah a. Uki Septi Ratna b a Prodi Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Harapan Bangsa. Purwokerto. Indonesia. b Universitas Setia Budi. Surakarta. Indonesia. *Corresponding Authors: Khamdiyah@uhb. Abstract Hepatitis is a liver damage disorder characterized by inflammation caused by various factors, one of which is medication Liver damage due to medication, or drug-induced liver injury (DILI), has a relatively high prevalence. Isoniazid (INH) Rifampicin is a combination of drugs that poses a risk of DILI by causing liver damage. One parameter for assessing liver damage is the measurement of total serum bilirubin levels. Katemas herb (Euphorbia heterophylla L) is a plant known to contain flavonoids, tannins, and saponins with potent antioxidant properties. The high incidence of liver damage due to drug-induced liver injury (DILI) necessitates the exploration of alternative therapies to manage liver Katemas is a wild grass that grows abundantly but remains underutilized. This study aims to evaluate the hepatoprotective activity of katemas herb leaves. The method used in this research involves maceration to obtain extracts, with 96% ethanol as the solvent. Testing was conducted on five groups of rats, with total serum bilirubin levels measured across all groups. All groups were induced using INH and RMP. The results showed that Groups i and IV, the dose variation groups, exhibited hepatoprotective activity. Group V, which received the highest dose of 200 mg/kg BW, demonstrated the most significant reduction in total bilirubin levels, with the largest mean decrease (-0. and a slight standard deviation (A0. Keywords: Bilirubin. Hepatitis. Katemas. Hepatoprotective Abstrak Hepatitis adalah gangguan kerusakan hati yang ditandai dengan peradangan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah penggunaan obat. Kerusakan hati akibat penggunaan obat, atau drug-induced liver injury (DILI), memiliki prevalensi yang relatif tinggi. Isoniazid (INH) dan Rifampisin merupakan kombinasi obat yang berisiko menyebabkan DILI dengan memicu kerusakan hati. Salah satu parameter untuk menilai kerusakan hati adalah pengukuran kadar bilirubin serum total. Tanaman katemas (Euphorbia heterophylla ) diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang memiliki sifat antioksidan kuat. Tingginya insiden kerusakan hati akibat DILI mendorong perlunya eksplorasi terapi alternatif dalam mengatasi gangguan hati. Katemas merupakan tanaman liar yang tumbuh melimpah, tetapi masih kurang Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas hepatoprotektif ekstrak daun katemas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah maserasi untuk memperoleh ekstrak dengan pelarut etanol 96%. Pengujian dilakukan pada lima kelompok tikus dengan pengukuran kadar bilirubin serum total di semua kelompok. Semua kelompok diinduksi menggunakan INH dan RMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok i dan IV, yang merupakan kelompok variasi dosis, menunjukkan aktivitas Kelompok V, yang menerima dosis tertinggi sebesar 200 mg/kg BB, menunjukkan penurunan kadar bilirubin total paling signifikan dengan rata-rata penurunan terbesar (-0,. dan standar deviasi yang kecil (A0,. Kata Kunci: Bilirubin. Hepatitis. Katemas. Hepatoprotektif. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NCSA 4. License Article History: Received:10/08/2024. Revised: 21/01/2025 Accepted: 22/01/2025 Available Online: 02/01/2025 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Hepatitis merupakan suatu gangguan kerusakan hati yang ditandai dengan adanya peradangan yang disebabkan oleh berbagai factor, salah satunya adalah penggunaan obat . Gangguan hati akibat penggunaan obat obatan atau drug-induced liver injury (DILI) memiliki prevalensi yang cukup tinggi. DILI menempati urutan ke Jumlah korban jiwa akibat DILI mencapai lebih dari 50% dari seluruh kasus keruskan hati . Di AS dan seluruh dunia, kejadian tahunan DILI pada populasi umum berada di bawah 15-20 per 000 populasi . Ae. Insiden global kasar DILI di perancis adalah 13,9 kasus / 100. 000 populasi . Antibiotik Isoniazid (INH) dan Rifampisin (RMP) terbukti dapat menyebabkan gangguan kerusakan hati . INH dan RMP merupakan kombinasi obat yang sering digunakan dalam pengobatan tuberculosis ( TBC). Penyebab kerusakan hati akibat isoniazid diyakini adalah akumulasi zat antara toksik dalam Asetilhidrazin (AcH. , hidrazin (H. , dan asetilisoniazid (AcINH) adalah metabolit utama INH. Studi mengenai hepatotoksisitas INH pada tikus menunjukkan bahwa AcINH dan AcHz dapat menyebabkan nekrosis hati. namun pengobatan dengan INH secara langsung bahkan pada dosis tinggi dan jangka panjang tidak menyebabkan toksisitas . Ae. RFP menginduksi ekspresi CYP3A4 melalui aktivasi PXR, dan CYP3A4 mendeasetilasi RFP . Berbeda dengan INH, metabolit RFP sebagian besar dianggap tidak beracun. Namun, dengan adanya INH. RFP menyumbangkan gugus asetil ke INH. INH yang diasilasi mengalami percepatan metabolisme menjadi AcHz . , dan dengan demikian. RFP secara signifikan meningkatkan kerusakan hati yang disebabkan oleh INH. Salah satu parameter kerusakan hati adalah tingginya kadar bilirubin dari batas normal. Nilai normlah bilirubin adalah 0,1-1,2 . Bilirubin total. Bilirubin adalah suatu pigmen yang terdiri dari senyawa tetrapirol yang larut dalam lemak yang berasal dari pemecahan enzimatik dari gugus heme dari berbagai hemoprotein yang berasal dari seluruh tubuh . sumber utama dari bilirubin adalah dari pemecahan hemoglobin dari pembentukan sel darah merah yang tidak sempurna . naffective eryropoesi. dalam sumsum tulang . Katemas (Euphorbia heteropilla L. ) merupakan tanaman yang mengandung flavonoid, tanin dan saponin. Katemas terbukti memiliki kandungan total fenolik dan flavonoid ekstrak yang tinggi mempengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak yang tergolong sangat kuat . Flavonoid diketahui memiliki sifat antioksidan, sifat antioksidan tersebut yang mungkin berperan sebagai hepatoprotektor dan berkaitan dengan peningkatan kadar glutation hati . Ae. Penelitian ini penting dilakukan karena hepatitis akibat penggunaan obat merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hati, dengan risiko yang meningkat pada penggunaan kombinasi isoniazid (INH) dan rifampisin (RMP). Efek hepatotoksik dari obat-obatan ini dapat memicu peningkatan kadar bilirubin, yang menjadi indikator gangguan fungsi hati. Saat ini, alternatif terapi yang efektif dan aman masih terbatas, sehingga diperlukan eksplorasi bahan alami dengan potensi hepatoprotektif. Katemas (Euphorbia heterophylla L. ) diketahui memiliki kandungan antioksidan yang dapat membantu melindungi hati dari Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak daun katemas sebagai agen hepatoprotektif dalam mengatasi dampak negatif INH dan RMP terhadap fungsi hati. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk mengevaluasi efek hepatoprotektif ekstrak daun katemas. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Untuk menguji efek tersebut, digunakan tikus putih galur Wistar sebagai hewan uji, dengan total 30 ekor yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok perlakuan. Seluruh tikus terlebih dahulu diinduksi dengan isoniazid (INH) dan rifampisin (RMP) untuk memicu kerusakan hati. Kelompok I berfungsi sebagai kontrol negatif yang hanya diberikan INH dan RMP tanpa perlakuan tambahan, sedangkan Kelompok II sebagai kontrol positif menerima kurkuma dengan dosis 3,6 mg/200 g BB. Sementara itu. Kelompok i. IV, dan V diberikan ekstrak daun katemas dengan dosis bertingkat, yaitu 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB. Penelitian ini berlangsung selama 27 hari, dengan pengukuran kadar bilirubin total dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-28 untuk menilai tingkat kerusakan hati. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA dua arah (Two-Way ANOVA) untuk menentukan signifikansi perbedaan antar kelompok perlakuan . Ae. Metode pemeriksaan bilirubin total secara fotometrik dengan menggunakan serum bilirubin total. bilirubin total 1000 l yang diinkubasi selama 5 menit terlebih dahulu kemudian ditambahkan sample serum sebessar 100 l kemudian diinkumasi selama 10-30 menit. Serum didapat dari darah yang diambil melalui vena mata dan kemudian disentrufuge selama 5 menit agar terpisah dari plasma. Kemudian dilakukan pengukuran fotometer dengan Panjang gelombang 546 nm . Ae. Hasil Dan Pembahasan Hasil penelitian ini diawali dengan sortasi daun herba katemas , kemudian dilakukan perajangan, pengeringan serta proses penghalusan dengan menggunakan blander, dan selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1: 10. Ekstrak yang digunakan adalah sebanyak 250 gr dan pelarut yang digunakan adalah 2,5 Setelah didapat ektrak kental maka proses selanjutnya adalah perlakuan kehewan uji selama 27 hari. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 ( INH Rifampisi. , kelompok II ( INH Rifampisisn Curcumi. Kelompok i ( INH Rifampisin Ekstrak 50. Kelompok IV( INH Rifampisin Ekstrak 100. Kelompok V (INH Rifampisin Ekstrak 200. Sebelum diberikan perlakuan, sampel darah diambil dari masing-masing kelompok tikus melalui vena retro-orbital menggunakan metode kapiler hematokrit. Pengambilan darah ini dilakukan untuk memperoleh data awal . re-tes. yang akan menjadi dasar perbandingan terhadap data setelah perlakuan. Setelah 28 hari perlakuan, pengambilan darah dilakukan kembali melalui vena retro-orbital untuk mendapatkan data akhir . ost-tes. Penggunaan vena retro-orbital sebagai metode pengambilan darah pada tikus merupakan teknik yang umum digunakan dalam penelitian biomedis karena memungkinkan pengambilan sampel dengan volume yang cukup untuk analisis laboratorium serta memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi jika dilakukan dengan teknik yang tepat . Namun, metode ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk mengurangi risiko cedera atau stres pada hewan uji . Hasil dari analisis darah sebelum dan sesudah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1. Data pre-test dan post-test tersebut mencerminkan perubahan parameter hematologis dan biokimia darah yang dapat memberikan gambaran mengenai efek perlakuan yang diberikan terhadap kondisi fisiologis tikus. Analisis data pre-test bertujuan untuk memastikan bahwa kondisi awal semua kelompok perlakuan berada dalam keadaan yang sebanding, sehingga perbedaan yang diamati pada post-test dapat dikaitkan dengan perlakuan yang diberikan. Setelah 28 hari perlakuan, analisis post-test dilakukan untuk menilai perubahan yang terjadi, baik peningkatan maupun penurunan parameter yang diukur. Parameter hematologis seperti jumlah sel darah merah . , sel darah putih . , kadar hemoglobin, serta hematokrit dianalisis untuk mengamati respons imun dan kesehatan sistem peredaran darah tikus uji. Selain itu, analisis biokimia darah seperti kadar glukosa, kolesterol, trigliserida, serta enzim hati (SGOT dan SGPT) dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai efek metabolik perlakuan. Perubahan signifikan pada parameter ini dapat mengindikasikan adanya efek farmakologis, toksikologis, atau terapeutik dari perlakuan yang diberikan . Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa kelompok I yang meupakan kelompok kontrol negativ dengan perlakuan INH Rifampisin memiliki peningkatan kadar bilirubin yang signifikan (Mean A SD = 0. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. A 0. , menunjukkan potensi hepatotoksik yang tinggi karena adanya peningkatan bilirubin setelah Kelompok II yang merupakan kelompok control positif dengan perlakuan curcumin INH Rifampisin menunjukan hasil penurunan kadar bilirubin total yang signifikan (Mean A SD = -0. 238 A 0. Kelompok II hingga Kelompok V merupakan kelompok dengan perlakuan pemberian ekstrak daun katemas dengan variasi dosis INH Rifampisin juga menunjukkan penurunan kadar bilirubin, dengan Kelompok V yang merupakan variasi dosis ekstrak daun katemas 200 mg/200g memiliki nilai mean penurunan terbesar . dan standar deviasi yang kecil (A0. , menunjukkan hasil yang paling stabil dan konsisten. Penggunaan INH dan Rifampisin terbukti dapat meningkatkan serum bilirubin total. Penelitian lain menyebutkan Penggunaan awal rifampisisn dapat meningkatkan kadar bilirubin total namun akan mengalami penurunan Kembali selama beberapa hari. INH adalah hidrazida yang mudah teroksidasi (Imir et ,2. Acetylhydrazine (AcH. , hydrazine (H. , dan acetylisoniazid (AcINH) adalah metabolit utama INH. 7 Jalur utama metabolisme INH meliputi: . Asetilasi membentuk AcINH melalui N -acetyltransferase (NAT) 2. Hidrolisis untuk menghasilkan asam isonikotinik (INA) dan Hz melalui amidase. AcINH juga dapat dihidrolisis untuk membentuk INA dan AcHz. Selain itu. Hz dapat diasetilasi menjadi AcHz dan diacetylhydrazine (DiAcH. Hz dan AcHz dianggap teroksidasi lebih lanjut menjadi metabolit reaktif dan terlibat dalam hepatotoksisitas INH . ,10,35Ae. Rifampisin penginduksi CYP450. Di dalam hepar. CYP450 berada di retikulum endoplasma halus dan CYP450 berperan sebagai biokatalis dalam reaksi hidroksilasi metabolisme xenobiotik . ahan asing yang masuk dalam tubu. Pada reaksi hidroksilasi, 1 atom oksigen (O. akan membentuk molekul air dan 1 atom lainnya masuk ke xenobiotik dan membentuk xenobiotik yang lebih polar. Apabila terlalu banyak xenobiotik yang masuk, maka akan semakin tinggi penggunaan O2 untuk menghasilkan ATP. Sehingga terjadi pemakaian cepat O2 . espiratory burs. yang dapat menyebabkan pembengkakan hati karena sifatnya yang pro inflamasi . Tabel 1. Perubahan kadar bilirubin Kelompok i Pre- test . g/dL Post- Test g/dL) Selisih Mean SD 1,01 0,55 0,51 0,73 0,96 -0,44 -0,19 -0,17 -0,18 -0,21 -0,07 -0,13 -0,20 -0,05 -0,09 -0,30 -0,15 -0,10 -0,21 -0,07 -0,19 0,28 -0,27 -0,17 -0,22 752 A 0. 238 A 0. 108 A 0. 166 A 0. 226 A 0. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Gambar 1. Grafik perubahan kadar Bilirubin total Dua senyawa dari Euphorbia heterophylla yang mungkin sangat berperan dalam aktivitas hepatoprotektor adalah flavonoid dan saponin. Flavonoid dan saponin merupakan senyawa bioaktif yang banyak ditemukan dalam tumbuhan, termasuk Euphorbia heterophylla. Kedua senyawa ini telah dilaporkan memiliki aktivitas hepatoprotektor, yaitu kemampuan untuk melindungi hati dari kerusakan akibat paparan zat toksik atau stres oksidatif. Flavonoid, sebagai senyawa polifenolik, berperan sebagai antioksidan kuat karena mengandung gugus hidroksil (OH) yang mampu mendonorkan atom hidrogen untuk menetralisir radikal bebas. Mekanisme ini mencegah kerusakan sel hati yang disebabkan oleh stres oksidatif, seperti yang dijelaskan dalam penelitian terbaru oleh Zhang et al. Selain itu, flavonoid juga mampu menghambat peroksidasi lipid, yang merupakan indikator kerusakan oksidatif pada membran sel hati. Hal ini didukung oleh studi yang menunjukkan bahwa flavonoid meningkatkan aktivitas enzim detoksifikasi seperti glutation-S-transferase (GST), sehingga membantu mengurangi akumulasi metabolit toksik dalam hati . Selain itu flavonoid, yang mengandung gugus fenolik, berperan sebagai penangkap radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen, sehingga mereduksi radikal bebas menjadi bentuk yang lebih stabil. Mekanisme ini memungkinkan flavonoid mengikat radikal bebas atau metabolit toksik obat secara langsung, sehingga menghambat kerusakan hati. Saponin, di sisi lain, memiliki kemampuan membentuk spesies reaktif seperti superoksida dan hidroperoksida sebagai antioksidan, yang dapat menghambat pembentukan lipid peroksida . Saponin, di sisi lain, merupakan senyawa glikosida yang juga memiliki aktivitas hepatoprotektor. Saponin bekerja dengan membentuk spesies reaktif seperti superoksida dan hidroperoksida, yang berfungsi sebagai antioksidan untuk mengurangi stres oksidatif. Studi oleh Huang. Zhang. Zheng. He. Huang. , & Lin. menunjukkan bahwa saponin mampu menghambat pembentukan lipid peroksida, yang merupakan produk dari kerusakan oksidatif pada sel hati . Selain itu, saponin juga diketahui dapat menstabilkan membran sel hati, mencegah kebocoran enzim hati seperti ALT dan AST ke dalam aliran darah, yang merupakan tanda kerusakan hati . Kombinasi dari kedua mekanisme ini membuat saponin efektif dalam melindungi hati dari kerusakan. Dalam penelitian lain yang mempelajari efek saponin yang berasal dari tanaman akar kuning (Arcangelisia flava (L. ) Mer. mengungkapkan bahwa senyawa ini mampu menekan peningkatan aktivitas enzim hati, seperti aspartat aminotransferase (AST) dan alanin aminotransferase (ALT), pada tikus yang telah diinduksi dengan parasetamol. Temuan ini mengindikasikan bahwa saponin berpotensi sebagai agen hepatoprotektif melalui mekanisme antioksidan . Efek hepatoprotektif dari saponin berkaitan dengan kemampuannya dalam menghasilkan spesies reaktif, seperti superoksida dan hidroperoksida, yang berperan sebagai antioksidan. Dengan mekanisme ini, saponin dapat menghambat pembentukan lipid peroksida, yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hati . Berdasarkan data pada Tabel 1, terlihat bahwa kelompok yang diberi perlakuan dengan ekstrak Euphorbia heterophylla . elompok II, i. IV, dan V) menunjukkan penurunan kadar bilirubin total setelah perlakuan . ost-tes. dibandingkan dengan sebelum perlakuan . re-tes. Penurunan ini mengindikasikan perbaikan fungsi hati, yang mungkin disebabkan oleh aktivitas antioksidan dari flavonoid dan saponin. Sebaliknya, kelompok kontrol . elompok I) menunjukkan peningkatan kadar bilirubin, yang mengindikasikan kerusakan hati. Grafik 1 juga memperkuat temuan ini dengan menunjukkan penurunan kadar bilirubin yang signifikan pada kelompok yang diberi ekstrak Euphorbia heterophylla. Hasil ini konsisten Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa senyawa flavonoid dan saponin dapat melindungi hati melalui mekanisme antioksidan dan stabilisasi membran sel . Ae41,. Penelitian lain menunjukkan bahwa ekstrak etanolik herba kate mas (Euphorbia heterophylla L. memiliki efek hepatoprotektif dengan menurunkan kadar bilirubin serum pada tikus putih galur Wistar yang diinduksi dengan isoniazid dan rifampisin. Ekstrak ini mengandung flavonoid yang berperan sebagai antioksidan, sehingga dapat melindungi hati dari kerusakan yang disebabkan oleh obat-obatan hepatotoksik. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian isoniazid (INH) dan rifampisin (RMP) secara signifikan meningkatkan kadar bilirubin total, menandakan adanya efek hepatotoksik. Sebaliknya, kelompok yang menerima ekstrak daun katemas dengan berbagai dosis mengalami penurunan kadar bilirubin, dengan efek hepatoprotektif paling optimal pada kelompok yang diberikan dosis 200 mg/kg BB. Efek perlindungan ini diduga berasal dari kandungan flavonoid dan saponin yang berperan sebagai antioksidan, mampu menangkal radikal bebas, serta menghambat peroksidasi lipid. Selain itu, kelompok dengan dosis ekstrak tertinggi (Kelompok V) menunjukkan efektivitas paling tinggi dalam menurunkan kadar bilirubin total, dengan hasil yang sebanding dengan kelompok kontrol positif (Kelompok II) yang menerima kurkumin, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai rata-rata A SD sebesar -0. 226 A 0. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekstrak daun katemas memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen hepatoprotektif dalam mencegah kerusakan hati akibat penggunaan obat yang bersifat hepatotoksik. Conflict of Interest Para penulis menegaskan bahwa penelitian ini tidak memiliki konflik kepentingan. Seluruh proses penelitian dan penulisan artikel dilakukan secara mandiri tanpa intervensi dari pihak eksternal, serta tanpa adanya kepentingan pribadi, finansial, atau profesional yang dapat memengaruhi objektivitas dan integritas Acknowledgment Peneliti menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini, terutama kepada Universitas Harapan Bangsa. Supplementary Materials Referensi