Kinesik, 12. , 2025, pp. 19 Ae 29, 1883 eISSN 2302-2035 | pISSN 3047-9614 Journal homepage https://jurnal. id/index. php/kinesik/index The Influence of AuFoMOAy on Fashion Behavior in Generation Z Through the Social Media Platform TikTok: Followers of @Sasfhir Pengaruh AuFoMOAy Terhadap Perilaku Berbusana pada Generasi Z Melalui Platform Media Sosial TikTok: Followers @Sasfhir Yusuf Maulana1. Nisa Marsellida Lubis1. Rizky Wulan Ramadhani1*. Sri Wahyuni1 Universitas Gunadarma. Depok. Indonesia Keywords FoMO. Z Generation. Social media. Fashion trends ABSTRACT Social media plays a central role in shaping the preferences and behaviors of Generation Z, including in the realm of fashion. The TikTok account @sashfir has emerged as a popular source of inspiration among this demographic, particularly in presenting fashion-related content. This study aims to examine the influence of Fear of Missing Out (FoMO) on the fashion behavior of Generation Z followers of the account. quantitative approach was employed, using a survey method with 100 respondents selected through the Taro Yamane formula. Data were analyzed using simple linear regression. The results show that FoMO has a positive and significant effect on the fashion behavior of @sashfir's followers. The higher the level of FoMO experienced, the greater the tendency to follow fashion trends featured on the account. These findings highlight the relevance of the Uses and Effects theory in explaining the relationship between social media use and behavioral changes among young audiences, particularly in the context of fashion consumption. Kata Kunci ABSTRAK FoMO. Generasi Z. Media sosal. Tren fesyen Media sosial memainkan peran sentral dalam membentuk preferensi dan perilaku Generasi Z, termasuk dalam hal fesyen. Akun TikTok @sashfir menjadi salah satu sumber inspirasi populer di kalangan generasi ini, khususnya terkait gaya berbusana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilaku berbusana Generasi Z yang mengikuti akun tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif melalui survei terhadap 100 responden, yang dipilih menggunakan rumus Taro Yamane. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berbusana pengikut @sashfir. Semakin tinggi tingkat FoMO yang dirasakan, semakin besar kecenderungan untuk mengikuti tren fesyen yang ditampilkan. Temuan ini memperkuat relevansi teori Uses and Effects dalam menjelaskan keterkaitan antara penggunaan media sosial dan perubahan perilaku generasi muda, khususnya dalam konteks konsumsi konten fesyen. Pendahuluan Berdasarkan data dari We Are Social, 212,9 juta penduduk Indonesia telah aktif mengakses internet untuk berbagai macam hal, utamanya media sosial (Suliyana et al. Corresponding author Rizky Wulan Ramadhani. Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Gunadarma. Depok. Jawa Barat. Indonesia, 16424. Email: rizkywulan@staff. https://doi. org/10. 22487/ejk. Received 27 March 2025. Received in revised form 14 May 2025. Accepted 28 May 2025 Published 10 June 2025. Available online 23 June 2025 2302-2035 | 3047-9614 / A 2025 The Authors. Managed by the Department of Communication Studies. Faculty of Social and Political Sciences. Tadulako University. Published by Tadulako University. This is an open access article under the CC BY-NC-ND license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-nc-nd/4. 0/). Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 Salah satu media yang paling banyak digunakan adalah media sosial terutama TikTok yang dimiliki oleh perusahaan ByteDance yang akhinya menjadi salah satu platform jejaring sosial yang digemari khususnya di kalangan Generasi Z (Gen-Z) yang tumbuh besar dan dependen dengan teknologi digital, internet, dan media sosial (Firamadhina & Krisnani, 2. Dengan total pengguna mencapai 99,1 juta pada tahun 2023. Indonesia menjadi negara dengan pengguna TikTok terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (Nagari et al. , 2. TikTok menawarkan berbagai fitur unik yang memungkinkan pengguna untuk membuat, berbagi, dan mengonsumsi konten video pendek dengan cepat (Aurelia, 2. Selain itu. TikTok juga memungkinkan penggunanya untuk berbelanja melalui fitur TikTok Shop. Pengguna dapat membeli barang secara langsung dalam aplikasi TikTok Shop tanpa membuka browser atau mengunjungi toko online terpisah (Saragih et al. , 2. sehingga memudahkan pengguna untuk berbelanja. Berdasarkan data dari explodingtopics, pengguna TikTok terbanyak pada tahun 2022 dan 2024 adalah pengguna dengan kelompok usia 18 Ae 24 tahun dan 25 Ae 34 tahun. TikTok menjadi aplikasi yang banyak digunakan terutama oleh Generasi Z (Firamadhina & Krisnani, 2. Istilah AuGenerasi ZAy merujuk pada kelompok orang yang lahir antara tahun 1995 hingga 2012 yang tumbuh dengan akses terhadap internet dan teknologi digital sehingga terbiasa menggunakan Ausolusi cerdasAy . mart solution. yang sangat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Peredy et al. , 2. termasuk gaya berpakaian. Generasi Z menjadikan tren fesyen di TikTok sebagai standar untuk lifestyle terutama gaya berpakaian (Winata et al. , 2. TikTok menampilkan banyak inspirasi terkait Outfit of The Day (OOTD) yang kekinian sehingga memungkinkan para penggunanya untuk mengikuti trend yang sedang booming (Nisak & Sulistyowati, 2. Pengguna TikTok juga memanfaatkan #Outfit atau #OutfitOfTheDay untuk konten yang mengikuti tren-tren fesyen. Dikemas dalam bentuk singkat dan menarik, konten-konten TikTok banyak mempengaruhi penggunanya untuk mengikuti tren terbaru. Perkembangan ini akhirnya dapat menciptakan ketakutan akan ketinggalan suatu informasi atau tren yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO) (Angesti & Oriza, 2. FoMO yang dirasakan oleh pengguna TikTok akhirnya memaksa mereka untuk terus mengikuti tren fesyen yang sedang berkembang. FoMO identik dengan sentimen yang tercipta dari lingkungan sehingga membuat seseorang ingin merasakan, mengikuti, dan selalu update dengan berbagai hal yang ada di sosial media (Angesti & Oriza, 2. Menurut (Mandas & Silfiyah, 2. orang yang menggunakan media sosial di ponselnya lebih cenderung mengembangkan perilaku adiktif, yang berkorelasi dengan FoMO (Fear of Missing Ou. Sehingga perkembangan sosial media yang begitu pesat akhirnya dapat membantu FoMO untuk terus berkembang (Carolina & Mahestu, 2. Fear of Missing Out (FoMO) merupakan kondisi di mana individu ingin selalu terhubung atau mengikuti apa yang terjadi di sosial media. FoMO berkaitan erat dengan perasaan dan sentimen yang tercipta dari lingkungan. Menurut (Angesti & Oriza, 2. terdapat tiga aspek utama yang mempengaruhi Fear of Missing Out (FoMO) yaitu ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan. Fear of Missing Out (FoMO) memiliki empat indikator utama yaitu: 1. Mixed experience, munculnya perasaan negatif karena tidak dapat terlibat dalam suatu aktivitas. Compulsion, perilaku mengecek aktivitas orang lain yang bertujuan untuk menghindari perasaan tertinggal. Comparison with friends, munculnya perasaan negatif karena melakukan perbandingan dengan teman maupun 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 orang lain. Being left out, munculnya perasaan negatif karena tidak dilibatkan dalam suatu kegiatan atau perbincangan (Mandas & Silfiyah, 2. Akun TikTok dengan konten #Outfit atau #OutfitOfTheDay yang viral menjadi salah satu faktor pendukung pengguna Tiktok untuk terus mengikuti tren fesyen. Salah satu akun Tiktok yang terkenal dengan tren fesyennya adalah akun @sashfir yang rutin mengunggah konten fesyen dengan gaya casual yang nyaman namun tetap modis, penggunaan warna-warna cerah atau palet warna yang monokromatik, hingga eksplorasi dengan aksesori unik. @sasfir dapat mencerminkan perubahan dan perkembangan gaya berpakaian di kalangan anak muda yang dikemas dalam video Outfit of The Day (OOTD), fashion haul, hingga styling tips dengan cepat menarik perhatian audiens yang mencari inspirasi berbusana. Konten @sashfir sering viral sehingga gaya fesyennya banyak menjadi inspirasi bagi pengguna TikTok lainnya. Selain itu, @sashfir juga memanfaatkan fitur interaktif, seperti duet atau stitch, untuk berkolaborasi dan berdiskusi dengan Kedekatan yang dibangun akhirnya berhasil mengukuhkan @sashfir sebagai salah satu pusat tren fesyen terkini. Konten @sashfir memberikan inspirasi perilaku berbusana yang dapat diikuti oleh para pengguna TikTok. Perilaku merupakan respon yang diberikan seseorang terhadap stimulus dari luar. Menurut (Walgito, 2. , terdapat tiga cara pembentukan perilaku seseorang yaitu: . Conditioning, pembentukan perilaku dilakukan dengan membiasakan diri sesuai dengan yang diharapkan. Insight, pembentukan perilaku dicapai melalui kesamaan wawasan dan pengetahuan. Model, perilaku dapat dibentuk dengan adanya model atau panutan. Perilaku berbusana dapat dibedakan berdasarkan tren yang sedang marak seperti earth girls, cake girls, dan mamba girls yang berasal dari tren fesyen sebelumnya yaitu vintage, casual, dan elegant. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh AuFoMOAy Terhadap Perilaku Berbusana Pada Generasi Z Melalui Platform Media Sosial TikTok: Followers @Sasfhir. Penelitian ini akan mengukur pengaruh FoMO terhadap perilaku berbusana Generasi Z terutama para followers dari @sasfir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh FoMO terhadap perilaku berbusana Generasi Z terutama para followers dari @sasfir. Penelitian terdahulu dilakukan oleh (Radianto & Kilay, 2. dengan judul AuPengaruh FoMO (Fear of Missing Ou. dan Influencer terhadap Niatan untuk Membeli pada E-CommerceAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer memiliki pengaruh positif terhadap niatan membeli di platform e-commerce. Sedangkan FoMO tidak memiliki pengaruh terhadap niatan membeli di platform e-commerce yang berarti bahwa Generasi Z di Ambon hanya akan membeli suatu barang jika memang membutuhkan barang tersebut bukan karena FoMO. Penelitian ini membahas FoMO sebagai variabel independent terhadap niatan membeli pada e-commerce. Penelitian ini berfokus pada ecommerce sementara penelitian peneliti fokus pada pengaruh FoMO terhadap perilaku berbusana para pengguna TikTok terutama followers @sasfir. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh (Aqza & Purnamasari, 2. dengan judul FoMO dan Trend Fashion dalam Gaya Hidup Mahasiswa Kota Semarang (Studi pada Spill Outfit Racun Shopee Hau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa di Kota Semarang mengikuti spill outfit racun Shopee haul atas dasar perilaku terencana. Jika tidak mengikuti perkembangan fesyen yang ada, mereka akan merasakan FoMO sehingga mereka cenderung melakukan pembelian bukan berdasarkan kebutuhan melainkan keinginan. Penelitian ini melihat fenomena spill outfit racun Shopee Haul yang menjadi pertimbangan utama dalam melakukan pembelian. Mahasiswa yang tidak 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 mengikuti tren tersebut merasakan FoMO sehingga mengutamakan keinginan daripada Penelitian selanjutnya dilakukan oleh (Kusaini et al. , 2. yang berjudul Perilaku Fear of Missing Out (FoMO) pada Mahasiswa Pengguna TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami FoMO lebih banyak menghabiskan waktunya di TikTok, memiliki tingkat stres yang lebih tinggi, dan kinerja akademik yang lebih rendah. Diperlukan strategi pengelolaan waktu yang bijak agar para mahasiswa tidak mengalami dampak negatif FoMO. Penelitian ini melihat fenomena mahasiswa yang sering menggunakan TikTok akhirnya cenderung memiliki perilaku FoMO. Penelitian ini akhirnya bisa mendukung penelitian yang peneliti lakukan yang membahas FoMO dan TikTok. Penelitian terdahulu belum mengukur pengaruh FoMO terhadap perilaku berbusana pada Generasi Z sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif. Penelitian ini juga melihat pengaruh FoMO dengan sudut pandang Ilmu Komunikasi untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku berbusana Generasi Z. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma Pendekatan penelitian kuantitatif berlandaskan ideologi positivis yang meneliti populasi atau sampel tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah followers akun TikTok @sasfir yang berjumlah 805. 000 per 7 Desember 2024. Untuk menentukan jumlah sampel, digunakan rumus Taro Yamane sebagai berikut: Jumlah populasi (N) dalam penelitian ini adalah sebanyak 805. 000 orang. Peneliti menetapkan margin of error . sebesar 0,1 atau 10%, yang umum digunakan dalam studi eksploratif dengan keterbatasan sumber daya. Dengan demikian, perhitungannya sebagai ycu= 000 . 2 1 ycu= ycu = 99. 98 dan dibulatkan menjadi 100 responden Responden penelitian memiliki kriteria sebagai berikut: . pengguna aktif media sosial TikTok. pengikut atau followers TikTok @Sashfir. generasi Z usia 12 Ae 27 tahun. Peneliti menyebarkan kuisioner, sebagai instrumen penelitian, kepada 100 responden untuk mengukur pengaruh FoMO sebagai variabel X terhadap perilaku berbusana sebagai variabel Y. Variabel X memiliki empat indikator yaitu missed experience, compulsion, comparison with friends, dan being left out (Mandas & Silfiyah, 2. dan variabel Y memiliki tiga indikator yaitu conditioning . , insight . , dan model . (Walgito, 2. Teknik pengujian instrumen dilakukan melalui uji validitas yang digunakan untuk menunjukkan tingkatan kevalidan atau 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 kesahihan suatu instrumen pernyataan pada kuesioner, sehingga dapat mengetahui informasi dalam mengukur nilai sebuah data yang kemudian dilanjutkan dengan uji Hasil Penelitian Akun TikTok @sashfir merupakan akun populer di TikTok yang mempunyai 805 ribu pengikut. @sashfir secara konsisten memproduksi konten yang relevan dan menarik, seperti: tips berbusana, tren viral, promosi produk, dan tutorial transformasi. Konten @sashfir menarik bagi pengikutnya karena mengunggah konsep yang menarik secara visual dengan pencahayaan, latar belakang, dan pengeditan yang mendukung tema Akun ini sering diiringi musik yang sedang viral di TikTok untuk menarik lebih banyak penonton. Selain itu, @sashfir menggunakan hashtag populer untuk meningkatkan jangkauan konten, seperti #OOTD (Outfit of the Da. #FashionInspo, dan #TiktokFashion. Dengan konten yang menarik dan selalu up to date, konten @sashfir sering kali masuk dalam For You Page (FYP) dan akhirnya dapat menjangakau khalayak yang lebih Konten-konten @sashfir akhirnya dapat menciptakan tren berbusana yang diikuti oleh para pengguna TikTok. Kondisi ini dapat menciptakan ketakutan akan ketinggalan suatu informasi atau tren yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO) (Angesti & Oriza, 2. FoMO yang dirasakan oleh pengguna TikTok akhirnya memaksa mereka untuk terus mengikuti tren fesyen yang sedang berkembang. Peneliti melakukan penelitian untuk mengukur pengaruh AuFoMOAy terhadap perilaku berbusana pada generasi Z melalui platform media sosial TikTok terutama para pengikut @sasfhir. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada 100 responden yang aktif menggunakan TikTok dan merupakan pengikut akun @Sashfir. Hasil kuisioner kemudian diolah menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution. Sebelum menyebarkan kuesioner kepada 100 responden, peneliti melakukan uji validitas dan reabilitas untuk menunjukkan tingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen pernyataan pada kuesioner, sehingga dapat mengetahui informasi yang dalam guna mengukur nilai sebuah data. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk memutuskan layak atau tidaknya kuesioner dikirimkan kepada responden. Terdapat dua kriteria dalam menentukan validitas suatu kuesioner, yaitu: . Jika r hitung > r tabel maka pertanyaan dinyatakan valid. Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan dinyatakan tidak valid. Pernyataan X10 X11 X12 Tabel 1. Uji Validitas Variabel X R Hitung R Tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 Pernyataan Tabel 2. Uji Validitas Variabel Y R Hitung R Tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas dilakukan untuk melihat seberapa andal hasil kuesioner yang sudah dibuat. Perangkat lunak SPSS digunakan oleh peneliti untuk mengukur dependabilitas dalam penelitian ini. Dengan Alpha Cronbach, jika koefisien reliabilitas lebih dari 0,6 maka alat penelitian dianggap memiliki tingkat keandalan yang cukup. Tabel 3. Nilai Reliabilitas untuk Variabel X Fear of Missing Out (FoMO) Reliability Statistics CronbachAos Alpha N of Items Berdasarkan tabel di atas, uji reliabilitas keseluruhan variabel Fear of Missing Out (FoMO) (X) yang terdiri dari 12 pernyataan mendapatkan CronbachAos Alpha sebesar 932 yang berarti lebih besar dari 0. Maka dapat disimpulkan bahwa kuesioner ini adalah sangat reliabel karna diantara > 0. 80 Ae 1. Tabel 4. Nilai Reliabilitas untuk Variabel Y (Perilaku Berbusan. Reliability Statistics CronbachAos Alpha N of Items Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa uji reliabilitas keseluruhan variabel Perilaku Berbusana (Y) yang terdiri dari sembilan pernyataan mendapatkan CronbachAos Alpha sebesar 0. 861 yang berarti lebih besar dari 0. Maka dapat disimpulkan bahwa kuesioner ini adalah sangat reliabel karna di antara > 0. 80 Ae 1. Uji Regresi Linear Sederhana Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk menganalisis pengaruh suatu variabel (X) dengan variabel (Y) secara bersamaan pada suatu distribusi data. Persamaan regresi linear sederhana yang digunakan pada penelitian ini adalah y = a bX. Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linear Sederhana CoefficientsA Unstandardized Coefficients Model (Constan. FoMO (Fear of Missing Ou. Std. Error Dependent Variabel: Perilaku Berbusana 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Standardized Coefficients Beta Sig. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 Dari hasil tabel di atas dapat diketahui persamaan regresi linear sederhana yang diperoleh sebagai berikut: y = 13. Dalam persamaan regresi linear sederhana tersebut dapat disimpulkan bahwa: Nilai konstanta . 663 yang berarti menunjukkan jika FoMO (X) adalah 0 maka Perilaku Berbusana (Y) nilainya adalah 13. 663 dan dikatakan positif. Koefisien regresi variabel (X) sebesar 0. 509 menunjukkan jika FoMO (X) mengalami kenaikan satuan, maka akan meningkatkan pengaruh terhadap Perilaku Berbusana (Y) sebesar 0. dapat disimpulkan bahwa koefisien bernilai positif, artinya terjadi hubungan yang positif. Uji Koefisien Determinasi (R) Pada ujian koefisien determinasi ini dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Uji koefisien determinasi pada penelitian ini dilakukan pada 100 followers TikTok @Sashfir. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summary Adjusted R Square Std. Error og the Model R Square Estimate Predictors: (Constan. FoMO Dependent Variabel: Perilaku Berbusana Berdasarkan tabel di atas, nilai R Square = 0. Nilai ini menunjukkan bahwa FoMO (X) memberikan pengaruh terhadap Perilaku Berbusana (Y) sebesar 0. 735 atau 73,5%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini. Pembahasan Pada hasil uji analisis regresi linier sederhana dapat disimpulkan bahwa FoMO (Fear of Missing Ou. (X) berpengaruh positif dan signifikansi terhadap pemenuhan kebututuhan informasi. Hal tersebut dapat dilihat dari persamaan regresinya yaitu Y = 663 0. 509 X. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi (R. dapat diketahui bahwa nilai R = 0. 857 atau 85,7% yang dimana berarti hubungan FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) terhadap Perilaku Berbusana dinyatakan saling berhubungan sebesar 85,7%. Berdasarkan hasil nilai R Square yaitu 0. 735 atau 73,5% dapat menunjukkan bahwa FoMO (Fear of Missing Ou. memberikan dampak besar 73,5% terhadap Perilaku Berbusana, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar dari penelitian. Peneliti menggunakan dua variabel yaitu. FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) dan Perilaku Berbusana (Y). Indikator dari variabel FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) yaitu Missed Experience. Compulsion. Comparison With Friend, dan Being Left Out. Indikator variabel Perilaku Berbusana (Y) yaitu Kebiasaan. Pengertian, dan Model. Indikatorindikator tersebut kemudian dibuat dalam bentuk pernyataan yang disebar kepada 30 responden terlebih dahulu untuk melakukan uji validitas dan uji reliabilitas menggunakan SPSS versi 26. Hasil uji validitas dan uji reliabilitas pada 30 butir pernyataan dinyatakan valid dan reliabel. Masing-masing butir pernyataan dinyatakan valid karena memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel . hitung > r tabe. dengan r tabel bernilai 0,463. 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 Setelah instrumen pernyataan dikatakan valid dan reliabel, peneliti menyebarkan kepada 100 responden lainnya. Indikator dalam variabel FoMO (Fear of Missing Ou. dikembangkan menjadi 12 Indikator Missed Experience dikembangkan menjadi tiga pernyataan. Pernyataan dengan persentase terbanyak adalah pernyataan 1 yaitu AuMerasa ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mengikuti trend fashion dari akun TikTok @sashfirAy. Dengan persentase 44% atau sebanyak 44 responden menjawab sangat setuju. Indikator Compulsion menjadi tiga pernyataan, pernyataan 5 AuMerasa senang ketika dapat mengikuti rekomendasi gaya berbusana dari akun TikTok @sashfirAy memiliki persentase Dengan persentase 50% atau sebanyak 50 responden menjawab sangat setuju. Indikator Comparison with Friend menjadi tiga pernyataan, pernyataan 7 AuMerasa lebih percaya diri ketika menggunakan gaya fashion yang sama dengan trend di akun TikTok @sashfirAy menjadi pernyataan dengan persentase terbanyak. Indikator Being Left Out dikembangkan menjadi tiga pernyataan, pernyataan10 AuMerasa cemas ketika saya ketinggalan informasi terbaru tentang trend fashion dari akun TikTok @sashfirAy memiliki persentase terbanyak dengan total 28 responden menjawab sangat setuju. Indikator dalam variabel Perilaku Berbusana (Y) yaitu Kebiasaan. Pengertian, dan Model dikembangkan menjadi 9 pernyataan. Indikator Kebiasaan dikembangkan menjadi tiga pernyataan dan pernyataan 14 AuMerasa nyaman memakai pakaian yang sudah menjadi kebiasaan saya sehari-hariAy mendapatkan respon terbanyak yaitu 50 responden menjawab sangat setuju. Indikator Pengertian menjadi tiga pernyataan, pernyataan 17 AuMemilih gaya pakaian yang mencerminkan nilai atau konsep tertentu yang saya yakiniAy mendapatkan 49 jawaban sangat setuju. Indikator Model dikembangkan menjadi tiga pernyataan dan pernyataan dengan persentase terbanyak adalah pernyataan 20 AuMerasa terinspirasi untuk mengikuti gaya pakaian yang saya lihat di media sosial. Peneliti kemudian melalukan uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Test menujukan nilai Monte Carlo Sig. - taile. sebesar 0,200 dimana nilai tersebut lebih besar dari nilai signifikansi 0,1 . ,200>0,. sehingga dapat disimpilkan bahwa data yang diuji berdistribusi nornal. Pada hasil uji analisis regresi linier sederhana dapat disimpulkan bahwa FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) berpengaruh positif dan signifikansi terhadap pemenuhan kebututuhan informasi. Hal tersebut dapat dilihat dari persamaan regresinya yaitu Y = 13. Selanjutnya yaitu pada hasil uji koefisien korelasi (R) dapat diketahui bahwa nilai signifikansi FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) dengan Perilaku Berbusana (Y) memiliki nilai yang signifikansi 0,000 < 0,1 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat korelasi yang signifikan antara keduanya. Dapat disimpulkan, interpretasi nilai koefisien korelasi 857 menunjukkan hubungan variabel X terhadap variabel Y berada pada rentang 0,60 Ae 0,79 yang artinya kuat. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi (R. dapat diketahui bahwa niai R = 857 atau 85,7% yang dimana berarti hubungan FoMO (Fear Of Missing Ou. (X) terhadap Perilaku Berbusana dinyatakan saling berhubungan sebesar 85,7%. Berdasarkan hasil nilai R Square yaitu 0. 735 atau 73,5% dapat menunjukkan bahwa FoMO (Fear Of Missing Ou. memberikan dampak besar 73,5% terhadap pemenuhan Perilaku Berbusana, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar dari penelitian. Berdasarkan hasil uji hipotesis, hasil signifikansi pada penelitian ini adalah 0,000 sedangkan taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10% . Maka dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi lebih kecil dari taraf signifikan, yaitu 0,000 < 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 0,1 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dari hal tersebut dapat menunjukkan bahwa adanya pengaruh FoMO (Fear of Missing Ou. terhadap Perilaku Berbusana. Pada hasil uji t yang telah dilakukan peneliti, terhadap nilai hasil sebesar 16. 489 > 1. 984, nilai tersebut berarti dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang memiliki arti bahwa terdapat FoMO (Fear of Missing Ou. terhadap Perilaku Berbusana. Penelitian ini menemukan hubungan yang kuat antara fenomena FoMO, perilaku berbusana, dan teori Uses and Effect. Generasi Z sebagai digital native menggunakan TikTok untuk mencari referensi fesyen yang sesuai dengan tren terkini. Ketakutan akan kehilangan tren yang sedang berkembang membuat mereka semakin aktif dalam mengonsumsi dan mengadopsi gaya yang diperkenalkan di media sosial. Akun @sashfir sebagai salah satu akun fesyen yang populer di TikTok memiliki peran signifikan dalam membentuk preferensi berbusana pengikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai agen sosial yang memengaruhi cara individu membangun identitas dan gaya hidup mereka. Penelitian Aqza & Purnamasari . menunjukkan bahwa mahasiswaAiyang termasuk dalam kategori Generasi ZAidi Kota Semarang merasakan FoMO mengenai fesyen terkini sehingga mereka secara sadar mengikuti Racun Shopee Haul. Mahasiswa di kota Semarang tidak mempertimbangkan kebutuhan melainkan mengikuti keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain. Melalui pendekatan kualitatif dan Theory of Planned Behavior, hasil penelitian Aqza & Purnamasari . relevan dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti bahwa FoMO memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap keputusan Generasi Z dalam mengikuti tren fesyen yang mereka lihat dari sosial media. Penelitian Aqza & Purnamasari . juga menekankan bahwa FoMO yang dialami oleh Generasi Z akhirnya bisa membawa dampak bagi gaya hidup mereka yang akhirnya mengikuti standar sosial media. Hasil penelitian juga relevan dengan penelitian dari Kusaini et al. MahasiswaAiyang termasuk dalam kategori Generasi ZAibanyak menghabiskan waktunya di TikTok sehingga memiliki kecenderungan FoMO. Hal ini dapat terjadi karena semakin banyak seseorang menghabiskan waktunya di sosial media, maka semakin tinggi pula tingkat eksposur yang diterima. Mahasiswa akhirnya melihat berbagai tayangan atau konten yang ingin mereka ikuti dan merasa takut jika tidak update dengan tren terkini. Penelitian Kusaini et al. akhirnya mendukung penelitian yang dilakukan peneliti yang juga fokus pada TikTok. Dengan konten yang interaktif dan menarik, pengguna Tiktok akhirnya mudah terpengaruh oleh konten sehingga mengalami ketakutan jika tidak mengikuti tren di Tiktok. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki hasil berbeda dengan penelitian yang dilakukan Radianto & Kilay . Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa FoMO tidak memiliki pengaruh terhadap niatan membeli di platform e-commerce pada Generasi Z di Kota Ambon. Para Generasi Z di Kota Ambon hanya akan membeli barang yang sesuai kebutuhan. Mereka juga cenderung lebih percaya influencer tertentu sehingga tidak mudah terpengaruh oleh tayangan yang mereka lihat di TikTok. Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan oleh perbedaan frekuensi penggunaan sosial media oleh para responden. Dari hasil analisis teori dan penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini membuktikan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perilaku konsumsi fesyen generasi Z, dengan FoMO sebagai faktor utama yang mendorong mereka untuk terus mengikuti tren. Teori Uses and Effect membantu menjelaskan bagaimana generasi Z menggunakan media sosial untuk memenuhi 2302-2035 | 3047-9614 https://doi. org/10. 22487/ejk. Maulana et al. Kinesik, 12. , 2025, 19-29, 1883 kebutuhan mereka akan informasi, hiburan, dan keterhubungan sosial, serta bagaimana media memberikan pengaruh terhadap keputusan mereka dalam berpakaian. Dengan semakin berkembangnya media sosial sebagai pusat tren fesyen, fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut dan semakin memperkuat peran media dalam membentuk perilaku konsumsi di masa depan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, media sosial TikTok @sashfir memiliki mempengaruhi Perilaku Berbusana pada generasi Z terutama followers TikTok @sashfir. Hal ini terbukti dari nilai R Square sebesar 0,735 atau 73,5%, yang menunjukkan bahwa 73,5% variabilitas dalam perilaku berbusana generasi Z dapat dijelaskan oleh FoMO, sementara sisanya sebesar 26,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Nilai ini mengindikasikan hubungan yang sangat kuat antara kedua variabel, di mana semakin tinggi tingkat FoMO yang dialami seseorang, semakin besar kemungkinan mereka mengikuti tren busana yang viral di media sosial. Indikator-indikator FoMO yang diukur, yaitu Missed Experience. Compulsion. Comparison with Friends, dan Being Left Out, menunjukkan hasil yang cukup tinggi. Artinya, banyak responden yang merasa takut tertinggal dalam tren mode, terdorong untuk mengikuti gaya berbusana yang sedang populer, sering membandingkan diri mereka dengan teman-teman atau pengguna lain di media sosial, serta merasa tidak ingin ditinggalkan oleh komunitasnya. Sementara itu, dalam variabel Perilaku Berbusana, indikator seperti Conditioning . Insight . , dan Model . juga menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju bahwa konten yang disajikan di akun @sashfir memiliki pengaruh besar terhadap cara mereka berpakaian. Hal ini mengindikasikan bahwa generasi Z tidak hanya mengonsumsi konten mode secara pasif, tetapi juga secara aktif mengadaptasi tren yang mereka lihat di media sosial. Hasil penelitian sejalan dengan teori Uses and Effects, yang menjelaskan bagaimana media sosial tidak hanya digunakan sebagai sumber informasi, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap perilaku dan keputusan individu. Generasi Z sebagai digital native sangat bergantung pada media sosial untuk mendapatkan inspirasi fesyen, yang kemudian berpengaruh terhadap kebiasaan konsumtif mereka. Tingginya nilai R Square dalam penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial, terutama TikTok, memiliki peran dominan dalam membentuk preferensi mode generasi Z, sehingga tren yang muncul di platform ini memiliki dampak yang luas dalam pola konsumsi fesyen Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran kepada praktisi fesyen dan brand agar dapat aktif berkolaborasi dengan para influencer, seperti Sashfir, untuk mempromosikan produk mereka. Namun, bagi para pengguna Tiktok terutama Generasi Z, jangan hanya mengikuti tren secara impulsif, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan dan gaya pribadi agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang Bagi para peneliti selanjutnya, dapat lebih mengkritisi dan mengeksplorasi mekanisme efek media, termasuk bagaimana eksposur konten fashion di TikTok dapat membentuk pola pikir, persepsi, dan kebiasaan konsumtif generasi Z secara lebih kompleks melalui sudut pandang teori-teori lain. Referensi