Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Rasionalitas Peziarah Makam (Studi Siswa Berziarah ke Makam Gus Dur Jomban. Efinur Farihah1* dan Agus Machfud Fauzi2 Program Studi S1 Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISH-Unesa efinurfarihah16040564026@mhs. Abstract Pilgrimage is one of the religious practices of visiting graves by praying for people who have died. In this study examines the Rationality of Pilgrims tombs with a case study of students dating at the tomb of Gus Dur Jombang. The purpose of this study was to identify the rationality of dating students at Gus Dur Jombang Cemetery. The theory used in this study is Max Weber's Theory of Rationality with the Verstehen approach or interpretive understanding using the social definition paradigm. There are four acts of rationality, namely: Instrumental rationality. Value rationality, traditional rationality and affective rationality. The instrumental rational action taken by the subject is to take into account the ratio or reason for the benefits or goals of making a pilgrimage that is useful for him. Meanwhile, the subject's value rationality assumes that praying is a good thing to do so that the subject makes a grave pilgrimage. Traditional rational action is influenced by habits that come from parents and schools. The last is an act of affection that some of them agreed to make a pilgrimage to Gus Dur's grave because of a request or solicitation from the subject's girlfriend. But they are also willing because of their own will, meaning there is no compulsion to make pilgrimages. Keywords: Rationality. Pilgrim. Courtship. Tomb Abstrak Ziarah merupakan salah satu praktik ibadah mengunjungi makam dengan mendoAoakan orang yang sudah Dalam penelitian ini mengkaji tentang Rasionalitas Peziarah Makam dengan studi kasus siswa berpacaran di makam Gus Dur Jombang. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi rasionalitas siswa yang berpacaran di Makam Gus Dur Jombang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Rasionalitas oleh Max Weber dengan pendekatan Verstehen atau pemahaman interpretative dengan menggunakan paradigma definisi sosial. Terdapat empat tindakan rasionalitas yaitu : Rasionalitas Instrumental, rasionalitas Nilai, rasionalitas tradisional dan rasionalitas afeksi. Tindakan rasional instrumental yang dilakukan subjek adalah dengan memperhitungkan rasio atau akal perti manfaat atau tujuan dari melakukan ziarah yang membawa kebergunaan bagi dirinya. Sedangkan rasionalitas nilai subjek mengganggap bahwa berdoAoa merupakan suatu hal yang baik untuk dilakukan sehingga subjek melakukan ziarah makam. Tindakan rasional tradisional dipengaruhi oleh kebiasaan Ae kebiasaan yang berasal dari orang tua maupun sekolah. Terakhir adalah tindakan afeksi bahwa sebagian mereka menyetujui berziarah ke makam Gus Dur karena permintaan atau ajakan dari pacar subjek. Namun mereka juga bersedia karena keinginan sendiri artinya tidak ada paksaan untuk berziarah. Keywords: Rasionalitas. Peziarah. Pacaran. Makam Pendahuluan Ziarah merupakan fenomena yang menjadi salah satu kajian penting dalam kehidupan. Kegiatan berziarah tidak bisa dilepaskan dari pengaruh studi tentang keagamaan yang menjadi kegiatan keberagaman lebih mendalam yang dilakukan oleh para pemeluk agama. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa agama tetap menjadi aspek penting dalam kehidupan manusia baik aspek Ae aspek secara ritual maupun aspek Ae aspek secara praktik. Di belahan dunia manapun agama dengan keberagamannya akan menjadi objek menarik untuk dikaji . (Masduki 2. Menurut Emile Durkheim, agama ialah suatu sistem kepercayan yang disatukan oleh praktik yang bertalian dengan hal Ae hal yang di anggap suci, yaitu hal Ae hal yang diperbolehkan dan di larang, kepercayaan dan praktik Ae praktik yang mempersatukan suatu komunitas satu moral yang ada. Dalam sosiologi agama, berkaitan dengan agama dan pengaruhnya dalam kehidupan manusia berbunyi Auagama ialah sistem atau simbol yang diciptakan untuk menjadikan suasana hati dan motivasi dalam diri yang kuat bersifat menyeluruh dan bersemayam lama dalam diri manusia dengan menciptakan konsep Ae konsep yang bersifat universal tentang segala sesuatu yang dibalut dengan kepastian nyata sehingga motivasi dan suasana hati yang dapat dirasakan secara sungguh Ae sungguh dan secara nyata dapat di Agama memiliki peranan penting bagi manusia yang bersifat personality dalam kehidupan (Ishomuddin 2. H Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal dengan sapaan Gus Dur lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 dan wafat pada Rabu 30 Desember 2009 dan di makamkan di kompleks Pondok Tebuireng yang bersebelahan dengan kakeknya yaitu Hadratus Syeich K. H Hasyim AsyAoari sang tokoh pendiri organisasi islam terbesar yaitu Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pahlawan bangsa Indonesia. Setelah wafatnya Gus Dur pada tahun 2009 makam Tebuireng semakin ramai di datangi pengunjung yang hendak berziarah. Para peziarah datang dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda - beda latar belakang agama, ras, suku dan lainnya. (Kholidiani 2. Dengan demikian pemerintah mengupayakan untuk melakukan pengembangan industri pariwisata yang berbasis pemberdayaan masyarakat, salah satu bentuk pengembangan kawasan makam adalah dengan dilakukannya beberapa pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur. (Utara 2. Pengunjung yang tidak pernah sepi berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak Ae anak hingga orang Dalam hal ini yang menjadi fenomena unik adalah para pengunjung yang masih remaja, seperti yang dapat diketahui bahwa pada umumnya para pengunjung makam sebagian besar didominasi oleh kalangan orang tua atau kalangan orang dewasa. Berbeda halnya dengan makam Gus Dur Jombang, cukup banyak pengunjung dari kalangan remaja yang antusias berziarah. Ternyata, remaja juga dapat berziarah ke makam dari yang biasanya berwisata ke tempat Ae tempat wisata yang menarik dan indah seperti tempat wisata alam. Fenomena yang terdapat dalam area makam Gus Dur tidak hanya kegiatan berziarah, namun menurut penjaga terdapat beberapa muda mudi yang ketahuan berduaan di tempat yang sepi dan gelap di sekitar area makam Gus Dur. Makna ziarah kubur dalam segi sosial dapat diartikan sebagai bentuk interaksi dari orang yang bernyawa . dengan orang yang tidak bernyawa . rang yang telah meningga. , dengan tetap menjaga hubungan antar individu dalam hubungan silaturrahmi dalam bentuk mengunjungi makam orang yang telah meninggal dan mengirimkan doAoa. Meskipun sebenarnya esensi dari doAoa itu sendiri dapat diamalkan dimana saja namun berziaroh dan mengunjungi makam secara langsung dipercaya mampu mendekatkan secara fisik dan akan lebih tersampaikan doAoa Ae doAoa yang diucapkan kepada Tuhan. (Najitama 2. Dari pemaparan fenomena di atas dapat diketahui bahwa peneliti ingin mengungkapkan tentang bagaimana Rasionalitas Siswa Mengunjungi Makam Gus Dur di Jombang. Kajian Pustaka 1 Rasionalitas AuMax WeberAy Max Weber lahir pada 21 April 1864 di Erfurt yang berasal dai keluarga kelas menengah. Weber banyak belajar di kampus seperti Heidelberg. Strassburg. Berlin dan Gottingen dengan mengambil studi pada ilmu hukum, sejarah dan teologi. Weber meninggal pada 14 Juni 1920 di Munich karena mengidap penyakit paru Ae paru basah. (Santoso 2. Pada abad ke 19 sejarah perkembangan saat itu sedang pada Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 puncak kejayaan karena peradaban berkembang dengan sangat rasional, sehingga Weber fokus mengkaji pada modern western society atau masyarakat barat modern. Ciri Ae ciri masyarakat barat modern adalah semakin lama semakin goal oriented rationality melalui pergeseran yang dipengaruhi oleh tradisi, afeksi ataupun rasionalitas yang berorientasi nilai. Max Weber melihat bahwa hanya individulah yang riil secara objektif dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu Ae individu. Weber mengemukakan sebuah konsep yang berkaitan dengan makna dari tindakan individu melalui pendekatan verstehen. Weber beranggapan bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang melibatkan orang lain merupakan tindakan sosial yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dalam hal ini yaitu tindakan individu. Rasionalitas sangat berkaitan dengan tindakan sosial yang dilakukan oleh individu. Dengan mempertimbangkan perilaku orang lain maka individu menggunakan rasionalitas dalam menanggapi perilaku orang lain. (Putri 2. Tipe Ae tipe rasionalitas ada empat . yaitu : rasionalitas praktis, rasionalitas teoritis, rasionalitas substantif, dan rasionalitas formal. Selain tipe Ae tipe rasionalitas terdapat juga tipe tindakan rasional yaitu Rasionalitas Instumental Rasionalitas instrumental merupakan tindakan sosial yang berorientasi pada tujuan tertentu dengan mempertimbangkan tindakan apa yang harus dilakukan secara sadar agar tercapainya tujuan tersebut dan diperlukan sebuah alat atau cara. Contoh, ketika seorang mahasiswa yang menginginkan prestasi yang unggul maka ia harus mempertimbangkan dan memikirkan cara apa yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut, seperti belajar dengan tekun dan rajin, mengikuti perkuliahan dengan aktif, mengikuti berbagai kegiatan aktif di kampus dan lain sebagainya. Rasionalitas Nilai Rasionalitas nilai merupakan tindakan yang berpedoman pada suatu tujuan tertentu tetapi dalam pelaksanaannya lebih mengutamakan nilai Ae nilai yang ada dalam pribadi individu maupun pada lembaga nilai yang di ikuti. Contoh, berjalan dengan merunduk ketika di depannya ada kaum lansia atau berbicara dengan sopan dan santun serta menghormati orang yang lebih tua. Tindakan tersebut berdasar kepada nilai Ae nilai sosial yang telah tertanam dalam diri individu. Rasionalitas Afeksi Rasionalitas afeksi adalah sebuah pola pikir dari tindakan individu yang dilakukan dengan menggunaka perasaan emosional atau perasaan secara tidak sengaja yang bersumber dari hati secara naluri dengan tidak direncanakan digambarkan dengan ekspresi senang, marah, sedih, kecewa, bahagia, dan lain Contoh dari rasionalitas afeksi adalah perhatian kedua orang kepada anaknya sebagai wujud kasih sayang satu sama lain. Tindakan tersebut dilakukan dengan spontan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu. Rasionalitas Tradisional Rasionalits tradisional ialah pola berfikir individu yang berpedoman pada perilaku turun temurun yang dilakukan secara berulang Ae ulang. Contoh rasionalitas tradisional adalah ketika seseorang yang kejatuhan binatang cicak dipercaya akan terkena mala petaka atau kesialan. (Yesmil 2. Berdasarkan empat rasionalitas di atas, peneliti menguraikan permasalahan berdasarkan jenis tipe Pertama, penggunaan rasionalitas instrumental cara berfikir individu berpedoman pada alat atau cara untuk tercapainya tujuan yang dikehendaki. Jika menggunakan rasioanlitas instrumental maka fenomena berziarah yang dilakukan oleh siswa karena tujuan yang ingin dicapai. Kedua, rasionalitas nilai yaitu ketika individu menganggap bahwa berziarah merupakan nilai Ae nilai yang melekat pada diri individu masing - masing sehingga tindakan tersebut dianggap baik oleh lingkungan masyarakat dan Ketiga rasionalitas afeksi yaitu ketika individu menganggap bahwa kegiatan berziarah kepada salah seorang wali yaitu Gus Dur Jombang sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan. Terakhir yaitu rasionalitas tradisi yang menganggap bahwa berziarah merupakan kegiatan yang sudah biasa dilakukan oleh para pendahulu sehingga dilakukan berulang Ae ulang sebagai sebuah kebiasaan. 2 Penelitian Terdahulu Sebelum dilaksanakan penelitian ini, terdapat beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan. Hasil penelitian oleh Nabila Roshandar dengan judul Konstruksi Sosial ziarah kubur di makam Gus Dur (Studi di Makam Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Jomban. adalah para pengunjung yang berziarah ke makam Gus Dur Jombang mengkonstruksikan untuk mendoAoakan para alim ulama dengan harapan agar melatih ketauhidan dan mendapatkan keberkahan. Masyarakat yang berasal dari keturunan Tionghoa menganggap bahwa hal tersebut sebagai bentuk timbal balik terhadap apa yang telah dilakukan Gus Dur karena atas jasa Ae jasa yang telah dilakukan kepada masyarakat Tionghoa. Masyarakat birokrat pada umumnya menganggap bahwa pemerintah memprogramkan untuk kelompok NU atau Nahdlatul Ulama yang pada hakikatnya memiliki tradisi ziarah kubur dan juga menarik para wisatawan. Pada masyarakat santri yang berasal dari Non-NU menganggap bahwa ziarah kubur sebagai bentuk silaturahmi dan menghormati Gus Dur sebagai figur sosok pemimpin. Penelitian ini memakai teori Konstruksi Sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman serta dengan tambahan teori tindakan sosial oleh Max Weber. Penelitian kedua dilakukan oleh Mitha Aprilia Kartikaningtyas. Sumarjono dan Bambang Soepono dengan judul The Existence of Socio-Economic Community Around Gus Dur Family Tomb in the Cukir Village Year 2009 Ae 2016. Menggunakan teori modernisasi dengan pendekatan sosiologi ekonomi. Hasil dari penelitian ini adalah adanya perubahan masyarakat di sekitar makam Gus Dur dalam segi ekonomi sehingga lambat laun dapat merasakan kesejahteraan dengan peningkatan yang cukup signifikan. Penelitian ketiga dengan judul Peran Wisata Religi Makam Gus Dur Jombang dalam Membangun Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dilakukan oleh Sela Kholidani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya wisata religi makam Gus Dur turut berperan dalam membangun kehidupan yang ada di sekitar area makam, terutama dalam kehidupan sosial ekonomi karena dengan adanya makam yang tidak sepi oleh pengunjung yang datang setiap Hal tersebut dijadikan peluang untuk mendirikan berbagai macam usaha. Usaha yang dibangunpun disesuaikan dengan lokasi yang berada disekitar area pondok pesantren. Hasil lain yang ditemukan adalah adanya peningkatan interaksi sosial ekonomi dalam masyarakat sekitar yaitu antara pedagang yang satu dengan yang lainnya maupun antara pedagang dengan pembeli. Penelitian keempat dengan judul Pengembangan Potensi Wisata Religi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang (Studi Kawasan Wisata Religi Makam K. H Abdurrahman Wahi. Penelitian berikut dilakukan oleh Machin Khoiruddin dengan judul AuPengembangan Potensi Wisata Religi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang (Studi di Kawasan Wisata Religi Makam K. H Abudurrahman WahidAy. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Metode penelitian kali ini adalah model analisis bersifat kuantitatif maupun model kualitatif. Penelitian ini membahas mengenai peranan pondok yang berada di salah satu daerah Jombang dalam upaya untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pondok pesantren memiliki peranan yang cukup penting dan dominan dalam pemberdayaan masyarakat. Lokasi pada penelitian ini adalah di pondok pesantren Khuffadz Rodlotu Tahfidzil QurAoan yang berada di Perak Jombang. Penelitian kelima oleh Wahyuni Islamiyah dengan judul Studi Eksploratif tentang Faktor-Faktor Pendukung Pengembangan Kawasan Wisata Religi Makam K. H Abdurrahman Wahid (Gus Du. di Kabupaten Jombang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa upaya pengembangan pembangunan pada area makam Gus Dur di antaranya adalah : pelebaran jalan raya menuju arah makam, pembuatan MCK, pembangunan area parkir mulai dari parkir motor, mobil hingga kendaraan bus, pembangunan gedung pengelolaan kawasan makam Gus Dur, dan pembangunan Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Museum Islam Nusantara Hasyim AsyAoari (MINHA). Terdapat beberapa faktor pendukung pengembangan kawasan wisata religi makam K. H Abdurrahman Wahid yaitu : permintaan dan penawaran, organisasi, kebijakan pemerintah, biaya atau keuangan, sumber daya alam, pihak swasta, tenaga kerja atau sumber daya manusia, masyarakat, kawasan budaya, dan kompetisi. Penelitian ke enam berjudul Stretegi Pengelolaan Pariwisata Halal Kota Surabaya (Studi Kasus pada Wisata Sunan Ampel Surabay. menjelaskkan tentang stretegi pengelolaan pengembangan pariwisata halal di area Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ke tujuh berjudul Aktivitas Komunikasi Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jombang dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan menjelaskan tentang Peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jombang yaitu dengan mengikuti beberapa kegiatan yaitu mengikuti sebuah event di Surabaya dan membagikan profil kepemilikan pihak Dinas serta membangun sarana prasarana yang dapat menunjang lesejahteraan para pengunjung makam dan lainnya. Penelitian kedepalan membahas tentang perbandingan dalam menanggapi suatu fenomena dengan judul Identification to Gus Dur : Study of Pilgrimage of Indonesian Foremost UlamaAos Tomb in Jombang Regency. Indonesia. Hasil dari penelitian ini bahwa hasil pertama mengungkapkan bahwa hubungan hanya mungkin terjadi melalui Sedangkan hasil kedua mengungkapkan bahwa persepsi sinergi identitas dan identifikasi sebagai mediator jauh lebih rendah daripada niat awal antara hubungan nilai untuk mengunjungi kembali. Penelitian kesembilan dengan judul Another Meaning of Ziarah Kubur in Madura. Dalam memaknai ziarah, peneliti menggunakan analisis tanpa memaksakan perspektif yang dominan diwakili oleh agama islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dari ziarah terlihat seperti reka ulang suatu hubungan. Terdapat hubungan interpersonal antara makhluk yang masih hidup dan yang telah mati karena yang mati masih memiliki sifat manusia. Penelitian terakhir yaitu penelitian kesepuluh dengan judul In Defence of Differentiating Pilgrimage from Tourism. Ziarah dapat didefinikan berbeda dengan pariwisata. Ziarah dapat didefinisikan sebagai perjalanan yang dilakukan karena aldan spiritual yang melibatkan pengorbanan agama. Sedangkan menerapkan kata ziarah ke istilah pariwisata hanya merupakan bagian dari penggunaan metafora. Lebih jauh lagi bahwa teori pariwisata diajukan sebagai pembanding dengan menghasilkan prediksi tentang sejauh mana bentuk Ae bentuk pariwisata diklaim seperti ziarah. Bentuk pariwisata yang melibatkan agama harus lebih di istilahkan dengan ziarah daripada pariwisata yang tidak melibatkan unsur agama. Perbedaan penelitian saat ini dengan 10 penelitian di atas yaitu pada fokus penelitian yang digunakan, jika pada penelitian ini berfokus pada rasionalitas siswa yang berziarah ke makam Gus Dur, studi yang dilakukan adalah pada peziarah ke makam tersebut sedangkan pada kesepuluh penelitian terdahulu memiliki perbedaan masing Ae masing yaitu pada penelitian pertama berfokus pada konstruksi sosial ziarah kubur di makam Gus Dur. Untuk penelitian kedua sampai penelitian ke-lima membahas tentang pengembangan potensi wisata, peran wisata religi dalam membangun kehidupan sosial ekonomi di sekitar pondok dan pengembangan kawasan makam Gus Dur. Pada penelitian ke-enam berfokus pada strategi pengelolaan pariwisata halal dengan mengambil fokus pada makam Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ke-tujuh dan ke-delapan membahas tentang wisata religi dan identifikasi pada makam Gus Dur. Penelitian ke-delapan berfokus pada makna lain ziarah kubur di Madura sedangkan penelitian kesepuluh membahas tentang perbedaan ziarah dan pariwisata. Metode penelitian Penelitian ini tergolong dalam bentuk penelitian kualitatif. Pada metode penelitian kualitatif membantu peneliti untuk menggali data lebih lanjut. Data tersebut berkaitan dengan fenomena yang akan di teliti yaitu rasionalitas peziarah makam dengan studi siswa berpacaran di makam Gus Dur Jombang. Pertimbangam penggunaan metode penelitian kualitatif dikarenakan metode kualitatif memberikan penjelasan yang lebih terperinci dan mendalam tentang tema yang sedang diteliti. Perspektif yang digunakan berasal dari dari teori rasionalitas oleh Max Weber. Pada teori rasionalitas terdapat empat tindakan rasionalitas yaitu : rasionalitas instrumental, rasionalitas berorientasi nilai, rasionalitas tradisional, dan rasionalitas afeksi. Tempat yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data penelitian adalah makam Gus Dur Jombang. Lokasi tersebut berada di Jalan Irian Jaya No 10. Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur. Makam Gus Dur berada di lingkungan pondok pesantren Tebuireng Desa Cukir. Desa Cukir merupakan Desa yang menghubungkan Jombang-Batu/Malang sekaligus penghubung Jombang-Pare. sebelah utara, desa ini berbatasan dengan Desa Kwaron dan Jatirego. Sedangkan disebelah selatan berbatasan dengan Desa Kayangan dan Bendet. Kepadatan penduduk mayoritas berada di sepanjang jalan ruas jalan raya, sedangkan wilayah yang lain lebih banyak bergerak di bidang pertanian. Subjek penelitian yang dipilih dengan cara purposive sampling. Subjek yang dipilih pertama adalah Niken Yulita seorang siswi kelas 3 SMK PGRI Jombang, kedua adalah Zahratul Firdaus salah satu siswi kelas 3 MAN 5 Jombang, dan subjek terakhir yaitu Alif Lukman Hakim salah satu siswa kelas 3 SMPN 1 Diwek Jombang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu observasi, wawancara dan Sedangkan analisis data dilakukan dengan tiga tahapan. Ketiga tahap tersebut antara lain reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dan Pembahasan Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi. , arti kata pacaran adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta dan kasih. Dalam topik ini subjek memiliki pendapat dan pendapat masing Ae masing. Makna pacaran menurut subjek Niken adalah suatu perbuatan yang terkadang dianggap buruk atau negative oleh masyarakat, padahal hal tersebut tidak bisa dipandang dalam satu sisi saja. Meskipun dalam islam melarang pacaran karena dianggap zina. Jika pacaran dilakukan dengan hal Ae hal positif maka akan baik Ae baik saja. Istilah pacaran sendiri memiliki keberagaman makna tergantung dari sudut pandang siapa yang Seperti halnya subjek Firda juga memiliki makna tersendiri dalam mengartikan pacaran. Menurut Firda, pacaran adalah pendekatan kepada seseorang atau lawan jenis lebih tepatnya untuk mengenal satu sama lain sebelum akhirnya memutuskan pilihan jodoh dalam hidup. Berbeda lagi dengan subjek Alif, menurutnya pacaran merupakan sebuah status antara dua orang lawan jenis yang berkomitmen untuk saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Hukum pacaran bisa dikatakan haram karena dalam aktivitasnya mengandung hal Ae hal yang tidak baik. Di kutip dari nu. id jika yang dimaksudkan adalah pergaulan bebas antara laki Ae laki dan perempuan, melakukan hal yang disukai secara bebas tanpa adanya batasan. Akan tetapi berbeda halnya dengan pacaran yang dimaksud untuk mengenal lebih jauh dengan tujuan menjajaki jalinan pernikahan dalam proses lamaran maka hal itu diperbolehkan oleh syariAoat islam. Sehingga dengan pemaknaan oleh ketiga subjek dapat di simpulkan bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang lawan jenis yang berkomitmen untuk saling menyayangi dan mengasihi di iringi dengan perbuatan yang positif bertujuan untuk mengenal satu sama lain hingga akhirnya memutuskan menjalin ikatan suci pernikahan. 1 Makna Ziarah Arti kata ziarah menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesi. , adalah kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia seperti makam dan sebagainya. Menurut subjek Niken, ziarah adalah kegiatan mendoAoakan orang yan telah mendahului kita dan kegiatan yang dapat mengingatkan kita akan Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 adanya kematian. Menurut subjek kegiatan ziarah baik untuk dilakukan, oleh karena itu subjek sendiri sudah terbiasa melakukan ziarah baik dengan rombongan pondok maupun pasangan subjek. Pengetahuan subjek terkait ziarah didapatkan sejak kecil ketika belajar ngaji. Sedangkan menurut subjek Firda, ziarah adalah mengunjungi makam seseorang yang diberi keistimewaan oleh Allah atau biasa disebut dengan wali. Melalui perantara orang yang sudah meninggal besar kemungkinan doAoa Ae doAoa yang dipanjatkan akan terkabul. Menurut subjek Alif, ziarah adalah praktik salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara bertawassul kepada kekasihNya atau sedekar berkirim doAoa kepada orang yang telah Tawassul adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara atau menjadikan sesuatu yang bernilai, berkedudukan tinggi, dan memiliki derajat menurut Allah sebagai sebuah pijakan agar doAoa dikabulkan dan tidak lupa juga mendoAoakan orang yang dijadikan perantara. Ketiga subjek berpandangan bahwa ziarah merupakan praktik ibadah yang baik untuk dilakukan agar lebih dekat kepada Allah SWT dengan cara mengunjungi makam atau tempat yang dianggap keramat atau mulia. Ziarah bertujuan untuk bertawassul kepada Allah melalui orang yang telah meninggal dalam hal ini konteksnya adalah K. H Abdurrahman Wachid atau biasa disapa dengan nama Gus Dur. Tujuan Ziarah Dalam mengambil tindakan keputusan, setiap individu pasti memiliki tujuan yang melatar belakangi melakukan tindakan tersebut. Sama hal nya dengan ziarah, para peziarah memiliki tujuan masing Ae Bagi subjek Niken tujuan ziarah adalah untuk berdoAoa, sebagai sarana untuk mengingat kematian agar lebih ingat kepada Allah. Sedangkan bagi subjek Firda tujuan berziarah adalah untuk berdoAoa dan meneruskan ajaran yang berasal dari orang tua maupun sekolah. Bagi subjek Alif tujuan berziarah adalah untuk berdoAoa dan bertawassul melalui Gus Dur yang dianggap sebagai wali kesepuluh. Bisa disimpulkan bahwa secara umum tujuan ziarah adalah untuk berdoAoa dan mendoAoakan orang yang telah meninggal serta sebagai pengingat akan adanya kematian yang sifatnya pasti. Rasionalitas Max Weber . Tindakan Rasional Instrumental Tindakan rasional instrumental merupakan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh dengan mempertimbangkan hal Ae hal yang bersifat rasional atau masuk akal. Dalam penelitian ini siswa yang berpacaran di makam menunjukkan alasan yang rasional adalah makna ziarah untuk Selain itu juga menyadari bahwa dengan berziarah dapat mengingatkan kematian. Tindakan Rasionalitas yang Beorintasi Nilai Tindakan ini dilakukan oleh individu dengan memerhatikan nilai Ae nilai yang diyakininya. Secara umum, nilai adalah sesuatu yang di anggap baik atau buruk di masyarakat. Dalam hal ini nilai yang di maksud bisa berupa perilaku etis, religious, dan lainnya. Tindakan rasionalitas yang berorintasi nilai dilakukan oleh subjek yang menganggap bahwa kegiatan ziarah dalam bentuk berdoAoa adalah hal baik. Selain itu, dengan berziarah kemungkinan kecil atau bahkan tidak ada kemungkinan untuk melakukan hal Ae hal yang kurang baik atau bahkan buruk dengan pacar karena tempatnya ramai dan di anggap sebagai tempat keramat atau tempat suci dan mulia. Tindakan Tradisional Tindakan ini dapat dipengaruhi oleh factor luar, yaitu subjek yang mengatakan bahwa tindakannya berdasarkan pada pemahaman orang tua maupun keluarga yang terus menerus melakukan praktik ziarah. Sehingga subjek juga turut serta melakukannya. Tindakan Afeksi Tindakan afeksi adalah tindakan yang tidak masuk akal atau irasional. Tindakan ini cenderung menggunakan emosi yang dirasakan oleh individu dan terkadang tidak ada pertimbangan secara Dalam penelitian ini subjek mengungkapkan bahwa alasan berziarah ke makam Gus Dur dan kenapa memilih berziarah karena ajakan atau permintaan dari pacar subjek. Namun perasaan ini berakhir dengan subjek yang memiliki tujuan beribadah saat berada di makam dengan cara berdoAoa dan mendoAoakan para pendahulu yang telah meninggal. Tindakan Rasionalitas Max Weber Berdasarkan Kondisi Subjek Jenis Tindakan Bentuk Tindakan Rasionalitas Instrumental Rasionalitas Nilai Menyadari secara sadar bahwa ziarah adalah salah satu praktik ibadah yang baik untuk dilakukan. Secara sadar meyakini bahwa ziarah mengingatkan pada kematian BerdoAoa adalah bentuk ibadah yang tentu dianggap baik. Dengan berziarah ke makam kemungkinan kecil untuk berduaan dengan pacar karena tempatnya ramai sehingga yang dimaksudkan adalah dapat menghindari hal Ae hal yang buruk. Tindakan Afeksi Bentuk emosional kasih sayang kepada pacar sehingga bersedia di ajak berziarah ke makam. Tindakan Tradisional Terbiasa karna melihat orang tua atau keluarga melakukannya, sehingga muncul perasaan terbiasa berziarah dari dulu saat mengetahui ziarah. Kesimpulan Gus Dur merupakan presiden ke Ae 4 yang dimakamkan di kawasan pondok pesantren Tebuireng Jombang sejak tahun 2009. Makam Gus Dur dikelola oleh pihak pihak LSPT (Lembaga Sosial Pesantren Tebuiren. Kawasan makam Gus Dur melakukan perbaikan sarana prasarana dari waktu ke waktu bahkan sampai saat ini di sekitar area makam terdapat Museum yang cukup besar yaitu Museum Islam H Hasyim AsyAoari namun tidak dikelola oleh pihak pondok Tebuireng. Makam Gus Dur tidak pernah sepi dari peziarah, mulai dari anak Ae anak remaja, hingga orang dewasa. Dalam hal ini terdapat peziarah makam dari kalangan remaja sekolah yang berpacaran. Rasionalitas tindakan Ae tindakan yang dilakukan oleh ketiga subjek dapat dibagi menjadi empat tindakan social Max Weber . Keempat tindakan tersebut antara lain tindakan rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afeksi dan tindakan nilai. Tindakan rasional instrumental yang dilakukan subjek adalah subjek memperhitungkan rasio atau akal perti manfaat atau tujuan dari melakukan ziarah yang membawa kebergunaan bagi dirinya. Sedangkan rasionalitas nilai subjek mengganggap bahwa berdoAoa merupakan suatu hal yang baik untuk dilakukan sehingga subjek melakukan ziarah makam. Selanjutnya adalah tindakan rasional tradisional, dimana subjek dipengaruhi oleh kebiasaan Ae kebiasaan yang berasal dari orang tua maupun sekolah. Terakhir adalah tindakan afeksi, bisa dikatakan tindakan yang mengutamakan perasaan. Beberapa subjek mengatakan bahwa sebagian mereka menyetujui berziarah ke makam Gus Dur karena permintaan atau ajakan dari pacar subjek. Namun mereka juga Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 bersedia karna keinginan sendiri artinya tidak ada paksaan untuk berziarah. Sehingga bisa disimpulkan bahwa masing Ae masing subjek memiliki alasan tersendiri dalam melakukan praktik ziarah makam terlepas dari pacaran yang dibungkus dengan ziarah atau semacamnya. Daftar Pustaka