Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan ONTOLOGI MANUSIA PERSPEKTIF SEYYED HUSEEN NASR DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBENTUKAN MORALITAS KEPEMIMPINAN BANGSA Gesit Yudha gesit@radenintan. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Agus Hermanto sulthani@gmail. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Andi Hermawan andihermawanril@gmail. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Abstract Ontology explains the nature of everything that exists. In the study of ontology, understanding human nature involves not only comprehending it in actual human terms but, in terms of essence, humans are seen as beings of Monodualism, consisting of two elements yet forming a unity within. Nasr, with his traditional approach, attempts to elucidate the essence of human beings by critiquing the ideologies of the modern world that currently encompass human life. This research is conducted through a literature review, utilizing a descriptive-analytical approach. Sayyed Huseen Nasr consistently ties his discussions to the texts of the Quran and Hadith. Nasr asserts that the essence of human beings cannot be separated from the intervention of God. Thus, the contribution of Nasr's thoughts regarding the concept of human nature in its relevance to morality is that humans are actually related to divine nature and provide direction to the morality of the nation's leadership. In this way, it is possible to create a state of law, not a state of power, in the implementation of state administration. Keywords: ontolgy. Sayyed Huseen Nasr, morality Abstrak Ontologi menerangkan hakikat dari segala yang ada. Dalam kajian ontologi manusia bukan hanya memahami secara manusia aktual saja namun dari segi hakikat manusia merupakan dari makhluk Monodualisme dimana terdiri dari dua unsur namun didalamnya satu kesatuan. Nasr dengan pendekatan tradisionalnya berusaha menjelaskan hakikat manusia dengan E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A memberikan kritik terhadap ideologi dunia modern yang sekarang sedang melingkupi kehidupan umat manusia. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan . ibrary researc. , dengan menggunakan pendekatan deskriptifanalitik. Sayyed Huseen Nasr selalu mengaitkan pembahasannya dengan teksteks Al-Qur'an dan Hadith. Nasr mengatakan hakikat manusia tidak bisa terlepas dari campur tangan Tuhan. Dengan demikian konstribusi pemikiran Nasr mengenai konsep hakikat manusia dalam relevansinya moralitas yakni sejatinya manusia memiliki keterkaitan dengan sifat ketuhanan dan memberikan pengarahan kepada moralitas kepemimpinan Bangsa. Dengan demikian memungkinkan terwujudnya negara hukum bukan negara kuasa dalam pelaksanaan ketatanegaraan. Kata kunci: ontologi. Sayyed Huseen Nasr. Pendahuluan Seyyed Hossein Nasr lahir di kota Teheran. Iran, pada tanggal 7 April 1933. Ayahnya seorang ulama terkenal di Iran dan juga seorang guru dan dokter pada masa dinasti Qajar bernama Seyyed Valiullah Nasr. 1 Sebutan dengan gelar Seyyed adalah sebutan kebangsawanaan yang dianugerahkan oleh raja Syah Reza Pahlevi kepada keduanya. Latar belakang keagamaan keluarga Nasr adalah penganut aliran SyiAoah tradisional 2 yang memang menjadi aliran teologi Islam yang banyak dianut oleh penduduk Iran. Dominasi paham SyiAoah di Iran bertahan sampai sekarang, walaupun telah terjadi revolusi di Hal ini disebabkan karena paham SyiAoah telah lama hidup di sana yang didukung oleh banyak ulama terkenal dan berpengaruh. Menurut Azra, pemikiran Nasr bisa dimasukan ke dalam beberapa model berfikir yaitu posmodernis, neo-modernis, atau neo-sufisme. Dikatakan posmodernis karena ia banyak mengkritik pemikir-pemikir modernis Islam seperti Abduh. Al-Afgani. Amir Ali dan Ahmad Khan sebagai pengemban budaya Barat dan sekulerismenya. Neo-modernis karena ia adalah pengkritik Barat dengan segala aspeknya, dan menampilkan kembali warisan pemikiran Islam sebagai solusi atas modernitas yang dimotori Barat tersebut. Juga sebagai neo-sufisme dengan bukti sebagai seorang pemikir sufi yang menerima pluralisme dan perenialisme sebagai wujud nyata pemikiran sufinya, disamping sebagai sufi yang sebenarnya yang selalu menginginkan penggalian yang sedalam-dalamnya atas spiritualitas dan makan batin Islam. Nasr, adalah seorang ilmuan yang sangat produktif, karena ia telah menulis banyak buku, dan sejumlah artikel dari berbagai kumpulan makalah yang diterbitkan di berbagai penerbit, dan dipublikasikan melalui media baik cetak maupun elektronik, diterjamahkan dengan berbagai bahasa seperti bahasa Inggris. Prancis. Arab. Persia dan bahasa Indonesia, antara lain An Interduction to Islamic Cosmological Doctrine Conceptions of Nature and Methodods Used for Its Study by the Ikwan ash-Shafa,al-Biruni and Ibnu Sina. Ideal and Realitas of Islam. Science and Civilization in Islam. Islamic Art and Spirituality, dan lain-lain. 1 Aminrazavi dan Moris. The Complete Bibliografi Seyyed Hossein Nasr from 1958 Trough, 1993, 8. 2 Seyyed Hossein Nasr. Kata tradisional dan tradisi disini yang dimaksudkan bukanlah kebiasaan, adat istiadat atau penyampaian ide-ide atau motif secara otomatis dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tradisi yang dimaksud disini yaitu serangkaian prinsip yang diturunkan dari langit dengan disertai sebuah manifestasi Ilahiah, dengan disesuaikan pada konteks kemasyarakatan yang berbeda-beda. Lihat: Islam dan Nestapa Manusia Modern, t. ,79. 3 Azumardi Azra. Memperkenalkan Pemikiran Hossein NasrAy, dalam Seminar Sehari: Spiritualitas. Krisis Dunia Modern dan Agama Masa Depan (Jakarta: Paramadina, 1. , 35. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan Nasr dengan gagasan Tradisionalisme Islamnya berusaha mengaktualisasikan kembali nilai-nilai tradisional yang dianggap dapat mengingatkan manusia akan hakikat diri dan dunia di sekelilingnya dan menunjukkan kepada manusia modern tentang segala kebutuhan dan tanggung jawab mereka di dalam kajian ontologi. Ontologi menerangkan hakikat dari segala yang ada. Hakikat adalah realitas, realitas adalah ke-real-an, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga kenyataan yang berubah. 4 Perhatian pada manusia yakni mengandung makna tentang realitas yang Cakupan kajian ontologi meliputi yang ada . dan yang nyata . maupun esensi dan eksistensi. Ontologi menurut James K. Feibleman yang dikutip Bakhtiar5 adalah The theory of being qua being . eori tentang keberadaan sebagai keberadaa. Louis O. Kattsoff dalam Elements of Philosophy mengatakan, ontologi itu mencari ultimate reality. Pembahasan ontologi manusia terkait dengan pembahasan mengenai suatu substansi metafisika dalam hal ini kaitannya dengan spritualisme dan fisika kaitannya dengan materialisme. Bila kita telaah saat ini manusia dilanda ketidaktahuannya mengenai hakikat dirinya, bahkan ada sebagian masyarakat menganggap nilai spritual kedudukan tertinggi dan ada sebagian manusia menganggap nilai materi sebagai suatu kebenaran. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus, menjelaskan yang ada meliputi semua realitas dalam semua 6 Sedangkan menurut Jujun S. Sumantri ontologi membahas apa yang ingin diketahui, seberapa jauh rasa ingin tahu atau dengan perkataan lain suatu pengkajian mengenai teori tentang AuadaAy. Dalam perkembangan pemikiran hakikat manusia maka kita akan di hadapkan pada bermacam-macam pemahaman dan aliran mengenai manusia dalam perspektif ontologi yakni materialisme dan spritualisme dsb. Nilai materialisme 8sering sekali tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada mengakui eksistensi Tuhan atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Berbeda dengan pernyataan spritualisme10 yang merupakan keturunan langsung atau pengembangan dari animisme Auyang percaya bahwa semua benda dan kejadian alam berjiwaAy, dan dinamisme Auyang percaya bahwa ada manifestasi-menifestasi dari kekuatan tertentu dibalik semua dinamika semesta dan fenomena-fenomena alamAy. Pengaruh dari kedua cikal-bakal spiritualisme ini terasa sangat kuat di kalangan masyarakat primitif. Pada intinya menyangkut maanusia pada hakikatnya yakni terdiri dari dua unsur yakni Ruh dan Jasad. Tatkala manusia berinteraksi dengan kehidupan maka manusia menjadi individu dalam keterkaitannya dengan kehidupan sosial, kedudukan hakiki manusia sebagai makhluk berdiri sendiri dan memliki keyakinan utuh mengenai Ketuhanan dalam Bukan hanya menganggap pernyataan tentang unsur materialisme, materi sebagai 4 Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , 131. 5 Ibid. 6 Noeng Muhadjir. Metode Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2. , 57. 7 Jujun S. Sumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2. 8 AuMaterialisme adalah suatu paham yang meyakini sumber kebenaran yakni dari materi. ,Ay t. 9 N. Drijarkara. Pertjikan Filsafat (Jakarta: PT Pembangunan Djakarta, 1. , 57-59. 10 AuSpiritualisme di dalam agama adalah kepercayaan, atau praktik-praktik yang berdasarkan kepercayaan bahwa jiwa-jiwa yang terangkat . aat meningga. tetap bisa mengadakan hubungan dengan ,Ay t. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A dasar kebenaran, ataukah paham liberalisme mengangpa tentang kebebasan manusia tanpa batas yang mengasingkan keberadaan Tuhan. Keberadaan manusia sebagai makhluk zoon politicon11yang senantiasa berinteraksi atau bersama karenanya ada keharusan moralitas. Dimensi moralitas 12 merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dan tidak pantas dilakukan. Keharusan mempunyai dua macam arti: keharusan alamiah . erjadi dengan sendirinya sesuai hukum ala. dan keharusan moral . ukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuat. Manusia merupakan pemeran utama dan menempati peran strategis dalam proses kehidupan, baik sebagai subjek maupun objek. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hakikat manusia dalam konteks moralitas adalah suatu keniscayaan yang bersifat fundamental yang akan menentukan sistem sosial itu sendiri, mulai dari tujuan hidup, perbedaan dan etika atau moralitas sebagai manusia dalam kedudukan tertinggi dan lain-lain. Perbandingan Spritualisme lebih meyakini ada kekuatan yang mengatur sehingga aliran ini cenderung terarah dan mendahulukan etika, sisi lain penganut paham liberalisme, misalnya, lebih menekankan kepada kebebasan manusia. Paham liberalisme ini memandang manusia sebagai makhluk yang bebas, manusia bisa melakukan apa saja yang disukainya tidak terikat oleh aturan-aturan atau moral agama. Salah satu tokoh aliran liberalisme. John Dewey memandang manusia secara prinsipil yaitu manusia sebagai makhluk liberal-individualis, rasional, sosio-antroposentris, progresif-aktif dan etico-religius. Liberal artinya melepaskan diri dari kekangan-kekangan yang Sedangkan individualistis merupakan hasil dari usaha melepaskan diri dari kekangan adat dan tradisi karena dorongan dari sifat mementingkan diri sendiri. Sebagai makhluk rasional . manusia mampu mengadakan pembaharuan, rekonstruksi dan Istilah lain menyebutkan mind as purely individual. Individual mind as the agent of Kenyataan tersebut juga telah ikut mewarnai kehidupan global yang telah terhegemoni oleh arus globalisasi terutama sejak beberapa dekade terakhir ini. West oriented pada dunia kita di satu sisi telah membuat generasi ini menjadi kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang kaya akan khasanah dan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dibangun di atas fondasi nilai-nilai religius. FenomenaAydegradasi moralAy terutama di kalangan remaja sejak beberapa tahun terakhir seperti, perkelahian antar pelajar, tawuran antar pelajar, terlibat dalam pergaulan bebas, dan penggunaan obat-obat terlarang serta berbagai tindak kriminalitas lainnya. Semua ini hampir setiap hari mengisi berita-berita baik di media cetak 11 AuZoon Politicon merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh Aristoteles untuk menyebut makhluk sosial. Kata Zoon Politicon merupakan padanan kata dari kata Zoon yang berarti AohewanAo dan katapoliticon yang berarti AobermasyarakatAo. Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat. ,Ay 12 AuMoral, akhlak, etika, atau susila (Latin: Moralitas. Arab: AECA, akhlA. adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. ,Ay t. 13 Ali SyariAoati, al-Insan wa al-Madaris al-Gharb. Menurut Ali SyariAoati, pemikiran ini dibangun atas dasar mitologi Yunani Kuno yang memandang bahwa antara alam dewa dan alam manusia terdapat pertentangan dan pertarungan hingga muncul kebencian dan kedengkian antara keduanya. Oleh sebab itu, manusia dengan kecerdasannya berusaha membebaskan diri dari cengkraman kekuasaan dewa tersebut. Lihat Ali SyariAoati, al-Insan wa al-Madaris al-Gharb. Terj. Arif Muhammad (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1. , 40. 14 Abd. Rachman Assegaf. Konfigurasi Teori pendidikan John dewey dan Al-Abrasyy, dalam Pendidikan Islam dalam Konsepsi dan Realitas. Abd. Rachman Assegaf (Yogyakarta: Lemlit UIN Suka, 2. , 10. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan maupun media elektronik, dan telah mengunggah keprihatinan yang mendalam terhadap semakin terpuruknya moral dan karakter kepemimpinan bangsa ini. Dalam kajian ontologi manusia bukan hanya memahami secara manusia aktual saja namun dari segi esensi/hakikat manusia merupakan dari makhluk Monodualisme dimana terdiri dari dua unsur namun didalamnya satu kesatuan. Ontologi manusia bagian integral antara jasad dan ruh yang pada intinya manusia makhluk utama dan menempatkan manusia Di Timur Ontologi Manusia menempatkan hal yang paling dekat dengan Tuhan dimana konswekensi Ruh merupakan pancaran utama dalam perilaku, ilmu dan kenyataan dari Causa Prima (Tuha. itu sendiri, namun di Barat menempatkan manusia pada sub hal Jasadiah dimana menafikan esensi Ruh yang merupakan kenyataan Tuhan itu sendiri. Lebih mengutamakan monoisme materialisme tentang kenikmatan dan kenyataan jasadiah saja serta meniadakan nilai spritual dan menganggap manusia unggul. Sehubungan dengan uraian di atas, perlu untuk dilakukan upaya rekonseptualisasi tentang manusia dalam perspektif Islam (Suatu Kajian Ontologi Dan Relevansinya Bagi Moralitas Kepemimpinan Bangs. terutama untuk konteks umum sebagai upaya solutif khususnya bagi problematika degradasi moral dalam membangun memanusiakan manusia secara urgent. Upaya melihat manusia yang ber-Tuhan dan memiliki peran sebagai makhluk sosial adalah suatu keniscayaan, namun harus dilandasi oleh konstruksi paradigma yang kokoh berdasarkan keyakinan terhadap nilai-nilai tradisi dan religius. Pembinaan dan penanaman nilai-nilai religius tetap relevan, bahkan tetap dibutuhkan dan harus dilakukan sebagai Aukapital spritualAy untuk masyarakat. Meskipun para sosiolog dan ilmuan Barat pernah meramalkan bahwa agama akan tergusur, bahkan lenyap oleh kemajuan sains dan teknologi, namun ternyata agama tak pernah lenyap dari panggung sejarah. 15Bahkan di kalangan ilmuan sekuler (Bara. , belakangan muncul upaya mendialogkan, atau mengintegrasikan antara agama dan sains. Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonik jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat. Manusia lahir dalam keadaan serba misterius. Artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa, bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. Yang pasti, manusia dilahirkan oleh AuTuhanAy melalui manusia lain . , sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya . embali pada Tuha. Salah satu alasan mengapa Manusia merupakan kenyataan itu memberikan kejelasan manusia makhluk yang lemah. Keberadaannya sangat bergantung kepada penciptanya (Tuha. Segala potensi yang ada dirinya ditentukan secara mutlak oleh Sang Pencipta manusia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Sang Pencipta kecuali pasrah. Akan tetapi, ketergantungannya kepada Sang Pencipta dalam perkembangannya diterima dengan disertai otonomi dan kreativitas yang sedemikian rupa sehingga mampu 15 Komaruddin Hidayat. Pendidikan dan Krakter Kebangsaan, dalam Paradigma Baru Pendidikan. Max Weber meyakini bahwa agama memiliki kekuatan untuk mempengaruhi manusia dengan segala variasinya dari masyarakat sederhana sampai masyarakat maju sekalipun. (Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Diktis Depag RI, 2. , 92. 16 Ian G Barbour. Pergulatan antara agama dan sain telah mewarnai sejarah kehidupan manusia. Kasus eksekusi Gereja atas Galileo pada abad 19 dan perdebatan panjang antara pendukung teori revolosi dan teori penciptaan menjadi bukti nyata betapa konflik yang saling menegasikan telah mewarnai hubungan antara agama dan sains. Untuk menghindari konflik antara keduanya, banyak kalangan sejak tahun 1990-an telah mencari model hubungan yang paling sesuai. Seperti tulisan Ian G. Barbour lewat karyanya. Religion in an Age of Science . dan sudah diterjemahkan dengan judul AuIsu dalam Sains dan AgamaAy Barbour mencoba memetakan hubungan sains dengan agama. Menurutnya, antara sains dan agama terdapat empat varian hubungan: konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Dalam buku tersebut terlihat kecenderungan beliau dalam mengintegrasikan karakteristik teori ilmiah yang fundamental dengan model pemahaman tentang Tuhan (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A mempertahankan serta mengembangkan hidupnya dan kehidupannya. Dengan otonomi dan kreativitasnya, manusia dapat menyelesaikan dan mengatasi segala macam problem Manusia mencari dan menciptakan makanan, minuman, tempat berteduh dan lain-lain. Manusia tidak mungkin menerima begitu saja apa yang diberikan oleh alam. Segala potensi alam oleh manusia perlu diolah agar lebih bisa memberikan pemenuhan kebutuhan yang sesuai. Antara ketergantungannya . dan otonomi adalah dua unsur potensi kotradiktif yang ada di dalam kesatuan dinamis. Keberadaannya justru memberikan makna jelas kepada diri manusia sebagai Makhluk Sang Pencipta. Di Barat, kita kenal dengan istilah Eksistensialisme yang melahirkan beberapa tokoh di dalamnya. Salah seorangnya yaitu Soren Kierkegard. Dalam pandangan Kierkegard, manusia aalah manusia satu-satunya yang bisa bereksistensi. Disamping itu. Kierkegard percaya bahwa manusia berasal dari Allah dan berada sedang dalam proses menuju hubungan dengan kesatuan tertinggi dengan-Nya. Dalam proses penciptaan manusia menurut Kierkegart, digunakan istilah to exist yang artinya dalam proses AumenjadiAy, dan disisi lan ditemukan pula istilah existance yang artinya adalah perjuangan terus menerus menuju yang tak terbatas. Jika demikian, perjuangan yang terus menerus inilah yang merupakan suatu proses pencapaian eksistensi manusia yang sesungguhnya. Tidak berbeda dengan Kierkegard. AoAbd al-Karim ibn Ibrahim al-Jilli juga membangun argumentasi tentang manusia yang berdasarkan tema-tema teologis. Dalam pandangannya, al-Jilli berpendapat bahwa eksistensi manusia bersifat koheren dengan Tuhan. Dalam hal ini, manusia memiliki potensi untuk meneladani sifat-sifat ketuhanan. Dengan usaha ini, maka seseorang berada dalam proses pengembaraan menuju Tuhan, dan ketika pengembaraan itu telah mencapai tujuannya, maka manusia menjadi intim dengan Tuhan. Pada saat keintiman ini, maka manusia itu menjadi manusia yang seutuhnya, dalam bahasa al-Jilli disebut Insan Kamil. Manusia pada hakikatnya terdiri dari dua unsur yakni Ruh dan Jasad. Tatkala manusia berinteraksi dengan kehidupan maka manusia menjadi individu dalam keterkaitannya dengan kehidupan sosial, kedudukan hakiki manusia sebagai makhluk berdiri sendiri dan memliki keyakinan utuh mengenai Ketuhanan. Sehingga manusia makhluk yang senantiasa berinteraksi atau bersama harus ada Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dan tidak pantas dilakukan. Keharusan memunyai dua macam arti: keharusan alamiah . erjadi dengan sendirinya sesuai hukum ala. dan keharusan moral . ukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuat. Nasr dengan pendekatan tradisionalnya berusaha menjelaskan hakikat manusia dengan memberikan kritik terhadap ideologi dunia modern yang sekarang sedang melingkupi kehidupan umat manusia. Menurutnya, ideologi dunia modern telah menjauhkan manusia dari pusat eksistensinya yang menurut Nasr adalah spiritualitas, sehingga manusia semakin jauh dari esensinya serta melupakan kedudukan dan fungsinya di muka bumi. Laju ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat serta manfaat yang ditimbulkannya menyebabkan manusia berbangga diri dan melepaskan diri dari kontrol nilai-nilai religius-spiritual. Manusia modern merasa menjadi pusat kemajuan dan ilmu 17 Ekky Malaky. Seri Tokoh Filsafat: Ali SyariAoati Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern (Jakarta: Teraju, 2. , 57. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan pengetahuan menggantikan posisi agama. Namun lama kelamaan didapati bahwa ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia mengkhianati manusia itu sendiri, aplikasi ilmu pengetahuan tanpa kontrol agama justru sering berujung bencana, sehingga manusia modern mengalami apa yang diebut dengan krisis epistemologis, mereka kehilangan makna dan tujuan hidup . eaning and purpose of life/sangkan paraning dumad. Kondisi di atas diperparah dengan kecenderungan merumuskan berbagai masalah dalam kehidupan manusia kepada perubahan-perubahan fisik yang biasanya tidak menyentuh aspek batin bahkan seringkali bertentangan, serta bersifat temporal. Dimensi metafisik dari ilmu pengetahuan menjadi hilang karena yang dikembangkan hanyalah ilmu yang bersifat praktis dan dapat diukur dalam kerangka ilmiah yang diciptakan berdasarkan kebutuhan praktis manusia dengan mengabaikan aspek moralitas dan nilai. Peradaban modern yang d bangun oleh manusia selama ini tidak menyertakan hal paling esensial dalam kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual, seolah dunia ini tidak memiliki sisi transendental . Dalam kondisi seperti inilah, tradisionalisme Islam yang digagas Nasr berusaha mengaktualisasikan kembali nilai-nilai tradisional, termasuk yang terkait dengan hakikat manusia. Dalam penyusunan artikel jurnal ini, penulis melihat banyak persoalan yang harus dijawab yang salah satunya ialah pengaruh filosofis dan teologis dalam konsep manusia . dalam perspektif Islam. Oleh karena itu dengan dikemukakannya dua persoalan mendasar tersebut, penulis merasa perlu meneliti lebih dalam mengenai konsep manusia dalam perspektif Islam. Berkaitan dengan ini penulis menyusun laporan penelitian dengan judul AuOntologi Manusia dalam Perspektif Sayyed Hussen Nasr dan Relevansinya pada pembentukan Moralitas Kepemimpinan BangsaAy. Metode Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yang dimaksud dengan penelitian kepustakaan menurut Hermawan Warsito ialah: suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur dari perpustakaan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan analisis. Yakni, penelitian yang bermaksud menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai objek yang ada, kemudian penulis analisis. Dalam penelitian ini akan digambarkan tentang dimensi Ontologi Manusia kemudian akan dianalisis dalam perspektif Islam dan Relevansinya bagi Moralitas kepemimpinan bangsa. Pembahasan Sesuai dengan ide Tradisionalisme Islam yang dibawanya. Nasr selalu mengaitkan setiap pembahasannya dengan teks-teks Alquran dan Hadits. Manusia menurut Nasr didefinisikan dalam hubungannya dengan Tuhan, tanggung jawab dan hak-hak manusia dirumuskan dari hubungan tersebut. Form atau bentuk manusia merupakan refleksi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Tuhan. Refleksi Sifat Tuhan dalam diri manusia ini sebagaimana cermin yang merefleksikan cahaya matahari. 18 Hermawan Warsito. Pengantar Metodelogi Penelitian (Jakarta: Gramedia Utama, 1. , 10. 19 Seyyed Hossein Nasr. The Heart Of Islam: Enduring Values for Humanity, terj. Nurasiah Fakih Sutan Harahap dengan judul The Heart Of Islam: Pesan-Pesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan (Bandung: Mizan, 2. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A Nasr berpijak pada term penciptaan manusia dalam Alquran, di mana dijelaskan bahwa pada mulanya manusia diciptakan dari tanah liat, dan kemudian Allah meniupkan Ruh-Nya ke dalamnya sebagaimana dalam Surah al-Hijr ayat 28-29: a aE acE EaeEIE aE a A A a a a acOOeN aOIa aA e AaeO aN aI eIA oAA sE aaI eI aas acI eI eO sIA a AA eEA a AcI aEC a aU aI eIA a a a a aO e CA ea )29-28 :15/A ( EA AaceO a eO Aa aC eO EaN a aOe aIA Artinya: (Ingatla. ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat. AuSesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan . -nya dan telah meniupkan roh . -Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud. Ay Pengaruh sufisme Ibnu AoArabi tampak jelas dalam pemikiran Nasr, ia menegaskan bahwa menurut Islam, tujuan kemunculan manusia di dunia adalah untuk memperoleh pengetahuan total tentang benda, untuk menjadi Manusia Universal . l-insan al-kami. , yaitu cermin yang memantulkan semua Nama dan Sifat Allah. Bagi Tuhan, maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk AumengetahuiAy diri-Nya melalui instrumen pengetahuanNya yang sempurna, yakni Manusia Universal. Dalam membahas kejadian manusia. Nasr membandingkan konsep Islam dan agama-agama lain terutama Kristen dan Yahudi. Nasr menyimpulkan adanya kesamaan konsep dalam setiap agama dan tradisi tentang kejadian manusia terutama dalam hal adanya aspek Ketuhanan dalam diri manusia, sesuatu yang merupakan pancaran dunia spiritual. Kejadian manusia, menurut semua tradisi, terjadi dalam banyak tahap: pertama, dalam Tuhan itu sendiri, sehingga terdapat suatu AuaspekAy manusia yang tidak diciptakan. Itulah mengapa manusia dapat memperoleh pengalaman an-nihilisasi dalam Tuhan subsistensi dalam Dirinya . l-fana dan al-baqa pada sufis. dan mencapai penyatuan puncak. Kemudian manusia dilahirkan dalam logos yang merupakan kenyataan prototipe manusia dan wajah lain dari realitas yang sama, orang Islam menyebutnya dengan Manusia Universal dan masing-masing tradisi mengidentifikasikan dengan pendirinya. Kemudian manusia diciptakan dalam level kosmik dan apa yang dinyatakan Bible sebagai makhluk surgawi, di mana dia dikenakan dengan tubuh bercahaya yang sesuai dengan keadaan surga tersebut. Dia kemudian turun ke level taman terestrial 21 dan dikenakan tubuh lain dari alam yang sangat halus dan tidak dapat disuapi. Akhirnya dia dilahirkan ke dunia fisik dengan tubuh yang binasa tetapi mempunyai landasan dalam tubuh-tubuh yang halus dan berkilau, termasuk tahap-tahap awal elaborasi manusia dan kejadiannya sebelum kemunculannya di Fase pertama penciptaan manusia menurut Nasr adalah ketika manusia diturunkan dari ruh yang merupakan milik Allah, dengan demikian terdapat dimensi Ketuhanan dalam diri manusia, sebagaimana dijelaskan dalam ayat Alquran di atas. Di sini Nasr berusaha menegaskan bahwa ruh manusia bukanlah ciptaan Allah, karena dalam berbagai ayat 20 Seyyed Hossein Nasr. The Encounter Man and Nature, terj. Ali Noer Zaman dengan judul Antara Tuhan. Manusia dan Alam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2. , 115-116. 21 Seyyed Hossein Nasr. Terestrial adalah kata sifat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang hidup dari atau di bumi . f or living on the lan. , lihat Martin H. Manser. Oxford LearnerAos Pocket Dictionary, (New York: Oxford University Press, 1. , h. Nasr menggunakan istilah ini untuk menunjukkan manusia yang hidup di bumi dengan segala tanggung jawabnya atas tindakannya sebagai penjaga dan pelindung bumi, lihat Seyyed Hossein Nasr. The Knowledge and The Sacred , terj. Suharsono, et. dengan judul Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama (Depok: Inisiasi Press, 2. 22 Ibid. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan tentang kejadian manusia, selalu dijelaskan bahwa Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad manusia, artinya, menurut Nasr, jasad manusia diciptakan dan kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad tersebut sebagai karunia yang menunjukkan kedudukan tertentu yang dimiliki manusia. Akan tetapi. Nasr menegaskan bahwa konsep ini tidak mengubah Tuhan menjadi manusia atau sebaliknya, juga tidak ada kemungkinan inkarnasi dimensi ke-Tuhanan dan kemanusiaan dalam diri manusia, melainkan menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung dalam dirinya. Allah dengan sengaja menciptakan manusia sebagai cermin yang memantulkan Nama dan Sifat- Nya, tegasnya ada sesuatu yang suci dalam diri manusia. Fase kedua dalam penciptaan manusia adalah ketika ia diciptakan sebagai logos yang menjadi prototipe semua manusia dan segala ciptaan, dalam Islam logos, tegas Nasr, adalah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad, sebagai pembawa Islam, merupakan Nabi terakhir yang diutus Allah ke dunia, meskipun seluruh nabi dalam Islam memiliki aspek logos tersebut, akan tetapi menurut Nasr. Hakikat Muhammad yang menjadi ciptaan Allah yang pertama Ae konsep yang sama dengan konsep Nur Muhammad dalam tasawuf Ae sehingga secara batin beliau datang sebelum nabi yang lain pada awal siklus kenabian dan sebagai perwujudan penuh dari sifat kemanusiaan yang sempurna. Muhammad adalah Manusia Universal . l-insan al-kami. , dan aspek batinnya merupakan logos. Fase ketiga dalam kejadian manusia adalah manusia dalam level kosmik, yaitu Nabi Adam sebagai penghuni surga sebelum kejatuhan yang dialaminya sehingga diturunkan ke bumi dan selanjutnya menjadi manusia terestrial. Fase keempat kejadian manusia adalah setelah diturunkan ke bumi, di mana manusia tidak lagi berada dalam level kosmik, tetapi telah berpindah ke dunia fisik. Pada fase ini manusia melengkapi penciptaan alam sebagai wakil . Tuhan di bumi yang diberi kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu, menundukkan bumi, kekuasaan untuk melakukan kebaikan tetapi di sisi lain juga dapat menimbulkan kerusakan dan kehancuran Beberapa tahap penciptaan manusia menurut Nasr ini menunjukkan adanya penurunan derajat manusia dari manusia yang sepenuhnya mencerminkan Sifat-Sifat Allah. Nasr mengistilahkannya dengan Manusia Universal Ae hingga menjadi manusia terestrial yang menghuni bumi. Penurunan derajat manusia yang disebabkan kejatuhannya setelah melanggar larangan Allah di surga ini membawa manusia ke dunia fisik sebagai hukuman atas pelanggaran tersebut. Meski kejatuhan manusia merupakan hukuman, tetapi Allah tetap memberikan kelebihan kepada manusia dengan eksistensinya sebagai wakil-Nya untuk menjalankan semua kehendak-Nya di muka bumi. Keunikan eksistensi manusia ini menurut Nasr terkandung pada perjanjian pra eternal . antara manusia dengan Allah SWT. Perjanjian yang terjadi sebelum kelahiran manusia ini menimbulkan amanah bagi manusia sebagai makhluk yang berakal dan bebas, dengan segala keuntungan dan bahaya yang terkandung di dalamnya. Amanah yang diberikan Allah ini di dalamnya mengandung pengakuan terhadap Keesaan Allah dan tindakan-tindakan ibadah dan pelayanan. Menerima perjanjian tersebut berarti menerima untuk menyembah dan melayani-Nya. Fungsi akal menurut Nasr, pada pokoknya adalah untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, sebagaimana salah satu arti dari akar kata tersebut yaitu AuikatanAy karena itu dalam Alquran Allah menyebutkan orang-orang yang mengingkari-Nya sebagai orang-orang 23 Seyyed Hossein Nasr. Ideals and Realities of Islam, terj. Abdurrahman Wahid dan Hashim Wahid dengan judul Islam dalam Cita dan Fakta (Jakarta: LEPPENAS, 1. , 4 dan 177. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A yang tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik . a yaAoqilunA. Alquran sangat menekankan bahwa keruntuhan iman tidak disebabkan oleh kehendak buruk manusia, melainkan karena penyalahgunaan akal. Adapun mengenai kebebasan berkehendak, menurut Nasr manusia hendaknya menyandarkan kehendaknya kepada kehendak Allah, karena hanya dengan cara inilah manusia mampu mengarahkan hidupnya menuju kebahagiaan dalam kehidupan dunia maupun sesudahnya. Akhirnya Nasr menegaskan bahwa kejatuhan manusia dari Manusia Primordial yang menghuni surga menjadi Manusia Terestrial di bumi ternyata tidak serta merta menurunkan derajat manusia secara penuh karena keberadaan manusia sebagai khalifah dan perjanjiannya dengan Allah menjadikan manusia sebagai makhluk sentral di alam semesta yang dapat diketahuinya secara lengkap, jika ia dapat memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan kepadanya, dengan bantuan kosmos, ia dapat menggapai keadaan yang lebih mulia dibandingkan apa yang ia peroleh sebelum kejatuhannya. Hubungan manusia dengan Tuhan menurut Nasr tergambar dengan jelas dalam dalam ayat 56 Surah adz-Dzariyat: a ae AOI Ea eCA )56 :51/A ( E aOAu A aaceE EaOa e eO aIA a aa a eAeE acI aOeEIA Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Perintah penyembahan dalam ayat tersebut, menurut Nasr menegaskan bahwa manusia secara mutlak merupakan hamba Tuhan. Ini juga menunjukkan bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia dalam Islam adalah agar manusia beribadah dan melayani Tuhan. Konsekuensi dari penghambaan manusia ini adalah perlunya kehidupan beragama. Hubungan manusia dengan Tuhan berada pada titik pusat setiap agama, yang merupakan jalan bagi manusia untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Agama juga merupakan motivasi dalam melakukan suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai unsur kesucian serta ketaatan. Keterkaitan ini akan memberikan pengaruh diri seseorang untuk berbuat sesuatu, yang mana dalam melakukan tindakan, seseorang akan terikat kepada ketentuan antara mana yang boleh dan mana yang tidak boleh menurut ajaran agama yang dianutnya dan menjadi kepercayaannya. Secara biologis manusia mempunyai beberapa unsur antara lain: mineral termasuk didalamnya materi yang mengandung atom dengan segala dayanya, tumbuh-tumbuhan yaitu daya nabati antara lain makan . , tumbuh . , dan berkembang biak . , unsur hewan yang yaitu penginderaan . ense perceptio. dan gerak . Disamping itu yang pasti dan harus dimiliki oleh manusia yaitu jiwa . insani yang di sinilah terletak intelektualitas, moralitas, dan rasa seni. Ruhani adalah yang mengendalikan, dan memberikan visi dan nilai bimbingan-bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani, dan Dari sini dapat di lihat bahwa manusia merupakan puncak evolusi yaitu manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan penuh. Namun dari aspek spiritual manusia akan mencapai puncak evolusi ketika ia telah mencapai kesatuan dengan Tuhan. Peringkat manusia sebagai makhluk terbaik, termulia dengan kualitas fisik dan psikisnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu anatara lain: agar manusia menjadi hamba . -Nya yang baik, sekaligus menjadi khalifah-Nya di muka bumi, serta bertanggung jawab terhadap apa yang diperbatnya selama hidup di dunia Dalam kitabal-Insan al-Kamil fi MaAorifat al-Awakhir wa al-Awa'il, al-Jili mengidentifikasi insan kamil dalam dua pengertian. Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak yaitu Tuhan. Kedua, insan kamil yang jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-safat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Konsep insan kamil atau bentuk manusia tradisional mengilhami Seyyed Hossein Nasr untuk mengarahkan manusia ke bentuk sempurnanya sebagai manusia yang hakiki. Manusia yang menyadari keberadaannya sebagai makhluk Tuhan sekaligus bagian tak terpisahkan dari tatanan kosmik. Situasi manusia sebagai jembatan antara surga dan bumi direfleksikan dalam seluruh keberadaan dan seluruh kemampuannya. Manusia adalah dirinya sendiri, keberadaan alamiah secara supra natural. Ketika dia berjalan-jalan di muka bumi, pada satu sisi dia muncul sebagai makhluk bumi. pada sisi yang lain, dia merupakan keberadaan surgawi yang turun ke keberadaan duniawi. Sebaliknya, memori, pembicaraan dan imajinasinya ikut serta seketika itu juga dari beberapa tatanan realitas. Sebagian besar dari inteligensinya merupakan kemampuan alamiah yang bersifat supranatural. Islam tradisional memandang manusia bukan sebagai makhluk yang terpenjara oleh akal dalam arti rasio semata sebagaimana yang dipahami pada zaman renaisans, tetapi sebagai makhluk yang suci, yang tak lain adalah manusia tradisional. Manusia suci, menurut Nasr, hidup di dunia yang mempunyai asal maupun pusat. Dia hidup dalam kesadaran penuh sejak asal yang mengandung kesempurnaannya sendiri dan berusaha untuk menyamai, memiliki kembali, dan mentransmisikan kesucian awal dan keutuhannya. Sejauh doktrin tradisional tentang manusia diperhatikan, hal itu didasarkan pada konsep manusia primordial sebagai sumber kemanusiaan, refleksi total dan lengkap mengenai Illahi dan realitas pola dasar yang mengandung posibilitas-posibilitas eksistensi kosmik itu sendiri. Signifikasi Islam tradisional dapat pula dipahami dalam sinaran sikapnya terhadap fase Islam. Islam Tradisional menerima al-QurAoan sebagai kalam Tuhan baik kandungan maupun bentuknya: sebagai persoalan duniawi abadi kalam Tuhan, yang taktercipta dan tanpa asal-usul temporal. Islam tradisional juga menerima komentar-komentar tradisional atas QurAyang berkisar dari komentar-komentar yang linguistik dan historikal hingga yang spritual dan metafisikal. Dalam pandangan Nasr, manusia dalam bentuk primordialnya atau tingkatan paling alaminya, sebelum ia terkontaminasi oleh paham-paham modernis memiliki setidaknya tiga aspek fundamental. Yakni realitasnya sebagai bagian dari alam semesta, meliputi posisi biologisnya sebagai manusia, yang kedua adalah medium atau perantara bagi pesan-pesan ilahi atau penterjemah wahyu, dan yang terakhir adalah manusia sebagai perwujudan sempurna bagi kehidupan spiritual. Beberapa hal di atas, dalam pandangan Nasr tidak benar-benar terejewantahkan dalam perspektif manusia modern. Barat dengan segenap kemajuannya mengambil sebagian dan membuang sebagian dari keseluruhan bentuk primordial ini. Untuk itu, manusia, khususnya umat Islam perlu kembali menengok konsep Insan Kamil, sebagai bentuk dari primordialisme yang patut dijadikan acuan. Kondisi manusia modern sekarang ini, menurut Nasr karena mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar yang bersifat spiritual, maka mereka tidak dapat menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak adanya keseimbangan dalam diri manusia itu. Keadaan ini akan semakin akut apabila tekanan pada kebutuhan materi kian meningkat sehingga keseimbangan akan semakin rusak. Masyarakat Barat sejak renaissance merasa asyik bergelut dengan problema empiris yang diistilahkan Nasr sebagai masyarakat yang hanya menekuni dimensi luar yang senantiasa berubah, bukannya menguak hakikat manusia yang lebih dalam tentang keberadaan manusia di alam ini. Hancurnya pandangan suci manusia dan alam semesta ini. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A sama dengan hancurnya aspek-aspek kemanusiaan dan alam yang tidak dapat berubah. Ilmu sekuler tidak akan dapat memperlihatkan eksistensinya tanpa harus terlibat dalam proses perubahan dan menjadi secara utuh. Manusia sebagaimana yang diutarakan Nasr, memiliki tiga unsur yaitu jasmani, jiwa dan intelek. Yang terakhir itu berada di atas dan di pusat eksistensi manusia. Esensi manusia atau hal yang esensial dari sifat manusia hanya dapat dipahami oleh intelek . ata Begitu mata hati tertutup, dan kesanggupan intelek dalam pengertiannya yang sedia kala mengalami kemandekan, maka tidak akan mungkin mencapai pengetahuan yang esensial tentang hakikat manusia. Manusia untuk dapat mencapai tingkat eksistensinya, harus mengadakan pendakian spiritual yang melatih ketajaman intelektualitas. Menurut Nasr, pengetahuan fragmentaris tidak dapat digunakan untuk melihat realitas yang utuh, kecuali jika ia memiliki visi intelektualitas tentang yang utuh tadi. Manusia dapat mengetahui dirinya secara sempurna hanya bila ia mendapat bantuan ilmu Tuhan, karena keberadaan yang relatif hanya akan berarti bila dikaitkan pada yang absolut. Intelek yang dikehendaki oleh Nasr adalah sebuah akumulasi dari kecerdasan otak dan mata hati. Kedua-duanya akan mencapai tingkat sempurnanya jika bersamaan difungsikan, bukan sebagiannya saja. Jika Barat hanya menggunakan rasionalisme semata dan memarginalkan mata hati, maka intelektualitas dalam pengertiannya yang sempurna tidak akan pernah benar-benar mereka gapai. Intelektualitas semacam ini tidak akan pernah tercapai tanpa keterlibatan Tuhan. Orang dapat melihat realitas lebih utuh apabila ia berada pada titik ketinggian dan titik pusat, sebab Yang Maha Tinggi saja yang dapat memahami yang lebih rendah. Manusia atau dalam bahasa Arab Al Nas atau Al Insan menurut ajaran agama Islam adalah makhluk terbaik (QS. 4, 17:. yang diciptakan Allah. Ia merupakan makhluk termulia dibandingkan makhluk atau wujud lain yang terdapat di jagat raya ini. Allah SWT mengaruniakan suatu kualitas keutamaan kepada manusia sebaga pembeda dengan makhluk lain, dengan keutamaan itulah manusia berhak mendapat penghormatan dan pada makhluk Sebagai makhluk utama dan ciptaan Tuhan yang terbaik, manusia diberi tugas menjadi khalifah atau waki Tuhan di muka bumi (QS. Manusia AuditumbuhkanAy dari bumi dan diserahi tugas untuk memakmurkannya (QS. Manusia merupakan pemeran utama dan menempati peran strategis dalam proses kehidupan, baik sebagai subjek maupun objek. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hakikat manusia dalam konteks moralitas adalah suatu keniscayaan yang bersifat fundamental yang akan menentukan sistem sosial itu sendiri, mulai dari tujuan hidup, perbedaan dan etika atau moralitas sebagai manusia dalam kedudukan tertinggi dan lain-lain. Setiap manusia dalam hidupnya pasti mengalami perubahan atau perkembangan, baik perubahan yang bersifat nyata atau yang menyangkut perubahan fisik, maupun perubahan yang bersifat abstrak atau perubahan yang berhubungan dengan aspek Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam manusia . atau yang berasal dari luar . Faktor-faktor itulah yang akan menentukan apakah proses perubahan manusia mengarah pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya mengarah pada perubahan yang bersifat negative. Termasuk yang didalam kode moralitas politik di Indonesia dan tertuang dalam naskah kode moralitas politisi dan partai politik mempunyai relevansi atau titik temu dengan moralitas politik dalam Islam, hal tersebut bisa dilihat dari keteladanan yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. yakni dengan spririt tiga pilar paradigma profetik IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan seperti humanisasi, liberasi, dan transendensi, dan hal tersebut bisa dilihat dalam berbagai prinsip kode moralitas kepemimpinan politik, sebagai berikut. Pertama, prinsip kemaslahatan publik. prinsip ini sama dengan ajran Islam yang berupa menjaga persaudaraan antara manusia . khuwah insaniya. A O uIIOAdan solidaritas kemanusiaan . a'awun insan. AOI uIOIA. Kedua, prinsip kejujuran. Prinsip ini sejalan dengan semangat ajaran sosial profetik dalam Islam yang berupa manifestasi sifat shiddiq. Ketiga, prinsip integritas dan profesionalisme sejalan dengan ajaran Islam, yakni khaira ummah,AIA AOA keadilan, musyawarah, ulul albab, imamah, tauhid yang membebaskan. Keempat, prinsip Prinsip ini jugaa sama dengan karakter yang dimiliki Nabi Muhammad saw. yakni sifat dapat dipercaya . AEIIA atau bertanggung jawab dalam segala aspek kehidupan, baik agama maupun politik. Kelima, prinsip keadilan. Prinsip ini merupakan prinsip yang senafas dengan ajaran universal Islam yang berupa perintah untuk menegakkan keadilan . l-Aoadyla. A EEAdi muka bumi. Dengan ditemukannya nilai-nilai sosial profetik pada pelbagai prinsip kode moralitas kepemimpinan Bangsa yang termatub dalam naskah kode moralitas politisi dan partai politik di Indonesia, maka dapat menunjukan bahwa paradigma yang dibangun dalam kode moralitas politisi dan partai politik tersebut sejalan nilai-nilai sosial dalam ajaran Islam. Islam sendiri tidak hanya bisa dipahami sebagai hal yang profan, tapi Islam sangat terintegrasi pada kehidupan sosial, budaya, hukum, etika, kepemimpinan, pemerintahan dan politik Islam. Kita bisa memahami terlebih dahulu apa itu moralitas kepemimpinan, etika kepemimpinan yaitu dua hal yang berbeda yakni etika dan kepemimpinan. Kepemimpinan yang transformasional mempunyai implikasi etika ketika para pemimpin mengubah cara pikir dari pengikutnya. Kharisma termasuk juga dalam komponen etika. Pemimpin yang tidak etis akan menggunakan kharisma mereka dalam meningkatkan kekuasaannya atas para pengikutnya, mengarahkan untuk melayani dirinya sendiri hingga akhir. Pemimpin yang memperlakukan para pengikutnya dengan adil seperti dengan memberikan kejujuran, sering bersilaturahmi dan memberikan informasi yang akurat maka hal tersebut terlihat menjadi lebih efektif. Pada dewasa ini praktek sekularisasi politik, pragmatis sekuler hingga hidup yang hedonis tidak bisa dielakkan oleh banyak pejabat di negeri ini sebagaimana berita seperti mengenai flexing atau yang sering dikenal dengan kata pamer yang dilakukan untuk mencapai tujuan berupa menunjukkan status sosial, dan kedudukan martabat. Banyak sekali fenomena yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi? Bukankah mereka merupakan orangorang yang terpilih untuk menduduki jabatan publik, yang pasti mereka telah dibekali seperangkat sistem nilai atau prosedur bagaimana untuk menjalankan tugas negara. Pertanyaan tersebut dapat diperdalam lagi, seperti bagaimana sistem nilai atau prosedur yang dapat disebut sebagai nilai moralitas bagi para pejabat publik. Bagaimana etika menjelaskan hubungan pejabat publik dengan masyarakat. Hal Ini sekedar reflektif kritis atas dari dalam perkembangan penyelenggaraan negara yang memunculkan kepentingan pribadi daripada kepentingan Bangsa dan Negara. Akan tetapi, betapapun adanya fenomena moralitas kepimpinan hanya di pahami ruang kosong bagi beberapa pejabat negara dalam penyelenggaraan pemerintahan, kita harus tetap 24 Abdul Aziz dan Gesit Yudha. AuPEMIKIRAN ABU AL-AAoLA AL-MAWDUDI DAN RELEVANSI BAGI ETIKA KEPEMIMPINAN,Ay Jurnal Tapis : Teropong Aspirasi Politik Islam 19, no. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN: 2655-6952 Jurnal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 6. No. November 2023, pp. Ontologi Manusia Perspektif A optimis, karena optimisme merupakan energi untuk mencari solusi. Kita harus menyadari bahwa yang kita lakukan selama ini adalah berada pada wilayah yang dangkal. Oleh karena itu kita harus berani menyodorkan sesuatu yang penuh kedalaman. Dengan mewujudkan pemerintahan yang bersih, maka ketimpangan-ketimpangan dalam roda pemerintahan dapat ditekan dan mencerminkan negara demokratis, yang berarti mencerminkan kepentingan rakyat melalui cara-cara jujur, adil, dan bebas . anpa tekana. Sebagai negara yang demokratis berpedoman pada moralitas yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintahan yang bersih adalah kemestian dalam negara demokrasi, komitmen etika politik sebagai kesepakatan dalam penyelenggaraan pemerintahan kedepannya. maka dari itu dalam upaya mereduksi moralitas kepemimpinan Bangsa mencakup prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai keluhuran yang dapat memengaruhi tata kelola pemerintahan dan kebijakan publik. perlukan Langkah-langkah konkret dan mendalam, antara lain: Prinsip Keadilan: Salah satu nilai utama dalam Islam adalah keadilan. Moralitas kepemimpinan Bangsa menekankan perlunya menghormati hak asasi manusia, merawat kebutuhan masyarakat yang kurang beruntung, dan memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak merugikan kelompokkelompok tertentu. Keadilan sosial merupakan aspek penting dalam good governance. Transparansi dan Akuntabilitas: Moralitas kepemimpinan Bangsa juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan. Islam menekankan pentingnya kejujuran, menghindari korupsi, dan memastikan bahwa para pemimpin bertanggung jawab atas tindakannya. Menurut Azumardi Azra di dalam diri manusia ada peran internal yang pada dasarnya merupakan makhluk Teomorfis Artinya, dibalik kelemahan dan keterbatasanya manusia mempunyai sesuatu dalam drinya yakni sifat-sifat Ketuhanan. Hal ini tidak berarti pemanusiaan . Tuhan, karena Zat Tuhan tetap kekal. Berbeda dengan manusia yang berubah dan tidak abadi. Bahkan, menurut Nasr dalam tradisi Tuhan menciptakan Adam, manusia pertama itu merupakan cerminan yang memantulkan nama dan sifatnya secara sadar. Ada sesuatu yang suci . didalam diri manusia. Keadaan manusia seperti itulah yang memungkinkan menjadi lebih mulia dari malaikat. Bahkan sampai batas-batas tertentu ia dapat mempunyai sifat ketuhanan dalam kadar yang tinggi. Sebaliknya, pada saat yang sama pula dengan sifat kem'anusiaannya yang dipengaruhi hawa nafsu ia dapat menjadi iblis dan lebih hina daripada binatang. Bahwa secara tidak langsung konsep hakikat manusia dalam relevansinya moralitas Kepemimpinan Bangsa yakni sejatinya manusia memiliki keterkaitan dengan sifat ketuhanan dan memberikan pengarahan kepada moralitas dengan intuisinya mampu menerima pesan illahi karena itulah akan timbul wujud bersikap kemanusiaan dan beradab sesuai pengamalan pancasila sebagai ideologi Bangsa. Kemanusiaan dalam sila kedua memiliki tema yang sangat luas. Hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain didunia ini, disadari oleh kemanusiaan Indonesia yang khas ini, dalam kaitannya dengan pembangunan dan perdamaian di dunia haruslah diakui bahwa pada hakikatnya semua bangsa di dunia memiliki hak untuk membangun yaitu untuk memanfaatkan sumber alam dan kemanusiaan secara bebas untuk maju dan hidup bermartabat untuk mencapai kesejahteraan social ekonomi secara menyeluruh. Konsep tentang manusia dan relevansinya bagi moralitas telah diperkenalkan oleh tokoh Confusianisme anatara lain: Mencius dikenal dengan pendapatnya bahwa kodrat manusia itu baik dan sejak lahir manusia telah dikarunia oleh Sang Pencipta benih-benih kebajikan yang terdiri dari jen . , yi . , li . opan santu. , dan chi . Kodrat manusia itu hendaknya dikembangkan sedemikian rupa sehingga manusia dapat memiliki budi pekerti yang luhur dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Gesit Yudha. Agus Hermanto. Andi Hermawan Negara yaitu untuk menjadi manusia Chun Tzu. Tujuan ini bisa dicapai melalui pendidikan Kesimpulan Sayyed Huseen Nasr selalu mengaitkan setiap pembahasannya dengan teks-teks Alquran dan Hadits. Nasr menyimpulkan adanya kesamaan konsep dalam setiap agama dan tradisi tentang kejadian manusia terutama dalam hal adanya aspek Ketuhanan dalam diri manusia, sesuatu yang merupakan pancaran dunia spiritual. Nasr membagi penciptaan manusia dengan empat fase, ang mana dari eberapa tahap penciptaan manusia menurut Nasr ini menunjukkan adanya penurunan derajat manusia dari manusia yang sepenuhnya mencerminkan Sifat-Sifat Allah hingga menjadi manusia terestrial yang menghuni bumi. Manusia sebagaimana yang diutarakan Nasr, memiliki tiga unsur yaitu jasmani, jiwa dan Intelek yang dikehendaki oleh Nasr adalah sebuah akumulasi dari kecerdasan otak dan mata hati. Secara tidak langsung konsep hakikat manusia dalam relevansinya moralitas Kepemimpinan Bangsa yakni sejatinya manusia memiliki keterkaitan dengan sifat ketuhanan dan memberikan pengarahan kepada moralitas dengan intuisinya mampu menerima pesan illahi karena itulah akan timbul wujud bersikap kemanusiaan dan beradab sesuai pengamalan pancasila sebagai ideologi Bangsa sehingga terwujud pelaksanaan dalam penyelenggaraan negara berasas negara hukum bukan berdasarkan negara kuasa. Daftar Pustaka