PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. STRATEGI GURU DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI PADA PEMBELAJARAN IPAS DI SDN TELUK TIRAM 1 Vidianata Al-Qibthia. Ahmad Suriansyah. Arta Mulya Budi Harsono Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Informasi Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 11-11-2025 Direvisi: 28-12-2025 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: IPAS Sekolah Dasar Strategi Guru ABSTRAK Strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS memiliki peran penting dalam mencapai tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang diterapkan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS di sekolah dasar, mengidentifikasi dampaknya terhadap siswa, serta mengkaji tantangan beserta solusi yang dihadapi guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian meliputi guru kelas VI dan siswa kelas VI di SDN Teluk Tiram 1. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses pembelajaran di kelas dan wawancara dengan guru untuk memperoleh data yang mendalam dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran, seperti penggunaan media konkret dan penguatan pemahaman melalui diskusi. Keberhasilan strategi tersebut dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta kesiapan perangkat pembelajaran. Tantangan yang ditemukan antara lain keterpaduan materi IPA dan IPS yang belum optimal serta keterbatasan materi IPAS dalam buku siswa. Namun, guru berupaya mengatasi kendala tersebut dengan mengembangkan media tambahan dan menyesuaikan metode pembelajaran. Secara keseluruhan, strategi pembelajaran yang direncanakan secara sistematis terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS dan memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik pembelajaran IPAS di sekolah dasar. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Vidianata Al-Qibthia Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Jl. Brigjend H. Hasan Basri No. Pangeran. Kec. Banjarmasin Utara. Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan 70123 Email: vidianataalqibthia@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan ialah inti utama untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas, hingga mampu menghadapi tantangan zaman. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan, mengemukakan bahwa Aupendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaraAy (Butar et al. , 2. Pada ruang lingkup pendidikan Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 sekolah dasar, kondisi ideal saat proses pembelajaran adalah saat siswa mampu mengembangkan kompetensi berpikir kritis, logis, kreatif, dan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Salah satu mata pelajaran yang mendukung tujuan tersebut adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), supaya siswa dapat menangkap maksud kaitan keterkaitan manusia serta lingkungannya. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) termasuk wujud pengembangan kurikulum, di mana mengabungkn IPA dan IPS menjadi sebuah tema didalam pembelajaran. IPAS mengintegrasikan konsep-konsep sains, sosial, lingkungan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Olfah & Purwanti, . Pembelajaran IPAS memiliki landasan yang kuat karena berkontribusi dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Melalui IPAS, siswa diupayakan supaya memperluas rasa keingintahuannya terhadap sejumlah peristiwa di lingkungan sekitarannya. Rasa keingintahuan tersebut menjadi pemicu penting teruntuk mereka guna mengerti cara manusia berinteraksi dan menjalani kehidupan di bumi. Anggita et al. , . menambahkan bahwa pembelajaran IPAS memfasilitasi siswa untuk melihat keterkaitan antara lingkungan alam dan kehidupan sosial melalui penyajian materi yang terintegrasi, meliputi aspek alam, teknologi, serta sosial. Melalui pendekatan yang menyatu ini, siswa tidak hanya memperkuat pemahaman ilmiahnya, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Pada pelaksanaan pembelajaran IPAS terdapat beberapa kondisi ideal pada pelaksanaan proses belajar mengajar tersebut, yaitu menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif didalam kelas supaya pembelajaran bukan semata-mata terpusat pada gurunya semata, siswa dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep IPAS yang bermanfaat serta dapat diimplementasikan didalam aktivitas hariannya, dan memiliki kapasitas bernalar saat menetapkan kebijakan pada setiap persoalan yang mereka hadapi. Hal ini sejalan dengan Putri & Suriansyah, . bahwa suatu pembelajaran dapat disebut aktif ketika siswa diberi ruang untuk berdiskusi, mengeksplorasi materi, menyampaikan ide atau pendapat, serta menafsirkan hasil kerja bersama dalam kelompok. Dalam kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek menetapkan sejumlah capaian pembelajaran IPAS, yakni: . tumbuhnya rasa ingin tahu yang kuat pada diri siswa. kemampuan untuk berperan dalam memelihara, mengurus, hingga mengelola ekosistem maupun sumber daya alam secara bijak. berkembangnya keterampilan siswa saat mengidentifikasi, merumuskan, dan menuntaskan persoalan lewat penerapan langsung. pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi sosial tempat mereka hidup. keterlibatan siswa dalam menangani berbagai persoalan yang berkaitan dengan diri mereka maupun lingkungan Fakta di lapangan di SDN Teluk Tiram 1 menunjukkan sebagian siswa masih kurang memahami materi pembelajaran IPAS dengan baik. Hal tersebut disebabkan oleh materi dalam buku pelajaran yang bersifat ringkas dan tidak membahas konsep secara mendalam, akibatnya ketika siswa diberikan pertanyaan yang menuntut pemahaman lebih dalam, siswa banyak yang kesulitan dalam menjawab, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPAS belum memenuhi persyarat ideal pelaksanaan pembelajaran IPAS. Beberapa penelitian sebelumnya seperti Fatmawati et al. , . , yang membahas mengenai media ajar berbasis android untuk pembelajaran IPS di tingkat sekolah dasar dan efektif untuk dikembangkan untuk memperbaiki hasil belajar siswa. Ariawan, . , yang membahas tentang keefektifan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam mengoptimalkan kompetensi berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPAS terpadu, serta penelitian dari Anugrah & Astriani, . , yang membahas tentang meningkatnya kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian terdahulu, dapat diidentifikasi adanya kesenjangan penelitian . esearch ga. dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Penelitian sebelumnya umumnya lebih berfokus pada penggunaan media pembelajaran atau penerapan model pembelajaran tertentu, seperti Problem Based Learning, untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun demikian, kajian yang secara khusus menelaah strategi guru secara komprehensif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran IPAS masih terbatas. Selain itu, penelitian terdahulu belum banyak mengungkap bagaimana guru menghadapi tantangan integrasi materi IPA dan IPS serta solusi yang diterapkan dalam konteks pembelajaran nyata di kelas. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara mendalam strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS, termasuk tantangan dan solusi yang dilakukan dalam praktik pembelajaran di sekolah Strategi guru untuk mengoptimalkan capaian pembelajaran siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS perlu segera dikaji efektivitasnya di sekolah dasar, mengingat strategi guru ini sangat penting dikaji agar tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Munawaroh, . bahwa strategi dapat dipahami sebagai kerangka atau panduan umum yang digunakan untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mengingat juga bagaimana guru kesulitan menerapkan strategi yang sesuai, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep IPAS belum optimal. Akibatnya, ketika siswa dihadapkan Qibthia et al. Strategi Guru Dalam . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 dengan soal atau permasalahan yang menuntut pemahaman mendalam, siswa sering mengalami kebingungan dan kesulitan dalam menjawab Penelitian ini memiliki tujuan secara umum untuk menganalisis bagaimana strategi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Adapun tujuan spesifik dari penelitian ini, yaitu bertujuan untuk dapat memahami bagaimana cara guru merancang, menerapkan, dan mengevaluasi stategi pembelajaran yang dapat menambah pemahaman siswa pada pembelajaran IPAS. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Creswell menyatakan bahwa dalam penelitian studi kasus, proses pengumpulan data dilakukan secara intensif karena peneliti berupaya membangun pemahaman yang komprehensif terhadap suatu kasus tertentu. Desain ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk menganalisis fenomena secara mendalam mengenai strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS terpadu di sekolah dasar. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, peneliti dapat mendeskripsikan bagaimana guru merancang, menerapkan, dan mengevaluasi strategi pembelajaran guna meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran IPAS. Partisipan Penelitian ini dilaksanakan di SDN Teluk Tiram 1 Banjarmasin. Lokasi penelitian dipilih karena sekolah tersebut memiliki akreditasi B dan telah menerapkan mata pelajaran IPAS. Partisipan penelitian meliputi guru kelas VI dan siswa kelas VI. Pemilihan partisipan didasarkan pada keterlibatan langsung guru dan siswa dalam proses pembelajaran IPAS di kelas. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti mewawancarai guru dan siswa untuk menggali informasi mengenai strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI, tantangan yang dihadapi guru, solusi yang diterapkan, serta dampak strategi pembelajaran terhadap siswa. Wawancara dilakukan secara terstruktur dengan panduan pertanyaan terbuka yang mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, dengan durasi rekaman 27 menit bersama guru dan 3 menit bersama siswa. Hasil rekaman wawancara kemudian ditranskripsikan. Observasi dilakukan sebanyak satu kali pertemuan dengan menggunakan lembar observasi, di mana peneliti berperan sebagai pengamat nonpartisipan. Selain itu, peneliti mengumpulkan dokumen pendukung berupa hasil belajar siswa dari buku siswa untuk melengkapi data hasil wawancara dan observasi. Analisis Data Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data secara kualitatif sesuai dengan Inayati, et. , al, . bahwa metode pengumpulan data yang diterapkan mencakup observasi, wawancara, serta analisis dokumen. Teknik pengumpulan data ini digunakan agar dapat mencapai tujuan penelitian yaitu dapat menganalisis fenomena secara mendalam tentang bagaimana strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI pada pembelajaran IPAS terpadu di sekolah dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian yang dilakukan di SDN Teluk Tiram 1, muncul tiga komponen utama yaitu . Strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa . Dampak terhadap siswa . Tantangan dan solusi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa Dari hasil wawancara di Kelas VI, guru tidak hanya berfokus pada satu metode dan model pembelajaran. Pada setiap pembelajaran IPAS, guru biasanya menggunakan metode pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran PBL (Problem Based Learnin. , snowball throwing, dengan make a match. Guru juga selalu memikirkan bagaiamana caranya pembelajaran IPAS dapat melekat pada siswa, dengan menggunakan metode selain PBL (Problem Based Learnin. yang dapat digabung dengan make a match atau TGT dengan berbasis permainan. Dengan menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan metode pembelajaran lain seperti Teams Games Tournament (TGT), siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas sehingga suasana kelas dapat berjalan lebih efektif dan Model TGT yang dikemas melalui permainan kuis mendorong siswa untuk berperan aktif dalam kelompoknya, bekerja sama, dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama, sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran meningkat (Bulkis & Anwar, 2. Kombinasi metode ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya terlibat dalam pemecahan masalah, tetapi juga belajar melalui aktivitas permainan edukatif yang menumbuhkan motivasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan Andini et al. , . Guru perlu menyesuaikan dan mengembangkan kembali metode mengajar mereka agar selaras dengan kebutuhan serta karakter setiap siswa, sehingga proses belajar terasa lebih menyenangkan. Mengingat setiap peserta didik memiliki cara belajar yang berbeda, penting bagi guru untuk memahami dan menghargai PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 64 - 70 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 keberagaman tersebut. Melalui berbagai pendekatan, seperti proyek pembelajaran, kerja kelompok, maupun aktivitas permainan edukatif, guru dapat membantu siswanya mengidentifikasi metode pembelajaran yang paling optimal teruntuk dirinya. Dalam wawancara guru menyampaikan : AuPembelajaran IPAS berjalan efektif ketika saya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan dikombinakanasikan dengan model lainnya seperti snowball throwing, make a match, atau permainan TGT. saya juga menggunakan media pembelajaran 3 dimensi atau pop-up book untuk menarik perhatian siswa. Setelah pembelajaran selesai, saya melakukan evaluasi melalui tanya jawab untuk mengetahui keefektifan model permbelajaran yang saya gunakanAy. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa guru selalu mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan seharihari, salah satunya melalui penerapan model PBL(Problem Based Learnin. yang dapat mengoptimalkan tingkat berpikir kritis siswa saat menuntaskan masalah yang berkaitan terhadap kehidupan sehari-hari. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Nur et al. , . bahwa penerapan PBL mampu menjadikan proses belajar lebih menarik bagi siswa, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk melatih kemampuan memecahkan masalah, berpikir secara kritis, dan bekerja kelompok yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat ini juga sejalan dengan Agustin & Adi Winanto, . , yang menyatakan bahwa penerapan model Problem Based Learning secara tepat dalam kondisi tertentu mendorong siswa untuk menggunakan kemampuan penalaran berbasis pengetahuan, memilih serta menyajikan informasi yang relevan dengan situasi nyata. Selain itu, siswa juga mampu memberikan penjelasan yang bersumber dari aktivitas dan hasil diskusi yang mereka lakukan. Penggabungan model ini bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan siswa yang beragam serta karakteristik materi IPAS yang menuntut pemahaman konseptual sekaligus pengalaman langsung dari kegiatan mengamati, mencoba dan menganalisis fenomena di sekitar. Dalam konteks ini, strategi guru dalam pembelajaran IPAS sangat penting untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagaimana dengan pendapat Muliadi & Sudarto, . bahwa strategi pembelajaran berkaitan erat dengan perencanaan atau kebijakan yang disusun untuk mengatur aktivitas belajar mengajar supaya sasaran pembelajaran mampu terealisasi dengan efektif. Strategi pembelajaran yang tepat juga memungkinkan guru untuk dapat mengelola kelas secara efektif, menyajikan materi secara menarik, dan dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi keterlibatan aktif siswa. Guru juga harus dapat mengatur strategi agar siswa dapat lebih memahami pembelajaran IPAS dan lebih antusias saat mengikuti pembelajaran. dengan cara guru perlu mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti metode pembelajaran yang interaktif, pemilihan media yang menarik dan relevan, serta penyusunan kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan pengalaman seharihari. Dimana saat proses pembelajaran berlangsung siswa bukan sekadar menguasai konsep-konsep IPAS secara lebih mendalam, namun sekaligus menunjukkan antusiasme hingga motivasi yang lebih tinggi dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Andini et al. , . bahwa cara guru menyajikan materi di kelas sangat menentukan tingkat ketertarikan dan semangat belajar siswa, yang pada akhirnya turut memengaruhi pencapaian hasil belajar mereka. Maka dari itu guru biasanya menggunakan berbagai metode guna menyita perhatian siswa, satu diantaranya menerapkan media pembelajaran, seperti media berbentuk 3 dimensi, pop up book atau dengan game edukasi yang bertujuan untuk membuat siswa termotivasi mengikuti pembelajaran sehingga pembelajaran dapat tersalurkan dengan baik. Hal tersebut selaras dengan pendapat Hasanah et al. , . yang mengemukakan bahwasanya game edukatif merupakan satu diantara media pembelajaran berbasis permainan yang dirancang untuk merangsang kemampuan berpikir dan meningkatkan konsentrasi siswa melalui penyajian yang menarik dan berbeda. Pendapat ini menunjukkan bahwa games edukasi membuat proses belajar mengajar menjadi menarik dan menyenangkan. Guru selalu mengevaluasi metode ataupun model pembelajaran yang digunakan setelah pembelajaran berakhir contohnya dengan tanya jawab bersama siswa untuk mengetahui keefektifan metode ataupun model yang digunakan. Iskandar & Rasmitadila, . juga menambahkan bahwa penilaian yang dilakukan secara terpadu mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan peserta didik, karena isi yang dinilai dipilih secara bermakna dan disertai tujuan yang dirumuskan dengan jelas. Pendapat ini menegaskan bahwa evaluasi sangat penting dilakukan agar guru dapat mengetahui kekurangan maupun kelebihan yang dapat digunakan untuk pertemuan selanjutnya. Dampak terhadap siswa Penerapan strategi pembelajaran terpadu di kelas VI SDN Teluk Tiram 1 Berdampak baik terhadap hasil belajar siswa. Dalam wawancara guru menyampaikan : AuAlhamdulillah, dari model, media, dan permainan yang berkaitan dengan IPAS yang sudah saya rencanakan di awal, cukup memberi dampak bak pada hasil belajar siswa yang mulai meningkat, dan setelah pembelajaran IPAS berakhir, siswa sering meminta lagi untuk belajar IPASAy. Dan dalam wawancara, siswa juga menyampaikan : AuSaya sangat termotivasi belajar IPAS, karena seru. Saat belajar saya juga aktif bertanya dan Ay Qibthia et al. Strategi Guru Dalam . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 Dampak dari strategi guru tersebut terlihat dari siswa telibat aktif dalam sebuah diskusi maupun tanya jawab yang di berikan guru. Selain itu, kemampuan pemahaman siswa dalam mengaitkan materi dengan peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mulai berkembang, hal itu terlihat ketika siswa diberikan sebuah masalah yang berikaitan dengan IPAS di kehidupan sehari-hari, siswa mmpu menyelsaikan masalah tersebut baik secara individu maupun berkelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahmayanti et al. , . yang mengatakan bahwa Pembelajaran dapat dikatakan aktif ketika siswa banyak bertanya, berani mengemukakan ide, dan mampu menunjukkan kemampuan berpikir kritis. Adapun dampak lainnya juga terlihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal tertulis, yang dimana meningkatnya nilai siswa dari pertemuan awal serta pertemuan selanjutnya. Peningkatan nilai tersebut memperlihatkan bahwa strategi yang diterapkan guru tidak hanya efektif dalam aspek keaktifan dan keterlibatan siswa, tetapi juga berdampak secara langsung dalam hal pemahaman siswa. Pendapat ini juga diperkuat oleh pendapat Susanto dalam Putri. Amanda, & Suriansyah, . yang menyatakan berdasarkan konsep belajar, hasil belajar bisa diartikan selaku berbagai transformasi dalam diri siswa baik dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang muncul sebagai akibat dari proses pembelajaran yang mereka jalani. Dampak terhadap siswa ini juga menunjukkan bahwa meningkatnya hasil belajar siswa disebabkan dari pemilihan strategi pembelajaran yang tepat hingga kompetensi guru didalam menerapkan strategi tersebut supata terciptanya suasana belajar yang efektif. Hal tersebut selaras dengan pendapat Hamalik dalam artikel Khairunnida & Suriansyah, . , yang mengatakan bahwa seorang guru yang profesional akan berupaya semaksimal mungkin agar proses pembelajarannya berjalan dengan sukses. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa salah satu aspek yang berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran ialah bagaimana guru secara konsisten merancang rencana pengajaran secara sistematis agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Tarisna & Suma, . bahwa bahan ajar yang tidak tersusun dengan rapi dapat memengaruhi pencapaian belajar siswa, dan materi yang kurang bervariasi serta tidak menarik sering membuat siswa enggan untuk membacanya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas bahan ajar yang dibuat guru juga memegang peranan penting dalam membangun minat dan motivasi siswa selama proses pembelajaran. Peningkatan hasil belajar siswa ini juga dikarenakan kemampuan guru dalam menimplementasi suatu strategi, model dan media pembelajaran di kelas. Di kelas guru di tuntut untuk mampu menyajikan pembelajaran yang inovatif , guru harus dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif siswa. Sebagaimana dengan pendapat Hakim & Asrani, . yang mengatakan bahwa guru merancang berbagai aktivitas belajar yang kreatif melalui sejumlah persiapan, salah satunya dengan menguasai keterampilan dalam penggunaan komputer dan jaringan untuk mendukung perencanaan pembelajaran. Tantangan dan solusi dalam meningkatkan hasil belajar siswa Guru memiliki tantangan dalam mata pelajaran IPAS. Seperti isi materi IPA dan IPS yang kadang tidak berhubungan, contohnya materi awal membahas benua dan dilanjutkan materi tentang tulang, tantangan selanjutnya materi yang kurang mendalam pada buku siswa. Akan tetapi, guru juga memiliki solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Dalam wawancara guru menyampaikan : AuTantangan dalam pembelajaran IPAS Terpadu adalah materi di buku siswa yang kurang mendalam dan waktu belajar yang singkat. Solusi menghadapi tantangan tersebut, kita harus bisa mencari referensi tambahan serta menggunakan media konkret untuk menambah pemahaman siswa, selain itu untuk waktu yang singkat, kita harus bisa membagi waktu agar materi yang di jelaskan dapat sesuai dengan waktu yang sudah ditentukanAy. Kurangnya materi IPAS pada buku siswa dan waktu pembelajaran yang terbatas menjadi tantangan utama bagi guru dalam menyampaikan materi secara keseluruhan, situasi demikian juga diperkuat oleh Satuti, . , dimana memberikan pernyataan bahwasanya materi pembelajaran di sekolah dasar seringkali kurang rinci dan kurang menyesuaikan dengan konteks lokal, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahaminya. kondisi ini dapat menghambat pemahaman siswa jika tidak dicarikan solusi yang tepat. Oleh karena itu, guru harus mampu menemukan solusi yang efektif untuk menghadapi tantangan tersebut. Salah satu langkah penting yang bisa dilakukan yaitu melalui penyusunan perencanaan terlebih dahulu. Pendapat ini sejalan dengan Binkley dan Jahjouh dalam Khan, et. , al, . mengatakan bahwa perencanaan pembelajaran berfungsi sebagai langkah antisipasi untuk mencegah atau meminimalkan munculnya berbagai masalah yang sebenarnya tidak diperlukan. Melalui perencanaan, guru dapat mengatasi tantangan yang ada seperti mecari referensi sebanyak-banyaknya untuk menambahkan kekuarangan materi pembelajaran IPAS pada buku siswa, memilih strategi yang paling efesien, serta mapu mengelola waktu pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai jadwal. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Anggrella et al. , . bahwa rencana pembelajaran membantu guru dalam mengelola waktu selama proses belajar-mengajar sehingga pembelajaran bisa terlaksana secara efektif sera sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Melalui perencanaan yang sistematis, guru memiliki panduan yang jelas dari tujuan pembelajaran, alur kegiatan, strategi yang guru gunakan serta alokasi waktu dalam pembelajaran. Adapun pendapat dari Kurniasari et al. , . yang mengatakan bahwa PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 64 - 70 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 perencanaan pembelajaran yang dibuat secara sistematis oleh guru IPS memegang peranan krusial dalam mengoptimalkan keefektivitasan aktivitas belajar di kelas, dikarenakan memungkinkan pengelolaan materi, waktu, hingga metode secara lebih tertata sehingga kebutuhan siswa mampu terpenuhi dengan optimal. Perencanaan pembelajaran ini dapat membuat pembelajaran lebih terarah dan tidak melewati batas waktu yang SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran memiliki peran penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran IPAS di sekolah dasar. Guru dituntut untuk mampu menyesuaikan model pembelajaran, mengembangkan media ajar, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan kelas agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Penerapan strategi yang fleksibel dan kreatif, termasuk penggunaan permainan edukatif, mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa serta membantu mereka memahami konsep IPAS secara lebih mendalam tanpa bergantung pada hafalan Dengan demikian, kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran menjadi faktor kunci dalam menciptakan pembelajaran IPAS yang efektif meskipun dengan keterbatasan sarana. Adapun beberapa keterbatasan dari penelitian ini yang perlu diperhatikan yaitu, ruang lingkup penelitian yang hanya melibatkan satu kelas dan berfokus pada mata pelajaran IPAS menyebabkan hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, efektivitas strategi pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kompetensi dan kreativitas guru, keterbatasan waktu pembelajaran, serta perbedaan kesiapan siswa yang belum dikaji secara mendalam. Penelitian ini juga belum mempertimbangkan secara menyeluruh pengaruh faktor eksternal, seperti latar belakang siswa dan ketersediaan sarana prasarana sekolah. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat melibatkan subjek yang lebih luas dan mempertimbangkan berbagai kondisi pendidikan agar temuan yang dihasilkan semakin komprehensif. DAFTAR PUSTAKA