Hasil Penelitian Diserahkan: Mei 2026 / Direvisi: Juni 2026 / Diterima: Juli 2026 Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi p-ISSN: 2716-151X e-ISSN: 2722-869X Kajian Etnobotani Tumbuhan Air sebagai Sumber Pangan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Lokal di Perairan Rawa Ethnobotanical Study of Aquatic Plants as a Food Source to Support Local Food Security in Swamp Waters Alif Afri Diyana Dewi. Rini Pamundhi Bekti*. Dominika Jamiyati Hale Program Studi Budidaya Perairan. Universitas Antakusuma. Pangkalan Bun, 74112. Indonesia *Penulis Koresponden: rinie. pebe@gmail. Abstrak. Perairan rawa Pangkalan Bun memiliki keanekaragaman tumbuhan air yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan guna mendukung ketahanan pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji etnobotani tumbuhan air sebagai sumber pangan dalam mendukung ketahanan pangan lokal di perairan rawa Pangkalan Bun. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara dan dokumentasi. Informan berjumlah 15 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria pemilihan informan yaitu masyarakat sekitar perairan rawa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam jenis tumbuhan air yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan, yaitu kangkung (Ipomea aquatica Forssk. ), genjer (Limnocharis flava (L. ) Buchena. , kelakai (Stenochlaena palustris (Burm. ) Bedd. ), keladi (Colocasia esculenta (L. ) Schot. , pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb. ex Lindl. ) dan selada air (Nasturtium officinale W. Aito. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan meliputi daun, batang muda, pucuk, bunga muda, dan umbi dengan cara pengolahan seperti ditumis, direbus, dijadikan sayur santan, lalapan, maupun bahan tambahan makanan. Hasil analisis indeks etnobotani menunjukkan bahwa kangkung memiliki nilai UV (Use Valu. tertinggi sebesar 2,9 dan RFC (Relative Frequency of Citatio. sebesar 1, yang menunjukkan tingkat pemanfaatan dan tingkat pengenalan yang tinggi oleh masyarakat. Selada air memiliki nilai UV dan RFC terendah, yaitu 0,8. Tumbuhan air memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan lokal karena mudah diperoleh dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif berbasis sumber daya lokal. Kata Kunci: etnobotani. ketahanan_pangan. sumber_pangan. tumbuhan_air Abstract. Pangkalan Bun swamp waters have a diversity of aquatic plants that have the potential to be utilized by the community as a food source to support local food security. This study aims to examine the ethnobotany of aquatic plants as a food source to support local food security in Pangkalan Bun swamp waters. The study used a quantitative descriptive approach through interviews and Fifteen informants were selected using a purposive sampling technique. The informant selection criteria were the community around the swamp waters. The results showed that there were six types of aquatic plants utilized by the community as a food source, namely water spinach (Ipomea aquatic. , genjer (Limnocharis flav. , kelakai (Stenochlaena palustri. , taro (Colocasia esculent. , pandan (Pandanus amaryllifoliu. and watercress (Nasturtium officinal. The plant parts utilized include leaves, young stems, shoots, young flowers, and tubers through processing methods such as stir-frying, boiling, making coconut milk vegetables, fresh vegetables, or food additives. The ethnobotanical index analysis showed that water spinach had the highest UV value of 2. 9 and an RFC of 1, indicating high levels of utilization and recognition by the community. Watercress had the lowest UV and RFC values, at 0. Aquatic plants have significant potential to support local food security because they are readily available and can be utilized as alternative food sources based on local Keywords: ethnobotany. food security. food sources. aquatic plants DOI: 10. 55241/spibio. Pendahuluan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati, yang didukung oleh kekayaan ekosistem serta pengetahuan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam. Dalam kajian etnobotani, interaksi antara manusia dan tumbuhan tidak hanya mencerminkan aspek biologis, tetapi juga nilai budaya dan kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun. Etnobotani mempunyai peranan penting dalam mendokumentasikan pengetahuan tradisional terkait pemanfaatan tumbuhan, termasuk sebagai sumber ketahanan pangan . Ketahanan terjemahan dari food security, yang secara terpenuhinya akses pangan bagi setiap individu sehingga kebutuhan gizinya tercukupi, memungkinkan mereka untuk hidup sehat dan menjalankan aktivitas dengan baik . Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis yang terus menjadi perhatian, baik pada tingkat global maupun lokal. Ketahanan pangan ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga mencakup aspek pemanfaatan sumber daya pangan secara Seiring peningkatan jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan masyarakat, kebutuhan terhadap jenis dan kualitas produk pangan juga makin meningkat dan beragam . Ketergantungan masyarakat terhadap komoditas pangan utama seperti beras menyebabkan sistem pangan menjadi kurang beragam dan rentan terhadap gangguan lingkungan maupun ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan upaya diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal yang potensial dan berkelanjutan. Salah satu kelompok tumbuhan yang memiliki potensi besar namun masih kurang mendapat perhatian adalah tumbuhan air. Ekosistem rawa dan perairan dangkal, seperti yang terdapat di wilayah Pangkalan Bun, menyediakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan air dengan keragaman morfologi dan adaptasi yang tinggi. Penelitian . melaporkan bahwa daerah sungai rawa di Pangkalan Bun memiliki beragam jenis tumbuhan air seperti Ipomoea aquatica. Limnocharis flava, dan Nymphaea alba. Stenochlaena palustris dan yang lainnya memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik dan berpotensi sebagai bahan pangan. Namun demikian, pemanfaatan tumbuhan air sebagai sumber pangan masih bersifat lokal dan belum terdokumentasi secara sistematis, sehingga berisiko hilang seiring berkurangnya pengetahuan tradisional Tantangan semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim global. Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pangan secara kuantitas, tetapi juga keberagaman sumber pangan serta memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan . Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, termasuk pemanfaatan tumbuhan liar seperti tumbuhan air, menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya di wilayah dengan karakteristik ekosistem spesifik seperti Lahan rawa merupakan kawasan yang sepanjang tahun berada dalam kondisi jenuh air atau tergenang . Penelitian yang mengkaji secara khusus hubungan antara pengetahuan pemanfaatan tumbuhan air sebagai sumber pangan masih terbatas, terutama di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Pangkalan Bun. Penelitian terdahulu . menyebutkan terdapat 14 macam sayuran organik di daerah rawa kabupaten Katingan. Gunung Mas, dan Palangkaraya. Penelitian sebelumnya lebih keanekaragaman tumbuhan atau aspek ekologisnya, tanpa mengaitkan secara mendalam dengan kontribusinya terhadap ketahanan pangan lokal. Berdasarkan latar belakang diatas dan penelitian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji etnobotani tumbuhan air sebagai sumber pangan dalam mendukung ketahanan pangan lokal di perairan rawa Pangkalan Bun. Penelitian mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan air yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan, mengetahui indeks etnobotani dan menganalisis potensinya dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Metode Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret - Mei 2026 di 5 kelurahan yang ada di Pangkalan Bun, meliputi: Kelurahan Sidorejo. Kelurahan Madurejo. Kelurahan Mendawai. Kelurahan Kampung Baru dan Kelurahan Tanjung Terantang. Lokasi penelitian dipilih karena 5 kelurahan merupakan daerah sekitar Sungai Arut dan anak sungainya. Berdasarkan kajian Rencana Induk Pembangunan Industri Kabupaten Kotawaringin Barat tahun 2023 wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat disekitar aliran Sungai Kumai. Arut, dan Lamandau mudah tergenang, berawarawa dan merupakan daerah endapan serta bersifat organik dan asam . Menurut Afriani, et. rawa adalah sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang penggenangannya dapat bersifat musiman atau permanen dan ditumbuhi oleh tumbuhan . Peta digital lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1. Gambar 1. Lokasi penelitian limakelurahan di Pangkalan Bun (Sumber: BPS Kotawaringin Barat, 2. Informan Informan dalam penelitian ini terdiri dari 15 informan yang diharapkan dapat memberikan informasi yang relevan. Informan merupakan masyarakat sekitar perairan rawa yang berasal Kelurahan Sidorejo . Kelurahan Madurejo . Kelurahan Mendawai . Kelurahan Kampung Baru . Kelurahan Tanjung Terantang . Pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling. Kriteria informan adalah masyarakat sekitar perairan rawa yang berdomisili di sekitar kawasan rawa minimal 5 tahun, pernah memanfaatkan atau mengetahui tumbuhan air sebagai bahan pangan dan bersedia menjadi responden penelitian. Instrumen Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku catatan penelitian, alat tulis, perekam audio dan Analisis Data Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk menentukan jenis-jenis tumbuhan air sebagai sumber pangan berdasarkan data numerik yang dianalisis menggunakan perhitungan etnobotani seperti Use Value (UV) dan Relative Frequency of Citation (RFC) . Rumus menggunakan persamaan: Prosedur Kerja Penelitian pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan pemanfaatan tumbuhan air sebagai Teknik pengumpulan data Wawancara melalui tanya jawab dengan informan. Dokumentasi mempelajari dan menelusuri data dari sumber pustaka yang mendukung validitas data berupa foto, video, artikel, dan laporan penelitian. Use Value (UV) UV bertujuan untuk mengevaluasi nilai guna suatu tumbuhan yang dapat menunjukkan tumbuhan yang paling Apabila pemanfaatan tumbuhan semakin tinggi, maka nilai gunanya juga akan semakin Nilai UV dihitung berdasarkan rumus berikut: ycOycO = Oc ycOycn ycA Keterangan: = Use Value disebutkan oleh responden untuk = jumlah total responden Relative Frequency of Citation (RFC) RFC disebutkan oleh responden. Nilai RFC berkisar antara 0Ae1. Semakin tinggi nilai RFC, semakin dikenal tumbuhan tersebut oleh masyarakat. Nilai RFC dihitung berdasarkan rumus berikut: ycIyaya = yaya ycA Keterangan: RFC = Relative Frequency of Citation = jumlah responden yang menyebutkan spesies tersebut = jumlah total responden Hasil dan Pembahasan Jenis Tumbuhan Air yang dijadikan Sumber Pangan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di 5 kelurahan terdapat 6 . jenis tumbuhan air yang dijadikan sumber pangan. Data jenis-jenis tumbuhan air yang ditemukan disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Jenis-jenis Tumbuhan Air yang dijadikan Sumber Pangan Nama Kangkung Nama Ilmiah Habitat Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan Cara Pengolahan Ipomea Forssk. rawa, parit, sungai, lahan basah daun dan ditumis, direbus. Genjer Limnocharis (L. Buchenau rawa, tepi kolam daun muda, tangkai daun, bunga muda ditumis, direbus. Kelakai Stenochlaen a palustris (Burm. Bedd. rawa, tanah lembap, tepi sungai ditumis, direbus. Keladi Colocasia (L. ) Schott tanah lembap, rawa, kebun basah umbi, batang muda, dan daunnya umbi direbus dan mudanya ditumis Pandan Pandanus s Roxb. Lindl. kawasan rawa dan tepi perairan pewangi/aroma Selada Air Nasturtium Aiton aliran sungai kecil, dan daerah yang memiliki air bersih serta lembap daun dan Secara umum, tumbuhan air yaitu tumbuhan yang tumbuh di sekitar sumber air atau hidup di dalam air, dengan organorgan lingkungan perairan . Tumbuhan air yang berada pada kawasan sekitar Pangkalan Bun keraneka ragam, seperti teratai, melati air, apu-apu, lemna, eceng gondok, kiambang dan masih banyak yang lainnya . Berdasarkan Tabel 1, tumbuhan air yang dijadikan sumber pangan oleh masyarakat perairan rawa direbus, ditumis. Pangkalan Bun meliputi: kangkung (Ipomea Forssk. (Limnocharis flava (L. ) Buchena. , kelakai (Stenochlaena palustris (Burm. ) Bedd. keladi (Colocasia esculenta (L. ) Schot. , pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb. Lindl. ) dan selada air (Nasturtium officinale Aito. Kangkung air (Ipomea aquatica Forssk. ) adalah jenis tumbuhan air yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan. Tumbuhan ini hidup di perairan dangkal, rawa, parit, sungai kecil dan lahan basah. Kangkung air mudah dibudidayakan dan memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga sering dijadikan sayuran harian oleh masyarakat, terutama di wilayah lahan basah dan perairan rawa. Bagian kangkung air yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun dan batang Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh . yaitu kangkung air (Ipomoea aquatic. bagian yang dimanfaatkan adalah daun muda, pucuk daun muda, batang muda dan tunas batang muda. Masyarakat biasanya mengolah kangkung air dengan cara ditumis, direbus, dijadikan pecel, maupun sebagai campuran sayur bening. Selain memiliki rasa yang enak dan tekstur yang lembut, kangkung air juga mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau sehingga menjadi salah satu sumber pangan lokal yang penting. Genjer (Limnocharis (L. Buchena. merupakan tumbuhan air yang banyak ditemukan di perairan dangkal, rawa dan tepi kolam. Tumbuhan ini tumbuh liar di lahan basah dan telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan lokal. Penelitian . menyebutkan bahwa genjer dan ikan gabus merupakan salah satu bahan pangan lokal di Desa Banyubiru yang mudah ditemukan dalam jumlah banyak. Genjer mudah tumbuh di lingkungan berair sehingga banyak dijumpai di kawasan rawa. Bagian genjer yang paling sering dimanfaatkan adalah daun muda, tangkai daun, dan bunga Masyarakat biasanya mengolah genjer dengan cara ditumis, direbus dicampur dalam berbagai masakan tradisional seperti urap. Genjer memiliki cita rasa khas dan tekstur yang lembut sehingga cukup digemari sebagai sayuran sehari-hari. Kelakai (Stenochlaena (Burm. ) Bedd. ) merupakan tumbuhan paku yang banyak tumbuh di daerah rawa, tanah lembab, dan tepi sungai. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Kalimantan dan telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan tradisional. Bagi masyarakat Dayak dan penduduk lokal di Kalimantan, kelakai bukan sekadar tanaman liar yang tumbuh di tepi sungai atau hutan gambut, melainkan bagian integral dari sistem ketahanan pangan dan pengobatan tradisional . Bagian kelakai yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan adalah pucuk dan daun mudanya. Masyarakat biasanya mengolah kelakai dengan cara ditumis, direbus dan dibuat sayur santan. Kelakai memiliki rasa yang khas dan tekstur yang lembut sehingga cukup populer sebagai sayuran lokal, terutama di masyarakat Kalimantan. Keladi (Colocasia esculenta (L. Schot. merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di tanah lembap, rawa dan kebun basah. Tumbuhan ini telah lama Kalimantan sebagai sumber pangan karena mudah dibudidayakan dan mampu tumbuh dengan baik di lahan basah dan menjadi salah satu bahan pangan tradisional yang cukup penting bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh . yang menyebutkan bahwa dari segi ketersediaan, keladi dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan. Bagian keladi yang paling sering dimanfaatkan adalah umbi, batang muda, dan daunnya. Umbi keladi biasanya diolah dengan cara direbus atau digoreng. Sementara itu, daun dan batang mudanya dapat ditumis atau dimasak santan. Pandan (Pandanus Roxb. ex Lindl. ) merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh di daerah lembap, pekarangan, serta kawasan rawa dan tepi Tumbuhan ini dikenal luas oleh masyarakat karena memiliki aroma khas yang sering dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pengolahan makanan. Pandan mudah dibudidayakan dan banyak ditemukan di lingkungan sekitar rumah maupun lahan basah. Bagian pandan yang Daun digunakan sebagai pewangi/aroma dan pewarna berbagai jenis makanan dan Penelitian yang dilakukan oleh . menyebutkan bahwa pandan wangi dimanfaatkan daunnya sebagai bahan tambahan makanan, umumnya sebagai bahan pewarna hijau dan pemberi aroma. Masyarakat umumnya menggunakan daun pandan dalam pembuatan nasi, kue, bubur, kolak, serta berbagai olahan lainnya agar menghasilkan aroma yang harum dan khas. Selada air (Nasturtium officinale Aito. merupakan tumbuhan air yang tumbuh di perairan dangkal, aliran sungai kecil, dan daerah yang memiliki air bersih serta lembap. Akar tanaman selada air tumbuh panjang dan menyebar luas. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai sayuran karena memiliki rasa segar dan kandungan gizi yang cukup tinggi. Bagian selada air yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan adalah daun dan batang mudanya. Penelitian yang dilakukan oleh . dikonsumsi sebagai sayuran atau dalam Masyarakat biasanya mengolah selada air dengan cara direbus, ditumis dan dijadikan lalapan. Rasanya yang khas dan sedikit pedas membuat selada air sebagai sayuran sehat dalam menu seharihari. Masyarakat yang hidup di sekitar perairan rawa biasanya memanfaatkan 6 jenis tumbuhan air ini sebagai sumber pangan dengan cara menanam sendiri di pekarangan atau mengambil tumbuhan yang hidup liar disekitar rumahnya (Gambar . Gambar 2. Tumbuhan air yang dijadikan sumber pangan . selada air (Sumber: Dokumentasi pribadi, 2. Nilai Indeks Etnobotani Use Value (UV) dan Relative Frequency of Citation (RFC) Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks etnobotani, nilai UV dan RFC dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Nilai Indeks Botani Tumbuhan Air Nama Tumbuhan RFC Kangkung Genjer Kelakai Keladi Pandan Selada Air Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa tumbuhan air yang memiliki nilai Use Value (UV) dan Relative Frequency of Citation (RFC) tertinggi adalah kangkung dengan nilai UV sebesar 2,9 dan RFC Nilai tersebut menunjukkan bahwa kangkung merupakan tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan serta dikenal oleh seluruh informan sebagai salah satu sumber pangan. Semakin tinggi nilai UV menunjukkan bahwa kangkung adalah tumbuhan air yang paling banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Hal ini sesuai dengan . yang menyebutkan Nilai RFC sebesar 1 menunjukkan bahwa seluruh responden menyebutkan tumbuhan tersebut dalam wawancara dan semakin banyak masyarakat mengenal atau menggunakan tumbuhan tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh . nilai RFC yang lebih tinggi menunjukkan bahwa spesies kepentingan yang lebih besar dalam Genjer menempati urutan kedua dengan nilai UV sebesar 2,4 dan RFC Hal ini menunjukkan bahwa genjer juga memiliki tingkat pemanfaatan yang tinggi dan dikenal luas oleh Selanjutnya, kelakai memiliki nilai UV sebesar 2,1 dengan RFC sebesar 1, yang menandakan bahwa tumbuhan ini masih sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal dan memiliki nilai budaya yang kuat di masyarakat rawa. Keladi memperoleh nilai UV sebesar 1,9 dan RFC sebesar 1. Meskipun tingkat dibandingkan kangkung, genjer, dan kelakai, seluruh informan tetap mengenal dan memanfaatkan tumbuhan ini. Pandan memiliki nilai UV sebesar 1,4 dengan RFC sebesar 1, yang menunjukkan bahwa pandan dikenal oleh seluruh responden, tambahan pangan atau pemberi aroma pada masakan tradisional. Sementara itu, selada air memiliki nilai UV terendah yaitu 0,8 dengan RFC sebesar 0,8. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan dan frekuensi penyebutan selada air relatif lebih rendah dibandingkan tumbuhan lainnya. Tidak memanfaatkan tumbuhan ini sebagai sumber pangan, sehingga nilai RFC yang diperoleh juga lebih kecil. Secara umum, nilai UV dan RFC yang tumbuhan memiliki tingkat kepentingan yang besar dalam kehidupan masyarakat. Semakin tinggi nilai UV maka semakin beragam pemanfaatan tumbuhan tersebut, sedangkan semakin tinggi nilai RFC menunjukkan semakin banyak informan yang mengenal dan menggunakan tumbuhan tersebut. Dengan demikian, kangkung, genjer, dan kelakai dapat dikategorikan sebagai tumbuhan air yang mendukung sumber pangan masyarakat di wilayah penelitian. Potensi mendukung ketahanan pangan lokal di perairan rawa Pangkalan Bun Ketahanan Pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan . Potensi tumbuhan air dalam mendukung ketahanan pangan lokal di perairan rawa Pangkalan Bun sangat besar karena tumbuhan tersebut mudah diperoleh, tumbuh alami di wilayah rawa, serta telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan harian. Jenis tumbuhan air seperti kangkung, genjer, kelakai, keladi, selada air, dan nipah berkontribusi dalam penyediaan pangan lokal yang murah, mudah diakses, dan bernilai gizi. Pemanfaatan tumbuhan rawa sebagai sumber pangan juga menjadi bagian penting dari adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan perairan rawa. Keberadaan mendukung ketahanan pangan karena mampu menyediakan sumber makanan membutuhkan biaya budidaya yang tinggi. Masyarakat tumbuhan yang tumbuh liar di rawa sebagai sayuran maupun bahan pangan tambahan untuk kebutuhan rumah tangga. Menurut penelitian tentang ketahanan pangan berbasis potensi lokal, diversifikasi pangan lokal memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pangan masyarakat serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pangan pokok . Dengan demikian, pemanfaatan tumbuhan air di rawa Pangkalan Bun dapat menjadi salah satu bentuk diversifikasi pangan lokal yang mendukung ketersediaan pangan masyarakat secara berkelanjutan. Selain itu, lingkungan rawa memiliki keberlanjutan sumber pangan alami. Ekosistem rawa menyediakan habitat yang baik bagi berbagai vegetasi air yang dapat tumbuh sepanjang tahun. Penelitian mengenai vegetasi tumbuhan di kawasan lingkungan rawa yang masih baik mampu mendukung keberadaan berbagai jenis tumbuhan air . Kondisi tersebut masyarakat untuk terus memanfaatkan tumbuhan rawa sebagai sumber pangan lokal apabila ekosistem rawa tetap terjaga. Tumbuhan air juga memiliki potensi dalam meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga melalui pengurangan pengeluaran pangan. Sayuran air seperti kangkung, genjer, dan kelakai dapat dikonsumsi sehari-hari dengan cara direbus, ditumis, atau dijadikan lalapan bergantung pada sayuran dari pasar. Keladi bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat alternatif, sedangkan nipah memiliki potensi sebagai bahan pangan tradisional. Diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat, terutama pada daerah yang memiliki sumber daya alam khas seperti kawasan rawa. Di sisi lain, tumbuhan air memiliki nilai strategis dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan dan ketahanan pangan masa depan. Pengelolaan sumber daya air dan ekosistem rawa yang baik keberlanjutan produksi pangan lokal. Penelitian terbaru menegaskan bahwa ketahanan air dan keberlanjutan ekosistem memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan masyarakat . Oleh karena itu, pelestarian kawasan rawa Pangkalan Bun menjadi langkah penting agar sumber pangan alami berupa tumbuhan air tetap tersedia bagi generasi mendatang. Secara keseluruhan, tumbuhan air di perairan rawa Pangkalan Bun memiliki penyediaan sumber pangan bergizi, diversifikasi konsumsi, pengurangan biaya pangan rumah tangga, serta pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Pemanfaatan tumbuhan air yang disertai dengan upaya pelestarian ekosistem rawa dapat menjadi strategi penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat lokal di masa depan. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di lima kelurahan kawasan perairan rawa Pangkalan Bun, ditemukan dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber (Ipomea aquatic. , genjer (Limnocharis flav. , kelakai (Stenochlaena palustri. , keladi (Colocasia esculent. , pandan (Pandanus amaryllifoliu. , dan selada air (Nasturtium Tumbuhan-tumbuhan tersebut umumnya tumbuh pada habitat rawa, perairan dangkal, lahan basah, dan daerah lembap, serta dimanfaatkan terutama pada bagian daun, batang muda, pucuk, maupun umbinya. Pengolahan tumbuhan air seperti ditumis, direbus, dijadikan sayur, lalapan, maupun bahan tambahan pangan tradisional. Hasil analisis indeks etnobotani menunjukkan bahwa kangkung memiliki nilai Use Value (UV) tertinggi sebesar 2,9 dan Relative Frequency of Citation (RFC) Nilai tersebut menunjukkan bahwa kangkung merupakan tumbuhan air yang paling banyak dimanfaatkan dan dikenal oleh seluruh informan. Sementara itu, selada air memiliki nilai UV dan RFC paling rendah, yang menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatannya masih relatif terbatas dibandingkan jenis tumbuhan Tumbuhan air memiliki potensi yang besar dalam mendukung ketahanan pangan lokal di perairan rawa Pangkalan Bun karena mudah diperoleh dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif dengan biaya yang rendah. Berdasarkan diperlukan upaya pelestarian ekosistem rawa agar keberadaan tumbuhan air sebagai sumber pangan lokal tetap terjaga berkelanjutan oleh masyarakat. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji kandungan gizi, potensi ekonomi, serta aspek konservasi tumbuhan air di kawasan rawa Pangkalan Bun. Dengan demikian, pemanfaatan tumbuhan air tidak hanya dikembangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan dan pelestarian sumber daya hayati lokal. Daftar Pustaka