Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Penguatan Pendidikan Karakter Anak di Era Digital bagi Guru PAUD/RA/ TPQ di Desa Ngampungan Bareng Strengthening Character Education for Children in the Digital Age for PAUD/RA/TPQ Teachers in Ngampungan Bareng Village Budiman*1. Heru Totok Tri Wahono2. Yudhi Ferdi Andri Asmawan3 1Teknik Informatika. Universitas Darul Ulum ,2Pendidkan Ekonomi. Universitas PGRI Jombang 3Bisnis Digital. Universitas PGRI Jombang *Correspondence: mgkrjombang@gmail. Abstrak Transformasi pendidikan di era digital menuntut guru PAUD/RA/TPQ untuk mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran yang kontekstual dan berbasis teknologi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam memanfaatkan media digital untuk pendidikan Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan pendidikan karakter yang relevan dengan perkembangan digital. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif yang mencakup pemberian materi teoritis, diskusi interaktif, dan praktik langsung pengembangan media digital pembelajaran karakter. Sebelum dan sesudah pelatihan, peserta mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan, dengan rata-rata nilai pretest sebesar 58,75 dan post-test sebesar 87,50. Selain itu, tanggapan terhadap materi, metode, serta fasilitator juga sangat positif, dengan lebih dari 90% peserta menyatakan kepuasan dan relevansi terhadap pelatihan. Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta, dengan tingkat kehadiran mencapai 96% dari target. Antusiasme peserta tercermin dari keaktifan dalam sesi diskusi dan praktik, serta komitmen mereka untuk menerapkan hasil pelatihan di satuan pendidikan masing-masing. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil meningkatkan kompetensi guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis digital dan menunjukkan pentingnya penguatan peran guru dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini. Kata kunci: era digital, guru PAUD, pendidikan karakter penguatan Abstract The transformation of education in the digital age requires PAUD/RA/TPQ teachers to be able to integrate character values into a contextual and technology-based learning process. However, the reality in the field shows that most teachers still experience difficulties in utilising digital media for character education. Given this situation, this community service activity aims to enhance teachers' understanding and skills in implementing character education that aligns with digital advancements. The method employed is participatory training, which includes theoretical instruction, interactive discussions, and hands-on practice in developing digital learning media for character education. Participants took pre-tests and post-tests A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 before and after the training to measure improvements in understanding. The results show a significant improvement, with an average pre-test score of 58. 75 and a post-test score of 87. Additionally, feedback on the content, methods, and facilitators was highly positive, with over 90% of participants expressing satisfaction and relevance regarding the training. This activity was attended by 80 participants, with an attendance rate of 96% of the target. Participants' enthusiasm was reflected in their active participation in discussion and practice sessions, as well as their commitment to apply the training outcomes in their respective educational Institutions. Thus, this activity successfully enhanced teachers' competencies in implementing digital-based character education and highlighted the importance of strengthening teachers' roles in addressing current educational challenges. Keywords: digital era, early childhood education teachers, character education. PENDAHULUAN Pendidikan karakter didefinisikan sebagai aspek krusial dalam membentuk masa depan generasi muda, terutama di era digital yang terus maju. Ini melibatkan penanaman kumpulan nilai-nilai universal yang mencakup etika, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, keadilan, apresiasi, kebaikan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, kesetaraan, dan prinsip-prinsip moral yang kuat. Pendidikan karakter merupakan bagian paling mendasar dari proses pendidikan, karena menyangkut pembentukan kepribadian, nilai, dan moral anak sejak usia dini. Usia dini sering disebut sebagai golden age, yaitu masa emas yang sangat menentukan arah dan kualitas kehidupan anak di masa mendatang . Apa yang ditanamkan pada periode ini akan menjadi dasar yang kuat bagi perilaku, cara berpikir, serta sikap hidup anak ketika tumbuh dewasa. Sebagaimana dijelaskan oleh . bahwa Pendidikan karakter bertujuan untuk membantu siswa memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika yang mendasar. Karakter yang kuat merupakan bekal penting bagi anak untuk menghadapi kompleksitas kehidupan. Dalam kehidupan nyata, kecerdasan intelektual saja tidak Anak-anak juga perlu memiliki kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, dan ketekunan agar mampu menjalani hidup dengan integritas, mampu bekerja sama dengan orang lain, serta memiliki ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak boleh dianggap sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan karakter yang diterapkan sejak usia dini terbukti membentuk kebiasaan positif dan meningkatkan kemampuan anak dalam mengontrol emosi serta berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sosialnya . Pendidikan karakter pada anak usia dini memiliki korelasi positif dengan pembentukan kecerdasan moral dan sosial anak . Era digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Anak-anak saat ini lahir dan tumbuh di tengah lingkungan yang serba digital, di mana akses terhadap internet, media sosial, dan perangkat elektronik seperti gawai menjadi bagian dari keseharian mereka. Generasi saat ini disebut sebagai digital natives, yaitu individu yang sejak lahir sudah terbiasa dengan teknologi digital. Ini A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 berarti, pendidikan masa kini tidak dapat dipisahkan dari realitas digital yang terus berkembang . Tantangan utama yang muncul dalam konteks pendidikan karakter adalah paparan konten digital yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Anak-anak dapat dengan mudah mengakses video, gambar, atau informasi yang mengandung kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, atau nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan norma lokal. Hal ini tentu dapat menghambat bahkan merusak proses pembentukan karakter anak. Salah satu dampak negatif penggunaan gawai secara bebas pada anak usia dini adalah munculnya perilaku agresif dan penurunan kemampuan bersosialisasi . Penggunaan gawai yang berlebihan juga menyebabkan pergeseran nilai-nilai sosial dalam kehidupan anak. Interaksi sosial langsung semakin berkurang, empati dan kepedulian terhadap sesama menjadi lemah, serta anak cenderung lebih individualis. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan gawai cenderung menunjukkan gejala adiksi, mudah marah, dan sulit mengontrol emosi, yang tentu bertentangan dengan nilai-nilai karakter seperti kesabaran, tanggung jawab, dan toleransi . Selain itu, informasi yang tersebar luas di internet seringkali tidak melalui proses validasi yang ketat. Anak dapat menerima informasi yang bias, hoaks, atau tidak objektif, sehingga membentuk pemahaman yang keliru tentang realitas. Kurangnya kemampuan literasi digital pada anak, dan bahkan pada sebagian orang tua maupun guru, memperparah situasi ini. Literasi digital merupakan salah satu kompetensi kunci abad ke-21 yang harus dimiliki oleh pendidik agar dapat membimbing siswa secara bijak dalam menghadapi derasnya arus informasi . Meskipun era digital menawarkan berbagai kemajuan, tantangan terhadap pendidikan karakter tidak dapat diabaikan. Diperlukan peran aktif guru, orang tua, dan masyarakat untuk membimbing anak-anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter di era digital harus dirancang tidak hanya untuk menanamkan nilai, tetapi juga untuk membekali anak dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan etika bermedia agar mereka dapat menjadi pribadi yang tangguh di tengah arus globalisasi. Guru pada jenjang PAUD. RA, dan TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk fondasi karakter anak sejak usia dini. Di tahap ini, anak belum mampu membedakan secara matang antara yang benar dan salah, serta masih sangat bergantung pada lingkungan dan figur-figur yang dekat dengan mereka, terutama guru. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga berfungsi sebagai teladan nilai-nilai moral dan sosial yang ingin ditanamkan dalam diri anak. Menurut . pendidikan karakter harus dimulai dari usia dini dan dilandasi oleh keteladanan yang konsisten dari pendidik sebagai agen moral. Karakter anak tidak dapat tumbuh hanya dari teori atau hafalan, melainkan terbentuk melalui interaksi langsung, pengalaman, serta penguatan nilai secara berulang dalam lingkungan belajar. Oleh karena itu, guru PAUD/RA/TPQ berada pada posisi strategis sebagai garda terdepan dalam upaya penanaman nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, serta rasa hormat A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 terhadap sesama. Peran guru pada pendidikan anak usia dini sangat menentukan keberhasilan internalisasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran . Namun, pada kenyataannya, guru-guru PAUD/RA/TPQ sering kali menghadapi berbagai keterbatasan dalam memahami konsep pendidikan karakter secara mendalam dan bagaimana mengintegrasikannya secara kontekstual di tengah arus digitalisasi. Banyak dari mereka belum mendapatkan pelatihan yang cukup untuk menyusun strategi pembelajaran yang menggabungkan antara nilainilai karakter dengan penggunaan media digital yang aman dan efektif. Mayoritas guru PAUD belum sepenuhnya memahami pendekatan pedagogis berbasis karakter dan masih mengalami kesulitan dalam menyisipkan nilai moral dalam materi tematik yang menggunakan media digital . Selain itu, gempuran era digital juga menambah beban tantangan bagi guru dalam menanamkan nilai-nilai karakter. Di satu sisi, anak-anak sudah terbiasa dengan dunia digital dan media visual interaktif. di sisi lain, guru belum tentu memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan mendidik. Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan karakter anak usia dini saat ini adalah ketidaksiapan guru dalam mengimbangi perubahan teknologi dan budaya digital yang begitu cepat . Minimnya pelatihan, kurangnya akses terhadap sumber belajar yang berkualitas, serta keterbatasan perangkat digital di lingkungan PAUD/RA/TPQ terutama di wilayah pedesaan memperburuk kondisi ini. Guru menjadi pihak yang dituntut banyak, tetapi sering kali tidak dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan sistematis dari berbagai pihak untuk memperkuat kompetensi guru dalam membina karakter anak, terutama dalam konteks tantangan zaman yang semakin kompleks. Penguatan kapasitas guru dalam hal literasi digital, strategi pembelajaran berbasis nilai, serta kemampuan refleksi etika sangat diperlukan agar pendidikan karakter benar-benar Perlu ada sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat untuk memberikan dukungan menyeluruh bagi guru PAUD/RA/TPQ agar mereka dapat menjalankan peran mulianya dengan lebih maksimal di tengah tantangan era Desa Ngampungan, yang terletak di Kecamatan Bareng. Kabupaten Jombang, merupakan salah satu wilayah pedesaan yang memiliki potensi pendidikan cukup baik namun masih menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya dalam hal penguatan pendidikan karakter di era digital. Di desa ini, terdapat beberapa lembaga pendidikan anak usia dini seperti PAUD. RA, dan TPQ yang aktif berperan dalam membina generasi muda. Guru-guru di lembaga-lembaga ini sebagian besar berasal dari masyarakat lokal, yang meskipun memiliki semangat pengabdian tinggi, umumnya belum mendapatkan akses pelatihan dan peningkatan kapasitas yang memadai, terutama dalam hal pendidikan karakter berbasis digital. Kondisi ini mencerminkan tantangan umum yang juga ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia, yaitu keterbatasan pemahaman guru terhadap pendekatan pendidikan karakter yang relevan dengan perubahan zaman. Guru di wilayah pedesaan sering mengalami kesenjangan kompetensi dalam menghadapi A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 perubahan kurikulum dan tuntutan digitalisasi pembelajaran . Hal ini disebabkan oleh minimnya pelatihan, keterbatasan fasilitas teknologi, dan rendahnya literasi digital yang mendukung proses pembelajaran berbasis nilai di era teknologi. Sebagian guru di Desa Ngampungan menyampaikan bahwa mereka menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kegiatan belajar mengajar yang menarik bagi anak-anak yang kini sudah terbiasa dengan gawai dan konten digital. Tantangan ini diperparah dengan kurangnya panduan praktis dan media pembelajaran karakter yang relevan dengan konteks lokal dan perkembangan zaman. Selain itu, dalam praktiknya, pendidikan karakter di TPQ dan RA di Ngampungan masih didominasi oleh metode tradisional, seperti ceramah dan hafalan, yang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan zaman digital yang interaktif dan visual. Ketidaksesuaian pendekatan ini dapat berdampak pada penurunan minat belajar anak, sekaligus menghambat proses internalisasi Guru membutuhkan pendekatan baru yang dapat mengombinasikan nilai-nilai karakter dengan teknologi secara bijak, sesuai dengan kondisi psikologis anak usia Hal ini didukung oleh . yang menegaskan pentingnya inovasi pembelajaran karakter di era digital, khususnya di tingkat pendidikan dasar dan prasekolah. Kondisi ini menegaskan pentingnya pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang fokus pada pelatihan penguatan pendidikan karakter bagi guru PAUD/RA/TPQ di Desa Ngampungan. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep pendidikan karakter, strategi implementasi yang kontekstual, serta keterampilan menggunakan media pembelajaran yang relevan di era digital. Dengan pelatihan dan pendampingan yang tepat, guru-guru di desa ini akan lebih siap menjadi agen perubahan dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan sosial. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu upaya nyata untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan guru-guru PAUD. RA, dan TPQ di Desa Ngampungan dalam mengintegrasikan pendidikan karakter secara kontekstual di era digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang sebagai respon atas kebutuhan tersebut, dengan tujuan memberikan pendampingan dan pelatihan strategis agar para guru mampu menjadi agen utama dalam membentuk generasi anak yang berkarakter kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman. METODE Subjek kegiatan pengabdian ini adalah para guru dari satuan pendidikan PAUD. RA, dan TPQ di Desa Ngampungan. Kecamatan Bareng. Kabupaten Jombang. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 80 orang, yang merupakan representasi dari berbagai lembaga pendidikan anak usia dini di desa tersebut. Lokasi pelaksanaan kegiatan bertempat di Balai Desa Ngampungan, yang dipilih atas dasar kemudahan akses, dukungan fasilitas, dan kemitraan aktif antara tim pengabdian dan pemerintah desa. A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Metode utama yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan partisipatif yang dikombinasikan dengan strategi pendekatan berbasis komunitas . ommunity Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan prinsip pemberdayaan guru sebagai agen perubahan dalam pendidikan karakter anak usia dini, terutama dalam menghadapi tantangan era digital. Tahapan pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut: Gambar 1 Tahapan Pengabdian Untuk lebih jelasnya, tahapan pengabdian dijelaskan sebagai berikut. Identifikasi Kebutuhan dan Survei Awal Tim pengabdian melakukan kunjungan ke desa dan mewawancarai perwakilan guru untuk mengetahui persepsi mereka terhadap pendidikan karakter dan tantangan penggunaan media digital. Koordinasi dan Penyusunan Materi Berdasarkan hasil survei, disusun modul pelatihan mencakup konsep pendidikan karakter, strategi pengintegrasian teknologi, serta media pembelajaran sederhana berbasis digital. Pembukaan dan Pre-test Kegiatan dibuka oleh tim pengabdian dan perangkat desa, dilanjutkan dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta. Penyampaian Materi dan Diskusi Interaktif Fasilitator menyampaikan dua materi pokok secara interaktif, diikuti dengan diskusi dan tanya jawab. Praktik dan Sharing Session Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk merancang rencana pembelajaran karakter di era digital. Kemudian, hasilnya dipresentasikan dalam sesi berbagi praktik baik. Post-test dan Evaluasi Dilakukan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta pengisian kuisioner untuk mengevaluasi kepuasan peserta terhadap materi, metode, dan HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan AuPenguatan Pendidikan Karakter Anak di Era Digital bagi Guru PAUD/RA/ TPQ di Desa Ngampungan BarengAy dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2025, bertempat di Balai Desa Ngampungan. Kegiatan ini diikuti oleh para guru dari satuan pendidikan PAUD. RA, dan TPQ yang berada di wilayah Desa Ngampungan. Kecamatan Bareng. Kabupaten Jombang. Dari total undangan yang A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 disebarkan kepada 20 lembaga pendidikan anak usia dini dan keagamaan di wilayah tersebut, tercatat sebanyak 80 peserta hadir dalam kegiatan pelatihan ini. Peserta terdiri dari guru yang sudah berpengalaman maupun guru muda yang masih dalam proses pengembangan kompetensi. Secara umum, suasana selama kegiatan berlangsung sangat kondusif dan Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi sejak sesi awal, terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Kehadiran peserta selama kegiatan berlangsung pun menunjukkan konsistensi yang baik. Kegiatan pengabdian ini berlangsung selama satu hari penuh dan dilaksanakan dalam beberapa tahapan utama, yaitu: pembukaan dan pre-test, penyampaian materi dan diskusi, sharing session, serta post-test dan evaluasi. Kegiatan diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Ketua Tim Pengabdian dan Kepala Desa Ngampungan. Sambutan juga diberikan oleh perwakilan guru sebagai ungkapan antusiasme atas pelaksanaan pelatihan ini. Setelah pembukaan, peserta langsung mengikuti pre-test yang terdiri dari 15 soal pilihan ganda untuk mengukur pemahaman awal mereka terkait konsep pendidikan karakter dan implementasinya dalam pembelajaran di era digital. Hasil pre-test menunjukkan bahwa Nilai rata-rata peserta adalah 58,75. Sebagian besar peserta menjawab benar pada bagian pengenalan nilai karakter, namun masih lemah dalam aspek implementasi pembelajaran di era digital Berikutnya adalah Penyampaian Materi dan Diskusi Interaktif. Materi pelatihan yang disampaikan mencakup Konsep dasar pendidikan karakter. Tantangan pendidikan di era digital. Literasi Digital untuk Anak Usia Dini. Pemanfaatan Teknologi untuk Penguatan Karakter. Etika Digital, serta Kolaborasi Guru dan Orang Tua. Selama sesi ini, peserta sangat aktif berdiskusi. Banyak yang menyampaikan kesulitan mereka dalam mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran di era digital, namun mereka menunjukkan antusiasme untuk belajar dan memahami materi. Sesi beriutnya adalah Sharing Session. Dalam sesi ini, beberapa peserta diminta untuk membagikan pengalaman mereka dalam menerapkan nilai-nilai karakter di Beberapa Guru RA membagikan praktik penggunaan cerita Islami sebagai pendekatan karakter. Guru PAUD menyampaikan penggunaan lagu dan gerak untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan sopan santun. Guru TPQ menekankan pentingnya keteladanan sebagai strategi utama dalam pendidikan karakter anak. Sesi ini membangun atmosfer reflektif dan kolaboratif. Peserta lain merespons dengan positif dan mencatat ide-ide yang dapat diterapkan di lembaga masingmasing. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan: A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Gambar 1 Dokumentasi Kegiatan Setelah semua sesi selesai, peserta mengikuti post-test dengan instrumen soal yang sama seperti pada pre-test. Hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan Rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 87,50. Seluruh peserta menunjukkan peningkatan skor, dengan 90% peserta memperoleh nilai di Berikut adalah grafik batang . ar char. yang menunjukkan perbandingan rata-rata skor Pre-test dan Post-test. Terlihat jelas bahwa terjadi peningkatan signifikan dari 58. 75 menjadi 87. 50 setelah perlakuan. Gambar 2. Perbandingan rata-rata pre-test dan post-test Berikut adalah grafik pie chart yang menunjukkan distribusi peningkatan A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 Gambar 3 Distribusi peningkatan skor Berdasarkan gambar distribusi peningkatan tersebut, diperoleh hasil bahwa Mayoritas peserta mengalami peningkatan antara 21Ae30 poin . %). Disusul oleh kelompok peningkatan 10Ae20 poin . %) dan lebih dari 30 poin . %). Hanya 5% peserta yang peningkatannya kurang dari 10 poin. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas kegiatan yang telah dilaksanakan, dilakukan evaluasi melalui penyebaran kuisioner kepada peserta. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur tanggapan peserta terhadap tiga aspek utama, yaitu materi yang disampaikan, metode penyampaian, serta kinerja fasilitator. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kualitas kegiatan sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk peningkatan pelaksanaan di masa mendatang. Evaluasi terhadap materi digambarkan dalam diagram berikut. Gambar 4 Hasil evaluasi terhadap materi Berdasarkan diagram batang yang menampilkan rata-rata skor terhadap aspek materi dalam kegiatan pelatihan, dapat disimpulkan bahwa secara umum A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 peserta memberikan tanggapan yang sangat positif terhadap isi materi yang Aspek yang memperoleh skor tertinggi adalah AuMateri memberikan wawasan baru tentang pendidikan karakter di era digitalAy dengan nilai sekitar 4. Hal ini menunjukkan bahwa peserta merasa materi sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini dan mampu membuka wawasan baru. Disusul oleh aspek AuMateri yang disampaikan relevan dengan kebutuhan saya sebagai guruAy dan AuMateri yang disampaikan mudah dipahamiAy, yang masing-masing memperoleh skor sekitar 4. 5Ae4. Ini menandakan bahwa materi tidak hanya kontekstual dan sesuai kebutuhan lapangan, tetapi juga dikemas dengan cara yang jelas dan Selanjutnya, aspek AuMateri yang disajikan aplikatif dan dapat saya terapkan di lembaga sayaAy memperoleh skor sekitar 4. 3, yang menunjukkan bahwa meskipun materi dianggap relevan dan mudah dipahami, masih ada ruang untuk menambahkan lebih banyak contoh praktis atau implementatif. Aspek dengan nilai terendah adalah AuKedalaman materi yang disampaikan sudah memadaiAy dengan skor sekitar 4. Ini menjadi catatan penting bahwa sebagian peserta mungkin mengharapkan penjelasan yang lebih mendalam atau kajian teoritis yang lebih kuat. Materi pelatihan dinilai sangat relevan, mencerahkan, dan mudah dipahami oleh peserta. Namun, peningkatan dapat dilakukan pada aspek kedalaman dan kepraktisan materi agar peserta tidak hanya memahami secara umum, tetapi juga dapat langsung mengaplikasikan secara mendalam di lingkungan kerja mereka. Peserta juga mengisi kuisioner tanggapan terhadap metode pelaksanaan kegiatan. Diagram berikut menggambarkan respon peserta terhadap metode. Gambar 5. Hasil evaluasi terhadap metode Berdasarkan diagram batang yang menampilkan rata-rata skor penilaian peserta terhadap metode pelaksanaan kegiatan, diperoleh beberapa poin penting yang dapat dianalisis. Peserta memberikan penilaian positif terhadap metode pelaksanaan kegiatan, dengan skor rata-rata berada di atas angka 4. Aspek yang paling tinggi mendapatkan apresiasi adalah AuAdanya sesi tanya jawab sangat membantu pemahaman sayaAy dengan skor mendekati 4. 7, yang menunjukkan bahwa sesi interaktif tersebut sangat berkontribusi dalam meningkatkan A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 pemahaman peserta. Hal ini menegaskan pentingnya interaksi dua arah dalam kegiatan pembelajaran atau pelatihan. Selain itu, aspek AuPenggunaan media pendukung . lide, video, conto. efektifAy dan AuKesempatan untuk bertanya dan berdiskusi diberikan secara memadaiAy juga mendapat penilaian tinggi . , yang mengindikasikan bahwa media pembelajaran dan ruang partisipasi peserta telah difasilitasi dengan baik. Peserta merasa diberikan kesempatan yang cukup untuk aktif terlibat dan berdialog dalam sesi kegiatan. Pada aspek AuMetode penyampaian materi . resentasi, diskus. membuat saya aktifAy memperoleh skor sekitar 4. 2, menandakan bahwa sebagian besar peserta merasa cukup aktif selama kegiatan, namun masih terdapat ruang peningkatan dalam hal mendorong keterlibatan peserta secara lebih merata. Aspek yang mendapat nilai terendah adalah AuAlokasi waktu untuk setiap sesi sesuai dan efektifAy dengan skor sekitar 4. 0, yang berarti peserta merasakan adanya kekurangan dalam pengaturan waktu pelaksanaan, baik karena durasi yang terlalu singkat maupun terlalu panjang dalam beberapa sesi. Metode pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan dinilai sangat baik dan mendukung pemahaman peserta. Kegiatan yang interaktif, media yang efektif, dan kesempatan berdiskusi menjadi keunggulan utama. Namun, pengelolaan waktu antar sesi perlu dievaluasi lebih lanjut agar efektivitas kegiatan dapat lebih optimal. Berikutnya adalah hasil evaluasi peserta terhadap fasilitator. Diaram berikut menyajikan hasil tersebut. Gambar 6. Hasil evaluasi terhadap fasilitator Berdasarkan diagram batang yang menggambarkan rata-rata skor tanggapan peserta terhadap kinerja fasilitator, dapat disimpulkan bahwa kinerja fasilitator dinilai sangat baik secara keseluruhan. Aspek dengan skor tertinggi adalah AuFasilitator bersikap ramah dan profesionalAy dengan nilai 4. 9, yang mencerminkan kesan positif peserta terhadap etika dan sikap fasilitator selama kegiatan Ini menunjukkan bahwa sikap personal fasilitator menjadi poin kekuatan utama dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan menghargai peserta. Disusul dengan skor 4. 8 pada dua aspek penting lainnya: AuFasilitator menguasai materi dengan baikAy dan AuFasilitator mampu menjawab A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 pertanyaan dengan baikAy. Hal ini menunjukkan bahwa peserta mengakui kapabilitas dan kedalaman pengetahuan fasilitator terhadap materi yang dibawakan serta kemampuannya merespons berbagai pertanyaan secara tepat dan meyakinkan. Sementara itu, aspek AuFasilitator mampu menjelaskan materi dengan jelas dan mudah dimengertiAy memperoleh nilai 4. 7, yang masih sangat tinggi, menandakan bahwa penyampaian materi dilakukan dengan metode yang komunikatif dan tidak Apek dengan nilai terendah adalah AuFasilitator interaktif dan mampu menciptakan suasana yang nyamanAy dengan skor 4. Ini mengindikasikan bahwa meskipun fasilitator sudah cukup interaktif, ada sedikit ruang untuk meningkatkan dinamika interaksi, keterlibatan peserta, dan kenyamanan suasana Fasilitator dinilai sangat profesional, menguasai materi, dan mampu menyampaikan serta menjawab pertanyaan dengan sangat baik. Meskipun sudah sangat memuaskan, peningkatan pada aspek interaktivitas dan penciptaan suasana yang lebih nyaman dapat memperkaya pengalaman belajar peserta secara Beberapa peserta juga memberikan masukan positif dan menyarankan agar pelatihan serupa diadakan secara berkelanjutan dengan pendampingan teknis lebih lanjut. Tingginya partisipasi dan antusiasme para guru PAUD. RA, dan TPQ dalam kegiatan pelatihan ini mencerminkan bahwa kebutuhan akan penguatan pendidikan karakter di era digital sangat relevan dan dirasakan langsung oleh para pendidik. Kehadiran sebanyak 80 peserta serta keikutsertaan aktif selama pelatihan mencerminkan adanya kesadaran kolektif bahwa pendidikan karakter harus terus diperbarui sejalan dengan perkembangan zaman. Menurut . pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai Dalam konteks ini, para guru menunjukkan bahwa mereka menyadari pentingnya peran mereka sebagai agen utama dalam pembentukan karakter anak usia dini, terutama di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat. Keaktifan peserta dalam berdiskusi dan menceritakan pengalaman dalam membangun karakter peserta didiknya dalam pembelajaran menunjukkan adanya dorongan internal untuk meningkatkan kualitas pengajaran karakter yang sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini. Lebih lanjut, . dalam teori self-determination menyatakan bahwa partisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan terjadi ketika individu merasa memiliki kompetensi dan relevansi terhadap materi yang diberikan. Hal ini tampak pada tingginya keterlibatan peserta dalam sesi praktik, simulasi, serta keinginan mereka untuk memperoleh pelatihan lanjutan. Antusiasme ini mencerminkan bahwa para guru merasa materi yang disampaikan bukan hanya teoritis, tetapi aplikatif dan dapat langsung diterapkan dalam praktik pembelajaran. Pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat setempat . Dalam kegiatan ini, penggabungan antara nilai-nilai karakter universal dengan pendekatan berbasis kearifan lokal serta integrasi teknologi, membuat peserta merasa bahwa pelatihan ini sesuai dengan kebutuhan A 2025 The Author. Published by UNITY ACADEMY . This is an open access article under the CC BY-SA license . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JAPAMAS) Volume. Nomor. Juni 2025: 133-146 https://jurnal. unity-academy. id/index. php/japamas e-ISSN 2963-6906 p-ISSN 2963-7392 mereka sebagai pendidik yang berada di daerah pedesaan namun ingin tetap adaptif terhadap era digital. Pelatihan yang berbasis pada keterlibatan langsung peserta melalui kegiatan kolaboratif dan simulatif akan mendorong terbentuknya pengalaman belajar yang lebih bermakna . Hal ini terbukti dalam sesi praktik pelatihan, di mana para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif dalam menyusun media pembelajaran karakter digital dan mendemonstrasikannya di depan peserta lain. Dengan demikian, partisipasi dan antusiasme tinggi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa ketika pelatihan dirancang secara kontekstual, aplikatif, dan menghargai pengalaman peserta, maka keberhasilannya akan meningkat. Hal ini sejalan dengan temuan . dalam prinsip andragogi, bahwa orang dewasa belajar dengan baik ketika materi pelatihan relevan dengan kehidupan mereka dan disampaikan dengan metode yang partisipatif. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk AuPenguatan Pendidikan Karakter di Era Digital bagi Guru-guru PAUD/RA/TPQ di Desa Ngampungan. BarengAy telah berhasil dilaksanakan dengan capaian yang positif. Pelatihan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendekatan digital, sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata peserta dari pre-test sebesar 58,75 menjadi 87,50 pada post-test. Tingkat kehadiran peserta mencapai 96%, dan tanggapan terhadap materi, metode, serta fasilitator juga sangat positif, dengan lebih dari 90% peserta menyatakan kepuasan dan relevansi terhadap pelatihan. Antusiasme peserta terlihat melalui keaktifan dalam diskusi, praktik pembuatan media digital, dan refleksi pembelajaran. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar pelatihan sejenis dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan dari lembaga pendidikan dan pemerintah setempat, serta disertai penyusunan modul praktis yang aplikatif. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim pengabdian berencana membentuk komunitas belajar guru berbasis digital, menyediakan pendampingan daring secara berkala, serta mendorong replikasi kegiatan di wilayah lain yang memiliki kebutuhan serupa. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari transformasi pendidikan karakter yang lebih adaptif, kreatif, dan kontekstual di era digital. DAFTAR PUSTAKA