JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Pendekatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Desa Muara Damai. Sembawa. Banyuasin Meilin Veronica. Muhammad Kurniawan. Luis Marnisah. Program Studi Manajemen. Universitas Indo Global Mandiri Jalan Jenderal Sudirman Palembang 30129 *Email Penulis Koresponden: meilin. veronica@uigm. Received: 04/01/26. Revised: 26/02/26. Accepted: 13/03/26 Abstrak Pengabdian Masyarakat ini mendeskripsikan pendekatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Fakultas Ekonomi di Desa Muara Damai. Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan, serta kontribusinya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dilaksanakan melalui pemetaan partisipatif, focus group discussion (FGD), observasi lapangan, serta lokakarya pelatihan yang meliputi literasi dasar dan literasi digital, praktik penguatan ekonomi lokal melalui pengolahan produk berbasis potensi desa . embuatan keripik daun singkon. , serta pelatihan pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya lokal secara Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami literasi dasar dan literasi digital, peningkatan keterampilan ekonomi produktif melalui pengolahan dan pengemasan produk lokal, serta dukungan pemasaran sederhana bagi UMKM desa. Selain itu, program ini memperkuat jejaring kolaborasi antara masyarakat desa, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah guna mendukung keberlanjutan program pasca-KKNT. Kontribusi program dipetakan ke dalam pilar Triple Bottom Line (TBL), yaitu aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kata kunci: KKNT. Pembangunan Berkelanjutan. SDGs. PRA. PAR. Triple Bottom Line Abstract Community service describes the implementation of the Thematic Community Service Program (KKNT) by the Faculty of Economics in Muara Damai Village. Sembawa District. Banyuasin Regency. South Sumatra, and its contribution to supporting sustainable development based on the Sustainable Development Goals (SDG. The approach used is Participatory Action Research (PAR) and Participatory Rural Appraisal (PRA), which are implemented thru participatory mapping, focus group discussions (FGD. , field observations, and training workshops covering basic and digital literacy, practices for strengthening the local economy thru processing village-based products . assava leaf chip. , and training on environmental conservation and sustainable management of local resources. The program's implementation results show an increase in community capacity to understand basic and digital literacy, an improvement in productive economic skills thru the processing and packaging of local products, and simple marketing support for village MSMEs. Additionally, this program strengthens the collaborative network between rural communities, universities, and local governments to support the sustainability of the program after KKNT. The program's contributions are mapped into the Triple Bottom Line (TBL) pillars, namely social, economic, and environmental aspects. Keywords: KKNT. Sustainable Development. SDGs. PRA. PAR. Triple Bottom Line JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X PENDAHULUAN Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Salah satu bentuk konkret pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. bagi mahasiswa adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Secara konvensional. KKN lebih berfokus pada aktivitas sosial kemasyarakatan yang bersifat umum dan jangka pendek, sehingga dampaknya sering kali belum terintegrasi secara sistematis dengan kebutuhan pembangunan lokal. Seiring dengan meningkatnya kompleksitas tantangan pembangunan, seperti rendahnya literasi masyarakat, keterbatasan ekonomi produktif, serta isu keberlanjutan lingkungan, model KKN mengalami transformasi menjadi Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT). Berbeda dengan KKN konvensional. KKNT menekankan pendekatan tematik yang dirancang berdasarkan permasalahan dan potensi spesifik masyarakat sasaran. Pendekatan ini memungkinkan program yang dijalankan lebih terarah, kontekstual, dan memiliki peluang keberlanjutan yang lebih tinggi karena selaras dengan agenda pembangunan lokal (Prastowo & Suyono, 2. Dalam kerangka kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). KKNT diposisikan sebagai wahana pembelajaran di luar kampus yang mengintegrasikan capaian pembelajaran mahasiswa dengan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat. Melalui KKNT, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana kegiatan sosial, tetapi juga sebagai agen perubahan yang terlibat dalam proses identifikasi masalah, perencanaan program, hingga evaluasi bersama masyarakat melalui pendekatan partisipatif (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2. Proses ini mendorong penguatan kompetensi mahasiswa dalam berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif dalam menghadapi persoalan pembangunan yang kompleks dan multidimensi (JKPU, 2. Pada tingkat global, pembangunan desa memiliki peran strategis dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. Agenda ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi isu-isu krusial, seperti peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi lokal, pengurangan kemiskinan, dan pelestarian lingkungan hingga ke level desa (United Nations in Indonesia, n. Di Indonesia, komitmen tersebut diwujudkan melalui kebijakan AuSDGs DesaAy yang menempatkan desa sebagai subjek utama pembangunan berkelanjutan berbasis potensi dan kebutuhan lokal (Green Network Asia, 2. Sebagai kerangka analisis, konsep Triple Bottom Line (TBL) yang mencakup pilar sosial . , ekonomi . , dan lingkungan . digunakan untuk menilai sejauh mana program pembangunan mampu menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan (Elkington, 1997, 2. Pendekatan tematik dalam KKNT dinilai relevan dengan kerangka TBL karena memungkinkan integrasi program sosial, ekonomi, dan lingkungan secara simultan dan terukur. Desa Muara Damai, yang terletak di Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan, memiliki potensi pertanian dan ekonomi lokal yang cukup besar. Namun, desa ini masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan literasi dasar dan digital, belum optimalnya pengolahan potensi ekonomi lokal, serta rendahnya kesadaran terhadap pengelolaan sumber daya dan lingkungan secara berkelanjutan (BPS Banyuasin, 2. Kondisi tersebut menjadikan Desa Muara Damai sebagai lokasi yang relevan untuk pendekatan KKNT berbasis pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang tersebut, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendekatan Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Desa Muara Damai serta menganalisis kontribusinya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui kerangka Triple Bottom Line (TBL) dan Sustainable Development Goals (SDG. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Pendekatan Kegiatan ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan partisipatif. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan secara mendalam proses pendekatan Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), bentuk keterlibatan masyarakat, serta perubahan yang terjadi selama pelaksanaan program. Sementara itu, pendekatan partisipatif diterapkan dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi permasalahan, perencanaan program, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk memahami fenomena sosial secara kontekstual dan menilai dampak program pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat desa (Sugiyono, 2. Mahasiswa bertindak sebagai fasilitator, sedangkan masyarakat berperan sebagai subjek sekaligus mitra utama dalam Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan KKNT dilaksanakan di Desa Muara Damai. Kecamatan Sembawa. Kabupaten Banyuasin. Sumatera Selatan. Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi sumber daya alam dan ekonomi lokal yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, namun masih menghadapi tantangan dalam aspek literasi, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama 30 hari, yaitu dari 7 Juli hingga 9 Agustus 2025, sesuai dengan jadwal resmi Program KKNT universitas. Subjek dan Partisipan Kegiatan Subjek dan partisipan dalam kegiatan ini meliputi: Mahasiswa peserta KKNT Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Ekonomi yang tergabung dalam satu kelompok KKNT dan dibagi ke dalam beberapa tim kerja sesuai dengan tema pembangunan berkelanjutan . iterasi, ekonomi lokal, dan lingkunga. Masyarakat Desa Muara Damai Partisipan masyarakat dipilih secara purposif . urposive samplin. berdasarkan keterlibatan dan relevansinya dengan kegiatan, yang terdiri dari 5 orang tokoh masyarakat dan perangkat desa, 6 orang pemuda desa, 8 orang ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM lokal. Total partisipan masyarakat yang terlibat secara aktif dalam wawancara dan kegiatan utama berjumlah 19 orang. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan Program KKNT dilakukan melalui beberapa tahapan berikut: Tahap Persiapan Koordinasi awal dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat Tahap persiapan merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Pada tahap ini dilakukan serangkaian kegiatan sistematis yang diawali dengan koordinasi awal bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Koordinasi dilakukan melalui audiensi resmi di kantor desa dengan melibatkan Kepala Desa. Sekretaris Desa. Kepala Dusun. Ketua RT/RW, tokoh agama, tokoh masyarakat. Ketua PKK. Ketua Karang Taruna, serta perwakilan pelaku UMKM. Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan, memperoleh izin pelaksanaan, serta menggali informasi awal mengenai kondisi desa. Selain itu, pada tahap ini juga disepakati waktu, lokasi, sasaran kegiatan, serta bentuk dukungan dari pemerintah desa guna menjamin kelancaran program. Survei pendahuluan untuk mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan desa Tim melaksanakan survei pendahuluan untuk mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan desa secara komprehensif. Survei dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Observasi lapangan dilakukan dengan mengamati secara langsung kondisi infrastruktur, aktivitas ekonomi masyarakat, sarana JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X pendidikan, serta pengelolaan lingkungan dan sanitasi desa. Wawancara dilakukan kepada perangkat desa, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, pemuda, dan pelaku UMKM guna memperoleh informasi terkait permasalahan yang dihadapi, tingkat literasi masyarakat, kendala dalam pengelolaan usaha, serta kondisi lingkungan. Selain itu, tim juga mempelajari dokumen desa seperti profil desa, data kependudukan, data UMKM, dan dokumen perencanaan desa sebagai data pendukung. Hasil dari survei pendahuluan ini menjadi data dasar . aseline dat. dalam penyusunan program kegiatan. Pemetaan permasalahan dan potensi desa secara partisipatif Pemetaan permasalahan dan potensi desa secara partisipatif. Pendekatan partisipatif dipilih agar masyarakat terlibat aktif sebagai subjek dalam proses perencanaan program. Pemetaan dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perangkat desa, tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, dan pelaku UMKM. Dalam diskusi tersebut, peserta bersama-sama mengidentifikasi permasalahan prioritas yang dihadapi desa serta potensi lokal yang dapat dikembangkan. Analisis kemudian diperkuat dengan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. untuk menentukan prioritas program yang realistis dan Hasil pemetaan menunjukkan bahwa isu utama yang perlu mendapat perhatian adalah rendahnya literasi dan pemanfaatan teknologi, belum optimalnya pengelolaan usaha lokal, serta pengelolaan lingkungan yang belum sistematis. Penyusunan modul kegiatan dan materi pelatihan . iterasi, ekonomi lokal, dan lingkunga. Berdasarkan hasil koordinasi, survei, dan pemetaan tersebut, tim menyusun modul kegiatan dan materi pelatihan yang kontekstual dan aplikatif. Modul yang disusun mencakup tiga aspek utama, yaitu literasi, penguatan ekonomi lokal, dan lingkungan. Modul literasi meliputi literasi membaca dan menulis, literasi digital dasar, serta literasi keuangan sederhana. Modul penguatan ekonomi lokal mencakup manajemen usaha sederhana, pencatatan keuangan UMKM, strategi pemasaran digital, serta pengemasan dan branding produk. Sementara itu, modul lingkungan berfokus pada pengelolaan sampah rumah tangga, penerapan konsep 3R (Reduce. Reuse. Recycl. , serta pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Seluruh materi disusun menggunakan bahasa yang sederhana, berbasis praktik . earning by doin. , serta disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat pendidikan masyarakat desa. Selain itu, disiapkan pula instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan bersama masyarakat, meliputi lokakarya literasi dasar dan literasi digital, pelatihan pengolahan produk ekonomi lokal . eripik daun singkon. , serta sosialisasi pelestarian lingkungan Pendampingan langsung kepada kelompok sasaran dalam praktik kegiatan Diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat Tahap Monitoring dan Evaluasi Observasi partisipatif selama kegiatan berlangsung Observasi partisipatif dilakukan selama kegiatan berlangsung dengan melibatkan tim pengabdian secara langsung dalam setiap sesi pelatihan dan pendampingan. Dalam metode ini, tim tidak hanya bertindak sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai pengamat aktif yang mencatat dinamika kelompok, tingkat partisipasi peserta, antusiasme, pemahaman materi, serta perubahan perilaku yang muncul selama kegiatan. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan terstruktur dan catatan lapangan untuk mendokumentasikan perkembangan peserta. Pendekatan ini memungkinkan tim memperoleh gambaran nyata mengenai efektivitas metode penyampaian materi dan respon masyarakat terhadap program yang dilaksanakan. Wawancara dengan peserta dan pemangku kepentingan desa Wawancara mendalam juga dilakukan kepada peserta kegiatan dan pemangku kepentingan desa, seperti Kepala Desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta perwakilan JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X kelompok perempuan dan pemuda. Wawancara bertujuan untuk menggali persepsi mereka mengenai manfaat program, relevansi materi dengan kebutuhan masyarakat, serta dampak awal yang dirasakan. Melalui wawancara ini, diperoleh informasi kualitatif terkait perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun motivasi peserta setelah mengikuti kegiatan. Data hasil wawancara kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi keberhasilan program dan aspek yang masih perlu ditingkatkan. Refleksi bersama masyarakat untuk menilai capaian dan kendala program Refleksi bersama masyarakat dilakukan melalui forum diskusi evaluatif di akhir kegiatan. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, kesan, saran, serta kendala yang dihadapi selama program berlangsung. Refleksi bersama ini bertujuan untuk menciptakan ruang dialog yang terbuka dan partisipatif sehingga masyarakat dapat menilai sendiri capaian program. Kegiatan refleksi juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa kepemilikan . ense of ownershi. masyarakat terhadap program yang telah dilaksanakan. Analisis hasil kegiatan untuk menilai kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan Analisis hasil kegiatan untuk menilai kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat desa. Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi awal . aseline dat. dengan hasil evaluasi akhir, termasuk peningkatan pemahaman peserta berdasarkan hasil pre-test dan post-test, perubahan praktik pengelolaan usaha, serta peningkatan kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan. Kontribusi program diukur berdasarkan dimensi sosial . eningkatan literasi dan partisipasi masyaraka. , dimensi ekonomi . enguatan kapasitas UMKM dan pencatatan keuanga. , serta dimensi lingkungan . enerapan pengelolaan sampah dan prinsip 3R). Hasil analisis ini menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi tindak lanjut agar program dapat berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan desa. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data Data dalam kegiatan ini dikumpulkan melalui beberapa teknik berikut: Observasi Partisipatif Seluruh rangkaian kegiatan masyarakat diamati secara langsung oleh tim pelaksana dengan menggunakan lembar observasi terstruktur yang telah disusun sebelumnya. Instrumen tersebut digunakan untuk mencatat setiap proses kegiatan, pola interaksi antar peserta, tingkat partisipasi, serta respon masyarakat terhadap materi dan pendampingan yang diberikan. Observasi dilakukan secara berulang selama masa pelaksanaan program guna memastikan konsistensi data dan menangkap dinamika perubahan perilaku maupun peningkatan pemahaman peserta dari waktu ke waktu. Dengan pendekatan ini, data yang diperoleh menjadi lebih objektif dan komprehensif sebagai dasar evaluasi program. Wawancara Semi-Terstruktur Wawancara dilakukan secara langsung kepada 19 informan kunci yang terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan ibu-ibu PKK sebagai representasi berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemilihan informan dilakukan secara purposive untuk memastikan bahwa data yang diperoleh mencerminkan perspektif yang beragam dan relevan dengan tujuan Panduan wawancara disusun secara semi-terstruktur yang mencakup topik kebutuhan masyarakat, persepsi terhadap program KKNT, serta perubahan yang dirasakan setelah kegiatan Hasil wawancara kemudian dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi dampak program serta rekomendasi perbaikan ke depan. Dokumentasi Dokumentasi kegiatan dilakukan secara sistematis dalam bentuk foto, video, serta arsip laporan kegiatan yang disusun selama program berlangsung. Setiap dokumentasi diambil pada berbagai tahapan kegiatan untuk merekam proses pelaksanaan, partisipasi masyarakat, dan hasil yang dicapai. Data dokumentasi tersebut digunakan sebagai bahan pendukung untuk memperkuat temuan dari hasil observasi dan wawancara, sehingga meningkatkan validitas data Selain itu, dokumentasi juga berfungsi sebagai bukti administratif dan pertanggungjawaban pelaksanaan program kepada pihak desa maupun institusi. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Identifikasi Masalah (Participatory Rural Appraisal/PRA) Berdasarkan proses PRA yang dilakukan melalui observasi lapangan, diskusi kelompok terarah . ocus group discussio. , dan wawancara dengan masyarakat, teridentifikasi dua isu prioritas utama di Desa Muara Damai, yaitu: Kebutuhan penguatan literasi dasar dan literasi digital, khususnya pada anak-anak dan pelaku usaha mikro. Tantangan pemasaran produk lokal, terutama keterbatasan pemanfaatan media digital untuk promosi UMKM. Isu-isu tersebut kemudian dijadikan dasar dalam perancangan intervensi tematik KKNT yang selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Hasil Intervensi Tematik Berbasis SDGs Bidang Literasi dan Pendidikan (SDGs 4: Quality Educatio. Kegiatan literasi dilaksanakan melalui Program Edukasi Literasi Anak Au1000 BukuAy, yang bertujuan meningkatkan minat baca dan pemahaman literasi dasar anak-anak di Desa Muara Damai. Program ini memanfaatkan bantuan 1. 000 buku bacaan anak sebagai media pendukung Hasil kegiatan menunjukkan: Terlibatnya A20 anak usia sekolah dasar dalam kegiatan literasi. Peningkatan partisipasi dan antusiasme anak dalam membaca, yang terlihat dari keaktifan dalam sesi membaca bersama dan diskusi ringan. Orang tua dan guru desa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pemilihan bacaan yang sesuai usia dan bernilai edukatif. Gambar 1. Edukasi & Motivasi Anak-Anak Desa Muara Damai Untuk Membaca Gambar 1 merupakan salah satu program penguatan literasi dasar yang bertujuan meningkatkan minat baca serta kemampuan memahami bacaan pada anak-anak usia sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan melalui pendekatan edukatif dan menyenangkan, seperti membaca bersama, storytelling, permainan literasi, serta diskusi sederhana mengenai isi bacaan. Metode yang digunakan bersifat partisipatif agar anak-anak tidak merasa tertekan, melainkan terdorong untuk menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menarik dan bermanfaat. Selain pemberian materi membaca dasar, kegiatan ini juga disertai motivasi tentang pentingnya membaca dalam memperluas wawasan, meningkatkan prestasi belajar, serta membentuk karakter dan cita-cita masa depan. Anak-anak diberikan contoh tokoh inspiratif serta kisah-kisah yang membangun semangat belajar agar mereka memahami bahwa kebiasaan membaca dapat membuka peluang yang lebih besar di masa depan. Untuk memperkuat dampak program, dilakukan pula JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X pembiasaan membaca selama 15Ae30 menit secara rutin serta pemberian apresiasi sederhana kepada anak-anak yang aktif dan menunjukkan perkembangan. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan minat baca, kepercayaan diri, serta kemampuan literasi anak-anak Desa Muara Damai. Program ini juga menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi di lingkungan desa sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia secara Bidang Ekonomi Lokal dan UMKM (SDGs 8: Decent Work and Economic Growt. Pada bidang ekonomi lokal, dilakukan sosialisasi dan pelatihan penggunaan Google My Business (GMB) bagi pelaku UMKM dan pemilik usaha kecil. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan promosi digital dan memperluas jangkauan pasar produk lokal. Hasil kegiatan meliputi: 10 pelaku UMKM mengikuti pelatihan secara aktif. 5 pelaku UMKM berhasil membuat dan mengaktifkan akun Google My Business. Meningkatnya pemahaman pelaku usaha mengenai promosi digital sederhana dan pentingnya kehadiran usaha di platform daring. Gambar 2. penyuluhan & pelatihan tentang Google My Bussines Gambar 2 tentang Penyuluhan dan Pelatihan tentang Google My Business yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha desa dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran. Kegiatan ini difokuskan pada pengenalan dan praktik penggunaan platform Google My Business . ini dikenal sebagai Google Business Profil. sebagai sarana promosi usaha secara daring. Melalui penyuluhan ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya kehadiran digital, visibilitas usaha di mesin pencari, serta manfaat pencantuman lokasi usaha pada Google Maps untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Pelatihan dilaksanakan secara praktik langsung . ands-on trainin. , di mana peserta dibimbing langkah demi langkah dalam membuat akun bisnis, mengisi profil usaha, mengunggah foto produk, menuliskan deskripsi usaha yang menarik, serta mengelola ulasan pelanggan. Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai strategi optimasi profil, seperti penggunaan kata kunci yang relevan, pembaruan informasi secara berkala, dan respon aktif terhadap review konsumen. Pendekatan ini bertujuan agar pelaku UMKM tidak hanya memahami konsep digital marketing, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara mandiri. Melalui kegiatan ini, diharapkan pelaku usaha desa mampu meningkatkan visibilitas dan daya saing produknya di pasar yang lebih Pemanfaatan platform digital seperti Google Business Profile menjadi langkah strategis dalam mendukung transformasi ekonomi lokal berbasis teknologi serta mendorong pertumbuhan usaha yang lebih berkelanjutan. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X Bidang Lingkungan dan Circular Economy (SDGs 12: Responsible Consumption and Productio. Intervensi lingkungan dilakukan melalui pelatihan pembuatan keripik daun singkong sebagai upaya pemanfaatan hasil samping pertanian dan pengurangan limbah organik. Kegiatan ini juga memperkenalkan prinsip produksi ramah lingkungan dan circular economy di tingkat Hasil kegiatan menunjukkan: 8 ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM terlibat langsung dalam pelatihan. Daun singkong yang sebelumnya kurang dimanfaatkan berhasil diolah menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Proses produksi menggunakan teknik sederhana tanpa bahan kimia berbahaya, kompor hemat energi, serta kemasan berbasis kertas/daun yang ramah lingkungan. Gambar 3. Demo pembuatan keripik daun singkong Gambar 3 Demo Pembuatan Keripik Daun Singkong yang merupakan kegiatan pelatihan berbasis praktik yang bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Kegiatan ini dilaksanakan melalui demonstrasi langsung mulai dari proses pemilihan daun singkong yang berkualitas, teknik pencucian dan perebusan untuk menghilangkan getah, hingga proses pencampuran adonan, pelapisan tepung, dan penggorengan dengan suhu yang tepat agar menghasilkan tekstur yang renyah. Peserta tidak hanya menyaksikan proses pembuatan, tetapi juga dilibatkan secara aktif untuk mencoba setiap tahapan produksi. Selain aspek teknis produksi, kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai standar kebersihan, pengemasan yang menarik, serta perhitungan sederhana biaya produksi dan penentuan harga jual. Hal ini bertujuan agar produk keripik daun singkong tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga memiliki nilai jual dan daya saing di pasar lokal. Peserta juga diberikan motivasi untuk mengembangkan variasi rasa sebagai inovasi produk yang dapat meningkatkan minat konsumen. Melalui demo ini, diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan daun singkong yang mudah diperoleh sebagai peluang usaha rumahan yang produktif. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi lokal dengan mendorong kreativitas dan kemandirian masyarakat dalam mengembangkan produk olahan berbasis sumber daya desa. Penguatan Jejaring dan Tata Kelola Mini Program Sebagai upaya keberlanjutan, dibentuk tim kecil kolaboratif desa kampus yang terdiri dari perangkat desa, perwakilan masyarakat, dan mahasiswa KKNT. Tim ini berfungsi sebagai wadah koordinasi, dokumentasi kegiatan, dan perencanaan tindak lanjut pasca KKNT. Rencana tindak lanjut yang disepakati meliputi: Inisiasi bank sampah desa. Pelatihan lanjutan skala kecil untuk UMKM. Penguatan jejaring komunikasi antara desa, kampus, dan pemerintah daerah. JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X PEMBAHASAN Kontribusi Program KKNT dalam Kerangka Triple Bottom Line (TBL) Ditinjau dari kerangka Triple Bottom Line (People. Profit. Plane. , pelaksanaan KKNT menunjukkan kontribusi yang relatif komprehensif, meskipun dengan tingkat pencapaian yang berbeda pada setiap pilar. Pilar Sosial (Peopl. Program literasi dasar, literasi digital, dan pendampingan pendidikan nonformal memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas individu dan partisipasi sosial masyarakat, khususnya anak-anak dan keluarga. Kegiatan ini berkontribusi pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan inklusi sosial, yang sejalan dengan tujuan pembangunan manusia berkelanjutan (JKPU, 2024. Prastowo & Suyono, 2. Namun demikian, tantangan utama pada pilar sosial adalah keterbatasan waktu intervensi serta variasi tingkat partisipasi masyarakat, yang menyebabkan dampak program belum sepenuhnya merata dan sulit diukur secara kuantitatif dalam jangka pendek. Pilar Ekonomi (Profi. Pada aspek ekonomi, pelatihan pemasaran digital dan pengolahan produk lokal berpotensi meningkatkan daya saing usaha mikro dan membuka peluang peningkatan pendapatan Program ini memperlihatkan keberhasilan awal dalam memperkenalkan praktik kewirausahaan berbasis nilai tambah dan teknologi sederhana. Meski demikian, keberlanjutan dampak ekonomi masih menghadapi kendala, seperti keterbatasan akses pasar yang stabil, modal usaha, serta kapasitas manajerial pelaku UMKM, sehingga peningkatan pendapatan belum dapat diklaim sebagai hasil jangka panjang yang signifikan. Pilar Lingkungan (Plane. Dari sisi lingkungan, penerapan pemanfaatan limbah pertanian, penggunaan energi hemat, serta promosi kemasan ramah lingkungan menunjukkan upaya integrasi prinsip keberlanjutan dan circular economy pada level desa. Inisiatif ini mencerminkan kesadaran awal masyarakat terhadap praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Namun, tantangan yang muncul adalah belum optimalnya perubahan perilaku jangka panjang, serta keterbatasan sarana pendukung yang membuat adopsi praktik ramah lingkungan masih bersifat parsial dan bergantung pada pendampingan eksternal. Relevansi Program KKNT terhadap SDGs dan Kebijakan MBKM Program KKNT menunjukkan keselarasan yang kuat dengan SDGs Desa, khususnya dalam tujuan terkait pendidikan berkualitas (SDG . , pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG . , konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG . , serta kemitraan untuk pembangunan (SDG . Dengan mengontekstualisasikan target global ke dalam kebutuhan lokal desa. KKNT berperan sebagai instrumen implementatif SDGs di tingkat akar rumput (Green Network Asia, 2021. United Nations in Indonesia, n. Meskipun demikian, sebagaimana dilaporkan oleh United Nations . , capaian SDGs secara global masih menghadapi tantangan struktural, dan hal ini juga tercermin pada level lokal. Program KKNT belum sepenuhnya mampu menjangkau indikator SDGs secara terukur, terutama terkait pengukuran dampak jangka panjang dan konsistensi pendekatan pasca-program. Pendekatan partisipatif yang digunakan dalam KKNT terbukti meningkatkan rasa memiliki . masyarakat terhadap program, yang menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan inovasi sosial (Chambers, 1994a. Namun, efektivitas pendekatan ini sangat bergantung pada kesiapan sosial masyarakat dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa serta pemangku kepentingan lainnya. Sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). KKNT berfungsi sebagai wahana pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. yang relevan bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya memperoleh kompetensi akademik dan sosial, tetapi juga terlibat langsung dalam pemecahan masalah nyata masyarakat. Tantangannya adalah memastikan bahwa capaian pembelajaran mahasiswa dan luaran program dapat terdokumentasi secara sistematis dan terintegrasi dengan indikator kinerja SDGs dan TBL JURNAL ABDIMAS MANDIRI VOLUME 10 No. 1 APRIL 2026 DOI : 10. 36982/jam. ISSN PRINT : 2598-4241 ISSN ONLINE : 2598-425X (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2020. Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. KESIMPULAN Pendekatan KKNT Fakultas Ekonomi di Muara Damai menunjukkan model pemberdayaan partisipatif yang relevan, adaptif, dan selaras SDGs. Dampak utama mencakup penguatan literasi, pengembangan ekonomi lokal skala mikro melalui google my business dan praktik lingkungan. Untuk keberlanjutan, direkomendasikan adanya penguatan task force desa dan kampus, integrasi indikator TBL terhadap SDGs dalam rencana kerja desa, coaching berkala daring/luring, impact metrics kuantitatif . iterasi, produksi kompos, pendapatan UMKM). UCAPAN TERIMA KASIH