P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3. No 2. Februari 2026. Hal 11-18 DOI : EDUKASI SINDROM METABOLIK BAGI MASYARAKAT PESISIR DI KAMPUNG TUA TELUK MATA IKAN KOTA BATAM Andi Ipaljri Saputra1. Muhammad Mustafa Lubis2. Widodo Adi Prasetyo3. Connie Raina Carisst4. Qinxzy Y. Panjaitan5. Rizki Prasetyo Nugroho6 1,2,3,4 Dosen Fakultas Kedokteran. Universitas Batam Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Universitas Batam Program Studi Sarjana Kedokteran Email: andiipaljri@univbatam. Keywords : Self-care, school health Kata Kunci : Self-care. Abstract. Metabolic syndrome is a cluster of metabolic risk factors consisting of central obesity, dyslipidemia, hypertension, and hyperglycemia. This syndrome combines several risk factors for cardiovascular and endocrine The prevalence of metabolic syndrome continues to rise globally and nationally each year, posing a serious threat to public health and placing a significant burden on healthcare systems, with an estimated prevalence of approximately 20-25% worldwide. The objective of this health education program is to assess knowledge related to the prevention and management of Metabolic Syndrome among coastal communities in the village of Kampung Tua Teluk Mata Ikan Nongsa. Batam City. Riau Islands. The program was implemented in Kampung Tua Teluk Mata Ikan Village. RT. 003 RW. targeting coastal community members with a total of 40 participants. The methods used included interactive lectures, discussions, and evaluations using pre-tests and post-tests consisting of 10 questions, with 10 true-false statements and 10 multiple-choice questions. The results showed an increase in the average score from 5. 6 to 8. 0 after the activity. Participants demonstrated high enthusiasm and better understanding after the educational In conclusion, this program is effective in improving community health literacy regarding metabolic syndrome and the prevention of Similar educational programs should be conducted regularly with multi-sectoral collaboration to strengthen the educational impact and and encourage the formation of agents of change among coastal communities. Abstrak. Sindrom metabolik adalah suatu kumpulan faktor resiko dari kelainan metabolik yang terdiri atas obesitas sentral, dislipidemia, hipertensi, dan hiperglikemia. Sindrom metabolik ini menggabungkan beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular dan endokrin. Prevalensi Sindrom Metabolik secara global dan nasional terus meningkat setiap tahunnya , menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan beban sistem kesehatan, serta diperkirakan prevalensinya sekitar 20-25% di seluruh dunia. Tujuan dpenyuluhan ini untuk mengetahui pengetahuan terkait pencegahan dan pengelolaan Sindrom Metabolik pada masyakat Pesisir Pantai di wilayah Desa Kampung Tua Teluk Mata Ikan Nongsa. Kota Batam. Kepulauan Riau. Pelaksanaan dilakukan Desa Kampung Tua Teluk Mata Ikan RT. 003 RW. target peserta masyarakat pesisir pantai denganjumlah peserta sebanyak 40 Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, dan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terdiri atas 20 soal dimana 10 soal pernyataan Aubenar-salahAy dan 10 soal pilihan ganda. Hasil menunjukkan peningkatan nilai skor rata-rata dari 5,6 menjadi 8,0 setelah kegiatan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan pemahaman lebih baik setelah sesi edukasi. Kesimpulannya, program ini efektif meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dalam aspek Sindrom metabolik dan pencegahan Edukasi serupa perlu dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat dampak edukatif dan mendorong terbentuknya agen perubahan di kalangan masyakat pesisir. PENDAHULUAN Sindrom metabolik adalah suatu kumpulan faktor resiko dari kelainan metabolik yang terdiri atas obesitas sentral, dislipidemia, hipertensi, dan hiperglikemia. Sindrom metabolik ini menggabungkan beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular. Selain itu, sindrom metabolik dapat menjadi faktor risiko diabetes tipe 2. Prevalensi Sindrom Metabolik secara global dan nasional terus meningkat setiap tahunnya, menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan beban sistem kesehatan, serta diperkirakan prevalensinya sekitar 20-25% di seluruh dunia. Meningkatnya prevalensi kejadian sindrom metabolik dikaitkan dengan perubahan gaya hidup, seperti perubahan aktivitas fisik dan pola makan. Pada masa kini, berbagai fasilitas sarana yang sering digunakan seperti eskalator, kendaraan bermotor, remote control, handphone, dan lain-lain akan menyebabkan aktivitas fisik berkurang dan sedikitnya kalori yang digunakan. Sehingga terjadi ketidakseimbangan antara asupan kalori dan pemanfaatannya dalam tubuh, yang menyebabkan Sedangkan obesitas merupakan komponen dari sindrom metabolik. Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia mencapai 23,34%, lebih tinggi pada laki-laki . ,2%) dibandingkan perempuan . ,4%) Kriteria diagnosis sindrom metabolik saat ini mengacu pada kriteria diagnosis World Health Organization (WHO). National Cholesterol Education Program (NCEP) Adult Treatment Panel (ATP) i, dan IDF yang meliputi obesitas sentral, hipertrigliseridemia, hipertensi, hiperglikemia, dan mikroalbuminuria (NCEP ATP i, 2. Meskipun sindrom metabolik bukan merupakan suatu penyakit melainkan merupakan kumpulan gejala, namun deteksi dini pada seseorang akan memberikan arti yang sangat besar untuk segera diatasi. Hal ini disebabkan kumpulan gejala klinis yang terjadi bersamaan berperan menimbulkan penyakit kardiovaskular (Wulandari et al. , 2. Sindrom metabolik saat ini memiliki tantangan klinis di seluruh dunia berkaitan dengan urbanisasi . erubahan gaya hidup dan pola maka. , asupan energi yang berlebihan, peningkatan kejadian obesitas dan gaya hidup sangat berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan. Diperkirakan lima hingga sepuluh tahun mendatang akan terjadi peningkatan risiko diabetes melitus (DM) tipe 2 sebanyak lima kali lipat dan penyakit kardiovaskular sebanyak dua kali lipat. Pasien dengan sindrom metabolik memiliki risiko strok sebesar dua sampai dengan empat kali dan risiko infark miokard tiga sampai empat kali (Magdalena et al. , 2. Kriteria yang sering digunakan untuk menilai pasien sindrom metabolik adalah NCEPAeATP i, yaitu apabila seseorang memenuhi 3 dari 5 kriteria yang disepakati, antara lain: tekanan darah Ou130/85 mmHg. lingkar perut pria >102 cm atau wanita >88 cm. adar serum trigliserida >150 mg/dL), kadar HDLAeC 130/85 mmHg. dan kadar glukosa darah puasa >110 mg/dL (IDF, 2. Sebagai upaya dilakukan dalam mengedalikan dan mencegah peningkatan kejadian Sindom Metabolik maka dilakukan penyuluhan masyarakat di daerah pesisir pantai Batam, yang banyak bekerja sebagai nelayan, buruh pelabuhan, atau terkait sektor maritim, sering kali memiliki pola hidup yang berisiko tinggi, seperti: Pertama, pola makan dengan tingginya konsumsi makanan laut yang digoreng, makanan tinggi garam . engawet ikan, makanan olaha. , serta keterbatasan akses terhadap sayur/frut segar berkontribusi pada asupan lemak jenuh, natrium, dan gula yang tinggi. Kedua, aktivitas fisik sebagai pekerjaan yang terkadang bersifat musiman atau tidak teratur, disertai keterbatasan fasilitas olahraga di wilayah pesisir, dapat menyebabkan rendahnya tingkat aktivitas fisik. Ketiga, akses dan kesadaran kesehatan dimana akses ke fasilitas layanan kesehatan primer (Puskesma. di beberapa pulau kecil atau wilayah terpencil mungkin terbatas. Kesadaran akan risiko sindrom metabolik This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. gejala, dan pentingnya pencegahan dini juga sering kali rendah. Terakhir, faktor sosioekonomi, dimana tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan . erutama pada nelaya. dapat mempengaruhi pola makan, akses ke makanan sehat, dan prioritas terhadap pemeriksaan Kesehatan Kondisi ini menjadikan penduduk daerah pesisir Batam sebagai kelompok berisiko tinggi terkena Sindrom Metabolik. Namun, upaya pencegahan dan pengendalian SM di wilayah ini masih belum optimal. Kesenjangan utama terletak pada kurangnya program penyuluhan kesehatan yang terfokus, intensif, dan sesuai dengan konteks budaya serta tantangan spesifik masyarakat pesisir Batam. Penyuluhan kesehatan yang ada seringkali bersifat umum, sporadis, dan kurang menjangkau kelompok berisiko tinggi secara efektif di wilayah pesisir. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program penyuluhan kesehatan yang komprehensif dan kontekstual tentang Sindrom Metabolik secara khusus bagi pasien berisiko tinggi di daerah pesisir pantai Kota Batam. Program penyuluhan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik terkait faktor risiko, pencegahan, dan pengelolaan SM, dengan pendekatan yang sensitif terhadap budaya dan lingkungan setempat. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode ceramah edukatif, diskusi interaktif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendekatan ini dipilih untuk mendorongketerlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran serta memastikan transfer pengetahuan yang efektif. Waktu dan Tempat Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2025 di Ruang Pertemuan Kampung Tua. Peserta kegiatan terdiri dari 40 partisipan yang hadir saat penyuluhan Tahapan Kegiatan Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: untuk mendukung terealisasinya program pengabdian masyarakat yang telah direncanakan, maka langkahlangkah prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi Masalah untuk Melaksanakan Kegiatan Sosialisasi Untuk mencapai pengabdian yang efektif, diperlukan identifikasi masalah ataupun kebutuhan sehingga materi yang akan di sampaikan selaras dengan masalah yang ada di Kampung Tua Teluk Mata Ikan Kampung Tua Nelayan RT. 003 RW. Kel. Sambau. Kec. Nongsa. Kota Batam. Kepulauan Riau. Menyusun Desain Sosialisasi Desain sosialisasi di Kampung Tua Teluk Mata Ikan Kampung Tua Nelayan RT. RW. Kel. Sambau. Kec. Nongsa. Kota Batam adalah dalam bentuk penyuluhan dan . Menyusun Bahan atau Materi Sosialisasi. Dalam rangka menyiapkan materi penyuluhan bertema "sindrom metabolik dan pencegahannya", maka ada beberapa langkah yang dilakukan meliputi: Mengidentifikasi dan menetapkan siapa saja yang akan menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi ini. Menyelenggarakan pertemuan awal dengan seluruh narasumber guna memberikan pemahaman menyeluruh terkait tujuan, sasaran, serta alur kegiatan sosialisasi yang akan dilaksanakan. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Menugaskan setiap narasumber untuk menyusun dan menguasai materi sesuai bidang atau topik yang telah ditentukan kepada masing-masing. Menyiapkan segala kebutuhan teknis dan non-teknis sebagai bagian dari persiapan akhir pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Tahap Persiapan Tim pengabdi melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas Wilayah Sambau untuk menetapkan waktu pelaksanaan dan peserta kegiatan. Materi presentasi serta lembar pre-test dan post-test disiapkan oleh tim pengabdi, disesuaikan dengan topik edukasi Sindrom Metabolik dan pengcegahannya. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara langsung di Ruang Pertemuan dengan durasi kegiatan selama 3 jam. Rangkaian kegiatan meliputi: Pembukaan oleh Toko Masyarakat dan perwakilan tim pengabdi Pre-test untuk mengetahui tingkat awal pengetahuan masyarakat Penyampaian materi edukasi. Diskusi interaktif dan sesi tanya jawab, di mana masyakat diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan seputar materi. Untuk meningkatkan animo peserta agar lebih fokus mendengarkan saat penyampaian materi dan aktif pada sesi tanya jawab bagi siswa yang bertanya diberikan doorprize menarik. Post-test sebagai evaluasi untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah penyuluhan. Penutupan dan refleksi bersama masyarakat. Materi edukasi disampaikan menggunakan media presentasi PowerPoint, serta lembar cetak sebagai poster. Hal ini sejalan dengan metode pengabdian partisipatif seperti yang diterapkan oleh (Ach. Faruk, 2023. Wahyuni et al. Tahap Evaluasi dan Dokumentasi Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test yang dianalisis secara deskriptif untuk melihat peningkatan pengetahuan masyarakat. Selain itu, dilakukan observasi selama kegiatan untuk mencatat antusiasme dan keterlibatan peserta. Dokumentasi kegiatan berupa foto, daftar hadir, dan hasil evaluasi menjadi bagian dari laporan pengabdian. HASIL DAN PEMBAHASAN Karateristik Respondek Kegiatan Penyuluhan ini dikuti oleh 40 peserta dari kalangan masyarakat pesisir Kampung Tua Nongsa, berikut ini data karateristik responden . Tabel 1. Karateristik Responden Kategori Jumlah . Persentase (%) Jenis Kelamin . Laki-laki . Perempuan Usia Dewasa :Usia 19-44 tahun Pra lansia : 45-59 tahun Lansia : usia > 60 tahun This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Berdasarkan tabel 1 distribusi responden berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan lebih banyak dibadingkan dengan laki-laki, dimana jenis kelamin perempuan sebanyak 23 responden . ,5%), sedangkan laki-laki sebanyak 17 responden . ,5%). Selanjutnya kareteristik responden berdasarkan kelompok usia manyoritas kelompok Dewasa . sia 19-44 tahu. sebanyak 22 responden . %), kemudian kelompok usia pra-lansia . sia 45-59 tahu. sebanyak 10 responden dengan persentase . %), terakhir kelompok usia lansia . sia > 60 tahu. sebanyak 8 responden dengan persentase 20 %. Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Edukasi penyuluhan tentang Sindrom Metabolik dan pencegahannya Evaluasi pemahaman responden dilakukan melalui 20 pertanyaan terdiri dari 10 soal AubenarsalahAy dan 10 soal pilihan ganda, yang dirancang untuk mengukur aspek pengetahuan tentang Sindrom Metabolik dan pencegahannya. Hasil pengolahan data menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada nilai rata-rata post-test dibandingkan dengan pre-test Tabel 2. Hasil Pre-test dan Post-test Indikator Penilaian Pengetahuan Tentang Sindorm Metabolik Pencegahannya Tentang Sindorm Metabolik Nilai Rata-rata Pre-test Post-test 5,7 1,3 7,5 1,0 5,6 1,4 8,0 1,1 5,5 1,5 8,5 1,2 Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang sindrom metabolik mengalami peningkatan dari nilai rata-rata pre-test 5,5 1,5 menjadi 8,5 1,2 nilai rata-rata post, hal ini membutuihkan bahwa dengan adanya edukasi berupa penyuluhan berupa ceramah dengan dibantu visualisasi dan poster akan memberikan dampak peningkatan pemahaman responden terhadap pertanyaan tentang apa itu sindrom metabolik dan gejala klinis, secara signifikan. Hal ini menjadikan bahwa kegiatan edukasi berupa penyuluhan berhasll dapat pemberikan pengetahuan baru dan sekaligus pemahaman dan tindak lanjut jika terjadi dalam diri respon tersebut. Dimana kita ketahui bahwa kegiatan ini belum pernah dilakukan. Berikutnya, penilaian indikator pencegahan sindrom metabolik dapat dilihat dari hasil rata-rata pre-test 5,7 1,3 menjadi 7,5 1,0 dari nilai rata-rata post-test. Berdasarkan hasil indikator pencegahan tentang SIndrom Metabolik tersebut disimpulkan bahwa respon dapat memahami dan mengerti tentang bagaimana cara mencegah dan mengendalikan sindrom metabolik. Pemahaman ini mengindikator responden dapat mnelakukan perilaku hidup sehat seperti: Pertama, pola makan dengan tingginya konsumsi makanan laut yang digoreng, makanan tinggi garam . engawet ikan, makanan olaha. , serta keterbatasan akses terhadap sayur/frut segar berkontribusi pada asupan lemak jenuh, natrium, dan gula yang tinggi. Kedua, aktivitas fisik sebagai pekerjaan yang terkadang bersifat musiman atau tidak teratur, disertai keterbatasan fasilitas olahraga di wilayah pesisir, dapat menyebabkan rendahnya tingkat aktivitas fisik. Ketiga, akses dan kesadaran kesehatan dimana akses ke fasilitas layanan kesehatan primer (Puskesma. di beberapa pulau kecil atau wilayah terpencil mungkin terbatas. Kesadaran akan risiko sindrom metabolik gejala, dan pentingnya pencegahan dini juga sering kali rendah. Terakhir, faktor sosioekonomi, dimana tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan . erutama pada nelaya. dapat mempengaruhi pola makan, akses ke makanan sehat, dan prioritas terhadap pemeriksaan kesehatan rutin. Pendekatan ceramah dan pemasangan poster merupakah salah satu kekuatan dari kegiatan ini yang bersipat partisipatif dan kontekstual, sehingga diskusi dapat efektif dan efisien dalam memfasilitasi This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. edukasi dan penyuluhan. Model ini mengacu pada pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang telah terbukti efektif dalam membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap isu kesehatan (Wijayanto, 2024. Lebih jauh, kegiatan ini bukan hanya memberikan informasi satu arah, tetapi juga membuka ruang dialog antara narasumber dan responden. Dalam sesi diskusi, ada beberapa responden bertanya langsung tentang apa itu sindrom metabolik, ciri-ciri, gejala, dan pemeriksaan yang harus dilakukan dan pencegahannya. Disimpulkan bahwa responden mulai memahami risiko jika kedepan terjadi pada diri mereka. Ini sejalan dengan pernyataan (Faudya et al. , 2025. Sosial, 2. yang menekankan pentingnya komunikasi dua arah dalam edukasi kesehatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini mendukung pencapaian tujuan program pemerintah berupa Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM). Program Gizi Seimbang, dan Skring Sindrom Metabolik dan programprogram lainnya. Gambar 1. Penyuluhan Gambar 2 Foto Bersama dengan Responden This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Gambar 2. Poster Edukasi KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema edukasi tentang Sindrom Metabolik dan pencegahanya menunjukkan hasil yang positif. Terdapat peningkatan signifikan pada pemahaman responden, dibuktikan dengan skor rata-rata dari 5,6 menjadi 8,0 setelah edukasi penyuluhan. Metode ceramah interaktif, diskusi, dan media visual terbukti efektif dalam menyampaikan materi yang bersifat teknis menjadi lebih mudah dipahami. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dan kesadaran yang lebih baik terhadap kesehatan khusunya penyakit Sindrom Metabolik. Keistimewaan kegiatan ini terdapat pada pendekatan partisipatif dan kontekstual yang mendorong keterlibatan aktif Materi disampaikan secara aplikatif dan relevan dengan kehidupan mereka. Namun, keterbatasan masih ada, seperti durasi kegiatan yang singkat dan belum tersedianya evaluasi dampak jangka panjang. Harapan kegiatan ke depan kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi kegiatan roleh stacholder dengan melibatkan multidisplin seperti. Dinas Kesehatan. Puskesmas. Institusi Pendidikan Kesehatan dan Kedokteran. Tokoh Masyarakat sehingga dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif terhadap masyrakat pesisir. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Batam. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Batam. Teman sejawat Dokter dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Batam. Mahasiswa FOME/ KKN angkatan 2025, pihak Puskesmas. Masyrakat pesisir yang telah berpartisipasi kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. KONFLIK KEPENTINGAN Tidak ada potensi konflik kepentingan yang relevan dengan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA