Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Upaya Pengurangan Human Error Pada Kecelakaan Kerja Dengan Metode Sherpa Dan Jsa Di Perum Perhutani Kbm Industri Kayu Gresik Abdi Rahayu*. Heri Mujayin Kholik. Dian Palupi Restuputri Jurusan Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas 246 Malang 65144 Jawa Timur *Surel: abdirahayu12@gmail. Abstract Perum Perhutani KBM-IK (Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kay. Gresik is a unit of the organization under the Office of Perum Perhutani Unit II East Java, which is responsible for the implementation of business management in the field of Industi Wood. In the production process. Perum Perhutani has used the modern machining However, due to the negligence of the operator / worker, often causing work Like do not use personal protective equipment, it is often underestimated by the operator. The method used is SHERPA to identify the source of danger while JSA used to provide solutions to the problems faced in companies. Research and calculation of risk score can be known the value of the biggest error lies in the activities taking pieces of the board after the cut using a band saw machine, cutting boards using a machine band resaw and cutting wood with a cross cut machine. The suggested solution is to further improve supervision in each process, conducting training K3 conducted by the management company, give firm sanction for operators who do not wear APD and design tools such as limiting engine band resaw and handle holder on the machine cross cut. Key Word: Human Error. Work Accident. SHERPA, risk score and JSA. Abstrak Perum Perhutani KBM-IK (Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kay. Gresik adalah satuan organisasi dibawah Kantor Perum Perhutani Unit II Jawa Timur yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pengelolaan usaha di bidang Industi Kayu. Perum Perhutani telah menggunakan alat permesinan yang modern untuk proses Namun karena kelalaian operator/pekerja, sering menyebabkan timbulnya kecelakaan kerja. Seperti tidak menggunakannya alat pelindung diri sering dianggap remeh oleh operator. Metode yang digunakan yaitu SHERPA untuk mengidentifikasi sumber bahaya sedangkan JSA digunakan untuk memberikan solusi atas masalah yang dihadapi perusahaan. Perhitungan skor resiko diketahui nilai error terbesar terletak pada kegiatan mengambil potongan papan setelah dipotong menggunakan mesin band saw, memotong papan menggunakan mesin band resaw dan memotong kayu dengan mesin cros scut. Solusi yang diberikan adalah dengan meningkatkan pengawasan pada setiap proses, melakukan pelatihan K3, memberi sangsi tegas bagi operator yang tidak memakai APD dan membuat desain alat bantu berupa pembatas mesin band resaw dan handle pemegang pada mesin cros scut. Kata Kunci: Human Error. Kecelakaan Kerja. SHERPA, skor resiko dan JSA. Pendahuluan Manusia dalam melakukan pekerjaannya cenderung mengalami error . Menurut Wignjosoebroto . dari berbagai hal yang menyangkut permasalahan manusia dalam berinteraksi dengan produk, mesin ataupun fasilitas kerja lain yang dioperasikannya, manusia seringkali dipandang sebagai sumber Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online penyebab segala kesalahan, ketidakberesan maupun kecelakaan kerja . uman erro. Buchari,dkk . menganalisa human error pada kecelakaan kerja yang terjadi di PT (XYZ) pada bagian Wet Area. Talcum Area dan Packing Area. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa error terbesar merupakan operator tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Dir. Proses produksi Perum Perhutani menggunakan alat permesinan yang bervariasi serta membutuhkan konsentrasi. Mulai dari produk masuk hingga pengemasan dilakukan oleh mesin. Namun karena kelalaian operator/pekerja, sering menyebabkan timbulnya kecelakaan kerja. Seperti tidak menggunakan alat pelindung diri yang sering dianggap remeh oleh operator. Kecelakaan yang terjadi antara lain kaki tertimpa balok, jari terpotong, dan tangan tergores mesin. Makalah ini menguraikan suatu analisis yang digunakan untuk mengurangi terjadinya human error . esalahan operato. pada saat melakukan pekerjaannya. Metode analisis yang digunakan adalah SHERPA (Systematic Human Error Reduction Production Techni. digunakan untuk menganalisis mode error serta mengidentifikasi sumber penyebab kecelakaan dan JSA (Job Safety Analysi. digunakan untuk memberikan solusi pada error yang terjadi. Tujuan makalah dengan metode SHERPA dan JSA ini adalah untuk mengetahui penyebab kecelakaan berdasarkan perhitungan Skor Resiko pada Analisis Ordinal Probabilitas dan memberikan solusi perbaikan terhadap error tersebut. Makalah ini hanya mancakup pada departemen produksi flooring. Metode Penelitian Metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah pada makalah ini dengan metode SHERPA (Systematic Human Error Reduction Production Techni. dan JSA (Job Safety Analysi. Salmon . menjelaskan bahwa SHERPA merupakan salah satu metode untuk menganalisa terjadinya human error dengan menggunakan input hirarki task level dasar dan Hutama . menguraikan bahwa JSA merupakan salah satu usaha dalam menganalisa tugas prosedur yang ada di suatu industri. Makalah ini disusun melalui beberapa tahap yaitu studi lapangan dan study pustaka, pengumpulan data, membagi kegiatan ke dalam kelompok kerja Hierarchycal Task Analysis (HTA), pengolahan data dengan metode SHERPA. Metode SHERPA yang pertama mengidentifikasi error berdasarkan tabel mode error. Tahap berikutnya adalah menentukan konsekuensi dari human error yang terjadi, dan tahap terakhir adalah analisis ordinal probabilitas dengan melihat tabel ordinal probabilitas. , . Tabel ini menunjukkan tingkat kekritisan dari konsekuensi human error yang terjadi. Tahap menghitung Skor Resiko, dalam tahap ini digunakan untuk menentukan kegiatan yang dianalisis menggunakan metode JSA dengan rumus. ycIycoycuyc ycIyceycycnycoycu=yayceycyceyco yayceycyycaycycaEaycaycu y yaycaycycyc ycIyceycycycyyca Pengolahan data menggunakan metode JSA dengan langkah menilai tingkat bahaya dan resiko dan mengendalikan bahaya dengan cara membuat form JSA. Hasil dan Pembahasan Untuk dapat membuat bagan HTA, terlebih dahulu harus mengetahui alur proses produksi flooring. Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online 1 Proses Produksi Flooring Gambar 1 merupakan bagan alur proses produksi flooring, ada 9 proses utama yaitu penggergajian balok kayu, pemotongan lebar kayu, pemotongan panjang kayu, pembuatan T&G, pembuatan double end, penghalusan, pengeringan, inspeksi dan 2 Hierarchycal Task Analysis (HTA) Tabel 1 Hierarchecal Task Analysis Produksi flooring Kegiatan No. Kegiatan Task Menempatkan kayu pada loadingdect Meletakkan balok kayu pada lintasan gelinding Menggelindingkan balok kayu pada mesin mendekati mesin Penggergajian Balok Mengangkat balok kayu pada handle mesin Kayu Mengoperasikan carriage Mengambil potongan papan setelah dipotong oleh mesin Mengangkut papan kayu menuju conveyor Membersihkan permukaan papan kayu Pemotongan Lebar Membersihkan mata gergaji dari serbuk kayu Kayu Mengasah mata gergaji Memotong papan menggunakan mesin band resaw Mengambil kayu dari tumpukan Pemotongan Panjang Mengangkat kayu dari tumpukan Kayu Membersihkan mata gergaji dari serbuk kayu Mengasah mata gergaji Meletakkan kayu pada handle mesin crosscut Mengambil dan mengangkat kayu dari tumpukan . Pembuatan T&G Mengambil kayu dari tumpukan . Mensetting spesifikasi ukuran pembuatan T&G Pembuatan DoubleEnd 5. Mengambil kayu dari tumpukan . Mensetting ukuran pembuatan doubleend Mengambil kayu dari tumpukan Penghalusan Mengangkat kayu mendekati mesin penghalus Mensetting mesin Mengambil kayu dari tumpukan . Menyusun kayu pada tumpukan Pengeringan Membersihkan mesin kilndry Mensetting suhu mesin kilndry Mencatat suhu mesin kilndry Mengecek ukuran potongan papan pada mesin bandsaw Mengecek ukuran papan pada mesin bandresaw Inspeksi Mengecek ukuran T&G dan doubleend Mengecek kayu pada mesin sanding Mengecek kayu pada mesin kilndry Memastikan kerapian packaging Menyiapkan kardus pembungkus Packaging Menyususun kayu Mengikat kayu Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Tabel 1 merupakan HTA dari proses produksi flooring. Data HTA yang dibuat mulai dari proses penggergajian balok kayu hingga proses packaging secara detail. Penggergajian Balok Kayu Pemotongan Lebar Kayu Pemotongan Panjang Pembuatan T&G Packaging Pengeringan dan Penghalusan Pembuatan Double End Gambar 1 Bagan Alur Proses Produksi flooring 3 SHERPA Tabel 2 Pengerjaan dengan Metode SHERPA Kegiatan No. Task Tabel Mode Deskripsi Error Error Operator memindahkan balok dari tumpukan Saat kayu dari loadingdect ke lintasan gelinding Operator balok kayu dengan tangan kosong Konsekuensi Human Error Balok menjatuhi kaki Level Kasus Skor Keparahan Serupa Resiko Kaki tertimpa balok kayu Tangan terjepit tangan tertusuk yang tajam Ketika operator Kaki tertimpa balok balok kayu dari lintasan tangan keseleo gelinding ke hanlde Saat operator Kaki tidak carriage lintasan carriage Pekerja mengambil Jari Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online potongan papan tanpa APD lengkap dan tanpa ada pemisah antara mesin dan pekerja Operator menggunakan sarung tangan safety pada papan dari conveyor Jari tertusuk bagian tangan terjepit Operator kurang teliti Serbuk saat masuk kedalam membersihkan serbuk mata permukaan hidung Operator ceroboh saat Jari membersihkan mata mata gergaji Tidak memakai Tangan sarung tangan safety tertusuk mata Operator tidak Jari APD tergores, saat tangan menggunakan mesin Operator mengambil Tangan kayu dengan posisi tertusuk bagian tubuh yang salah dan kayu memakai nyeri punggung sarung tangan safety Operator terlalu Kaki tertimpa banyak mengangkut potongan kayu Operator ceroboh saat Jari membersihkan mata mata gergaji Tidak memakai Tangan sarung tangan safety tertusuk mata Operator tidak Jari APD terpotong saat bahkan lengan bisa terpotong Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online menggunakan mesin cross cut Operator berhati-hati Operator mengambil kayu dengan posisi tubuh yang salah dan sarung tangan safety Operator T&G sesuai pesanan Operator mengambil kayu dengan posisi tubuh yang salah dan sarung tangan safety Operator Operator mengambil kayu dengan posisi tubuh yang salah dan sarung tangan safety Pekerja Salah Pekerja tumpukan kayu Tangan tertusuk bagian nyeri punggung Produk T&G Dapat sakit punggung Produk doubleend cacat Produk flooring sakit punggung terlalu Jari mengangkut tangan keseleo mensetting Permukaan produk flooring kurang rapi Operator mengangkut Tumpukan kayu kayu terlalu banyak cacat, pekerja tumpukan kayu Oeprator forklift Tumpukan kayu kayu terjatuh terlalu tinggi dari forklift Pekerja kurang teliti Mata terpapar dalam membersihkan debu ruang mesin kilndry Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Salah mengatur ulang Kulit terbakar suhu kilndry Lupa melalukan Suhu mesin kilndry tidak terkontrol Salah mengatur ulang Tebal potongan tidak dengan pesanan Tidak melakukan Panjang pengecekkan dengan lebar tidak sama rata Melewatkan T&G pengecekkan rutin tidak terbentuk dengan rapi Tidak melakukan Permukaan kontrol rutin kurang halus Salah menentukan Kulit terbakar suhu ruang mesin Pekerja melakukan Pengepackan pengepackan secara kurang rapi asal-asalan Pekerja ceroboh Sakit punggung Salah dalam Pengepackan saat tidak rapi, kaki Ikatan tidak rapi dan Bisa tidak kuat produk flooring Tabel 2, tabel 3, tabel 4, dan tabel 5 merupakan pengolahan data dengan metode SHERPA. Kegiatan dikelompokkan dalam tabel mode error, kemudian mendeskripsikan error yang terjadi dan mengidentifikasi konsekuensi yang ditimbulkan dari error tersebut, tahap terakhir yaitu melakukan wawancara kepada narasumber untuk mengetahui tingkat keparahan dari error yang terjadi. Konsekuensi error meliputi aspek produk dan operator. 4 JSA Tabel 6 merupakan rekapitulasi jenis error terbesar dan dapat dililihat bahwa mengambil potongan papan setelah dipotong menggunakan mesin band saw, memotong papan menggunakan mesin band resaw dan memotong kayu dengan mesin cross cut memiliki Nilai Skor Resiko masing-masing 15, 20 dan 15. Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Tabel 6 Rekapitulasi Jenis Error Terbesar Proses Penggergajian Balok Pemotongan Lebar Kayu Pemotongan Panjang Kayu Jenis Error Mengambil potongan papan setelah dipotong menggunakan mesin Memotong papan menggunakanm mesin bandresaw Memotong kayu dengan mesin Skor Mode Resiko Error Analisis Probabilitas Human Error 5 Rekomendasi Perbaikan yang diusulkan Penggergajian Balok Melakukan persiapan kerja sebelum pekerjaan dimulai dan evaluasi setelah pekerjaan selesai. Persiapan pekerja mulai dari kelengkapan pakaian (APD) seperti sarung tangan safety, kacamata safety, masker safety, earplug, coverall, sepatu safety, dan evaluasi setelah menyelesaikan pekerjaan meliputi kendala yang dialami pada hari Pemotongan Lebar Kayu Melakukan briefing kepada operator dibagian pemotongan lebar kayu agar lebih berhati-hati melakukan pekerjaan. Briefing meliputi menjaga kesehatan dan keselamatan ditempat kerja dan posisi tubuh saat bekerja. Pekerja akan dilatih posisi tubuh yang benar saat melakukan pemotongan dan mengangkat kayu. Menambah alat bantu berupa pembatas mesin dengan operator. Membuat desain pembatas antara mesin band resaw dengan operator : Gambar 2 Desain Pembatas Mesin Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Pemotongan Panjang Kayu Melakukan pelatihan pada bagian pemotongan panjang kayu agar operator lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaan. Membuat desain handle pemegang kayu pada mesin crosscut : Gambar 3 Desain Handle Pemegang Kayu Simpulan Dari pengolahan data hasil makalah di Perum Perhutani KBM Industri Kayu Gresik dan penyelesaian dengan metode SHERPA (Systematic Human Error Reduction and Predictio. maka dapat diketahui bahwa kecelakaan kerja di Perum Perhutani disebabkan oleh operator tidak memakai APD berupa sarung tangan safety, kacamata safety, earplug, sepatu safety dan tidak dilakukannya training secara berkala pada stasiun penggergajin balok. Tidak ada pembatas antara tangan operator dengan pisau mesin bandresaw, operator tidak memakai APD berupa sarung tangan safety, kacamata safety dan earplug. Tidak adanya handle yang berguna sebagai pemegang kayu, operator tidak menggunakan APD berupa masker, sarung tangan safety, kacamata safety dan coverall. Metode JSA memberikan analisa perbaikan pada kecelakaan yang terjadi pada proses produksi flooring. Berdasarkan dari Penilaian Skor Resiko pada metode SHERPA diperoleh 3 kegiatan berbahaya yaitu kegiatan nomor 1. 4, 2. 4 dan 3. kegiatan tersebut dianalisis dan diberikan usulan perbaikan masing-masing, melakukan training secara rutin, desian pelindung, desain pemegang . operator dan penggunaan APD lengkap yang telah berstandar safety untuk operator diseluruh lantai produksi terutama lantai produksi flooring. Hasil dari analisis JSA yaitu berupa form JSA sebagai pedoman perusahaan untuk melakukan perbaikan pada pekerjaan yang berbahaya. Jurnal Teknik Industri. Vol. No. Agustus 2015, pp. ISSN 1978-1431 print / ISSN 2527-4112 online Referensi