Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . PENGARUH LUAS LAHAN. MODAL DAN HARGA JUAL TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI DI DESA SARIMULYO KECAMATAN CLURING Anja Liutik Pesra1. Erlin Susilowati1. Driyanto Wahyu Wicaksono1 Program Studi Agribisnis. Politeknik Negeri Banyuwangi E-mail: anjaliutik252@gmail. Informasi Artikel Jurnal Javanica https://jurnal. /index. php/javanica E-ISSN 2963-8186 https://doi. org/10. 57203/java Draft awal 18 June 2026 Revisi 24 June 2026 Diterima 5 July 2026 Diterbitkan oleh Jurnal Javanica Program Studi Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi ABSTRAK Pendapatan petani padi merupakan salah satu indikator keberhasilan usahatani yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti luas lahan, modal dan harga jual hasil panen. Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring merupakan wilayah agraris dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani padi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan, modal, dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 83 petani padi yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani dengan nilai signifikansi 0,000 dan koefisien regresi 1,232. Harga jual juga berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai signifikansi 0,005 dan koefisien regresi 2,741. Sementara itu, modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani dengan nilai signifikansi 0,170 dan koefisien regresi -0,176. Secara simultan, luas lahan, modal, dan harga jual berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,857 menunjukkan bahwa 85,7% variasi pendapatan petani dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan analisis status kepemilikan lahan melalui variabel dummy. Kata kunci: Harga Jual. Luas Lahan. Modal. Pendapatan Petani. Usahatani Padi. ABSTRACT Rice farmer income is one indicator of farming success that is influenced by various factors, such as land area, capital, and selling price of the harvest. Sarimulyo Village. Cluring District, is an agricultural area with the majority of the population working as rice farmers. This study aims to analyze the effect of land area, capital, and selling price on the income of rice farmers in Sarimulyo Village. Cluring District, both partially and The study used a quantitative method with a descriptive The research sample consisted of 83 rice farmers determined using the Slovin formula and selected through a purposive sampling Data analysis was carried out using multiple linear regression with the help of SPSS version 27. The results showed that land area had a positive and significant effect on farmer income with a significance value of 000 and a regression coefficient of 1. Selling price also had a positive and significant effect with a significance value of 0. 005 and a regression coefficient of 2. Meanwhile, capital did not have a significant effect on farmer income with a significance value of 0. 170 and a regression coefficient of -0. Simultaneously, land area, capital, and selling price significantly influence rice farmers' income. The coefficient of determination (RA) of 0. 857 indicates that 85. 7% of the variation in farmers' Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . income can be explained by these three variables. The novelty of this study lies in the use of dummy variables to analyze land ownership status. Keywords: Capital. Farmer Income. Land Area. Rice Farming Business. Selling Price. PENDAHULUAN Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan, menyediakan lapangan kerja, serta menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan. Subsektor tanaman pangan, khususnya padi, merupakan komoditas utama yang berkontribusi terhadap stabilitas pangan nasional sekaligus menjadi sumber pendapatan utama bagi sebagian besar rumah tangga petani di Indonesia. Meskipun peran padi sangat penting, struktur penguasaan lahan pertanian di Indonesia masih didominasi oleh petani berskala kecil. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, sebesar 62,05% petani di Indonesia tergolong petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 ha. Kondisi ini bahkan lebih tinggi di Kabupaten Banyuwangi, yaitu mencapai 82,16% (BPS, 2. Secara teoritis, dalam fungsi produksi pertanian, output merupakan hasil kombinasi berbagai faktor produksi seperti lahan dan modal (Soekartawi, 2. Luas lahan mencerminkan skala usaha yang menentukan kapasitas produksi, sedangkan modal berperan dalam menyediakan sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, serta pembiayaan tenaga kerja. Semakin luas lahan yang diusahakan dan semakin optimal penggunaan modal, maka produksi yang dihasilkan cenderung meningkat. Pendapatan usahatani pada dasarnya merupakan dari hasil perkalian antara jumlah produksi dan harga jual (Suratiyah, 2. Dengan demikian, harga jual memiliki peran langsung dalam menentukan besarnya pendapatan petani. Dalam kondisi tertentu, peningkatan produksi tidak selalu diikuti oleh peningkatan pendapatan apabila terjadi penurunan harga jual, terutama pada saat panen raya akibat fluktuasi pasar dan lemahnya posisi tawar petani. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa luas lahan, modal dan harga jual merupakan faktor-faktor penting yang memengaruhi pendapatan petani padi Rosmiyati . dan Amma et al. , . menemukan bahwa luas lahan, modal dan harga jual berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi, baik secara parsial maupun simultan, yang mengindikasikan bahwa peningkatan skala usaha, ketersediaan modal dan harga jual yang menguntungkan dapat mendorong peningkatan pendapatan Namun demikian, hasil berbeda ditemukan Ayuningtyas et al. , . dan Kusmiyati et al. , . , yang menyatakan bahwa modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani, yang menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan modal dapat berbeda antar wilayah. Selain itu, penelitian Semiwati dan Hambali . serta Gilano et al. , . menemukan bahwa pengaruh harga jual terhadap pendapatan petani bersifat bervariasi tergantung pada kondisi pasar dan sistem pemasaran di masing-masing Pada konteks wilayah Kabupaten Banyuwangi, penelitian yang dilakukan oleh Mubarok et al. , . di Desa Setail Kecamatan Genteng menunjukkan bahwa luas lahan How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . dan modal berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi, dengan memasukkan tenaga kerja sebagai variabel independen. Namun penelitian tersebut belum memasukkan variabel harga jual sebagai faktor yang dianalisis, serta dilakukan pada wilayah yang Perbedaan variabel dan lokasi penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk melakukan penelitian yang lebih spesifik di wilayah lain Kabupaten Banyuwangi dengan memasukkan variabel harga jual sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi pendapatan petani. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi relevan untuk mengkaji pengaruh luas lahan,modal dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Desa Sarimulyo mengalami penurunan produksi dari 2. 659 ton pada tahun 2023 189 ton pada tahun 2024 atau menurun sebesar 17,68%. Meskipun demikian, padi tetap menjadi komoditas utama yang diusahakan masyarakat Desa Sarimulyo. Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyuluh Pertanian Lapang Desa Sarimulyo, produksi padi pada tahun 2025 tercatat sebesar 1. 419 ton dengan luas panen 220 ha dan tingkat produktivitas mencapai 64,5 kuintal/ha (Anggraini. Hasil Wawancara, 2. Luas lahan sawah di desa tersebut mencapai 239 ha dari total luas wilayah 6,51 kmA. Desa Sarimulyo memiliki kelompok tani aktif yang beranggotakan 484 petani padi dengan total luas lahan garapan sebesar 220 ha. Dengan jumlah petani padi sebanyak 484 orang dan luas sawah 239 ha, rata-rata penguasaan lahan per petani sekitar 0,45 ha. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani padi di Desa Sarimulyo tergolong petani berskala kecil atau petani gurem. Kondisi tersebut menjadi menarik untuk diteliti karena keterbatasan skala lahan berpotensi memengaruhi kapasitas produksi dan pendapatan yang diperoleh petani (Profil Desa, 2. Dari sisi permodalan. Usahatani padi memerlukan biaya untuk pembelian benih, pupuk, pestisida serta pembayaran tenaga kerja. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani padi di Desa Sarimulyo, sebagian besar petani menggunakan modal sendiri dalam membiayai kegiatan produksi. Namun demikian, petani mengeluhkan tingginya harga pupuk dan pestisida yang meningkatkan beban biaya produksi. Meskipun tersedia pupuk bersubsidi serta akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), tidak seluruh petani memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan dan pengelolaan modal berpotensi memengaruhi tingkat produksi dan pendapatan petani. Dari sisi penerimaan, hasil wawancara menunjukkan bahwa harga jual Gabah Kering Panen (GKP) pada musim tanam terakhir berkisar antara Rp6. 000 hingga Rp7. 000/kg. Dengan tingkat produktivitas rata-rata sebesar 64,5 kuintal/ha atau sekitar 450 kg/ha, selisih harga sebesar Rp150/kg dapat menyebabkan perbedaan penerimaan hampir Rp1. 000/ha dalam satu musim tanam. Hal ini menunjukkan bahwa variasi harga jual yang relatif kecil sekalipun dapat berdampak signifikan terhadap tingkat pendapatan petani. Berdasarkan uraian tersebut, terdapat indikasi bahwa pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo sangat berkaitan dengan luas lahan yang diusahakan, besarnya modal yang digunakan dalam proses produksi, serta harga jual hasil panen yang diterima petani. How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . Dengan mempertimbangkan karakteristik Usahatani berskala kecil, kondisi permodalan petani, serta variasi harga jual di tingkat petani, penelitian ini difokuskan pada analisis pengaruh luas lahan, modal dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring guna memberikan gambaran empiris mengenai faktorfaktor ekonomi yang memengaruhi kesejahteraan petani di tingkat lokal. II. TINJAUAN PUSTAKA Konsep Usahatani Usahatani merupakan suatu kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh petani dalam mengelola faktor-faktor produksi pertanian untuk menghasilkan output berupa produk pertanian guna memenuhi kebutuhan konsumsi maupun memperoleh keuntungan. Menurut Soekartawi . , usahatani adalah cara petani mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil yang maksimal. Dalam konteks ekonomi pertanian, usahatani tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budidaya semata, tetapi sebagai suatu unit usaha ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh Secara umum, faktor-faktor produksi dalam usahatani meliputi lahan, tenaga kerja, modal, dan manajemen (Soekartawi, 2. Lahan merupakan faktor produksi utama dalam sektor pertanian karena menjadi tempat berlangsungnya proses produksi biologis tanaman. Tenaga kerja dibutuhkan dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan tanah hingga panen. Modal digunakan untuk membeli sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, serta membiayai kebutuhan operasional lainnya. Sementara itu, manajemen berperan dalam mengorganisasi dan mengombinasikan seluruh faktor produksi agar dapat menghasilkan output secara optimal. Dalam perspektif ekonomi, tujuan utama usahatani adalah memaksimalkan pendapatan atau keuntungan. Suratiyah . menjelaskan bahwa pendapatan usahatani diperoleh dari selisih antara total penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Total penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual, sedangkan total biaya mencakup seluruh pengeluaran yang digunakan dalam proses produksi. Dengan demikian, keberhasilan usahatani sangat dipengaruhi oleh besarnya produksi yang dihasilkan, efisiensi penggunaan biaya, serta tingkat harga jual di pasar. Produksi Produksi dalam ilmu ekonomi merupakan proses transformasi input atau faktorfaktor produksi menjadi output berupa barang atau jasa yang memiliki nilai guna. Menurut Nicholson dan Snyder . , produksi adalah kegiatan yang mengombinasikan berbagai faktor produksi untuk menghasilkan barang atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam konteks pertanian, produksi berkaitan dengan proses biologis yang mengubah input seperti lahan, benih, pupuk, tenaga kerja, dan modal menjadi hasil panen. Secara teoritis, hubungan antara input dan output dijelaskan melalui fungsi produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan teknis antara jumlah input yang digunakan dengan jumlah output yang dihasilkan. Soekartawi . menjelaskan How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . bahwa fungsi produksi dalam pertanian menunjukkan bagaimana faktor-faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, dan modal dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang Dalam teori produksi dikenal konsep law of diminishing returns atau hukum hasil yang semakin berkurang. Mankiw . menjelaskan bahwa apabila salah satu faktor produksi ditambah sementara faktor lain tetap, maka tambahan output yang dihasilkan pada akhirnya akan semakin menurun. Dalam konteks usahatani padi, penambahan pupuk secara berlebihan tanpa diimbangi dengan perbaikan kualitas lahan atau manajemen yang baik tidak selalu meningkatkan produksi secara proporsional. Oleh karena itu, efisiensi penggunaan faktor produksi menjadi kunci dalam meningkatkan hasil usahatani. Dalam sektor pertanian, skala usaha juga berpengaruh terhadap produksi. Skala usaha yang lebih luas memungkinkan petani memanfaatkan teknologi dan penggunaan input secara lebih efisien (Soekartawi, 2. Sebaliknya, penguasaan lahan yang sempit seringkali membatasi kemampuan petani dalam meningkatkan volume produksi. Hal ini relevan dengan kondisi petani padi berskala kecil yang mendominasi struktur pertanian di Indonesia, di mana keterbatasan lahan dan modal dapat memengaruhi tingkat produksi dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan. Biaya dan Pendapatan Usahatani Dalam analisis ekonomi pertanian, pendapatan usahatani tidak dapat dipisahkan dari konsep biaya dan penerimaan. Biaya merupakan seluruh pengeluaran yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan output pertanian. Menurut Soekartawi . , biaya usahatani adalah seluruh nilai input yang dikorbankan dalam proses produksi, baik yang bersifat tunai maupun tidak tunai, untuk memperoleh hasil produksi tertentu. Secara umum, biaya dalam usahatani dibedakan menjadi biaya tetap . ixed cos. dan biaya variabel . ariable cos. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah meskipun terjadi perubahan volume produksi, seperti penyusutan alat pertanian atau sewa lahan (Suratiyah, 2. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besarnya berubah sesuai dengan tingkat produksi, seperti biaya pembelian benih, pupuk, pestisida, dan upah tenaga kerja harian. Total biaya . otal cost/TC) merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama satu musim Menurut Suratiyah . , pendapatan usahatani mencerminkan kemampuan petani dalam mengelola faktor produksi secara efisien. Apabila total penerimaan lebih besar daripada total biaya, maka petani memperoleh keuntungan. Sebaliknya, apabila total biaya lebih besar daripada total penerimaan, maka petani mengalami kerugian. Dalam konteks usahatani padi, struktur biaya seringkali didominasi oleh biaya pembelian pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Kenaikan harga input produksi dapat meningkatkan total biaya, sehingga menekan pendapatan petani apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produksi atau kenaikan harga jual. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh efisiensi penggunaan biaya serta tingkat harga jual yang diterima di pasar. Selain itu, dalam ekonomi mikro dikenal konsep maksimalisasi keuntungan . rofit maximizatio. , dimana How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . pelaku usaha, termasuk petani, berupaya mengombinasikan faktor produksi sedemikian rupa agar selisih antara penerimaan dan biaya menjadi maksimal (Nicholson dan Snyder. Dengan demikian, keputusan petani dalam menentukan luas lahan yang diusahakan, jumlah modal yang digunakan, serta waktu penjualan hasil panen sangat berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang diperoleh. Harga Harga merupakan salah satu variabel penting dalam analisis ekonomi karena berperan sebagai indikator nilai suatu barang atau jasa di pasar. Dalam teori ekonomi mikro, harga terbentuk melalui mekanisme interaksi antara permintaan . dan penawaran . (Mankiw, 2. Apabila jumlah barang yang ditawarkan melebihi permintaan, maka harga cenderung turun. Sebaliknya, apabila permintaan lebih besar daripada penawaran, maka harga cenderung naik. Mekanisme inilah yang menentukan harga keseimbangan dipasar. Dalam sektor pertanian, khususnya komoditas padi, harga memiliki karakteristik yang relatif fluktuatif karena dipengaruhi oleh faktor musiman, kondisi cuaca, volume produksi saat panen raya, serta struktur pasar yang seringkali tidak sepenuhnya kompetitif (Nicholson dan Snyder, 2. Pada saat panen raya, peningkatan jumlah produksi secara serentak dapat menyebabkan kelebihan penawaran di pasar, sehingga harga gabah cenderung menurun. Kondisi ini seringkali merugikan petani karena meskipun produksi meningkat, harga jual justru mengalami penurunan. Dalam usahatani padi, variasi harga jual gabah kering panen (GKP) antar waktu dan antar wilayah dapat berdampak signifikan terhadap pendapatan petani. Perubahan harga yang relatif kecil sekalipun dapat memengaruhi besarnya total penerimaan, terutama bagi petani dengan skala usaha kecil. Oleh karena itu, harga jual merupakan faktor eksternal yang memiliki peran strategis dalam menentukan tingkat pendapatan Luas Lahan Luas lahan merupakan salah satu faktor produksi utama dalam kegiatan usahatani, khususnya pada sektor tanaman pangan seperti padi. Dalam teori produksi, lahan termasuk faktor produksi alam . atural resource. yang menjadi media utama berlangsungnya proses biologis tanaman (Nicholson dan Snyder, 2. Tanpa lahan, kegiatan produksi pertanian tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, luas lahan yang dikuasai petani sangat menentukan kapasitas produksi yang dapat dihasilkan. Menurut Soekartawi . , luas lahan mencerminkan skala usaha dalam kegiatan pertanian. Semakin luas lahan yang diusahakan, semakin besar potensi produksi yang dapat dicapai, dengan asumsi penggunaan faktor produksi lainnya relatif sama. Skala usaha yang lebih besar memungkinkan petani meningkatkan volume produksi, sehingga total penerimaan yang diperoleh juga berpotensi meningkat. Dalam teori ekonomi dikenal konsep economies of scale atau skala ekonomi, yaitu kondisi di mana peningkatan skala usaha dapat menurunkan biaya rata-rata per unit produksi (Mankiw, 2. Dalam konteks usahatani padi, petani dengan luas lahan yang lebih besar dapat memanfaatkan penggunaan alat pertanian, tenaga kerja, dan sarana produksi secara lebih efisien dibandingkan petani dengan lahan sempit. Efisiensi tersebut How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya per satuan output, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan. Modal Modal merupakan salah satu faktor produksi yang berperan penting dalam kegiatan usahatani. Dalam teori ekonomi, modal didefinisikan sebagai barang atau sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa lainnya (Mankiw. Dalam konteks pertanian, modal tidak hanya berupa uang, tetapi juga mencakup sarana produksi seperti alat pertanian, benih, pupuk, pestisida, serta biaya tenaga kerja yang digunakan selama proses produksi. Menurut Soekartawi . , modal dalam usahatani dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu modal tetap dan modal kerja. Modal tetap adalah modal yang tidak habis dalam satu kali proses produksi, seperti alat pertanian, mesin, atau bangunan Sedangkan modal kerja adalah modal yang habis dalam satu kali siklus produksi, seperti benih, pupuk, pestisida, dan biaya upah tenaga kerja. Kedua jenis modal tersebut berperan dalam menunjang kelancaran proses produksi pertanian. Dalam teori produksi, modal berfungsi sebagai faktor produksi yang dikombinasikan dengan lahan dan tenaga kerja untuk menghasilkan output. Semakin besar dan optimal penggunaan modal, maka semakin besar pula potensi peningkatan produksi, selama digunakan secara efisien (Nicholson dan Snyder, 2. Misalnya, penggunaan pupuk yang cukup dan tepat dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi, sedangkan penggunaan pestisida dapat mengurangi risiko gagal panen akibat serangan hama. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sarimulyo. Kecamatan Cluring. Kabupaten Banyuwangi. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa mayoritas penduduk bekerja pada sektor pertanian, khususnya usahatani padi, serta memiliki jumlah petani padi yang cukup besar sehingga relevan dengan tujuan penelitian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menganalisis pengaruh luas lahan, modal, dan harga jual terhadap pendapatan petani padi melalui pengujian Sementara itu, pendekatan deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik responden dan kondisi usahatani padi di lokasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani padi yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Sarimulyo sebanyak 484 orang. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan . sebesar 10%, sehingga diperoleh sebanyak 83 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria responden yaitu petani yang aktif mengusahakan tanaman padi dan memiliki pengalaman bertani minimal satu musim tanam. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dan penyebaran kuesioner kepada petani responden. Data sekunder diperoleh How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS). Profil Desa Sarimulyo, literatur ilmiah, serta sumber lain yang relevan dengan penelitian. Variabel penelitian terdiri atas variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen meliputi luas lahan (XCA), modal (XCC), dan harga jual (XCE), sedangkan variabel dependen adalah pendapatan petani padi (Y). Pendapatan petani dihitung berdasarkan selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi dalam satu musim Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan persamaan: ycU = yu yu! ycU! yu" ycU" yu# ycU# yuA. Sebelum dilakukan analisis regresi, data terlebih dahulu diuji melalui uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF), uji heteroskedastisitas dilakukan menggunakan uji Glejser dan uji autokorelasi dilakukan menggunakan statistik Durbin-Watson. Selanjutnya, dilakukan uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap pendapatan petani secara parsial, uji F untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara simultan, serta analisis koefisien determinasi (RA) untuk mengukur kemampuan model dalam menjelaskan variasi pendapatan petani. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Deskriptif Penelitian ini melibatkan 83 petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring sebagai responden. Berdasarkan karakteristik responden, seluruh responden berjenis kelamin laki-laki . %). Mayoritas responden berada pada rentang usia 51Ae57 tahun sebanyak 23 orang . %) dengan rata-rata usia 55,21 tahun, sehingga sebagian besar masih berada pada usia produktif (BPS, 2. Dari sisi pendidikan, responden didominasi oleh lulusan SD dan SMA yang masing-masing berjumlah 27 orang . ,5%), diikuti SMP sebanyak 23 orang . ,7%) dan S1 sebanyak 6 orang . ,2%). Pengalaman bertani responden berkisar antara 3Ae50 tahun dengan rata-rata 22,59 tahun, dimana sebanyak 45 orang . %) memiliki pengalaman bertani lebih dari 20 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan petani yang masih produktif dan memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam menjalankan usahatani Berdasarkan deskripsi variabel penelitian, luas lahan garapan petani didominasi oleh kategori 0Ae1 ha sebanyak 63 orang . ,9%) dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,73 Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tergolong petani skala kecil. Variabel modal, harga jual, dan pendapatan menunjukkan adanya variasi antar responden yang mencerminkan perbedaan kondisi usahatani. Rata-rata harga jual gabah yang diterima petani sebesar Rp6. 715/kg dengan median dan modus Rp6. 800/kg, yang menunjukkan harga gabah relatif seragam di tingkat petani. Sementara itu, rata-rata pendapatan petani sebesar Rp14. 823 per musim tanam dengan median Rp8. dan modus Rp4. Sebagian besar responden berada pada kelompok pendapatan How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . Rp5. 000AeRp10. 000 sebanyak 27 orang . %). Variasi pendapatan tersebut mengindikasikan adanya perbedaan kemampuan usahatani antar petani yang diduga dipengaruhi oleh luas lahan, modal, dan harga jual yang diterima petani. 2 Analisis Regresi Linier Berganda Uji Asumsi Klasik Pada penelitian ini dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa data penelitian telah memenuhi asumsi normalitas setelah dilakukan transformasi logaritma natural (L. Selain itu, nilai tolerance seluruh variabel > 0,10 dan nilai VIF < 10, sehingga tidak terjadi multikolinearitas. Untuk memperkuat hasil tersebut, dilakukan analisis matriks korelasi antar variabel independen sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Hasil uji heteroskedastisitas juga menunjukkan nilai signifikansi masing-masing variabel > 0,05 sehingga model regresi terbebas dari gejala heteroskedastisitas. Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai Durbin-Watson sebesar 2,08 yang beada di sekitar nilai 2 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengalami autokorelasi. Dengan demikian, model regresi layak digunakan untuk analisis lebih lanjut (Ghozali. Tabel 1. Matriks Korelasi antar Variabel Independen LnX1 LnX1 LnX2 LnX3 LnY LnX2 0,931 0,079 0,917 LnX3 0,144 0,840 LnY 0,185 Sumber: Data Primer diolah . Berdasarkan Tabel 1, korelasi tertinggi terjadi antara variabel luas lahan (LnX. dan modal (LnX. sebesar 0,931, sedangkan korelasi antara harga jual (LnX. dengan variabel lainnya relatif rendah. Meskipum terdapat korelasi yang cukup tinggi antara luas lahan dan modal, hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10. Oleh karena itu, model regresi dinyatakan tidak mengalami masalah multikolinearitas dan seluruh variabel independen dapat digunakan dalam analisis regresi. Analisis Regresi Linier Berganda Setelah seluruh asumsi klasik terpenuhi, analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh luas lahan, modal, dan harga jual terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Hasil regresi disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Model (Constan. Luas Lahan Modal Harga Jual Unstandardized Coefficients Std. Error -4,612 8,280 1,232 0,137 -0,176 0,127 2,741 0,956 Sig. -0,579 8,991 -1,384 2,866 How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. 0,579 0,000 0,170 0,005 Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . Sumber: Data Primer diolah . Berdasarkan Tabel 2 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: LnY = -4,612 1,232LnX1 Ae 0,176LnX2 2,741LnX3 Interpretasi persamaan regresi menunjukkan bahwa luas lahan dan harga jual memiliki arah pengaruh positif terhadap pendapatan petani padi, sedangkan modal memiliki arah pengaruh negatif. Uji t (Parsia. Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel luas lahan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Variabel modal memiliki nilai signifikansi sebesar 0,170 > 0,05 sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Sementara itu, variabel harga jual memiliki nilai signifikansi sebesar 0,005 < 0,05 sehingga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Uji F (Simulta. Setelah dilakukan pengujian secara parsial melalui uji t, selanjutnya dilakukan uji F untuk mengetahui pengaruh luas lahan, modal, dan harga jual secara simultan terhadap pendapatan petani padi. Hasil uji F disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Hasil Uji F (Simulta. Model F-hitung 1 Regression 157,683 Residual Total Sig. < 0,001b Keterangan Berpengaruh signifikan Sumber: Data Primer diolah . Berdasarkan Tabel 3, diperoleh nilai F-hitung sebesar 157,683 dengan tingkat signifikansi kurang dari 0,001. Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa variabel luas lahan, modal, dan harga jual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Koefisien Determinasi (R. Analisis koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur besarnya kontribusi variabel luas lahan, modal, dan harga jual terhadap variasi pendapatan petani padi. Hasil pengujian koefisien determinasi dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Hasil Koefisien Determinasi Model R Square 0,926 0,857 Adjusted R Square 0,851 Std. Error of the Estimate 0,33068 Sumber: Data Primer diolah . Berdasarkan Tabel 4, diperoleh nilai R Square sebesar 0,857. Nilai tersebut menunjukkan bahwa sebesar 85,7% variasi pendapatan petani padi dapat dijelaskan oleh variabel luas lahan, modal, dan harga jual, sedangkan sisanya sebesar 14,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. 3 Pengaruh Luas Lahan Terhadap Pendapatan Petani Padi Hasil uji t menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo dengan nilai t-hitung sebesar 8,991 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Koefisien regresi sebesar 1,232 menunjukkan bahwa setiap How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . peningkatan luas lahan sebesar 1% diperkirakan meningkatkan pendapatan petani sebesar 1,232%. Temuan ini menunjukkan bahwa luas lahan merupakan faktor produksi yang penting dalam menentukan tingkat pendapatan petani padi. Mayoritas responden merupakan petani skala kecil dengan rata-rata luas lahan 0,73 ha dan sebanyak 75,9% mengusahakan lahan kurang dari 1 ha. Meskipun demikian, luas lahan tetap menjadi faktor utama yang menentukan besarnya produksi dan pendapatan petani. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ayuningtyas et al. Habriyanto et al. , dan Gilano et al. yang menyatakan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani. Temuan ini juga dapat dijelaskan melalui perspektif kesejahteraan petani. Giller et al. , . menyatakan bahwa petani dengan lahan sempit cenderung terjebak dalam kondisi keterbatasan pendapatan, karena hasil panen yang diperoleh sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebaliknya, petani yang mengelola lahan lebih luas, meskipun tidak selalu memiliki lahan tersebut secara penuh, memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan produksi, mencukupi kebutuhan pangan, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan. Dengan demikian, luas lahan tidak hanya berpengaruh secara teknis terhadap hasil produksi, tetapi juga berperan dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani secara keseluruhan. Berdasarkan analisis variabel dummy status kepemilikan lahan, luas lahan berpengaruh positif dan signifikan baik pada petani pemilik maupun penyewa lahan. Namun, pengaruh tersebut lebih besar pada petani penyewa dengan koefisien regresi 1,439 dibandingkan petani pemilik sebesar 0,803. Kondisi ini didukung oleh rata-rata luas lahan petani penyewa yang lebih besar . ,04 h. dibandingkan petani pemilik . ,62 h. , serta pemanfaatan lahan yang lebih intensif untuk menutupi biaya sewa. Hal ini menunjukkan bahwa semakin luas dan optimal lahan yang diusahakan, semakin besar pendapatan yang dapat diperoleh petani. 4 Pengaruh Modal Terhadap Pendapatan Petani Padi Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring dengan nilai thitung sebesar -1,384 dan signifikansi 0,170 > 0,05. Koefisien regresi sebesar -0,176 menunjukkan bahwa peningkatan modal belum mampu meningkatkan pendapatan petani secara nyata. Sebagian besar responden . %) menggunakan modal sebesar Rp1. 000AeRp5. 000 per musim tanam untuk memenuhi kebutuhan input produksi. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa besarnya modal yang dikeluarkan petani tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan. Sebagian petani menggunakan benih hasil panen sebelumnya dan tenaga kerja keluarga untuk menekan biaya produksi, sedangkan petani lainnya mengeluarkan biaya lebih besar untuk pupuk dan pestisida yang belum tentu menghasilkan tambahan produksi yang sebanding, yaitu dengan menggunakan pupuk non subsidi dengan harga yang lebih tinggi dan meningkatkan penggunaan pupuk dengan harapan memperoleh hasil panen yang lebih besar. Dalam penelitian ini, modal dihitung berdasarkan biaya yang benar-benar dikeluarkan petani, sehingga benih yang berasal dari hasil panen sebelumnya tidak diperhitungkan sebagai How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . biaya peluang. Kondisi ini menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan modal lebih penting dibandingkan besarnya modal yang dikeluarkan. Hal ini sejalan dengan temuan RadliEska . yang menegaskan bahwa efisiensi teknis merupakan komponen utama dari efisiensi ekonomi, sehingga kemampuan memaksimalkan output dari input yang tersedia lebih menentukan daripada besarnya sumber daya yang dikeluarkan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Habriyanto et al. dan Kusmiyati et al. yang menyatakan bahwa modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan Analisis variabel dummy menunjukkan bahwa pada petani pemilik lahan, modal memiliki koefisien sebesar 0,283 dengan signifikansi 0,100, sedangkan pada petani penyewa lahan memiliki koefisien sebesar -0,302 dengan signifikansi 0,525. Kedua nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga modal tidak berpengaruh signifikan pada kedua kelompok petani. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan petani di Desa Sarimulyo lebih ditentukan oleh efisiensi pengelolaan input produksi daripada besarnya modal yang digunakan. 5 Pengaruh Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Hasil analisis menunjukkan bahwa harga jual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-hitung sebesar 2,866 dan tingkat signifikansi 0,005 (<0,. Nilai koefisien regresi sebesar 2,741 menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga jual sebesar 1% diperkirakan akan meningkatkan pendapatan petani sebesar 2,741%. Nilai koefisien tersebut juga menunjukkan bahwa harga jual merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi pendapatan petani dibandingkan variabel lainnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa harga jual merupakan faktor yang paling menentukan dalam peningkatan pendapatan petani, karena setiap kenaikan harga akan langsung meningkatkan penerimaan usahatani (Abokyi et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ayuningtyas et al. dan Gilano et al. yang menyatakan bahwa harga jual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani. Kondisi ini sesuai dengan keadaan di Desa Sarimulyo, di mana harga gabah yang diterima petani saat penelitian berkisar Rp6. 000Ae Rp7. 000 per kg dan saat ini meningkat menjadi sekitar Rp7. 500 per kg. Kenaikan harga tersebut memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi sehingga harga jual menjadi faktor penting dalam mendukung kesejahteraan petani. Berdasarkan analisis variabel dummy status kepemilikan lahan, harga jual menunjukkan pengaruh positif namun tidak signifikan pada taraf nyata 5% baik pada petani pemilik maupun penyewa lahan. Pada kelompok petani pemilik lahan, harga jual memiliki koefisien sebesar 1,885 dengan nilai signifikansi 0,072, sedangkan pada kelompok petani penyewa lahan memiliki koefisien sebesar 1,397 dengan nilai signifikansi 0,0516. Meskipun demikian, kedua nilai signifikansi tersebut masih berada di bawah taraf nyata 10% ( = 0,. , sehingga menunjukkan adanya kecenderungan pengaruh harga jual terhadap pendapatan pada kedua kelompok. Kondisi ini terjadi karena harga yang diterima petani relatif seragam mengikuti harga pasar yang berlaku, sehingga perbedaan pendapatan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor produksi usahatani How to cite this article: Pesra. Susilowati. Aisyah. Wicaksono. , 2026. Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Padi Di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Jurnal Javanica. : 46-60. https://doi. org/10. 57203/javanica. Jurnal Javanica Volume 5 Nomor 1: 46-60 . dibandingkan perbedaan harga jual yang diterima masing-masing petani. 6 Pengaruh Luas Lahan. Modal dan Harga Jual Secara Simultan Terhadap Pendapatan Petani Padi Hasil uji F menunjukkan bahwa luas lahan, modal, dan harga jual secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F-hitung sebesar 157,683 dengan tingkat signifikansi < 0,001. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,857 menunjukkan bahwa 85,7% variasi pendapatan petani dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut, sedangkan sisanya sebesar 14,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil penelitian ini sejalan dengan Ayuningtyas et al. dan Amma et al. yang menemukan bahwa variabel produksi dan faktor ekonomi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendapatan petani tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, melainkan oleh kombinasi faktor produksi dan faktor ekonomi yang saling berkaitan. Berdasarkan analisis variabel dummy status kepemilikan lahan, baik petani pemilik maupun penyewa lahan menunjukkan pengaruh simultan yang signifikan dengan nilai F-hitung masing-masing sebesar 120,728 dan 55,673 serta signifikansi < 0,001. Meskipun demikian, petani penyewa memiliki rata-rata luas lahan 1,04 ha, modal Rp14,23 juta, dan pendapatan Rp18,30 juta per musim tanam, lebih tinggi dibandingkan petani pemilik dengan luas lahan 0,62 ha, modal Rp5,38 juta, dan pendapatan Rp12,44 juta per musim tanam. Hasil ini menunjukkan bahwa luas lahan, modal, dan harga jual tetap menjadi faktor utama yang secara bersama-sama menentukan pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo. KESIMPULAN DAN SARAN Luas lahan dan harga jual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Modal tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani. Secara simultan luas lahan, modal dah harga jual berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan analisis status kepemilikan lahan melalui variabel dummy pada petani padi di Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring. Petani disarankan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan efisiensi penggunaan modal usahatani. Pemerintah dan penyuluh pertanian perlu meningkatkan pendampingan terkait pengelolaan usahatani dan informasi harga gabah. Peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lain seperti produktivitas, biaya produksi, teknologi pertanian, dan pengalaman bertani. DAFTAR PUSTAKA