JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY DENGAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA SMAN 2 SINTANG Elida Dewi Pandini1, Dessy Triana Relita2 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Indonesia Email : bebyelida995@gmail.com, dssytriana.relita@gmail.com Diterima: 25 Februari 2019; Disetujui: 28 Maret 2019; Diterbitkan: 1 April 2019 Abstract: This research aims to find out how the application of the Two Stay Two Stray (TSTS) model and the Jigsaw learning model on students' cognitive learning outcomes in labor issues material in Indonesia. The independent variable of this study is “Two Stay Two Stray learning model (TSTS) and Jigsaw learning model”, while the dependent variable is “Learning Outcomes”. The research approach used in this research was a quantitative approach. The form of research used in this study was an experiment form with Two Group Pretest Posttest research design. The population in this research were all students of class IX IPS consisting of four classes namely class IX IPS 1, IX IPS 2, IX IPS 3, and IX IPS 4 with the total number of students were 134. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data collection tools used were test questions, observation sheets and documentation. The results showed that There were no significant differences in cognitive learning outcomes between students who used the two stay two stray learning model and the jigsaw learning model with the results of Z_ (count) of 1.72 and Z_ (table) at a significant level of 0.05 were 1.96. Keywords: TSTS Learning Model and Jigsaw, Learning Outcome Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) dengan model pembelajaran Jigsaw terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi permasalahan ketenagakerjaan di indonesia. Variabel bebas penelitian ini adalah “model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dan model pembelajaran Jigsaw”, sedangkan variabel terikatnya adalah “Hasil Belajar”. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk eksperimen dengan rancangan penelitian Two Group Pretest Posttest Designs. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX IPS yang terdiri dari empat kelas yaitu kelas IX IPS 1, IX IPS 2, IX IPS 3, dan IX IPS 4 dengan jumlah keseluruhan siswa yaitu 134. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah soal tes, lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar kognitif antara siswa yang menggunakan model pembelajaran two stay two stray dengan model pembelajaran jigsaw dengan hasil sebesar 1,72 dan pada taraf signifikan 0,05 sebesar 1,96. Kata kunci: Model Pembelajaran TSTS dan Jigsaw, Hasil belajar Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 48 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran model, pendekatan, metode dan cara-cara PENDAHULUAN Keberhasilan proses belajar yang tepat agar materi pembelajaran mengajar merupakan hal utama yang tersampaikan secara efektif dan efisien diharapkan melaksanakan kepada peserta didik. Salah satu upaya pendidikan di sekolah. Komponen utama yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam dalam kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan belajar adalah memilih model siswa yang menjadi subjek belajar, dimana pembelajaran kooperatif dan inovatif yang siswa mampu dalam berperan aktif dalam proses mendorong siswa untuk pembelajaran sehingga akan menghasilkan menemukan dan memahami konsep yang pengetahuan, sulit pengalaman, pemahaman dan dapat mendiskusikan dan dan aspek-aspek lain. Realitanya dalam menyelesaikan proses pembelajaran bersama teman sebayanya pembelajaran masih sering ditemukan siswa yang kurang aktif, siswa masalah-masalah dengan baik. yang hasil belajarnya rendah dan sisiwa Berdasarkan hasil pra penelitian tidak memperhatikan guru pada saat yang dilakukan oleh peneliti dengan mengajar. mewawancarai seorang guru ekonomi Dalam proses pembelajaran kelas XI SMA Negeri 2 Sintang seorang guru berharap agar suasana di mengatakan bahwa dalam pelakasanaan dalam kelas benar-benar hidup dan semua proses pembelajaran ekonomi di kelas XI siswa dapat termotivasi terhadap pelajaran. guru Guru sebagai pengajar dan pendidik pembelajaran Problem Based Learning berperan untuk memberikan ilmu yang (PBL) tetapi model pembelajaran tersebut dimilikinya kepada peserta didik dan belum mampu mengajak siswa secara memberikan pembinaan yang berhubungan maksimal dengan kedisiplinan peserta didik. Di pembelajaran, masih ada siswa yang sibuk dalam guru sendiri pada saat belajar di kelas, karena merupakan penentu keberhasilan belajar pada kenyataan yang kita ketahui bahwa peserta didik. Oleh karena itu, guru harus karakter dari setiap siswa berbeda-beda berupaya agar kegiatan di kelas dapat dalam belajar sehingga nilai dari siswa memberikan kesempatan yang luas untuk akan berbeda pada setiap materi dengan pengalaman siswa. perubahan model yang digunakan oleh proses pembelajaran pernah untuk menggunakan aktif dalam model proses Agar kegiatan proses pembelajaran guru pada saat mengajar. Sehingga hal tersebut berlangsung sebaik-baiknya, maka tersebut menjadi penyebab nilai siswa pendidik perlu mengaplikasikan berbagai masih ada yang belum mencapai Kiteria Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 49 Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah Wahyuni dan Munthe (2014) dengan judul ditentukan yaitu 75. Hal tersebut memang penelitian “Pengaruh Model Pembelajaran tidak bisa kita pungkiri karena memang Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray kita tahu bahwa setiap siswa memiliki (TSTS) terhadap Hasil Belajar Siswa pada tingkat kemampuan yang berbeda-beda Materi Listrik Dinamis pada Siswa SMA”. dalam belajar tetapi hal tersebut bisa kita Hasil pengujian hipotesis diperoleh t hitung > minimalisir dengan menerapkan berbagai ttabel yaitu 2,326 > 2,006 dengan α = 0,05 model pembelajaran yang bisa dan dk = 54, maka Ha diterima yang siswa dalam berarti ada perbedaan akibat pengaruh proses pembelajaran. Ada beberapa model model pembelajaran Kooperatif Tipe Two yang bisa kita gunakan dalam proses Stay pembelajaran di kelas diantaranya yaitu pembelajaran konvensional terhadap hasil model pembelajaran Two Stay Two Stray belajar siswa pada materi Listrik Dinamis dan Jigsaw. di kelas X SMA Negeri 3 Tebing Tinggi meningkatkan keaktifan Peneliti ingin mencoba Two Stray dengan model Tahun Pelajaran 2012/2013. menerapkan model pembelajaran Two Stay Trisianawati dkk (2016) dengan Two Stray dan Jigsaw dalam menyajikan judul “Pengaruh Model materi permasalahan ketenagakerjaan di Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Indonesia, materi terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi di Vektor Di Kelas X SMA Negeri 1 Indonesia ini terdiri dari beberapa sub bab Sanggau Ledo”. Dari hasil analisis data yang cocok untuk digunakan dengan kerja menggunakan uji Mann Whitney dapat tim, pemberian argumen/ide, dan bertukar disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan/sharing hasil belajar siswa yang diajarkan dengan karena permasalahan dalam ketenagakerjaan sesuai dengan penelitian karakteristik dari model-model tersebut. pembelajaran Jadi dalam penelitian ini peneliti ingin dengan siswa yang diajarkan dengan melihat bagaimana proses belajar siswa pembelajaran diskusi-ceramah pada materi dalam memahami materi pasar modal, vektor. (4). Dari hasil analisis data sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan effect size diperoleh nilai menggunakan model pembelajaran Two effect size sebesar 0,44. Dapat disimpulkan Stay Two Stray dan Jigsaw. bahwa penerapan model pembelajaran Untuk permasalahan yang sudah dikemukakan penelitian diatas terdahulu. di dukung Hasil Kooperatif kooperatif Tipe Tipe Jigsaw Jigsaw cukup dari berpengaruh terhadap peningkatan hasil penelitian belajar siswa pada materi vektor di kelas X Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 50 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran SMA Negeri 1 Sanggau Ledo. Dari asal, beberapa penelitian diatas membuktikan kelompok. bahwa penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dan Jigsaw dapat memperbaiki hasil belajar siswa. Berdasarkan masalah tersebut maka tujusn penelitian mengetahui ini adalah penerapan untuk model pembelajaran two stay two stray (TSTS) dengan model pembelajaran jigsaw terhadap hasil belajar kognitif siswa pada materi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia (Studi Eksperimen Di Kelas XI SMA Negeri 2 Sintang Tahun Pelajaran 2018/2019). KAJIAN TEORI Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS kali pertama dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992. TSTS berasal dari bahasa Inggris yang berarti dua tinggal dua tamu. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan hasil informasi dengan kelompok lain. Suyatno (Fathurrohman 2015: 90) “Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain”. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, Suprijono dan (Fathurrohman laporan 2015: 90), mengatakan bahwa: Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau dua tinggal dua tamu di awali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk, guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka diskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyajikan hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Setelah kembali ke kelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun mereka yang bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka tunaikan. Berdasarkan teori di atas peneliti menyimpulkan model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan untuk bertukar hasil diskusi antara satu kelompok dengan kelompok yang lain untuk kemudian membuat kesimpulan berdasarkan kecocokkan hasil diskusi kerja kelompok, kembali ke kelompok Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi antara kelompok pertama dengan kelompok yang dikunjunginya. Langkah-langkah JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 51 Stray (TSTS) dalam Fathurrohman (2015:91) sebagai berikut: model Kelebihan model pembelajaran TSTS adalah dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa. Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok, tetapi bisa juga bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban sesama teman dalam satu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa. Sementara itu. pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) sebagai berikut: a. Guru menyampaikan materi pelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. b. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen dengan kemampuan berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah) maupun jenis kelamin. c. Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau tugas untuk dibahas dalam keompok. d. Siswa 2-3 orang dari tiap kelompok berkunjung ke kelompok lain untuk mencatat hasil pembahasan LKS atau tugas dari kelompok lain, dan sisa kelompok tetap di kelompoknya untuk menerima siswa yang bertamu ke kelompoknya. e. Siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya masing-masing dan menyampaikan hasil kunjungannya kepada teman yang tetap berada dalam kelompok. Hasil kunjungan dibahas bersama dan dicatat. f. Hasil diskusi kelompok dikumpulkan dan salah satu kelompok mempresentasikan jawaban mereka, kelompok lain memberikan tanggapan. g. Guru memberikan klarifikasi terhadap jawaban yang benar. h. Guru membimbing siswa merangkum pelajaran. i. Guru memberikan penghargaan secara kelompok. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Two Stay Two Kekurangan dari model pembelajaran TSTS ini adalah jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus peralihan dari berkelipatan seluruh empat, kelas ke kelompok kecil, dan kunjungan dari dua orang anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain itu guru juga harus membutuhkan banyak persiapan. Rusman (2013:217) mengungkapkan bahwa: Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini mengambil pola cara kerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa yang melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencpai tujuan bersama. Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 52 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi suatu informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggung penguasaan setiap jawab terhadap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaiksebaiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga orang. Langkah-langkah pembelajaran jigsaw model dalam Rusman 1) Kelebihan model pembelajaran Jigsaw: meningkatkan hasil belajar; meningkatkan daya ingat, dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi; mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu); meningkatkan hubungan antara manusia yang heterogen; meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah; meningkatkan sifat positif terhadap guru; meningkatkan harga diri anak; meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif; meningkatkan keterampilan hidup dalam bergotong-royong. 2) Kekurangan model pembelajaran jigsaw: Kegiatan belajar mengajar membutuhkan lebih banyak waktu dibanding metode lain, Bagi guru metode ini memerlukan kemampuan lebih karena setiap kelompok membutuhkan penanganan yang berbeda. (2013: 218) sebagai berikut: a. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang; b. Tiap anggota dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda; c. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli); d. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai; e. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi; f. Pembahasan; g. Penutup. Kelebihan dan kekurangan Hasil belajar merupakan kompetensi yang ingin dicapai setelah mengikuti proses belajar. Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila terjadi perubahan dalam dirinya seperti perubahan dalam segi keterampilan, sikap, dan kebiasaan baru lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2009: 80) yang mengatakan bahwa “Hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari orang tersebut dari tidak tahu menjadi tahu model pembelajaran jigsaw menurut dan Jhonson mengerti. Tingkah laku memiliki unsur dan Johnson (Rusman dari tidak 2013:219) kelebihan dan kekurangan subjektif model pembelajaran kooperatif tipe (jasmaniah). mengerti (rohaniah) dan menjadi amotoris jigsaw sebagai berikut: Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 53 Benyamin S Bloom (Sudjana 2016: mengekspresikan tahap-tahap kemampuan 49) hasil belajar dapat diklasifikasikan yang harus siswa kuasai sehingga dapat menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, menunjukkan kemampuan mengolah afektif dan psikomotorik. pikirannya sehingga mampu 1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. 2) Ranah afektif yang berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penialaian organisasi dan internalisasi. 3) Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam ranah psikomotorik 4) yakni gerak refleks, keterampilan, gerakan dasar, kemampuan perfektual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks. mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar, diantara ketiga ranah tersebut ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami bahan pelajaran. Sudjana (2016: 22) meyatakan bahwa hasil belajar adalah “kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Kemampuan menyangkut domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Daryanto (Fatmawati mengatakan bahwa 2015: “dalam 13) hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama”. Ranah Mengubah teori ke dalam keterampilan terbaiknya sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang baru sebagai produk inovasi pikirannya METODE PENELITIAN Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir kuantitatif. Sugiyono (2014: 8) “Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau pengumpulan sampel data tertentu, menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan”. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre-Experimental Designs. Pre- Experimental Designs, yaitu desain yang belum merupakan eksperimen sungguhsungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi hasil eksperimen yang merupakan dependen itu bukan variabel semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Desain penelitian yang digunakan kognitif menggolongkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang menggambarkan metode yaitu Two Group, Pretests Posttest Design. Desain penelitian ini menggunakan dua Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 54 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran kelas dimana kedua kelas tersebut keberhasilan pembelajaran. Adapun dijadikan sebagai kelas eksperimen. Two gambaran desain penelitian Two Group, Group, Pretests Posttest Design diberikan Pretests Posttest Design sebagai berikut pretest-posttest untuk dijadikan tolak ukur Tabel 1 Two Group, Pretests Posttest Design Kelas Pretest Kelas TSTS Kelas Jigsaw Perlakuan Posttest X X Keterangan: : : : : : : X X Tes awal (pretest) kelas eksperimen I Tes awal (pretest) kelas eksperimen II Model pembelajaran two stay two stray Model pembelajaran jigsaw Tes akhir (posttest) kelas eksperimen I Tes akhir (posttest) kelas eksperimen II Populasi penelitian adalah siswa berikut: (1) kelas XI IPS SMA Negeri 2 Sintang yang Teknik Observasi terdiri dari empat kelas dengan jumlah Teknik Dokumentasi. Alat pengumpulan siswa 134 orang. Sampel penelitian adalah data dalam penelitian ini yaitu: (1) Soal siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2, teknik Tes, pengambilan sampel pada penelitian ini Dokumentasi. dilakukan secara Purposive Sampling. digunakan dalam penelitian ini yaitu Kelas kelas menggunakan uji prasyarat yaitu: (1) Uji eksperimen 1 dan kelas XI IPS 2 Normalitas, (2) Uji homogenitas, (3) Uji merupakan kelas eksperimen 2. Hipotesis yaitu Uji Z, (4) Uji Indeks Gain XI IPS 1 merupakan Pengumpulan data dilakukan untuk (2) Teknik Pengukuran, Nonpartisipan, Lembar Observasi, Analisis data (2) (3) (3) yang Hake. memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sugiyono (2014: 224) “Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data”. Dalam penelitian ini, HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil yang didapat oleh peneliti ketika melakukan penelitian pada kelas XI IPS Sekolah Menengah Atas Negeri 02 Sintang tahun pelajaran 2018/2019 menunjukkan bahwa: teknik-teknik yang digunakan sebagai Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi 1. Penggunaan model pembelajaran two JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 55 adalah 95,10% sedangkan hasil stay two stray di kelas eksperimen 1 observasi siswa kelas eksperimen 2 dan pada model pembelajaran jigsaw di kelas eksperimen 2. 92,87%, Observasi guru dilakukan pada saat berlangsungnya pembelajaran pertemuan baik itu di pada pertama adalah pertemuan kedua mencapai 97,57% rata-rata pertemuan proses pertama dan kedua adalah 95,22%. kelas Tidak terdapat perbedaan hasil eksperimen 1 maupun kelas eksperimen belajar 2. Kegiatan observasi ini melibatkan pembelajaran two stay two stray dan guru mata pelajaran Ekonomi sebagai model pembelajaran jigsaw di kelas observer dan peneliti sebagai pelaksana eksperimen 1 dan eksperimen 2 pada dalam pengukuran awal (pretest). proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil analisis observasi siswa menggunakan Sebelum sampel model penelitian guru di kelas eksperimen 1 pada diberikan perlakuan, terlebih dahulu pertemuan pertama diperoleh hasil guru memberikan tes awal (pretest) pertemuan kedua kepada siswa kelas XI IPS 1 sebagai 100% rata-rata pertemuan pertama dan kelas eksperimen 1 yang berjumlah 32 kedua 98% masuk kategori Sangat baik orang. Tes awal (pretest) pada kelas sedangkan di kelas eksperimen 2 pada eksperimen pertemuan pertama diperoleh persentase tertinggi adalah 70 dan nilai terendah 100%, pertemuan kedua 100% rata-rata adalah 40, dengan rata-rata pretest kelas pertemuan pertama dan kedua 100% eksperimen 1 adalah 58,83. Sedangkan masuk kategori Sangat Baik. pada persentase 96%, Berdasarkan hasil observasi siswa kelas 1 memperoleh eksperimen 2 nilai yang berjumlah 30 orang. Pada pengukuran yang diamati oleh dua orang observer awal dengan jumlah siswa kelas eksperimen tertinggi 70 dan nilai terendah 50 1 berjumlah 32 siswa dan kelas dengan rata-rata nilai pretest di kelas eksperimen 2 berjumlah 30 siswa, eksperimen 2 adalah 62,33. diperoleh hasil (pretest) memperoleh nilai persentase Uji hipotesis yang digunakan keterlaksanaan kegiatan pembelajaran pada penelitian ini yaitu uji parametrik pada pertemuan pertama di kelas karena data nilai kahir dari kedua kelas eksperimen 1 adalah 92,89%, pada tersebut pertemuan kedua mencapai 97,30% homogen. Sampel yang digunakan oleh rata-rata pertemuan pertama dan kedua peneliti sebanyak 32 siswa pada kelas Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 berdistribusi normal dan 56 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran eksperimen 1 dan 30 siswa pada kelas yang eksperimen 2. Langkah selanjutnya pengukuran menggunakan memperoleh nilai tertinggi 95 dan nilai Uji Z karena sampel yang digunakan didapat nilai sedangkan 30. Pada uji Z Zhitung nilai 30 orang. akhir Pada (posttest) terendah 70 dengan rata-rata nilai adalah 1,84 posttest di kelas eksperimen 2 adalah pada taraf 85,17. Ztabel signifikan 0,05 dengan nilai sebesar Uji hipotesis yang digunakan ttabel pada penelitian ini yaitu uji parametrik 1,96 maka H0 diterima karena data nilai kahir dari kedua kelas 1,96. Hal ini berarti nilai t hitung yaitu 1,84 berjumlah dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat tersebut perbedaan hasil belajar siswa kelas homogen. Sampel yang digunakan oleh eksperimen 1 yang menerapkan model peneliti sebanyak 32 siswa pada kelas pembelajaran two stay two stray dan eksperimen 1 dan 30 siswa pada kelas kelas eksperimen 2 yang menerapkan eksperimen 2. Langkah selanjutnya model menggunakan pembelajaran jigsaw pada berdistribusi 30. Pada uji Z 2. Tidak terdapat perbedaan hasil belajar didapat sisawa kelas eksperimen 1 dan kelas sedangkan eksperimen signifikan 0,05 dengan nilai sebesar 2 setelah menerapkan nilai dan Uji Z karena sampel yang digunakan pengukuran awal (pretest). normal Zhitung nilai adalah 1,72 pada taraf Ztabel model pembelajaran two stay two stray 1,96. Hal ini berarti nilai t hitung dengan model pembelajaran jigsaw yaitu 1,72 pada pengkuran akhir (posttest). dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat Setelah 1,96 maka H0 diterima penelitian perbedaan hasil belajar siswa kelas diberikan perlakuan, maka selanjutnya eksperimen 1 yang menerapkan model guru memberikan tes akhir (posttest) pembelajaran two stay two stray dan kepada siswa kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen 2 yang menerapkan kelas eksperimen 1 yang berjumlah 32 model orang. Tes akhir (posttest) pada kelas pengukuran akhir (posttest). eksperimen sampel ttabel 1 memperoleh nilai pembelajaran jigsaw pada 3. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa tertinggi adalah 95 dan nilai terendah sebelum dan setelah pembelajaran adalah 75, dengan rata-rata posttest menggunakan model two stay two stray kelas eksperimen 1 adalah 82,19. di kelas eksperimen 1 ( pretest dan Sedangkan pada kelas eksperimen 2 posttest) Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi Sebelum sampel JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 57 penelitian Pada uji Z didapat nilai Zhitung adalah diberikan perlakuan, terlebih dahulu 13,92 sedangkan nilai Ztabel pada taraf guru memberikan tes awal (pretest) signifikan 0,05 dengan nilai sebesar kepada siswa kelas XI IPS 1 sebagai 1,96. Hal ini berarti nilai thitung kelas eksperimen 1 yang berjumlah 32 yaitu 13,92 orang. Tes awal (pretest) pada kelas dan Ha diterima yang artinya terdapat eksperimen nilai perbedaan hasil belajar siswa kelas tertinggi adalah 70 dan nilai terendah eksperimen 1 pada pengukuran awal adalah 40, dengan rata-rata pretest kelas (pretest) eksperimen 58,83. Pengukuran awal (posttest) pada materi permasalahan (pretest) nilai siswa tidak mencapai ketenagakerjaan di Indonesia. Yang KKM yang telah ditetapkan yaitu 75. artinya hasil belajar siswa sebelum Pada tes akhir (posttest) di kelas menerapkan model pembelajaran TSTS eksperimen masih 1 1 memperoleh memperoleh nilai ttabel 1,96 maka H0 ditolak dan rendah pengukuran sedangkan akhir setelah tertinggi adalah 95 dan nilai terendah menerapkan model TSTS hasil belajar adalah 75, dengan nilai rata-rata tes siswa mengalami kenaikan. akhir (posttest) sebesar 82,00. Analisis 4. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa hasil tes menunjukkan bahwa nilai sebelum seluruh siswa pada kelas eksperimen 1 menggunakan model jigsaw di kelas pada pengukuran akhir (posttest) telah eksperimen 2 ( pretest dan posttest). mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal dan setelah pembelajaran Tes awal (pretest) pada kelas (KKM) yaitu 75. Besarnya perbedaan eksperimen hasil belajar siswa kelas eksperimen 2 tertinggi adalah 70 dan nilai terendah pada pengukuran awal (pretest) dan adalah 50, dengan rata-rata pretest pengukuran akhir (posttest) adalah 0,64 62,33. Pengukuran awal (pretest) nilai dengan kategori baik. siswa tidak mencapai KKM yang telah Uji hipotesis yang digunakan 2 memperoleh nilai ditetapkan yaitu 75. Pada tes akhir pada penelitian ini yaitu uji parametrik (posttest) karena data nilai kahir dari kedua kelas memperoleh nilai tertinggi adalah 95 tersebut dan nilai terendah adalah 70, dengan berdistribusi normal dan di kelas eksperimen 2 homogen. Sampel yang digunakan oleh nilai peneliti sebanyak 32 orang siswa. sebesar 85,17. Besarnya perbedaan Langkah selanjutnya menggunakan Uji hasil belajar siswa kelas eksperimen 2 Z karena sampel yang digunakan pada pengukuran awal (pretest) dan 30. Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 rata-rata tes akhir (posttest) 58 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran pengukuran akhir (posttest) adalah 0,69 (pretest) dan pengukuran akhir dengan kategori baik. (posttest) dari kedua kelas tersebut Uji hipotesis yang digunakan berdistribusi normal dan homogen. pada penelitian ini yaitu uji parametrik Sampel yang digunakan oleh peneliti karena data nilai kahir dari kedua kelas sebanyak tersebut dan eksperimen 1 dan 30 siswa pada kelas homogen. Sampel yang digunakan oleh eksperimen 2. Pada kelas eksperimen 1 peneliti sebanyak 30 orang siswa. pada pengukuran awal (pretest) didapat Langkah selanjutnya menggunakan Uji nilai tertinggi 70 dan pada pengukuran Z karena sampel yang digunakan 30. akhir (posttest) didapat nilai tertinggi Pada uji Z didapat nilai Zhitung adalah 95, dengan rata-rata nilai pretest- 12,70 sedangkan nilai Ztabel pada taraf posttest pada kelas eksperimen 1 yaitu signifikan 0,05 dengan nilai sebesar 70,63. Sedangkan di kelas eksperimen 2 1,96. Hal ini berarti nilai t hitung ttabel pada pengukuran awal (pretest) didapat 1,96 maka H0 ditolak nilai tertinggi 70 dan pengukuran akhir dan Ha diterima yang artinya terdapat (posttest) didapat nilai tertinggi 95, perbedaan hasil belajar siswa kelas dengan rata-rata nilai pretest-posttest eksperimen 2 pada pengukuran awal pada kelas eksperimen 2 yaitu 73,75. (pretest) akhir Langkah selanjutnya untuk melihat (posttest) pada materi permasalahan perbedaan nilai antara kelas eksperimen ketenagakerjaan di Indonesia. Yang 1 dan kelas eksperimen 2 akan dihitung artinya hasil belajar siswa sebelum menggunakan menerapkan model pembelajaran jigsaw yang digunakan 30. berdistribusi yaitu 12,70 dan normal pengukuran 32 siswa pada kelas Uji Z karena sampel setelah Pada uji Z didapat nilai Zhitung adalah menerapkan model jigsaw hasil belajar 0,92 sedangkan nilai Ztabel pada taraf siswa mengalami kenaikan. signifikan 0,05 dengan nilai sebesar 1,96. masih rendah sedangkan 5. Tidak terdapat perbedaan hasil belajar Hal ini berarti nilai t hitung ttabel yaitu 0,92 sisawa kelas eksperimen 1 dan kelas 1,96 maka H0 diterima dan Ha ditolak. eksperimen 2 pada pengukuran awal Artinya tidak terdapat perbedaan yang (pretest) pengkuran akhir (posttest). signifikan hasil belajar siswa kelas Uji hipotesis yang digunakan eksperimen 1 yang menerapkan model pada penelitian ini yaitu uji parametrik pembelajaran two stay two stray dan kelas karena data nilai pada pengukuran awal eksperimen 2 yang menerapkan model Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 59 pembelajaran jigsaw pada pengukuran eksperimen 2 pada pengukuran akhir awal (pretest) dan pengukuran akhir (posttest) pada materi permasalahan (posttest) ketenagakerjaan di Indonesia dengan hasil Zhitung sebesar 1,72 dan Ztabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 1,96. PENUTUP Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan untuk menjawab 4. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa rumusan kelas eksperimen 1 pada pengukuran masalah dan hipotesis mengenai Penerapan awal (pretest) dan pengukuran akhir Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (posttest) pada materi permasalahan (TSTS) Pembelajaran ketenagakerjaan di Indonesia dengan Jigsaw terhadap Hasil Belajar Kognitif hasil Zhitung sebesar 13,92 dan Ztabel pada Siswa taraf signifikan 0,05 sebesar 1,96. Dengan Pada Model Materi Ketenagakerjaan di Permasalahan Indonesia (Studi 5. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa Eksperimen Di Kelas XI SMA Negeri 2 kelas eksperimen 2 pada pengukuran Sintang Tahun Pelajaran 2018/2019) dapat awal (pretest) dan pengukuran akhir ditarik kesimpulan sebagai berikut. (posttest) pada materi permasalahan 1. Proses menggunakan ketenagakerjaan di Indonesia dengan model pembelajaran two stay two stray hasil Zhitung sebesar 12,70 dan Ztabel pada di kelas eksperimen 1 dan model taraf signifikan 0,05 sebesar 1,96. pembelajaran pembelajaran jigsaw di kelas Tidak terdapat perbedaan yang eksperimen 2 Sekolah Menengah Atas signifikan hasil belajar kognitif antara 2 Sintang tahun pelajaran 2018/2019 siswa sudah berjalan dengan baik. pembelajaran two stay two stray dengan 2. Tidak terdapat perbedaan hasil belajar model yang menggunakan pembelajaran jigsaw model pada siswa kelas eksperimen 1 dan kelas pengukuran awal (pretest) dan pengukuran eksperimen 2 pada pengukuran awal akhir (posttest) di kelas XI SMA Negeri 2 (pretest) pada materi permasalahan Sintang dengan hasil Zhitung sebesar 0,92 ketenagakerjaan dan Ztabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar di Indonesia di Sekolah Menengah Atas Negeri 02 1,96 Sintang dengan hasil Zhitung sebesar 1,84 dan Ztabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 1,96. 3. Tidak terdapat perbedaan hasil belajar DAFTAR PUSTAKA Arifin, Z. 2017. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Rosdakarya offset. kognitif kelas eksperimen 1 dan kelas Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 60 | Elida Dewi Pandini, Dessy Triana Relita, Penerapan Model Pembelajaran Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Idrus, C. 2013. “Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Tipe Talking Stick Dengan Pembelajaran Konvensional Padamata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X Sman 1 Bonjol Kabupaten Pasaman”. Journal of Economic and Economic Education. Volume 2 No. 1 Hal 77- 84 Fathurrohman, M. 2015. Model-model pembelajaran Inovatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Gayatri, E. P. R., dkk. 2017. “Perbandingan Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle (5e) dan Two Stay Two Stray”. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia. Volume 1 No. 1 Hal 71-74. Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Safril, N. 2018. Pengaruh Penerapan Model Experintal Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Pelaku Ekonomi (Eksperimen Di Kelas VIII SMP Negeri 4 Dedai Tahun Pelajaran 2017/2018). Skripsi. STKIP Persada Khatulistiwa Sintang. Sudjana, N. 2016. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Kumape, S. 2015. “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa tentang IPA di Kelas VI SD Inpres Palupi”. Jurnal Kreatif Tadulako Online. Volume 4 No. 4 Hal 351362. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Nurhadi, M., dkk. 2014. Perbedaan Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Exampel Non Exampel dan Jigsaw terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan ( PKN) Ditinjau dari Minat Belajar Siswa SMPN di Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Jurnal Teknologi Pendidikan Dan Pembelajaran. Volume 2 No.1 Hal 113-126. Sukardi. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Rusman. 2013. Pembelajaran Model-model Mengembangkan Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Trisnawati, E., dkk. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Vektor di Kelas X SMA Negeri 1 Sanggau Ledo. Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA). Volume 6 No. 2 Hal 51-60. Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI: Jurnal Pendidikan Ekonomi Wahyuni, I. dan Munthe, G. Y. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Listrik Dinamis pada Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Fisika. Volume 3 No. 1 Hal 1-7. Yusuf, M. 2017. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta: Kencana Copyright © 2019 STKIP Persada Khatulistiwa Sintang | e-ISSN 2541-0938 JURKAMI Volume 4, no 1, 2019 | 61