Edu-Sains Volume 13 No 2. Juli 2024 Penerapan Pembejaran Berbasis Case Based Learning (CBL) dalam Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Memecahkan Masalah Application of Case Based Learning (CBL) to Improve Analytical and ProblemSolving Skills Adriani*. Endri Musnandar. Zulfa Elymaizar, dan Raguati Fakultas Peternakan Universitas Jambi * coresponding author: adrianiyogaswara@unja. Abstract The aim of the research is to improve students' analytical skills and solve problems using the case-based learning (CBL) system. The CBL system can motivate students to increase creativity and innovate in independent learning, so that students have good analytical skills in solving case scenarios. The research was conducted at a dairy livestock management lecture for 1 class of students . Observations were carried out twice, namely in case scenarios 1 and 4. Observing the initiative to express opinions, mastery of material, length of time for opinions, communication skills, case understanding and case solving Data were analyzed using averages, sums and percentages. The results of the research show that the application of CBL learning in the first case scenario resulted in 33. of students not taking the initiative in expressing opinions, mastery of the material only 6%, interaction activity 1-3 minutes, communication skills 48. 7%, ability to analyze scenarios cases 56. 4% of the number of students. Meanwhile, for solving the 4th case scenario, there was an increase in students' abilities, especially initiative, to 100%, material 9%, interaction activities above 3 minutes, communication skills 94. answering skills 97. 4% and scenario analysis 100%. The conclusion from the application of case-based learning (CBL) in dairy livestock management is that students' ability to discuss, express opinions and resolve cases increases with improved communication skills and better Keywords: CBL, dairy management, learning Abstrak Tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan analisis dan memecahkan masalah mahasiswa dengan sistem case based learning (CBL). Sistem CBL bisa memotivasi mahasiswa meningkatkan kreativitas dan berinovasi dalam belajar mandiri. Sehingga mahasiswa memiliki kemampuan analisis yang baik dalam pemecahan skenario kasus. Penelitian dilakukan pada kuliah Manajemen ternak perah untuk 1 kelas mahasiswa . Pengamatan dilakukan 2 kali yaitu pada skenario kasus 1 dan 4. Dengan pengamatan terhadap inisiatif berpendapat, penguasaan materi, lama waktu berpendapat, kemampuan berkomunikasi, pemahaman kasus dan kemampuan pemecahan kasus. Data dianalisis dengan rataan, penjumlahan dan persentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan pembelajaran CBL pada skenario kasus pertama didapatkan hasil sebanyak 33,3% mahasiswa belum berinisiatif dalam mengemukakan pendapat, penguasan materi hanya 43,6%, aktivitas interakasi 1-3 menit, kekampuan berkomunikasi 48,7%, kemampuan menganalisis skenario kasus 56,4% dari jumlah mahasiswa. Semenatra untuk pemecahan skenario kasus ke 4 terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa terutama inisiatif menjadi 100%, penguasaan materi 95,9%, aktivitas interaksi diatas 3 menit, kemampuan berkomunikasi 94,4%, kemampuan menjawab 97,4% dan analisis skenario 100%. Kesimpulan dari penerapan pembejaran berbasis case based learning (CBL) pada Adriani. , dkk. Penerapan Pembelajaran Berbasis . manajemen ternak perah ini terjadi peningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berdiskusi, mengemukakan pendapat dan menyelesaikan kasus dengan peningkatan kemampuan berkomunikasi dan pemahaman yang lebih baik. Kata kunci : CBL, manajemen perah, pembelajaran Edu-Sains Volume 13 No 2. Juli 2024 PENDAHULUAN atau student centered learning (SCL) (Lemos et al. , 2014. Cogo et al. , 2. Sistem pembelajaran SCL bisa memotivasi kreativitas dan berinovasi dalam belajar mandiri (Aliusta dan Ozer, 2016: Syafrina et al. , 2. Sehingga mahasiswa memiliki kemampuan dalam menganalisis dan menghubungkan informasi yang diperoleh dalam suatu pemecahan (Sulistyoningrum dan Lusiyana, 2018. Jonansen dan Harnandes-Serrani, 2. Padahal dilapangan mahasiswa harus mampu melakukan analisis dengan menghubungan berbagai aspek ilmu pengetahuan dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Untuk meningkatkan menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam pengelolaan peternakan sapi perah dengan produksi tinggi, maka daya analisis tersebut harus dimulai dari perkuliahan dengan mengaplikasikan sistem pembelajaran case based learning (CBL) dalam mata kuliah yang dilakukan. Pemilihan mata kuliah manajemen ternak perah pada untuk pembelajaran CBL karena mata kuliah ini dikontrak oleh mahasiswa semester lima pada Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Sehingga mempunyai ilmu dasar bidang peternakan. Ini memudahkan mahasiswa dalam memecahakan skenario kasus yang Mata kuliah manajenen ternak perah ini merupakan salah satu materi penting karena faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan terutama ternak perah dengan produk utama susu berkualitas. Permasalahan yang sering timbul pada pembelajaran manajemen ternak perah yaitu masih lemahnya kemampuan dan pengetahuan secara konprehensih dalam menyelesaian suatu permasalah yang Pembelajaran yang diterapkan selama ini lebih banyak kepada teaching base learning atau pembelajaran terpusat pada dosen. Sehingga mahasiswa bersifat lebih pasif, lebih banyak menerima ilmu pengetahuan dan informasi dari dosen yang nantinya mengarah kepada hapalan . etode konvensiona. Kondisi ini belajar, keingintahuan mahasiswa dan kurang bersemangat mencari informasi baru dan pengetahuan secara mandiri. Tentunya ini tidak sejalan dengan pembelajaran sekarang, yang berubah sangat cepat dan perlu analisis yang baik dalam menyelesiakan suatu masalah yang Selain itu pembelajaran ini juga sangat mendukung IKU 7 . ndikator kinerja utam. Universitas Jambi yaitu kelas yang kalobarotif dan partisipatif dengan sub topik pemecahan kasus . ase based learnin. yaitu mahasiswa berperan sebagai AuprotagonisAy yang berusaha untuk memecahkan sebuah kasus, mahasiswa melakukan analisis terhadap kasus untuk membangun rekomendasi solusi, dibantu dengan diskusi kelompok untuk menguji dan mengembangkan rancangan solusi, mahasiswa berdiskusi secara aktif, dengan mayoritas dari percakapan dilakukan oleh Dosen hanya memfasilitasi dengan cara mengarahkan diskusi, memberikan pertanyaan, dan observasi (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Untuk meningkatkan kemampuan dalam menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapi, maka perlu dilakukan perubahan sistem pembelajaran yang sebelumnya terpusat pada dosen menjadi pembelajaran terpusat pada mahasiswa Keungulan CBL adalah mahasiswa dapat berlajar dan terbiasa memecahkan masalah Adriani. , dkk. Penerapan Pembelajaran Berbasis . dari semua sisi ilmu berkualitas, perkandangan yang baik, penyakit ternak dan lain-lain yang saling berhubungan satu sama lain untuk meningkatkan produktivitas ternak. dikelas dan dilapangan dan diskusi kelompok besar . dari hasil disksusi kelas dan lapangan, serta dosen sebagai tutor . Tahapan pembelajaran sistem case based learning (CBL) adalah dibagi menjadi fokus kegiatan yaitu pada mahasiswa dan pada dosen mengacu pada pendapat Barret . yang dimodifikasi. Langkahlangkah pelaksanaan case based learning pada mahasiswa dapat dilihat pada Tabel Setiap skenario kasus harus dicarikan solusi pemecahan masalah oleh mahasiswa melalui diskusi secara bertingkat, mulai dari memperdalam ilmu pengetauhan dengan pemberian materi dari dosen pengampu, kemudian memberi skenario kasus yang harus dicarikan solusinya pengamatan lapangan, diskusi kelompok dan diskusi pleno. Sistem ini lebih menumbuhkebangkan kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam koridor akademis sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tabel 1. Langkah-Langkah Pelaksanaan Case Based Learning Pada Mahasiswa Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa mendapat penjelasan dan materi secara umum terhadap rencana skenario kasus yang diselesaikan 2 Mahasiswa diberi tugas untuk memecahkan skenario kasus baik dikelas maupun dilapangan . ada peternakan sapi pera. 3 Mahasiswa melakukan diskusi kelompok kecil untuk mengklarifikasi beberapa hal - Mengklarifikasi skenario kasus dan permasalahan yang diberikan - Mendefinisikan masalahAy - Melakukan diskusi berdasarkan - Menetapkan hal-hal diperlukan untuk menyelesaikan - Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan 4 Mahasiswa melakukan kajian dan analisis secara independent berkaitan dengan permasalahan yang harus diselesaikan. Ini dapat dilakukan dengan mencari sumber literatur dari buku, jurnal dan lain-lain. Ay 5 Mahasiswa melakukan diskusi kelompok kecil untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang diberikan secara bersama-sama berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari kajian independent untuk bersama-sama mencari pemecahan masalah yang diberikan didampingan dosen sebagai totur. Sementara pada kasus yang lain mahasiswa mengamati langsung kelapangan untuk menyelesaikan skenario kasus yang diberikan. Ay Berdasarkan kondisi tersebut, maka ingin diketahui bagaimana hasil penerapan pembejaran berbasis case based learning (CBL) pada mata kuliah manajemen ternak pada Fakultas peternakan Universitas Jambi. METODE PENELITIAN Rancangan aktivitan Pembelajaran Kegiatan pelaksanaan pembelajaran sistem case based learning (CBL) dilakukan pada beberapa materi dalam pembelajaran manajemen ternak perah, dimana 50% materi untuk penguatan ilmu pengetahuan mahasiswa dan 50% adalah diskusi dalam pemecahan skenario kasus yang diberikan baik yang diruangan maupun dilapangan. Proses pemecahan kasus dibagi menjadi belajar mandiri dan diskusi kelompok, setiap 4 kali pertemuan, maka dua kali merupakan memberi materi penguatan dari dosen yaitu awal pembelajaran dan akhir pembelajaran setelah diskusi mahasiswa. Kedua, kegiatan dengan dua kali pertemuan diisi dengan dengan diskusi kelompok kecil Edu-Sains Volume 13 No 2. Juli 2024 Mahasiswa mempresentasikan menyajikan solusi yang sudah didapat dalam diskusi pleno didampinggi dosen sebagai Mahasiswa dibantu oleh dosen pengampu mata kuliah melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah didapat dari pemecahan masalah meliputi pengetahuan yang sudah diperoleh dan bagaimana peran masingmasing mahasiswa dalam kelompok performa mahasiswa meliputi :AyAspek pengetahuan . , sikap dalam berdiskusi . dan keterampilan . pembelajaran langsung dilapangan pada peternakan sapi perah. Pada akhir pertemuan setiap skenario kasus diberikan pembelajaran dalam diskusi tutorial. Soal dibuat 10 dalam bentuk MCQ . ultiple choice questio. dengan tingkat berpikir kritis berada pada tahap reasoning. Ay Walaupun mahasiswa lebih banyak belajar mandiri, peran dosen sebagai fasilitator sangat penting karena memantau aktivitas mahasiswa, memfasilitasi proses CBL berjalan dengan baik, menstimulasi mahasiswa dengan pertanyaan terkait permasalahan yang harus diselesiakan. Agar proses CBL berjalan dengan baik, maka peran dosen sebagai totur dapat dilihat pada Tabel 2. Evaluasi Untuk mengetahui keberhasilan penerapan pembejaran berbasis case-based learning (CBL) pada manajemen ternak perah dilakukan evaluasi sebegai berikut: Penguasaan konten manajemen ternak pada awal perkuliahan mahasiswa diberi bekal pengetahuan untuk mengarahkan dan menfokuskan materi diskusi memecahkan masalah yang diberikan Peningkatan pembelajaran kaloborasi yaitu dengan membentuk kelompok diskusi dikelas dan dilapangan dalam skenario kasus yang kemampuan interaksi mahasiswa, meningkatkan kerjasama dalam mencapai tujuan memecahkan masalah yang dihadapi. Ay Peningkatan berkomunikasi: dengan seringnya dilakukan diskusi dalam memecahkan skenario kasus yang diberikan, maka terjadi peningkatan komunikasi secara oral dalam mengemukakan ide-ide inovasi secara terstuktur. Peningkatan kemampuan berpikir: kemampuan berpikir mahasiswa akan permasalah-permasalah yang harus dicarikan sosulinya. Kemampuan menganalisis: dengan melakukan diskusi pemecahan masalah dari kasus yang Tabel 2. Peran Dosen Sebagai Tutor Dalam Pembelajaran CBL Kegiatan Dosen dalam pembelajaran CBL Dosen memiliki keilmuan yang luas dan satu kelompok diskusi, menentukan tempat praktek dan diskusi lapangan dengan skenario kasus yang diberikanAy Dosen harus memiliki penampilan yang menyakinkan dan antusias Lebih banyak mengamati pada saat mahasiswa berdiskusi dan mengarahkan diskusi berjalan baik maupun saat berada dilapangan dipeternakan sapi perah Menyarankan setiap mahasiswa untuk bisa mengemukan pendapat dalam mengatasi kasus yang diberikan dan memberi contoh Memberi pengarahan dan menyakinkan mahasiswa untuk memahami permasalahan secara kelompok baik dikelas maupun Memberikan saran dan masukan kepada mahasiswa mengenai literatur yang baik dan bisa diakses dalam memecahkan masalah yang diberikan Mengingatkan mahasiswa mengenai hasil pembelajaran yang ingin dicapai pada saat Mengkondisikan suasana diskusi yang baik untuk kegiatan kelompok Untuk melakukan penilaian terhadap proses dan pengaruhnya, maka dilakukan penilaian selama diskusi terhadap Adriani. , dkk. Penerapan Pembelajaran Berbasis . diberikan dapat meningkatkan daya analisis terhadap penemuan-penemuan pemecahan kasus yang ada, dan mahasiswa dapat meneliti informasiinformasi yang ada terkait kasus yang harus diselesaikan. Kemampuan mahasiswa malakukan pemecahan kasus-kasus yang dihadapi baik dikelas maupun dilapangan, maka dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bentindak, pada proses pemecahan masalah yang mentransfer ilmu sehingga setelah selesai mahasiswa sudah terbiasa dengan pemecahan ternak perah. Kondisi ini karena mata merupakan lanjutan dari materi produksi ternak perah yang kosennya kepada menerapkan sistem pemeliharan yang baik untuk ternak perah . ood farming Tim dosen pengampu mata kuliah Manajemen Ternak Perah ini sebanyak 4 Dosen pengampu ini tergabung laboratorium produksi ternak Ruminansia di Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Masing-masing dosen pengampu berlatar belakang keilmuan produksi ternak ruminansia khususnya ternak perah. Sehingga sangat mendukung keilmuan yang sesuai dalam mata kuliah Data dari hasil pengamatan pada saat diskusi pemecahan skenario kasus, kemudian dirata-ratakan, dijumlahkan dan persentasi. Penyesuian RPS Mata Kuliah Sesuai penyesuikan dengan RPS . encana pembelajaran semeste. yang disampaikan kepada mahasiswa. Hasil diskusi tim pengampu mata kuliah bahwa RPS mata kuliah manjemen ternak disesuaikan dengan metode pembelajaran yang tadinya terpusat kepada dosen menjadi terpusat kepada mahasiswa dengan system case base Pada tahap awal ini dikombinasikan sistem pembelajaran 50% merupakan pemberian materi untuk penguatan keilmuan mahasiswa dan 50% pemecahan skenario diberikan dosen. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Mata kuliah Manajemen Termak Perah (ETP. merupakan salah satu mata kuliah prodi Ilmu Ternak pada Fakultas Peternakan dengan kategori mata kuliah pilihan yang dikontrak oleh mahasiswa semester 5 dan 7. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa minat produksi ternak Fakultas Peternakan, namun dengan adanya program kampus merdeka dan merdeka belajar (MBKM) serta penyesuaian terhadap kurikulum, dimana mahasiswa diberi kesempatan untuk mengambil kuliah diluar kampus selama 3 semester. Maka mata kuliah ini menjadi pilihan yang bisa dilakukan dikelas seperti biasanya atau diluar kampus seperti perusahaan peternakan sapi perah atau industri pengolahan susu. Materi kuliah yang diberikan oleh dosen pengampu sebanyak 50% dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan, dasardasar ilmu mengenai manajemen ternak perah sesuai dengan sub bahasan masingmasing. Sementara 50% merupakan pemecahan kasus yang diberikan dengan cara diskusi kelompok dan diskusi pleno terhadap kasus yang diberikan. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini merupakan mahasiswa yang sudah lulus mata kuliah prasarat yaitu produksi Edu-Sains Volume 13 No 2. Juli 2024 Kemampuan menganalisis skenario kasus (%) Setiap kegiatan pemecahan skenario kasus yang diberikan kepada mahasiswa, maka mahasiswa diwajibkan terlibat aktif pemecahan kasus tersebut. Pada akhir diskusi maka kelompok membuat kesimpulan diskusi kasus yang diberikan untuk dipresentasikan secara Hasil diskusi yang dihasilkan tahap awal ditampilkan pada diskusi pleno untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Sistem pemecahan kasus ini meningkatkan kemampuan mahasiswa dari aspek pengetahuan . , sikap . dilapangan pada peternakan sapi perah. Karena dengan terlatihnya mahasiswa dalam mengemukan pendapat terhadap mahasiswa pada saat bekerja, cepat dan tanggapnya mahasiswa dalam mengambil keputusan disaat Tabel 3. Hasil Evaluasi Mahasiswa Mata Kuliah Manajemen Ternak Perah pada Skenario Kasus 1 dan Kasus 4 Kemampuan bertindak dan berinisiatif (%) Penguasaan materi (%) Lama aktivitas interaksi . Kemampuan berkomunikasi dengan baik (%) Kemampuan berpikir . etepatan jawaba. (%) Skenario Kasus1 Skenario Kasus 4 Hasil pembelajaran CBL yang dilakukan yaitu pada diskusi skenario kasus pertama masih ada mahasiswa yang belum berani dan terhadap pemecahan kasus yang diberikan. Ini terlihat sebanyak 33,3% mahasiswa mengemukanan pendapat secara sukarela atau lebih banyak diam, tetapi setelah dipanggil dan diwajibkan memberikan pendapat, mahasiswa yang bersangkutan baru mulai aktif. Kondisi ini diduga karena ada mahasiswa kurang berani dan tidak yakin terhadap pendapatnya, atau rendahnya pengetahuan tentang skenario kasus yang diberikan. Ini juga terlihat dari pengusaan materi oleh mahasiswa sebanyak 24,6%, lama pemecahan kasus 1-3 menit, kemampuan berkomunikasi dengan baik 48,7%, menganalisis skenario sebanyak 56,4%. Kondisi ini diduga karena selama ini sistem pembelajaran yang dilakukan lebih kepada menunggu informasi dari dosen, dimana kreativitas dalam pemecahan skenario kasus oleh mahasiswa tidak terlatih dengan baik, sehingga motivasi mencari informasi juga rendah terhadap kasus yang diberikan. Hasil Evaluasi Hasil evaluasi pemebelajatan CBL pada mata kuliah manajemen ternak perah Fakultas Peternakan pada skenario kasus 1 dan skenario kasus 4 dapat dilihat pada Tabel 3. Parameter Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran CBL agar berjalan efektif diantaranya . membuat semua mahasiswa konsentrasi terhadap skenario masalah . yang diberikan, . mengorganisasikan semua untuk fokus pada skenario kasus yang diberikan, . membimbing, pengarahan mahasiswa dalam melakukan diskusi, . memberi masukan dan saran jika ada diskusi yang tidak sesuai dengan dasar ilmunya, . melakukan pengamatan dan membuat suasana diskusi berjalan baik Adriani. , dkk. Penerapan Pembelajaran Berbasis . dengan melibatkan semua tim mahasiswa dalam diskusi (Safarina et al. , 2. kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan Setelah selesai diksuksi skenario kasus pertama, maka pada saat pemberian materi kuliah berikutnya didapatkan hasil sebagian besar mahasiswa . ,3%) sudah mulai aktif bertanya terhadap materi yang Sehingga perkuliahan yang tadinya didominasi oleh dosen mulai bergeser kepada diskusi. Menurut Bansal dan Goyal ( 2. bahwa metode CBL sangat efektif meningkatkan kreatifitas dan memberi dampak positif dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Motivasi dalam belajar dan berdiskusi merupakan sikap dasar yang diperlukan dalam memecahakan scenario kasus. Kondisi ini dapat melatih kemampuan mahasiswa dalam mengambil keputusan jika nantinya dihadapi dengan kondisi kasus yang sama. Ha ini diduga sudah mulai tumbuh motivasi pada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah diluar yang diberikan dosen pengampu. Menurut Huang et al. bahwa motivasi belajar sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran, metode dan proses yang Mahasiswa dengan mootivasi yang baik akan menunjukan minat, aktivitas dan partisipasinya memecahkan kasus yang diberikan. Menurut Wospakrik et al. bahwa pembelajaran Case Based Learning (CBL) instruksional yang berorientasi pada pembelajaran problem solving approach. Pembelajaran ini lebih terpusat kepada AuMenurut Aliusta dan Ozer . bahwa pembelajaran Student Centered Learning (SCL) dalam mengembangkan kemampuan, keterampilan, kreativitas dan kemandirian. Pembelajaran SCL yang dapat digunakan motivasi dan kemampuan pengetahuan mahasiswa dalam penyelesaian masalah dilapangan adalah metode Case Based Learning (CBL). Selama satu semester perkualiahan ada 4 kasus yang didiskusikan dan diselesaikan oleh Proses evaluasi CBL dilakukan kembali pada skenario kasus Evaluasi pemberlajaran ini mendapatkan hasil yang berbeda, dimana semua mahasiswa . %) sudah aktif dan berinisiatif mengemukakan pendapatnya. penguasaan materi juga meningkat menjadi 95,9%, lama mengemukana pendapat sudah diatas 3 menit dengan kemampuan menganalisis kasus menjadi Kondisi ini terlihat mahasiswa sudah mulai menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran memecahkan kasus dan sudah aktif melakukan diskusi dalam mencari pemecahan masalah yang Dimana mahasiswa dengan suka rela dan berinisiatif untuk mengemukakan pendapatnya. Kondisi ini sangat mengembirakan karena sistem ini dari aspek pengetahuan . , aspek sikap dalam berdiskusi . , sehingga tujuan CBL bisa mahasiswa dapat Metode CBL lebih efektif digunakan dalam sebuah pembelajaran yang dibandingkan dengan metode yang konvensional . eramah dan tanpa melibatkan keaktifan dan kreatifitas mahasiswa dalam memperoleh mater. Model CBL menuntut mahasiswa untuk aktif, mampu memecahkan masalah atau kasus yang Sehingga prestasi dan hasil Edu-Sains Volume 13 No 2. Juli 2024 pembelajaran yang efektif dan mempunyai efek pada kognitif direncanakan terlebih dahulu. Dalam diskusi terjadi menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat (Amiruddin et al. , 2. Ay Pada kasus terakhir semua mahasiswa sudah mampu mengemukan pendapat diatas 3 menit dengan fokus pemecahan masalah yang lebih rinci, detil dan yang memadai, sehingga mendekati pemecahan masalah kasus yang seharusnya dilakukan. Artinya mahasiswa dalam ilmu pengetahuan dan mahasiswa termotivasi untuk mencari pengetahuan dalam pemecahan kasus yang Ay Menurut Tuttle . bahwa motivasi merupakan komponen dasar dalam belajar. Mahasiswa dengan motivasi yang kuat, akan menunjukkan minatnya, aktivitasnya, dan partisipasinya dalam mengikuti kegiatan belajar yang sedang Au Kegiatan pemecahan kasus dengan praktek langsung didapatkan hasil yang belum optimal, walaupun pada tahap diskusi mahasiswa sudah mengemukakan tahapan pemecahan kasus yang baik, tetapi dalam pelaksanaan prakteknya mahasiswa masih terlihat ragu. Sehingga proses pemecahan kasus langsung dilapangan yang dibarengi praktek menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian untuk memaksimalkan hasil proses CBL ini. Model CBL dapat pemahaman mahasiswa tentang apa yang dipelajari sehingga diharapkan dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari. Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri . maupun dari luar diri . Ay Menurut Lynn dan Cassidy . bahwa ada tujuh indikator yang bisa dijadikan patokan untuk mengukur tinggi rendahnya motivasi berprestasi seseorang, yaitu etos kerja . ork ethi. , gigih . , . , . , bercita-cita . , dan ahli . KESIMPULAN Kesimpulan dari penerapan pembejaran berbasis case based learning (CBL) pada manajemen ternak perah ini peningkatkan kemampuan mahasiswa berdiskusi, mengemukakan pendapat dan menyelesaikan kasus dengan peningkatan kemampuan berkomunikasi dan pemahaman yang lebih baik. Pada akhir perkualiahan proses pemecahan kasus dilakukan dilapangan dengan melihat kasus secara langsung. Pada awal kegiatan mahasiswa diberi kasus mengenai mastitis dengan tahapan pemerahan yang Kegiatan didahului dengan diskusi awal mengenai kasus, setelah didapat kesepakatan pemecahan kasus, maka mahasiswa diminta melakukan semua tahapan yang sudah disepakati dalam diskusi untuk melakukan pengecekan mastitis pada kambing perah melakukan tahapan proses pemerahan yang baik dan benar. Kemudian tahap dilakukan kembali pemecahan kasus. Dalam diskusi dapat saja muncul pertanyaan. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada LPPM Universitas Jambi yang telah dan menfasilitasi kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA