Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta MENGANALISIS BAHASA AGAMA TERHADAP TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF ISLAMOPHOBIA ARIFA1. PRANATA SALIM SIMAMORA2. Abdul Aziz3 Universitas Dharmawangsa. Indonesia Universitas Dharmawangsa. Indonesia Email Address arifadamanik@gmail. Keywords: Bahasa Agama. Toleransi. Islamophobia Abstrak The presence of the text in the middle of the reader gives rise to different forms of use and understanding. The existence of the text needs to be reconsidered as to the extent to which the textAos truth is expressed and expressed in whole. As well as the understanding of the concept of Aureligious languageAy contained in QurAoan texts that also need to be studied holistically in order to gain a proper and comprehensive Then Islamophobia has become a global phenomenon due to the many acts of terrorism-terrorism with Islamic motives. In Indonesia, some community organizations are indicated to cause Islamophobia, thus disrupting social relations with religious people and causing problems in the religious The purpose of this study was the realization of a religious society that lived together and was tolerant. Religious tolerance is not to fuse with one another in faith. Nor is it to exchange beliefs with different religious groups. Tolerance here is in the sense of muAoamalah . ocial interactio. , so there are common boundaries that may and may not be broken. This is the essence of moderation in the frame of tolerance where each party is expected to control itself and provide a space of tolerance so that it can respect and respect each otherAos strengths and uniqueness in the absence of fear of rights and also of his beliefs. Pendahuluan Bangsa Indonesia merupakan Bangsa yang masyarakatnya majemuk. Terdiri dari ribuan Kultur. Etnis. Bahasa agama. Bahkan ada yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara Multikultural terbesar di dunia. (Ginting Kiki, 2009. Gina Lestari, 2015. Amalia, 2. Bahasa bukanlah Instrumental yang kita gunakan untuk menafsirkan dunia secara Impersonal dan objective karena Bahasa mempunyai sifat bawaan yang biasa. Bahasa mempunyai banyak sisi yang cukup kompleks ketika dilihat sebagai alat untuk menyatakan gagasan atau keinginan, yang bersifat amat individualistic (Wallace, 1. Sebagai salah satu bentuk atau ragam Bahasa. Bahasa Agama menawarkan teori Inovatif Agama sebagai kelas representasi Budaya. Tergantung pada Bahasa untuk menyatukan beragam kapasitas pikiran manusia. Kajian mengenai hal ini juga telah memperkaya Teori Linguistik, berdasarkan bagaimana ucapan dipahami, metafisik dan moral yang misteri dan peran kunci mereka dalam pikiran dan tindakan. (Downes. W, 2. Bahasa memang bisa mengambil dimensi spiritual yang berbeda. Bahkan, memainkan peran penting dalam ekspresi keagamaan apakah orang percaya adalah monolingual atau multi Bahasa. Ketika orang tersebut adalah pengguna dua Bahasa (Bilingua. atau multi Bahasa. Mereka memiliki akses dalam jumlah yang lebih besar dari sumber Linguistik (Anya Woods, 2. Namun, (Smolicz. JJ, Telah mengingatkan bahwa : Dalam hal Bahasa. Individu dapat menjadi Bilingual. Trilingual atau Multi Bahasa. Tetapi mereka tidak bisa mengklaim sebagai Bi-Agama atau Multi-Agama dalam Iman dan Doktrin. 49 | Maharani Sebuah produk inti dari irisan Bahasa dan Agama adalah Bahasa Agama. Istilah ini telah dipahami secara berbeda dalam berbagai displin Ilmu. Rajehswari V. Pandharipande, menggambarakan situasi ini dalam pernyataan berikut : AuFor example, sociolinguists treat language of religion as a register of a Natural language, which they perceive as a system or a resource from which Utterances are composed (Samarin 1. In linguists view, what separates Language of religion from its non-religious counterpart is the selection of Linguistic material at different levels . exical, syntactic, phonological. Semantic, stylistic, etc. ) in the religious register. A theologian, on the other Hand, may treat language of religion as a construct of thoughts which is Different from its non-religious counterpart, and which is expressed through Various linguistic structuresAy (Pandharipande, 2. Islam merupakan salah satu Agama terbesar di dunia yang fokus ajarannya Memberikan kedamaian dan keselamatan kepada seluruh Alam semesta yang sering dikenal dengan istilah rahmatan lil Aoalamin. Namun demikian pasca aksi Terorisme yang dikenal dengan Tragedi 9/11 pada WTC di New York dan seruan peperangan terhadap Terorisme. Komunitas Islam seolah menjadi bagian isu penting dalam setiap diskusi tentang Terorisme. Komunitas Islam dipandang sebagai penyebab segala permasalahan dan secara Stereotip mereka menjadi sasaran tuduhan tersebut. (Moordiningsih. Islamophobia sebagai suatu fenomena ketakutan dan kecurigaan terhadap Islam umumnya terjadi dikalangan korban Terorisme maupun lingkungan sekitar korban Terorisme. Namun adanya pemberitaan dan kengerian yang ditunjukkan oleh teroris yang umumnya menggunakan Atribut dan Symbol Agama Islam. Maka Islamlah yang kemudian dipersepsikan oleh masyarakat. Dunia sebagai dalang dari setiap aksi Teror yang terjadi. Islamophobia sendiri telah menjadi salah satu penyakit di tengah masyarakat dunia. Khususnya di Negara-negara Eropa dan Amerika. Islamophobia yang terjadi di Negara-negara Barat seperti Negara-negara Eropa dan Amerika sangat mengkhawatirkan. Di Inggris misalnya menurut laporan tahunan yang dirilis oleh Hope not Hate dengan judul state of hate. Pada februari 2019 menjelaskan bahwa 35% masyarakat percaya bahwa Islam adalah ancaman bagi kehidupan sosial mereka. Pada laporan tahun 2018 menjelaskan juga bahwa 30% masyarakat menolak pembangunan masjid, bahkan 21% diantaranya akan tetap melakukan penolakan meski harus dengan kekerasan (Faisal Irfani, 2. Fenomena Islamophobia ini bahkan sampai ke Indonesia. Persebaran Islamophobia ini Semakin meluas seiring dengan banyaknya aksi Terorisme yang terjadi. Sebagai Negara dengan Penduduk muslim terbanyak di dunia. Indonesia tidak luput dari persebaran ancaman Islamophobia. Hal ini terjadi pasca aksi Teror yakni bom Bali 2002. Kemudian disusul dengan Rentetan penangkapan beberapa orang Islam Indonesia seperti Amrozi. Imam Samudra. Ali Imron. Bahkan seorang Ustadz tua seperti Abu Bakar Baasyir pun dicurigai sebagai dalang dari Tragedi bom Bali tersebut. Ketakutan ini pun kemudian menyebar luas. Pria pemelihara jenggot dan keluarganya pun tak luput dari kecemasan dan kecurigaan dari kemungkinan menjadi Sasaran penangkapan fisik dari kepolisian. Islamophobia di Indonesia tidak hanya berasal dari masyarakat Non-Islam. Bahkan masyarakat yang beragama Islam pun ikut larut dalam Islamophobia itu sendiri. Islamophobia di Indonesia tidaklah frontal. Hanya muslim yang beratribut tertentu yang dicurigai dan ditakuti. Muslim yang menggunakan Burqa. Cadar, atau Niqab yang biasanya menjadi sasaran masyarakat yang terjangkit Islamophobia. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Selain itu ada juga beberapa penampilan seperti celana Cingkrang, janggut lebat, dan Sebagainya yang menjadikan muslim di Indonesia patut dicurigai Oleh penderita Islamophobia di Indonesia. Bahkan pemilik rumah kontrakan pun memiliki Kecemasan ketika rumah kontrakannya ditinggali oleh pria yang Dalam pengaruhnya Terhadap fenomena Islamophobia ini. Maka peran dari organisasi kemasyarakatan keagamaan Isalm di Indonesia memiliki andil yang cukup penting. Organisasi kemasyarakatan keagamaan di Indonesia Banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat di Indoneisa. Organisasi masyarakat Islam sebagai media dakwah umat Islam saat ini sangat dibutuhkan. Tujuannya agar umat Islam Memiliki rujukan, yakni dari para ulama yang ada didalam organisasi tersebut. Dan berpedoman pada Al-QurAoan dan Hadist. Agar tidak terombang ambing dengan isu-isu Terorisme. Pelanggaran HAM. Intoleransi dan lain sebagainya. Dengan banyakanya organisasasi Islam yang Berpengaruh di Indonesia. Seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang merupakan Organisasi terbesar di Indonesia diharapkan mampu menjaga kesatuan umat berbangnsa dan Bernegara di Indonesia. Juga pemerintah harusnya menjadi pelopor dan pendorong masyarakat Untuk menciptakan kehidupan dan kerukunan. Fenomena Islamophobia ini merupakan bagian dari ancaman asimetris yang berpotensi Mengganggu stabilitas ditengah masyarakat. Sehingga menjadikan Islamophobia adalah ancaman Nyata terhadap kehidupan sosial masyarakat bangsa Indonesia. Dan dapat digolongkan ke dalam Ancaman terhadap instrumen sosial. Toleransi beragama adalah Toleransi yang mencakup masalah-masalah keyakinan dalam Diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau ketuhanan yang diyakini-Nya. Setiap orang Mestinya diberikan kebebasan untuk meyakini serta memeluk Agama (Mempunyai Akida. yang Dipilihnya sendiri dan mendapatkan penghormatan dalam pelaksanaan ajaran-ajaran yang dianut Ataupun diyakininya (Casanova, 2. Toleransi adalah buah ataupun hasil dari dekatnya interaksi sosial dimasyarakat (Graham C. Kinloch, 2. Dalam kehidupan sosial beragama. Manusia tidak bisa menafsirkan adanya Pergaulan. Baik dengan kelompok-Nya sendiri atau dengan kelompok lain yang kadang berbeda Agama atau keyakinan. Dengan fakta demikian sudah seharusnya umat beragama berusaha untuk Saling memunculkan kedamaian. Ketentraman dalam bingkai Toleransi sehingga kestabilan Sosial dan gesekan-gesekan ideologi antar umat berbeda Agama tidak akan terjadi. Konflik yang terjadi pada komunitas keagamaan selama ini karena adanya Kesalahpahaman atau kurangnya kesadaran beragama sehingga menyebabkan banyak terjadi Konflik antar umat Sebagai contoh. Kasus yang terjadi di Yogyakarta. Dimana terjadi Ketegangan warga Islam Pra-Golan dengan pendatang kristen. Dimana suasana pedesaan yang Sebelumnya relatif kuat dengan kehadiran para pendatang kristen secara bertahap mengalami Perubahan layaknya suasana masyarakat perkotaan yang cenderung Individualistik dan lebih Banyak disibukkan oleh orientasi ekonomis daripada kehidupan sosial bermasyarakat (Hartono, 2002:133-. Toleransi dapat dilihat secara nyata dari aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan sehari-hari di lingkungan perumahan secara gotong royong baik itu kegiatan yang menyangkut kepentingan umum maupun kepentingan perseorangan. Individu-individu yang berbeda agama Bekerjasama dengan tidak memandang status perbedaan agama yang dianut. 51 | Maharani Metode Jenis penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif ini menyajikan hasil data apa adanya, tanpa adanya proses manipulasi atau tindakan lain. Tujuan dari penelitian deskriptif ini membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis serta hubungan antar fenomena yang diamati. Metode ini menjelaskan serangkaian fase atau proses dan menyimpan informasi yang bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian. Kualitatif artinya dapat dipahami sebagai metode penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa bahasa tulisan atau lisan seseorang yang dapat diamati. Sampek penelitian diambil dengan teknik purposive sampling berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan AuMenganalisis Bahasa Agama Terhadap Toleransi Dalam Perspektif IslamophobiaAy. Data penelitian ini mengacu kepada data yang berupa kata yang berhubungan dengan karakteristik terhadap bentuk sifat dan bukan angka. Jenis data digunakan biasanya disampaikan dengan menyusun menggunakan kata-kata deskriptif. Data penelitian ini dilakukan dengan Mengambil berbagai data tentang mendeskripsikan AuMenganalisis Bahasa Agama Terhadap Toleransi Dalam Perspektif IslamophobiaAy dengan data yang up to date sesuai perkembangan atau fenomena yang terjadi saat ini. Adapun yang digunakan penelitian ini seperti Handphone/laptop untuk membantu mengakses informasi yang ada di media sosial maupun diberita google. Hasil dan Pembahasan Istilah Toleransi berasar dari bahasa Inggris yiatu. Tolerance. Sedangkan dalam Bahasa Arab disebut dengan istilah Tasamuh yang berati bermurah hati. Atau Tasahul yang bermakna bermudahmudahan. Sementara. Kata AukerukunanAy Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan. Diartikan sebagai Auhidup bersama dalam Masyarakat melalui Aukesatuan hatiAy dan AubersepakatAy untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaranAy. Kerukunan ialah suatu kata yang memiliki muatan makna AudamaiAy dan AubaikAy. Intinya, menjalani kehidupan bersama dalam masyarakat dengan bingkai Aukesatuan hatiAy dan AubersepakatAy supaya tidak menciptakan permusuhan. Pertengkaran dan Perselisihan (Options. L, 1. Jika pemaknaan ini dijadikan sebagai Pegangan. Maka AukerukunanAy ialah sesuatu yang sangat ideal serta akan didambakan oleh Seluruh masyarakat. Dalam kaitannya dengan Islam. Maka istilah Toleransi ini disebut dengan Tasamuh. Walaupun pada dasarnya tidak semata-mata selaras dengan makna dari kata Toleransi tersebut. Karena Tasamuh berisi tindakan tuntunan dan penerimaan dalam batas-batas tertentu. Orang Yang melakukan Tasamuh dalam pandangan Islam disebut sebagai Mutasamihin. Yang Bermakna Aupenerima. Menawarkan, pemurah dan pemaaf sebagai tuan rumah kepada TamunyaAy. Secara realitas. Mereka yang melakukan tindakan Tasamuh ini tidaklah sepatutnya Menerima saja yang akan menekan batasan hak serta kewajibannya sendiri. Dengan kata lain. Tindakan atau perilaku Tasamuh dalam kehidupan beragama memiliki makna untuk tidak saling Melanggar atau melampaui batasan. Terutama yang berhubungan dengan batasan keimanan (Aqida. Dalam ajaran Islam. Toleransi bukan saja terhadap sesama manusia. Tetapi juga terhadap Alam semesta. Binatang, dan Lingkungan hidup. Dengan makna Toleransi yang luas semacam Ini. Maka Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius Dikarenkan Toleransi beragama merupakan masalah yang berhubungan dengan eksistensi Keyakinan manusia terhadap Allah SWT. Ia sangat sensitif dan primordial serta sangat mudah Membakar dan menyulut api konflik yang bisa menyedot perhatian besar dari Islam. Secara doktrinal. Toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Kata Islam secara definisi Diartikan sebagai AuSelamatAy dan AuDamaiAy serta AuMenyerahkan DiriAy. Pengertian Islam yang Demikian sering diformulasikan dengan istilah AuIslam Agama rahmatal lil AoAlamynAy (Agama Yang yang menjadi rahmat untuk seluruh ala. Ini menjelaskan bahwa kedatangan Agama Islam bukanlah untuk menghapus Agama-agama yang telah ada. Akan tetapi Agama Islam Menawarkan diskusi. Dialog dan Toleransi dalam bingkai saling menghormati. Secara gamblang Islam telah menyadari bahwa keanekaragaman umat manusia dalam keyakinan dan Agama Merupakan kehendak Allah. Oleh karena itu tak mungkin disamakan ataupun disatukan. Dalam Al-QurAoan Allah berfirman : eaAe acO OaEaOIaO aI aIIaOIA a AaOEaOe a ae aacEae aE aIIae aIIe AaO aEaA a caAe aEEac aN eI a aIOUe aIae aE aNae EIA Artinya : AuDan jika Tuhanmu menghendaki. Tentulah beriman semua orang yang di muka bumi Maka apakah kamu . memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanyaAy (QS. Yunus : . Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa jika Allah berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya. Maka hal ini akan terlaksana. Karena untuk yang melakukan yang demikian adalah sangatlah mudah bagi-Nya. Sesungguhnya, andaikan Tuhanmu menghendaki untuk tidak menciptakan manusia dalam keadaan siap menurut fitrahnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Dan untuk beriman atau kafir dan dengan pilihannya sendiri dia lebih menyukai diantara salah satu perkara yang kemungkinan dia dilakukan. Dan meninggalkan kebalikannya melalui kehendak dan kemauan sendiri. Pastilah semua hal tersebut Allah lakukan. Namun. Kebijaksanaan Allah tetap untuk menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga manusia mempertimbangkan sendiri dengan pilihannya, apakah akan beriman atau kafir. Sehingga ada sebagian manusia yang beriman dan adapula yang kafir. Kemudian dalam Ayat lain juga dijelaskan : Artinya : AuTidak ada paksaan dalam . Agama (Isla. Sesungguhnya telah jelas . antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah. Maka sungguh. Dia telah berpegang . pada tali yang sangat kuat yang tidak akan Allah maha mendengar. Maha mengetahuiAy (QS. Al-baqarah : . Dari Ayat di atas dapat kita simpulkan. Bahwa dalam pilihan terhadap Agama tidak dibenarkan adanya paksaan. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan Agama Allah kepada manusia dengan cara yang baik dan penuh kebijaksanaan serta dengan nasihat-nasihat yang wajar sehingga mereka masuk Agama Islam dengan kesadaran dan kemauan mereka sendiri. Apabila kita sudah menyampaikan kepada mereka dengan cara yang demikian tetapi mereka tidak juga mau beriman itu bukanlah urusan 53 | Maharani kita melainkan urusan Allah swt. Telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan. Maka barangsiapa yang mengikuti kebenaran. Atasnya kebaikan. Namun jika mengikuti hawa nafsunya. Maka atasnya penyesalan di kemudian Hari. SyariAoah Islam telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam Agama sehingga sikap Toleran dan Cinta kedamaian inilah menjadi catatan sejarah Islam yang ditulis dengan tinta emas Oleh para sejarawan yang telah menunjukkan gemilangnya peradaban Islam pada masa dahulu. Maka dengan demikian mestinya tidak ada lagi sikap memaksa kehendak kita kepada orang lain Supaya mereka sama atau mau mengikuti keyakinan kita dan ini merupakan suatu sikap Ahistoris. Toleransi beragama dalam pandangan Islam bukanlah untuk saling melebur dalam Keyakinan. Tidak juga untuk saling bertukar keyakinan dengan kelompok Agama yang berbeda-Berbeda. Toleransi di sini adalah dalam pengertian muAoamalah (Interaksi sosia. Sehingga Adanya batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah yang menjadi esensi dari Toleransi tersebut di mana masing-masing pihak mampu mengendalikan diri serta menyediakan Ruang untuk saling menghargai keunikannya masingmasing tanpa merasa terganggu ataupun Terancam keyakinan maupun hak-hak-Nya. Islamophobia yang lebih dulu dikenal di dunia barat ini berbeda dengan fenomena phobia terhadap Islam yang terjadi di Indonesia. Meskipun di Indonesia juga kerap kali terjadi aksi teror dengan motif Agama terutama Agama Islam akan tetapi fenomena Islamophobia yang dijelaskan dengan Teori open and closed view of Islam oleh Runnymede Trust jika diterapkan ke dalam kondisi social masyarakat Indonesia dengan beberapa Indikatornya maka menjadi sebagai berikut : Monolithic / Diverse. Pada Indikator ini semua Stakeholder berbasis Agama di Indonesia baik itu kementerian Agama sebagai unsur dari pemerintah maupun organisasi masyarakat seperti PBNU. SETARA Institute. Maupun HMI memiliki kesamaan paham tentang Islam yang diverse. Hal ini berarti bahwa Islam sebagai suatu ajaran Agama memiliki nilai progresifitas dan mampu menyesuaikan dengan ketentuan zaman. Kesepahaman dari berbagai instansi keagamaan tersebut juga mengindikasikan bahwa secara umum masyarakat Indonesia menilai bahwa agama Islam adalah ajaran yang tidak statis dan sangat responsive terhadap setiap kenyataan baru yang muncul di tengah masyarakat. Meskipun pada umunya stakeholder keagamaan memiliki kesepahaman namun berbeda dengan Karim. Komunitas ini meyakini bahwa Islam adalah Agama yang final dan tidak dibenarkan untuk dilakukan perubahan terhadapnya . Semua hukum dan Ketentuan hidup telah dijelaskan dalam syariat Islam sehingga tidak dibenarkan dilakukan Interpretasi yang menyesatkan. Separate / Interacting. Menurut paham yang diyakini oleh kementerian Agama melalui direktorat jendral bimbingan masyarakat Islam. Menegaskan bahwa Islam adalah ajaran Agama yang tidak terikat dengan Budaya manapun. Ia adalah suatu nilai ajaran yang bersifat universal sehingga Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | nilai-nilai Budaya dapat menyesuaikan dengan Islam. Hal ini juga seperti disampaikan oleh pengurus besar Nahdatul Ulama bahwa universalitas ajaran Islam adalah suatu bentuk yang nyata dan sesuai dengan ajaran pokoknya yaitu Islam sebagai rahmatan lilAoalamin. Konsep Islam rahmatan lilAoalamin diterima oleh semua Stakeholder dan organisasi masyarakat termasuk organisasi mahasiswa seperti himpunan mahasiswa Islam. Namun ada sedikit perbedaan pandangan tentang ajaran Islam dan Budaya Islam. Center for Study Religion and Culture menjelaskan bahwa Islam adalah Agama yang membudaya. Artinya bahwa masuknya ajaran Islam seringkali diiringi masuknya Budaya Arab. Hal ini terjadi karena nilai historis dari Islam yang dikembangkan dan disebarluaskan oleh Nabi Muhammad yang merupakan seorang keturunan bangsa Arab. (CSRC, 2. Meski demikian Budaya Arab yang sering kali dianggap bagian dari Islam bukan merupakan suatu ajaran Islam. Sehingga penggunaan Atribut dan pakaian seperti gamis dan sorban di kepala bukan merupakan hal yang harus dilakukan dan bukan juga hal yang mengidentifikasi identitas seseorang. Bahkan Islam Indonesia memiliki Atribut khusus untuk mengidentifikasi keislamannya. Yakni misal dengan Atribut Peci. Sarung dan Baju koko. Perbedaan hanya terjadi pada karim. Komunitas ini beranggapan bahwa Budaya seperti penampilan dan pakaian harus disesuaikan dengan penampilan dan pakaian Nabi Muhammad. Dan mereka menolak adanya narasi arabisasi. Karena budaya yang tersebut adalah syariat yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Inferior / Different Pada Indicator ini kementerian Agama menjelaskan tentang konsep Islam yang ajaran intinya yakni Islam rahmatan lilAoalamin. Karena konsep dasarnya ini menjadi konsekuensi logis Islam sebagai suatu ajaran yang rasional, tidak primitive. Apalagi sampai barbar. Keyakinan seperti ini tidak semata-mata sebagai hal yang bersifat doktriner, akan tetapi juga melekat pada setiap ajaran keagamaan dan peribadatan yang diajarkan oleh Islam. Sehingga jika ada anggapan dan pernyataan tentang Islam barbar. Artinya pemahaman atas ajaran keislaman yang didapat belum kaffah dan tuntas. Organisasi kemasyarakatan juga menyepakati akan konsep Islam rahmatan lilAoalamin dan menganggap pandangan Islam barbar adalah pemahaman akan Islam yang keliru. Mayoritas masyarakat barat yang beranggapan bahwa Islam adalah Agama yang kejam dan barbar umumnya tidak mengenal Islam secara mendetail. Mereka lebih mengenal Islam lewat pemberitaan media dari aksi-aksi Terornya yang dilakukan. Sehingga seringkali terjadi justifikasi dan generalisasi. Sementara itu pandangan akan diperbolehkannya melakukan tindak kekejaman . yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Teror juga mengindikasikan adanya ketidak menyeluruhan narasi Islam yang mereka dapat. Hal seperti inilah mengakibatkan terjadinya pemahaman parsial tentang konsep jihad yang diyakini kelompok teroris inilah yang menjadi akar munculnya stigma Islam barbar, baik di kalangan masyarakat yang tidak beragama Islam. Maupun dikalangan masyarakat muslim itu sendiri. Karim juga dalam Indicator ini menunjukkan pandangan yang sedikit terbuka Meskipun karena alasan yang berbeda. Yakni Karim tidak membenarkan Islam sebagai Agama 55 | Maharani yang Inferior. Namun tidak juga dalam kategori different seperti dijelaskan Indikator ini. Islam versi Karim dalam indicator ini dianggap sebagai sesuatu yang superior. Simpulan Betapa pentingnya Bahasa Agama. Bahasa agama sebagai faktor yang relevan dengan studi variasi. Pemeliharaan. Kebijakan dan perencanaan. Bahasa yang sudah dilengkapi dalam karya setidaknya beberapa dari mereka yang umumnya dianggap sebagai pendiri cabang Linguistik. Akan tetapi, pengaruh tersebut tidak hanya terhenti sebatas wilayah Linguistik tetapi juga pada dimensidimensi budaya yang lebih luas. Bentuk Islamophobia di Indonesia berbeda dengan Islamophobia yang Terjadi di negaranegara barat. Hal ini Karena islamophobia terjadi di barat disebabkan oleh anggapan Islam sebagai agama yang inferior dan munculnya sikap Anti-Islam. Sementara itu di Indonesia Islamophobia terjadi hanya terhadap seorang muslim dengan ciri penampilan tertentu dan hal tersebut dilakukan hanya dalam rangka upaya preventif atau kehati-hatian. Meskipun aksi Terorisme terjadi di Indonesia namun hal tersebut tidak menciptakan fenomena Anti-Islam ataupun pandangan inferor terhadap Islam. Hal ini karena masyarakat Indonesia umunya memiliki pandangan Lebih terbuka tentang Islam. Nilai-nilai Toleransi mutlak diperlukan oleh masyarakat yang memiliki keragaman Etnis dan Budaya serta Agama. Toleransi beragama bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan dan juga bukan untuk saling bertukar Agama atau keyakinan dengan kelompok lain yang memiliki keyakinan berbeda. Namun Toleransi di sini lebih kepada interaksi Mu`amalah atau interaksi sosial antar masyarakat yang memiliki batasan-batasan yang mesti dijaga secara bersama sehingga masing-masing pihak bisa dan mampu untuk mengendalikan diri serta bisa menyediakan ruang untuk saling menghormati dan manjaga kelebihan dan keunikan masing-masing tanpa ada rasa takut dan khawatir dalam melaksanakan keyakinannya, inilah Esensi dari moderasi beragama dalam bingkai Toleransi. Daftar Rujukan Al-Qosbah. Al-QurAoan Al-Madrasah Duo Latin. QS. Al-Baqarah/2:256, 2021. Al-Qosbah. Al-QurAoan Al-Madrasah Duo Latin. QS. Yunus/10:99, 2021. Amalia. Internalisasi pendidikan multikutural dalam keluarga radikal. Surabaya. Jawa Timur. Casanova. J, 2008. Public Religions In The Modern World. Chicago (Chicago University Pres. Downes. Language and Religion : A Journey into the Human Mind. Cambridge University Press. New York. Faisal Irfani, 2019. AuSaat Inggris Harus Berjuang Mengatasi IslamophobiaAy, https://tirto. id/saat-inggrisharus-berjuang-mengatasi-islamofobia-dhos?page=all#second Page, diakses pada 23 Oktober 2022, 20:22. Gina Lestari. Bhinneka Tunggal Ika : Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan Sara. Jurnal Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan. Retrieved Journal. id/index. php/jppk/article/view/5437/2037. Ginting Kiki. Toleransi dalam Masyarakat Plural. MAJALAH ILMIAH LONTAR,M. (Vol 23. No 4 . : Majalah Ilmiah Lonta. Hartono. Agama dan Relasi Sosial. Yogyakarta : LkiS. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Kinloch. Sociological Theory : Development and Major Paradigm. Bandung : Pustaka Setia. Moordiningsih. Islamophobia dan Strategi Mengatasinya. Jurnal Psikologi Vol XII No. Desember 2004. Options. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Pandharipande 2010. Authenticating a Tradition in Transition: Language of Hinduism In the US. In : Omoniyi. The Sociology of Language and Religion : change. Conflict and Accommodation. Palgrave Macmillan. New York. Smolicz. Multiculturalism. Religion and Education. Education and Society. : 22Ae47. Wallace AFC. Religion : An AnthropologicalView. New York : Random House. Woods. Anya. Medium or Message?Language and Faith in Ethnic Churches. Multilingual Matters Ltd. Clevedon. Buffalo. Toronto. Sydney.