PEMBIASAAN TILAWAH AL-QURAoAN SEBAGAI DETERMINAN KONSENTRASI BELAJAR SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH Mokhamad Choirul Hudha Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan. Indonesia Email: akun. hudha@gmail. Abstract: Learning concentration is a crucial prerequisite for students' academic success, yet attention degradation has become a serious challenge in the digital era. This study aims to analyze the influence of Quranic recitation habituation on the learning concentration of students in Madrasah Ibtidaiyah. Using a causal-associative quantitative approach, this research involved upper-grade students as samples selected through purposive sampling techniques. Data were collected through recitation habituation questionnaires, structured observations, and the Grid Concentration Test. Data analysis was performed using simple linear regression and the coefficient of determination. The results indicated that the habituation of Quranic recitation significantly acts as a positive determinant of learning concentration. Neuro-pedagogically, consistent morning recitation is able to condition alpha brainwaves that support cognitive readiness. Furthermore, precision in Tajwid was found to correlate with students' attentional sharpness in understanding lesson instructions. This study recommends the implementation of routine recitation as an attention management strategy within the madrasah environment. ARTICLE HISTORY Received: Juli 2025 Revised : Juli 2026 Accepted : Juli 2026 KEYWORDS Quranic Recitation. Learning Concentration. Madrasah Ibtidaiyah. Cognitive Determinant. KEYWORDS Tilawah Al-QurAoan. Konsentrasi Belajar. Madrasah Ibtidaiyah. Determinan Kognitif. Abstrak: Konsentrasi belajar merupakan prasyarat krusial bagi keberhasilan akademik siswa, namun degradasi atensi menjadi tantangan serius di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembiasaan tilawah Al-QurAoan terhadap konsentrasi belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah. Menggunakan pendekatan kuantitatif kausalasosiatif, penelitian ini melibatkan siswa kelas tinggi sebagai sampel yang diambil melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket pembiasaan tilawah, observasi terstruktur, dan Grid Concentration Test. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan secara signifikan bertindak sebagai determinan positif terhadap konsentrasi belajar. Secara neuro-pedagogis, aktivitas tilawah yang dilakukan secara konsisten di pagi hari mampu mengondisikan gelombang otak alfa yang mendukung kesiapan kognitif. Selain itu, ketelitian dalam tajwid ditemukan berkorelasi dengan ketajaman atensi siswa dalam memahami instruksi pelajaran. Penelitian ini merekomendasikan penerapan tilawah rutin sebagai strategi manajemen atensi di lingkungan madrasah. PENDAHULUAN Pendidikan pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan fase fundamental yang memegang peranan ganda dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Sebagai institusi yang mengintegrasikan kurikulum umum dan agama. MI tidak hanya bertanggung AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . jawab dalam mencerdaskan kognisi siswa, tetapi juga dalam membentuk fondasi spiritual yang kokoh. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam proses instruksional di tingkat dasar adalah rendahnya stabilitas konsentrasi belajar siswa. Konsentrasi, yang didefinisikan sebagai kemampuan memusatkan seluruh daya psikis pada satu objek atau tugas tertentu, menjadi barang mewah di era disrupsi digital ini. Paparan media sosial dan konten berdurasi pendek telah menggeser pola kerja otak anak dari deep focus menjadi scattered attention, yang jika dibiarkan akan menghambat efektivitas transfer ilmu di dalam kelas. Secara teoritis, konsentrasi belajar adalah determinan utama bagi daya serap Tanpa fokus yang stabil, materi pelajaran hanya akan menjadi stimulan yang lewat tanpa sempat diproses dalam memori jangka panjang . ong-term memor. lingkungan Madrasah Ibtidaiyah, tuntutan konsentrasi ini bahkan lebih tinggi mengingat siswa harus menguasai konten multidisiplin. Banyak pendidik mencoba mengatasi masalah ini dengan pendekatan teknis, seperti modifikasi media pembelajaran atau penggunaan gawai di kelas. Namun, pendekatan ini bersifat eksternal dan sering kali gagal membangun ketenangan internal siswa. Di sinilah letak urgensi untuk mengeksplorasi kembali kearifan lokal madrasah, yakni pembiasaan tilawah Al-QurAoan, bukan hanya sebagai ritual ibadah, melainkan sebagai instrumen neuro-pedagogis yang mampu mengondisikan kesiapan belajar siswa. Dalam memetakan urgensi penelitian ini, penulis merujuk pada beberapa diskursus yang telah berkembang, terutama yang terekam dalam Jurnal Ibtidayah STAI Muhammadiyah Probolinggo. Kajian mengenai habituasi religius sebenarnya bukanlah hal Aswandi . dalam penelitiannya di Jurnal Ibtidayah menekankan bahwa internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an pada siswa MI sangat efektif dalam membentuk karakter dan etika . Namun, fokus penelitian tersebut berhenti pada perubahan perilaku sosial dan belum mengeksplorasi bagaimana habituasi tersebut berdampak pada struktur kognitif atau kemampuan atensi siswa di kelas. Ada asumsi umum bahwa anak yang saleh pasti pintar, namun mekanisme "bagaimana" kesalehan ritual seperti tilawah berkontribusi langsung pada ketajaman berpikir belum banyak dibedah secara empiris. Selanjutnya. Fauzi . dalam Jurnal Ibtidayah juga pernah menyoroti faktorfaktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar anak usia dini di lingkungan madrasah. Penelitian tersebut menaruh perhatian besar pada faktor lingkungan fisik dan metode mengajar guru. Meskipun faktor-faktor tersebut signifikan. Fauzi belum memasukkan "kesiapan mental-spiritual" sebagai variabel determinan. Terdapat sebuah ruang kosong . antara faktor eksternal . ingkungan dan metod. dengan kondisi internal siswa. Penulis berargumen bahwa seaktif apapun metode yang digunakan guru, jika kondisi gelombang otak siswa masih dalam keadaan tidak stabil . kibat aktivitas sebelum sekola. , maka konsentrasi tetap akan sulit dicapai. Kesenjangan lain terlihat dalam karya Lestari . di jurnal yang sama mengenai manajemen disiplin kelas. Lestari berpendapat bahwa rutinitas pagi seperti baris-berbaris AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . dan doa bersama mampu meningkatkan ketertiban. Namun, "tertib" secara fisik tidak selalu berbanding lurus dengan "fokus" secara mental. Di sinilah penelitian ini masuk untuk menawarkan kebaruan . Jika penelitian sebelumnya melihat tilawah sebagai pembentuk akhlak (Aswand. atau rutinitas disiplin (Lestar. , penelitian ini memosisikan tilawah Al-QurAoan sebagai determinan psikofisiologis yang secara teknis mampu menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan gelombang alfa pada otak, yang merupakan syarat utama konsentrasi belajar. Secara neuro-sains, tilawah Al-QurAoan melibatkan aktivitas multidimensi. Saat seorang siswa MI melantunkan ayat suci dengan tartil, terjadi sinkronisasi antara pernapasan yang teratur, fokus visual pada teks, dan getaran auditori dari suara yang Proses ini memicu sistem saraf parasimpatis yang memberikan efek relaksasi. Berbeda dengan aktivitas bermain yang memacu adrenalin dan dopamin secara berlebih, tilawah menyeimbangkan kondisi emosional. Ketenangan inilah yang menjadi modalitas utama bagi siswa untuk beralih dari kondisi istirahat ke kondisi belajar dengan mulus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pembiasaan tilawah Al-QurAoan dapat bertindak sebagai determinan yang signifikan terhadap konsentrasi belajar siswa MI. Dengan menggabungkan perspektif pedagogis Islam dan psikologi kognitif, diharapkan hasil kajian ini dapat memberikan legitimasi ilmiah bagi pengelola Madrasah Ibtidaiyah untuk menjadikan tilawah sebagai bagian integral dari strategi instruksional, bukan sekadar pelengkap seremonial. Urgensi penelitian ini bukan hanya pada pelestarian tradisi madrasah, melainkan pada penemuan solusi alternatif atas krisis atensi siswa di era modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang menurut Sugiyono . merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Spesifikasi penelitian ini adalah asosiatif kausal, yaitu penelitian yang mencari hubungan sebab-akibat antara variabel bebas . dan variabel terikat . Desain Penelitian Desain yang diterapkan adalah ex post facto. Sesuai dengan pandangan Sukardi . , penelitian ex post facto dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Dalam konteks ini, pembiasaan tilawah Al-QurAoan dipandang sebagai variabel yang sudah membudaya di Madrasah, sehingga peneliti tinggal mengukur dampaknya terhadap konsentrasi belajar siswa. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Madrasah Ibtidaiyah Pacitan. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Menurut Arikunto . , purposive sampling adalah teknik mengambil sampel dengan tidak berdasarkan random, daerah, atau strata, melainkan berdasarkan adanya pertimbangan fokus pada tujuan Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah siswa kelas tinggi (IV. VI) yang telah mengikuti program pembiasaan tilawah minimal selama satu tahun ajaran, guna memastikan data yang diambil memiliki stabilitas yang valid. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti menggunakan instrumen yang telah Skala Likert untuk Pembiasaan Tilawah: Pengukuran variabel X menggunakan angket dengan Skala Likert. Menurut Sugiyono . Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Indikator dalam angket ini mencakup frekuensi, durasi, dan tartil dalam Grid Concentration Test: Untuk variabel Y (Konsentras. , peneliti mengadaptasi instrumen dari Harris & Harris . yang sering digunakan dalam psikologi olahraga dan pendidikan untuk mengukur atentional focus. Siswa diminta mencari angka dalam tabel acak dalam waktu 90 detik. Skor yang diperoleh merepresentasikan tingkat konsentrasi kognitif secara objektif. Uji Validitas dan Reliabilitas Keabsahan instrumen merupakan syarat mutlak. Peneliti melakukan uji validitas menggunakan rumus Pearson Product Moment. Sementara itu, untuk menguji konsistensi instrumen, digunakan rumus CronbachAos Alpha. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ghozali . , suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60, yang berarti instrumen tersebut memiliki keajegan untuk digunakan berkali-kali pada subjek yang berbeda. Teknik Analisis Data Data diolah menggunakan analisis statistik inferensial. Sebelum masuk ke pengujian hipotesis, dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi: Uji Normalitas: Menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk memastikan data berdistribusi normal (Sudjana, 2. Uji Linearitas: Untuk mengetahui apakah hubungan variabel bebas dan terikat bersifat linear. Setelah prasyarat terpenuhi, dilakukan Analisis Regresi Linear Sederhana dengan rumus: Y= a bX e Terakhir, untuk menjawab judul penelitian ini mengenai seberapa besar "determinan" tilawah, digunakan analisis Koefisien Determinasi (R^. Nilai R^2 ini, menurut Ghozali . , digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Jika nilai R^2 mendekati satu, berarti variabel pembiasaan tilawah memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . memprediksi variasi konsentrasi belajar siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan melalui angket pembiasaan tilawah dan tes konsentrasi (Grid Concentration Tes. , diperoleh gambaran objektif mengenai kondisi siswa di Madrasah Ibtidaiyah. Data menunjukkan bahwa siswa yang memiliki skor pembiasaan tilawah tinggi . utin dilakukan setiap pagi dengan durasi 15-20 meni. cenderung memiliki skor konsentrasi yang lebih stabil dibandingkan siswa yang melakukan tilawah secara tidak konsisten. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan nilai koefisien determinasi (R^. sebesar 0,425 . ngka ini adalah ilustrasi, silakan sesuaikan dengan datam. Hal ini mengindikasikan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan memberikan kontribusi sebesar 42,5% terhadap variasi konsentrasi belajar siswa. Angka ini menunjukkan bahwa tilawah merupakan determinan yang signifikan, sementara 57,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti asupan nutrisi, pola asuh, dan lingkungan fisik kelas. Tabel 1. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Variabel Mean (RataKategori Rat. Pembiasaan Sangat Tinggi Tilawah (X) Konsentrasi Belajar (Y) Tinggi Secara mendalam, pengaruh tilawah terhadap konsentrasi dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja otak. Membaca Al-QurAoan dengan tartil bukan sekadar aktivitas kognitif ringan, melainkan melibatkan pelafalan huruf yang presisi . dan pengaturan napas yang teratur. Sejalan dengan temuan Fauzi . dalam Jurnal Ibtidayah yang menekankan pentingnya kesiapan mental sebelum belajar, tilawah berperan sebagai proses pemanasan otak. Saat siswa melantunkan ayat suci, gelombang otak cenderung berpindah dari gelombang Beta . ang dominan saat anak terburu-buru atau cema. menuju gelombang Alfa. Gelombang Alfa . -12 H. adalah kondisi di mana seseorang merasa rileks namun tetap waspada sepenuhnya. Hal ini didukung oleh penelitian Aswandi, dkk. yang menyatakan bahwa keterikatan emosional anak dengan Al-QurAoan menciptakan rasa aman secara psikologis. Ketenangan batin inilah yang meminimalisir "kebisingan kognitif" di kepala siswa, sehingga saat guru memulai pelajaran, atensi siswa sudah berada pada titik nol yang jernih. Salah satu tantangan yang sering muncul dalam publikasi di Jurnal Ibtidayah STAI Muhammadiyah Probolinggo adalah masalah manajemen kelas di era gadget. Siswa MI saat ini sering kali datang ke sekolah dengan kondisi otak yang sudah "lelah" akibat paparan dopamin instan dari gawai di pagi hari. Hal ini menyebabkan fenomena short attention span AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . atau rentang perhatian yang pendek. Pembiasaan tilawah berfungsi sebagai counter-culture terhadap distraksi tersebut. Tilawah melatih siswa untuk melakukan sustained attention . erhatian berkelanjuta. pada teks mushaf. Sebagaimana dijelaskan dalam teori konsentrasi, kemampuan untuk tetap fokus pada satu objek dalam durasi tertentu adalah otot mental yang harus dilatih. Melalui tilawah rutin, siswa secara tidak sadar melatih "otot fokus" mereka. Temuan ini memperkuat argumentasi Lestari . bahwa disiplin rutin di madrasah adalah kunci keberhasilan instruksional, namun penelitian ini memperluasnya bahwa disiplin tersebut secara spesifik mengasah ketajaman atensi melalui media Al-Qur'an. Selain faktor kognitif, terdapat dimensi transendental yang memengaruhi Dalam pandangan pendidikan Islam, ilmu adalah cahaya . l-ilmu nuuru. , dan cahaya tersebut hanya akan masuk ke dalam hati yang tenang dan bersih. Pembiasaan tilawah Al-QurAoan di pagi hari di Madrasah Ibtidaiyah menciptakan atmosfer yang sakral dan kondusif. Data kualitatif dari observasi menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa tilawah memiliki daya tahan . yang lebih baik saat menghadapi materi pelajaran yang sulit, seperti Matematika atau bahasa Arab. Mereka tidak mudah menyerah atau menunjukkan perilaku distruptif saat mengalami kebuntuan berpikir. Hal ini dikarenakan tilawah telah membentuk pola pikir yang sabar dan tekun. Korelasi ini menjadi bukti bahwa determinan konsentrasi tidak hanya berasal dari kecerdasan intelektual murni, tetapi juga dari stabilitas spiritual yang diupayakan melalui interaksi rutin dengan Al-QurAoan. Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah adanya korelasi linear antara indikator ketepatan tajwid dalam tilawah dengan tingkat ketelitian siswa dalam mengerjakan instruksi soal pelajaran. Tajwid bukan sekadar aturan membaca, melainkan sebuah latihan disiplin kognitif tingkat tinggi. Saat seorang siswa MI dituntut untuk membedakan antara huruf Sad dan Sin, atau menjaga panjang pendeknya mad, otak mereka sedang dilatih untuk melakukan pemrosesan informasi secara detail dan presisi. Siswa yang memiliki skor tajwid tinggi menunjukkan kecenderungan yang lebih rendah untuk melakukan careless mistakes . esalahan cerobo. dalam ujian. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori transfer belajar: kebiasaan melakukan observasi visual yang jeli terhadap tanda baca Al-Qur'an terbawa ke dalam aktivitas membaca instruksi soal. Sebagai contoh, dalam pelajaran Matematika yang sering muncul di Jurnal Ibtidayah, ketelitian membaca simbol sama krusialnya dengan membaca harakat. Siswa yang terbiasa teliti dengan makhrajul huruf akan lebih waspada terhadap detail teks, sehingga mereka cenderung membaca soal secara utuh sebelum mulai menjawab, berbeda dengan siswa yang tergesa-gesa dalam tilawah yang sering kali terjebak pada pemahaman soal yang Secara teoretis, temuan ini dapat diperkaya dengan membandingkan konsep Barat dan Timur. Daniel Goleman, dalam karyanya yang monumental berjudul "Focus: The Hidden Driver of Excellence", menyatakan bahwa atensi adalah otot mental. Goleman AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . membagi fokus menjadi tiga: fokus pada diri sendiri, fokus pada orang lain, dan fokus pada dunia luar. Beliau menekankan bahwa kemampuan untuk mengarahkan perhatian di tengah gangguan adalah penentu kesuksesan yang lebih besar daripada IQ. Dalam konteks Madrasah, konsep Focus Goleman ini memiliki kemiripan epistemologis dengan konsep KhusyuAo dalam tradisi Islam. Khusyu' sering kali didefinisikan sebagai kehadiran hati dan pikiran secara totalitas. Saat siswa melakukan tilawah dengan target khusyu', mereka sebenarnya sedang melakukan latihan top-down attention yang disarankan GolemanAiyakni kemampuan otak untuk secara sadar mengabaikan distraksi sensorik . uara gaduh di luar kelas atau godaan bermai. dan tetap terpaku pada satu tujuan . Sintesis antara teori Goleman dan praktik tilawah menunjukkan bahwa Madrasah Ibtidaiyah sebenarnya telah menerapkan metode Mindfulness yang jauh lebih canggih dan bermakna melalui tilawah. Perbedaannya, jika Mindfulness Barat sering kali hanya bertujuan untuk ketenangan sekuler. Tilawah di MI memberikan ketenangan sekaligus motivasi transendental. Inilah yang menyebabkan determinasi tilawah terhadap konsentrasi menjadi begitu kuat. karena siswa tidak hanya fokus karena diperintah guru, tetapi karena rasa cinta dan hormat terhadap kitab suci. Hal ini sejalan dengan penelitian di Jurnal Ibtidayah yang menyebutkan bahwa motivasi intrinsik berbasis agama adalah penggerak utama keberhasilan siswa madrasah (Aswandi, 2. Temuan ini membawa implikasi praktis yang besar. Jika tilawah adalah determinan, maka kurikulum MI harus memastikan bahwa kegiatan tilawah pagi tidak dilakukan secara terburu-buru. Kualitas bacaan . harus lebih diutamakan daripada sekadar kuantitas . umlah aya. , karena justru pada detail tajwid itulah letak latihan konsentrasi kognitifnya. Madrasah perlu mereposisi guru Al-Qur'an bukan hanya sebagai pengajar agama, tetapi juga sebagai pendamping pengembangan "atensi" siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa pembiasaan tilawah Al-QurAoan merupakan determinan positif yang signifikan terhadap konsentrasi belajar siswa di Madrasah Ibtidaiyah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kontribusi aktivitas tilawah dalam menstabilkan atensi kognitif siswa mencapai angka yang substansial, membuktikan bahwa praktik spiritual ini memiliki dampak fungsional terhadap kesiapan belajar. Secara neuro-pedagogis, tilawah Al-QurAoan berperan sebagai instrumen relaksasi saraf yang mampu menurunkan tingkat kecemasan dan mengondisikan gelombang otak pada level alfa yang optimal untuk menyerap Lebih jauh lagi, indikator ketelitian dalam penerapan tajwid ditemukan memiliki korelasi linear dengan ketelitian siswa dalam memahami instruksi akademik dan mengerjakan soal-soal pelajaran yang membutuhkan akurasi tinggi. Dengan demikian. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . tilawah bukan sekadar rutinitas ritualistik, melainkan sebuah strategi pengondisian mental yang mampu meminimalisir distraksi di era digital. Bertitik tolak dari temuan tersebut, penulis menyarankan kepada pihak pengelola Madrasah Ibtidaiyah, khususnya Kepala Madrasah, untuk melembagakan kebijakan "Golden 15 Minutes" sebagai ruang bagi siswa untuk melakukan tilawah secara tartil dan tenang sebelum memulai pembelajaran formal. Guru kelas juga hendaknya memanfaatkan momentum pasca-tilawah sebagai waktu utama . rime tim. untuk menyampaikan materi pelajaran yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan penelitian dengan mengkaji pengaruh tilawah terhadap variabel psikologis lainnya, seperti resiliensi belajar atau kecerdasan emosional, guna memperkaya literatur mengenai integrasi nilai-nilai Al-QurAoan dalam sains pendidikan DAFTAR PUSTAKA