Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Model Pengelolaan Wilayah Mangrove Berbasis Eduekowisata di Provinsi Papua Barat Daya Inta P. Damanik. Meilvis E. Tahitu. Irwanto. Esther Kembauw. 1,2,. Jurusan Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura. Ambon . Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura. Ambon Jalan Ir. Putuhena Kampus Poka. Ambon e-mail : . intadamanik@ymail. com, . tahituelvis@ymail. com, . irwantoshut@yahoo. ekembauw@yahoo. ABSTRACT Mangrove was a potential natural resource for environmental preservation and from a socio-economic perspective. In general, mangrove was exploited without considering environmental sustainability aspects. This study aimed to find a mangrove area management model that supports environmental sustainability through the concept of Primary data were collected from 74 families representing a population of 289 families spread across four villages, namely Warsambin. Lopintol. Kalitoko, and Mumes Villages in the Teluk Mayalibit District of Raja Ampat Regency. Secondary data were obtained from relevant agencies such as selected village offices, the Raja Ampat Regency Forestry Service. Regional Development Planning Agency (Bapped. of Raja Ampat Regency. Central Bureau of Statistics (BPS), and others. Secondary data collected included data on the area and distribution of mangroves and other data related to the objectives of this study. The results of the study recommend a mangrove and ecosystem management model for the selected location, namely a mangrove eduecotourism model with active community involvement. The main obstacle currently was the community's behaviour . nowledge, attitudes, and skill. in utilizing mangroves and their ecosystems was still low, therefore intensive socialization and mentoring will be needed for the community regarding the management of mangroves and their ecosystems in developing mangrove eduecotourism. Cooperation between the community, government and the private sector is absolutely necessary in the development of mangrove eduecotourism and a comprehensive and in-depth study of mangroves and their ecosystems as well as the social, economic, and cultural conditions of the community is also needed in preparing a mangrove eduecotourism development plan in this area. Keywords: Eduecotourism. Environmental Sustainability. Mangrove ABSTRAK Mangrove merupakan sumber daya alam yang potensial bagi pemeliharaan lingkungan dan dari sudut sosial ekonomi. Pada umumnya, mangrove dimanfaatkan tanpa mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pengelolaan wilayah mangrove yang mendukung kepada terjaganya kelestarian lingkungan melalui konsep eduekowisata. Data primer dikumpulkan dari 74 KK yang mewakili populasi sebanyak 289 KK tersebar di empat desa, yaitu Desa Warsambin. Lopintol. Kalitoko, dan Mumes dalam wilayah Distrik Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti kantor desa terpilih. Dinas Kehutanan Kabupaten Raja Ampat. Bappeda Kabupaten Raja Ampat. BPS, dan lainnya. Data sekunder yang dikumpulkan diantaranya tentang data luas dan distribusi mangrove dan data lain yang terkait dengan tujuan penelitian ini. Hasil penelitian merekomendasikan model pengelolaan mangrove dan ekosistemnya untuk lokasi terpilih adalah model eduekowisata mangrove dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Kendala utama saat ini adalah perilaku masyarakat . engetahuan, sikap, dan keterampila. dalam pemanfaatan mangrove dan ekosistemnya masih rendah, karena itu dibutuhkan sosialisasi dan pendampingan yang intensif bagi masyarakat tentang pengelolaan mangrove dan ekosistemnya dalam mengembangkan eduekowisata mangrove. Kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan pihak swasta mutlak diperlukan dalam pengembangan eduekowisata mangrove dan dibutuhkan pula kajian yang komprehensif dan mendalam terhadap mangrove dan ekosistemnya serta kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat dalam menyusun rencana pengembangan eduekowisata mangrove di daerah ini. Kata Kunci: Eduekowisata. Kelestarian Lingkungan. Mangrove DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index PENDAHULUAN Kelestarian lingkungan dan pengentasan kemiskinan merupakan dua hal yang menjadi perhatian setiap negara, termasuk Indonesia dan menjadi bagian dari tujuan Sustainable Development Goals (SDG. Biasanya, kelestarian lingkungan berbanding lurus dengan kemiskinan, artinya di daerah dengan lingkungan yang rusak atau tidak dipelihara, kemiskinan juga tinggi, meskipun penyebab kerusakan lingkungan belum tentu masyarakat yang miskin tersebut, masyarakat menjadi miskin karena tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan yang sudah rusak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebenarnya lingkungan, dalam hal ini sumber daya alam di sekitar kehidupan manusia dapat didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan kemiskinan. Keadaan yang berlainan dapat saja terjadi dimana sumber daya alam melimpah namun masyarakat yang tinggal di wilayah itu tergolong miskin. Salah satu contoh adalah masyarakat pada kawasan mangrove di Provinsi Papua Barat Daya . ebelumnya bernama Provinsi Papua Bara. Indonesia. Berdasarkan data tahun 2021 dan 2022 tentang kemiskinan. Provinsi Papua Barat Daya berada pada peringkat ke dua dari 34 provinsi di Indonesia dan peringkat kedua dari enam provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak (Tabel . sedangkan sumber daya alam di wilayah ini masih belum dimanfaatkan secara optimal, diantaranya kawasan mangrove di pesisir Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat. Luas kawasan mangrove di Provinsi Papua Barat Daya berkisar 482. 029 ha . ,8% dari total luas kawasan mangrove di Indonesia yang mencapai 3,49 juta h. (Heatubun, 2. dan terdapat hampir di sepanjang pesisir Teluk Mayalibit. Tabel 1. Enam Provinsi dengan Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak Tahun 2021 dan 2022 Penduduk Miskin September Maret 2022 September 2022 Provinsi Papua Papua Barat*) Nusa Tenggara Timur Maluku Gorontalo Aceh Indonesia Jumlah . ibu Persentase (%) Jumlah . ibu 944,49 221,29 146,28 294,97 184,60 850,26 503,65 27,38 21,82 20,44 16,30 15,41 9,71 922,12 218,78 131,62 290,57 185,44 806,82 161,16 Persentase Jumlah . ibu (%) 26,56 21,33 20,05 15,97 15,42 14,64 9,54 936,32 222,36 149,17 296,66 187,35 818,47 363,27 Persentase (%) 26,80 21,43 20,22 16,23 15,51 14,75 9,57 Sumber: BPS, 2023 *) : Sekarang menjadi Provinsi Papua Barat Daya Kedua kondisi ini . awasan mangrove yang potensial dan kemiskinan rumah tangg. membutuhkan suatu pemikiran komprehensif tentang apa yang harus dilakukan. Dasar pertimbangannya adalah, mangrove dan kawasannya dimanfaatkan secara optimal namun tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga yang selanjutnya dapat membantu menurunkan angka kemiskinan. Kawasan mangrove di Teluk Mayalibit belum dimanfaatkan dan masih terlihat baik dan asri serta menyatu dengan perairan Teluk Mayalibit yang begitu indah. Sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Raja Ampat yang telah menjadi salah satu destinasi wisata dunia, potensi untuk pengembangan kawasan mangrove di daerah ini sangat baik. Berbagai bentuk pemanfaatan mangrove dan kawasaan mangrove di berbagai daerah lain di Indonesia dapat dijadikan bahan pertimbangan atau contoh dengan tetap menjaga kekhasan wilayah dan budaya masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pengelolaan wilayah mangrove yang mendukung kepada terjaganya kelestarian lingkungan dan pengentasan kemiskinan rumah tangga di Kabupaten Raja Ampat secara khusus dan Provinsi Papua Barat Daya secara umum dan kendalakendala pengembangan model tersebut. Seiring dengan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index ini adalah terlaksananya pengelolaan mangrove dan kawasan mangrove secara optimal dengan mengedepankan aspek kelestarian lingkungan serta berkurangnya angka kemiskinan penduduk. METODE RANCANGAN. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian survei yang mengambil sampel untuk mewakili populasi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya. Indonesia. Lokasi ini dipilih karena merupakan wilayah kerja BRGM RI, yaitu suatu badan yang dibentuk oleh Presiden RI untuk mempercepat rehabilitasi gambut dan mangrove di Indonesia. Dalam penelitian ini. BRGM adalah mitra dari tim peneliti. Mewakili Kabupaten Raja Ampat dipilih Distrik Teluk Mayalibit dengan seluruh desa yang ada, yaitu Desa Warsambin. Mumes. Kalitoko, dan Lopintol. Penelitian berlangsung selama tiga bulan, yaitu minggu ke dua September hingga minggu kedua Desember 2022. POPULASI DAN SAMPEL Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang ada di setiap desa lokasi . kepala keluarg. , selanjutnya dari setiap desa ditentukan sampel menurut kaidah Slovin dengan menggunakan taraf signifikansi 10 persen sehingga besar sampel adalah 74 Kepala Keluarga (KK). Dengan demikian sebaran responden adalah sebagai berikut (Tabel . Tabel 2. Sebaran Sampel Menurut Desa Lokasi Desa Jumlah Kepala Keluarga (KK) Warsambin Lopintol Kalitoko Mumes Jumlah Jumlah Sampel (KK) Sumber: Diolah oleh Peneliti, 2022 JENIS DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dari responden melalui wawancara berpedoman kepada kuesioner. Adapun data primer yang dikumpulkan diantaranya tentang karakteristik sosial ekonomi rumah tangga responden dan pemanfaatan mangrove dan kawasan mangrove yang dilakukan selama ini. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti kantor desa. Dinas Kehutanan Kabupaten Raja Ampat. Bappeda Kabupaten Raja Ampat. BPS, dan lainnya. Data sekunder yang dikumpulkan diantaranya tentang data luas dan distribusi mangrove dan data lain yang terkait dengan tujuan penelitian ini. ANALISIS DATA Analisis data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk menemukan model pengelolaan mangrove yang sesuai dilakukan analisis terhadap data sekunder. sedangkan data primer dianalisis secara deskriptif kualitatif setelah dilakukan tabulasi menurut variabel yang dipakai dan selanjutnya digunakan untuk menjadi pertimbangan dalam menentukan model pengelolaan mangrove dan kawasan mangrove yang sesuai. Dalam menentukan model pengelolaan mangrove dan kawasannya, dilakukan pula diskusi secara formal dan informal dengan para pengambil kebijakan, yaitu pihak Bappeda Kabupaten Raja Ampat. Dinas Perikanan. Dinas Kehutanan. Tenaga Pendamping Desa. Kepala Desa setempat, dan beberapa tokoh masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN BEBERAPA KONDISI RIIL YANG DITEMUKAN Kawasan mangrove di Teluk Mayalibit dan Kabupaten Raja Ampat sebagian besar sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, oleh karena itu, pemanfaatan mangrove dan kawasannya perlu memperhatikan ketentuan yang sudah ada. Salah satu peraturan yang dikeluarkan Pemerintah DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Kabupaten Raja Ampat adalah Peraturan Daerah (Perd. Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pelarangan Menebang Hutan Mangrove (Bakau dan Mange-Mang. Peraturan Daerah ini ditulis pada papan dan dipajang di pinggir-pinggir jalan yang merupakan daerah mangrove. Mangrove dan kawasan mangrove merupakan sumber daya alam potensial, tidak hanya dari nilai sosial ekonomi, tetapi juga dari fungsinya terhadap lingkungan (Sumadiyono, 2. Fungsi mangrove bagi lingkungan diantaranya menahan pantai dari ancaman abrasi dan intrusi air laut (Tabalessy 2014. Karminarsih, 2007. Pramudji, 2. , dan fungsi ekonomi dan sosial diantaranya penyedia kebutuhan manusia, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri (Pramudji, 2. , obat-obatan, pangan, sumber zat aromatik, kayu bakar, dan pewarna (Rosyada et. al, 2. , dan lainlain. Dapat dikatakan bahwa ekosistem mangrove adalah ekosistem yang paling produktif dan bersifat unik karena menyediakan habitat yang memungkinkan berbagai spesies perairan dapat berkembang serta menghasilkan berbagai produk yang dapat dimanfaatkan manusia (Carugati et al, 2. Pada beberapa daerah di Indonesia, pemanfaatan mangrove dan kawasannya sudah berlangsung lebih intensif, misalnya sebagai tambak udang dan ikan bandeng di Sulawesi Utara yang menyebabkan berkurangnya populasi ikan, kerang dan kepiting (Nurrani et al, 2. Pemanfaatan mangrove oleh masyarakat di Distrik Teluk Mayalibit tergolong masih rendah. Ada 72 persen rumah tangga yang memanfaatkan mangrove sebagai sumber kayu bakar untuk kebutuhan memasak, 78 persen rumah tangga memanfaatkan kawasan mangrove untuk mencari udang, kepiting bakau, dan ikan untuk dikonsumsi dan dijual. Artinya masyarakat hanya mengambil hasil yang sudah tersedia, sedangkan dari mangrove seperti buah mangrove belum pernah dimanfaatkan karena 95 persen rumah tangga memang belum tahu kalau buah mangrove dan bagianbagian lainnya dapat dimanfaatkan, sedangkan 5 persen rumah tangga yang pernah mendengar olahan dari buah mangrove tetapi tidak tahu cara mengolahnya. Hal ini merupakan peluang karena jika dibandingkan dengan upah minimum Provinsi Papua Barat tahun 2022 sebesar 3,2 juta rupiah, 67 persen rumah tangga di Distrik Teluk Mayalibit berpendapatan di bawah UMP dan hanya 33 persen yang berada di atas UMP tersebut. Besar pendapatan rumah tangga seringkali tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga seperti yang dialami 89 persen rumah tangga. Biasanya, cara yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah dengan memanfaatkan hasil kebun dan ikan tangkapan untuk memenuhi kebutuhan makan, sedangkan kebutuhan lain selain makanan dipenuhi dengan cara meminta atau meminjam ke kerabat. Kawasan Distrik Teluk Mayalibit berada pada wilayah Kabupaten Raja Ampat yang merupakan salah satu tujuan wisata lokal dan mancanegara, namun pada umumnya ketika datang ke Kabupaten Raja Ampat, tujuan utama wisatawan adalah kawasan Pyanemo dan sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, eksplorasi terhadap lokasi-lokasi wisata di Kabupaten Raja Ampat menemukan bahwa ada lokasi-lokasi lain selain Pyanemo dan sekitarnya yang dapat menjadi tujuan wisata, salah satu diantaranya adalah Distrik Teluk Mayalibit. Potensi yang dimiliki Distrik Teluk Mayalibit diantaranya: . Kawasan mangrove yang luas, . memiliki tempat-tempat wisata yang potensial untuk dikembangkan, diantaranya di Desa Warsambin terdapat Kali Biru dan kali Hijau. Air Terjun Wailalouw. Gua Guy atau Gua Tengkorak, lokasi untuk birds watching, dan musim panen ikan kembung (Rastrelliger kanagurt. di Desa Lopintol terdapat batu stalaktit yang berbentuk kelamin pria, kolam Ajelly, panorama, camping ground. di Desa Kalitoko terdapat tempat birds watching. di Desa Mumes terdapat Air Terjun Wai Mayao . Goa Naga dengan berbagai bentuk stalaktit dan stalagmit, rumah Raja, dan Pantai Kabangka. Aneka burung yang dapat dinikmati melalui birds watching diantaranya cendrawasih (Paradisaeida. , rangkong (Bucerotida. , elang (Haliastur indu. , kakatua jambul kuning (Cacatua sulphure. , nuri pipi merah (Geoffroyus geoffroy. dan lain-lain yang dapat dilihat pada lokasi-lokasi tertentu. Sarana dan prasarana seperti rumah makan dan toilet umum belum ada, penginapan masih terbatas, ketetapan untuk tarif angkutan laut juga belum ada, biasanya kesepakatan harga terjadi melalui proses tawar-menawar, atau ditentukan langsung oleh si pemilik angkutan. Jumlah wisatawan juga mulai meningkat setelah tahun 2021 menurun karena pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19 (Tabel . Peningkatan jumlah wisatawan dan status sebagian besar wilayah sebagai wilayah konservasi kurang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, masyarakat hanya menjadi objek wisata pelengkap bagi wisatawan yang sering mengabadikan keberadaan masyarakat setempat dengan penampilan sehari-hari. Hal ini menjadi kondisi ironis dan harus diubah. DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Tabel 3. Jumlah Wisatawan di Kabupaten Raja Ampat Tahun 2020-2022 Jenis Wisatawan Jumlah Kunjungan (Oran. Tahun 2020 Tahun 2021 Mancanegara Domestik Jumlah Tahun 2022 Sumber: BPS, 2023 Masyarakat setempat seharusnya menjadi salah satu pelaku usaha dalam sektor pariwisata di daerah tersebut dan sebagai pelaku yang mampu mengelola mangrove secara bijak untuk peningkatan pendapatan keluarga. Hal yang dapat dilakukan adalah menemukan suatu model pengelolaan mangrove yang mengikutsertakan masyarakat setempat. Dengan kata lain, partisipasi masyarakat menjadi penting dalam pengelolaan ekosistem mangrove (Ahmed et al, 2. dan peningkatan keadaan sosial setempat (Situmorang, 2. sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, diantaranya dengan memperkuat modal sosial dalam masyarakat (Qurniati, et al, 2. dan pemberdayaan masyarakat setempat (Kinasih dan Purnaweni, 2. Bentuk pengelolaan mangrove dan kawasannya yang ideal bagi kawasan Distrik Teluk Mayalibit, bagi masyarakat setempat, dan bagi kepentingan Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat adalah model eduekowisata mangrove. EDUEKOWISATA MANGROVE Beberapa daerah di Indonesia sudah banyak yang mengelola ekosistem mangrove menjadi kawasan wisata, diantaranya eduekowisata mangrove di kawasan pesisir Gresik yang diinisiasi oleh perusahaan Petrokimia Gesik melalui program Community Development (Hermila, 2. sebagai wilayah ekowisata, diantaranya di Jawa Timur yang juga menyertakan peran masyarakat setempat (Hakim et al. , 2. , di pesisir Timur Lampung tepatnya hutan mangrove Mergasari dengan bentuk community based tourism (Valentina dan Qulubi, 2. Model eduekowisata mangrove merupakan gabungan dari edukasi dan ekowisata yang dilakukan pada kawasan mangrove. Eduekowisata mangrove secara umum dapat diartikan memberikan pengalaman belajar sambil berwisata. Dalam hal ini, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam kawasan mangrove, tetapi juga diberikan berbagai informasi tentang mangrove dan kawasan mangrove, diantaranya tentang jenis-jenis mangrove yang ada di wilayah tersebut. Jenis mangrove di Distrik Teluk Mayalibit tergolong banyak, terutama di Desa Kalitoko yang memiliki 65 jenis mangrove dan 21 jenis diantaranya termasuk jenis langka dengan status rawan dan kritis (Suhardjono 2. Disamping jenis mangrove, edukasi tentang manfaat mangrove, mengenal habitat kawasan mangrove, dan lain-lain juga menjadi hal menarik untuk dikemas dalam eduekowisata mangrove. Hal ini memiliki dampak ganda, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi masyarakat setempat sehingga masyarakat secara aktif dapat menjaga kelestarian mangrove. Melihat berbagai pengembangan ekowisata dan eduekowisata di berbagai tempat di Indonesia, pengembangan eduekowisata mangrove di Raja Ampat tidak dapat dilakukan oleh masyarakat saja, atau pemerintah saja, atau pihak swasta saja, melainkan dibutuhkan kerjasama antara masyarakat, pemerintah setempat dan pihak swasta (Gambar . Kerjasama ini merupakan bentuk sinergitas yang berjalan secara kontinu untuk mengadaptasikan semua perubahan yang terjadi seiring berjalannya DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Gambar 1. Bentuk Kerjasama Sinergisme antara Masyarakat. Pemerintah, dan Pihak Swasta untuk Eduekowisata Mangrove di Kabupaten Raja Ampat Sumber: Hasil Analisis Data Primer dan Data Sekunder serta Hasil Diskusi dengan Pihak Terkait, 2023 Bagaimana peran pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mewujudkan eduekowisata mangrove? Tabel 4. memberikan gambaran peran pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mewujudkan eduekowisata mangrove di Distrik Teluk Mayalibit. Kabupaten Raja Ampat. Tabel 4. Gambaran Peran Pemerintah. Swasta, dan Masyarakat dalam Mewujudkan Eduekowisata Mangrove di Kabupaten Raja Ampat No. Pihak Peran Pemerintah Menyediakan kebijakan pelarangan penebangan pohon mangrove . udah Menyediakan kebijakan/aturan kawasan wisata mangrove dikaitkan dengan kawasan konservasi alam Bekerjasama dengan masyarakat adat menentukan lokasi-lokasi wisata Menyediakan sarana dan prasarana transportasi yang nyaman Menyediakan fasilitas akomodasi yang nyaman Menyediakan informasi yang jelas tentang wisata mangrove, baik secara offline dalam bentuk brosur dan leaflet, maupun secara online melalui media sosial . Instagram. Faceboo. Menyediakan pemandu wisata khusus eduekowisata mangrove dengan mengutamakan putra-putri penduduk setempat Swasta Bekerja sama dengan pemerintah setempat menyediakan sarana dan prasarana transportasi yang nyaman Bekerja sama dengan pemerintah setempat menyediakan fasilitas akomodasi yang nyaman Bekerja sama dengan pemerintah setempat menyediakan informasi yang jelas tentang wisata mangrove Bekerja sama dengan pemerintah setempat menyediakan pemandu wisata khusus eduekowisata mangrove Masyarakat Menjaga dan melestarikan mangrove dan ekosistemnya Menghasilkan aneka produk turunan dari mangrove dan kawasan mangrove Menguasai informasi tentang mangrove dan kawasan mangrove Menciptakan suasana yang nyaman dan aman untuk wisatawan Menjadikan kawasan tempat tinggal yang berdekatan dengan mangrove sebagai kawasan yang bersih dan indah Membentuk dan mengaktifkan kelompok-kelompok masyarakat peduli Sumber: Diolah oleh Peneliti, 2023 DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Program eduekowisata mangrove memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan di Distrik Teluk Mayalibit jika masyarakat, pemerintah dan swasta dapat saling bersinergi. Biasanya, sinergitas antar berbagai pihak akan dapat terjadi jika setiap pihak dapat memperoleh manfaat dari kerjasama tersebut. Manfaat program eduekowisata mangrove bagi pemerintah, swasta dan masyarakat dapat diringkas seperti Gambar 2. Pemerintah Eduekowisata Mangrove Swasta Masyarakat - Lingkungan lestari - Angka kemiskinan menurun - Pendapatan daerah meningkat seiring peningkatan wisatawan - Angka pengangguran berkurang - Peluang usaha baru terbuka - Pendapatan meningkat - Kelestarian lingkungan terjaga - Terampil melestarikan mangrove dan - Terampil mengolah mangrove - Pendapatan rumah tangga meningkat Gambar 2. Manfaat Program Eduekowisata Mangrove bagi Pemerintah. Swasta, dan Masyarakat Sumber: Hasil Analisis Gambaran Peran Pemerintah. Swasta, dan Masyarakat dalam Mewujudkan Eduekowisata Mangrove di Kabupaten Raja Ampat, 2023 KENDALA PENGEMBANGAN EDUEKOWISATA MANGROVE DI DISTRIK TELUK MAYALIBIT Pengembangan eduekowisata mangrove di Distrik Teluk Mayalibit menjadi pilihan yang tepat sesuai dengan status wilayah yang sebagian besar ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan juga sebagai destinasi wisata yang sudah dikenal secara nasional dan internasional karena termasuk dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat. Meskipun demikian, hambatan tetap ada dan perlu dicari Beberapa kendala dan upaya pemecahannya disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5. Kendala Pengembangan Eduekowisata Mangrove di Distrik Teluk Mayalibit dan Rencana Upaya Pemecahannya No. Kendala Rencana Pemecahan Target Sasaran Masyarakat belum tahu 1. Melakukan literasi manfaat - Kelompok pemuda manfaat mangrove mangrove untuk kelestarian - Siswa SD. SMP, dan SMA untuk kelestarian lingkungan (Apa itu mangrove, - Kelompok-kelompok jenis-jenis mangrove, syarat tumbuh mangrove, fungsi - Pegiat lingkungan mangrove untuk kelestarian lingkungan, bagaimana melestarikan mangrove?) Melibatkan masyarakat menanam mangrove untuk rehabilitasi mangrove DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index Masyarakat belum Sosialisasi pemanfaatan - Kelompok-kelompok Pelatihan pemanfaatan - Pemanfaatan buah mangrove untuk aneka produk . irup mangrov. - Pemanfaatan daun mangrove dan buah mangrove untuk sabun cair dan sabun padat mangrove - Pemanfaatan mangrove untuk briket Masyarakat belum tahu Sosialisasi tentang konsep - Kelompok-kelompok konsep eduekowisata eduekowisata mangrove ue Apa itu eduekowisata? - Pegiat wisata ue Apa yang harus disiapkan dalam mendukung Masyarakat belum siap Melatih masyarakat agar siap - Kelompok-kelompok menerima wisatawan menerima wisatawan yang masyarakat . erutama berkunjung melalui: kaum mud. ue Sikap yang ramah dan siap membantu jika wisatawan menghadapi masalah atau ue Selalu menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan ue Mampu memberikan informasi yang jelas dan mencukupi tentang mangrove dan kawasan Sumber: Diolah oleh Peneliti, 2023 Kendala pengembangan eduekowisata mangrove dapat dikategorikan kepada perilaku yang belum mendukung dalam pengelolaan mangrove, oleh sebab itu pendekatan perilaku menjadi pilihan dalam proses pendampingan seperti halnya dalam membangun positive mindset terhadap agroforestry (Tahitu dan Damanik, 2. Kendala-kendala yang dihadapi tidak terbatas hanya yang ditemukan saat ini saja, tetapi akan senantiasa ada seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan pariwisata serta kompetisi di bidang pariwisata. Inovasi-inovasi untuk mendukung perkembangan eduekowisata mangrove menjadi bagian yang penting. Sehubungan dengan itu, kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi penting sebagai pusat dihasilkannya inovasi-inovasi, termasuk di bidang pengelolaan mangrove dan kawasan mangrove serta pariwisata. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Bentuk pengelolaan mangrove dan kawasannya yang sesuai untuk wilayah Distrik Teluk Mayalibit adalah eduekowisata mangrove. Dasar pertimbangannya diantaranya sebagian besar kawasan Distrik Teluk Mayalibit sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, kelestarian mangrove diperlukan untuk kelestarian alam sehingga edukasi tentang mangrove dan kawasannya perlu dilakukan, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam eduekowisata mangrove. Upaya pengembangan eduekowisata mangrove di Distrik Teluk Mayalibit membutuhkan kerja sama dan sinergitas dari semua pihak yang terlibat, yaitu Pemerintah Daerah setempat, masyarakat DOI: https://doi. org/10. 59066/jppm. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat (JPPM) e:ISSN: 2827-9557 Volume 05 Issue 02 Month Mei 2026 Hal 427-436 Available Online at: https://jurnal. id/index. php/JPPM/index setempat, dan pihak swasta. Mengelola mangrove dan ekosistemnya berdampak positif pada kelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat dalam rangka pengentasan SARAN Pengelolaan kawasan mangrove menjadi kawasan eduekowisata hendaknya dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar secara penuh agar masyarakat merasa memiliki program tersebut dan untuk memudahkan dalam memperoleh dukungan. Berbagai kendala dalam pengembangan eduekowisata mangrove menjadi dasar untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan dalam mengubah perilaku masyarakat terhadap mangrove dan kawasannya. Sehubungan dengan itu, kajian yang lebih komprehensif tentang daya dukung alam dalam hal ini kawasan mangrove, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perlu dilakukan untuk menyusun perencanaan pengembangan eduekowisata mangrove berbasis masyarakat di Distrik Teluk Mayalibit. Kabupaten Raja Ampat. DAFTAR PUSTAKA