Tersedia secara online https://e-journal. id/index. php/dv/ E-ISSN: 2775-4200 P- ISSN: 2580-8028 Jurnal Dhammavicaya: Volume: Vi Nomor: 1 Juli 2024 Halaman: 68-84 Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI): Urgensinya Mendukung Lembaga Pendidikan Formal Buddhis sebagai Nibaddha Kusala Majaputera Karniawan1*. Sutrisno2. Srie Muldrianto3 Institut Nalanda. Indonesia Alamat: Jl. Pulo Gebang No. Cakung Ae Jakarta Timur Koresprodensi penulis : majapk@rocketmail. ABSTRACT Since Dhammacakka . BCE/528BCE) to its golden era . -1193CE), the development of Buddhism cannot be separated from the role of the world of education, but the spirit of Buddhist support for the development of formal education is not sustainable in the 21st century. The phenomenon that occurs in Indonesia is that Buddhists build more places of worship . onasteries/cetiya/aram. than formal educational institutions with a percentage reaching 10:1000. This study aims to determine the perspective of the Indonesian Theravada Buddhist Family (KBTI) in seeing the importance of supporting formal Buddhist educational institutions as a field of empowerment that is continuously rewarding (Nibaddha Kusal. Qualitative methods with historical descriptive analysis and heuristics were chosen to find meaning in the form of historical data on the development of Buddhist education, then triangulated with data from interviews with KBTI member The results of this study indicate that all KBTI member organizations consider formal educational institutions to be an important thing to support, but there is still room for apathy and a lack of integration with each other in supporting formal Buddhist educational institutions. Keywords: Buddhist formal education institution. Cetiya. Dhammacakka. Nibaddha Kusala. Vihara. ABSTRAK Sejak Dhammacakka . SM/528SM) hingga era kejayaannya . -1193M), perkembangan Buddhisme tidak terlepas dari peran dunia pendidikan, tetapi semangat dukungan umat Buddha terhadap perkembangan pendidikan formal tidak berkelanjutan pada abad XXI. Fenomena yang terjadi di Indonesia justru terbalik, umat Buddha lebih banyak membangun tempat ibadah . ihara/cetiya/aram. daripada lembaga pendidikan formal dengan presentase mencapai 10:1000. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana perspektif Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) dalam melihat pentingnya menyokong lembaga pendidikan formal Buddhis sebagai ladang kebajikan yang berpahala terus-menerus (Nibaddha Kusal. Metode kualitatif dengan analisis deskriptif historis dan heuristika dipilih guna mencari makna dalam bentuk data sejarah perkembangan pendidikan Buddhis, kemudian ditriangulasikan dengan data hasil wawancara dengan organisasi anggota KBTI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua organisasi anggota KBTI menganggap lembaga pendidikan formal adalah satu hal yang penting untuk disokong, tetapi masih ada ruang apatisme serta kurangnya integrasi satu sama lain dalam mendukung lembaga pendidikan formal Buddhis. Kata kunci: Buddhist formal education institution. Cetiya. Dhammacakka. Nibaddha Kusala. Vihara. Riwayat Artikel : Diterima: 18-07-2024 Disetujui: 31-07-2024 Alamat Korespondensi: Majaputera Karniawan Institut Nalanda. Indonesia Jl. Pulo Gebang No. Cakung Ae Jakarta Timur Email : majapk@rocketmail. LATAR BELAKANG Kebutuhan akan lembaga pendidikan formal berlatar belakang Buddhis semakin berkembang bersama dengan tumbuhnya masyarakat Buddhis di Indonesia. Ironisnya, jumlah tempat ibadah agama Buddha, di masa mendatang, baik Vihara/Wihara. Cetiya. Arama, dan sebagainya terlampau banyak berkali-kali lipat dibanding lembaga pendidikan formal berbasis Buddhisme. Berdasarkan data Portal Data Terpadu DKI Jakarta tahun 2011, jumlah vihara se DKI Jakarta sebanyak 259 Vihara/Cetiya dengan sebaran terbanyak di Jakarta Barat . , disusul Jakarta Utara . Jakarta Pusat . Jakarta Timur . dan Jakarta Selatan . Sedangkan berdasarkan data BKPBI tahun 2001 jumlah sekolah di DKI Jakarta terdapat 16 sekolah saja dengan sebaran terbanyak di Jakarta Barat . , disusul Jakarta Utara . Jakarta Timur . dan Jakarta Selatan . Sedangkan di tingkat Nasional, jumlahnya juga sangat terpaut jauh. Berdasarkan data dari Sudharma . jumlah vihara se Indonesia sebanyak 1567 Vihara/Cetiya dengan sebaran terbanyak di Sumatera . , diikuti Jakarta . Jawa Barat-Banten . Jawa Tengah Ae I Yogyakarta . Jawa Timur . Kalimantan . Sulawesi . Papua . Bali . Nusa Tenggara Barat . , dan Maluku . Bila dibandingkan dengan data BKPBI tahun 2001, jumlah sekolah Buddhis se Indonesia sebanyak 49 Sekolah dengan sebaran terbanyak di Jakarta . , diikuti Jawa Barat-Banten . Sumatera . Kalimantan . Jawa Timur . Sulawesi . Lebih lanjut dari sekian lembaga pendidikan formal yang ada, hanya sedikit yang diinisiasi oleh KBTI. Padahal kehadiran lembaga pendidikan Buddhis adalah satu kebutuhan bagi berkembangnya masyarakat Buddhis guna memudahkan mereka belajar nilai-nilai Buddhisme sejak dini, minimal bisa mencegah terjadinya konversi beragama generasi muda Buddhis karena propagasi ajaran lain di sekolah formal non Buddhis. Bagaimana persepsi Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) melihat pentingnya menyokong lembaga pendidikan formal Buddhis sebagai ladang perbuatan baik yang berpahala terus menerus (Nibaddha Kusal. ? Hal ini perlu diteliti lebih mendalam baik persepsi atas dasar keagamaan maupun pertimbangan strategis lainnya (Hidayat, 2. Kasus penelitian sebelumnya pernah dilakukan oleh Sukarno . Menurut hasil penelitiannya, para umat Buddha yang telah menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah bercirikan Buddhis, serta para tokoh pendidikan Buddhis di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, mempunyai harapan ke depan terhadap pendidikan bercirikan agama Buddha di sekolah-sekolah Buddhis dalam berbagai aspek yaitu: Kurikulum, kegiatan, kerjasama, sarana dan prasarana, dan guru yang kompeten . encakup sikap, kompetensi, dan kesamaan agama yang dianu. Penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Wati Tjakra . Meskipun dalam lingkup studi pustaka. menurut penelitiannya pendidikan Buddhis di era millenial sekalipun bertujuan untuk pembebasan manusia dari penderitaan menuju kebahagiaan Nibbana, tetap memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang. Hanya saja semua sekolah dan lembagalembaga pendidikan Buddhis perlu melakukan pembenahan yang serius mencakup bidang manajemen, orientasi, dan sumber daya manusia. Prioritas utamanya adalah menyediakan SDM guru yang tidak hanya mampu membicarakan ilmu pengetahuan namun mampu menghayati dan membabarkan Dhamma secara kontekstual dengan keadaan saat ini. KAJIAN PUSTAKA Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) memainkan peran penting dalam pengembangan dan keberlanjutan ajaran Buddha di Indonesia, terutama dalam mendukung lembaga pendidikan Buddha formal. Dalam hal ini, mendukung lembaga pendidikan Buddha sebagai "Nibaddha Kusala" sangat penting untuk keberlangsungan dan kemajuan ajaran Buddha dalam konteks spiritual, sosial, dan budaya. Pengertian "Nibaddha Kusala" adalah "Perbuatan baik yang terikat" atau "perbuatan yang mengarah pada kebaikan dan kebajikan yang terarah" adalah terjemahan dari "Nibaddha Kusala". Dalam pendidikan, ini merujuk pada pendidikan yang tidak hanya memberikan pengetahuan sekuler tetapi juga ajaran moral yang membantu siswa berkembang dalam kebajikan, sesuai dengan ajaran Buddha. Sangat penting bagi KBTI untuk mendukung lembaga pendidikan Buddhis, diantaranya sebagai berikut: Penguatan Ajaran Dharma dalam Pendidikan Formal: Lembaga pendidikan Buddhis, seperti sekolah dan universitas yang berbasis pada ajaran Buddha, memiliki potensi untuk menanamkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan mendukung lembaga pendidikan Buddhis. KBTI dapat membantu generasi muda untuk mengenal ajaran Buddha lebih dalam dan mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. Ini mencakup pelajaran tentang kebijaksanaan, moralitas, dan meditasi, yang kesemuanya merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter yang baik. Pendidikan Sebagai Sarana Menanamkan Etika Buddhis Pendidikan Buddha formal memberikan cara yang tepat untuk mengajarkan etika Buddha, seperti sila atau moralitas, dalam konteks yang lebih sistematis dan mendalam. Sangat penting bagi KBTI untuk mendukung lembaga-lembaga ini untuk memastikan bahwa ajaran Buddha dan prinsip moral diterapkan dalam pendidikan. Ini akan mencetak generasi yang memahami ajaran Buddha dengan baik dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan Sumber Daya Manusia yang Berwawasan Buddhis: Lembaga pendidikan Buddhis yang didukung oleh KBTI dapat menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kualitas spiritual yang tinggi. Ini dapat menciptakan pemimpin, intelektual, dan aktivis Buddhis yang akan membawa dampak positif pada masyarakat, tidak hanya dalam komunitas Buddhis tetapi juga di masyarakat umum. Peran Pendidikan dalam Penyebaran Ajaran Buddha: Pendidikan formal Buddha berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Buddha dengan cara yang lebih sistematis dan terorganisir. Sebagai organisasi yang mendukung kegiatan keagamaan dan sosial Buddha. KBTI bertanggung jawab untuk memperkuat lembaga pendidikan ini untuk membuat ajaran Buddha lebih mudah diakses dan dipahami oleh generasi muda. Menciptakan Keseimbangan antara Pengetahuan Sekuler dan Spiritualitas: Institusi pendidikan Buddha memungkinkan penggabungan pengetahuan duniawi . eperti seni, matematika, dan ilmu pengetahua. dengan pengetahuan spiritual. Dengan mendukung lembaga pendidikan Buddhis. KBTI membantu menyeimbangkan pendidikan sekuler dengan ajaran moral dan spiritual, yang sangat penting untuk membangun individu yang kuat di dunia yang semakin materialistis. Peningkatan Akses bagi Masyarakat Buddhis di Indonesia: Dengan dukungan dari KBTI, lembaga pendidikan Budha dapat meningkatkan akses ke pendidikan bagi masyarakat Budha, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki banyak akses ke pendidikan formal berbasis Budha. Selain itu, ini memastikan bahwa ajaran Buddha masih relevan dan hidup dalam masyarakat Indonesia, terutama di kalangan umat Buddha. Sangat penting bagi KBTI untuk mendukung lembaga pendidikan formal Buddhis yang dikenal sebagai "Nibaddha Kusala". Lembaga pendidikan Buddhis tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi juga membangun karakter moral dan spiritual yang kuat. Dengan adanya lembaga pendidikan Buddha yang mendukung perkembangan ajaran Dharma. KBTI dapat berkontribusi besar dalam memajukan umat Buddha di Indonesia dan menyebarkan kebaikan yang terikat dalam ajaran Buddha kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, untuk menghasilkan generasi yang lebih cerdas dan berbudi pekerti luhur, lembaga pendidikan Buddhis harus dipertahankan dan dikembangkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif Ae Studi Kasus (Case Stud. dengan lokus studi kasus di DKI Jakarta. Fokus penelitian mewawancarai dan menganalisis pandangan setiap organisasi anggota Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) yakni perwakilan dari Sangha Theravada Indonesia (STI). Atthasilani Theravada Indonesia (ASTINDA). Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI). Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA), dan Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) tentang bagaimana melihat pentingnya menyokong lembaga pendidikan formal Buddhis sebagai ladang perbuatan baik yang berpahala terus menerus (Nibaddha Kusal. Penelitian berfokus pada studi kasus di DKI Jakarta dengan alasan karena organisasi pusat di Jakarta menjadi Role Model bagi organisasi cabang di daerah. Data analisa yang didapatkan juga kemudian dilakukan Triangulasi dengan teori agama Buddha dari Tipitaka, teori sejarah perkembangan pendidikan Buddhis, dan berbagai data non Buddhis yang berhubungan, guna menjamin keabsahan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) yang merupakan kumpulan organisasiorganisasi Buddhis Theravada Indonesia yang berada di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia. Kedudukan Dewan Pengurus Pusat setiap organisasi banyak berkedudukan sekaligus sebagai Dewan Pengurus Daerah DKI Jakarta. Meskipun studi kasus pada penelitian ini di DKI Jakarta, namun penelitian ini juga merepresentasikan secara nasional karena organisasi pusat di Jakarta menjadi Role Model bagi organisasi cabang di daerah. Masingmasing anggota KBTI adalah . alam STI, 2. Sangha Theravada Indonesia (STI). Berkedudukan Dewan Pengurus Pusat di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Jl. Agung Permai XV No. 12 Blok C. Sunter Agung Podomoro. Jakarta Utara 14350 dan kedudukan kantor sekretariat di Pusdiklat Buddhis Sikkhydama Santibhumi. BSD City sektor VII. Blok C N0. Bumi Serpong Damai. Kota Tangerang Selatan. Banten 15321. Karakter organisasi berisikan para Bhikkhu maupun Samanera (Calon Bhikkh. yang merupakan rohaniawan Buddhis pria meninggalkan keduniawian dengan menjalankan 227 aturan monastik (Patimokkh. bagi para Bhikkhu maupun 10 aturan moral (Dasasil. serta 75 peraturan tingkah laku (Sekhiyavatt. bagi para Samanera. Sangha Theravada Indonesia berpartisipasi dalam segala kegiatan yang menyangkut pembinaan dan pembabaran Agama Buddha Mazhab TheravAda. Atthasilani Theravada Indonesia (ASTINDA). Berkedudukan Dewan Pengurus Pusat di Wisma ASTINDA. JL. RHM. Noeradji Gg. Aliyawarga 2 No. 32 Sumur Pancing. Karawaci. Kota Tangerang. Banten 15115. Karakter organisasi berisikan para Atthasilani Theravada, rohaniawan Buddhis wanita yang meninggalkan keduniawian dengan menjalankan delapan aturan kemoralan (Atthasil. , 75 peraturan tingkah laku (Sekhiyavatt. , dan 35 tata laku tambahan, termasuk rambut wajib dicukur habis. ASTINDA berpartisipasi dalam segala kegiatan yang menyangkut pembinaan dan pembabaran Agama Buddha Mazhab TheravAda. Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI). Memiliki Motto Tulus Mengabdi Tiada Henti. Berkedudukan Dewan Pengurus Pusat sekaligus Dewan Pengurus Daerah DKI Jakarta di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Jl. Agung Permai XV No. 12 Blok C. Sunter Agung Podomoro. Jakarta Utara 14350. Karakter organisasi berisikan para Pandita maupun Upacarika (Calon Pandit. Buddhis Theravada yang berstatus sebagai rohaniawan umat awam dengan tujuan aktif berpartisipasi dalam segala kegiatan yang menyangkut pembinaan dan pembabaran Agama Buddha Mazhab TheravAda. Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA), berkedudukan Dewan Pengurus Pusat di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Jl. Agung Permai XV No. 12 Blok C. Sunter Agung Podomoro. Jakarta Utara 14350. Karakter organisasi berisikan pemuda-pemudi Buddhis Theravada Indonesia yang menjadi wadah menyerap aspirasi serta menjadi wadah pemersatu pemuda-pemudi Buddhis Theravada di Indonesia, pelatihan Soft Skill, menjalin kerukunan antar pemuda lintas Sekte, lintas Organisasi dan lintas Agama di Indonesia, serta saling bersinergi dengan organisasi anggota KBTI lainnya. Beberapa bidang yang menjadi acuan pengabdian PATRIA diantaranya mencakup bidang sosial, pendidikan, seni, budaya, olahraga, kemandirian. Wanita Theravada Indonesia (WANDANI). Berkedudukan kantor DPP dan DPD DKI Jakarta di Perumahan Januar Elok Residence. Jl. Januar Elok IV Blok QE 8 No. Kelapa Gading Barat. Jakarta Utara 14240. Sementara untuk alamat penyuratan di Kantor Sekretariat yang terletak di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Jl. Agung Permai XV No. 12 Blok f. Sunter Agung Podomoro. Jakarta Utara 14350. Karakter organisasi merupakan wadah pemersatu wanita Buddhis Theravada Indonesia, demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Memiliki motto AuWanita Profesional. Kreatif dan Berbudi LuhurAy Terus Berjuang Demi Kebaikan. Ada 3 Poin yang dibahas dalam penelitian ini, yakni tentang Pandangan Filosofis Tentang Pendidikan. Sikap Terhadap Urgensi Lembaga Pendidikan Formal Buddhis, dan Usulan dan Upaya Menyokong Lembaga Pendidikan Formal. Pembahasannya sebagaimana Pandangan Filosofis Tentang Pendidikan Perbedaan pengertian lembaga pendidikan Ada perbedaan yang signifikan antara pemaknaan lembaga pendidikan pada masa Buddha dengan saat ini. Pada masa Buddha hidup lembaga pendidikan hanya sebatas wadah sekumpulan masyarakat untuk mencapai pendidikan, namun sekarang ada pembagian menjadi lembaga pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal dilaksanakan secara berjenjang dan jika telah menyelesaikan maka akan mendapat sertifikat atau ijazah. AuSebenarnya sejak zaman kehidupan Sang Buddha kalau kita bicara tentang lembaga itu adalah satu kelompok masyarakat di mana di sana sudah disepakati sebagai salah satu bentuk yang mendukung atau sebagai wadah yang menjembatani semua tujuan-tujuan dari sosial masyarakat itu sendiri. Kalau ranahnya pendidikan ya berfokus pada lembaga pendidikan, hanya di masa masyarakat modern memang lembaga itu sudah lebih tersistematis bentuknya dan dari sini kita bisa mengetahui regulasi dari bentuk kelembagaan itu sendiri masing- masing sudah ada sendiri, sesuai dengan kesepakatan dari masing-masing negara atau wilayah tertentuAy (Atthasilani Gunanandini Ae Ketum ASTINDA, dalam Karniawan, 2022: . Kedudukan lembaga pendidikan formal Buddhis Secara filosofis penting sekali dalam mendukung perkembangan Buddhis karena sejak dahulu Buddhisme memang hidup dalam tradisi literasi. Perlu kita ketahui bahwa Siddharta Gautama lahir pada 563 SM, dan Mahaparinibbana pada 483 SM (Seng Hansen, 2008:4-. , dengan kata lain peristiwa pemutaran roda Dhamma (Dhammacakk. yang merupakan titik kelahiran Buddhisme ada di 35 tahun setelah kelahirannya di tahun 528 SM. Buddhisme lahir di dunia pada era Upanishad . 0-300 SM. Jo Priastana 2016:. yang mana di era ini para guru spiritual . idak hanya Buddh. mengutamakan pemberian pengajaran di dekat guru, kala itu pembelajaran dilakukan secara hafalan repetisi (Sangit. , kala itu orang yang ingin belajar Buddhisme datang ke Vihara yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dan tempat tinggal para Kemudian Buddhisme mencapai puncak kejayaannya di era universitas-universitas Buddhis, dengan universitas Buddhis yang melegenda adalah Nalanda Mahavihara . Karniawan, 2022: . Kala itu tidak hanya ada Mahavihara yang berperan sebagai universitas, juga ada vihara-vihara kecil yang berperan sebagai Buddhis Center dan tempat belajar literature sekuler bagi umat awam. Berdasarkan catatan Yi Jing (It Tsing 692 M dalam YJNH, 2019: . banyak umat awam di vihara-vihara India yang dipercayakan kepada para Bhiksu untuk ber-upanishad (Duduk di dekat guru menerima pembelajara. mempelajari Buddha Dhamma maupun ilmu pengetahuan sekuler lainnya, mereka mendapat pengetahuan dari para bhiksu dan membalas kebaikan guru mereka dengan membantu para bhiksu dalam hal kebutuhan hidupnya, terjadi simbiosis mutualisme di sini. Maka dikatakan Lembaga pendidikan Buddhis sejak masa Buddha hingga kini dipandang sangat penting karena Buddhis sendiri berdiri di atas tradisi literasi (B. Thitayanno Ae Anggota Dewan Kehormatan STI, dalam Karniawan, 2022: . Kebajikan yang diperoleh dengan mendukung lembaga pendidikan formal Buddhis Nibbadha Kusala (Kebajikan yang bermanfaat terus-meneru. yang bersifat Thavara Dana (Dana yang bertahan lam. sekaligus Dhammadana (Pemberian Dhamma, walaupun secara tidak langsun. Au. Kita bisa lihat dari beberapa sutta yang ada di Samyutta Nikaya (SN1. 47 Vanaropa Sutta, re. , kalau kita melakukan perbuatan baik membuat jalan, membuat tempat air minum, selama itu masih ada dan digunakan maka selalu membawa manfaat, dan bawa pahala hasil yang besar juga (Di sini letak Nibaddha KusalaNy. Jadi kalau kita buat sekolah, buat sekolah kita mendidik orang dari yang tidak baik menjadi baik, yang tidak bisa jadi bisa, yang bodoh jadi pintar, selama orang itu hidup membawa manfaatnya untuk masyarakat, maka di situlah akan terus memberikan hasil yang besar begitu. Dhammadana adalah pengajaran tentang kenyataan dunia, tentang bagaimana dukkha . , sebab dukkha, cara melenyapkan dukkha. Jadi kalau mau dibilang Dhammadana ya nggak juga . ecara langsun. , tapi kalau karena di dalamnya ada pengajaran agama Buddha di situlah ada Dhammadana-nya. Ay (Pmy. Benny Wu Ae Ketua Bidang Litbang PP MAGABUDHI, dalam Karniawan, 2022: . Dikatakan bahwa di antara semua pemberian, pemberian Dhamma adalah yang terunggul (Dhp. Maka bisa dikatakan perbuatan baik luar biasa telah dilakukan dengan menyokong lembaga pendidikan Buddhis. Sakral atau Profankah dukungan terhadap lembaga pendidikan formal Buddhis Dalam Agama Buddha, sejatinya praktik dana Nibbadha Kusala membangun lembaga pendidikan formal, bisa dipandang sakral, sama-sama wujud aktif dalam praktik ajaran Buddha. Tetapi adanya subjektifitas dalam motif dan tujuan manusia dalam berdana sendiri (Motif apa dan seberapa tinggi pamrihny. , bisa saja menyebabkan depresiasi nilai sakral tersebut menjadi sesuatu yang profan, tetapi justru dengan adanya sisi profan membuka ruang agar lembaga bisa dikelola lebih profesional dan tidak melulu bergantung pada orientasi sosial, meskipun sifatnya melayani umat. Au. Dunia pendidikan, lembaga pendidikan itu sudah arahnya orientasi profit didasari keuntungan. Jadi kalau memang mau mendukung ya dukung saja, memang ya cocoknya di mana. Tapi kalau orang bisnis, apakah ia mau mendukung lembaga pendidikan cuma-cuma? Biasanya kalau itu orientasi profit jadinya ya tanam saham. Mungkin itu lebih tepat, jadi ada sahamnya berapa persen - berapa persen di situ. Karena nanti kan lembaga pendidikan pada keuntungan sekalipun keuntungannya itu akan dikembalikan lagi (Untuk operasional, sedangkan profit sharing sesuai kesepakatan dengan pemegang saha. kalau itu lembaga pendidikan yang bersifat agamis yaAy. (B. Sri Subhapanno. Mahathera Ae Ketua Umum STI, dalam Karniawan, 2022: . Model pendidikan yang sesuai dengan Buddha-Dhamma Model pendidikan yang sesuai kembali menyesuaikan dengan situasi dan kontekstual dengan keadaan masyarakat, guna mencapai tujuan pendidikan berupa menumbuh kembangkan potensi lewat belajar dan menanamkan spirit Ehipassiko, untuk kritis, investigasi, dan membuktikan sendiri. Hanya pada saat ini lebih signifikan membutuhkan formal. Au. Yang penting tergantung situasinya. Jadi kalau misalnya di suatu daerah yang umat buddhanya banyak seperti di Jakarta, di Kalimantan Barat, di Sumatera misalnya, atau di kota-kota besar yang lainnya yang umat buddhanya banyak itu bagus kalau ada sekolah Buddhis. Tapi kalau misalnya di tempat tersebut, umat Buddha nya kurang mungkin tidak perlu bikin sekolah Buddhis, bisa bikin sesuatu yang penting umat Buddha di sekolah-sekolah yang ada disediakan guru agamanya. Jadi artinya yang kalau misalnya dari pihak sekolah merasa keberatan untuk menyediakan guru agama atau siswa buddhisnya terlalu sedikit sehingga tidak efisien kalau kitasediakan satu guru khusus guru agama Buddha, maka itu lebih baik ambil nilai di Wihara. Jadi makanya kombinasi-kombinasi sekolah formal, sekolah Buddhis, lalu sediakan guru agama di sekolah, atau sediakan pelajaran agama di wihara, sehingga anak bisa mengambil nilai, atau bisa juga seperti sekolah minggu kok. Jadi kombinasi dan juga pendidikan keluarga. Ay (B. Thitayanno. Mahathera Ae Anggota Dewan Kehormatan STI, dalam Karniawan, 2022: . Sikap Terhadap Urgensi Lembaga Pendidikan Formal Buddhis: Sikap organisasi anggota KBTI terhadap pentingnya lembaga Menganggap penting tetapi belum mendukung penuh. Organisasi tidak mengorganisir secara langsung, pergerakan dukungan langsung hanya individual beberapa bhikkhu. ASTINDA: Menganggap penting. MAGABUDHI: Menganggap penting namun terbatas pada AD/ART jadi hanya sebatas supporting system. PATRIA: Menganggap penting, walau secara fokus hanya mengurus soft skill dan membangun relasi (Channe. , realitanya organisasi banyak terlibat membantu pembentukan dan menyokong lembaga pendidikan formal. WANDANI: Sangat memandang penting. Au. Pandangan kami itu tetap bahwa sekolah formal itu tetap perlu didirikan, dan kalau memang perlu akselerasi tentu kami akan sangat membantu. Tapi tentu kami melihat realita yang ada di lapangan, apalagi kalau cari guru kita yang beragama Buddha yang menyatakan menguasai Fisika. Kimia. Matematika ini agak agak susah makanya itu yang menjadi hambatan dalam mendirikan sekolah-sekolah Buddhis itu sendiri. Sementara kan ketika ada orang-orang yang punya akademik bagus, kecenderungannya itu nggak mau untuk ngajar. Jadi kami melakukan banyak cara lah pokoknya biar memastikan agar kesejahteraan guru itu diperhatikan. Itulah segi kuncinya itu menurut saya saat ini yang dilakukan oleh KBTI itu adalah sinergi satu sama lain, dengan berbagi info, berbagi dana juga sehatnya, untuk mensupport mana yang memang masih kurang. Ay (Laurensius Widyanto Ae Waketum 1 PP PATRIA, dalam Karniawan, 2022: . Sama pentingkah menyokong lembaga pendidikan formal Buddhis dengan menyokong kegiatan keagamaan?: STI: Tidak menyatakan sama, cenderung masih belum mendukung sepenuhnya sokongan pengembangan lembaga pendidikan formal Buddhis. ASTINDA. MAGABUDHI. PATRIA, WANDANI: Sama pentingnya, bahkan lembaga pendidikan formal Buddhis sangat perlu didukung agar berkembang. AuAgak-agak dibandingkan sama sokongan terhadap keagamaan agak kurang ya. Misalnya kalau kita bisa lihat misalnya mendefinisikan sokongan itu bisa dalam bentuk uang misalnya dari Sangga misalnya setahun bisa mengelokasikan mungkin 200 sampai 300 juta untuk pendidikan, tapi untuk keagamaan mungkin bisa sampai 1 sampai 3 Milliar setahun. Ay (B. Thitayanno. Mahathera Ae Anggota Dewan Kehormatan STI, dalam Karniawan, 2022:. AuOoh sangat. Sangat penting. Contoh gini, saya waktu Kustiani mau ikutan mengambil beasiswa S2 di Srilanka dan lalu S3 Srilanka, saya push! Karena kalau kita membuat anakanak kita pintar, membuat tim kita pintar, itu akan sangat memudahkan kita. Kan sama yah, kalau kita membuat tim kita pintar, membuat tim kita punya uang, itu kan tidak merepotkan Coba kalau tidak pintar, saya kan ngomong tidak nyambung. Tetapi kalau punya anak pintar, ngomong sekali kan juga nyambung. Kan begitu. Ya kita bikin pintar lah anak-anak Perlu nggak di sokong? Sangat perlu. Ay (Pmy. Wenny Lo Ae Ketum PP WANDANI, dalam Karniawan, 2022: 126-. Hubungan keberadaan lembaga pendidikan formal Buddhis dengan eksistensi umat Buddha Semua organisasi sepakat bahwa kehadiran lembaga pendidikan formal Buddhis sangat berpengaruh signifikan dalam menjaga kuantitas dan kualitas umat Buddha, namun perkembangannya harus diperhatikan mutu pelajaran dan pembangunan karakter peserta didik yang sesuai nilai-nilai Buddhisme. Rencana jangka panjang dalam organisasi KBTI berkaitan dukungan pada lembaga pendidikan formal Buddhis: STI: Hanya mempertahankan lembaga pendidikan formal bentukan Sangha yang sudah ada saja, sembari menunggu bola datangA dari organisasi lain yang memiliki komitmen membentuk lembaga pendidikan formal Buddhis, pergerakan pembangunan lembaga pendidikan masih individual bhikkhu yang bersangkutan. ASTINDA saat ini berperan langsung dalam proses jangka panjang pembentukan sejumlah TK dan Dhammasekha di Banyuwangi. MAGABUDHI hanya akan terus berperan sebagai support system, tidak ada rencana karena keterbatasan AD/ART. WANDANI & PATRIA seara jangka panjang memikirkan agar bisa terus menyokong lembaga pendidikan yang sudah ada seperti sekolah Asoka, sekolah Narada, dll. Usulan dan Upaya Menyokong Lembaga Pendidikan Formal: Usulan organisasi KBTI bagi umat Buddha maupun khalayak luas terhadap perkembangan lembaga pendidikan formal Buddhis: STI: Tidak mengusulkan, terkesan apatis, sebatas hanya AMenunggu bolaA bagi pihak/organisasi yang mau terlibat langsung. ASTINDA. MAGABUDHI. PATRIA, WANDANI: . Menghimbau agar umat Buddha sekolah di sekolah Buddhis, atau bila sekolah tidak menyediakan guru agama Buddha, carilah tempat untuk belajar pendidikan agama Buddha. Sejumlah isu dikemukakan untuk diperbaiki bersama seperti wihara yang sudah ambruk dijadikan sekolah, membuat wihara hybrid dengan sekolah, memperhatikan kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan, memperhatikan mutu lulusan, serta lebih menonjolkan nilai-nilai Buddhis. Menghimbau agar antar organisasi KBTI saling membangun sinergi dalam memajukan lembaga-lembaga pendidikan formal Buddhis. AuKami tidak mengusulkan, kami nggak mengusulkan. Tapi kami akan menampung suara umat yang disampaikan ke Sangha, dan kami akan olah. Tetapi kami tidak mengusulkan karena lembaga Sangha salah satu untuk mengolah, memikirkan, dan memberikan dorongan gitu ya bagi perkembangan lembaga pendidikan seperti yang saya sampaikan. Karena pertanyaan anda usulan maka saya nggak mengusulkan. Namun kami akan terus mencermati dan terus akan membuat upaya-upaya bagaimana sebuah pendidikan Buddhis di lingkungan kami supaya ada keberlanjutan, ada perkembangan sesuai dengan harapan umat begitu saja. Ay (Wawancara dengan Bhikkhu Sri Subhapanno. Mahathera Ae Ketua Umum STI, dalam Karniawan 2022: AuLembaga pendidikan formal Buddhis saat ini perlu lebih terbuka terkait dengan bagaimana program-program pendidikan yang diselaraskan dengan nilai-nilai ajaran Buddha yang nantinya lebih mengarahkan para umat Buddha juga mendukung lembaga pendidikan itu, baik itu entah secara finansial, ke materi, ataupun dalam hal lainnya. Misalkan kalau seseorang itu punya anak, ya keluarga yang memang berniat untuk mendukung lembaga pendidikan Buddhis menjadikan salah satu bagian dari keluarganya itu, anggota keluarga itu turut sekolah di lembaga pendidikan Buddhis. Itu juga satu dukungan dari umat Buddha itu sendiri. Nah kemudian soal materi support materi juga penting, walaupun sedikit tetapi juga membantu lembaga pendidikan Buddhis mulai dari jenjang pendidikan PAUD. SD. SMP. SMA, bahkan hingga lembaga pendidikan tinggi misalkan Sekolah Tinggi Agama Buddha baik Kertarajasa maupun STAB Lainnya, itu juga merupakan satu hal lain yang penting untuk bisa dikembangkan dan juga di support ke depannya. Ay (Atthasilani Gunanandini Ae Ketua PP ASTINDA, ibid. Upaya nyata yang sudah dikerjakan organisasi KBTI untuk mendukung perkembangan lembaga pendidikan formal Buddhis: STI yang terkesan apatis AMenunggu bolaA dalam realita sudah menginisiasi beberapa lembaga pendidikan formal Buddhis seperti STAB Syailendra. STAB Kertarajasa. Sekolah Narada, dll, tetapi memang. Hanya saja pelaksanaannya seperti terkesan AIndividualAo, belum ada sinergi yang signifikan, dan tidak terorganisir secara konkret oleh STI. Contohnya seperti upaya nyata individual yang dilakukan Bhikkhu Thitayanno Mahathera yang mendukung dan terlibat langsung dalam sekolah-sekolah Buddhis: Area Kalimantan Barat: Singkawang 1 sekolah. Batu Payung 1 sekolah (Terlibat langsung di Yayasan, terkadang sebagai pengaja. Pemangkat 1 sekolah. Sungai Pinyuh 1 sekolah. Pontianak 1 sekolah (Tidak langsung terlibat, hanya sebatas pembentuk yayasa. Area Kalimantan Timur ada tiga: Samarinda 1 sekolah (Tidak langsung terlibat, hanya duduk di yayasa. Balikpapan 1 sekolah. Tanjung Selor 1 sekolah. ASTINDA: Sudah ada pergerakan berupa kader ASTINDA duduk di Yayasan Surya Dharma Indonesia Jaya menangani bidang pendidikan khususnya di bidang pengembangan pendidikan di wilayah Banyuwangi. Kader ASTINDA juga ada yang berperan sebagai tenaga pendidik di STAB Kertarajasa, sedang mempelopori proses pembangunan Nava Dhammasekha Dhamma Bhakti Jaya. Pesanggaran Ae Banyuwangi JATIM dan PAUD-TK Paramita Pelangi Jaya. Gambiran Ae Banyuwangi JATIM. MAGABUDHI: Tidak ada upaya langsung (Karena keterbatasan AD/ART) tetapi Buddha sekolah/lembaga pendidikan Buddhis yang membutuhkan. PATRIA: Telah bergerak sebagai panitia pembangunan Sekolah Narada Jakarta Barat (Tim pencari dan. , mendukung sekolah Asoka di Singkawang, serta memberikan pelatihan soft-skill ke sekolah-sekolah WANDANI: Menyokong sekolah Asoka, menyekolahkan/menyokong kebutuhan sekolah anak-anak Buddhis yang kurang mampu dengan program anak asuh. Tantangan dan hambatan yang dihadapi organisasi KBTI untuk merealisasi upaya pengembangan lembaga pendidikan formal Buddhis: . Hambatan Finansial, . Hambatan membangun sinergi antar organisasi KBTI, . Hambatan ketersediaan SDM yang bagus, . Hambatan kesejahteraan guru sekolah Buddhis dan tenaga penyelenggara pendidikan Buddhis (Upah kurang, sistem geriliya voluntering di beberapa daerah non Jakart. , . Hambatan kurangnya minat umat Buddha, . Hambatan mutu didikan, . Di beberapa tempat, hambatan berupa sisi pembiayaan siswa, . Hambatan hasil lulusan yang tidak disalurkan kerja, . Hambatan umat konservatif yang menganggap penggajian guru Dhamma sama dengan perdagangan Dhamma, dan . Hambatan terlalu banyak yang menjadi ASupporting systemAo sedikit yang mau totalitas menjadi garda terdepan di bidang pendidikan. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Buddhisme lahir dengan ciri khas tradisi literasi yang tidak terlepas dari pentingnya Sejak pencerahan Siddharta menjadi seorang Samma Sambuddha (Ada 2 versi: 599 SM atau 528 SM) Buddhisme lahir di era Upanishad . 0SM - 300 SM) yang berisikan ajaran-ajaran dan sejumlah doktrin yang digagas oleh para pemikir yang menjadi pemimpin aliran-aliran spiritual di masa itu. Tidak hanya Buddhisme, sistem pembelajaran yang populer kala itu adalah duduk di dekat guru untuk menerima pembelajaran, demikian pula Buddha mewarisi metode Sangiti (Repetis. Pada masa itu lembaga pendidikan belum ada yang formal, hanya sekumpulan masyarakat yang datang kepada guru guna menempuh pendidikan, demikian Buddhisme mendirikan wihara-wihara dan arama . ihara di tengah tama. sekaligus tempat belajar Dhamma, bukan hanya tempat tinggal dan ibadah semata. Baru kemudian ada lembaga pendidikan formal Buddhis pertama bernama Asokarama . ekitar 253 SM) yang diresmikan Raja Asoka. Pendidikan Buddhisme sempat terbelakang dan kerdil di Ceylon. Srilanka selama 90 SM Ae A400 masehi berkat konflik berkepanjangan 2 lembaga pendidikan formal Buddhis Mahavihara dengan Abhayagiri ditambah masuknya dunia politik praktis ke dalam kedua lembaga tersebut, walau pada akhirnya Mahavihara yang memenangkan persaingan, namun keadaannya sudah jauh tertinggal dengan perkembangan lembaga pendidikan Buddhisme di India. Buddhisme mencapai kemajuan terbesarnya di era universitas-universitas Buddhis pada tahun 450 Ae 1193 Masehi. Nalanda dan Vikramashila di Bihar. India adalah Universitas Buddhis paling berpengaruh yang turut mempelajari ilmu pengetahuan sekuler. Dari sinilah dapat ditegaskan sejak dulu Buddhisme lahir dengan tradisi literasi, kebutuhan akan adanya lembaga pendidikan formal seakan menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolak-tolak sejak dulu hingga sekarang, karena jelas lembaga pendidikan formal menempati posisi penting yang sangat vital bagi perkembangan Buddhisme dari masa ke masa. Memang bentuk lembaga tidak selalu harus formal dan bisa menyesuaikan dengan keadaan, hanya pada saat ini diketahui pendidikan formal lebih memiliki signifikansi dalam meningkatkan taraf hidup seseorang. Dengan menyokong dan membangun lembaga pendidikan formal Buddhis, artinya seseorang telah melakukan Nibbadha Kusala (Kebajikan yang bermanfaat terusmeneru. yang bersifat Thavara Dana (Dana yang bertahan lam. sekaligus Dhammadana (Pemberian Dhamma, walaupun secara tidak langsun. Dengan demikian, seseorang melakukan sesuatu yang sakral sekalipun ada sisi profan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan formal Buddhis. Semua organisasi anggota KBTI menyatakan keberadaan lembaga pendidikan formal itu penting bahkan menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan dalam mempertahankan eksistensi umat Buddha di masa mendatang. Patut disayangkan, upaya dan dukungan organisasi khususnya dari Sangha Theravada Indonesia (STI) masih dirasa kurang. STI hanya seperti mempertahankan lembaga pendidikan formal yang sudah ada sekaligus menunggu bola dari organisasi lain yang berniat memajukan pendidikan Buddhis dan upaya pengembangan pendidikan hanya dilakukan bhikkhu-bhikkhu tertentu secara pribadi yang perduli dengan pendidikan, tidak ada tindakan terorganisir yang nyata dari Sangha untuk menyokong dunia pendidikan Buddhis. Sementara (Atthasilani Theravada Indonesia (ASTINDA) malah terlihat sudah mulai menunjukan upaya nyata dengan menggarap TK dan PAUD Nava Dhammasekha di Kec. Pesanggaran dan Kec. Gambiran. Banyuwangi Ae Jawa Timur yang saat ini sedang proses pembangunan namun sudah sebagian beroperasi. Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) masih sebatas memberikan pembinaan saja sebagai support system tanpa terlibat langsung dalam pembangunan lembaga pendidikan formal Buddhis karena keterbatasan AD/ART. Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA) sejauh ini sudah mendukung pembangunan dan penyelenggaran sekolah Narada di Jakarta Barat, serta sekolah Asoka di Singkawang, meskipun PATRIA terkesan berperan sebagai supporting system tetapi berkaca dengan keadaan masa-masa pendirian sekolah Narada dimana PATRIA terjun langsung dalam upaya penggalangan dana dan banyak kadernya yang mengisi menjadi tenaga pendidikan, mereka secara realita bisa menjadi garda terdepan apabila ada yang menginisiasi gerakan memajukan pendidikan Buddhis. Sementara WANDANI sejauh ini baru sebatas memberikan beasiswa pendidikan kepada anak asuh dan menyokong sekolah Asoka di Singkawang. Kedepannya mereka berniat meniru sistem dari sekolah Asoka di Singkawang dan bertekad membangun satu sekolah di daerah basis Buddhis di Jawa Tengah yang benar-benar dikelola . ukan sekedar di Manag. oleh WANDANI. Harapan mereka agar masyarakat juga tau bahwa wanita Buddhis Theravada juga memiliki peran dan fokus pada dunia pendidikan Buddhis. Baik ASTINDA. MAGABUDHI. PATRIA. WANDANI memberikan usulan-usulan yang bila dirangkum menjadi 3 poin usulan ini: . Menghimbau agar umat Buddha sekolah di sekolah Buddhis, atau bila sekolah tidak menyediakan guru agama Buddha, carilah tempat untuk belajar pendidikan agama Buddha. Sejumlah isu dikemukakan untuk diperbaiki bersama seperti wihara yang sudah ambruk dijadikan sekolah, membuat wihara hybrid dengan sekolah, memperhatikan kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan, memperhatikan mutu lulusan, serta lebih menonjolkan nilai-nilai Buddhis. Menghimbau agar antar organisasi KBTI saling membangun sinergi dalam memajukan lembaga-lembaga pendidikan formal Buddhis. Amat disayangkan STI tidak memberikan usulan apapun untuk semua umat Buddha dan khalayak luas guna mendukung lembaga pendidikan Buddhis. Ini mengesankan STI cenderung apatis dengan perkembangan dunia pendidikan formal Buddhis. SARAN Ada baiknya dibentuk satu organisasi wadah anggota KBTI yang berbadan hukum dan berorientasi menyokong pembangunan dan penyelenggaraan lembaga pendidikan formal Buddhis, anggotanya adalah semua elemen KBTI sendiri yang memiliki tujuan sebagai garda terdepan pendidikan Buddhis (Saat ini sudah ada ADISTI (Asosiasi Pendidikan Buddhis Theravada Indonesi. , namun sepertinya belum berbadan hukum dan belum Kelak, apabila sudah ada wadah dari KBTI yang khusus mengurus dunia pendidikan, bisa melakukan pengelolaan pendidikan secara profesional, dengan sistem Berdana membangun pendidikan Buddhis sambil tanam saham. Sehingga hal ini bisa menarik investor dan tidak mengesankan dominasi sistem volunterering yang hanya bergantung pada donasi semata. Pengelolaan yang dilakukan secara profesional akan menghasilkan lembaga- lembaga pendidikan formal yang terorganisir, juga bisa meningkatkan mutu dan kesejahteraan lembaga serta orang- orang yang berkecimpung di dalamnya. Ada baiknya wihara dibuat sistem hybrid dengan sekolah untuk kawasan yang memang memiliki umat Buddhis yang cukup banyak. Bila daerah tersebut umatnya kurang banyak, bisa saja KBTI membuat sekolah umum namun berbudaya dan beryayasan Buddhis serta memiliki pelajaran agama Buddha di dalamnya. Apabila memang di daerah-daerah tertentu tidak memungkinkan membangun lembaga pendidikan formal karena keterbatasan sumber daya, minimal harus diadakan Dhamma Class yang dibina oleh guru pendidikan keagamaan Buddha di wihara-wihara yang sudah ada, sebagai tempat siswa mendapatkan pelajaraan keagamaan Buddha secara formal sekaligus meminta nilai mata pelajaran Agama Buddha secara formal. Lembaga pendidikan Buddhis yang sudah ada perlu lebih ditingkatkan mutunya, lebih diperhatikan dari sisi kesejahteraan guru dan para tenaga kependidikan, hasil lulusan yang dibantu penyaluran kerja. Jangan sampai lembaga pendidikan Buddhis yang ada kalah bersaing dengan lembaga pendidikan agama lain ataupun lembaga pendidikan umum. Bagi umat Buddha, sekolahkanlah anak-anak anda di tempat-tempat yang ada pendidikan Buddhisnya, atau bila tidak ada, bisa mengikuti Dhamma class di wihara-wihara yang Dengan demikian anda turut mendukung perkembangan lembaga pendidikan formal Buddhis. Masalah-masalah, saran-saran, serta semua data temuan penelitian ini bisa dijadikan bahan analisa maupun riset lanjutan bagi pengembangan dunia pendidikan formal Buddhis. DAFTAR PUSTAKA