JPFT - volume 12, nomor 1, pp. April 2024 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnalfkipuntad. com/index. php/jpft PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA BERBANTUAN PHYSICS EDUCATION TECHNOLOGY INTERACTIVE SIMULATION PADA MATERI FLUIDA STATIS Application of Experiential Learning Models to Improve Student Understanding of Physics Education Technology (PhET) Interactive Simulation Concepts on Static Fluid Materials. Serina Febrilia. Nurjannah. Haeruddin, dan Wahyuni Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Palu. Indonesia serinafebrilia32@gmail. Kata Kunci Pembelajaran Berbasis Pengalaman. Pemahaman Konsep. PhET. Fluida Statis Abstrak Penelitian ini bertujuan meningkatkan pemahaman konsep fisika pada materi fluida statis dengan menerapkan model pembelajaran berbasis pengalaman menggunakan Physics Education Technology (PhET). Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen dan model nonequivalent control group design. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas XI IPA 3 . sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 4 . sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman dengan simulasi interaktif PhET, sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Skor rata-rata pretest kelas eksperimen adalah 48,13 dan kelas kontrol 44,0. Setelah perlakuan, skor rata-rata posttest untuk kelas eksperimen mencapai 80,19, sedangkan kelas kontrol 73,65. Uji t menunjukkan t_hitung = 3,04, yang berarti H_0 ditolak dan H_1 diterima, menandakan ada perbedaan signifikan dalam pemahaman konsep fisika antara kedua kelas. Nilai N-gain pada kelas eksperimen adalah 61,80% dan kelas kontrol 52,94%, keduanya dalam kategori sedang. Keywords Experiential Learning. Concept Comprehension. PhET. Static Fluids Abstract This study aims to improve students' understanding of physics concepts related to static fluids by applying an experiential learning model using Physics Education Technology (PhET). employs a quantitative research approach with a quasi-experimental design, specifically a nonequivalent control group design. The subjects included students from class XI IPA 3, 33 students in the experimental group, and class XI IPA 4, 32 students in the control group. The experimental group used interactive PhET simulations, while the control group followed a conventional teaching model. Pretest results showed an average score of 48. 13 for the experimental group and 44. 0 for the control group. Following the intervention, the average posttest scores improved to 80. 19 for the experimental group and 73. 65 for the control group. Statistical analysis using the t-test revealed t calculated = 3. 04, indicating a significant difference between the two classes. The N-gain values were 61. 80% for the experimental group and A2024 The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 Received 12/12/2023. Revised 10/01/2024. Accepted 01/02/2024. Available Online 30/04/2024 *Corresponding Author: fisika@yahoo. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online PENDAHULUAN Vol. No. 1, pp. April 2024 konsep dari materi serta kaitannya dengan kejadian-kejadian yang pernah dialami. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengetahui pemahaman konsep siswa pada menggunkan tes diagnostik thre-tier. Tes diagnostik three-tier dapat mengidentifikasi siswa yang paham konsep, tidak paham konsep, dan miskonsepsi. Tes ini memiliki keuntungan untuk membedakan yang kurang pengetahuan . ack of knowladg. dan yang tidak paham . Setelah teridentifikasi tingkat pemahaman konsep siswa pada suatu materi pelajaran, maka salah satu model pembelajaran yang diharapkan kemampuan siswa dalam memahami konsep fisika yaitu model pembelajaran berbasis Model pembelajaran berbasis pengalaman ini bersifat kontruktivis, berpusat pada siswa dan menekankan memulai dengan menjadi konsep . Model pembelajaran ini menyajikan empat tahapan, yaitu tahap pengalaman nyata . oncrete experienc. , tahap observasi refleksi . eflective observatio. , tahap konseptualisasi . bstract conceptualizatio. , . ctive Penelitian yang dilakukan oleh Jannati . meyatakan bahwa model pembelajaran berbasis pengalaman dari Kolb (Experiential Kol. konvensional pada siswa . Oleh karena itu, model pembelajaran berbasis pengalaman peneting diterapkan dalam dunia pendidikan, salah satunya untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. Menurut Lestari . penerapan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam masalah yang dipelajari . Penerapan model pembelajaran ini dapat digunakan dengan bantuan media pembelajaran agar dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran. Media pembelajran itu pemahaman serta hasil belajar siswa, media pembelajaran yang dapat menunjang model pembelajaran berbasis pengalaman ini adalah PhET interactive simulation. Simulasi PhET merupakan simulasi yang ramah pengguna karena dapat dijalankan dengan menggunkan web browser . Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan, peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan judul AuPenerapan model Pembelajaran merupakan proses interaksi siswa dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan sekolah. Pembelajaran adalah suatu proses bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pembentukan sikap dan kepercayaan pada siswa . Proses bantuan tersebut juga terjadi dalam pembelajaran fisika. Fisika merupakan satu cabang ilmu IPA yang mengkaji gejala alam atau fenomena yang terjadi di alam semesta melalui serangkaian proses atau kegiatan ilmiah. Fisika itu sendiri merupakan mata pelajaran yang menyenangkan konsep-konsep kehidupan nyata beserta dampaknya . Menurut Ihsanudin . menyatakan bahwa sebagian besar konsep fisika masih merupakan konsep-konsep yang abstrak dan bahkan siswa tidak mengetahui konsep awal serta hubungan antara konsep yang satu dengan yang lainnya . Pemahaman konsep pada pembelajaran fisika sangat penting bagi siswa . Sejalan dengan pendapat Santrock . pemahaman konseptual merupakan aspek penting dari pembelajaran . Tujuan penting pengajaran adalah membantu siswa memahami konsepkonsep utama subjek daripada hanya menghafal fakta terisolasi. konsep merupakan poin penting dari pemikiran, namun saat ini siswa masih kesulitan dalam memahami konsep fisika. Penelitian yang dilakukaan oleh Ridwan . ditemukan bahwa tidak sedikit siswa yang pempunyai pemahaman konsep fisika yang masih sangat rendah bahkan masih ada siswa yang tidak memahami konsep fisika . Banyaknya siswa yang tidak paham konsep karena kecenderungan siswa yang kurang aktif atau kurang berinteraksi di dalam kelas. Hal ini didukung oleh teori kontruktivisme dimana menyatakan pengetahuan siswa dibangun oleh siswa itu sendiri dari interaksinya dengan lingkungan dan pengalaman. Menutut Budhi . pengalaman juga sangat berpengaruh dalam terbentuknya pemahaman konsep oleh siswa selain kecenderungan siswa yang kurang interaksi permasalahan lain yang timbul yaitu kecenderungan guru yang menggunakan model pembelajaran yang kurang tepat pada materi fisika . Materi fluida statis adalah salah satu materi yang berkaitan dengan kejadian yang sering dilihat, dirasakan dan dialami secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Namun, siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online berbantuan physics education technology (PhET) interactive simulation pada materi fluida statisAy. Peningkatan pemahaman konsep dari kelas pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan PhET dapat dilihat melalui uji dampak . ji effect siz. Sedangkan, keefektifan penggunaan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan PhET dapat dilihat berdasarkan perbandingan N-gain yang dinormalisasi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk melihat klasifikasi dampak dari penerapan model pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain kuasi nonequivalent control group design. Subjek dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik non random sampling dengan jenis purposive sampling. Tabel 1. Desain Penelitian Kelompok Pretest Perlakuan Posttest Tabel 3. Klasifikasi Effect Size Tingkat gain (%) 0,01 O D O 0,2 O D < 0,5 (A) Eksperimen (B) Kontrol Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Palu pada semester ganjil 2022/2023. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 3 berjumlah 33 orang sebagai kelas eksperimen dan XI MIPA 4 berjumlah 32 orang sebagai kelas Penelitian ini diawali dengan pemberian mengungkapkan konsep pengalaman siswa sebelum masuk pada materi pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran berbasis Selanjutnya, pemberian pree-test untuk mengidentifikasi kemampuan awal siswa. Kemudian dilaksanakan pembelajran berbasis pengalaman. Setelah pembelajaran selesai dilakukan post-test untuk konsep siswa. Untuk pengumpulan data penelitian ini telah dibuat instrumen penelitian berupa tes terbuka untuk tes pengalaman siswa dan intrumen tes diagnnostik three-tier sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman konsep siswa. Adapun teknik analisis data menggunakan tabel kategori konsepsi siswa dengan three-tier test pada Tabel 2 berikut, 0,5 O D < 0,8 0,8 O D < 1,2 1,2 O D < 2 DOu2 Tier-1 Salah Benar Salah Benar Salah Tier-2 Salah Salah Benar Benar Salah Benar Benar Benar Salah Benar Benar Kriteria Referensi Efek sangat Efek kecil Sawilowsky . Cohen Cohen Cohen Sawilowsky . Sawilowsky . Efek Efek besar Efek sangat Efek besar (Sumber: Backer, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini diawali dengan pembagian tes berupa instrumen pengalaman siswa yang digunakan untuk mengungkapkan konsep pengalaman yang pernah dialami siswa sebelum diberikan perlakuan pada kelas eksperimen. Dilanjutkan dengan pree-test untuk mengetahui pemahaman konsep awal siswa. Dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, dan diperoleh hasil bahwa subjek penelitian yang digunakan terdistribusi normal dan homogen. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui sampel yang digunakan terdistribusi normal atau Data yang digunakan untuk uji normalitas adalah nilai pre-test dan post-test. Metode yang digunakan adalah purpose sampling peneliti mendapat kelas berdasarkan rekomendasi dari guru mata pelajaran fisika kelas XI sebanyak dua kelas, yaitu kelas XI MIPA 3 dan XI MIPA 4. Berikut Tabel analisis chi kuadrat yang diperoleh dari kedua kelas dalam pre-test dan post-test. Tabel 2. Kategori Konsepsi Siswa Vol. No. 1, pp. April 2024 Tier-3 Hasil Yakin Miskonsepsi Yakin Miskonsepsi Yakin Miskonsepsi Yakin Paham konsep Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak (Sumber: Arslan dkk,2. Tabel 4. Hasil uji Normalitas Uraian Pre-test Sampel Post-test Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online ycUEaycnycycycuyci ycUycycaycayceyco Keterangan 7,00 7,81 6,50 7,30 7,81 7,81 Normal peningkatan pemahaman konsep siswa pada materi fluida statis. Selanjutnya dilakukan uji N-Gain untuk melihat peningkatan pemahaman konsep siswa pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. 7,81 7,81 Pada Tabel 4, subjek penelitian terdistribusi normal saat pre-test dan post-test pada kedua kelas XI MIPA 3 dan XI MIPA 4. Hal ini diketahui karena ycuEaycnycycycuyci < ycuycycaycayceyco Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian homogen atau tidak. Data yang digunakan untuk uji homogenitas adalah nilai pre-test dan posttest. Tabel 7. Uji N-Gain Kelas Rerata uji-gain (%) Eksperimen 61,80 Kontrol 52,94 t tabel Ket 1,81 1,99 H1 ditolak 3,04 1,99 H1 diterima Sedang Sedang Pembahasan Adanya tingkat pemahaman siswa yang masuk dalam kategori miskonsepsi, paham konsep, dan tidak paham konsep dikarenakan setiap siswa memiliki pemahaman yang berbeda-beda terhadap suatu konsep yang dipelajari . Dalam pembelajaran siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep dari materi serta kaitannya dengan pengalaman atau kejadian yang pernah dialami. Hal ini besarkaitannya dengan bagaimana pembelajaran yangyang diterapkan oleh guru di Sehingga perlu untuk mengubah model meningkatkan pemahaman konsep siswa salah satu cara yaitu dengan menerapkan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan media PhET interactive simulation. Pada Tabel 5, dapat disimpulkan bahwa kedua kelas yang digunakan adalah homogen dengan Fhitung < Ftabel . Uji-t dua pihak digunakan untuk mengetahui bahwa kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan yang sama sebelum diberikan perlakuan serta dapat pemahaman konsep siswa antara kedua kelas. Dalam uji-t dua pihak, merumuskan hipotesis yaitu H0 : Tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika antara kelas yang diberikan perlakuan berupa model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan media PhET interactive simulation dengan kelas yang menerapkan model pembelajaran konvensional, dan H1 : Terdapat perbedaan pemahaman konsep fisika antara kelas yang diberikan perlakuan berupa model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan media PhET interactive simulation dengan kelas yang menerapkan model pembelajaran konvensional. t hitung Kategori Berdasarkan data skor pre-test dan post-test diperoleh hasil rata-rata uji N-gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memenuhi kategori sedang. Tabel 5. Hasil uji Homogenitas Uraian Pre-test Post-test Nilai varians 92,11 89,23 86,78 74,42 Fhitung 1,03 1,17 Ftabel (= 0,. 1,40 1,40 Keterangan Homogen Tabel 6. Uji-t dua pihak No Jenis Kelas Kelas Pre48,13 44,0 Post- 80,19 73,65 Vol. No. 1, pp. April 2024 Berdasarkan uji dampak (Effect siz. dilakukan pengalaman untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa berbantuan media PhET interactive simulation pada materi fluida statis yang diterapkan pada kelas eksperimen. Hasil diperoleh sebesar 0,70 dalam kategori sedang, artinya penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan media PhET ini peningkatan pemahaman konsep siswa pada materi fluida statis. Sejalan dengan hasil uji N-gain peningkatan pemahaman konsep siswa yang menunjukan presentase tingkat pemahaman siswa pada kelas eksperimen sebesar 61. 808% dan kelas kontrol sebesar 52,946%. Nilai dari kedua kelas tersebut berada dalam kategori sedang. Namun data tersebut memperlihatkan presentase kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasi penelitian yang dilakuakan oleh Hidayat . yang Berdasarkan Tabel 6. Diperoleh bahwa hasil post-test diketahui nilai t hitung > t tabel dapat disimpulkan bahwa hipotesis H1 diterima. Hasil Uji dampak . ffect siz. diperoleh sebesar 0,70 dalam kriteria AusedangAy, artinya pengalaman dengan bantuan media PhET ini Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online menunjukan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis pengalaman memiliki hasil belajar fisika yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan peserta didik yang diajarkan menggunakan model pembelajaran langsung. Selain penggunaan model pembelajaran yang tepat, penggunaan perkembanagan era digital serta membuat siswa memiliki rasa antusias dalam belajar. Salah satu media tersebut yaitu media PhET interactive Penggunaan simulasi PhET dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar pesrta didik . Penggunaan pengalaman siswa sebagai media dalam Terdapat 4 tahapan belajar dalam model pembelajaran berbasis pengalaman yaitu, tahap pengalaman nyata . oncrete experienc. , tahap observasi refleksi . eflective observatio. , tahap implementasi dan eksperimeen . bstract conceptualizatio. , dan tahap implementasi atau eksperimen . ctive eksperimentatio. Tahap pertama membahas tentang pengalaman nyata yang pernah siswa alami. Namun, pada dasarnya pengalaman tidak semua siswa memiliki pengalaman yang sama. Untuk siswa yang tidak memiliki pengalaman, maka diberikan contoh lain atau bahkan gambaran lain tentang penerapan konsep fisika sesuai dengan materi fluida statis pada kehidupan sehari-hari. Pada tahapan ini siswa belum mempunyai pengalaman atau peristiwa yang disajikan dan alasanmengapa, bagaimana peristiwa tersebut Pada tahap kedua menjelaskan materi fluida statis serta mengaitkan materi dengan pengalaman siswa. Untuk memperjelas konsep fisika, pembelajaran ini menggunakan media PhET interactive simulation untuk menampilkan simulasi-simulasi konsep materi fluida statis. Selanjutnya pada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan kembali pengalaman yang pernah dialami dari berbagai segi, sehingga dapat memungkinkan siswa untuk mengembangkan pertanyaan mengapa, bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi. Selanjutnya pada tahap ketiga yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan menggunakan media PhET pada masing-masing kelompok. Pada dasarnya sebagian siswa pada tahap ini belum menguasai penuh penggunaan media PhET setelah diarahkan penggunaannya siswa Vol. No. 1, pp. April 2024 merasa antusias serta adanya rasa ingin tahu dalam percobaan. Rasa ingin tahu mereka dapat dilihat pada saat mereka bertanya tentang fungsi pada setiap item yang ada pada PhET. Pada tahap ini banyak muncul pertanyaanpertanyaan siswa tentang Aubagaimana jikaAy serta memperluas diskusi kelas mengenai aplikasi PhET dan keterkaitan percobaan dengan Kegiatan pada tahap ini dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi fluida statis. Tahapan terakhir yaitu tahapan keempat pada tahap ini siswa melakukan tanya jawab serta siswa sudah dapat menjelaskan peristiwa yang terjadi serta mampu mengaitkannya dengan konsep yang ada. Berbeda pada kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Kegiatan ini terbagi dalam beberapa tahapan yaitu, tahapan memberikan informasi dalam bentuk ceramah, memberikan latihan soal yang mengajak siswa untuk berpikir kritis. Kemudian masing-masing siswa mencari penyelesaian jawaban serta siswa dapat mempresentasikan hasil pekerjaannya didepan kelas kepada temantemannya. Pada konvensional ini yang berperan aktif adalah guru sehingga siswa menjadi pasif dalam belajar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, pemahaman konsep siswa kelas eksperimen (XI IPA . yang menggunakan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan media PhET interactive simulation lebih tinggi daripada kelas kontrol (XI MIPA . yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen dapat dilihat dari hasil posttest. Skor nilai rata-rata siswa kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan yaitu sebesar 80,19 lebih tinggi dibanding dengan sebelum diberikan perlkuan yaitu sebesar 48,13. Hasil penelitian pemahaman konsep siswa setelah menerapkan model pembelajaran berbasis pengalaman dengan bantuan physics education technoly (PhET) interactive simulation pada materi fluida Saran Bagi guru bidang studi pendidikan fisika agar pembelajaran dengan materi yang akan Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya, penerapan model membutuhkan persiapan yang baik serta kesesuaian materi yang akan diajarkan. Serta mempersiapkan media pendamping yang lebih menarik agar pembelajaran berjalan dengan baik serta bisa mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. DAFTAR PUSTAKA