Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 13. Nomor 1, 2026 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index Presupposition in Cosmetic Branding Strategy on Shopee Live 1Ziyan Annisah, 2Nasiha Amirotul Khoiriyah, 3Tatu Siti Rohbiah 1,2,3Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten ziyan@uinbanten. id, 2221230027. nasiha@uinbanten. rohbiah@uinbanten. Corresponding authorAos email: 221230027. nasiha@uinbanten. ARTIKEL INFO Article history: Received : 7 November 2025 Accepted: 2 Desember 2025 Published : 28 Januari 2026 Keywords: Presuposisi Pragmatik. Shopee Live. Branding Kosmetik. Strategi Penjual. Komunikasi Daring DOI: 10. 33603/deiksis. ABSTRAK This study aims to comprehensively analyze the pragmatics of presuppositions used in cosmetics branding on Shopee Live and to identify the linguistic strategies used by sellers in building relationships with buyers. This study adopted a descriptive qualitative method, using observational data from ten Shopee Live session recordings of popular cosmetic brands (Emina. Glad2Glow. IMPLORA. Instaperfect. Mother of Pearls (MOP). OMG. Pinkflash. Sea Makeup. Somethinc, and Warda. recorded between April 1921, 2025. Data collection involved systematic observation, verbatim transcription of sellers' conversations, and detailed analysis of the use of presuppositions and other interpersonal linguistic strategies. The results show that presuppositions serve as a crucial strategic communication tool, effective in forming shared assumptions, implicitly conveying product information and benefits, and subtly creating purchase urgency without explicit commands. Furthermore, this study identified that sellers strategically use presuppositions within broader linguistic strategies, such as personal greetings and personal usage testimonials, to build closeness and trust, thereby influencing buyers' purchasing decisions by appealing to emotional values and fostering brand loyalty. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pemasaran. Dunia bisnis kini memasuki era digital economy, di mana transaksi, promosi, dan komunikasi antara produsen dan konsumen dilakukan melalui platform digital. Salah satu bentuk e-business yang paling berkembang adalah perdagangan elektronik atau e-commerce. E-commerce tidak hanya mengubah pola konsumsi masyarakat, tetapi juga mengubah strategi pemasaran dari yang sebelumnya konvensional menjadi lebih dinamis dan interaktif. Salah satu tren terkini dalam e-commerce adalah live selling commerce, yaitu promosi produk melalui siaran video langsung yang memungkinkan interaksi real-time antara penjual dan pembeli. Di Indonesia. Shopee Live menjadi salah satu platform terdepan dalam menerapkan strategi ini, khususnya dalam penjualan kosmetik. Seller tidak hanya Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. penggunaan, dan menjawab pertanyaan secara langsung. Interaksi ini membangun kedekatan emosional yang kuat, yang tidak mungkin terjadi dalam model e-commerce Menurut Aditya Wardhana (Fauziah et al. , 2. dalam Strategi Pemasaran ECommerce, fitur interaktif seperti ini mempercepat pengambilan keputusan karena memberikan pengalaman belanja yang lebih meyakinkan dan personal. Namun, keberhasilan sesi live selling tidak hanya bergantung pada tampilan produk, melainkan juga pada cara komunikasi penjual, termasuk penggunaan bahasa secara strategis (Shi & Dou, 2. Salah satu aspek linguistik yang sangat penting tetapi kurang mendapat perhatian dalam kajian e-commerce adalah presuposisi (Rahardi, 2. Dalam konteks komunikasi live selling, presuposisi muncul dalam berbagai bentuk pernyataan yang secara implisit mengasumsikan suatu hal sebagai fakta. Konteks ini menunjukkan bagaimana penutur mengandaikan pengetahuan bersama dengan pendengar, yang memungkinkan komunikasi berjalan efisien tanpa perlu menjelaskan setiap detail (OAoKeeffe et al. (Stalnaker, n. Contoh seperti Ausudah banyak yang pakai iniAy. Aukalau kamu punya kulit berminyak, pasti cocokAy, atau Aunanti nyesel kalau kehabisanAy menunjukkan informasi yang diasumsikan benar tanpa perlu dijelaskan lagi. Ungkapan seperti ini memainkan peran penting dalam memengaruhi pemahaman dan persepsi audiens. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Fathul Maujud, yang mana makna suatu ujaran tidak bisa dilepaskan dari situasi, peserta, dan tujuan komunikasi (Maujud & Sultan, 2. Presuposisi dalam Shopee Live bukan sekadar unsur kebahasaan biasa, melainkan bagian dari strategi pragmatis yang membentuk cara pandang pembeli terhadap produk. Dengan menyisipkan informasi tersirat sebagai hal yang dianggap sudah diketahui atau diterima audiens, penjual dapat menciptakan kepercayaan, kedekatan, dan bahkan dorongan untuk membeli secara impulsif. Dalam Branding Strategy di Era Digital. Wardhana menegaskan bahwa penggunaan bahasa yang tepat dan tersirat . dapat membentuk citra produk yang kuat dan menanamkan persepsi positif di benak konsumen (Ningrum & Muslih, 2. Penelitian ini mengacu pada beberapa studi terdahulu yang relevan sebagai landasan teori dan perbandingan. Beberapa penelitian sebelumnya mendukung kerangka teori dalam studi ini. Studi yang dilakukan oleh Li Yao (Yao, 2. dalam An Analysis of Pragmatic Presupposition in E-Commerce Live Language mengeksplorasi bagaimana praanggapan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. pragmatis yang tertanam dalam bahasa penjual selama streaming langsung dapat memperkuat kepercayaan konsumen terhadap informasi produk yang disampaikan. Li Yao menyoroti bahwa penggunaan ekspresi yang diandaikan, seperti Auproduk ini pasti cocok untuk AndaAy atau Ausemua orang sudah menggunakan iniAy, berfungsi sebagai strategi implisit untuk membangun asumsi bersama antara penjual dan penonton. Strategi ini meningkatkan komunikasi dengan menciptakan kesan bahwa penjual memahami kebutuhan konsumen, sehingga meningkatkan efektivitas persuasif penjualan langsung ecommerce. Sementara itu. Xingsong Shi dan Huanqin Doudou (Shi & Dou, 2. berfokus pada hubungan emosional antara penjual dan penonton dengan meneliti strategi komunikasi interpersonal selama sesi live selling. Penelitian mereka mengungkapkan bahwa sapaan pribadi, humor, respon cepat terhadap komentar, dan bahasa tubuh yang bersahabat secara signifikan berkontribusi dalam membangun kedekatan emosional. Ikatan relasional ini menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas, bahkan jika pemirsa tidak melakukan pembelian secara langsung. Penelitian mereka menggarisbawahi pentingnya pendekatan interaktif dan relasional dalam komunikasi e-commerce secara langsung yang melampaui konten verbal dan menekankan pada kinerja dan keterlibatan dua arah. Dalam pendekatan yang lebih kuantitatif. Anggun Puji Styo Ningrum dan Basthoumi Muslih (Ningrum & Muslih, 2. , dalam penelitiannya yang berjudul "Stimulus Response Theory: Konstruksi Impulse Buying pada Shopee Live Selling," menekankan pada peran rangsangan seperti pesan kelangkaan, diskon harga, dan tagline gratis ongkos kirim dalam membentuk perilaku pembelian impulsif konsumen. Temuan mereka menunjukkan bahwa pesan kelangkaan memiliki dampak paling signifikan terhadap keputusan pembelian mendadak di Shopee Live. Hal ini menunjukkan bahwa strategi komunikatif yang menciptakan urgensi atau tekanan waktu dapat secara efektif memicu respons konsumen secara langsung, yang sering kali mengarah pada pembelian yang tidak direncanakan. Meskipun ketiga penelitian ini berkontribusi secara signifikan dalam memahami dinamika komunikasi dalam penjualan langsung, kajian yang secara khusus menelaah fungsi pragmatik presuposisi sebagai strategi linguistik persuasif masih terbatas. Studi terdahulu lebih menekankan aspek kepercayaan konsumen, hubungan emosional, serta stimulus pemasaran, namun belum mengkaji secara mendalam bagaimana presuposisi digunakan untuk membangun asumsi bersama, menciptakan urgensi, dan mempengaruhi keputusan pembelian dalam konteks live commerce kosmetik. Oleh karena itu, penelitian ini Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis peran pragmatik presuposisi dalam membentuk makna implisit dan strategi persuasi dalam interaksi penjual dan pembeli pada platform live streaming. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas kajian pragmatik, khususnya presuposisi, dalam konteks komunikasi pemasaran digital interaktif. Secara metodologis, penelitian ini menawarkan pendekatan analisis pragmatik berbasis data autentik live streaming commerce yang masih jarang digunakan dalam studi linguistik pemasaran digital. Temuan penelitian ini juga memberikan kontribusi praktis bagi pelaku ecommerce dalam merancang strategi komunikasi yang lebih persuasif dan efektif. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentukbentuk presuposisi yang digunakan penjual kosmetik dalam sesi live selling, menganalisis fungsi pragmatik presuposisi dalam membangun asumsi bersama dan kedekatan interpersonal, serta menjelaskan peran presuposisi sebagai strategi linguistik persuasif dalam mempengaruhi keputusan pembelian audiens. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami subjek secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari dengan memperhatikan konteks, situasi, dan latar belakang fenomena yang sedang diteliti (Fadli, 2. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi yang rinci tentang kondisi dalam konteks alamiah, menyajikan gambaran kompleks secara verbal, dan mendapatkan pandangan dari informan yang Fokus utamanya adalah untuk mengerti mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi, melibatkan pertimbangan mendalam pada kasus-kasus spesifik. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan untuk menggali makna dan fungsi penggunaan bahasa, khususnya presuposisi, dalam konteks komunikasi antara seller dan pembeli di Shopee Live. Data dalam penelitian ini berupa sepuluh rekaman sesi Shopee Live dari brandbrand kosmetik populer, yaitu Emina. Glad2Glow. IMPLORA. Instaperfect. Mother of Pearls (MOP). OMG. Pinkflash. Sea Makeup. Somethinc, dan Wardah. Seluruh data merupakan hasil dokumentasi publik yang diakses melalui fitur live yang tersedia di platform Shopee pada tanggal 19 April hingga 21 April 2025. Peneliti akan dibantu dengan beberapa teknik pengumpulan data pendukung untuk mengumpulkan dan menganalisis data, mencakup observasi sistematis, transkripsi percakapan, identifikasi dan kategorisasi presuposisi, dan analisis dokumen. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Teknik analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis wacana dan analisis pragmatik. Analisis wacana digunakan untuk melihat konteks makro dan mikro dalam percakapan, termasuk strategi komunikasi seller secara keseluruhan. Sementara itu, analisis pragmatik difokuskan pada pemaknaan presuposisi berdasarkan konteks menyampaikan tujuan tertentu, membangun hubungan interpersonal, dan menciptakan efek persuasif dalam live selling. Melalui kombinasi teknik ini, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman mendalam mengenai peran bahasa dalam strategi komunikasi digital di e-commerce live selling. Prosedur analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis untuk menghasilkan temuan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara Tahap pertama adalah reduksi data, proses memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data dari transkripsi 10 sesi Shopee Live. Pada tahap ini, peneliti memilih ucapan yang mengandung indikasi praanggapan, mengikuti teori klasifikasi George Yule . yang mencakup praanggapan eksistensial, faktif, leksikal, struktural, dan nonfaktif. Tahap kedua adalah kategorisasi dan pengkodean data, di mana setiap ucapan yang diidentifikasi diberi jenis prasanggapan. Tahap ketiga adalah interpretasi kontekstual yang menganalisis fungsi pragmatis ucapan dalam komunikasi streaming langsung, termasuk bagaimana praanggapan membangun kesamaan, urgensi pembelian, dan hubungan Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan melalui proses komparatif lintas merek untuk mengidentifikasi pola dan kecenderungan dominan dalam strategi linguistik yang digunakan. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menerapkan teknik teoritis dan triangulasi sumber. Triangulasi berdasarkan teori praanggapan George Yule . , teori pragmatis konteks dari Jacob L. Mey . , dan konsep common ground dari Stalnaker. Sementara itu, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari 10 merek kosmetik yang berbeda untuk memastikan konsistensi dalam pola penggunaan prasanggapan. Selain itu, keandalan analisis dipertahankan melalui proses peer-checking yang melibatkan mendiskusikan hasil pengkodean data dengan rekan-rekan yang memahami studi pragmatis untuk menghindari bias subjektivitas peneliti. Dengan langkah ini, interpretasi data tidak hanya deskriptif, tetapi juga divalidasi secara metodologis. HASIL DAN PEMBAHASAN Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Dalam bagian ini, disajikan mengenai hasil analisis presuposisi yang muncul dalam percakapan Shopee Live pada sepuluh produk kecantikan. Analisis ini dijabarkan dengan menggunakan teori dari George Yule (George Yule, 1. dan data penelitian ini bersumber dari transkrip percakapan langsung antara penjual dan pembeli selama sesi Shopee Live yang berfokus pada promosi produk kosmetik. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan dan fungsi presuposisi pragmatik dalam tuturan penjual. Temuan-temuan ini akan disajikan berdasarkan kategorisasi jenis presuposisi dan disertai dengan kutipan langsung dari transkrip sebagai bukti empiris. Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat perbedaan kecenderungan untuk menggunakan jenis praanggapan antarmerek. Merek seperti OMG dan Instaperfect cenderung mendominasi dengan menggunakan praanggapan leksikal yang menciptakan urgensi dan kelangkaan, seperti frasa Aukembali normalAy dan Ausudah berakhirAy. Strategi ini sejalan dengan teori stimulus-respons yang menekankan rangsangan berbasis waktu sebagai pemicu pembelian impulsif. Sebaliknya, merek seperti Implora dan Pinkflash lebih mengandalkan asumsi eksistensial dan faktual, menekankan pengalaman pribadi dan bukti visual untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas. Sementara itu. Glad2Glow dan Emina cenderung mengelompokkan penonton berdasarkan kategori usia dan tipe kulit, berdasarkan praanggapan Secara komparatif, dapat disimpulkan bahwa penggunaan praanggapan dalam Shopee Live tidak homogen, tetapi disesuaikan dengan positioning dan karakter brand. Merek yang menargetkan pembelian cepat cenderung menggunakan praanggapan leksikal berbasis urgensi. Sebaliknya, merek yang menekankan kualitas dan keamanan produk lebih cenderung menggunakan praanggapan faktual untuk membangun legitimasi klaim. Temuan ini menunjukkan bahwa praanggapan bukan hanya fenomena linguistik, tetapi juga merupakan bagian integral dari strategi komunikasi pemasaran digital yang direncanakan. Secara metodologis, penelitian ini juga menunjukkan bahwa analisis pragmatis dalam konteks perdagangan langsung membutuhkan pendekatan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. kontekstual yang komprehensif dan validasi data yang ketat, karena arti praanggapan sangat bergantung pada situasi interaksi waktu nyata. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada studi pragmatik terapan tetapi juga memperkaya literatur tentang komunikasi pemasaran digital melalui analisis linguistik. Identifikasi Presuposisi dalam Bahasa Penjual Dalam komunikasi di platform Shopee Live, penjual secara strategis memanfaatkan berbagai jenis presuposisi untuk membangun asumsi bersama, mengarahkan pemahaman dan mencapai tujuan komunikasi tertentu. Analisis terhadap menunjukkan adanya penggunaan dominan dari Presuposisi Eksistensial. Presuposisi Faktif. Presuposisi Leksikal, dan Presuposisi Struktural. Implora Gambar 1. Merek Kosmetik Implora Presuposisi: AuAku tuh selalu pakai lip balm duluAAy Presuposisi eksistensial: ada kebiasaan yang terus dilakukan, penekanan pada reliabilitas AuKalau kamu suka warna pinkAAy Presuposisi preferensial: diasumsikan audiens memiliki preferensi warna, memperkuat AuCocok banget buat dipakai dailyAAy Presuposisi faktif: mengasumsikan bahwa audiens memiliki rutinitas makeup harian. Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Pada merek Implora, presuposisi digunakan untuk membangun koneksi personal dan validasi produk. Penggunaan "Aku tuh selalu pakai. " merupakan contoh presuposisi eksistensial yang kuat, karena secara tidak langsung membangun kepercayaan audiens melalui pengalaman otentik penjual. Ini sejalan dengan strategi linguistik penjual dalam membangun kedekatan dan kepercayaan, di mana penjual tidak hanya sebagai promotor tetapi juga sebagai sesama pengguna (Satoto & Prastiti, 2. Presuposisi "Kalau kamu suka warna pink. " menunjukkan personalisasi komunikasi, mengandaikan pemahaman terhadap preferensi audiens, yang dapat meningkatkan daya tarik pribadi produk. Presuposisi faktif "Cocok banget buat dipakai daily. " membentuk asumsi bersama bahwa audiens memiliki rutinitas harian, sehingga produk ini secara otomatis dianggap relevan, selaras dengan bagaimana presuposisi efektif menyampaikan informasi produk dan manfaatnya secara implisit tanpa terkesan agresif (Solehah et al. , 2. Somethinc Gambar 2. Merek Kosmetik Somethinc Presuposisi: AuKalau kamu pakainya pagi dan malam, hasilnya maksimalAAy Presuposisi Eksistensial: pemakaian dua kali sehari dianggap akan menghasilkan efektivitas AuKalau kamu masih mau check-outAAy Presuposisi Leksikal: diasumsikan bahwa proses check-out sudah pernah dimulai. Dalam Somethinc, optimalisasi penggunaan dan dorongan pembelian. Presuposisi eksistensial mengenai penggunaan "pagi dan malam" mengarahkan pembeli untuk mengadopsi kebiasaan penggunaan tertentu agar mendapatkan hasil maksimal. Ini adalah bentuk penyampaian informasi produk dan manfaatnya secara implisit, di mana keberadaan hasil maksimal p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. diasumsikan jika kondisi tertentu terpenuhi. Sementara itu, presuposisi leksikal "Kalau kamu masih mau check-outA" secara halus membangun urgensi dan asumsi bahwa pembeli sudah berada dalam proses pembelian. Penggunaan kata "masih" ini menciptakan Common Ground (L. Mey, 2. bahwa tindakan check-out adalah langkah logis berikutnya, mendorong keputusan pembelian impulsif (Ridha Alfia Zachra et al. , 2. dengan memanfaatkan asumsi yang sudah ada. Emina Gambar 3. Merek Kosmetik Emina Presuposisi: AuKalau kamu punya tipe kulit yang miripAAy Presuposisi eksistensial: diasumsikan bahwa audiens dapat mengidentifikasi jenis kulit AuLangsung aja check-out sebelum live-nya berakhirAAy Presuposisi Eksistensial: audiens tahu bahwa sesi live memiliki batas waktu dan potensi AuCantik-cantik banget semuanya!Ay Presuposisi Faktif: diasumsikan bahwa audiens akan setuju bahwa produk terlihat menarik. Pada merek Emina, presuposisi diarahkan untuk personalisasi dan menciptakan urgensi penawaran. Presuposisi eksistensial AuKalau kamu punya tipe kulit yang miripAAy adalah upaya personalisasi yang cerdas, mengandaikan audiens dapat mengidentifikasi diri mereka dalam kategori tertentu. Ini membantu pembeli merasa bahwa produk tersebut relevan secara spesifik untuk mereka. Presuposisi eksistensial Ausebelum live-nya berakhirAAy secara langsung menciptakan urgensi, mengandaikan adanya batas waktu dan potensi keuntungan yang akan hilang, mendorong tindakan segera. Presuposisi faktif AuCantik-cantik Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. banget semuanya!Ay bertujuan untuk membangun kredibilitas klaim produk dengan mengasumsikan bahwa audiens akan setuju dengan fakta estetika tersebut, yang merupakan bagian dari pembentukan asumsi bersama untuk mempengaruhi persepsi positif terhadap merek (Keller, 2. Pinkflash Gambar 4. Merek Kosmetik Pinkflash Presuposisi: AuKalau kamu mau pakai foundation iniAAy Presuposisi nonfaktual: diasumsikan audiens punya niat mencoba produk. AuBisa kalian lihat sendiri di muka akuAAy Presuposisi eksistensial: audiens sedang menyaksikan secara visual, menguatkan klaim Pada merek Pinkflash, merek ini memanfaatkan presuposisi untuk mendorong niat dan memberikan validasi visual. Presuposisi nonfaktual AuKalau kamu mau pakaiAAy sangat halus dalam mendorong niat tanpa paksaan, menyiratkan adanya pilihan dan keinginan dari pihak pembeli. Ini membangun Common Ground yang berpusat pada minat audiens. Presuposisi eksistensial AuBisa kalian lihat sendiri di muka akuAAy adalah strategi persuasif yang efektif. Dengan mengandaikan audiens sedang menyaksikan secara visual, penjual memposisikan demonstrasi sebagai bukti tak terbantahkan, memperkuat kredibilitas klaim produk dan menumbuhkan rasa percaya. Ini adalah bentuk penyampaian informasi produk yang sangat transparan dan implisit. Glad2glow Gambar 5. Merek Kosmetik Glad2glow p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Presuposisi: AuUntuk usia 17 tahun ke atas, aman bangetAAy Presuposisi Eksistensial: audiens termasuk dalam kelompok usia tersebut. AuKalau kamu pakai retinol, jangan lupa pakai moisturizerAAy Presuposisi Fakta: audiens memahami urutan skincare atau pernah menggunakan retinol. AuBuat kamu yang pengen menyamarkan noday Presuposisi Non-faktif: diasumsikan audiens memiliki keinginan menyelesaikan masalah kulit tertentu. Pada Glad2glow, presuposisi digunakan untuk segmentasi audiens dan edukasi Presuposisi eksistensial "Untuk usia 17 tahun ke atas, aman bangetA" secara implisit menyaring audiens yang relevan, sekaligus mengklaim keamanan produk. Presuposisi faktif "Kalau kamu pakai retinol, jangan lupa pakai moisturizerA" merupakan contoh cerdas bagaimana presuposisi digunakan untuk menyampaikan informasi yang dianggap fakta atau pengetahuan umum. Ini tidak hanya memberikan saran penggunaan, tetapi juga secara halus menunjukkan bahwa penjual memahami kebutuhan perawatan kulit yang kompleks dari audiens, membangun kredibilitas dan kepercayaan. Presuposisi nonfaktif "Buat kamu yang pengen menyamarkan nodaA" menargetkan masalah spesifik audiens, secara langsung mengarahkan mereka pada solusi yang ditawarkan produk. Wardah Gambar 6. Merek Kosmetik Wardah Presuposisi: AuLangsung di check-out payments aja yay Presuposisi Eksistensial: pembayaran mudah dan cepat. Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. AuKalau kamu lagi cari sabunAAy Presuposisi Non-faktif: mengasumsikan audiens tengah mencari produk tertentu. Dalam komunikasi Wardah, presuposisi berfokus pada kemudahan transaksi dan identifikasi kebutuhan pembeli. Presuposisi eksistensial AuLangsung di check-out payments aja yay secara halus mendorong tindakan pembelian dengan mengasumsikan proses yang cepat dan mudah. Ini mengurangi hambatan psikologis dalam proses transaksi dan menciptakan urgensi yang persuasif (ElAokonin, 2. Presuposisi nonfaktual AuKalau kamu lagi cari sabunAAy adalah cara yang noninvasif untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik Penjual tidak berasumsi audiens pasti membeli, melainkan hanya sedang dalam pencarian, sehingga komunikasi terasa lebih empatik dan tidak memaksa, sejalan dengan konsep manajemen hubungan pelanggan yang responsive (Satoto & Prastiti, 2. Instaperfect Gambar 7. Merek Kosmetik Instaperfect Presuposisi: AuKalau live-ku sudah berakhir, kakak gak akan dapet promoAAy Presuposisi Leksikal: ada batas waktu dan peluang bisa terlewat sebagai konsekuensi. AuKalau kamu suka shade ivoryAAy Presuposisi Eksistensial: menjembatani antara preferensi lama ke rekomendasi baru. Untuk merek Instaperfect, presuposisi digunakan untuk menciptakan urgensi promo dan personalisasi pilihan produk. Presuposisi leksikal "Kalau live-ku sudah berakhir, kaka gak akan dapet promoA" adalah strategi umum dalam pemasaran digital untuk mendorong pembelian impulsif (Ridha Alfia Zachra et al. , 2. Kata "sudah berakhir" secara implisit mengkomunikasikan konsekuensi negatif dari penundaan, mendorong tindakan segera. Presuposisi eksistensial "Kalau kamu suka shade ivoryA" menunjukkan kemampuan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. penjual untuk memahami preferensi spesifik audiens. Ini menciptakan koneksi personal dan memposisikan produk yang ditawarkan sebagai kelanjutan alami dari selera audiens. Mother Of Pearls (MOP) Gambar 8. Merek Kosmetik Mother Of Pearls (MOP) Presuposisi: AuBisa banget membantu mengunci makeup selama 16 jamAAy AuBisa jadi eyeshadow, corrector, base lipsAAy Presuposisi Fakti: penjual memanfaatkannya untuk membangun kredibilitas dan keandalan klaim produk. Pada merek MOP, presuposisi faktif sangat dominan untuk membangun kredibilitas dan menonjolkan fitur produk. Klaim Aumengunci makeup selama 16 jamAy dan Aubisa jadi eyeshadow, corrector, base lipsAy menggunakan presuposisi faktif untuk menyampaikan informasi produk seolah-olah itu adalah kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Hal ini efektif dalam membangun asumsi bersama bahwa klaim tersebut valid dan dapat diandalkan (Solehah et al. , 2. Strategi ini meningkatkan daya tarik produk tanpa terlihat terlalu agresif, karena informasi disajikan sebagai Aupengetahuan bersamaAy yang lebih mudah diterima oleh pembeli (Keller, 2. OMG Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Gambar 9. Merek Kosmetik OMG Presuposisi: AuCushion saat ini sold outAAy Presuposisi Fakti: produk laris dan diminati. AuKalau kamu belum check-out sekarang, nanti harganya kembali normalAAy Presuposisi leksikal: menyiratkan suatu kondisi sebelumnya atau konsekuensi. AuKita punya voucher di sesi iniAAy Presuposisi Leksikal: penawaran hanya tersedia sekarang. Komunikasi OMG memanfaatkan presuposisi untuk menciptakan urgensi dan menunjukkan popularitas produk. Presuposisi faktif AuCushion saat ini sold outAAy merupakan strategi cerdas untuk membangun social proof dan persepsi kelangkaan, mendorong pembeli untuk bertindak cepat pada produk lain atau menantikan restock. Presuposisi leksikal AuKalau kamu belum check-out sekarang, nanti harganya kembali normalAAy dan AuKita punya voucher di sesi iniAAy adalah contoh klasik penggunaan presuposisi untuk membangun urgensi. Kata AubelumAy dan frasa Aukembali normalAy secara implisit mengindikasikan bahwa ada kesempatan yang akan terlewat jika penundaan terjadi (L. Mey, 2. , memicu pembelian impulsif (Ridha Alfia Zachra et al. , 2. Voucher yang hanya tersedia di sesi ini juga menciptakan urgensi dan rasa eksklusivitas. Sea Makeup Gambar 10. Merek Kosmetik Sea Makeup Presuposisi: AuJangan dinanti nantiAAy AuYang mau check-out di live akuAAy AuKalau kakak sudah follow, akan ada promoAAy p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Presuposisi Leksikal: menyiratkan suatu kondisi sebelumnya atau konsekuensi. mengikuti akun akan menghasilkan reward. Pada merek Sea Makeup, presuposisi berfokus pada dorongan pembelian dan penawaran eksklusif. Presuposisi leksikal AuJangan dinanti nantiAAy adalah perintah halus yang efektif untuk menciptakan urgensi, mengarahkan pembeli untuk bertindak segera agar tidak kehilangan kesempatan. Presuposisi struktural AuYang mau check-out di live akuAAy menunjukkan adanya audiens yang sudah memiliki niat beli. Ini adalah bentuk social proof yang mendorong orang lain untuk ikut bertindak. Presuposisi leksikal AuKalau kakak sudah follow, akan ada promoAAy adalah strategi yang cerdas untuk mengikat pembeli dan memanfaatkan asumsi bahwa tindakan follow sudah dilakukan. Ini tidak hanya mendorong pembelian, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan merek melalui penawaran insentif, sejalan dengan prinsip manajemen hubungan pelanggan (Satoto & Prastiti, 2. Tabel 1. Identifikasi Dan Kategorisasi Presuposisi Dalam Tuturan Penjual Shopee Live Brand IMPLORA SOMETHI Contoh Jenis Presuposisi Presuposisi AuAku tuh selalu Faktif pakai lip balm duluAAy AuKalau kamu Leksikal Penjelasan Fungsi Kata Auselalu pakaiAy sebagai fakta yang benar oleh penjual. Ini karena ada berulang dan benar-benar Frasa Auhasilnya maksimalAy Membangun produk melalui personal yang Menciptakan asumsi tentang Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. maksimalAAy ada kondisi akai pagi dan mala. yang harus Ini leksikal dari AumaksimalAy yang tidak akan tercapai tanpa syarat pada komitmen EMINA AuKalau kamu Eksistensial punya tipe kulit yang miripAAy Mengandaik ada tipe kulit yang mirip dengan kulit penjual . tau Klausa AuKalau kamu punyay ini Menunjukkan dan kesamaan PINKFLAS AuBisa kalian lihat Eksistensial sendiri di muka akuAAy Mengandaik visual yang Membangun melalui Auada di akuAy p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. GLAD2GL AuUntuk usia 17 Eksistensial tahun ke atas, aman bangetAAy WARDAH AuKalau kamu lagi Faktif cari sabunAAy ada produk n di muka AuDi muka akuAy . yang dapat dilihat. secara visual. Mengandaik audiens/pen gguna yang kategori usia 17 tahun ke AuUntuk usiay Kata Aulagi cariAy sabun yang Ini Menargetkan kelompok usia Mengasumsika sedang mencari produk tertentu Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. INSTAPER FECT AuKalau live-ku Leksikal sudah berakhir, kakak gak akan dapet promoAAy MOP AuBisa banget Faktif bantu mengunci makeup selama 16 jamAAy Frasa Ausudah berakhirAy ada batasan waktu atau ada kejadian . ive Jika live berakhir, maka promo akan hilang. Ini leksikal dari AuberakhirAy Klaim Aubisa mengunciAy jam adalah suatu fakta yang benar. Ini produk yang Membangun Memberi klaim p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. OMG AuKalau kamu Leksikal belum check-out harganya kembali normalAAy SEA MAKEUP AuKakak terlambat Faktif lagi kalau tidak check-out sekarangAAy Frasa Aukembali normalAy harga tidak . isalnya, diskon atau Ini status harga Klausa Ausudah followAy ada tindakan follow yang oleh pembeli sebuah fakta. Promo akan dari fakta ini. Meningkatkan Meningkatkan Analisis terhadap transkrip menunjukkan adanya penggunaan dominan dari beberapa jenis presuposisi pragmatik, antara lain: Presuposisi Eksistensial: Jenis presuposisi ini mengandaikan keberadaan suatu entitas, objek, atau kategori yang dirujuk dalam tuturan penjual. Penjual sering menggunakan presuposisi ini untuk menegaskan keberadaan produk, fitur spesifik, atau segmen target audiens. Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Contoh: AuYang mau check-out boleh dicekepinAAy (Data 10. Sea Makeu. mengandaikan bahwa ada produk atau keranjang belanja yang siap untuk dicek-out. Contoh lain. AuUntuk usia 17 tahun ke atas, aman bangetAAy (GLAD2GLOW) mengandaikan bahwa ada audiens/pengguna yang berada dalam kategori usia tersebut. Presuposisi Faktif Presuposisi ini muncul dari penggunaan kata kerja atau frasa yang mengindikasikan suatu fakta, di mana klausa pelengkapnya diasumsikan sebagai kebenaran yang tidak perlu Penjual memanfaatkannya untuk membangun kredibilitas dan keandalan klaim produk atau pengalaman pribadi. Contoh: AuA supaya kakak dapat promo flash sale kita ya kak ya. Ay (Data 9. Sea Makeu. mengandaikan bahwa memang ada promo flash sale yang sedang berlangsung sebagai sebuah fakta. Demikian pula, pernyataan seperti AuDia punya kandungan omega 369 sama vitamin E, yang bisa bantu menutrisi bibir kamu. Ay (Data 1. Implor. mengandaikan bahwa kandungan tersebut memang ada dan fungsinya benar. Presuposisi Leksikal Presuposisi ini terkait dengan makna leksikal kata-kata tertentu yang secara implisit membawa informasi yang diasumsikan, sering kali menyiratkan suatu kondisi sebelumnya atau konsekuensi. Penjual menggunakan jenis ini untuk menciptakan urgensi atau mengarahkan pemahaman tentang perubahan status. Contoh: AuJangan dinanti nanti untuk check-out supaya promonya ga ketinggalan ya, kakak. Ay (Data 10. Sea Makeu. di mana kata AuketinggalanAy secara leksikal mengandaikan bahwa ada kesempatan atau promo yang bisa lewat/hilang jika pembeli menunda. Frasa Aukembali normalAy seperti dalam AuKalau kakak belum check-out sekarang nanti harganya akan kembali normal ya, kakak. Ay (Data 10. Sea Makeu. mengandaikan bahwa sebelumnya harga tidak normal . isalnya, sedang diskon atau prom. Presuposisi Struktural Presuposisi ini muncul dari struktur sintaksis kalimat tertentu, seperti pertanyaan atau klausa tertentu, yang secara implisit mengandaikan kebenaran informasi yang ditanyakan atau disampaikan. Contoh: AuYang mau tanya-tanya boleh langsung aja komen-komen ya. KakakAAy (Data 10. Sea Makeu. mengandaikan bahwa ada beberapa orang yang memiliki keinginan atau p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Temuan ini secara keseluruhan menegaskan bahwa presuposisi bukan hanya sekadar alat linguistik, tetapi juga komponen kunci dalam membangun hubungan, menyampaikan nilai produk, dan pada akhirnya, mendorong transaksi dalam konteks pemasaran digital, khususnya di platform live shopping (Winaryadi & Parnaningroem, 2. Presuposisi sebagai alat pembentukan asumsi bersama dan urgensi Salah satu fungsi krusial presuposisi adalah kemampuannya untuk membangun asumsi yang sama . ommon groun. antara penjual dan pembeli. Ketika penjual menggunakan pernyataan seperti Aujika Anda belum check-outAAy, mereka secara implisit menempatkan pembeli pada posisi di mana tindakan pembelian sudah dalam proses atau Penggunaan frasa ini secara halus mengisyaratkan bahwa pembelian adalah langkah logis berikutnya, tanpa harus memberikan perintah yang terang-terangan. Pendekatan ini sangat selaras dengan pandangan Jacob L. Mey dalam Pragmatics: An Introduction yang menekankan bahwa makna pragmatis bersifat kontekstual dan intersubjektif (L. Mey, 2. Presuposisi bekerja dengan mengandalkan pengetahuan atau situasi yang diandaikan sudah diketahui atau diterima oleh kedua belah pihak. Dengan demikian, presuposisi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan urgensi yang persuasif. Urgensi ini tidak dirasakan sebagai paksaan, melainkan sebagai sebuah dorongan alami menuju penyelesaian transaksi, seolah-olah pembeli sudah berada di jalur yang benar (ElAokonin, 2. Presuposisi dalam penyampaian informasi produk dan manfaat Selain menciptakan urgensi, presuposisi juga efektif dalam menyampaikan informasi produk dan manfaatnya secara implisit. Contohnya, frasa seperti Auuntuk kulit berminyak dan menenangkanAy secara lugas mengomunikasikan kecocokan dan efektivitas produk Pernyataan ini berpresuposisi bahwa ada kebutuhan spesifik . ulit berminya. dan solusi . yang akan dipenuhi oleh produk. Temuan ini mendukung argumen Maratu Solehah. Anita, dan Tatu Siti Rohbiah dalam artikel mereka AuAn Analysis of Presupposition on The Main Characters of Frozen Movie ScriptAy (Solehah et al. , 2. Yang menunjukkan bahwa pengandaian digunakan untuk menyampaikan informasi yang dianggap sudah diketahui atau diterima bersama oleh Gaya penyampaian pesan yang tidak langsung ini memiliki keunggulan tersendiri: ia meningkatkan daya tarik produk tanpa terlihat agresif atau terlalu promosi. Informasi disajikan seolah-olah itu adalah pengetahuan bersama, sehingga lebih mudah diterima dan diinternalisasi oleh pembeli. Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Strategi linguistik penjual dalam membangun kedekatan dan kepercayaan Komunikasi yang efektif tidak hanya tentang informasi, tetapi juga tentang membangun kedekatan dan kepercayaan. Dalam konteks manajemen hubungan pelanggan, pendekatan interpersonal ini sangat relevan dengan teori Budi Dwi Satoto dan Novi Prastiti (Satoto & Prastiti, 2. Dalam AuManajemen Hubungan PelangganAy. Mereka menekankan bahwa komunikasi yang responsif dan dipersonalisasi dapat menumbuhkan keterlibatan dan loyalitas pelanggan. Presuposisi menjadi alat yang ampuh dalam strategi ini. Ketika penjual mengatakan. AuSaya juga menggunakan produk ini setiap hariAy, kalimat tersebut berpresuposisi bahwa penjual adalah sesama pengguna dan bukan hanya promotor. Ini secara efektif membangun keaslian dan hubungan baik dengan pembeli. Penjual tidak lagi hanya menjadi entitas bisnis, tetapi juga seseorang yang berbagi pengalaman yang sama, sehingga menumbuhkan rasa percaya dan kredibilitas. Pendekatan ini mengubah dinamika transaksi menjadi interaksi yang lebih personal dan empatik (Eva Eri Dia, 2. Implikasi temuan terhadap strategi pemasaran digital dan komunikasi online Temuan ini memiliki implikasi signifikan terhadap strategi pemasaran digital dan komunikasi online. Kevin Lane Keller dan Philip Kotler (Keller, 2. dalam Marketing Management: Global Edition, menjelaskan bahwa efektivitas komunikasi pemasaran tidak hanya terletak pada penyampaian informasi faktual, tetapi juga pada pembentukan persepsi dan nilai pelanggan. Melalui penggunaan presuposisi, penjual membangun citra produk yang positif melalui isyarat emosional dan naratif yang kuat. Misalnya, saat presuposisi menyiratkan bahwa produk ini adalah solusi yang dicari, hal ini menciptakan resonansi emosional yang lebih dalam. Hal ini secara signifikan meningkatkan daya tarik pribadi produk dan memperkuat kehadiran merek digital. Di lingkungan online yang kompetitif, kemampuan untuk berkomunikasi secara implisit namun efektif sangatlah berharga dalam membedakan merek dan menarik perhatian audiens. Hubungan antara Penggunaan Presuposisi dan Keputusan Pembelian Selanjutnya, ada hubungan yang kuat antara penggunaan presuposisi dan keputusan Anggapan yang menyiratkan urgensi, kesesuaian, dan bukti sosial . eperti penggunaan oleh penjual sendiri atau asumsi "sudah tahu" manfaatny. cenderung mendorong pembelian impulsive (Ridha Alfia Zachra et al. , 2. Ketika presuposisi berhasil memposisikan audiens sebagai bagian dari komunitas produk atau sebagai p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Ziyan Annisah1. Nasiha Amirotul Khoiriyah2. Tatu Siti Rohbiah3 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. seseorang yang 'pasti' membutuhkan produk tersebut, penjual meningkatkan kemungkinan pembelian langsung dan loyalitas merek jangka panjang (Munafis, 2. Hal ini mencerminkan prinsip perilaku konsumen bahwa keputusan pembelian seringkali lebih banyak didorong oleh nilai emosional yang dirasakan daripada sekadar fitur produk yang rasional. Presuposisi memanfaatkan aspek emosional ini dengan menciptakan narasi yang menggoda, asumsi yang memvalidasi, dan rasa urgensi yang halus, yang secara kolektif memengaruhi proses pengambilan keputusan pembeli. SIMPULAN Penelitian ini menyoroti peran penting presuposisi pragmatik dalam strategi branding kosmetik di Shopee Live. Penjual menggunakan presuposisi secara cerdas untuk membangun asumsi bersama dan menciptakan urgensi pembelian tanpa paksaan, seperti frasa Aujika Anda belum check-outAAy. Penggunaan ini juga efektif dalam menyampaikan informasi produk dan manfaatnya secara implisit, seperti Auuntuk kulit berminyak dan menenangkan,Ay yang secara tidak langsung menekankan kecocokan dan efektivitas produk. Presuposisi membantu membangun persepsi positif dan memperkuat kehadiran merek secara digital dengan mengubah transaksi menjadi interaksi yang lebih personal dan empatik, seperti contoh AuSaya juga menggunakan produk ini setiap hariAy yang membangun keaslian dan kepercayaan. Bagi penjual di Shopee Live, pemahaman mendalam tentang presuposisi dapat menjadi alat strategis. Disarankan untuk memanfaatkan presuposisi eksistensial untuk menegaskan ketersediaan produk, presuposisi faktif untuk membangun kepercayaan melalui klaim kredibel dan pengalaman otentik, serta presuposisi leksikal untuk menciptakan urgensi yang sehat. Penelitian selanjutnya dapat memperluas studi ini dengan menganalisis variasi sesi live selling dari berbagai platform atau jenis produk, meneliti dampak kuantitatif presuposisi terhadap tingkat konversi penjualan, dan mengeksplorasi aspek pragmatik lain seperti implikatur atau tindak tutur, serta studi perbandingan lintas DAFTAR PUSTAKA