Jurnal Teknologi Industri (JTI) Vol. No. Februari 2026, hal. 1 Ae 14 ISSN: 2302-2191 (Prin. 3030-9964 (Onlin. https://doi. org/10. 35968/jti. Open Access Prototipe Smartclass: Sistem Pengaturan Suhu AC Otomatis Menggunakan Mikrokontroler Dan Sensor DHT-22 Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Reza Para Adilla Ramadhany1. Tateng Sukendar2 Prodi Teknik Elektro. Fakultas Teknik Dirgantara dan Industri. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Jakarta. Indonesia Info Artikel Histori Artikel: Diajukan: 10 Februari 2026 Direvisi: 20 Februari 2026 Diterima: 6 Maret 2026 Kata kunci: Pengaturan Suhu Otomatis Mikrokontroler Sensor Dht-22 Smartclass Internet Of Things Keywords: Automatic Temperature Control Microcontroller DHT-22 Sensor Smartclass Internet Of Things. Penulis Korespondensi: Reza Para Adilla Ramadhany Email: cqz2002@gmail. ABSTRAK Kenyamanan termal di ruang kuliah merupakan faktor penting dalam mendukung efektivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Pengoperasian Air Conditioner secara manual yang masih diterapkan di berbagai institusi pendidikan menunjukkan keterbatasan dalam merespons perubahan kondisi lingkungan secara dinamis. Kenyamanan termal ruang kuliah menjadi faktor penentu kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi. Studi ini mengembangkan sebuah prototipe pengendali suhu Air Conditioner berbasis mikrokontroler Wemos D1 Mini dan dua unit sensor DHT-22 yang dihubungkan dengan ekosistem Home Assistant guna mewujudkan lingkungan Smartclass yang cerdas di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Pendekatan yang digunakan adalah metode eksperimental berbasis pengembangan sistem Internet of Things dengan algoritma kontrol ON-OFF threshold yang mempertimbangkan data suhu indoor dan outdoor secara bersamaan. Validasi sistem dilakukan melalui 35 titik pengamatan, mencakup 15 data indoor, 15 data outdoor, dan 5 skenario pengujian kontrol otomatis. Sensor DHT-22 menunjukkan unjuk kerja yang memuaskan dengan nilai rata-rata deviasi 0,93% pada lingkungan dalam ruangan dan 0,98% pada lingkungan luar ruangan, keduanya masih dalam ambang batas yang ditetapkan standar internasional ISO 2859 sebesar 1Ae5%. Modul pemancar infrared beroperasi secara andal pada rentang jarak hingga 7 meter dengan capaian keberhasilan transmisi 100%. Keunggulan utama penelitian ini dibandingkan sistem single-sensor konvensional terletak pada kemampuan pembacaan suhu ganda secara simultan yang menghasilkan keputusan pengaturan AC lebih adaptif. Melalui integrasi platform Internet of Things, pemantauan kondisi ruangan dan pengendalian jarak jauh dapat dilakukan secara realtime tanpa keterlibatan operator secara langsung. Thermal comfort in lecture rooms is an important factor in supporting the effectiveness of learning in higher education. Manual operation of Air Conditioners that is still applied in various educational institutions shows limitations in responding to changes in environmental conditions dynamically. This study aims to develop a prototype of an automatic Air Conditioner temperature control system based on Wemos D1 Mini microcontroller and DHT-22 sensor integrated with the Home Assistant platform to support the Smartclass concept at Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. experimental method with an Internet of Things prototype development approach was applied through stages of literature study, hardware and software design, implementation, and system testing. The test results show that the DHT-22 sensor is able to read temperature with a very good level of accuracy, producing an average error of 0. 93% for indoor conditions and 0. 98% for outdoor. The Infrared transmitter module functions optimally at an effective distance of up to 7 meters with a 100% success rate in sending control commands. The system is proven to be able to maintain room temperature stability according to the setpoint determined automatically without requiring manual intervention. Integration with Home Assistant enables real-time remote monitoring and control, creating a comfortable learning environment while increasing energy efficiency in modern classrooms. Copyright A 2026 Author. All rights reserved Creative https://journal. id/index. php/jti Reza Para Adilla Ramadhany dan Tateng Sukendar : Prototipe Smartclass: Sistem Pengaturan Suhu AC Otomatis Menggunakan Mikrokontroler Dan Sensor DHT-22 Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma PENDAHULUAN Kenyamanan termal di lingkungan pembelajaran menjadi faktor penting yang mendukung efektivitas proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Penggunaan Air Conditioner (AC) di ruang kelas modern seperti Smartclass terus mengalami peningkatan untuk menciptakan kondisi optimal bagi mahasiswa dan dosen. Namun demikian, pengoperasian AC secara manual yang masih diterapkan di berbagai institusi pendidikan menunjukkan kelemahan signifikan dalam merespons dinamika kondisi lingkungan ruangan. Sistem manual cenderung kurang efisien karena tidak mampu menyesuaikan kebutuhan suhu secara otomatis berdasarkan waktu dan situasi spesifik yang terjadi di dalam ruangan . Kemajuan teknologi mikrokontroler dan sensor digital telah membuka peluang pengembangan sistem kontrol suhu yang lebih intelligent, otomatis, dan hemat energi. Sensor DHT22 menjadi salah satu komponen yang kerap dimanfaatkan dalam prototipe sistem kontrol suhu karena kemampuannya membaca suhu secara real time dengan tingkat akurasi yang memadai untuk aplikasi embedded Pengembangan prototipe alat pendingin otomatis berbasis mikrokontroler dan DHT-22 telah terbukti efektif dalam menjaga kondisi suhu ruangan tetap stabil, sehingga pengguna tidak perlu melakukan pengaturan manual secara berulang-ulang . Berbagai kajian terkini memperlihatkan bahwa penggabungan sensor suhu, unit mikrokontroler, dan antarmuka kendali berbasis Internet of Things seperti Home Assistant mampu menghadirkan solusi pemantauan jarak jauh sekaligus pengendalian kondisi ruangan secara waktu nyata . Meski demikian, sejumlah celah teknis masih ditemukan pada riset-riset terdahulu yang perlu ditangani lebih lanjut. Studi yang dilakukan hanya memanfaatkan satu sensor untuk membaca kondisi dalam ruangan sehingga dinamika suhu eksternal tidak ikut diperhitungkan dalam logika pengambilan keputusan sistem. Variabel suhu luar ruangan sebagai masukan tambahan pada algoritma kontrolnya, sebelum memanfaatkan platform terpadu yang memungkinkan interkoneksi antarperangkat IoT secara menyeluruh . Pemilihan sensor DHT-22 dalam penelitian ini didasarkan pada sejumlah keunggulan teknis yang dimilikinya. Sensor ini sanggup mengukur suhu pada rentang -40AC hingga 80AC dengan resolusi 0,1AC dan tingkat simpangan maksimal A0,5AC, jauh melampaui performa DHT-11 yang hanya mampu mencapai akurasi A2AC. Selain itu, keluaran data digital sensor ini kompatibel secara langsung dengan mikrokontroler berbasis ESP8266, serta telah terbukti bekerja secara konsisten dalam berbagai implementasi sistem pemantauan lingkungan berbasis IoT . Kondisi aktual ruang kelas di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma berdasarkan pengamatan awal menunjukkan bahwa temperatur ruangan tanpa sistem otomasi berkisar antara 27AC hingga 31AC pada rentang waktu pukul 10. 00 hingga Rentang ini menyimpang cukup jauh dari standar kenyamanan termal ruang belajar yang ditetapkan SNI 03-6572-2001, yakni 24AC hingga 26AC. Kesenjangan antara kondisi nyata dan standar yang berlaku inilah yang menjadi landasan kuat bagi urgensi dikembangkannya sistem pengaturan suhu otomatis pada penelitian ini. Menjawab permasalahan tersebut, prototipe yang dikembangkan tidak sekadar mempertahankan suhu pada nilai setpoint tertentu, melainkan juga dirancang mampu beradaptasi secara dinamis terhadap perubahan kondisi lingkungan tanpa memerlukan campur tangan pengguna secara berkelanjutan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana merancang dan mengimplementasikan sistem pengaturan suhu AC otomatis berbasis mikrokontroler dan sensor DHT-22 yang mampu bekerja secara real time di ruang kuliah Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma sebagai bahan rujukan untuk Smartclass? . Bagaimana mekanisme pembacaan dan pengolahan data suhu dari sensor DHT-22 untuk menentukan keputusan pengaturan suhu AC secara otomatis? . Bagaimana kinerja sistem dalam menjaga kestabilan suhu ruangan dibandingkan dengan pengaturan AC secara manual?. Penelitian ini memiliki beberapa batasan agar lebih terfokus, yaitu: . Penelitian hanya membahas pengaturan suhu ruangan dan tidak membahas pengaruh kelembapan udara secara mendalam. Sensor yang digunakan sebagai input sistem adalah sensor DHT-22 untuk membaca suhu ruangan. Sistem pengaturan AC bekerja secara otomatis berbasis mikrokontroler tanpa melibatkan pengaturan manual selama proses pengujian. Implementasi dan pengujian sistem dilakukan pada satu ruang Unsurya sebagai objek penelitian. Evaluasi sistem dibatasi pada kemampuan menjaga kestabilan suhu ruangan serta perbandingan dengan pengaturan AC secara manual, tanpa membahas konsumsi energi listrik secara detail. JTI, 15 . Februari, hal. 1Ae14 Reza Para Adilla Ramadhany dan Tateng Sukendar : Prototipe Smartclass: Sistem Pengaturan Suhu AC Otomatis Menggunakan Mikrokontroler Dan Sensor DHT-22 Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Penelitian ini bertujuan untuk: . Merancang dan merealisasikan sistem pengaturan suhu AC otomatis berbasis mikrokontroler dan sensor DHT-22 yang bekerja secara real time di ruang kuliah Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma sebagai bahan rujukan untuk Smartclass. Mengimplementasikan proses pembacaan dan pengolahan data suhu dari sensor DHT-22 sebagai dasar pengambilan keputusan pengaturan suhu AC secara otomatis. Menguji dan menganalisis kinerja sistem dalam menjaga kestabilan suhu ruangan serta membandingkannya dengan sistem pengaturan AC secara manual. Kebaharuan penelitian ini terletak pada tiga aspek utama: . Integrasi sistem kontrol suhu AC berbasis dual-sensor DHT-22 yang mampu membaca suhu indoor dan outdoor secara simultan untuk menghasilkan keputusan pengaturan yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan eksternal. Implementasi protokol komunikasi ESPHome yang terintegrasi penuh dengan ekosistem Home Assistant, memungkinkan interoperabilitas dengan berbagai perangkat Internet of Things lainnya dalam satu platform terpadu untuk konsep Smartclass yang komprehensif. Pengembangan algoritma kontrol otomatis yang tidak hanya berfokus pada pencapaian setpoint suhu, tetapi juga mempertimbangkan perbedaan suhu indoor-outdoor sebagai parameter tambahan dalam pengambilan keputusan, sehingga menghasilkan efisiensi energi yang lebih optimal dibandingkan sistem kontrol konvensional berbasis single-sensor. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pendekatan pengembangan prototipe sistem Internet of Things (IoT) untuk pengaturan suhu AC otomatis. Rangkaian metode dirancang secara sistematis mulai dari tahap konseptual hingga implementasi untuk memastikan sistem dapat bekerja optimal dalam mengatur suhu ruangan secara otomatis dan efisien. Prosedur Penelitian Tahapan penelitian diawali dengan studi literatur untuk membangun landasan teoretis yang kuat mengenai konsep IoT dalam bidang pendidikan dan manajemen energi . , spesifikasi mikrokontroler Wemos D1 Mini berbasis ESP8266, karakteristik sensor DHT-22 sebagai pembaca suhu dan kelembapan, serta penggunaan IR Modul untuk mengendalikan perangkat elektronik melalui sinyal Studi ini juga mencakup eksplorasi pemanfaatan LCD I2C 20x4 sebagai media tampilan data secara real-time. Seluruh referensi diperoleh dari jurnal ilmiah, buku teks, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian. Setelah fondasi teoretis terbentuk, dilakukan perancangan perangkat keras . ardware desig. yang terdiri dari beberapa komponen utama. Sistem dirancang menggunakan sensor DHT-22 sebagai input pembaca suhu, mikrokontroler Wemos D1 Mini sebagai pusat pemrosesan data, modul IR sebagai pengendali AC, serta LCD I2C sebagai media tampilan informasi kondisi sistem. Hubungan antarkomponen yang saling terintegrasi untuk menciptakan sistem pengaturan suhu otomatis yang responsif terhadap perubahan kondisi ruangan ditunjukkan pada Gambar Gambar 1. Diagram Blok Perancangan Hardware Sistem Smartclass Tahap perancangan perangkat lunak . oftware desig. memanfaatkan mikrokontroler ESP8266 yang terintegrasi dengan ESPHome dan Home Assistant untuk pemantauan dan pengendalian suhu secara otomatis. Sistem membaca data suhu dari sensor DHT22 lokal dan data suhu dalam serta luar ruangan dari Home Assistant, kemudian menampilkannya pada LCD I2C secara real-time. Berdasarkan pembacaan suhu dalam ruangan, sistem mengendalikan AC Panasonic melalui sinyal infrared untuk menyesuaikan suhu sesuai setpoint yang telah ditentukan. Proses ini berlangsung secara berulang sehingga kenyamanan suhu ruangan dapat terjaga secara konsisten. Implementasi prototipe dilakukan ISSN: 2302-2191 (Prin. 3030-9964 (Onlin. Reza Para Adilla Ramadhany dan Tateng Sukendar : Prototipe Smartclass: Sistem Pengaturan Suhu AC Otomatis Menggunakan Mikrokontroler Dan Sensor DHT-22 Di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma dengan merakit seluruh komponen menjadi satu kesatuan sistem. Wemos D1 Mini diprogram sesuai kode yang telah dirancang, kemudian dihubungkan dengan PSU Mini 5V 2A, sensor DHT-22. IR Modul, dan LCD I2C. Prototipe ini menjadi representasi fisik dari sistem pengaturan suhu otomatis yang diuji dalam kondisi simulasi ruang kelas di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Tahap pengujian sensor DHT-22 bertujuan untuk mengkaji tingkat presisi dan konsistensi sensor dalam merekam kondisi termal ruang kuliah . Sebagai komponen input utama, sensor ini memegang peranan sentral dalam menyuplai data lingkungan yang dibutuhkan sistem Smartclass untuk menentukan respons pengendalian AC secara tepat. Sensor dipasang pada titik yang dianggap paling mewakili distribusi suhu di dalam ruangan dan dihubungkan langsung ke mikrokontroler Wemos D1 Mini. Sebelum proses pengujian dimulai, dilakukan prosedur kalibrasi dengan menempatkan sensor DHT-22 dan termometer digital bersertifikat secara berdampingan pada kondisi suhu yang identik selama 10 menit. Tujuannya adalah memastikan kestabilan pembacaan keduanya sebelum nilai offset dicatat sebagai acuan koreksi. Pengambilan data dilaksanakan secara berkala dengan interval 30 menit pada setiap sesi pengujian, dan setiap nilai yang ditampilkan sensor langsung dikomparasikan dengan pembacaan termometer referensi pada waktu yang sama. Derajat akurasi sensor dinyatakan dalam persentase error menggunakan rumus: yaycycycuyc (%) = . |(Suhu Referensi Oe Suhu DHTOe. | y 100% Suhu Referensi