Laporan Kasus Laporan Kasus : Kejadian Hydrocephalus Communicans pada Kasus Fraktur Basis Kranii Fossa Media dengan Meningitis dan Pneumosefalus Feda Anisah Makkiyah Rumah Sakit Umum Tarakan Jakarta Alamat korespondensi: Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510 Abstrak Kejadian hydrosephalus pada pasien cedera kepala merupakan kasus yang sering, tetapi dengan penyebab meningitis insidensinya sangat kecil. Kasus ini membahas pasien fraktur basis kranii dengan pneumosephalus yang kemudian berkembang menjadi meningitis dengan komplikasi Diagnosis dan intervensi obat-obatan dan pembedahan akan mengurangi mortalitas dan morbiditas dari kasus semacam ini. Kata kunci : Hidrosefalus communican, meningitis, fraktur basis kranii fossa media, pneumosefalus The Incidence of Hydrocephalus Communicans in The Fracture of Bases Cranii Fossa Media with Meningitis and Pneumocephalus Abstrak The incidence of hydrocephalus in patients with had injury is frequent, but with the cause of meningitis the incidence is very rare. This case will discuss about the patients with bases cranii fracture and pneumocephalus that develop into meningitis with hydrocephalus complications. Diagnosis drugs intervention and surgery will decrease the mortality and morbidity in this case. Keywords : Hidrosefalus communican, meningitis, fraktur basis kranii fossa media, pneumosefalus Pendahuluan Posttraumatic hydrocephalus (PTH) sering ditemukan dan merupakan komplikasi yang serius mengikuti traumatic brain injury (TBI). Insidensinya bervariasi dari satu penelitian ke penelirian yang lain, tergantung kriteria yang berbeda untuk mendiagnosisnya. Kishor et al. melaporkan insidensinya mencapai 15% pada pasien dengan cedera kepala berat. 1 Menurut Zander dan Forogloy, kira-kira 10% pada pasien dengan koma yang berkepanjangan dengan hydrocephalus pada penelitian cedera kepala skala besar. Hidrosephalus hubungan antara rongga ventrikel dan rongga subarakhnoid berjalan dengan baik, biasanya terjadi gangguan pada penyerapan cairan Mekanisme yang jelas adalah oklusi dari villi arakhnoid, disebabkan oleh darah dan mediator inflammasi. Fraktur tulang yang hebat, perdarahan dan meningitis merupakan faktor predisposisi terjadinya hidrosefalus ini. Meningitis setelah cedera kepala tidak sering dengan insidensi 0. 03 %, pada studi di pusat trauma di Amerika meningitis pada cedera kepala 0,56%, 44% di antaranya dengan kebocoran cairan serebrospinal, 78% Kedokt Meditek Volume 22. No. 60 Sept-Des 2016 Laporan Kasus : Kejadian Hydrocephalus Communicans pasien dengan pneumosefalus. 4 Pneumosefalus pneumatosel adalah adanya udara di subarakhnoid, ventrikel atau jaringan otak. Insidensi Fraktur Basis Kranii 3-25%, dengan 10-30% di antaranya dengan kebocoran cairan Laporan kasus mengenai kejadian meningitis yang disertai hidrosefalus pada cedera kepala tidak banyak. Dengan adanya pembelajaran bagaimana menangani kasus cedera kepala Kasus Klinis dengan kesadaran penuh dan adanya cairan keluar dari telinga kiri. Pemeriksaan klinis mengindikasikan adanya otorrhea kiri dan adanya vulnus laseratum di parietal kiri. Pasien ini dirawat di ruang biasa dan mulai diberikan antibiotik ceftriaxone dan perawatan luka di kepalanya. Dari CT Scan kepala didapatkan adanya pneumosefalus intrakranial. Pasien diberikan oksigen face mask 8 liter/m. 3 hari selama dirawat pasien merasakan perbaikan dan mulai mobilisasi berjalan. Hari keempat pasien mengeluhkan nyeri kepala dan panas Nyeri kepala dirasakan terus menerus di daerah dahi dan tidak berhubungan dengan 45 tahun laki laki, mengalami kecelakaan motor, datang ke emergensi Gambar 1. CT Scan Kepala Keterangan Pelebaran temporal horn dan ventrikel tiga yang membulat dengan gambaran mickey mouse appearance Pada hari ke tujuh didapatkan kaku kuduk yang jelas dan panas badan. Diagnosis pemeriksaan fisik, peningkatan protein dan penurunan glukosa di cairan cerebrospinal dan pemeriksaan darah mengindikasi leukositosis . 00/mm. Dari kultur cairan serebrospinal atau kultur darah tidak ditemukan Antibiotik yang diberikan ditambah dengan vancomycin intravena, sambil menunggu hasil kultur darah. Pneumosefalus terlihat perbaikan dari CT Scan kepala. Pasien didiagnosis dengan traumatik meningitis. Hari ke 11 pasien dilaporkan penurunan kesadaran. GCS pada saat diperiksa 12 dan dari CT scan didapatkan adanya hidrosefalus comunican. Pasien eskternal ventrikular drainase untuk menurunkan tekanan intrakranial. Pasien membaik dan pulang dengan perbaikan. Kedokt Meditek Volume 22. No. 60 Sept-Des 2016 Diskusi Pneumosefalus, terjadi karena 2 faktor utama . perbedan tekanan ekstrakranial dan intrakranial . Adanya defek tulang yang menutupi otak. Nyeri kepala adalah simptom yang paling sering dan terjadi pada 113 kasus. Kebocoran cairan serebrospinal pada 91 kasus. Meningitis terjadi pada 68 kasus. 4 Insidensi meningitis pada pasien trauma berkisar 0,2 8% dan risiko meningkat dengan adanya fraktur basis, kebocoran cairan otak dan pneumosefalus dikatakan juga udara di intradural dan colume lebih besar dari 10 cc sebagai faktor risiko sekunder meningitis pada pasien trauma dengan Kebocoran cairan otak dan perdarahan intrakranial merupakan faktor risiko utama Laporan Kasus : Kejadian Hydrocephalus Communicans berkembangnya meningitis pada pneumosefalus karena trauma. Pneumosefalus meningkatkan 4 kali risiko terjadinya meningitis, rhonorea meningkatkan 23 kali dan otorrhea meningkatkan 9 kali. Adanya fistula di sistem saraf pusat merupakan akses langsung dari flora nasopharing dan telinga tengah menyebar ke rongga subarakhnoid. Patogen yang biasanya ditemui adalah Steptococcus pneumonia. Haemophilus influenza, yang jarang gram Publikasi pentingnya pemberian antibiotik sebagai cara untuk menurunkan meningitis, disarankan pneumocsefalus, diberikan 5-7 hari setelah kebocoran cairan serebrospinal berhenti. Antibiotik ini akan mempertahankan sterilitas dari cairan serebrospinal sampai dura menutup dengan sempurna atau dikoreksi dengan Antibiotik akan meeradikasi kolonisasi bakteri di nasopharing, sinus nasalis dan dural canal. Pasca-traumatik hidrosefalus jarang dilaporkan dalam literatur. Kishor et al melaporkan insidensinya mencapai 15 persen pada pasien dengan cedera kepala berat. Menurut Zander dan Foroglou. 2 kurang lebih 10 persen pada penelitian skala besar cedera kepala dan koma yang berkepanjangan berkembang menjadi hidrosefalus dengan derajat yang berbeda. Baltas et al melaporkan pengalaman dengan 15 dari 860 pasien dengan cedera kepala sedang dan berat . 74 %), 2 diantaranya mendapatkan intrathecal amikasin untuk post traumatik meningitis. Mungkin ada aseptic inflamasi dari meningen yang menyebabkan oklusi dari sisterna basalis. Hal yang sama, meningitis yang mengikuti cedera kepala berkembang menjadi hidrosefalus Hidrosefalus comunican dengan ventrikel yang berkembang cepat bisa terjadi dalam beberapa jam pada cedera kepala berat7 . Kesimpulan sebaiknya mendapatkan perawatan lebih dini dan perhatian yang serius. Daftar Pustaka