JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram Siti Halimatussoleha1. Novi Anograjekti1. Miftahul Khairah Anwar1 Prodi Linguistik Terapan. Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Indonesia *Corresponding author email:Sholehahe4572@gmail. Article Info Article history: ABSTRACT Received August 05, 2025 Approved August 20, 2025 Keywords: Sasak Language. Sosiolinguistics. Language Preservation. This study aims to determine the condition of Sasak language usage, attitudes toward Sasak language preservation, and factors influencing attitudes toward Sasak language The method used in this study is qualitative descriptive research with the research subjects being the Sasak tribe community in Mataram District. Kekalik Kebon Village. Mataram City. NTB. The data consists of words or sentences obtained from research informants. The data sources in this study were the native speakers of the Kekalik Kebon neighborhood. Mataram District. Mataram City, through interviews with the native speakers. Additionally, direct observations were conducted in the field to observe the language usage. The data was analyzed using interactive analysis, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the data analysis, it can be concluded that . the Sasak language is still used by the Kekalik Kebon community, although teenagers and children often use a mixture of Sasak and Indonesian . The attitude toward the preservation of the Sasak language is by preparing the mindset or behavior and thoughts of the community in Mataram District, particularly in the Kekalik Kebon area, to use the Sasak language more dominantly when . The factors influencing the attitude toward the use of the Sasak language in Mataram District. Kekalik Kebon area, are age, atmosphere, and topic. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pemakaian bahasa Sasak, sikap pemertahanan pemakaian bahasa Sasak, dan faktor yang mempengaruhi sikap pemertahanan pemakaian bahasa Sasak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan objek penelitian adalah masyarakat suku Sasak di Kecamatan Mataram. Kelurahan Kekalik Kebon Kota Mataram NTB. Adapun data berupa kata-kata atau kalimat yang diperoleh informan penelitian. Sumber data dalam penelitian ini masyarakat tutur masyarakat Lingkungan Kekalik Kebon. Kec. Mataram. Kota Mataram dengan melakukan wawancara pada masyarakat tutur asli. Selain itu juga melakukan obeservasi atau pengamatan langsung di lapangan untuk melihat penggunaan bahasa yang dipakai. Data dianalisis mengunakan analisis interaktif, yaitu reduksi data, penyajan data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa . kondisi pemertahanan bahasa Sasak masih tetap digunakan oleh masyarakat kekalik kebon meskipun pada ranah remaja dan anak-anak sering mengunakan campur kode anatara bahasa Sasak dan bahasa Indonesia . sikap pemertahanan pemakaian bahasa Sasak adalah dengan mempersiapkan mental atau perilaku dan pikiran pada masyarakat Kecamatan Mataram khusunya di lingkungan Kekalik Kebon dengan lebih dominan mengunakan bahasa Sasak ketika berkomunikasi . faktor-faktor yang mempengaruhi sikap pemakaian bahasa Sasak di Kecamatan Mataram Lingkungan Kekalik Kebon adalah faktor usia, suasana, dan topik. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon MataramA - 2042 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Halimatussoleha. Anograjekti. , & Anwar. Pemertahanan Bahasa Sasak pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Kota Mataram. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2042Ae2053. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk yang tidak akan dapat hidup sendiri atau akan hidup berkelompok dalam suatu masyarakat, sehingga manusia perlu berintraksi dengan manusia Pada saat manusia memerlukan keberadaannya untuk diakui, interaksi itu terasa semakin Karenanya, kegiatan berintraksi ini memerlukan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media untuk manusia dalam melakukan sosialisasinya dengan manusia lain. Tentang bahasa sudah banyak para ahli dalam dan luar negeri yang mengkaji bahasa, anatara lain Keraf. Syamsudin. Wahyu Wibowo. Blomfied dll. Menurut Keraf, bahasa memiliki dua pengertian, yanitu pertama bahasa merupakan alat komunikasi anatara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap Dan kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vocal . unyi ujara. yang bersifat arbiterer (Keraf, 1993. Chaer & Agustin, 2. Disamping itu, adapun pengertian bahasa daerah, yaitu penamaan bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang yang anggota-anggotanya secara relatif memperlihatkan frekuensi interaksi yang lebih tinggi dianata mereka dibandingkan dengan mereka yang tidak bertutur dalam bahasa daerah Wilayah Kekalalik Kebon merupakan salah satu wilayah Kota Mataram yang penduduknya terdiri atas beraneka ragam latar belakang sosial dan bahasa. Beraneka ragaman latar belakang tersebut dapat memunculkan kendala terhadap pola pengunaan bahasa dan sikap bahasa masyarakat Kota Mataram. Menurut keadaan sosial, penduduk Kekalik dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu penduduk asli dan penduduk pendatang. Penduduk pendatang adalah orang-orang imigran yang pindah ke Kota Mataram dengan alasan ingin bekerja di Mataram atau alasan lainnya. Sementara, penduduk asli adalah suku Sasak yang telah lama mendiami wilayah Mataram. Suku Sasak dari sudut pandang keberadaannya memiliki sedikit perbedaan dari suku-suku lainnya, perbedaan yang paling mecolok adalah mereka berada di kawasan Kota Mataram, dimana beraneka ragamnya latar belakang suku dan bahasa yang berbeda mendiami kota tersebut, sehingga wajarlah Kota Mataram tidak hanya di miliki oleh suku Sasak saja. Namun, suku-suku pendatang juga ikut menyemarakan Kota Mataram, khususnya di wilayah Kecamatan Sekarbela. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya lingkungan, keluarga, sosial ekonomi, dan sebagainya. Dengan kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya interaksi dengan suku lain di sekitarnya, sehingga memungkinkan masyarakat tersebut menjadi bilingual . ua bahas. Hal ini disebabkan karena terjadinya komunikasi yang saling mempengaruhi anatara berbagai banyak suku yang terdapat di lingkungan kekalik kebon, sehingga mengakibatkan bahasa sasak mulai Selain itu, penentuan mitra tutur yang terlibat di dalam proses pemakaian bahasa, seperti pola pemakaian bahasa berdasarkan usia, status sosial, etnis dan sebagainya. Contohnya, pemakaian bahasa oleh penutur sasak dalam ranah pertemanan dan mitra tuturnya, pemakaian bahasa oleh penutur sasak dalam ranah pertemanan dan mitra tuturnya berdasarkan etnis, yaitu sesama etnis . eusia, lebih muda, lebih tu. dan berbeda etnis . eusia, lebih muda, lebih tu. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2043 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Pemertahanan bahasa Sasak dimulai dari kata sapaan dimaksudkan untuk memperkuat kosa kata dari orang terdekat mereka di dalam lingkungan keluarga. Orang tua merupakan guru pertama dalam memperoleh bahasa. Sehingga bahasa Sasak bisa tetap dilestarikan dan dimulai dari keluarga sampai pada lingkungan di luar keluarga. Permasalahannya adalah bagaimana tetep mempertahankan bahasa Sasak untuk komunikasi dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan yang lainnya. Untuk itu penelitian ini dilakukan pendekatan sikap terhadap para orang tua agar tetap mengunakan bahasa Sasak sebagai media komunikasi sehari-hari. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran bahasa Sasak. Dengan adanya pendekatan sikap melalui metode komunikatif dapat meningkatkan pemertahanan Bahasa Sasak untuk dijadikan media komunikasi bahasa Sasak juga tetap dilestarikan dan menjadi bahasa Kategori daya hidup bahasa berdasar jumlah penutur dan bagaimana penutur dan pemerintah merawat dan memberi perhatian pada bahasa-bahasa (Krauss, 1992. Crystal, 2000. Holmes, 2. Dalam hal ini akan diteliti daya hidup bahasa berdasarkan prinsip pertukaran atau pengalihan generasi berdasarkan pertimbangan usia. Prisnsipnya adalah pertukaran generasi berlangsung dalam priode 25 tahunan. Dengan prinsip ini, pengkatagorian daya hidup bahasa dipetakan dalam tiga kategori bahasa. Kategori bahasa pertama adalah moribund language, yaitu bahasa-bahasa yang tidak lagi secara aktif digunakan dan tidak lagu dikuasai oleh penutur yang berusia di bawah 50 tahun. Bahasa-bahasa ini hanya digunakan oleh sejumlah kecil penutur yang berusia 50 tahun. Dalam hitungan satu dekade, bahasa ini punah, dalam artian tidak lagi Mungkin bahasa ini hanya tercatat dalam naskah-naskah tradisional. Bahasa-bahasa kategori kedua, yaitu endangered languange, adalah bahasa-bahasa yang hanya digunakan oleh penutur yang berusia 25 tahun ke atas. Penutur yang berusia 25 tahun ke bawah tidak lagi mengunakannya secara aktif meskipun masih mengunakan bahasa daerah pada ranah tertentu. Ada dua keadaan pengunaan oleh penutur yang berusia 25 yahun, yaitu ketika berlangsung komunikasi pada ranah akrab dan sesuatu yang bersifat pribadi- rahasia . kepada penutur yang lebih tua. Dalam komunikasi dengan sesama penutur yang sebaya atau lebih muda, kelompok usia 25 tahun ke bawah ini tidak lagi mengunakan bahasa ibunya, dan mengunakan satu bahasa lain yang diperolehnya, bahasa-bahasa daerah lokal atau bahasa nasional yang digunakan dalam komunikasi lintas-komunitas. Jadi, pengunaan bahas aibu yang dilakukan oleh penutur yang lebih tua, yaitu dua generasi ke atas, sementara terhadap generasinya sendiri, penuur berusia 25 tahun kebawah ini telah mengunakan sebuah bahasa baru yang telah Bahasa-bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa yang mengarah kepada kecendrungan berkurangnya penutur dalam satu fase generasi. Diasumsikan, bahwa jika tidak dilakukan gerakan pengunaan bahsa sendiri oleh generasi 25 tahun kebawah, dalam jangka 25 tahun ke depan, bahasa-bahasa ini menuju kepada semakin berkurangnya jumlah penutur, dan dalam siklus dua generasi, atau 50 tahun ke depan, bahasa ini akan punah . oribund languang. Bahasa yang masuk ke dalam kategori ketiga, yaitu safe language, adalah bahasa-bahasa yang masih di pelajari oleh penutur aslinya . arative speke. sebagai bahasa ibu dari kalangan usia tua sehingga anak-anak dalam berbagai ranah, seperti ranah keluarga, hubungan sosial, dan dalam berbagai acara resmi ketradisian. Kalangan tua sehingga anak-anak tetap mengunakan bahasanya dengan setia dan bangga, dalam berbagai kebutuhan berkomunikasi. Di rumah tangga, para orang tua masih tetap mengunakan bahasanya dan anak-anaknya memperoleh bahasa itu sebagai bahasa ibu . other tongue, mother languang. pada masa awal pemerolehan bahasanya . anguage Secara sosiolinguistik, masyarakat tutur yang kuat pemertahanan bahasanya Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2044 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . anguange maintainac. Dengan pemertahanan seperti ini, secara biolinguistik, bahasa tersebut dapat dipertahankan, setidaknya dalam tiga peralihan gerenasi kedepan, dalam kelipatan 3x 25 Jadi setidaknya selama 75 tahun ke depan, bahasa dalam katagori segar bugar ini dapat Bahasa-bahasa yang termasuk ke dalam kategori ini adalah bahasa nasional di berbagi negara . ermasuk di Indonesi. yang masih digunakan oleh tiga lapis generasi . sia 5-25 tahun, 26-50 tahun, dan 51-75 tahu. Selanjutnya. Kloss dalam patana . menyebutkan, ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu: kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa, kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa, dan kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis. Tipe pertama, disebutkan oleh klaoss terjadi lenyapnya guyup tutur pemakai suatu bahasa yang disebabkan oleh bencana alam. Tipe kedua, terjadi karena bergesernya pemakaian bahasa Kasus ini termasuk kasus yang paling banyak terjadi dan tentu saja kepunahan karena pergeseran bahasa ini disebabkan oleh berbagai faktor. Tipe ketiga, terjadi kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis. Misalnya, suatu bahasa turun derajat menjadi status dialek ketika guyub tuturnya tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain. Penelitian relevan dilakukan oleh Muh. Jaelani A & Suryo E dengan judul Pemertahanan Bahasa Sasak di Kecamatan Utan (Perspektif Bodily Hexis Sosiokultura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap pemertahanan bahasa pemakaian Bahasa Sasak, faktorfaktor yang mempengaruhi sikap pemertahanan bahasa Sasak dan pembawaan tubuh yang terpengaruh oleh lisan di Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Linda Ayu Darmurtika, dkk . dengan judul Pemertahanan Bahasa Sasak di Tengah Modernitas pada Sekolah Dasar Menunjukkan bahwa pelestarian bahasa Sasak di Kota Mataram menghadapi tantangan kompleks, seperti dominasi bahasa Indonesia, kurangnya kurikulum yang mengakomodasi budaya Sasak, minimnya dukungan kebijakan pemerintah, serta dampak globalisasi dan teknologi yang mengurangi ruang lingkup penggunaan bahasa Sasak di kalangan generasi muda. Beberapa strategi potensial telah diidentifikasi, antara lain integrasi bahasa Sasak ke dalam kurikulum sekolah, pemanfaatan teknologi digital sebagai media pembelajaran, dan penguatan peran komunitas lokal. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Julia Maharhaida & Sukri . dengan judul Pemertahanan Bahasa Sumbawa pada Daerah Enklave Sumbawa di pulau Lombok (Studi Kasus di Kabupaten Lombok Timu. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan hasil penelitian melalui kata-kata. Data yang didapatkan pada penelitian diperoleh dari teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. sedangkan teknik analisis data yakni melakukan interpetatif terhadap data yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemertahanan bahasa Sumbawa di daerah Enklave Sumbawa yang ada di Kabupaten Lombok Timur rata-rata tidak bisa dipertahankan masyarakat pada daerah Enklave Sumbawa sudah bergeser menggunakan bahasa Sasak maupun bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, baik itu pada ranah keluarga, pertemanan, maupun ranah pendidikan. Melihat dari hasil observasi lapangan, bahwa di lingkungan anak-anak dan remaja lebih sering mengungunakan Bahasa Indonesia dan kebanyakan orang tua memberikan bahasa pertamanya Bahasa Indonesia dengan dialek Sasak. Selain itu fakta yang terungkap di lapangan menujukkan bahwa kebanyakan anak-anak dan remaja tidak lancar berbahasa Sasak, bahkan ada yang tidak bisa namun maknanya mereka paham. Berdasarkan hasil observasi lapangan di Kekalik Kebon. Kota Mataram, bahwa jumlah penduduk berumur 5 tahun ke atas yang mengunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari dengan tetangga dan warga masyarakat lainnya mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2045 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . masyarakat khususnya generasi muda di lingkungan Kekalik Kebon apakah masih mempertahankan penggunaan Bahasa Sasak dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bagi peneliti menarik untuk diteliti lebih lanjut pemertahanan bahasanya, yaitu apakah suku Sasak di Kecamatan Sekarbela masih mempertahannkan bahasa Sasaknya dalam pergaulan sehari-hari di tengah kehidupan yang mulai melupakan kebudayaan penduduk asli dan juga meningkatnya penduduk pendatang yang menghuni wilayahnya tersebut, karena bahasa dikatakan bertahan jika masyarakat secara kolektif tetap mengunakan bahasa tradisionalnya walapun ada desakan untuk beralih mengunakan bahasa yang lain. Urgensi dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melestarikan bahasa daerah, khusunya Bahasa Sasak, agar tetap diajarkan dan digunakan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan para orang tua, pendidik, dan masyarakat luar dapat menyadari bahwa pengunaan Bahasa Sasak dalam komunikasi keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk menjaga identitas budaya lokal. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan dan promosikan Bahasa Sasak sebagai salah satu aset budaya yang bernilai tinggi milik masyarakat pulau Lombok, sehingga tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mendapat perhatian di tingkat nasional bahkan internasional sebagai bagian dari kekayaan budaya indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. METODE Penelitian ini mengkaji aspek sosiolinguistik dengan berfokus pada fenomena pemertahanan bahasa Sasak di Kekalik Kebon. Kecamatan Mataram. Kota Mataram. Study ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriftif dan bersifat sinkronis, yaitu menganalisis fenomena bahasa dala satu kurun waktu tertentu. Sebjuk penelitian terdiri dari15 informan asli di Kelurahan Kekalik Kebon. Kecamatan Mataram Kota Mataram yang terbagi menjadi tiga kelompok usia: kelompok tua . -76 tahu. kelompok remaja ( umur 10-25 tahu. dan kelompok dewasa . -41 tahu. Pengambilan data dilaksanakan langsung di lokasi penelitian bersifat kondisional dengan masyarakat setempat. Metode yang di gunakan metode simak, survei, dan cakap dengan teknik pengumpulan data berupa dalam penelitian ini mengacu pada teknik yang terdiri atas observasi, wawancara, dan rekaman. Daftar pertanyaan disusun berdasarkan hasil observasi terhadap fenomena objek penelitian agar belih terarah pada masalah yang diteliti. Instrumen penelitian yang dimanfaatkan anatara lembar observasi dan catatan lapangan, pedoman wawancara, dan rekaman audio. Analisis data dengan mengunakan teknik yaitu . teknik identifikasi data . klarifikasi data dan . deskripsi kualitatif. Data diperoleh dengan mengunakan teknik yaitu . teknik observasi/pengamatan, . rekam, dan . wawancara (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. HASIL DAN DISKUSI Kondisi Pemertahanan Bahasa Sasak Berdasarkan Ranah Pemakainya Hasil observasi menunjukkan bahwa bahasa Sasak masih digunakan dalam ranah keluarga dan ketetanggaan, meskipun kalangan anak-anak dan remaja sering mencampur bahasa Sasak dengan bahasa Indonesia. Fenomena ini sesuai dengan temuan Holmes . bahwa domain penggunaan bahasa menentukan tingkat pemertahanan bahasa. Pada generasi muda, dominasi bahasa Indonesia dalam pendidikan dan media massa mempercepat pergeseran bahasa daerah Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2046 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . (Crystal, 2000. Darmurtika et al. , 2. Namun, masih adanya percakapan sehari-hari dalam bahasa Sasak menandakan sikap positif terhadap pemertahanan bahasa (Garvin & Mathiot. Chaer & Agustina, 2. Data 1. Percakapan bahasa sasak pada ranah lingkungan keluarga dan ketetanggaan . alah satu orang tua ibu-ibu atau bapak-bapak di lingkungan kekalik kebon untuk mengetahui pemertahanan bahasa Sasa. Percakapan Terjemahan P1: Assalaualaikum wr. P2: WaAoalaikumussalam wr. wb, silak tame juluk P1: nggeh pak, matur tampiasih, ndek taing ngerepotan? P2: ndek, tiang jangke momot wah ne, ngumbean, arak gin de ketuanan ? P1: jarin ngene pak, apa side masih begawean? P2: nggeh, masih P1: ngumbean si lek taokde begawean, aman ye lekan segala bencana si ndek te meleang ? P2: Alhamdulillah sampe nengke ye aman doang P1: ape doank gawekde mun si bilang jelo ne? P2: kadang aning bangket, kadang ngurus santren mun ndek begawean, selapuk gawek tiang P1: ooh nggeh nggeh, tampiasih nggih P2: nggeh, pade-pade, dendek bosan ketek nggeh P1: nggeh pak. P1: assalaualaikum wr. P2: waAoalaikumussalam wr. wb, silahkan masuk P1: iya pak, terima kasih. Nggak ngerepotkan? P2: nggak kok, sedang ada senggang aja nih, gimana, ada yang di tanyakan? P1: jadi begini pak, apakah bapak masih P2: iya masih kok P1: bagaimana di lingkungan ini apakah aman dari segala macam bencana yang tidak di P2: alhamdulillah sampai sekarang aman-aman P1: apa saja kegiatan bapak sehari-hari? P2: kadang Aekadang ke sawah, kadang ngurus musollah tergantung kalok ada waktu senggang, semua dikerjakan. P1: oh baik pak, terima kasih ya. P2: iya sama-sama. Jangan bosan ke sini ya P1. baik pak, heheheh. Percakapan di atas merupakan peristiwa tutur yang terjadi oleh partisipan antara bapak yang berusia 68 tahun dengan anak tetangga yang berusia 27 tahun di kelurahan kekalik kebon. Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa dari segi partisipan, masyarakat Sasak di kelurahan kekalik kebon tersebut mengunakan bahasa Sasak. Hal ini disebabkan oleh karena pasrtisipan di kelurahan kekalik kebon ini sering atau tetap mengunakan bahasa Sasak dalam berintraksi seharihari. Hal tersebut menandakan bahwa di dalam berkomunikasi di ranah keluarga ataupun ketetanggaan mengunkan bahasa Sasak. Selain pengunaan bahasa sasak dalam partisipan ada juga terdapat dalam berbagai suasana dalam berbagai topik pembicaraan yang senantiasa mengunakan bahasa Sasak dalam bertutur kata atau berkomunikasi baik sesama masyarakat Sasak maupun bukan masyarakat Sasak. Data 2. Percakapan remaja atau anak muda untuk mengetahui kondisi pemertahanan bahasa Sasak di lingkungan kekalik kebon. Percakapan P1: wah nginem oat? P2: nggeh, wah onek setalah mangan P1: istirahat langsung agar segera pulih istirahat wah langsung ampok becat sehat P2: lelah tindok doang, melet sugul pete angin P1: nggeh, sugul aning taman wah nteh semendak doang, soalne arak gin ku gawek P2: siap siap juluk mun ngeno P1: nggeh, ganti kelembi doang nggeh Terjemahan P1: udah minum obat buk? P2: iya, sudah tadi setelah makan P1: istirahat langsung agar segera pulih P2: capek tidur terus, pengen ke luar cari udara segar P1: yaudah, kita ke taman bentar aja ya, soalnya ada yang harus dikerjakan. P2: siap-siap dulu kalok begitu. P1: iya, ganti baju aja ya!! Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2047 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . P3: aning mbe ni Her ? P2: gin lampak-lampak semendak aning taman, soalne inak pendak lek bale doang P3: nggeh meno, tiang endah gin aning taman, laguk ngantin bapakn Arsyad ulek juluk lengan kantor P2: nggeh meno, bedait lek taman nggeh P3: ok. Her. P3: mau kemana tuh Her? P2: mau jalan-jalan bentar ke taman, soalnya ibu suntuk di rumah terus. P3: ya udah. Aku juga mau ke taman, tapi tunggu bapaknya Arsyad pulang dulu dari P2: ok, ketemu di taman ya. P3: ok Her. Percakapan di atas merupakan peristiwa tutur yang terjadi oleh partisipan anatara ibu, anak dan tetangga di Lingkungan Kekalik Kebon. Dari percapakan di atas dapat dilihat bahwa dari segi partisipan, masyarakat Sasak di Kelurahan Kekalik Kebon tersebut mengunakan bahasa Sasak. Hal ini disebabkan karena partisipan di dusun ini jarang berkomunikasi dengan penduduk asli di kecamatan tersebut. Peristiwa tutur ini terjadi antara anak, ibu, dan tetangga. Penutur 1 yang berusia 25 tahun berperan sebagai anak, penutur 2 yang berusia 55 tahun berperan sebagai ibu dan penutur 3 yang berusia 37 tahun berperan sebagai tetangga. Percakapan tersebut mengunakan bahasa Sasak. tersebut menandakan bahwa di dalam berkomunikasi di ranah keluarga dan ketetanggaan dalam situasi apapun mereka tetap mengunakan bahasa Sasak. Data 3. Percakapan anak-anak untuk mengerahui kondisi pemertahanan bahasa Sasak di lingkungan kekalik kebon. Percakapan P1: yok, wah pade libur kanak-kanak no, inak ? P2: nggeh, karing gin nunggu kepastian tanggal tamen P1: biasen pire minggu libur P2: biasen jak 2 minggu P3: ndek, biasen tiang libur 3 minggu baruk aktif malik P2: kurang lebeh sekeno wah P1: ooh, mun libur ape doank te gawek arik? P3: ngene wah, bekedek kance tuleng-tuleng inak lek bale, soalne jarang te beang sugul sik inak P2: ajak ne ni, kereng ne sugul bekedek bareng baturne P1: ooh nggeh meno, inak, arik. Tiang ulek juluk nggih P2: nggeh, silak Terjemahan P1: yoh udah pada libur anak-anak itu bu? P2: iya. Cuma masih nunggu aja kapan pemvalidan tanggal masuknya. P1: emang biasanya berapa minggu liburnya? P2: biasanya 2 minggu P3: nggak, biasanya saya libur itu 3 minggu baru aktif kembali P2: kurang lebih segitulah P1: oh, kalok libur apa saja yang dikerjakan P3: gini dah, main dan bantu-bantu di rumah, soalnya jarang dikasih keluar sama ibu P2: bohong dia tuh, sering kok dia keluar main sama temanya. P1: oh ya terima kasih ya buk, dek. Saya pamit pulang dulu. P2: iya silahkan. Percakapan di atas merupakan peristiwa tutur yang terjadi oleh pertisipan anatara ibu dan anak, dan tetangga dalam ranah lingkungan ketetanggaan di Kekalik Kebon. Dari percakapan di atas dapat dilihat bahwa dari segi partisipan, masyarakat Sasak di dusun tersebut mengunakan bahasa Sasak. hal ini disebabkan karena partisipan di Kelurahan Kekalik Kebon berkomunikasi dengan penduduk asli di Kecamatan Mataram. Peristiwa tutur tersebut terjadi anatara ibu, anak dan tetangga. Penutur 1 yang berusia 47 tahun berperan sebagai tetangga, penutur 2 yang berusia 50 tahun yang sebagai ibu, dan yang penutur 3 berusia 17 tahun sebagai anak. Percakapan tersebut mengunakan bahasa Sasak. Hal tersebut Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2048 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . menandakan bahwa di dalam berkomunikasi di ranah keluarga dengan anggota keluarga dan dalam situasi apapun mereka mengunakan bahasa Sasak. Sikap Pemertahanan Bahasa Sikap bahasa masyarakat Kekalik Kebon dapat dikategorikan dalam tiga aspek: loyalitas, kebanggaan, dan kesadaran norma bahasa (Garvin & Mathiot, 1. Temuan lapangan menunjukkan bahwa orang tua tetap menggunakan bahasa Sasak di rumah, sehingga bahasa tersebut masih diwariskan kepada anak-anak. Hal ini sejalan dengan penelitian Al-Pansauri & Ediyono . yang menegaskan peran keluarga sangat penting dalam pemertahanan bahasa Menurut Garvin dan Mathiot memberikan penjelasan bahwa ada tiga ciri sikap bahasa yaitu: . kesetian bahasa . anguage loyalt. , ialah sikap yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan bila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain. kebanggan bahasa . anguage prid. , sikap yang mendorong orang mengembangkan dam mengunakan bahasanya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat. kesadaran adanya norma bahasa . wareness of the nor. , ialah sikap yang mendorong orang mengunakan bahasanya dengan cermat dan santun serta merupakan faktor yang berpengaruh besar terhadap perbuatan mengunakan bahasa . anguage us. haer dan agustina, 2010: 152-. Ketiga ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari sikap positif terhadap bahasa. Jika ketiga ciri itu melemah bahkan menghilang dari seseorang atau sekelompok orang masyarakat tutur, berarti itu adalah sikap negatif terhadap suatu bahasa telah menimpa diri orang atau kelompok lain. Ciri-ciri sikap bahasa di atas. Indonesia yang kondisi masyarakatnya heterogen, terutama bahasanya, memungkinkan seseorang penutur atau sekelompok masyarakat tutur mempunyai sikap tertentu terhadap suatu bahasa dan bahasa yang lainnya, misalnya terhadap bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah. Sikap bahasa yang timbul dapat berupa sikap negatif maupun sikap positif . bdul chaer, 2. Terkait sikap bahasa pemertahanan bahasa Sasak di kecamatan mataram kelurahan keklaik kebon, sikap pemertahanan bahasa dapat kita lihat ketika masyarakat lingkungan keklaik kebon berintraksi sesama tutur bahasa setempat. Dalam kondisi seperti ini bahasa yang mereka gunakan ketika berkomunikasi adalah sering mengunakna bahasa Sasak. Hal tersebut terbukti sebagaimana yang dikatakan informan 1 kepada peneliti ketika diwawancarai seperti di bawah Aubagaimanakah bentuk dan sikap pemertahanan bahasa Sasak di Kecamatan Mataram ? oh, bentuk dan sikap pemertahanan bahasa Sasak di Kecamatan Mataram Kelurahan Kekalik Kebon. Kota Mataram adalah dengan sikap lebih dominan mengunakan bahasa Sasak ketika berkomunukasi, baik dengan sesama suku Sasak maupun suku yang berbeda, karena kebiasaan sering mendengarkan percakapan orang disekitar Lingkungan Kekalik Kebon mengunakan bahasa Sasak . awancara, 17/01/2. Ay. Data tersebut menunjukkan, ketika penutur asli bahasa Sasak masih tetap mengunakan bahasa daerahanya yaitu bahasa Sasak dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunkasi dengan suku Sasak maupun suku lain. Terkadang suku lain ikut mengunakan bahasa Sasak walaupun bahasa Sasak yang digunakan tersendat-sendat tidak seperti penutur asli bahasa Sasak di lingkungan Kekalik Kebon. Hal tersebut terbukti sebagaimana yang dikatakan informan 2 kepada peneliti ketika di wawancarai seperti di bawah ini. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2049 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Aubagaimana bentuk pemertahanan bahasa sasak di Kecamatan Mataram Lingkungan Kekalik Kebon ketika berada pada ranah keluarga dan tetanga? Tentu saja, kebetulan di lingkungan kekalik kebon ini merupakan mayoritas orang Sasak asli maka bentuk pemertahanan bahasa Sasak di dalam berkomunikasi mereka mengunakan bahasa Sasak karena dengan cara seperti itu mereka dapat mempertahankan bahasa Sasak yang berada di kota mataram khususnya di Kecamatan Mataram Kelurahan Keklaik Kebon (Wawancara, 17/01/2. Ay. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Pemertahanan bahasa Fishman . menegaskan bahwa faktor sosial, usia, dan situasi komunikasi berpengaruh terhadap keberlangsungan bahasa. Hasil penelitian ini juga menemukan faktor serupa, yaitu partisipan, usia, suasana, dan topik percakapan. Misalnya, anak-anak cenderung menggunakan bahasa Indonesia di sekolah, tetapi kembali menggunakan bahasa Sasak ketika berinteraksi dengan orang tua di rumah. Faktor lain adalah kebijakan bahasa dan pendidikan. Kurangnya integrasi bahasa Sasak dalam kurikulum sekolah memperlemah posisi bahasa daerah (Hornberger, 2008. Darmurtika et al. , 2. Namun, digitalisasi dapat menjadi peluang baru dalam pelestarian bahasa (Androutsopoulos, 2015. Warsito, 2. Fishman . alam Sumarsono, 2. faktor yang terpenting dalam pemertahanan bahasa adalah adanya loyalitas masyarakat pendukung yang timbul dari diri individu yang punya rasa setia dan cinta terhadap bahasa ibunya sehingga bahasa itu dapat diturunkan ke generasi selanjutnya atau tetap diturunkan dari generasi ke generasi. Terkait hal itu, fishman juga menerangkan bahwa selain adanya faktor sosiolinguistik yang mempengaruhi bahasa dan pemakainnya, terdapat faktor nonlinguistik yang mempengaruhi bahasa dan pemakaian bahasa yang terdiri dari faktor sosial dan situasional. Faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa dan pemakaianya terdiri dari status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, dan sedangkan faktor situasional terdiri dari siapa yang berbicara, dengan apa, kepada siapa, di mana, dan masalah apa. Terkait faktor linguistik dan nonlinguistik tersebut, adapun hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada kecamatan mataram kelurahan keklaik kebon kota mataram, bahwa faktor yang mempengaruhi sikap pemertahanan bahasa Sasak di Kecamatan Mataram Kelurahan Kekalik Kebon Kota Mataram adalah faktor partisipan, usia, suasana, dan Apabila dilihat dari segi partisipan, maka pemakaian bahasa Sasak di Kecamatan Mataram Kelurahan Kekalik Kebon akan digunakan apabila lawan berbicaranya berasal dari masyarakat Sasak asli dan biasanya terjadi dalam suasana yang beragam. Hal ini dapat di lihat dari percakapan berikut ini. Data 1. Percakapan berdasarkan faktor partisipan dalam ranah keluarga di Kecamatan Mataram Kelurahan Kekalik Kebon. Kota Mataram. PI: Ana, ape sesiong ide ine? (Ana, kamu masak apa ini?) P2: Sesiong komak sedak teri (Masak kacang kara dan ter. aning kantor (Ayok, makan dulu sebelum P1: Keh, becat mangan juluk ampok de lekaq berangkat ke kanto. P2: Aok, ku panasan honda no juluk ( Iya, aku panaskan motor itu dul. P1: Jam pire de ulek lekan kantor?( Jam brapa kamu pulang dari kantor?) P2: jam 3 badek jak. (Jam 3 mungki. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2050 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . Percakapan di atas merupakan pemakaian bahasa Sasak yang terjadi dalam ranah keluarga di Lingkungan Kekalik kebon. Peristiwa tutur tersebut terjadi anatara inu dan bapak. Penutur 1 berusia 51 tahun yang berperan sebagai ibu dan penutur 2 yang berusia 55 berperan sebagai bapak. Percakapan tersebut mengunakan bahasa Sasak. Hal tersebut menandakan bahwa di dalam berkomunikasi di ranah keluarga dengan anggota keluarga dalam situasi apapun mereka menggunakan bahasa Sasak. Data 2. Percakapan berdasarkan partisipan bahasa Sasak pada anak remaja atau anak muda untuk mengetahui kondisi pemertahanan bahasa sasak di lingkungan kekalik kebon. P1: liwat juluk, tabeek . ermisi, lewat dul. P2: liwat bee . ewat aj. P3: aning mbe ino? ( mau ke mana dia it. P2: kat ne jak ne aning taman udayana ( katanya sih mau ke taman udayan. P3: ngapain, tumben sekali si dedi ketok? . gapain, tumben sekali si dedi kesan. P2: ndek ku tao be ( saya tidak ta. P3: mungkin dia lalo ketemuan hahaha ( mungkin dia mau ketemuan, hahahh. P2: ndek te kanggo ngeno . ggak boleh git. P3: haahahha, kan kita bejorak ( hahaha, kan kita bercand. Percakapan di atas merupakan peristiwa tutur yang terjadi oleh partisipan anatar kakak, adik dan sepupu di Kelurahan Kekalik Kebon. Kota Mataram. Dari percakapan di atas dapat kita lihat bawa dari segi partisipan, masih mengunakan bahasa Sasak campuran bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh karena partisipan di Lingkungan Kekalik Kebon sering atau pernah berkomunikasi dengan penduduk asli yang bukan asli orang Sasak. peristiwa tersebut terjadi antara kakak, adik dan sepupu. Penutur 1 yang berusia 21 tahun berperan sebagai kakak, penutur 2 berusia 19 tahun yang berperan sebagai adik, dan penutur 3 yang berusia 23 tahun berperan sebagai sepupu. Percakapan tersebut mengunakan bahasa sasak campuran Indonesia. Hal ini disebabkan dengan adanya kosa kata bahasa Sasak dan Indonesia yang ikut dipakai. Hal tersebut menandakan bahwa dalam berkomunikasi di ranah remaja atau anak muda dalam situasi apapun mereka megunakan bahasa Sasak campuran bahasa Indonesia. Data 3. Percakapan berdasarkan faktor partisipan bahasa Sasak pada anak-anak untuk mengetahui kondisi pemakaian bahasa Sasak di Lingkungan Kekalik Kebon. P1: Atun, ayok kita bekedek aning balen Sur ( Atun, ayok kita main bareng ke rumah Su. P2: nteh, te jauk kepeng sik te beli es bareh ( ayok, kita bawa uang ya untuk beli es nant. P1: siap, berapa kamu jauk kepeng? ( siap, berapa kamu bawa uan. P2: due ribu wah ( dua ribu aj. P1: ok deh siap . k deh sia. P2: pe tejak dila ke? . amu ajak dila ?) P1: ndk, cukup te kance due wah. angan, cukup kita berdua aj. Percakapan antara penutur 1 dan 2 di atas merupakan peristiwa tutur yang terjadi pada kalangan anak-anak di Lingkungan Kekalik Kebon Kota Mataram. Dalam percakapan di atas penurur 1 yang berusia 9 tahun yang bertanya kepada penutur 2 yang berusia 8 tahun yang dimana penutur 1 mengajak penutur 2 bermain ke rumah temannya yang ada di Lingkungan Kekalik Kebon Kota Mataram. Hal tersebut mengunakan bahasa campur anatara bahasa Sasak dan bahasa Indonesia. Hal tersebut menandakan bahwa dalam berkomunikasi di ranah anakanak dalm situasi apapun masih mengunakan bahasa Sasak campuran bahasa Indonesia. Pemertahanan Bahasa Sasak Pada Masyarakat Kelurahan Kekalik Kebon Mataram A - 2051 Halimatussolehah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 5 . KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan penelitian, penelitian ini menunjukkan bahwa . kondisi pemertahanan bahasa tergantung dengan siapa ia berintraksi. sikap pemertahanan pemakaian bahasa Sasak adalah dengan mempersiapkan mental atau perilaku dan pemikiran pada masyarakat di Lingkungan Keklaik Kebon Kota Mataram agar lebih dominan mengunakan bahasa Sasak dalam ranah berkomunikasi baik dengan sesama Sasak maupun dengan suku lain. faktor-faktor yang mempengaruhi sikap pemertahanan bahasa pemakaian bahasa Sasak di Lingkungan Kekalik Kebon Kota Mataram adalah faktor partisipan, lingkungan dan usia. Pewarisan bahasa dalam keluarga harus lebih diperkuat, dikarenakan kalau bukan dari masyarakat suku Sasak yang mempertahankan bahasa Sasak lalu siapa. Salah satu yang sangat berpengaruh terhadap pemertahanan bahasa khusunya di kalangan anak muda atau remaja yaitu faktor sosial, terutama pada generasi anak-anak yang masih aktif mengunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi. Oleh karena itu penting berintraksi sehari-hari mengunkan bahasa Sasak dalam ranah lingkungan, kekeluargaan lebih-lebih dalam rumah. Bahasa Sasak di kalangan usia orang tua atau keluarga dan ketetanggaan masih bertahan. Namun,dikalangan anak muda atau remaja dan anak-anak masih perlu diperhatikan. Kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak, seperti lembaga pendidikan, masyarakat, dan keluarga menjadi kunci penting untuk memastikan keberhasilan jangka panjang dalam menjaga eksitensi dan kebertahanan bahasa Sasak di Lingkungan Kekalik Kebon. Kota Mataram. DAFTAR PUSTAKA