Diligentia: Journal of Theology and Christian Education E-ISSN: 2686-3707 edu/index. php/DIL DOI: https://doi. org/10. 19166/dil. Membangun Kerja Sama Pemimpin di Sekolah Kristen: Perspektif Teologis atas Hambatan dan Solusinya [Building Leadership Collaboration in Christian Schools: A Theological Perspective on Challenges and Solution. Suparman1 Universitas Pelita Harapan. Tangerang Correspondence email: suparman. tc@uph. Received: 04/08/2025 Accepted: 30/09/2025 Published: 30/09/2025 Abstract Collaboration among leaders is a foundational aspect of leadership in Christian schools, rooted in the unity of the body of Christ. However, such collaboration does not occur automatically and is often hindered by personality differences, unstable faith, and divergent goals or personal interests. This article aims to analyze the obstacles to cooperation among leaders in Christian school settings by examining biblical narratives and proposing solutions from a theological perspective. Using a reflective-theological approach and current literature, this article highlights that Christian collaboration is not merely an administrative strategy, but an expression of koinoniaAia fellowship that mirrors the loving relationship within the Triune God. Proposed solutions include spiritual and character formation, spiritual mentoring, restorative conflict resolution, and reaffirming a shared vision. These insights are intended to foster a more authentic and transformative model of Christian leadership within educational Keywords: collaboration. Christian leadership. Christian school, relational obstacles, theological perspective, koinonia, spiritual formation Pendahuluan Kerja sama merupakan fondasi penting dalam setiap bentuk kepemimpinan, terlebih dalam konteks pelayanan yang bertumpu pada tubuh Kristus sebagai komunitas iman. Kerja sama memiliki cakupan yang luas mulai dari kelompok sosial terkecil, yaitu keluarga sampai dengan kelompok masyarakat yang lebih luas seperti gereja, pendidikan Kristen, organisasi Kristen, dan lain-lain. Pada umumnya umat Tuhan membangun kerja sama karena ada tugas/panggilan, tanggung jawab, dan tujuan-tujuan Allah dalam hidup mereka. 1 Tuhan sendiri menghendaki umat-Nya untuk hidup dalam kerja sama, karena mustahil mengerjakan tugas, panggilan, dan tujuan Allah seorang diri. Alkitab menegaskan bahwa umat Allah dipanggil untuk hidup dalam kesatuan yang mencerminkan kesatuan Allah Tritunggal (Yohanes 17:21Ae. Kerja sama penting bagi umat Allah, supaya mereka semakin mengenal kasih dan karya keselamatan Allah (Yohanes 17:20-23. Filipi 2:1-. dan bertumbuh Suparman. AuSignifikansi Iman dalam Membangun Kerja Sama antara Hamba Tuhan dan Majelis JemaatAy (Master Thesis. Sekolah Tinggi Teologi Reformed Indonesia (STTRI), 2. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 190 semakin dewasa. Dengan demikian kerja sama menjadi medan aktual untuk membangun kasih, saling memperlengkapi, dan menjalankan misi Allah secara kolektif. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memuat banyak narasi yang mengisahkan upaya kerja sama di antara para pemimpin untuk mencapai maksud dan rencana Allah dalam kehidupan mereka. Namun, kisah-kisah Alkitab menunjukkan bahwa para pemimpin umat Tuhan pun sering menghadapi hambatan dalam kerja sama mereka. Konflik antara Abraham dan Lot (Kejadian . , pertentangan antara Musa dan saudarasaudaranya (Keluaran 32. Bilangan . , atau perpecahan antara Paulus dan Barnabas (Kisah Para Rasul 15:35-. memperlihatkan bahwa kerja sama bukanlah hasil otomatis dari iman atau panggilan. Ada dinamika internal seperti perbedaan orientasi hidup, kepribadian yang belum matang, dan ketegangan relasi yang menghambat kolaborasi pelayanan. Berdasarkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepribadian dapat menjadi faktor yang menghambat kerja sama. Penelitian di SMA Negeri 1 Lemito menyoroti bagaimana kompetensi dan kepribadian kepala sekolah mempengaruhi perilaku kepemimpinan, termasuk dalam hal delegasi, transparansi, dan akuntabilitas. Ketidaksiapan atau kepribadian yang belum matang bisa menjadi sumber hambatan internal. 2 Penelitian senada yang dilakukan di SMA Peusangan menemukan bahwa kepribadian yang belum matang dapat menyebabkan kepemimpinan tidak efektif. 3 Pada studi 366 pemain sepak bola remaja di Korea, ditemukan bahwa self-esteem berhubungan positif dengan komitmen tim, dan komitmen ini memediasi bagaimana anggota menilai iklim tim. 4 Hal ini menunjukkan kepribadian low self-esteem atau perasaan rendah diri dapat menurunkan partisipasi dan inisiatif kolaboratif yang pada gilirannya berpotensi menimbulkan rasa takut ditolak atau gagal dalam kelompok. Penelitian lain juga menyebut bahwa kepribadian yang belum matang dapat menghambat kerja sama. 5 Kerja sama juga akan mengalami hambatan jika masing-masing anggota mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda. Aritzeta dalam penelitiannya menemukan bahwa ketidakselarasan dalam pandangan hidup, tujuan dan pendekatan dapat menghambat kerja sama. 6 Jelas tujuan, orientasi hidup, dan kepribadian merupakan beberapa faktor psikologis yang dapat menghambat kerja sama. Irwilda H. Bay and Sarson W. Dj. Pomalato. AuPerilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Lemito,Ay Berajah Journal: Jurnal Pembelajaran dan Pengembangan Diri 2, no. 1 (February 2. 104Ae10, https://doi. org/10. 47353/bj. 3 Marwan Hamid. AuPengaruh Kepemimpinan Sifat terhadap Keefektivan Kepemimpinan Sekolah (Studi Kasus pada Kepala SMKN 1 Peusangan - Bireue. ,Ay Jurnal Ekonomika Universitas Almuslim Bireuen Aceh (March 62Ae70. https://jurnal. id/index. php/eko/article/view/77. 4 Myungjin Jung. Sangwook Kang, and Sungho Kwon. AuTeam Commitment as a Mediator between Self-Esteem and Team Climate as Perceived by Korean Youth Soccer Players,Ay Perceptual and Motor Skills 122, no. 3 (May 2. : 988Ae1001, https://doi. org/10. 1177/0031512516649345. 5 Taryn Berman. Isabelle Plante, and Mathieu Roy. AuIt Takes Two: Examining the Dynamic Nature of Cooperative Behavior in Adolescents,Ay Frontiers in Psychology 15 (April 2. : 1Ae15, https://doi. org/10. 3389/fpsyg. 6 Aitor Aritzeta and Nekane Balluerka. AuCooperation. Competition and Goal Interdependence in Work Teams: A Multilevel Approach,Ay Psicothema 18, no. 4 (December 2. : 757Ae65, https://w. com/pii?pii=3305. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 191 Pemimpin sekolah adalah siapapun yang memengaruhi proses pembelajaran dan iklim sekolah, tidak hanya kepala sekolah, tetapi juga guru dan tim kepemimpinan. 7 Bagi Bush & Glover . 3, 2. pemimpin pendidikan adalah mereka yang memiliki tanggung jawab formal dan informal dalam menciptakan arah dan pembelajaran yang bermakna di sekolah. Guru adalah pemimpin ketika mereka mengambil tanggung jawab untuk meningkatkan pembelajaran, membimbing kolega, dan menciptakan perubahan positif dalam sekolah. Brummelen menyebut pemimpin pada sekolah Kristen adalah kepala sekolah, guru, dan pembina rohani. Mereka bukan hanya bertanggung jawab atas keberhasilan akademik, tetapi juga atas pertumbuhan iman dan karakter setiap peserta didik. 9 Jadi pemegang jabatan pemimpin dalam sekolah Kristen secara struktural adalah kepala sekolah dan jajaran manajemen, guru dan staf sebagai kepemimpinan instruksional dan transformasional, sedangkan pembina spiritual atau pembina iman adalah tim kolaboratif sekolah dan siapapun yang memiliki pengaruh positif terhadap arah, nilai, dan pembelajaran. Kepemimpinan di sekolah Kristen juga menghadapi tantangan dan hambatan dalam kerja sama. Hambatan-hambatan yang umumnya dijumpai dalam kepemimpinan sekolah Kristen antara lain kebiasaan negatif, kurangnya komitmen spiritual, kurangnya dukungan, kompleksitas kerja sama, kurangnya tindak lanjut, rendahnya efisiensi, adanya kecemasan, dan masalah kepribadian yang dominan. 10 Pemimpin cenderung mempertahankan posisi atau otoritasnya dan sulit menerima masukan dari sesama rekan pemimpin mengakibatkan timbulnya konflik rivalitas dan tarik-menarik antar bagian. 11 Kegagalan membangun visi bersama antara dimensi akademik dan iman juga menjadi hambatan dalam kerja sama di sekolah Kristen. 12 Hambatan-hambatan yang lain adalah komunikasi yang buruk dan menyebabkan salah paham, rasa tidak percaya, dan isolasi kerja 13. juga masalah struktur organisasi yang hierarkis dan kaku menyebabkan kepemimpinan di level menengah . oordinator, guru senio. kehilangan inisiatif dan suara 14, ketidakmatangan emosi dan Philip Hallinger and Ronald H. Heck. AuExploring the PrincipalAos Contribution to School Effectiveness: 1980-1995*,Ay School Effectiveness and School Improvement 9, no. 2 (June 1. : 157Ae91, https://doi. org/10. 1080/0924345980090203. 8 Jennifer York-Barr and Karen Duke. AuWhat Do We Know About Teacher Leadership? Findings From Two Decades of Scholarship,Ay Review of Educational Research 74, no. 3 (September 2. : 255Ae316, https://doi. org/10. 3102/00346543074003255. 9 Harro Van Brummelen. Berjalan dengan Tuhan di dalam Kelas: Pendekatan Kristiani untuk Pembelajaran, 2nd ed. (Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press, 2. 10 Melisa Sintayani Idang et al. AuStrategi Guru Bimbingan Konseling dalam Membina Kepemimpinan Kristen Siswa di Sekolah berbasis Iman Kristen,Ay Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran No. (December 399Ae409, https://jurnal. org/index. php/cendikia/article/view/4508. 11 Kenneth Leithwood et al. How Leadership Influences Student Learning (Minneapolis. MN: University of Minnesota. Center for Applied Research and Educational Improvement. Toronto. ON: University of Toronto. Ontario Institute for Studies in Education, 2. , commissioned by The Wallace Foundation, https://wallacefoundation. org/sites/default/files/2024-09/how-leadership-influencesstudent-learning. 59656/EL-SB5787. 12 Van Brummelen. Berjalan Bersama Tuhan di Dalam Kelas. 13 Tony Bush and Derek Glover. School Leadership: Concepts and Evidence (Nottingham. UK: National College for School Leadership, 2. , https://dera. uk/id/eprint/5119/14/dok217-engSchool_Leadership_Concepts_and_Evidence_Redacted. 14 James P. Spillane. AuDistributed Leadership,Ay Educational Forum 69, no. 2 (June 2. : 143Ae50, https://doi. org/10. 1080/00131720508984678. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 192 spiritual pemimpin seperti trauma pribadi, motivasi terselubung, low self-esteem, pribadi dan kerohanian yang belum matang menyebabkan sulit bekerja sama 15, perbedaan orientasi atau tujuan. 16 Hal-hal inilah yang sering menjadi hambatan dalam membangun kerja sama dalam kepemimpinan di sekolah Kristen. Hingga saat ini, kajian mengenai kerja sama dalam kepemimpinan sekolah Kristen umumnya lebih banyak berfokus pada pendekatan manajerial dan psikologis, sementara perspektif teologis masih kurang dieksplorasi secara mendalam. Padahal, nilai-nilai Alkitab memberikan fondasi yang kaya untuk membangun kerja sama yang otentik, berbasis kasih, kerendahan hati, dan kesatuan dalam Kristus (Filipi 2:1Ae. Kesenjangan inilah yang menjadi alasan utama perlunya kajian yang mengangkat hambatan kerja sama pemimpin dalam terang teologi Kristen dan menelaah solusi yang bersumber dari prinsip-prinsip iman. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hambatan kerja sama antar pemimpin di sekolah Kristen dan menawarkan solusi berdasarkan perspektif teologis. Pembahasannya akan mengkaji hambatan-hambatan kerja sama dalam kepemimpinan berdasarkan narasi tentang tokoh-tokoh Alkitab, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dengan pendekatan reflektif-teologis dan kajian literatur terkini, diharapkan artikel ini dapat memberikan kontribusi bagi pembinaan kepemimpinan Kristen yang lebih utuh dan Metodologi Artikel ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif-reflektif yang bersifat teologisdeskriptif. Penulis mengkaji hambatan kerja sama antar pemimpin dalam sekolah Kristen melalui analisis naratif terhadap kisah-kisah tokoh Alkitab, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Metode ini melibatkan penafsiran teologis atas dinamika relasi kepemimpinan seperti antara Abraham dan Lot. Musa dan Harun, hingga Paulus dan Barnabas, dengan tujuan menggali akar persoalan dan implikasi spiritualnya. Selain itu, penulis menggunakan studi literatur terkini dari sumber-sumber teologis, psikologis, dan pendidikan Kristen selama sepuluh tahun terakhir untuk memperkaya pemahaman dan mendukung refleksi yang ditawarkan. Pendekatan ini memungkinkan integrasi antara analisis biblika dan refleksi kontekstual dalam kehidupan sekolah Kristen masa kini. Hasilnya tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi secara statistik, melainkan untuk memberikan wawasan konseptual dan solusi praktis berbasis iman Kristen yang dapat diaplikasikan dalam pembinaan kepemimpinan. Kerangka Teoritis: Kerja Sama dan Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab Kerja sama adalah suatu proses untuk mencapai suatu tujuan bersama di antara beberapa pihak tanpa mengorbankan otonomi mereka. 17 Robbins dan Judge . AuKerja sama . adalah perilaku sukarela dua atau lebih individu dalam kelompok yang saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Ay18 Koontz Ruth Haley Barton. Strengthening the Soul of Your Leadership: Seeking God in the Crucible of Ministry (Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 2. 16 Leithwood et al. How Leadership Influences Student Learning. 17 Paul W. Mattessich. Marta Murray-Close, and Barbara R. Monsey. Collaboration: What Makes It Work, 2nd ed. (Saint Paul. MN: Fieldstone Alliance, 2. 18 Stephen P. Robbins and Timothy A. Judge. Organizational Behavior, 15th ed. (Boston. MA: Pearson Education, 2. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 193 menyebut kerja sama sebagai suatu kerja kolektif dalam organisasi yang melibatkan relasi interpersonal untuk menyelesaikan suatu tujuan bersama. 19 Jadi kerja sama merupakan suatu proses dinamis di mana individu atau kelompok saling berinteraksi secara positif dan sukarela untuk mencapai tujuan bersama. Dalam kerja sama, terdapat unsur saling ketergantungan, komunikasi terbuka, serta rasa tanggung jawab kolektif terhadap hasil yang 20 Kerja sama tidak hanya menuntut penyatuan tujuan, tetapi juga menghargai perbedaan dan otonomi masing-masing pihak, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan, pembelajaran, dan keberhasilan bersama. Alkitab banyak membicarakan tentang kerja sama di antara para pemimpin, meskipun secara harafiah istilah tersebut tidak ditemukan di dalamnya. Konsep kerja sama di dalam Alkitab muncul secara alami melalui pengajaran tentang koinonia, misalnya dalam Kisah Para Rasul 2:42. 1 Korintus 1:9. 10:16. Galatia 2:9. Filipi 1:5. 2:1. 3:10. Filemon 1:6. 1 Yohanes 1:3, 6, 7. Kamus Alkitab menerjemahkan koinonia sebagai persekutuan . ellowship, communio. atau partisipasi . 21 Koinonia merupakan keunikan dari tubuh Tuhan Yesus Kristus, sehingga lebih dari sekedar perkumpulan. Ini adalah Persekutuan dalam Injil Tuhan (Filipi 1:. dan mencakup persekutuan di antara semua orang yang telah menyerahkan hidupnya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Persekutuan ini juga merupakan persekutuan dengan Allah Bapa . Yohanes 1:. Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (Filipi 2:. , di mana orang percaya diangkat menjadi keluarga Allah melalui persekutuan dengan Anak-Nya . Korintus 1:. 22 Hal ini menunjukkan bahwa konsep kerja sama di dalam Alkitab adalah kesatuan di antara sesama orang percaya dengan Allah Tritunggal, di mana setiap individu bertanggung jawab untuk berpartisipasi sesuai dengan peran atau karunianya masing-masing. Kerja sama dalam konteks pemimpin jemaat seharusnya mencerminkan kesatuan di antara Allah Bapa. Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Ini seperti diungkapkan oleh George Cladis yang mengatakan bahwa misi gereja merupakan hasrat Allah untuk memperluas persekutuan kasih dari Allah Tritunggal ke dalam kehidupan umat manusia. 23 Misi ini menjadi kerinduan Tuhan Yesus yang tertuang dalam doa-Nya dalam Yohanes 17:21-22 AuSupaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satuAy. Rodney Whitacre menjelaskan hubungan kesatuan Bapa dan Anak tersebut dengan istilah Ausaling mendiamiAy untuk menunjukkan baik Bapa maupun Anak adalah satu dan seharusnya menjadi pola kesatuan bagi umat Allah. Kesatuan ini termasuk kesatuan keberadaan dan kepribadian, sehingga di dalam gereja Tuhan tidak ada koinonia yang sejati tanpa Harold Koonzt and Heinz Weihrich. Essentials of Management: An International. Innovation, and Leadership Perspective, 10th ed. (Chennai. India: McGraw-Hill Education, 2. 20 David W. Johnson and Frank P. Johnson. Joining Together: Group Theory and Group Skills, 12th (Boston. MA: Pearson, 2. , 39. 21 Eddie Gibbs. Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang: Membentuk dan Memperbarui Kepemimpinan yang Mampu Bertahan dalam Zaman yang Berubah, trans. Tonggor Maruliasih Siahaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 22 Gibbs. Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang. 23 George Cladis. Leading The Team-Based Church: How Pastors and Church Staffs Can Grow Together into a Powerful Fellowship of Leaders A Leadership Network Publication (San Francisco. CA: Jossey-Bass. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 194 perwujudan kehadiran Allah yang benar. 24 Richards juga menjelaskan bahwa persekutuan tersebut merupakan AuAexpresses shared participation in Christ and the bond that Christ creates between believers. Ay25 Ini menunjukkan bahwa Alkitab selalu membicarakan persekutuan di antara orang-orang percaya dalam konteks kehadiran Allah. Yesus sendiri mengajarkan dan mengingatkan murid-murid-Nya demikian. AuSebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Matius 18:. Kehadiran Allah di tengah-tengah persekutuan orang percaya tersebut identik dengan kehadiran kasih. Yohanes menyaksikan. AuAllah adalah kasih, dan barang siapa tetap ada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam diaAy . Yohanes 4:. Jadi Alkitab membicarakan kerja sama sebagai konteks kehadiran Allah dan kasih-Nya. Allah menghendaki umat-Nya membangun kerja sama sesuai dengan pola kesatuan Allah Tritunggal dengan tujuan supaya mereka bertumbuh di dalam kasih, menjadi teladan bagi orang percaya, dan menjadi kesaksian bagi orang yang tidak percaya. Dengan demikian keberadaan kerja sama sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Jika orang beriman tidak hidup di dalam kerja sama, maka mereka tidak akan mencapai tujuan dan rencana Allah, gereja tidak akan menjadi gereja, rumah tangga tidak akan mengerjakan pekerjaan Allah. Studi Kasus Alkitabiah tentang Hambatan Kerja Sama dalam Kepemimpinan Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyaksikan bagaimana umat Allah bekerja sama untuk mencapai tujuan dan rencana Allah dalam kehidupan mereka. Ternyata membangun kerja sama bukanlah pekerjaan yang mudah, sekalipun individu yang terikat dalam kerja sama tersebut adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Ada berbagai macam masalah yang menghambat kerja sama di antara umat Allah, yaitu: masalah iman, masalah kepribadian, masalah perbedaan orientasi/pola pikir, masalah kepentingan pribadi, dan lain-lain. Penulis menyadari adanya keterbatasan ruang dalam penulisan artikel ini, karena itu dalam artikel ini akan dibahas beberapa contoh kerja sama di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang mengalami hambatan. Kerja Sama dalam Perjanjian Lama Perjanjian Lama memberikan banyak sekali contoh-contoh kerja sama di antara umat Allah. Mereka bekerja sama untuk mengerjakan tugas dan panggilan Allah, sehingga iman menjadi dasar utama yang mengikat dan menyatukan mereka dalam ikatan kerja sama. Bahkan Allah juga turut campur dalam kerja sama tersebut melalui pemeliharaan dan Sekalipun demikian kerja sama di antara umat Tuhan tersebut tidak otomatis bisa berjalan dengan lancar, misalnya: Kerja Sama antara Abraham dan Lot Kerja sama di antara Abraham dan Lot merupakan salah satu contoh bahwa orang beriman yang mendapatkan berkat dan pemeliharaan Allah, tidak selalu mudah untuk membangun kerja sama. Abraham dan Lot adalah orang yang setia beribadah kepada Tuhan (Kejadian 13:3-. Mereka juga merupakan orang-orang yang taat kepada panggilan dan Rodney A. Whitecre. The IVP New Testament Commentary Series: John (Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 1. 25 Lawrence O. Richards. Zondervan Expository Dictionary of Bible Words (Grand Rapids. MI: Zondervan Publishing House, 1. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 195 perjanjian dengan Allah (Kejadian 12:1-6. 13:1-. Allah memelihara dan memberkati keduanya (Kejadian 13:2, . Allah juga memimpin, melindungi, dan menyelamatkan mereka (Kejadian 14:13-20. Kejadian 19:1-29, 2 Petrus 2:. Tetapi fakta-fakta iman ini tidak otomatis membuat Abraham dan Lot dapat bekerja sama dengan baik. Kejadian 13:8-9 mencatat bagaimana keduanya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama di antara mereka dengan sebuah perpisahan. Ada beberapa sebab mengapa kerja sama di antara keduanya harus diakhiri dengan Pertama Abraham dan Lot merasa takut kalau mereka tidak mampu menangani kerja sama di antara para gembala mereka sendiri. Mereka telah melihat ada pertengkaran antar gembala dan hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja (Kejadian 13:. Mereka menyadari bahwa mereka itu masih satu keluarga dan pertengkaran itu tidak baik jika dilihat oleh penduduk setempat (Kejadian 13:. Kedua Abraham dan Lot mengalami hambatan dalam kerja sama karena keduanya mempunyai orientasi hidup . yang berbeda. Orientasi hidup Lot adalah untuk bisnis dan keuntungan secara materi, sehingga ia selalu berpikir bagaimana usahanya lancar dan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Ada kemungkinan kepribadian Lot yang materialistis itu juga dipengaruhi oleh istrinya yang materialistis (Kejadian 19:. Sedangkan orientasi hidup Abraham adalah untuk menaati dan memuliakan Tuhan, sehingga ia berpikir bagaimana ia mengerti dan melakukan kehendak Tuhan dengan sebaik-baiknya. Bukti-bukti Alkitab menunjukkan bahwa orientasi hidup Lot adalah untuk kepentingan bisnis dan keuntungan materi. Misalnya dalam Kejadian 13:10-12 Lot memilih untuk menetap di dekat kota Sodom, karena ia melihat lembah Yordan yang subur sangat baik untuk Tetapi ia mengesampingkan kenyataan bahwa penduduk kota Sodom dan Gomora yang sangat jahat dan berdosa itu tidak baik baginya. Hal ini menunjukkan bahwa Lot mempunyai orientasi hidup yang bersifat duniawi yaitu keuntungan bisnis dan kekayaan materi, bukan untuk kemuliaan Tuhan. Ia memilih untuk berkemah di dekat Sodom dengan resiko kehilangan hal-hal yang terpenting dalam kehidupannya. Getz berdasarkan 2 Petrus 2:6-10 mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman, orientasi hidup Lot sangat duniawi bukan untuk kemuliaan Allah. Ia mengatakan demikian. AuTiga kali Petrus menggunakan kata AubenarAy untuk menggambarkan Lot, yang menunjukkan bahwa Lot termasuk orang yang benar-benar percaya. Tetapi Lot mengikuti hawa nafsu duniawi. Ia mengambil keputusan yang mementingkan diri sendiri, yang membawanya ke dalam dosa. Ay26 Abraham mempunyai orientasi hidup yang berbeda dengan Lot. Alkitab mengatakan bahwa Abraham orientasi hidupnya adalah untuk kemuliaan Tuhan, misalnya: Kejadian 12:16 Abraham yang berusia tujuh puluh lima tahun itu pergi untuk memenuhi panggilan dan perjanjian dengan Allah. Kejadian 14:17-24 Abraham memberikan perpuluhan kepada imam Melkizedek tetapi menolak harta benda yang diberikan oleh Raja Sodom. Kitab Ibrani menyebutkan bahwa Abraham lebih mengutamakan kepentingan Allah daripada kepentingannya sendiri (Ibrani 11:8-. Ketaatan Abraham dalam mempersembahkan Ishak sesuai dengan perintah Allah menjadi bukti kuat bahwa ia rela kehilangan orang yang paling dikasihinya untuk memuliakan Allah (Kejadian 22:1-. Jadi adanya pertengkaran di antara para gembala dan adanya perbedaan orientasi hidup menyebabkan Abraham dan Lot tidak bisa bekerja sama lagi, sekalipun mereka adalah orang yang beriman dan masih ada hubungan keluarga. Gene A. Getz. When YouAore Confused and Uncertain: Take a Lesson from Abraham, trans. Lily Jhadison (Solo. Indonesia: Dabara Publisher, 1. , 5. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 196 Kerja Sama antara Musa. Harun, dan Miryam Kerja sama antara Musa dan Harun mengalami hambatan karena adanya kepribadian yang tidak dewasa dan karena ada prasangka negatif. Mereka dipertemukan oleh Tuhan dalam sebuah kerja sama untuk membebaskan bangsa Israel . mat Alla. dari perbudakan bangsa Mesir (Keluaran 4:13-. Allah memanggil Musa melalui semak yang terbakar, tetapi Musa merasa tidak mampu untuk mengerjakan tugas dan panggilan Allah tersebut (Kejadian 3:1-4:. Allah kemudian memanggil Harun dan memerintahkannya bekerja sama dengan Musa untuk mengerjakan tugas dan panggilan Allah. Musa yang merasa tidak pandai berbicara akan dibantu oleh Harun yang pandai berbicara (Kejadian 4:14-. Dalam kerja sama tersebut Tuhan berjanji akan menyertai mereka (Kejadian 4:. Kerja sama antara Musa dan Harun mengalami hambatan oleh karena kepribadian Harun tidak sekuat kepribadian Musa. Kelemahan kepribadian Harun tampak ketika ia didesak oleh bangsa itu untuk membuat allah yang berupa patung lembu emas (Keluaran 32:1-. Young mengatakan bahwa peristiwa tersebut memperlihatkan kepribadian Harun yang lemah dan penurut, sehingga ia tidak cocok menjadi seorang pemimpin. 27 Harun seharusnya tetap memegang tujuan dan tugas yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu memimpin bangsa itu untuk beribadah kepada Allah. Seharusnya ia memimpin dan mengarahkan bangsa itu untuk tetap setia bersandar, berharap, dan beribadah hanya kepada Allah saja. Itu adalah tujuan dan panggilan Allah yang juga menjadi tujuan kerja sama kepemimpinannya dengan Musa. Selain itu Harun juga kurang mampu untuk menghindari konflik yang timbul sebagai akibat lambatnya Musa turun dari gunung Sinai (Keluaran 32:. Harun tidak berani berkonfrontasi dengan bangsa itu, sekalipun ia menyadari bahwa perbuatan itu dapat melukai hati Musa dan terutama menyakiti hati Allah. Hal inilah yang menimbulkan masalah yang menghambat kerja samanya dengan Musa. Kelemahan kepribadian Harun juga tampak dalam persekongkolannya dengan Miryam untuk memberontak kepada Musa (Bilangan 12:1-. Sekalipun, penggagas utama dalam pemberontakan ini bukanlah Harun, melainkan Miryam (Bilangan 12:. Ronald B. Allen mengatakan. AuThe feminine singular verb that initiates the chapter . , "and she spoke," v. and the placement of her name before that of Aaron indicate that Miriam is the principal in the attack against Moses. Aaron apparently joined her at her instigation. Ay28 Hal ini menunjukkan bahwa Harun mempunyai kepribadian yang lemah dan penurut. Sekalipun ia adalah seorang yang beriman dan takut kepada Allah, tetapi kepribadiannya yang lemah dan penurut tersebut telah menjerumuskannya kepada tindakan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Persengkokolan di antara Harun dan Miryam tersebut kemungkinan juga membuat Musa kecewa, terlukai, dan marah sekalipun ia adalah seorang pribadi yang sangat lembut hatinya (Bilangan 12:1-. Akibatnya, kerja samanya dengan Musa mengalami hambatan yang serius sehingga dapat mengancam tercapainya tujuan Allah. Miryam kurang setuju dengan keputusan pribadi Musa untuk menikah dengan wanita Kusy karena alasan ras (Bilangan 12:. Miryam mengangkat pernikahan yang berbeda etnis tersebut sebagai isu negatif untuk menjatuhkan Musa. Di samping itu, pemberontakan tersebut juga dimotivasi oleh kepribadian iri hati dan kecemburuan Miryam James Dixon Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1: A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih (OMF), 1. 28 Ronald B. Allen. AuNumbers,Ay in The ExpositorAos Bible Commentary (Volume . : Genesis. Exodus. Leviticus. Numbers, ed. Frank E. Gaebelein (Grand Rapids. MI: Zondervan, 1. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 197 kepada kedudukan Musa dalam rencana ilahi (Bilangan 12:. 29 Sebenarnya Miryam adalah orang beriman yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Ia mendapatkan gelar sebagai seorang nabiah karena ia memimpin perempuan-perempuan Israel memainkan alat-alat musik, menari dan menyanyikan nyanyian kemenangan untuk merayakan keberhasilan bangsa Israel menyeberangi Laut Merah (Keluaran 15:. 30 Kitab Mikha menyebut Miryam sebagai salah satu orang yang dipanggil dan diutus Tuhan untuk mengajar bangsa Israel di samping Musa dan Harun (Mikha 6:. Karena itu Miryam merasa lebih layak dibanding Musa. Di samping itu Miryam juga iri dan cemburu oleh karena kedekatan Musa dengan Allah. Kemudian ia menyerang Musa dengan kata-kata yang keras (Bilangan 12:1-. Ronald Allen mengatakan demikian. AuThe initial attack on Moses concerns his wife. It is a very human phenomenon, not restricted to women, to present a smoke screen before coming out with the real issue. The marriage of Moses to a Cushite woman is not the issue at all. This is only pretext. the real issue concerns Moses' special relationship with God. Ay31 Ini menunjukkan bahwa di samping pemberontakan Miryam didasari oleh iri hati dan kecemburuan atas hubungan Musa dengan Allah, pemberontakan tersebut juga dipicu oleh pernikahan Musa dengan etnis lain yang tidak sesuai dengan kebiasaan bangsanya. Bilangan 12:1-16 memang tidak memberikan penjelasan yang cukup berkaitan dengan alasan Harun dan Miryam membicarakan tindakan Musa menikahi perempuan Kush tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemungkinan besar Miryam dan Harun tidak menyetujui pernikahan Musa dengan wanita Kush karena masalah etnis dan wanita tersebut berkulit hitam. 32 Hal inilah yang menyebabkan Miryam memberontak kepada Musa. Jadi kerja sama antara Musa. Harun, dan Miryam mengalami hambatan oleh karena ada kelemahan kepribadian. Di satu sisi secara iman Miryam dapat memahami bahwa pernikahan Musa dengan wanita Kush yang berbeda etnis tersebut bukanlah merupakan suatu pelanggaran. Tetapi di sisi yang lain kepribadiannya sulit untuk menerima pernikahan Musa dengan seorang wanita di luar etnis bangsa Israel. Hal-hal inilah yang akhirnya menghambat kerja sama di antara Musa. Harun, dan Miryam. Dengan demikian kepribadian yang tidak dewasa dan adanya prasangka-prasangka yang negatif menghambat kerja sama antara Musa. Harun, dan Miryam. Kerja Sama antara Barak dan Debora Kerja sama antara Barak dan Debora tidak bisa berjalan dengan efektif karena Barak mempunyai kepribadian yang kurang yakin dengan kemampuannya sendiri. Sedangkan Debora sekalipun mempunyai kemampuan untuk memimpin tetapi ia merasa tidak nyaman dan tidak pantas untuk memimpin karena ia seorang perempuan. Hakim-hakim 4:4 mencatat bahwa Debora sebenarnya hanya bertugas sebagai seorang nabiah yang secara khusus mengadili berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat Israel di bawah pohon Berdasarkan Hakim-hakim 4:4-9. Wilcock mengatakan bahwa Debora terpaksa menampilkan dirinya sebagai seorang pemimpin karena saat itu bangsa Israel tidak mempunyai tokoh yang mampu mengambil peran sebagai seorang pemimpin. Sekalipun sebenarnya ada pertentangan dalam dirinya, karena tidak lazim bagi seorang wanita pada zaman itu untuk tampil sebagai seorang pemimpin. Ia di paksa oleh keadaan yang kritis dan Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1. Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1. 31 Allen. AuNumbers. Ay 32 Allen. AuNumbers. Ay Diligentia Vol. No. September 2025 Page 198 sulit untuk menjadi panglima perang dan memerintah di Israel. 33 Untuk menghindari ketidaklaziman tersebut. Debora memanggil Barak bin Abinoam dari Kadesh untuk maju berperang melawan Sisera panglima tentara Yabin dan orang-orang Kanaan (Hakim-hakim 4:. Di sini Debora tidak menganggap diri lebih tinggi dari pada Barak, meskipun Debora menjadi orang pertama dari bangsa Israel. Debora menempatkan diri di bawah pimpinan Barak dan bersama-sama dengan Barak menempatkan diri mereka di bawah pimpinan Allah. 34 Namun Barak merasa ragu-ragu dan menolak maksud Debora, karena Barak dikuasai oleh ketakutan terhadap kekuatan musuh (Hakim-hakim 4:. Barak bukan sedang meragukan janji Allah yang diberikan kepadanya dengan perantaraan Debora, tetapi karena ia mempunyai kepribadian yang tidak percaya pada kemampuan dan kekuatannya sendiri sedemikian rupa sehingga merasa terlalu lemah untuk melaksanakan perintah Allah. 35 Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian menjadi faktor penghambat dalam kerja sama di antara para pemimpin untuk mengerjakan tugas dan panggilan Allah. Di satu sisi Barak yang mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin mempunyai kepribadian yang penakut dan ragu akan penyertaan Tuhan, di sisi yang lain Debora yang mempunyai keyakinan iman dan kemampuan memimpin yang kuat merasa tidak pantas memimpin karena ia adalah seorang wanita. Jadi kerja sama antara Debora dan Barak tidak bisa berjalan dengan efektif oleh karena kepribadian yang ragu-ragu atau tidak yakin dengan kemampuan sendiri dan adanya prasangka-prasangka yang negatif. Kerja Sama antara Daud dan Yoab Kerja sama antara Daud dan Yoab adalah kerja sama di antara orang yang beriman kepada Tuhan, tetapi kerja sama di antara mereka terhambat oleh karena kepentingan pribadi, berbagai kelemahan kepribadian, dan oleh sifat iman yang tidak stabil atau tidak Alkitab banyak menulis pengakuan iman Daud kepada Allah (Mazmur 8, 18, 23, dan lain-lai. Kitab 1 Samuel 16:1-13 mengisahkan bagaimana Tuhan melihat hatinya dalam memilih Daud dan mengutus Samuel untuk mengurapinya menjadi raja menggantikan Saul. Alkitab juga mengatakan. AuSejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas DaudAy . Samuel 16:. Bahkan di dalam iman kepada Tuhan Daud mampu mengalahkan Goliat . Samuel 17:1-. Tetapi Alkitab tidak terlalu banyak membicarakan tentang pengakuan iman ataupun tindakan-tindakan iman dari Yoab. Iman Yoab secara tidak langsung nampak ketika ia mengingatkan Daud tentang Absalom . Samuel 14:1-. Iman Yoab juga nampak secara tidak langsung saat ia mengingatkan Daud yang memerintahkannya untuk menghitung jumlah rakyatnya . Samuel 24:. Perintah untuk menghitung jumlah rakyat itu merupakan tindakan yang berdosa kepada Tuhan. 36 Sekalipun keduanya adalah orang yang beriman tetapi kerja sama mereka tidak dapat berjalan dengan Beberapa kali Yoab tidak melakukan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Michael Wilcock. Hakim-Hakim: Cahaya Anugerah Allah Sangat Berkilau Kendati Dosa Manusia Begitu Pekat, trans. Gwyneth Jones (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2. , 87. 34 Ayub Ranoh. Kepemimpinan Kharismatis: Tinjauan Teologis-Etis atas Kepemimpinan Kharismatis Soekarno (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 121. 35 Herbert Wolf. AuJudges,Ay in The ExpositorAos Bible Commentary (Volume . : Deuteronomy. Joshua. Judges. Ruth, 1 & 2 Samuel, ed. Frank E. Gaebelein (Grand Rapids. MI: Zondervan, 1. 36 Ronald F. Youngblood. Au1 & 2 Samuel,Ay in The ExpositorAos Bible Commentary (Volume . Deuteronomy. Joshua. Judges. Ruth, 1 & 2 Samuel, ed. Frank E. Gaebelein (Grand Rapids. MI: Zondervan. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 199 bahkan melakukan tindakan yang melukai hati Daud, membuatnya marah dan menaruh dendam kepada Yoab. Akibatnya di akhir hidupnya ia memerintahkan Salomo untuk menghukum mati Yoab . Raja-Raja 2:5-. Ada beberapa masalah yang menghambat kerja sama di antara Daud dan Yoab. Pertama adalah masing-masing mementingkan diri sendiri dan tidak mengerjakan tugas dan panggilan Allah. Beberapa kali Daud memerintahkan Yoab untuk melakukan tugas yang berlawanan dengan kehendak Allah. Misalnya ia memerintahkan Yoab untuk menempatkan Uria di garis terdepan dalam suatu pertempuran dengan maksud untuk membunuhnya di medan pertempuran . Samuel 11:. Perintah ini tentu sangat berlawanan dengan kehendak Allah, tetapi Yoab melaksanakan perintah Daud tersebut. Nampaknya kerja sama di antara mereka berjalan dengan baik, tetapi sebetulnya tidak demikian. Masing-masing hanya bertindak untuk kepentingannya sendiri-sendiri dan bukan untuk mencapai tugas dan panggilan Allah. Daud memanfaatkan Yoab untuk menutupi dosa perzinahan yang telah ia lakukan bersama dengan Batzyeba. Ini dilakukan Daud saat ia frustasi karena usahanya untuk menutupi dosanya dengan mempedayai Uria gagal. Ia menjadi takut sekaligus marah, sehingga dalam keadaan emosi yang kacau tersebut ia memutuskan untuk membunuh Uria secara tidak langsung dalam suatu pertempuran. 37 Di pihak lain Yoab melakukan perintah yang berlawanan dengan iman tersebut bukanlah sebagai wujud ketaatan dan kesetiaannya kepada Daud, melainkan supaya dia mendapatkan pengaruh . atas Daud. 38 Selain itu Alkitab juga mencatat tindakan-tindakan Yoab yang mementingkan dirinya sendiri sehingga membuat Daud terluka dan marah, misalnya Yoab membunuh Abner dengan cara yang licik oleh karena dendam dan merasa tersaingi oleh kedekatan Abner dengan Daud. Padahal Abner yang saat itu menyatakan kesetiaannya kepada Daud memberikan jalan untuk menyatukan umat Allah . Samuel 2:1-32. 3:1-. Yoab juga membunuh Absalom yang memberontak kepada Daud, sekalipun ia diperintahkan untuk tidak membunuhnya . Samuel 18:5, 12-. Hal ini membuat Daud sangat marah kepada Yoab, karena itu Daud mencopot kedudukannya sebagai panglima perang dan digantikan oleh Amasa. Tetapi Yoab kemudian membunuh Amasa yang dianggapnya sebagai Aurival of powerAy sekalipun ia adalah kemenakannya sendiri . Samuel 17:25. 20:8-. 40 Ia merasa dilewati sehingga dirinya tidak lagi menjadi orang nomor satu dalam dinas kemiliteran. Jadi ada kepentingan pribadi sangat menonjol dalam kerja sama antara Daud dan Yoab. Hal ini menyebabkan kerja sama di antara keduanya tidak bisa berjalan dengan efektif. Akibatnya ada pihak yang merasa terluka, marah, dan dendam oleh perilaku mementingkan diri sendiri. Bahkan tujuan Allah yang seharusnya menjadi kepentingan yang utama dan harus diwujudkan dalam kerja sama tersebut, menjadi terabaikan begitu saja demi terwujudnya kepentingan pribadi. Gene A. Getz. Apakah Anda Merasa sebagai Seorang yang Gagal? Belajarlah dari Daud, trans. Ida J. Rahardjo (Solo. Indonesia: Dabara Publisher, 1. 38 F. Bakker. Sejarah Kerajaan Allah 1: Perjanjian Lama, trans. Siagian (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 530. 39 Gerald and Chantal Klingbeil. Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa (Penuntun Gur. : Tokoh-Tokoh Pendukung Dalam Perjanjian Lama (Bandung: Yayasan Indonesia Publishing House, 40 Youngblood. Au1 & 2 Samuel. Ay 41 Gerald and Klingbeil. Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 200 Kerja sama di antara Daud dan Yoab juga terhambat oleh berbagai kelemahan Alkitab mencatat bahwa baik Daud maupun Yoab sama-sama mempunyai kelemahan kepribadian. Daud mempunyai beberapa kepribadian yang unggul, tetapi ia juga mempunyai kelemahan kepribadian, misalnya sombong . Samuel 24. 1 Tawarikh . menyimpan dendam terhadap orang yang pernah menyakitinya . Raja-raja 2:5-6, 8-. Kelemahan yang paling menonjol adalah perzinahannya dengan Batzyeba dan pembunuhan terhadap Uria sehingga menyebabkan perasaan tertekan dan kegelisahan di sepanjang sisa 42 Kelemahan-kelemahan kepribadian tersebut sangat mempengaruhi kerja samanya dengan orang lain termasuk dengan Yoab. Yoab juga mempunyai beberapa kelemahan kepribadian antara lain egois, ambisius, pendendam, licik, dan lain-lain. Yoab beberapa kali terjebak oleh kepribadiannya yang pendendam, sehingga kerja samanya dengan Daud mengalami hambatan. Misalnya Daud menerima Abner yang telah menyadari kesalahannya melawan Daud orang yang diurapi Allah . Samuel 3:1-. Tetapi Yoab yang menaruh dendam sulit untuk memberikan pengampunan kepada Abner yang telah membunuh Asael, adiknya. Dendam membuat Yoab mengabaikan tujuan utama kerja samanya dengan Daud, sehingga dengan licik ia membunuh Abner. Perbuatan Yoab ini menjadi salah satu alasan bagi Daud memerintahkan Salomo untuk menghukum mati Yoab. Yoab kembali melakukan pembunuhan yang membuat Daud terluka dan marah dalam peristiwa pemberontakan Absalom. Daud yang telah memberikan pengampunan kepada Absalom memerintahkan Yoab untuk tidak membunuhnya. Tetapi Yoab tidak bisa memberikan pengampunan kepada seorang pemberontak, sekalipun pemberontak itu adalah anak Daud sendiri yang saat itu sudah tidak berdaya. Akibatnya Daud yang marah dan terluka oleh perbunuhan tersebut mencopot kedudukan Yoab sebagai panglima perang. Contoh kelemahan kepribadian lainnya yang menghambat kerja sama di antara Daud dan Yoab adalah ambisi. Beberapa kali Yoab membunuh orang yang dianggap membahayakan kedudukannya, misalnya Abner yang mengadakan persepakatan dengan Daud membuat Yoab merasa tersaingi. 43 Ia juga membunuh Amasa karena merasa tersaingi, sekalipun Amasa itu adalah kemenakannya sendiri dan Daud telah mengangkatnya menjadi panglim perang . Samuel 17:25. 20:8-. Perbuatan Yoab tersebut membuat Raja Daud marah kepadanya. Dengan demikian kerja sama di antara Daud dan Yoab mengalami hambatan oleh masalah kelemahan kepribadian. Di samping itu kerja sama antara Daud dan Yoab juga dihambat oleh masalah iman yang tidak stabil. Daud mengawali karirnya dengan hati yang takut kepada Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan Samuel untuk mengurapi Daud berdasarkan kondisi rohaninya yang mencintai dan menyembah Allah. ia mengenal sifat-sifat Allah . emahakuasaan-Nya, kemahahadiran-Nya, kepedulian-Nya, kesetiaan-Nya, keadilan-Nya dan kekudusan-Ny. ia juga memiliki kualitas-kualitas yang unggul seperti: hati yang setia, penuh ucapan syukur, jujur, terbuka, berpengharapan, rendah hati, bergantung kepada Allah dan bertobat. 44 Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa tidak seluruh kehidupan Daud mencerminkan kualitas iman yang stabil seperti itu. Ada masa-masa di mana ia seperti Auberhenti menjadi orang yang berkenan di hati AllahAy dan mengecewakan hati Allah, melakukan kehendaknya sendiri, secara langsung dan sengaja berjalan keluar dari kehendak Getz. Apakah Anda Merasa sebagai Seorang yang Gagal?. Gerald and Klingbeil. Pedoman Pendalaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa. 44 Getz. Apakah Anda Merasa sebagai Seorang yang Gagal? Diligentia Vol. No. September 2025 Page 201 Allah, serta melakukan dosa-dosa yang sulit dipercaya . isalnya: berzinah dengan Batzeba, membunuh Uria, mengadakan sensus penduduk, dan lain-lai. Kerja sama Daud dan Yoab mengalami hambatan justru ketika iman mereka mengalami penurunan dan ketika ketaatan kepada Allah diganti dengan mengutamakan kepentingan sendiri. Misalnya ketika Daud berusaha menutupi dosanya dengan memerintahkan Yoab untuk membunuh Uria, menjadi kesempatan bagi Yoab untuk mengambil keuntungan. 46 Akibatnya, tujuan Allah dalam kerja sama di antara Daud dan Yoab tidak tercapai. Seharusnya sebagai panglima perang yang percaya kepada Tuhan Yoab mengingatkan Daud. Contoh lainnya adalah pemberontakan Absalom kepada Daud sebagai konsekuensi atau hukuman Allah atas dosa perzinahan yang telah dilakukan oleh Daud. 47 Daud menyadari bahwa pemberontakan tersebut sebagai konsekuensi atas dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan, karena itu sekalipun ia sedih dan menderita oleh pemberontakan tersebut, ia tetap berpesan kepada Yoab untuk tidak membunuh Absalom . Samuel 18:5, 1. Di sini Daud lebih peka terhadap kehendak Allah dalam hidupnya, mencintai anaknya lebih daripada tahta kerajaan, dan semakin sadar mengenai hukuman pedang yang dikatakan nabi Natan tidak akan beralih dari keluarganya . Samuel 12:. Tetapi Sikap Daud ini berlawanan dengan sikap Yoab yang lebih melihat dari sudut pandang manusia dan kepentingan politik. Yoab dengan keji membunuh Absalom yang sudah tidak berdaya . eperti ketika ia membunuh Abner dengan licik 2 Samuel 3:22-. karena ia tidak dapat memaafkan ancaman terhadap tahta. 48 Artinya Yoab menentang perintah Raja Daud, bahkan ia berani menegur Daud yang sedang berduka dan meratapi kematian anaknya Absalom . Samuel 19:5-. Dengan demikian kerja sama di antara Daud dan Yoab juga terhambat oleh sifat iman yang tidak selalu stabil. Masalah-masalah Kerja sama dalam Perjanjian Baru Perjanjian Baru juga berbicara tentang kerja sama di antara pemimpin jemaat, bahkan kerja sama tersebut merupakan keunikan gereja dan kepemimpinan gereja. 49 Mereka terikat dalam kerja sama oleh suatu panggilan yang sama dengan tujuan untuk menggenapi amanat agung Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil dan melakukan pemuridan (Matius 28:16-20. Kisah Para Rasul 1:. Sekalipun demikian kerja sama di antara mereka tidak selalu berjalan dengan lancar dan efektif. Ada berbagai masalah yang menghambat kerja sama tersebut, seperti masalah iman, masalah keunikan kepribadian, masalah perbedaan kepentingan, masalah kedewasaan, dan lain-lain. Berikut ini beberapa contoh kerja sama di dalam Perjanjian Baru yang mengalami hambatan oleh berbagai macam masalah yang timbul. Kerja Sama antara Euodia dan Sintikhe Kerja sama di antara Euodia dan Sintikhe mengalami masalah karena mereka tidak bisa sehati dan sepikir, sehingga Paulus memberikan nasihat secara pribadi kepada Euodia dan Sintikhe agar kedua perempuan itu bisa sehati dan sepikir (Filipi 4:. Padahal keduanya Getz. Apakah Anda Merasa sebagai Seorang yang Gagal? Bakker. Sejarah Kerajaan Allah 1. 47 Getz. Apakah Anda Merasa sebagai Seorang yang Gagal? 48 Dianne Bergant and Robert J. Karris, ed. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, trans. Hadiwiyata (Yogyakarta. Indonesia: Kanisius, 2. 49 Bergant and Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 202 adalah orang yang beriman dan giat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Paulus menyebut keduanya bersama dengan Klemen dan saudara-saudara yang lainnya sebagai rekan seperjuangan dalam pekabaran Injil. Bahkan nama keduanya menurut Paulus telah dicatat dalam kitab kehidupan (Filipi 4:. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kerja sama bukan hanya masalah beriman atau tidak beriman. Artinya orang beriman yang aktif dalam pelayanan pun bisa mengalami kesulitan untuk bekerja sama. Alkitab tidak memberikan penjelasan tentang apa yang menjadi masalah di antara kedua pelayan Tuhan tersebut. Paulus telah menasehati keduanya agar sehati sepikir (Filipi 4:. , tetapi masalah di antara keduanya tidak bisa diselesaikan. Paulus kemudian meminta pertolongan kepada Sunsugos untuk menolong keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keduanya bukanlah masalah teologi, sebab jika penyebabnya adalah masalah teologi pasti Paulus dapat menyelesaikannya dengan baik. Masalahnya juga bukan karena kurang doa, karena pasti masalah keduanya telah dibawa dalam doa. Paulus yang penuh Roh Kudus dan melimpah dengan pengetahuan firman Tuhan ternyata tidak mampu menyelesaikan perselisihan di antara keduanya. 50 Dilibatkannya Sunsugos untuk menolong menyelesaikan masalah di antara Euodia dan Sintikhe mengindikasikan ada masalah-masalah kepribadian di antara keduanya. Tidak heran jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan dengan nasihat, pengajaran teologi, maupun doa. Paulus menyadari bahwa masalah Euodia dan Sintikhe hanya bisa diselesaikan dengan bantuan orang ketiga, yaitu melalui proses konseling. Dengan demikian Alkitab berbicara bahwa untuk menyelesaikan masalah kerja sama memerlukan bantuan orang ketiga, yaitu melalui proses konseling. Kerja Sama antara Paulus dan Barnabas Kerja sama di antara Paulus dengan Barnabas mengalami hambatan berupa perselisihan yang tajam mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan misi Perselisihan tersebut tidak dapat diselesaikan sehingga kerja sama di antara keduanya harus diakhiri dengan perpisahan. Padahal Alkitab menyebut keduanya sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Barnabas adalah orang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman (Kisah Para Rasul 11:. Demikian pula halnya dengan Paulus, ia memiliki kerohanian yang sangat baik. Paulus mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus dalam perjalanannya menuju ke Damsyik, sehingga menyebabkannya bertobat dan mengalami kelahiran kembali (Kisah Para Rasul 9:3-. Ia dibaptis oleh Ananias atas perintah langsung dari Tuhan . isah Para Rasul 9:. Alkitab juga mengatakan bahwa Paulus adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 9:. Selanjutnya Allah memerintahkan Ananias untuk membimbing Paulus, sehingga bukan saja sembuh dari kebutaan sementaranya bahkan ia juga dipenuhi oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 9:. Setelah itu Paulus giat mengabarkan Injil dan mendapatkan pengaruh yang semakin besar (Kisah Para Rasul 9:20-. Bahkan ada catatan Alkitab yang mengatakan bahwa Roh Kudus menghendaki Barnabas dan Paulus dikhususkan untuk bekerja sama mengerjakan tugas yang telah ditentukan Allah bagi mereka (Kisah Para Rasul 13:. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masalah kerja sama tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan fakta-fakta iman tersebut. Alkitab memberikan gambaran yang jelas bahwa kerja sama di antara Barnabas dan Paulus mengalami hambatan oleh karena keduanya mempunyai cara pandang yang berbeda Yakub B. Susabda. Konseling Pastoral: Pendekatan Konseling Pastoral Berdasarkan Integrasi Teologi dan Psikologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 3. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 203 mengenai Yohanes Markus. Paulus memandang Markus sebagai seorang yang imannya masih labil dan belum dewasa. Padahal pelayanan merupakan panggilan Allah yang membutuhkan tanggung jawab dan komitmen sepenuhnya. Paulus memandang sangat beresiko menyertakan orang yang labil ikut serta dalam perjalan misi. Karena itu Paulus dengan tegas mengatakan: AuAtidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan Tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan merekaAy (Kisah Para Rasul 15:. Hal ini berbeda dengan cara pandang Barnabas terhadap kesalahan Yohanes Markus. Barnabas memang melihat bahwa Markus masih belum dewasa, masih labil, dan lebih mementingkan dirinya sendiri. tetapi Barnabas juga melihat potensi yang besar dalam diri Markus. Markus yang muda itu membutuhkan penerimaan, pengampunan, dan mentor untuk bertumbuh sama seperti Paulus ketika baru bertobat. Everett berpendapat. Barnabas dapat memahami bahwa orang yang belum dewasa dapat melakukan kesalahan, justru karena itu ia membutuhkan seorang sahabat yang dapat menolongnya untuk menyadari kesalahannya dan untuk bertumbuh. 51 Jadi Alkitab berbicara bahwa kerja sama mengalami masalah oleh karena ada perbedaan cara pandang atau cara berpikir. Dengan demikian kerja sama membutuhkan kesamaan dalam cara berpikir. Di samping itu Alkitab juga berbicara tentang hambatan kerja sama yang disebabkan oleh adanya keunikan dan perbedaan kepribadian. Kepribadian Paulus berbeda dengan kepribadian Barnabas. Paulus adalah individu yang mempunyai ketegasan, kegigihan, dan kemauan keras, sehingga ia akan berjuang tanpa kenal menyerah untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. 52 Kemauannya yang keras dan pantang menyerah nampak dalam 1 Korintus 9:24-27. 2 Timotius 2:3-6, di mana ia menegaskan prinsip-prinsip dari disiplin 53 Hal itulah yang membuatnya tidak sabar melihat Yohanes Markus berhenti Ia tidak bisa memberikan toleransi kepada orang yang tidak bisa berbagi ketahanan dan ketabahan dengannya apapun alasannya. 54 Sedangkan Barnabas adalah orang yang mempunyai kesetiakawanan yang tebal, yang suka berkorban untuk orang lain, dan dapat memberikan toleransi serta kesempatan kedua bagi orang yang telah melakukan kesalahan. Perbedaan inilah yang membuat Paulus dan Barnabas tidak bisa melanjutkan kerja sama dalam misi pekabaran Injil. Darmawijaya menyebutkan bahwa perbedaan perasaan dan watak, perhatian dan wawasan dapat menumbuhkan ketegangan dan gesekan di antara pemimpin jemaat. 56 Hal itu menunjukkan bahwa di antara sesama orang beriman pun tidak selalu mudah untuk menyesuaikan diri dalam sebuah kerja sama. Jadi Alkitab berbicara bahwa kerja sama di antara pemimpin jemaat membutuhkan kemampuan untuk mengenali keunikan dan perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Pengenalan terhadap keunikan tersebut akan memudahkan seseorang untuk belajar menyesuaikan diri dengan orang lain. Kerja sama membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Gordon L. Everett. AuRelationship: The Missing Link in Evangelistic Follow-Up,Ay Bibliotheca Sacra 142, no. 566 (April 1. : 152Ae63, https://w. com/article/bsac142-566-05. 52 Jeny Marlin. AuKualifikasi Pemimpin Menurut Rasul Paulus (Studi Eksegetis Surat Titus 1:5-. ,Ay Missio Ecclesiae 6, no. 2 (October 2. : 167Ae97, https://doi. org/10. 52157/me. 53 Tim LaHaye. Temperamen yang Diubahkan, trans. Mundingsari S. (Surabaya. Indonesia: YAKIN, 1. , 84-91. 54 LaHaye. Temperamen yang Diubahkan. 55 LaHaye. Temperamen yang Diubahkan. 56 Darmawijaya. Kisah Para Rasul (Yogyakarta. Indonesia: Kanisius, 2. , 163. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 204 Selanjutnya Alkitab juga membicarakan hambatan kerja sama yang disebabkan oleh adanya perbedaan level iman atau perbedaan tingkat kedewasaan iman dan sifat iman yang tidak stabil. Dalam kerja sama di antara Paulus dan Barnabas. Alkitab tidak memberikan penjelasan yang terperinci mengenai alasan Yohanes Markus meninggalkan Barnabas dan Paulus dalam perjalanan misi pertama. Ada yang menduga bahwa Markus tidak sepaham lagi dengan gerakan misi tersebut. 57 Ada yang mengatakan bahwa Markus merasakan tuntutan Paulus terhadapnya terlalu ketat, sehingga membuatnya tidak tahan dan memutuskan untuk keluar dari tim misi tersebut. 58 Ada juga yang mengatakan bahwa Paulus melihat Markus masih belum matang dan masih labil, sehingga sangat beresiko jika disertakan dalam perjalan misi tersebut. 59 Alasan-alasan tersebut memang bisa saja terjadi, namun kemungkinan yang lebih mendekati adalah masalah kedewasaan iman dan ketidakstabilan iman. Tekanan yang berat dalam misi pekabaran Injil membuat Markus tidak tahan dan memutuskan untuk pulang ke Yerusalem. Dengan demikian perbedaan level iman dan sifat iman yang tidak selalu stabil dapat menjadi hambatan dalam kerja sama. Kerja Sama antara Paulus dan Petrus Kerja sama antara Paulus dan Petrus mengalami konflik oleh karena adanya masalah Alkitab menyebutkan bahwa Paulus dan Petrus tergabung dalam tim kerja sama . pelayanan pekabaran Injil bersama dengan Yakobus. Yohanes dan Barnabas (Galatia 2:. Paulus dan Barnabas mendapatkan tugas untuk mengabarkan Injil kepada orang non-Yahudi, sedangkan Petrus dan yang lainnya mengabarkan Injil kepada orang Yahudi (Galatia 2:. Tetapi kerja sama tersebut mengalami masalah karena Petrus masih ragu-ragu untuk bergaul dengan orang yang non-Yahudi (Galatia 2:. 60 Ini terjadi karena sekalipun secara iman ia dapat menerima keberadaan orang Kristen non Yahudi, tetapi kepribadiannya masih belum siap untuk menerima sepenuhnya orang Kristen non-Yahudi. Paulus ketika menyaksikan sikap Petrus tersebut menjadi marah, dengan keras dan terangterangan di hadapan semua orang yang hadir pada saat itu ia menegur Petrus (Galatia 2:1. Di satu sisi memang sikap Petrus yang masih mempertahankan prejudis terhadap etnis non-Yahudi adalah salah. Sebab masalah yang berkaitan dengan sunat tersebut telah diselesaikan dalam sidang di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:. 61 Tetapi di sisi yang lain cara Paulus dalam menegur Petrus tersebut juga kurang tepat karena kurang etis dan kurang menghargai status dan kedudukan Petrus dalam jemaat. Sekalipun Alkitab tidak mencatat bagaimana reaksi Petrus, tetapi teguran yang keras tersebut dapat melukai hati Petrus (Galatia 2:. Baik tingkah laku Petrus yang masih mempertahankan sikap prejudis terhadap etnis, maupun respon Paulus yang menegur Petrus dengan terang-terangan tersebut dipengaruhi oleh kepribadiannya masing-masing. Petrus seharusnya tidak perlu takut atau malu bergaul, bersekutu, dan makan bersama dengan orang Kristen yang non-Yahudi, karena ia sudah setuju dengan keputusan Darmawijaya. Kisah Para Rasul. Andar Ismail, ed. Mulai dari Musa dan Segala Nabi: Buku Perayaan/Festschrift Dr. Arie de Kuiper (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 157. 59 Everett. AuRelationship. Ay 60 Marcus J. Borg. Meeting Jesus Again for the First Time: The Historical Jesus and the Heart of Contemporary Faith (San Fransisco. CA: Harper Collins, 2. 61 Taiye Adamolekun. AuJerusalem Council in Acts Chapter 15:1-35: Its Relevance for Sustainable Conflict Resolution in Nigeria,Ay American Journal of Humanities and Social Sciences 1, no. 2 (May 2. 92Ae96, https://doi. org/10. 11634/232907811301327. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 205 sidang di Yerusalem tersebut (Kisah Para Rasul 15:5, 9-. 62 Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sekalipun secara iman Petrus dapat menyetujuinya, tetapi secara kepribadian ia masih belum merasa aman dengan keputusan tersebut. Perasaan malu dan takut itu muncul jika ia makan semeja dengan orang-orang yang tidak bersunat (Galatia 2:. Hal ini menunjukkan bahwa ia masih belum dapat mengintegrasikan keputusan tersebut dengan kepribadiannya sendiri, sehingga secara spontan berdiri untuk menghindar ketika rombongan orang Kristen Yahudi datang. Dengan demikian pergumulan Petrus bukanlah masalah iman, tetapi masalah kepribadiannya yang belum merasa aman. Jadi Alkitab menyebutkan bahwa kesulitan pemimpin-pemimpin jemaat dalam bekerja sama tersebut disebabkan oleh karena masalah-masalah kepribadian. Alkitab juga menyebutkan bahwa kepribadian yang dewasa tidak datang dengan sendirinya, hal itu membutuhkan latihan dan kerja keras (Ibrani 5:. Hal-hal inilah yang seharusnya disadari dan diwaspadai dalam kerja sama di antara hamba Tuhan dan majelis jemaat. Kerja Sama di Antara Pemimpin Gereja Mula-mula (Tua-tua dan diake. Alkitab mengatakan bahwa untuk membangun kerja sama yang efektif, maka setiap individu yang terikat dalam kerja sama harus mempunyai kepribadian yang dewasa. Hal ini seperti dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius . Timotius 3:1-. Dalam konteks 1 Timotius 3:1-16 tersebut Alkitab berbicara mengenai kedewasaan sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin menjadi pemimpin jemaat dan masuk dalam ikatan kerja sama di antara para pemimpin. Artinya, seorang pemimpin jemaat harus memiliki kehidupan pribadi yang beres. Kriteria kehidupan pribadi yang sudah beres tersebut meliputi: pertama kehidupan keluarganya harus beres . idak bercaca. , yaitu: suami dari satu istri . Timotius 3:. , kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya . Timotius 3:4-. Keluarga menjadi cermin dari kemampuan seorang individu dalam memimpin jemaat Tuhan. Individu yang tidak mampu mengelola keluarganya sendiri tidak mungkin mampu mengelola tanggung jawab yang lebih besar, yaitu mengelola jemaat Tuhan . Timotius 3:. Kalau ia sulit bekerja sama dengan keluarganya sendiri, tentu ia juga akan kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain. 64 Kedua kehidupan di masyarakat harus beres . idak bercaca. , yaitu: dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan . Timotius 3:. , bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang . Timotius 3:. , mempunyai reputasi yang baik di masyarakat . Timotius 3:. , ketiga cakap mengajar, artinya seorang pemimpin jemaat harus cakap dalam memimpin dan mengarahkan jemaat di jalan Tuhan, yaitu menanamkan dampak pengajaran Injil Kristus Yesus di dalam perbuatan hidup sehari-hari. Seorang pemimpin jemaat terpanggil untuk memberi pimpinan Ada beberapa bukti bahwa Petrus secara teologis menerima keputusan tersebut, misalnya dalam Kisah Para Rasul 10:31 ia membela baptisan Kornelius, kemudian dalam sidang di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:5, 9-. ia mengungkapkan bahwa tidak perlu membebani orang-orang Kristen Non-Yahudi dengan kewajiban sunat dan adat istiadat Yahudi, karena mereka atas karunia Yesus Kristus telah diselamatkan juga. Paul Suparno. Communal Discernment: Bersama Mencari Kehendak Tuhan dalam Komunitas (Yogyakarta. Indonesia: Penerbit Kanisius, 2. , 12. 63 Arthur John Alard and Fazel Ebrihiam Freeks. AuThe Leadership Role of the Man in Context of Family and Church: A Quantitative Study,Ay Pharos Journal of Theology 101 (September 2. : 1-21, https://doi. org/10. 46222/pharosjot. 64 Ralph Earle. Au1 & 2 Timothy,Ay in The ExpositorAos Bible Commentary (Volume . : Ephesians through Philemon, ed. Frank E. Gaebelein (Grand Rapids. MI: Zondervan, 1. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 206 rohani kepada jemaat. Di sini mereka dituntut untuk memberikan keteladanan hidup. Jadi Alkitab berbicara bahwa kerja sama di antara para pemimpin jemaat dapat berjalan secara efektif jika tiap-tiap individu mempunyai kepribadian yang dewasa. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kerja sama antar pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Tuhan menghendaki umat-Nya hidup dalam kerja sama . untuk mengerjakan tugas dan panggilan Allah. Di samping itu kerja sama menjadi sarana bagi pertumbuhan pribadi. Tanpa kerja sama orang percaya tidak akan mencapai tujuan dan rencana Allah dan gereja tidak akan menjadi gereja. Alkitab berbicara tentang kerja sama melalui kehidupan umat Allah. Mereka adalah orang-orang beriman yang bisa menjadi contoh oleh karena mereka sadar bahwa iman bisa menyelesaikan masalah kehidupan seperti yang sudah disaksikan Ibrani 11. Tetapi sebagai orang-orang beriman yang disertai, dipelihara, diutus, dan dijaga oleh Allah, tidak otomatis kerja sama di antara mereka dapat berjalan dengan baik. Ada beberapa hambatan kerja sama, antara lain: masalah perbedaan kepribadian, perbedaan kepentingan, perbedaan orientasi hidup, masalah ketidakstabilan iman, dan lain-lain. Hal ini memberikan kesadaran bahwa setiap orang beriman harus selalu memelihara iman mereka dalam kondisi yang baik. Bapak orang beriman seperti Abraham pun kadang-kadang imannya melemah dan mengalami kegagalan. Jadi itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, sehingga dalam kaitan dengan kerja sama di antara hamba Tuhan dan majelis jemaat perlu selalu diingatkan, meskipun dalam kerja sama iman itu dapat menyelesaikan berbagai persoalan, tetapi iman tidak otomatis menjadi kekuatan yang menolong orang-orang percaya. Iman itu harus selalu dihidupkan. Refleksi Teologis: Kerja Sama sebagai Panggilan Iman Kerja sama di antara para pemimpin Kristen tidak bisa dipahami sekadar sebagai strategi administratif, melainkan sebagai panggilan spiritual yang lahir dari identitas umat Allah sebagai tubuh Kristus. Kerja sama dalam perspektif Alkitab adalah pengejawantahan dari kehidupan Allah Tritunggal yang penuh kasih, kesatuan, dan saling berbagi peran (Yoh. 17:21Ae. Sebagaimana Allah hidup dalam persekutuan, demikian pula orang percaya dipanggil untuk hidup dalam koinonia, yaitu persekutuan yang mencerminkan kehadiran kasih Allah di tengah komunitas. George Cladis menyebut bahwa misi gereja merupakan perpanjangan dari kasih Allah Tritunggal, dan kerja sama antar pemimpin adalah bentuk partisipasi umat Allah dalam relasi kasih ilahi itu. 65 Oleh karena itu, kerja sama adalah wujud kesatuan dalam Roh, bukan sekadar kerja kolektif. Kesatuan itu bukan didasarkan pada keseragaman, melainkan pada kasih yang mempersatukan dalam keragaman karunia dan kepribadian. Kisah-kisah dalam Alkitab menunjukkan bahwa AuimanAy saja tidak cukup66 menjamin keberhasilan kerja sama. Konflik antara Paulus dan Barnabas (Kis. 15:36Ae. , atau antara Musa dan Miryam (Bil. , menunjukkan bahwa kedewasaan iman dan karakter merupakan syarat penting bagi kolaborasi rohani. Perbedaan tajam antar pelayan Tuhan tidak menandakan kegagalan spiritual, tetapi menunjukkan pentingnya formasi karakter dalam komunitas iman. Konflik seperti antara Paulus dan Barnabas justru memperlihatkan Cladis. Leading The Team-Based Church. Penulis percaya pada Sola Fide, sehingga konteks artikel ini adalah iman yang dinamis atau iman yang harus dikerjakan agar terus bertumbuh melalui proses pengudusan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Paulus bahwa iman perlu dikerjakan dengan takut dan gentar (Filipi 2:. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 207 bagaimana pertumbuhan rohani dapat terjadi di tengah ketegangan yang manusiawi. 67 Proses ini merupakan bagian penting dalam formasi spiritual yang terjadi melalui relasi interpersonal dan keterlibatan dalam tubuh Kristus. Di tengah konteks sekolah Kristen, refleksi ini menjadi sangat relevan. Kerja sama antar kepala sekolah, guru, dan pembina iman bukan sekadar pembagian tugas, melainkan sebuah discipleship journey bersama dalam membentuk generasi yang menghidupi iman. Van Brummelen menekankan bahwa pendidikan Kristen harus bersandar pada relasi yang dibentuk oleh kasih dan kebenaran Kristus, bukan hanya struktur administratif. Solusi Teologis-Praktis: Strategi Membangun Kerja Sama Kristen Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas, penulis mengusulkan beberapa Solusi Pertama mengembangkan formasi karakter dan spiritualitas bagi para pemimpin. Kerja sama yang efektif memerlukan kedewasaan karakter dan kehidupan rohani yang sehat. Oleh karena itu, pelatihan kepemimpinan di sekolah Kristen seharusnya tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada formasi spiritual dan pemulihan pribadi. Banks dan Ledbetter mengingatkan bahwa kepemimpinan Kristen tanpa formasi spiritual hanya akan melahirkan konflik ego dan kekuasaan. 70 Program pembinaan seperti retret rohani, mentoring pribadi, dan refleksi teologis perlu menjadi bagian dari kultur kepemimpinan Kedua mentoring dan refleksi komunal. Langkah kedua adalah membangun mentoring lintas jabatan yang memungkinkan pemimpin saling mengenali dinamika batin dan karakter satu sama lain. Selain itu, refleksi rutin terhadap visi bersama sangat penting. Menurut Palmer, mentoring spiritual menolong pemimpin menyadari bayangan dirinya . hadow sid. dan menjadi lebih otentik dalam kolaborasi. 71 Kultur refleksi kolektif ini dapat dilakukan melalui pertemuan doa, studi Alkitab kepemimpinan, atau forum diskusi kepemimpinan rohani yang mendorong kejujuran dan kerendahan hati. Ketiga, melakukan proses restoratif dalam penyelesaian konflik. Dalam konflik kerja sama, pendekatan disipliner semata seringkali memperbesar jarak. Sebaliknya, proses restoratif menekankan pemulihan relasi dan pemaknaan spiritual atas konflik. Prinsip rekonsiliasi dalam 2 Korintus 5:18 menjadi kerangka dasar. Ward menekankan bahwa proses restoratif dalam konteks sekolah Kristen mendukung pemimpin untuk bertumbuh dalam kasih, bukan dalam kontrol. Keempat peneguhan visi dan tujuan misi bersama. Akhirnya, kerja sama membutuhkan peneguhan kembali terhadap misi bersama yang menyatukan setiap Michael J. Gorman. Becoming the Gospel: Paul. Participation, and Mission (Grand Rapids. MI: Eerdmans Publishing, 2. 68 Alfius Areng Mutak. AuDisiplin Rohani Sebagai Praktek Ibadah Pribadi,Ay SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 4, no. 1 (March 2. : 1Ae24, https://doi. org/10. 47596/solagratia. 69 Van Brummelen. Berjalan dengan Tuhan di dalam Kelas. 70 Robert J. Banks and Bernice M. Ledbetter. Reviewing Leadership: A Christian Evaluation of Current Approaches (Grand Rapids. MI: Baker Academic, 2. 71 Parker J. Palmer. Let Your Life Speak: Listening for The Voice of Vocation (San Francisco. CA: JosseyBass, 2. , https://download. e-bookshelf. de/download/0002/6951/91/L-G-0002695191-0004312386. 72 Michelle Kehoe. AuTeachersAo and StudentsAo Perspectives of Using Restorative Practices in Schools: AoItAos Got the Power to Change BehaviourAy (PhD diss. Institute of Positive Psychology and Education, 2. , https://doi. org/10. 26199/5B878613BA294 . Diligentia Vol. No. September 2025 Page 208 Ketika visi spiritual dan akademik tidak terintegrasi, konflik antar pemimpin mudah terjadi. Oleh karena itu, diskusi terbuka mengenai arah pelayanan, panggilan institusi, dan integrasi iman perlu menjadi rutinitas. Kim dan Mannoia menegaskan bahwa visi teologis bersama lebih kuat dalam menciptakan kerja sama dibanding kesamaan sistem atau Jadi kerja sama pemimpin dalam sekolah Kristen bukan sekadar sarana efisiensi organisasi, tetapi merupakan panggilan ilahi untuk mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal. Hambatan seperti kepribadian yang belum dewasa, ketegangan visi, dan iman yang tidak stabil hanya bisa diatasi melalui pendekatan reflektif-teologis dan solusi yang mengakar dalam kasih dan formasi spiritual. Maka, kepemimpinan Kristen harus terus bertumbuh dalam kejujuran, kerendahan hati, dan kerelaan untuk saling membentuk di dalam Kristus. Kesimpulan Kerja sama antar pemimpin di sekolah Kristen merupakan elemen esensial dalam mewujudkan visi Allah bagi komunitas pendidikan, namun tidak terjadi secara otomatis meskipun dilandasi iman yang sama. Studi Alkitab menunjukkan bahwa tokoh-tokoh iman pun mengalami hambatan dalam kerja sama karena faktor kepribadian yang belum dewasa, perbedaan orientasi hidup, kepentingan pribadi, serta iman yang tidak stabil. Hal ini memperlihatkan bahwa iman saja tidak cukup. kerja sama memerlukan kedewasaan karakter, pembentukan rohani, dan kesadaran akan dinamika relasional. Dalam konteks teologis, kerja sama adalah wujud dari koinonia, persekutuan yang mencerminkan kasih dan kesatuan Allah Tritunggal. Maka, kepemimpinan Kristen tidak bisa dilepaskan dari proses formasi karakter, penyembuhan relasi, dan pembaharuan visi bersama yang bersumber dari kasih Kristus. Untuk itu, solusi yang ditawarkan bukan hanya teknis, melainkan bersifat spiritual dan reflektif: pembinaan karakter, mentoring spiritual, pendekatan restoratif dalam konflik, serta peneguhan kembali terhadap panggilan dan arah Jadi membangun kerja sama dalam kepemimpinan Kristen membutuhkan kerendahan hati, kejujuran spiritual, dan kesediaan untuk dibentuk bersama. Sekolah Kristen dipanggil bukan hanya untuk mengelola organisasi, tetapi untuk mencerminkan kehidupan Allah melalui komunitas yang saling mengasihi dan bertumbuh dalam Kristus. James C. Wilhoit and John M. Dettoni. Nurture That Is Christian: Developmental Perspectives on Christian Education (Grand Rapids. MI: Baker Academic, 1. Diligentia Vol. No. September 2025 Page 209 Daftar Pustaka