Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 PEREMPUAN TANAH DIHIMPIT OLEH KEPENTINGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KEEROM Maria Niester Insoraki Komboy STFT GKI I. S Kijne Jayapura nrumere@gmail. Sientje Latuputty STFT GKI I. S Kijne Jayapura Sienty2003@yahoo. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mendefinisikan ulang istilah perempuan tanah, yang selama ini kerap dimaknai secara peyoratif dalam interaksi sosial masyarakat Papua. Melalui pendekatan ekofeminisme, penulis menantang pandangan diskriminatif terhadap perempuan asli Papua, khususnya di wilayah Keerom, yang memiliki peran penting dalam menjaga alam dan kehidupan sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, tulisan ini menganalisis fenomena perampasan lahan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan dampaknya terhadap eksistensi perempuan tanah. Kajian ekofeminis digunakan sebagai alat analisis untuk memetakan relasi timpang antara perempuan dan alam, serta mengangkat suara perempuan tanah yang berjuang mempertahankan hak atas tanah dan identitas mereka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembukaan lahan sawit di Keerom telah menyebabkan deforestasi, pencemaran air, degradasi tanah, dan banjir, yang memperburuk kondisi ekologis wilayah tersebut. Perempuan tanah, dengan pengetahuan lokal yang mereka miliki, menjadi korban dari proyek pembangunan yang tidak berpihak pada masyarakat adat. Tulisan ini berupaya membangun solidaritas terhadap perempuan yang tertindas dan mendorong perlindungan serta pemulihan tanah sebagai ruang hidup yang berkelanjutan. Kata Kunci : Perempuan Tanah. Ekofeminis. Keerom. Eksistensi. Keterhubungan ABSTRACT This paper aims to redefine the term women of the land, which has often been interpreted pejoratively in the social interactions of Papuan communities. Through an ecofeminist approach, the author challenges discriminatory views toward Indigenous Papuan women, particularly in the Keerom region, who play a vital role in preserving nature and sustaining social life. Using a qualitative method based on literature review, this study analyses the phenomenon of land dispossession caused by oil palm plantation expansion and its impact on the existence of women of the land. Ecofeminist theory is employed as an analytical tool to map the unequal relationship between women and nature, and to amplify the voices of women of the land who struggle to defend their rights to land and identity. The findings reveal that the development of oil palm plantations in Keerom has led to deforestation, water pollution, soil degradation, and flooding, exacerbating the regionAos ecological crisis. Women of the land, with their deep local knowledge, have become victims of development projects that disregard Indigenous communities. This paper seeks to build solidarity with oppressed women and advocates for the protection and restoration of land as a sustainable living space. Keywords : Women of the land. Ecofeminist. Keerom, existence, interdependency PENDAHULUAN Perempuan tanah merupakan sebutan yang sering disandangkan kepada perempuan asli Papua dan sangat melekat sekali dalam kehidupan sosial orang Papua. Istilah perempuan tanah dalam interaksi sosial lebih dominan dimaknai sebagai panggilan sindiran akan tetapi dalam tulisan ini penulis dengan sengaja mengunakannya sebagai bentuk mendefinisikan ulang kata Auperempuan tanahAy. Maka penulis mengunakan studi feminis untuk menantang pemikiran diskriminatif terhadap panggilan Perempuan tanah tersebut. Mariaane Katoppo mengisahkan bahwa dalam pertemuan Raya Wanita di Amuhus. Ambon, ia ditegur terhadap istilah kata AuperempuanAy sebab istilah tersebut dinilai mengandung konotasi negatif. Sehingga ia harus menjelaskan bahwa kata AuperempuanAy justru suatu istilah yang sangat agung dan indah, karena berakarkan kata mpu, yang merujuk kepada kebijaksanaan, kuasa dan wibawa. 1 Empu juga juga diterjemahkan sebagai AuberdaulatAy atau AusantaAy atau AuibuAy. Katoppo lebih lanjut menerangkan bahwa pengertian ini mengambarkan seseorang dengan keterampilan, pengetahuan, kebudayaan yang unggul seperti yang diperlihatkan oleh empu Mada . aitu Tuan Mada yang dikenal sebagai Gajah Mada, perdana menteri yang tersohor dari Kerajaan Majapahi. 2 Maka berangkat dari penjelasan Katoppo mempertegas upaya mendefinisikan ulang istilah perempuan tanah. Hemat penulis, sebutan Auperempuan tanahAy menyiratkan hubungan yang erat antara perempuan dan tanah . yang seringkali dalam interaksi sosial di Papua tidak ditelaah dengan baik. Pergerakan ekofeminis menuntut pada kesadaran akan korelasi antara perempuan dan alam (AotanahA. Oleh karena kesadaran tersebut mendasari pemilihan judul dengan menggunakan sebutan Auperempuan tanahAy. Adams mengungkapkan dalam pendahuluan buku Ecofeminism and The Scared bahwa ekofeminisme mengidentifikasi dua dominasi yakni terhadap perempuan dan alam. 3 Sehingga gerakan ekofeminisme menganalisa dominasi dalam lingkup sosial dan alam. Pada tatanan sosial perempuan mengalami penindasan sedangkan dalam tatanan kosmos alam pun mengalami keadaan serupa. Baik perempuan dan alam berbagi pengalaman penindasan. Maka tesis tersebut hendak diperjumpakan dengan konteks kehidupan perempuan tanah di Papua. Papuan WomenAos Working Group (PWG) menerbitkan suatu buku yang diberi judul: AuSa Ada di SiniAy. Buku ini menjadi salah satu sumber bagi gambaran eksistensi perempuan Papua dan kekerasan yang dialaminya dalam kurun waktu yang cukup lama. Laporan ini mengangkat temuan kunci dari penelitian aksi partisipatif yang dilakukan selama empat tahun . , melibatkan secara kumulatif 170 perempuan asli Papua. Penulis sangat berutang besar terhadap karya sebab telah berkontribusi dalam upaya memperkaya tulisan ini. Kawasan Papua yang terlalu luas maka penulis mempersempit fokus penulisan pada salah satu Kabupaten di wilayah Provinsi Papua, yakni Keerom. Partisipan dari penelitian yang dilakukan oleh PWG di atas terdapat beberapa perempuan tanah dari Keerom. Penelitan di atas membangkitkan dan mendorong pergerakan dalam diri perempuan itu sendiri seperti apa yang disampaikan salah seorang mama : AuDengan kegiatan begini, kami perempuan adat bisa percaya diri untuk bersuara. Kami perempuan bisa tahu, kalau tempat kami bukan di belakang saja. Kita bisa tahu kalau kita punya hutan sudah habis, nanti tong tidak bisa bikin atap rumah dari daun sagu tapi dari daun sawit, nanti kita kasih makan anak-anak kelapa sawit. Kita punya tempat bukan di dapur lagi, tapi kita bicara dengan bapak-bapak lagiAy (Yolanda,2017:. Pernyataan di atas mengkonfirmasi pengaruh kajian feminis dalam kehidupan Perempuan yang tertindas dan upaya untuk bertahan. Sehingga tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi perempuan tanah di daerah Keerom. Keberadaan perempuan di keerom mengalami pergeseran atas tanah mereka oleh karena kuasa kapitalisme. Semangat pembangunan yang diimpikan dapat mendobrak perekonomian justru menindas para perempuan dan merusak kehidupan alam di daerah Keerom. Analisa ekofeminis digunakan untuk dapat memetakan persoalan penindasan perempuan dan alam di daerah Keerom. Marianne Katoppo,Compassionate and Free:Tersentuh dan Bebas : Teologi Seorang Perempuan Asia, (Jakarta : Aksara Karuni. , 2007,hal. Marianne Katoppo,Compassionate and Free:Tersentuh dan Bebas : Teologi Seorang Perempuan Asia, (Jakarta : Aksara Karuni. , 2007hal. Carol J. Adams. Ecofeminism and the Sacred (New York : Continuu. ,1993, hal. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian dengan metode kualitatif digunakan agar peneliti dapat memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan terhadap orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 4 Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan studi Studi pustaka adalah serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Studi pustaka mengandalkan bahan penelitian dari perpustakaan, seperti buku, jurnal, ensiklopedi, ataupun majalah sebagai sumber data. Karya non-cetak seperti hasil rekaman audio, video, maupun film juga termasuk sumber data kepustakaan. Kajian Ekofeminis digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena perampasan lahan di Keerom dan ancaman keberlangsungan hidup bagi orang asli pemilik tanah Keerom. HASIL DAN PEMBAHASAN Perempuan Tanah mengambil peranan begitu penting dalam menjaga dan merawat alam dan kehidupan rumah tangga. Kemampuan dan pengetahuan mengelolah tanah dan merawat kehidupan sosial menjadikannya begitu penting dalam studi ini. Keerom memiliki catatan historis cukup panjang terhadap proyek negara penanaman kelapa sawit. Kebijakan politis mempengaruhi keterhubungan antara perempuan tanah dan alam di Wilayah Keerom. Maka dalam bagian ini penulis memaparkan keberadaan Kabupaten Keerom dan kebijakan ekonomi penerapan proyek kelapa sawit. Deskripsi historis mendudukan kebijakan masa lalu hingga dampak masa kini secara khusus bagi kehidupan perempuan tanah Keerom. Selanjutnya kajian ekofeminis berupaya menganalisa dampak yang diterima oleh perempuan tanah di Keerom sehingga menghasilkan sumbangan pikiran bagi solidaritas terhadap penindasan yang dialami oleh perempuan tanah. Serta mendorong perlindungan dan pemeliharan terhadap tanah. Kabupaten Keerom dan Proyek Kelapa Sawit Kabupaten Keerom terbentuk berdasarkan UU RI No. 26 Tahun 2002 yang terdiri dari 5 distrik, yakni Distrik Arso. Skanto. Web. Waris, dan Senggi. Pada tahun 2017. Kabupaten Keerom secara administratif berkembang dari 5 distrik menjadi 11 distrik, yaitu Distrik Web. Towe. Yaffi. Senggi. Kaisenar. Waris. Arso. Arso Timur. Arso Barat. Mannem, dan Skanto. 6 Sektor pertanian memberikan kontribusi paling besar dalam PDRB . roduk domestik regional brut. , bila dibandingkan dengan sektor lainnya. Kontribusi sektor pertanian lebih dari 30 persen pada tahun 2017. Sebagian besar kontribusi diberikan oleh subsektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan kehutanan. Sedangkan sisanya diperoleh dari subsektor peternakan dan perikanan. 7 Hasil perkebunan yang paling dominan yakni kelapa sawit dan kakao dengan luas tanam kelapa sawit pada tahun 2016 mencapai 17. 790 ha sedangkan kakao mencapai 7. 818 ha. 8 Kelapa sawit merupakan konsentrasi penulis sebab waktu beroperasi yang sangat lama . ekitar 26 tahu. dan pengunaan lahan tanam sangat luas untuk jenis hasil kebun di daerah Keerom. Semangat pembangunan nasional yang digembar Ae gemborkan masa orde lama hingga orde baru melanggengkan program transmigrasi masa kolonial. Dasar hukum penyelenggaraan transmigrasi adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian . ebelumnya UU Nomor 3 Tahun 1. dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi. 9 Proyek masif negara ini mengkonversikan hutan primer menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di daerah Keerom. Lexy Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (PT Remaja Rosdakarya : Bandun. , 2006,hal. Nana Syaodih. MetodologiPenelitian Pendidikan, (PT Remaja Rosdakarya : Bandun. ,2013, hal. Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Keerom,(Badan Pusat Statistik Kabupaten Keerom: Keero. November 2018, hal. Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Keerom,(Badan Pusat Statistik Kabupaten Keerom: Keero. November 2018, hal. Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Keerom,(Badan Pusat Statistik Kabupaten Keerom: Keero. November 2018, hal. https://ditjenpkp2trans. id/resources/files/a2e27404a080382134857e7ef4874c6f. pdf, diakses pada tanggal 8-4-2025, pukul 12. 51 WP Pabrik kelapa sawit PTPN (PT. Perkebunan Nasiona. II merupakan Badan Usaha milik Negara. PT. PN II beroperasi di Arso sejak April 1992 dengan kapasitas 15 ton TBS/jam. Sejak 21 Agustus 1994 terjadi peningkatan kapasitas Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dari 15 ton TBS/jam menjadi 30 ton TBS/jam. 10 Peningkatan pembukaan lahan terus dilakukan berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom, luas Kebun Sawit di wilayah itu mencapai 11. 921 hektar, dengan luas 195 ha. Pada tahun 2006. PTPN II Arso memanen hingga 8. 339 Ha. Luas areal panen tersebut berasal dari kebun plasma . 600 h. , kebun inti . 871 h. KKPA . 800 h. dan Bumi Irian Perkasa . 068 h. 11 Perluasan lahan perkebunan terus gencar dilakukan sekalipun menuai kontra dari pihak masyarakat adat. Pada tahun 2009 luas wilayah perkebunan kelapa sawit melebar menjadi 14. 244 ha. Kehadiran perusahan Ae perusahan swasta pun tidak dapat terhindari. Pada tahun 2010. PT Tandan Sawita Papua (TSP) menjadi perusahaan kedua yang beroperasi di Kabupaten Keerom. Perusahaan PT. TSP dimiliki oleh Green Eagle Group, . ulu sebuah usaha patungan antara Rajawali Group dan perusahan Perancis Louis Dreyfus Commodities ini namun status sekarang di bawah naungan BW Plantation dengan 43 Rajawali sebagai pemegang saham utam. PT. TSP membabat hutan setelah mendapat izin usaha perkebunan seluas 18. 337 hektar . ari izin lokasi awal seluas 26. 300 hekta. Ekspansi terhadap alam Keerom dilakukan dengan tujuan pengembangan ekonomi daerah. Sebuah disertasi oleh Untung Turua membahas mengenai Model Pengembangan Kapasitas Ekonomi Petani Asli Papua dalam Pembangunan Wilayah di Kabupaten Keerom menjelaskan : AuPotensi lahan adalah kekuatan yang dimiliki warga kampung di Kabupaten Keerom untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, bila diorganisir secara baik bersama stakeholder. Pemilikan potensi lahan yang sangat luas di wilayah ini hanya sebagian kecil yang telah dimanfaatkan, sedangkan selebihnya masih berupa lahan tidur yang belum dimanfaatkanAy. Realisasi pemikiran tersebut terbukti bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit semakin merajalela di belantara hutan Keerom. Sekalipun tumbangnya BUMN milik negara PTPN II usaha perkebunan ini akan terus dikembangkan oleh pihak swasta ataupun pemerintah provinsi Papua. 15 Kebijakan terus mengembangkan sektor perkebunan dengan mengutamakan kelapa sawit sebagai komoditas domestik. Realita ini mencerminkan bahwa telah mengakarnya sistem kapitalis dalam ideologi pembangunan daerah. Melanie Pichler seorang peneliti pada departemen Ilmu Politik Universitas Wina. Austria menfokuskan penelitiannya pada Ekologi Politik Internasional dan Teori Negara dan hegemoni pada kawasan Asia Tenggara dalam artikelnya menjelaskan bahwa dalam hubungan antara masyarakat dan alam yang dibentuk oleh sistem kapitalis, akumulasi modal menjadi pendorong utama dalam penguasaan atas tanah dan sumber daya alam. Dalam kerangka ini, pemberian nilai ekonomi terhadap alam merupakan strategi pentingAiatau bahkan syarat awalAiuntuk mengintegrasikan wilayah-wilayah non-kapitalis ke dalam sistem produksi kapitalis, sehingga memungkinkan proses akumulasi modal terus berlangsung. Hemat penulis korelasi sumbangan pemikiran Turua dan Pichler dalam konteks kehadiran kelapa sawit dan proyek pembangunan pemerintah Kabupaten yakni potensi lahan/tanah yang banyak dikuasai oleh masyarakat asli merupkan komoditas utama bagi peningkatan ekonomi daerah. Maka tanah mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Dengan kata lain telah terjadi perubahan nilai terhadap tanah di mana pergeseran dari nilai sosial bagi masyarakat asli kepada nilai ekonomi yang dilatarbelakangi ideologi kapitalis. http://w. downtoearth-indonesia. org/id/story/sawit-dan-perempuan-di-wilayah-investasi, diakses pada tanggal 9-4-2025, pukul 13. 50 WP Untung Turua Disertasi Doktor : Model Pengembangan Kapasitas Ekonomi Petani Asli Papua dalam Pembangunan Wilayah di Kabupaten Keerom. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, 2014, hal. Dolf Eduard Mitteboga. Cooperative Empowerment Strategy in the Keerom Regency. Papua Province, dalam IOSR Journal of Business and Management ,Volume 13. Issue 2 ,2015, hal. Franky. Selwyn Morga,Atlas Sawit Papua: Dibawah Kendali Penguasa Modal, (Pusaka: Jakarta Selata. Maret 2015, hal. Untung Turua Disertasi Doktor : Model Pengembangan Kapasitas Ekonomi Petani Asli Papua hal. https://pusaka. id/2016/02/riwayat-kebun-sawit-ptpn-ii-arso-papua-yang-terancam-guling-tikar/ Melanie Pichler. Legal Dispossession: State Strategies and Selectivities in the Expansion of Indonesian Palm Oil and Agrofuel Production dalam Jurnal Development and Change Vol. 46, doi = 10. 1111/dech. April 2025, hal. Desktruksi Berkala Pada Alam Kepentingan Ekonomi mendorong kebijakan politis bagi konversi lahan diperparah oleh pergeseran nilai terhadap tanah. Kedua hal ini merupakan tanda awal bagi kehancuran atas alam. Rob Cramb. George N. Curry dalam artikelnya Oil palm and rural livelihoods in the AsiaAePacific region menyimpulkan bahwa 89 persen minyak kelapa sawit diproduksi di daerah Asia Pasifik dengan 84 persen dari Malaysia dan Indonesia. 17 Sumbangan besar ini mengorbankan kerusakan yang luas bagi kawasan hutan primer. Hutan produksi daerah Keerom yang telah dikonversikan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit bagi beberapa perusahaan merusak ekologi daerah tersebut. Cramb dan Curry menjelaskan bahwa perluasan lahan untuk pengembangan sawit ke tanah yang lebih curam di pedalaman telah menonjolkan erosi tanah dan polusi saluran air, sedangkan pembersihan dan pengeringan lahan gambut pesisir telah menghasilkan penurunan level tanah sehingga berdampak pada resiko genangan jangka panjang. Laporan statistik BPS Keerom tahun 2018 menjelaskan bahwa secara umum jenis tanah di Kabupaten Keerom merupakan tanah podsolik yang bersifat gembur yang sangat peka terhadap proses pengikisan dan memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga apabila difungsikan sebagai lahan pertanian dibutuhkan proses pemupukan dan pengawetan. 19 Juga memperhatikan data ketinggian Kabupaten Keerom berkisar diantara 0 - 3. 000 meter. Adanya wilayah dengan tinggi setara permukaan air laut, menyebabkan beberapa lokasi di Kabupaten Keerom memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami banjir. Kondisi ini terutama terjadi pada musim penghujan, dimana dengan ketinggian yang sama dengan air laut mengakibatkan air tidak dapat mengalir menuju laut lepas. 20 Situasi ini merupakan fenomena yang telah terjadi dalam kurun waktu 10 tahun belakangan. Setelah menyimak laporan BPS mengenai keadaan geografis dan iklim daerah Keerom disejajarkan gempuran pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit maka hemat penulis, ada dua masa pengerusakkan alam. Pertama, masa sebelum penanaman komoditas monokultur tersebut. Masa ini terjadi deforestasi atau dikenal dengan pengundulan hutan. Pada tahap ini terjadi pembunuhan masif terhadap keanekaragaman hayati . Hutan selain sebagai rumah bagi berbagai spesies tanaman maupun hewan juga merupakan sumber penyimpanan air dan fungsi yang sangat krusial yakni penghasil gas O2 (Oksige. Penebangan hutan menyebabkan hilangnnya sumber air serta topografi yang memungkinkan endapan air di permukaan tanah pada musim hujan menyebabkan banjir. Kedua, masa pernanaman hingga panen kelapa sawit. Sophie Chao dalam artikelnya In The Shadow Of The Palm : Dispersed Ontologies among Marind. West Papua mengungkit seputar kerusakan yang disebabkan oleh tanaman sawit. Chao menjelaskan bahwa sawit menggerogoti tanah, menyebabkan erosi, abrasi, dan endapan. Sawit juga mencemari sumber air dengan limbah dari pabrik di mana ia diproses. 23 Sekalipun Keerom hanya menanam sawit dan mengekspor bahan mentah belum sampai pada tahap produksi menjadi minyak goreng, sawit tetap mempunyai unsur destrukstif. Tanaman kelapa sawit membutuhkan air dan unsur hara yang sangat tinggi. Kebutuhan air yang digunakan untuk siraman bibit A 2 liter per polybag per hari disesuaikan dengan berapa umur bibit. 1000 bibit = 2000 liter/harinya. Kemudian kebutuhan air pohon kelapa sawit dewasa A 10 liter /hari. 1000 pohon = 10. 000 liter/hari. Lalu tidak kurang membutuhkan 1. 000 liter air/hari bagi 1 hektar tanah. Penggunaan bahan kimia seperti pestisida, hebisida, dan juga pupuk berbasis potroleum tanpa adanya aturan menyebabkan tanah menjadi rusak dan menimbulkan adanya pencemaran di perairan. Selanjutnya setelah 25 tahun lahan sawit akan ditinggalkan dan menjadi semak-semak dan lahan kritis Kemungkinan tanah menjadi tidak subur, terutama tanah yang mengandung asam bekas lahan Rob Cramb,George N. Curry,Oil palm and rural livelihoods in the AsiaAePacific region: An overview dalam Asia Pacific Viewpoint. Vol. No. December 2012, hal. Rob Cramb,George N. Curry,Oil palm and rural. Statistik Daerah Kabupaten Keerom 2018, hal. ,Statistik Daerah Kabupaten Keerom 2018, hal. Hasil wawancara dengan warga Kampung Workwana. April 2025 Banjir di Keerom Terus Berulang. Dewan Adat Desak Normalisasi Sungai diakses April 2025 Sophie Chao. In The Shadow Of The Palm : Dispersed Ontologies among Marind. West Papua dalam Jurnal Cultural Anthropology. Vol. Issue 4,2018,hal. kelapa sawit. 24 Kini banyak lahan di Keerom yang telah ditinggalkan sebab telah digunakan dalam kurun waktu yang cukup lama. Pemanfaantan lahan yang cukup lama kini memberikan dampak buruk bagi tanah di daerah bekas perkebunan. Perempuan tanah dalam lingkaran kekerasan Mansoben seorang antropolog Papua menjelaskan sistem politik tradisional yang dianut dalam kehidupan orang Papua. Kelompok masyarakat Keerom dijelaskannya menganut sistem kekuasaan yang bersifat pewarisan yang dikenal dengan istilah kepemimpinan ondoafi. Menurut Mansoben ada sembilan suku-bangsa di Papua yang menganutnya,yakni orang Skou, orang Arso-Waris, orang Tobati, orang Ormu, orang Sentani, orang Moi, orang Tabla (Tanah Mera. , orang Nimboran, dan orang Muris (Demt. 25 Istilah ondoafi digunakan dari bahasa Sentani namun setiap suku punya istilah dalam bahasanya sendiri seperti di daerah Keerom beberapa suku seperti orang Skou menggunakan istilah bari untuk pemimpin dan bari magite untuk pemimpin besar, sedangkan orang Arso menyebut pemimpinnya yuskwanto. Orang Waris menyebut pemimpinnya mendir. 26 Ciri khas dari sistem politik tradisional ini yang terus masih terpelihara hingga sekarang yakni kedudukan pemimpin diwariskan berdasarkan senioritas, kekuasaan terwujud pada penguasaan terhadap tanah, air dan sumber Ae sumber hidup masyarakat, juga pemimpin mempunyai peran ganda yakni sebagai pemimpin masyarkatan dan pemimpin upacara keagamaan. 27 Namun rata Ae rata masyarakat asli telah menjadi Kristen sehingga pemimpin suku hanya menata urusan adat tidak menyangkut urusan agama. Sistem politik yang tradisional yang dianut oleh masyarakat Keerom tidak pernah menempatkan seorang perempuan sebagai pemimpin hanya seorang laki Ae laki yang boleh menjadi ondoafi. Setiap keretnya memiliki seorang ondoafi yang memiliki kuasa baik terhadap anggota keretnya serta tanah Oleh sebab itu dalam kasus Ae kasus penjualan lahan warga adat hanya melibatkan kepala kampung serta kepala keluarga sedangkan perempuan tidak diikutsertakan baik dalam memutuskan dan menikmati hasil penjualan tanah keret. Sebuah program yang dikenal dengan sebut Papuan Voices28 meliput kehidupan seorang mama bernama Kasmira29 merupakan salah seorang buruh pada perkebunan kelapa sawit milik Rajawali Group di Arso Timur. Delapan keret yang menyerahkan tanahnya kepada pihak perusahaan adalah kereth Putuy. Kera. Jombori dan Itunggir dari kampung Yetti, keret Bugovkir dan Konondroy dari kampung Suskun, serta keret Bewangkir dan Enef dari kampung Kriku. Hanya Ada satu keret/marga di kampung Suskun yang tidak memberikan tanahnya kepada perusahaan sawit PT Tandan Sawita Papua, tetapi di tahun 2012 tanah tersebut sudah dilepaskan oleh kepada perusahaan Nilai kompensasi yang mereka terima adalah sebesar Rp7. 000 untuk dibagikan kepada masing-masing keret sesuai dengan luas tanah yang mereka lepaskan. 30 Namun jumlah uang yang diterima masing-masing keret berbeda-beda tergantung luas lahannya. Uang yang mereka terima ini kemudia dibagi-bagikan lagi kepada setiap kepala keluarga dari masing-masing keret/pemilik hak ulayat, sehingga setiap kepala keluarga menerima kompensasi paling banyak sekitar 2-5 juta rupiah untuk ribuan hektare tanah yang telah dilepaskan kepada pihak perusahaan. Oleh karena hasil penjualan diserahkan kepada kepala keluarga maka rata Ae rata pengalaman yang terjadi uang itu dipakai untuk berfoya - foya. Perempuan tidak menikmati hasil penjualan lahan tempat ia selalu mencari makan bagi keluarganya. Sebaliknya ia harus bekerja kepada pihak perusahaan di atas lahan yang dulu miliknya supaya dapat menghidupi keluarganya. Hutan yang dilepas masyarakat bukan hutan yang sudah rusak, tetapi hutan produktif yang berisi pohon kayu besi, rotan, aneka jenis binatang, https://w. net/profile/Afifah_Khairunnisa/publication/325312235_Dampak_Industri_Perkeb unan_Kelapa_Sawit_di_Riau_Terhadap_Ekosistem_Lingkungan/links/5b04f8214585154aeb080127/DampakIndustri-Perkebunan-Kelapa-Sawit-di-Riau-Terhadap-Ekosistem-Lingkungan. pdf?origin=publication_detail Mansober,Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya, (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia : Jakarta dan Leiden University : Leide. , 1995, hal. Mansober,Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. ,hal. Mansober,Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. ,hal. 28 Program media online yang bermitra dengan Sekretariat Keadilan. Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC). Justice Peace and Integration of Creation (JPIC MSC Jakart. Belantara Papua dan Yayasan Teratai Hati Papua videonya dapat dilihat di http://w. net/2012/07/19/what-mama-kasmira-wants. http://w. downtoearth-indonesia. org/id/story/sawit-dan-perempuan-di-wilayah-investasi http://w. downtoearth-indonesia. org/id/story/sawit-dan-perempuan-di-wilayah-investasi sayur-sayuran, obat-obatan herbal, tempat sakral masyarakat adat yang menjadi sumber hidup masyarakat adat, tempat perempuan tanah mengambil segala kebutuhan hidup keluarganya. 32 Setelah penjualan lahan hubungan milik tanah terputus antara perempuan dan tanah milik keretnya sehingga ia tidak dapat lagi mengelolah tanah itu sesukanya. Ketidakpastian kepemilikan sumber daya alam dan tanah ulayat menghambat penguatan perempuan tanah dan membuatnya menjadi rentan terhadap kekerasan dan diskriminasi yang berulang. Sekalipun perempuan tanah memainkan peran utama dalam merawat hutan dan kebun, hak-hak mereka tidak diakui dalam hukum adat. Perempuan mengalami tekanan untuk menghasilkan makanan bagi keluarga dan pada saat yang sama mereka telah kehilangan tanah dan hutan akibat proyek-proyek swasta dan pemerintah. Ekofeminisme sebagai ruang bersolidaritas Patrisius Andalas SJ mengekspresikan ekofeminisme sebagai tarian diskursus akademik sekaligus gerakan kaum perempuan menyelamatkan ekologi. 35 Diskursus antara ekologi dan feminisme yang terus tergagas menjadi suatu etika. Gagasan ekofeminisme sebagai etika hidup dikemukan oleh Ivone Gebara di mana melihat relasi antara feminis dan ekologi dalam praktek hidup sehari Ae hari. Ia berupaya mengkaji keterkaitan antara tradisi Kekristenan yang bersifat patriarkal dengan krisis lingkungan. Menurutnya, terdapat dua keyakinan utama yang mendominasi dalam kehidupan masyarakat dan dalam teologi Kristiani: yaitu pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai yang paling unggul, serta pandangan androsentris yang mengutamakan laki-laki. Kedua perspektif ini berkontribusi pada terbentuknya hubungan yang tidak seimbang antara manusia dan alam. 36 Pengaruh kedua perspektif ini berlaku secara global maupun lokal yakni dalam konteks perempuan tanah di Keerom. Sistem politik adat membatasi pengaktualisasian perempuan, peran perempuan dalam ranah publik tidak diperkenankan dan selalu berada di bawah kuasa laki Ae laki. Sistem ini memberikan keleluasan bagi kepentingan kapitalis dalam pengelolaan hutan primer menjadi kebun sawit untuk kurun waktu yang panjang. Sistem Patriakhi dalam kehidupan masyarakat Keerom mendiskreditkan suara perempuan terhadap tawaran ilusi kaum kapitalis. Sehingga para aktor penentu kebijakan dalam tatatan adat dan pemerintah melegitmasi dominasi atas alam dan perempuan. Maka catatan Gebara atas ketimpangan relasi antara alam dan manusia perlu diseimbangan dengan suatu norma hidup bersama yang dilahirkan dari kesadaran bersolidaritas. Kesadaran akan penindasan merupakan sensor bagi gerakan ekofeminisme. Gebara mengungkapkan bahwa kebaruan dalam sejarah manusia hadir disebabkan oleh kalangan minoritas salah satunya adalah feminisme. Maka gagasan ekofeminisme sebagai etika hidup yang bertujuan untuk mengubah perilaku dalam hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. 37 Gebara menekankan bahwa untuk melawan kekuatan yang menindas perempuan, kita harus memahami bagaimana rasionalitas dan irasionalitas saling bekerja dalam membentuk sistem sosial dan budaya. Tanpa pemahaman ini, perjuangan feminis bisa terjebak hanya pada kritik struktural, tanpa menyentuh akarakar budaya dan spiritual yang juga menopang patriarki. Kesadaran sosial yang hendak dibangun dalam upaya memahami dominasi sosial yang dialami oleh wanita tidak juga menutup mata kita terhadap etika hidup sehingga dapat menciptakan suatu masyarakat yang mana setiap orang, spesies hewan dan tumbuhan mempunyai hak untuk hidup secara kolektif karena masing Ae masing mempunyai kebutuhan vital sehingga membutuhkan satu sama lain. Gebara menekankan pentingnya membangkitkan kesadaran sosial yang bersolidaritas. Artinya, perjuangan perempuan tidak bisa hanya bersifat individual atau sektoral, tetapi harus melibatkan http://w. downtoearth-indonesia. org/id/story/sawit-dan-perempuan-di-wilayah-investasi Hasil Wawancara. April 2025 Galuh Wandita,Selviana Yolanda. Sa Ada di Sini. , hal. Patrisius Mutiara Andalas SJ. Perempuan Melawan Ecocide (Pembantaian Massal Ekolog. : Tafsir Ekofeminis Kristiani dalam buku : Ekofeminisme dalam Tafsir Agama. Pendidikan. Ekonomi dan Budaya,(Pusat Penelitian dan Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana : Salatig. , 2013, hal. Rolansius Lantur. Ekofeminisme Ivone Gebara dalam GITA SANG SURYA Madah Persaudaraan Semesta. Vol. No. Mei-Juni 2022. ISSN 1978-3868, h. Ivone Gebara. Ecofeminism : An Ethic of Life in Ecofeminism and Globalization. ,hal. Ivone Gebara. Ecofeminism : An Ethic of Life in Ecofeminism and Globalization. ,hal. komunitas, lintas gender, dan lintas budaya. Norma hidup bersama yang lahir dari solidaritas ini menjadi dasar untuk membangun relasi baruAiantara manusia dan alam, antara laki-laki dan perempuan, antara adat dan modernitas. 39 Dalam konteks Indonesia, gerakan perempuan adat seperti PEREMPUAN AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantar. telah menunjukkan bagaimana solidaritas bisa menjadi kekuatan pembebasan. Mereka tidak hanya menuntut hak atas tanah, tetapi juga hak untuk didengar, dihormati, dan diakui sebagai penjaga pengetahuan lokal. Kajian Teologis Sistem patriarki menciptakan hierarki yang menyebabkan ketidaksetaraan dalam relasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Warisan Patriakhi melegalkan penindasan terhadap perempuan dalam konteks kerusakan. Penulis sependapat dengan Gebara bahwa dua perspektif yang mendominasi teologi Kristen perlu dibaca kembali dalam kesadaran konteks penindasan terhadap perempuan tanah di Keerom. Perspektif Antroposentris dan Androposentris dicerahkan oleh kritik Feminis Karen Warren yang melihat relasi antar manusia maupun dengan ciptaan lainnya seperti AujaringAy. Menurut Warren, relasi sosial dan ekologis tidak bersifat hierarkis atau linier, melainkan interkonektif dan saling terkait, seperti jaring yang tersusun dari simpul-simpul yang saling terhubung . 41 Pemikiran Warren sejalan dengan ide teologi relasional yang dikembangkan oleh Terence E. Fretheim. Titik temu antara dua pemikiran tokoh ini adalah pada hubungan bersama antara sesama ciptaan sekalipun Karren berangkat dari konteks ekofeminisme sedangkan Fretheim mengkaji dari teks Ae teks perjanjian lama dan pembahasannya tidak hanya pada relasi antar ciptaan namun juga berkaitan dengan pencipta (Tuha. Fretheim menjelaskan bahwa Tuhan dan ciptaan memiliki peran penting dalam proses penciptaan, di mana keduanya saling terhubung dalam dinamika kreatif. Pemahaman tradisional cenderung menempatkan Tuhan sebagai entitas yang mandiri dan transenden, sementara ciptaanAibaik manusia maupun alamAidipandang sebagai pihak yang saling membutuhkan satu sama lain serta bergantung pada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Namun, beberapa teks dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa meskipun seluruh ciptaan bergantung sepenuhnya pada Tuhan untuk eksistensi dan keberlangsungan hidupnya. Tuhan secara bebas memilih untuk membangun hubungan kesalingtergantungan dengan ciptaan. Relasi ini menekankan bahwa Tuhan tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga terlibat secara aktif dan penuh kasih dalam kehidupan ciptaan-Nya. Freitheim mengusulkan tafsiran atas kisah Penciptaan dalam Kejadian 1 Ae 2 sebagaimana pandangan konvensional tentang penciptaan sering kali menekankan pemisahan dan struktur hierarkis. Sebaliknya, narasi penciptaan klasik dalam Kitab Kejadian lebih menonjolkan keterhubungan dan kerja sama antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Teks-teks tersebut tidak menggambarkan hubungan yang suram dan sepenuhnya bergantung antara ciptaan dan Tuhan. Tindakan kreatif Tuhan tidak menghadapkan ciptaan pada kenyataan yang telah selesai sepenuhnya. Sebaliknya, aktivitas ciptaan sendiri dipandang sebagai bagian penting dalam proses penciptaan, yang berlangsung selaras dengan tindakan Tuhan. Dengan demikian, proses penciptaan tidak berhenti pada narasi Kejadian pasal 1Ae2, melainkan terus berlangsung hingga kini, di mana manusia dan alam sebagai bagian dari ciptaan turut berperan aktif dalam karya penciptaan. Relasi timbal balik antar ciptaan menjadi sangat penting, karena di satu sisi kita saling bergantung satu sama lain, dan di sisi lain, kita juga bergantung pada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Dalam Kejadian 1:22, 28 dan 2:24, terlihat bahwa manusia dan hewan diberikan tanggung jawab yang bersifat mandiri. Namun, meskipun memiliki tugas masing-masing, mereka tetap bergantung pada tanah (Kejadian 2:9, . , bukan hanya sebagai sumber kehidupan dan kelangsungan hidup, tetapi juga sebagai ruang eksistensial. Di sisi lain, tanah pun memerlukan keterlibatan manusia untuk pengelolaan Ivone Gebara. Ecofeminism : An Ethic of Life in Ecofeminism and Globalization. ,hal. PEREMPUAN AMAN Ae PEREMPUAN AMAN diakses 26-04-2025 pukul 00: 24 WP Masatsugu Maruyama,Deconstructive Ecofeminism:A Japanese Critical Interpretation in Ecofeminism and Globalization : Exploring Culture. Context and Religion, ed. Heather Eaton. Lois Ann Loeenfzen (Rownan & Littlefield Publisher : USA), 2003,hal. Terence E. Fretheim. God and World in The Old Testament: A Relational Theology of Creation ,(Abingdon Press : Nashvill. , 2005,hal. dan pengembangan yang baik (Kejadian 2:5, . , serta dukungan dari unsur alam lainnya seperti hujan (Kejadian 2:. Pendalaman teologi penciptaan dalam narasi Kejadian 1Ae2 menunjukkan adanya dua pendekatan yang berbeda. Kejadian 1 menekankan inisiatif dan kuasa transenden dari Sang Ilahi, sementara Kejadian 2 menampilkan tindakan penciptaan yang bersifat personal dan intim. Dalam Kejadian 2:7. Tuhan membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalamnya, menjadikan manusia sebagai makhluk hidup. Meskipun kedua narasi tersebut memiliki perbedaan dalam gaya dan fokus, keduanya menyampaikan prinsip yang sama: adanya relasi yang erat antara Tuhan dengan ciptaan-Nya, serta antara sesama ciptaan dalam dinamika kehidupan. Kajian teologi terhadap narasi penciptaan dalam teks Kejadian 1 Ae 2 dalam upaya menyikapi persoalan ekofeminisme terletak pada relasi ciptan. Sebagaimana telah dipaparkan di atas bahwa setiap ciptaan mengemban tugasnya masing Ae masing. Freitheim menyebutnya dengan Auhuman and non human vocationAy. Dalam menjalankan peran masing-masing, baik manusia maupun ciptaan non-manusia perlu membangun relasi yang saling terhubung. Dalam bahasa Inggris, terdapat tiga istilah yang menggambarkan bentuk hubungan ini. Pertama, independent, yang mengacu pada pemahaman bahwa manusia dan ciptaan non-manusia memiliki otonomi masing-masing. Setiap individu memiliki otoritas bawaan untuk berkarya tanpa ketergantungan eksternal. Kedua, dependent, yang menunjukkan adanya ketergantungan antara manusia dan ciptaan lainnya. Ketiga, interdependent, yang menekankan bahwa relasi antara manusia dan ciptaan non-manusia bersifat saling bergantung dan saling menopang. Ketiga bentuk relasi ini secara biblis tercermin dalam narasi penciptaan di Kejadian pasal 1Ae2. Oleh karena itu, dalam konteks isu ekologi dan perempuan, penulis menilai bahwa relasi penciptaan dalam Kejadian sangat relevan dengan realitas yang dihadapi oleh perempuan adat di Keerom. Narasi Kejadian menjadi cermin bagi mereka yang melakukan penindasan terhadap alam maupun perempuan, bahwa dalam teologi penciptaan, seluruh ciptaan tidak ditempatkan dalam sistem hierarkis seperti yang dijalankan dalam struktur patriarki dan kapitalisme. Kitab Kejadian tidak memberikan penjelasan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, atau siapa yang harus melayani siapa. Sebaliknya, teologi relasi menawarkan pembaruan ideologis terhadap sistem yang menempatkan kekuasaan secara mutlak pada satu pihak. Dalam perspektif teologis, setiap elemen dalam struktur sosial maupun kosmos memiliki otonomi dan nilai intrinsiknya Oleh karena itu, semangat ekofeminisme yang berpijak pada teologi penciptaan mengkritik sistem patriarki dan kapitalis yang selama ini menempatkan perempuan dan alam sebagai objek. Dalam kerangka ini, laki-laki tidak lagi memandang perempuan sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang Demikian pula, alam tidak lagi diperlakukan sebagai objek eksploitasi dalam sistem kapitalis, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak dan martabat, sehingga tidak dapat dijadikan alat semata untuk memenuhi kepentingan materi dengan mengabaikan keberlanjutan dan keseimbangannya. KESIMPULAN Pemikiran Ivone Gebara dan Karen Warren mendorong terjadinya pertobatan teologis dalam memahami relasi sosial dan ekologis, khususnya dalam konteks perjuangan perempuan tanah di Keerom. Ekofeminisme membongkar selubung penindasan yang dialami oleh alam dan perempuan yang diprakarsai oleh perspektif antroposentris dan androsentris yang mana memutlakkan relasi berdasarkan sistem hirarki. Sehingga teologi penciptaan mencerahkan dan mengokohkan konstruksi teologis dalam meruntuhkan sistem hirarki yang diciptakan oleh kedua perspektif. Solidaritas yang diusung dalam kerangka ekofeminisme bertujuan menyuarakan ketidakadilan sosial dan ekologis dalam semangat komunal dapat dicapai sebagai etika bersama apabila didasari pada Auhuman and non human vocation: vokasi manusia dan ciptaan lainnya. 44 Manusia dan ciptaan lainya, ketika menjalankan panggilan atau peran masing-masing, harus membangun relasi yang saling terhubung. Keterhubungan ini memperhatikan aspek otonomi dari setiap ciptaan, aspek penerimaan dari satu pihak yang dibangun antar ciptaan dan aspek saling menerima antar ciptaan. Ketiga aspek relasi ini tercermin dalam narasi penciptaan di Terence E. Fretheim. God and World in The Old Testament,(Abingdon Press : Nashvill. , 2005,hal. Terence E. Fretheim. God and World in The Old Testament,(Abingdon Press : Nashvill. , 2005,hal. Kejadian pasal 1Ae2. Oleh sebab itu, dalam konteks isu ekologi dan pemberdayaan perempuan, penulis melihat relevansi antara kisah Penciptaan dalam Kejadian dengan situasi yang dialami perempuan adat di Keerom. Narasi penciptaan tersebut menjadi cermin bagi siapa saja yang menindas alam atau perempuan, karena dalam teologi penciptaan, seluruh ciptaan dipandang sama derajatnyaAibukan diposisikan dalam hierarki seperti pada struktur patriarki dan kapitalisme. Perempuan tanah dalam relasi sosial disematkan sebagai bentuk sindiran yang tentu tergolong dalam perlakukan diskriminatif. Namun Ekofeminisme membongkar serta mengangkat keterhubungan antara diri Perempuan dan alam sehingga memberikan alternatif pemaknaan baru terhadap sebutan Perempuan tanah. Relasi interdependency/keterhubungan antar ciptaan memperkaya pemaknaan kata AuPerempuan TanahAy serta merawat hubungan yang harmonis antara manusia laki - laki dan Perempuan serta alam. Sehingga penulis berharap melalui tulisan ini turut mendorong ruang solidaritas yang dibangun atas dasar kesadaran akan keterhubungan antara ciptaan yakni manusia laki - laki dan Perempuan serta ciptaan lainnya. DAFTAR PUSTAKA