Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Eksplorasi Bakteri Endofit dari Tanaman Benincasa hispida (Kundu. Asal Sulawesi Tenggara dan Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilmnya terhadap Staphylococcus aureus [Exploration of Endophytic Bacteria from Benincasa hispida (Kundu. Plants Originating from Southeast Sulawesi and Their Antibacterial and Antibiofilm Activities against Staphylococcus aureu. Ekajayanti Kining1. Efrita bataragoa2. Fitria Dewi1. Ainun Nurfajrin3 Program Studi Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Haluoleo. Kendari Indonesia Program Studi Bioteknologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Haluoleo. Kendari Indonesia Program Studi Statistik. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Haluoleo. Kendari Indonesia * Email korespondensi : ekakining@uho. ABSTRACT The main problem addressed is the increasing resistance of S. aureus, making it necessary to discover new bio-based antibacterial sources. This study aimed to isolate and identify endophytic bacteria from the leaves of B. hispida originating from Southeast Sulawesi, and to evaluate their antibacterial and antibiofilm activities against S. aureus using the disc diffusion method and crystal violet assay. The research methods included surface and internal tissue sterilization of the plant, isolation of bacterial colonies. Gram staining, metabolite extraction, bioactivity tests, and phytochemical assays. Results indicated one endophytic bacterial isolate with Gram-positive characteristics, and the endophyte extract demonstrated very strong antibacterial activity at a concentration of 200 g/mL . nhibition zone 22Ae23 mm, comparable to the positive The percentages of growth inhibition and biofilm degradation reached >80% and >70% respectively at the highest concentration. In conclusion, endophytic bacteria from B. hispida of Southeast Sulawesi have promising potential as a natural source of antibacterial and antibiofilm agents relevant for therapeutic development against S. aureus infections. Keywords: Benincasa hispida. Kendari ABSTRAK Permasalahan utama adalah resistensi S. aureus yang semakin meluas, sehingga diperlukan sumber antibakteri baru berbasis hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri endofit dari daun tanaman B. hispida asal Sulawesi Tenggara serta mengevaluasi aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap S. aureus menggunakan metode difusi cakram dan metode kristal violet. Metode penelitian meliputi sterilisasi permukaan dan jaringan dalam tanaman, isolasi koloni bakteri, pewarnaan Gram, ekstraksi metabolit, serta uji bioaktivitas. Hasil penelitian menunjukkan satu isolat bakteri endofit dengan karakter Gram positif, dan ekstrak endofit menunjukkan aktivitas antibakteri sangat kuat pada konsentrasi 200 AAg/mL . ona hambat 22Ae23 mm, setara kontrol positi. Persentase inhibisi pertumbuhan dan degradasi biofilm mencapai >80% dan >70% pada konsentrasi tertinggi. Simpulan, bakteri endofit B. hispida asal Sulawesi Tenggara memiliki potensi sebagai sumber antibakteri dan antibiofilm alami yang relevan untuk pengembangan terapi infeksi S. Kata kunci: Benincasa hispida. Kendari Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Pendahuluan Resistensi antimikroba semakin menjadi perhatian serius di bidang kesehatan global, dengan estimasi 10 juta kematian tahunan akibat infeksi bakteri resisten pada tahun 2050 jika tidak dilakukan intervensi yang tepat (World Health Organization, 2024. Ahmed et al. , 2. Salah satu patogen dengan dampak paling besar adalah Staphylococcus aureus, khususnya strain MRSA yang berkontribusi terhadap tingginya angka morbiditas dan mortalitas di fasilitas kesehatan (Siddiqqui et al. , 2023. Chamber & Deleo, 2. Data surveilans WHO periode 2018Ae2023 menunjukkan tren kenaikan resistensi antibiotik pada lebih dari 40% kombinasi patogen-antibiotik, sementara pengembangan antibiotik baru mengalami pelambatan yang signifikan (World Health Organization. AHF Institute, 2024. (Ahmed et al. , 2. Dalam situasi ini, pencarian sumber antimikroba alami semakin mendesak sebagai langkah inovatif untuk mengatasi resistensi. Secara konvensional, tanaman obat dikenal sebagai penyedia senyawa terapeutik potensial, namun penelitian umumnya fokus pada senyawa dari jaringan tanaman, bukan dari mikroorganisme endofitik yang hidup di dalamnya (Islam. T et al. , 2021. Sharma et al. , 2. Benincasa hispida, tanaman tradisional di Asia termasuk Indonesia, kaya akan metabolit seperti flavonoid dan peptida Bukti empiris menunjukkan mikroorganisme endofit dalam tanaman ini dapat menghasilkan metabolit antibakteri, antikanker, dan antioksidan (Gouda et al. , 2. Studi internasional mengonfirmasi sekitar 69% isolat endofit dari tanaman obat berpotensi antimikroba terhadap patogen multidrug-resistant, termasuk MRSA (Beiranvand et al. , 2. , sementara penelitian di Indonesia dan Malaysia juga mengidentifikasi aktivitas antibakteri isolat endofit dari berbagai spesies tanaman lokal (Ali & Rante, 2. Radu et al. , 2. Potensi mikroba endofit telah dibuktikan di berbagai negara,namun eksplorasi dan pemanfaatan bakteri endofit pada tanaman obat wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya B. hispida, masih sangat Keanekaragaman hayati Sulawesi Tenggara digunakan masyarakat untuk pengobatan tradisional (Tahoangako et al. , 2. namun belum didukung eksplorasi mikroba endofit secara Faktor ekologi dan geografi terbukti memengaruhi diversitas endofit dan potensi metabolit yang dihasilkan (Osman et al. , 2. , sehingga diperlukan riset khusus untuk mengungkap strain bakteri unik dan metabolit bioaktif baru di kawasan tersebut. Penelitian ini mengatasi kesenjangan dengan pendekatan terpadu, menggabungkan sterilisasi permukaan, dan bioassay difusi cakram serta dilusi bertingkat sesuai standar CLSI (KowalskaKrochmal & Dudek-Wicher, 2021. Murdoch et al. , 2. Inovasi utama penelitian terletak pada eksplorasi mikroba endofit dari B. hispida di Sulawesi Tenggara yang belum pernah dilaporkan, dan uji potensi antibakteri serta antibiofilmnya terhadap S. Metode ini memungkinkan evaluasi isolat unggul dan mendukung penemuan mekanisme kerja antimikroba baru. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri endofit daun B. hispida dari Sulawesi Tenggara, menguji produksi metabolit sekunder, serta mengevaluasi aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap S. aureus menggunakan metode difusi cakram dan kristal violet. Penelitian juga bertujuan melakukan identifikasi senyawa metabolit sekunder. Kontribusi signifikan penelitian ini meliputi pemutakhiran data biodiversitas mikroba Indonesia, peta komunitas endofit potensial sebagai sumber kandidat antibiotik baru, dan pengembangan metode kultivasi mikroba ramah lingkungan untuk produksi senyawa bioaktif. Indikator utama keberhasilan adalah jumlah Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap isolat endofit yang diperoleh, aktivitas antibakteri dan antibiofilm yang terstandar . ona hambat Ou10 mm dan %inhibisi >50%). Bahan dan metode Desain Penelitian dan Gambaran Umum Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan pendekatan eksploratif untuk mengisolasi bakteri endofit dari daun B. hispida asal Sulawesi Tenggara. Langkah awal mencakup sterilisasi permukaan sampel, ekstraksi jaringan internal, pengenceran berseri, dan penanaman pada media Nutrient Agar (NA) untuk memperoleh isolat murni. Koloni yang berbeda morfologi diamati, dipilih, dan disubkultur untuk memastikan kemurnian isolat. Identifikasi awal karakter bakteri dilakukan melalui pewarnaan Gram. Selanjutnya, isolat murni dikultur pada media nutrien cair untuk produksi metabolit sekunder. Supernatan fermentasi diekstraksi menggunakan pelarut organik etil asetat. Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap S. aureus metode difusi cakram agar, dengan pengukuran zona hambat untuk menilai potensi isolat. Prosedur termodifikasi dari beberapa penelitian sebelumnya diadaptasi agar sesuai dengan sifat bakteri endofit dari tanaman tropis (Kining et al. , 2. Sampel dan Subjek Penelitian Sampel penelitian berupa bagian daun tanaman sehat B. hispida yang diperoleh dari satu lokasi di Sulawesi Tenggara. Seleksi sampel dilakukan menggunakan kriteria: tanaman bebas penyakit, tumbuh optimal, dan berasal dari lingkungan yang sama. Setiap bagian tanaman dicuci bersih dan dipotong steril untuk mencegah kontaminasi permukaan. Uji sterilitas dilakukan pada bilasan akhir untuk memastikan mikroorganisme yang diisolasi benar-benar endofitik, bukan epifit. Bahan-bahan yang digunakan antara lain media Nutrient Agar (HimediaA). Nutrient Broth (HimediaA), aquadest. NaCl fisiologis 0,9% , alkohol 70%. Kristal violet. Lugol / Iodin. Alkohol 95%. Safranin, etil asetat, dan kloramfenikol disc (Sensi-discA). Prosedur Kerja . Isolasi Bakteri Endofit Isolasi bakteri endofit dilakukan menggunakan metode Internal Tissue Extraction dengan memotong jaringan steril (A1 cmA), jaringan dihancurkan dalam mortar steril dengan 5Ae10 mL aquades steril, diaduk hingga terbentuk suspensi homogen. Simpan suspensi sebagai stok endofit. Selanjutnya, 5 tabung reaksi berisi 9 mL aquades steril, diambil 1 mL suspensi stok, masukkan ke tabung pertama dan homogenkan . AA). Ambil 1 mL dari tabung pertama, pindahkan ke tabung kedua dan homogenkan . AA). diulangi hingga pengenceran ke-10a. Selanjutnya 0,1 mL dari masingmasing tabung dilusi di sebarkan pada permukaan media Nutrien Agar (NA) menggunakan spreader Inkubasi pada suhu 28Ae30AC selama 24 jam. Pemurnian Isolat Bakteri Endofit Bakteri yang tumbuh dimurnikan satu per satu dengan cara memindahkan isolat bakteri yang berbeda dari media NA lama ke media NA baru dalam cawan Petri. Jika masih ada koloni yang berbeda secara makroskopis pada media maka harus dilakukan pemisahan kembali untuk mendapatkan isolat murni. Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap . Persiapan Kultur Bakteri Isolat bakteri endofit murni diambil dari media NA dan diinokulasikan ke dalam media cair steril dengan volume 50Ae200 mL. Kultur kemudian diinkubasi pada suhu 28Ae30AC selama 3Ae5 hari hingga mencapai fase stasioner pertumbuhan. Setelah proses fermentasi selesai, kultur disentrifugasi pada 6000 rpm selama 15 menit untuk memisahkan biomassa sel dan supernatan. Supernatan yang dihasilkan mengandung sebagian besar metabolit sekunder, meskipun beberapa senyawa aktif juga dapat ditemukan pada biomassa. Oleh karena itu, supernatan digunakan sebagai bahan utama untuk tahap ekstraksi metabolit sekunder. Ekstraksi Metabolit Sekunder Supernatan hasil fermentasi dimasukkan ke dalam corong pisah, kemudian ditambahkan pelarut etil asetat dengan perbandingan 1:1 . Campuran dikocok perlahan selama A15 menit sambil melepaskan tekanan secara berkala untuk mencegah kelebihan tekanan gas. Setelah proses pengocokan, campuran didiamkan hingga terbentuk dua fase, yaitu fase air di bagian bawah dan fase organik di bagian atas yang mengandung senyawa aktif. Fase organik dipisahkan dengan hati-hati dan proses ekstraksi diulangi sebanyak dua hingga tiga kali untuk memperoleh hasil yang optimal. Pemekatan Ekstrak . rude ekstra. Pelarut organik diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40Ae45AC hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental . rude extrac. yang dihasilkan disimpan dalam vial tertutup rapat pada suhu 4AC untuk mencegah degradasi senyawa aktif sebelum digunakan pada tahap uji lanjut. Identifikasi Bakteri Endofit Identifitkasi isolat dilakukan dengan pewarnaan Gram. Uji ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi. Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo. Preparat bakteri diwarnai dengan kristal violet 1% hingga seluruh permukaan tertutup dan didiamkan selama 1 menit, kemudian dibilas dengan air mengalir secara perlahan. Selanjutnya, larutan lugol ditambahkan hingga menutupi preparat dan didiamkan selama 1 menit, lalu dibilas kembali dengan air mengalir. Proses dekolorisasi dilakukan menggunakan alkohol 95% selama 10Ae20 detik atau hingga aliran alkohol tidak lagi berwarna ungu, kemudian segera dibilas dengan air untuk menghentikan reaksi. Pewarnaan penutup dilakukan dengan safranin 0,5% selama 30Ae60 detik, diikuti pembilasan dengan air mengalir. Preparat kemudian dikeringkan pada suhu ruang atau dengan pemanasan ringan sebelum diamati. Uji Aktivitas Antibakteri Satu koloni bakteri diambil dari media miring kemudian disuspensikan ke dalam larutan NaCl fisiologis 0,9%. Kekeruhan suspensi disesuaikan dengan standar McFarland 0,5, yang setara dengan sekitar 10A CFU/mL. Sebanyak 100 AAL suspensi bakteri diinokulasikan secara merata pada permukaan media Nutrient Agar (NA) menggunakan swab steril. Cawan petri kemudian dibiarkan pada kondisi laminar flow selama A10 menit untuk memastikan permukaan agar mengering secara Kertas cakram steril dicelupkan ke dalam larutan ekstrak dengan konsentrasi 25, 50, 100, dan 200 AAg/mL selama A5 menit. Setelah itu, cakram dikeringkan singkat agar tidak menetes, lalu diletakkan pada permukaan media NA yang telah diinokulasi bakteri. Setiap cawan petri berisi 4Ae5 cakram dengan jarak antar cakram minimal 2 cm guna mencegah tumpang tindih zona hambat. Sebagai kontrol positif digunakan cakram berisi antibiotik standar, sedangkan kontrol negatif Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap menggunakan cakram yang telah dicelupkan ke dalam pelarut DMSO tanpa penambahan ekstrak. Seluruh prosedur dilakukan di bawah kondisi aseptik untuk mencegah kontaminasi. Uji Aktivitas Antibiofilm . Uji Penghambatan Pembentukan Biofilm Suspensi bakteri disiapkan dalam Nutrient Broth hingga mencapai kerapatan optik setara dengan ODCICACA = 0,1, yang mewakili sekitar 10A CFU/mL. Sebanyak 100 AAL suspensi bakteri dimasukkan ke dalam setiap well pada mikrotiter plate steril. Selanjutnya, sebanyak 100 AAL larutan ekstrak ditambahkan ke masing-masing well pada berbagai konsentrasi, yaitu 25, 50, 100, dan 200 AAg/mL. Kontrol negatif terdiri atas well yang berisi suspensi bakteri tanpa penambahan ekstrak. Mikrotiter plate kemudian diinkubasi pada suhu 37AC selama 24 jam tanpa agitasi untuk memungkinkan pembentukan biofilm. Setelah inkubasi, isi well dibuang, dan setiap well dicuci tiga kali menggunakan akuades steril untuk menghilangkan sel yang tidak menempel . on-adherent cell. Mikrotiter plate kemudian dikeringkan pada suhu 60AC selama A30 menit untuk proses fiksasi. Selanjutnya, setiap well ditambahkan 200 AAL larutan kristal violet 0,1% dan dibiarkan selama 15 menit untuk mewarnai biofilm yang terbentuk. Setelah pewarnaan, plate dibilas tiga kali menggunakan air steril hingga permukaannya tampak jernih. Pewarna yang terikat pada biofilm kemudian dilarutkan dengan menambahkan 200 AAL etanol 95% ke setiap well dan didiamkan selama 15 menit. Nilai absorbansi diukur pada panjang gelombang 570 nm menggunakan microplate reader untuk menentukan tingkat pembentukan biofilm. Uji Degradasi Biofilm Uji penghancuran biofilm dilakukan dengan prosedur serupa, namun biofilm terlebih dahulu dibentuk dengan menginkubasi suspensi bakteri selama 24 jam pada suhu 37AC. Setelah biofilm terbentuk, medium cair diganti dengan larutan ekstrak pada konsentrasi yang sama seperti uji penghambatan, kemudian diinkubasi kembali selama 24 jam berikutnya. Setelah perlakuan, proses pencucian, pewarnaan, dan pembacaan absorbansi dilakukan dengan langkah yang sama seperti pada uji penghambatan pembentukan biofilm. Aktivitas antibiofilm dinyatakan sebagai persentase inhibisi biofilm yang dihitung menggunakan persamaan berikut: Persentase Inhibisi Biofilm (%) = (OD KontrolOeOD Sampe. (OD Kontro. y 100 Analisis Data Data zona hambat dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif menggunakan rerata dan standar deviasi dari tiga kali uji ulang. Data dikategorikan berdasar kriteria Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI): zona Ou10 mm dikategorikan aktif (Kirby-Bauer Disk Diffusion Susceptibility Test Protocol, 2. Analisis statistik menggunakan uji ANOVA One Way untuk membandingkan efektivitas ekstrak terhadap aktivitas S. aureus dengan tingkat signifikansi p<0,05. Data didukung dokumentasi foto/hasil Gram. Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Hasil dan pembahasan Isolasi dan Identifikasi Bakteri Endofit dari B. Isolasi bakteri endofit dari berbagai daun B. hispida yang tumbuh di Sulawesi Tenggara berhasil menghasilkan 1 isolat murni yang selanjutnya disebut EK (Gambar . Keberhasilan penelitian ini dalam mengisolasi dan mengidentifikasi awal bakteri endofit dengan tingkat kemurnian tinggi menunjukkan bahwa protokol sterilisasi permukaan yang digunakan . ombinasi etanol 70%. NaOCl 2%, dan aquades steri. (Ekajayanti Kining et al. , 2. sangat efektif untuk mengeliminasi mikroba epifit tanpa merusak viabilitas bakteri endofit internal. Uji sterilitas yang dilakukan pada bilasan akhir menunjukkan hasil negatif . idak ada pertumbuhan kolon. , mengkonfirmasi bahwa isolat yang diperoleh adalah endofit sejati. Pendekatan ini dapat dijadikan protokol standar untuk isolasi bakteri endofit dari tanaman obat tropis lainnya, mengingat efisiensi dan reprodusibilitas metode yang tinggi. Penggunaan media Nutrient Agar sebagai media pertumbuhan umum memungkinkan isolasi bakteri endofit heterotroph dari berbagai kelompok taksonomi, meningkatkan peluang ditemukannya isolat dengan karakteristik bioaktif yang beragam. Gambar 1. Isolat endofit daun B. hispida (EK) Koloni EK menunjukkan bentuk irregular . idak beratura. dengan pertumbuhan yang menyebar. Ukuran koloni tergolong besar, mencakup area signifikan pada permukaan media, mengindikasikan pertumbuhan yang aktif dan kemampuan spreading yang baik. Koloni memiliki warna kuning pucat hingga krem . ale yellow to crea. Pigmentasi tampak homogen di seluruh permukaan koloni tanpa variasi warna yang mencolok, mengindikasikan produksi pigmen yang konsisten. Warna ini dapat mengindikasikan produksi karotenoid atau pigmen kuning lainnya yang umum pada bakteri tertentu. Elevasi koloni tampak convex . dengan permukaan yang relatif halus. Bagian tengah koloni terlihat sedikit lebih tebal dibandingkan tepi. Margin koloni bersifat undulate . hingga irregular . idak beratura. Tepi tidak berbatas tegas dan menunjukkan pola pertumbuhan yang menyebar keluar secara tidak uniform, yang merupakan karakteristik umum dari bakteri motil atau yang memiliki kemampuan swarming. Permukaan koloni tampak smooth . dan glossy . engkilap/berkila. , mengindikasikan produksi ekstraselular polysaccharide (EPS) atau lapisan Konsistensi kemungkinan mucoid . atau butyrous . eperti menteg. , yang umum pada bakteri penghasil eksopolisakarida. Isolat ini kemungkinan termasuk dalam genus seperti Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Pseudomonas. Flavobacterium. Chryseobacterium, atau Bacillus . eberapa spesie. , yang umumnya menunjukkan pigmentasi kuning dan pola pertumbuhan spreading (Ramalingam, 2. Gambar 2. Hasil pewarnaan Gram Isolat EK (Pembesaran 100. Karakteristik morfologi mikroskopis Isolat EK hasil pewarnaan Gram yang diamati di bawah mikroskop (Gambar . , menunjukkan sel bakteri tampak terwarnai ungu/violet yang mengindikasikan bakteri Gram-positif. Pewarnaan ungu yang intens menunjukkan struktur dinding sel dengan lapisan peptidoglikan tebal yang mampu menahan kompleks kristal violet-iodin selama proses dekolorisasi. Bentuk Sel (Cell Shap. Sel berbentuk basil . dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Bentuk batang tampak jelas dengan ujung-ujung yang bulat . ounded end. , bukan Susunan Sel (Cell Arrangemen. (Silhavy et al. , 2. Sel-sel tersusun dalam berbagai pola: Single cells . el tungga. - terlihat di beberapa area. Diplobacilli . - sel-sel berpasangan end-to-end. Chain formation . antai pende. beberapa sel membentuk rantai pendek yang terdiri dari 3-5 sel. Berdasarkan karakteristik mikroskopis yang teramati, isolat EK memiliki profil yang konsisten dengan kemungkinan genus Bacillus spp. Paenibacillus spp. , dan Lysinibacillus spp (Silhavy et al. , 2. Hasil mikroskopis ini menguatkan interpretasi awal dari pengamatan koloni makroskopis. Karakteristik sebagai berikut kini lebih jelas: Koloni kuning-krem Gram-positif basil , sangat konsisten dengan Bacillus spp. yang memproduksi pigmen karotenoid. Margin irregular dan spreading dapat dijelaskan oleh kemampuan swarming beberapa spesies Bacillus, dan permukaan glossy, produksi eksopolisakarida oleh Bacillus. Untuk memastikan dibutuhkan uji lanjut berupa pencitraan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan identifikasi molecular. Aktivitas Antibakteri Isolat Endofit terhadap S. Evaluasi aktivitas antibakteri dari isolat EK dengan berbagai konsentrasi terhadap S. menggunakan metode difusi cakram. Penggunaan metode difusi cakram dengan standardisasi inokulum menggunakan standar McFarland 0. A CFU/mL) dan inkubasi pada suhu 37AC selama 18-24 jam terbukti sangat efektif dalam menghasilkan data zona hambat yang konsisten dan reprodusibel dengan tingkat presisi tinggi. Penggunaan tiga replikasi untuk setiap perlakuan meningkatkan reliabilitas data statistik dan memungkinkan perhitungan standar deviasi yang akurat (Tabel . Metode ini merupakan best practice yang direkomendasikan oleh Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) untuk uji sensitivitas antimikroba (Eisenberg et al. , 2011. ASM, 2. Penggunaan kontrol positif . ntibiotik standa. dan kontrol negatif . dalam setiap pengujian Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap meningkatkan validitas hasil secara signifikan dan memastikan bahwa aktivitas antibakteri benarbenar berasal dari metabolit bakteri endofit. Semua konsentrasi menunjukkan aktivitas penghambatan dengan zona hambat yang kuat hingga sangat kuat (Davis dan Stou. Isolat dengan aktivitas tertinggi menunjukkan zona hambat rata-rata sebesar 22,8 A 1,0 mm pada konsentrasi 200 g/mL, diikuti dengan zona hambat 20,3 A 1,5 mm pada konsentrasi 100 g/mL. Pada konsentrasi yang lebih rendah, isolat tetap menunjukkan aktivitas kuat dengan zona hambat 17,4 A 1,1 mm pada konsentrasi 50 g/mL dan 15,9 A 0,8 mm pada konsentrasi 25 g/mL (Gambar . Notasi huruf pada grafik . , b, . mengindikasikan hasil uji statistik, di mana perlakuan dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata secara statistik. Gambar 3. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak bakteri endofit B. hispida terhadap S. Dengan demikian, isolat bakteri endofit dari B. hispida pada konsentrasi 100-200 g/mL dikategorikan memiliki aktivitas antibakteri sangat kuat yang setara dengan kontrol positif menggunakan antibiotik standar yang menunjukkan zona hambat sebesar 24,4 A 0,8 mm (Tabel 1. Gambar . Temuan ini menunjukkan aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Isolat bakteri endofit dari tanaman teh (Camellia sinensi. menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan zona hambat berkisar antara 7,5-12,5 mm pada konsentrasi uji tunggal (Arum Sari et al. , 2. Penelitian oleh Steffany PolandAos & Fitriani . pada bakteri endofit dari akar Clitoria ternatea melaporkan zona hambat sebesar 6,75 mm terhadap S. aureus pada konsentrasi 40 mg/mL. Perbedaan aktivitas antibakteri antara berbagai isolat endofit dapat dijelaskan oleh perbedaan jenis metabolit sekunder yang diproduksi, level ekspresi gen, dan kondisi lingkungan dalam jaringan tanaman inang. Penelitian terbaru oleh Nchabeleng et al. menggunakan transcriptomic profiling untuk menunjukkan bahwa kondisi metabolisme di dalam jaringan tanaman memicu upregulasi gen biosintesis metabolit antimikroba pada bakteri endofit tertentu. Hal ini memperkuat penjelasan mengapa bakteri endofit dari tanaman obat seperti B. hispida yang telah terbukti memiliki senyawa bioaktif, menunjukkan aktivitas antibakteri yang lebih tinggi. Pada konsentrasi 25-50 g/mL, isolat menunjukkan aktivitas antibakteri kuat. Kontrol negatif . elarut etil asetat tanpa ekstra. menunjukkan hasil 0,0 mm, mengkonfirmasi bahwa aktivitas antibakteri benar-benar berasal dari metabolit yang diproduksi oleh bakteri endofit, bukan dari efek pelarut. Pola dosis-respons yang Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap jelas ditunjukkan oleh peningkatan zona hambat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, konsisten dengan model kinetika Michaelis-Menten untuk interaksi obat-target dalam mikrobiologi, menunjukkan mekanisme yang valid secara fisiologis. Aktivitas antibakteri yang signifikan dari isolat-isolat tersebut dapat dijelaskan oleh kemampuan bakteri endofit untuk memproduksi berbagai senyawa bioaktif seperti peptida antimikroba, enzim litik, siderofora, dan metabolit sekunder lainnya yang dapat menghambat pertumbuhan S. melalui mekanisme perusakan dinding sel, gangguan sintesis protein, dan inhibisi replikasi DNA bakteri patogen (Nurdayani & Amirah, 2024. Sharma et al. , 2. Sensitivitas S. aureus terhadap ekstrak bakteri endofit B. hispida menunjukkan bahwa senyawa bioaktif yang diproduksi oleh endofit memiliki afinitas tinggi terhadap target biologi dalam sel bakteri patogen tersebut. Pola dosis-respons yang menunjukkan aktivitas konsentrasi-dependen ini merupakan indikasi bahwa mekanisme penghambatan melibatkan interaksi spesifik antara metabolit dengan komponen sel bakteri target (Sanam et al. , 2. Efek Ekstrak Bakteri Endofit Terhadap Pertumbuhan dan Degradasi Biofilm S. Metabolit sekunder bakteri endofit dari B. hispida (MS-EK) menunjukkan kemampuan menghambat baik pertumbuhan maupun degradasi biofilm S. aureus secara konsentrasi-dependen. Pada uji pertumbuhan, persentase inhibisi meningkat seiring kenaikan konsentrasi: 48,86% . g/mL), 53,01% . g/mL), 59,30% . g/mL), dan tertinggi 81,26% pada konsentrasi 200 g/mL. Pada uji degradasi biofilm juga terlihat pola serupa: 46,51% . g/mL), 52,46% . g/mL), 57,16% . g/mL), dan 70,56% . g/mL). Rerata absorbansi sampel selalu jauh lebih rendah daripada kontrol pada kedua uji, menandakan potensi anti-biofilm yang kuat dari ekstrak ini. Gambar 4. Kurva Perbandingan Konsentrasi MS-EK terhadap Persentase Inhibisi Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Inhibisi pertumbuhan biofilm hingga lebih dari 80% pada konsentrasi 200 g/mL mencerminkan efektivitas ekstrak dalam menghambat adhesi dan proliferasi S. aureus di permukaan, sedangkan efek degradasi menunjukkan ekstrak juga mampu merusak matriks biofilm yang telah terbentuk. Efek konsentrasi-dependen yang jelas membuktikan ada hubungan antara jumlah senyawa bioaktif yang terkandung dengan potensi antibiofilm yang dihasilkan. Pola ini sejalan dengan temuan sebelumnya pada uji zona hambat, mengonfirmasi kemampuan bakteri endofit B. hispida menghasilkan metabolit sekunder antimikroba dan antibiofilm kuat. Hasil penelitian ini didukung oleh studi-studi yang menunjukkan bahwa metabolit sekunder dari bakteri endofit mampu menghambat pembentukan dan merusak struktur biofilm patogen (Ekajayanti Kining et al. , 2. , termasuk S. aureus (Nchabeleng et al. , 2024. Sharma et al. , 2. Naveed et al. dan (Mamangkey et al. , 2022. ) juga melaporkan efek antibiofilm dari ekstrak Bacillus dan Pseudomonas endofit melalui mekanisme penghambatan quorum sensing serta destruksi molekul penyusun matriks biofilm. Temuan pada konsentrasi 100-200 g/mL . nhibisi 59,30%-81,26%) menunjukkan ekstrak B. hispida telah memenuhi syarat sebagai kandidat antibiofilm alami yang unggul dalam riset antimikroba modern. Selain itu, penurunan absorbansi secara signifikan mendukung hipotesis bahwa metabolit bakteri endofit tidak hanya bekerja secara bakterisidal, tapi juga bakteriosidik terhadap komunitas biofilm multidrug-resistant. Metode kuantifikasi absorbansi pada uji pertumbuhan dan degradasi biofilm, dengan tiga replikasi tiap konsentrasi dan kontrol yang tepat, memberikan data yang reliabel dan dapat dianalisis statistik dengan baik. Nilai perbedaan antara kontrol dan perlakuan ekstrak secara konsisten menunjukkan efisiensi metabolit endofit dalam menghambat dan merusak biofilm. Pola peningkatan inhibisi konsentrasi memperkuat pendekatan dosis-respons sebagai praktik terbaik untuk skrining antibiofilm. Temuan ini mengonfirmasi bahwa eksplorasi bakteri endofit B. hispida dapat menjadi rujukan best practice bagi peneliti lain pada bidang anti-biofilm alami, dan dapat dipertimbangkan untuk pengembangan formula antibiofilm berbasis metabolit mikroba pada aplikasi medis dan kesehatan Kesimpulan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa isolasi dan identifikasi bakteri endofit daun B. hispida asal Sulawesi Tenggara berhasil menemukan isolat dengan kemampuan antibakteri dan antibiofilm yang sangat baik terhadap S. Dengan prosedur yang terstandarisasi, ekstrak bakteri endofit menunjukkan efektivitas dalam menekan pertumbuhan dan merusak biofilm hingga persentase yang tinggi pada konsentrasi optimal, serta menghasilkan zona hambat yang sebanding dengan kontrol positif. Temuan ini membuktikan bahwa bakteri endofit dari B. hispida dapat dimanfaatkan sebagai sumber alami antimikroba dan antibiofilm baru, berpotensi mendukung pengembangan strategi pengobatan untuk kasus infeksi Staphylococcus aureus yang resisten, serta memperkaya katalog sumber daya hayati Indonesia untuk aplikasi kesehatan di masa mendatang. Ucapan terima kasih Ucapan terima kasih dalam penelitian ini terutama ditujukan kepada pihak pemberi dana yaitu Dana DIPA Universitas Halu Oleo Tahun Anggaran 2025 berdasarkan SP DIPA139. 693377/2025 tanggal 2 Desember 2024 dan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Nomor: 2892/UN29. 1/KU/2025 tanggal 1 Oktober 2025. Penulis juga menyampaikan apresiasi kepada Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap seluruh tim peneliti, mahasiswa, serta laboran Laboratorium Mikrobiologi FK UHO atas dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian dan pengabdian. Semua kontribusi yang diberikan sangat berarti bagi kelancaran dan keberhasilan riset ini. Daftar pustaka AHF Institute . Retrived November 10, 2025. From Indonesia Interact website : https://ahfinstitute. org/antimicrobial-resistance-resilience-to-tackle-a-global-challenge Ahmed. Hussein. Qurbani. Ibrahim. Fareeq. Mahmood. , & Mohamed, . Antimicrobial resistance: Impacts, challenges, and future prospects. Journal of Medicine. Surgery. Public Health, https://doi. org/https://doi. org/10. 1016/j. Ali. , & Rante. Screening Of Endophytic Bacteria Producing Antifungal Isolated From Indonesia Medicinal Plant. Java Ginseng (Talinum Triangular. (Jacq. ) Willd. International Journal Pharmacy Pharmaceutical Sciences, 10. , https://doi. org/10. 22159/ijpps. Alim. Jasmiadi. Nadillah. Indrawaty K. Afira. Aphrodisiac Activity of Beligo (B. hispida (Thunb. ) Cogn. ) Seeds of Ethanol Extract in Mice. Jurnal Kedokteran 33. , 75-79 https://doi. org/10. 21776/ub. Arum Sari. Pujiyanto. , & Suprihadi. Antibacterial Activity Tests of Endophytic Bacteria Isolates From Tea Plant (Camellia sinensi. Againts Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis. In Berkala Bioteknologi, 5. Beiranvand. Amin. Hashemi-Shahraki. Romani. Yaghoubi. , & Sadeghi. Antimicrobial activity of endophytic bacterial populations isolated from medical plants of Iran. Iranian journal of microbiology, 9. , 11Ae18. Chambers. , & Deleo. Waves of resistance: S. aureus in the antibiotic era. Nature Microbiology, 7. , 629Ae641. https://doi. org/10. 1038/nrmicro2200 Ekajayanti Kining. Dian Firdiani. Sogandi, & Muh. Achyar Ardat. Molecular Identification of Endophytic Bacteria Isolated From Allium cepa L. Waste as Antibiofilm Agent Against Jurnal Biodjati, 10. , 171Ae183. https://doi. org/10. 15575/biodjati. Gouda. Das. Sen. Shin. , & Patra. Endophytes: A treasure house of bioactive compounds of medicinal importance. In Frontiers in Microbiology, 7. https://doi. org/10. 3389/fmicb. Islam. Quispe. El-Kersh. Shill. Bhardwaj. Bhardwaj. Sharifi-Rad. Martorell. Hossain. Al-Harrasi. Al-Rawahi. Butnariu. Rotariu. Suleria, . Taheri. Docea. Calina. , & Cho. A Literature-Based Update on B. hispida (Thunb. ) Cogn. : Traditional Uses. Nutraceutical, and Phytopharmacological Profiles. Oxidative medicine and cellular longevity, 2021, 6349041. https://doi. org/10. 1155/2021/6349041 Kirby-Bauer Disk Diffusion Susceptibility Test Protocol. Kowalska-Krochmal. , & Dudek-Wicher. The minimum inhibitory concentration of antibiotics: Methods, interpretation, clinical relevance. In Pathogens, 10. , 1Ae21. https://doi. org/10. 3390/pathogens10020165 Mamangkey. Mendes. Harahap. Briggs. , & Kayacilar. Endophytic Bacteria and Fungi from Indonesian Medicinal Plants with Antibacterial. Pathogenic Antifungal and Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Extracellular Enzymes Activities: A Review. In International Journal of Science. http://ijstm. Mohamad Darkazanli. Irina Kiseleva. New surface sterilization protocols for isolation of endophytic bacteria from plants . lack turtle beans, peas, and barle. AIP Conf. Proc. 19 November 2021. : 040010. https://doi. org/10. 1063/5. Murdoch. OAoBrien. Karron. Bhat. , & Driscoll. Disk Diffusion Bioassays for the Detection of Antibiotic Activity in Body Fluids: Applications for the Pneumonia Etiology Research for Child Health Project. Clinical Infectious Diseases, 54. S159-S164. https://doi. org/10. 1093/cid/cir1061 Naveed. Ishfaq. Rehman. Javed. Waseem. Makhdoom. Aziz. Alharbi, . Alshammari. , & Alasmari. GCAeMS profiling of Bacillus spp. metabolites with an in vitro biological activity assessment and computational analysis of their impact on epithelial Frontiers Chemistry, https://doi. org/10. 3389/fchem. Nchabeleng. Fonkui. , & Ezekiel. The Indiscriminate Chemical Makeup of Secondary Metabolites Derived from Endophytes Harvested from Aloe barbadensis Miller in South AfricaAos Limpopo Region. Molecules, 29. https://doi. org/10. 3390/molecules29061297 Nurdayani. , & Amirah. Antibacterial Activity of Endophytic Fungi from Bidara Roots Against Bacteria that Cause Skin Infections. In Journal Microbiology Science, 4. Osman. Abou-zeid. Abu-Saied. Ayid. , & El-Zawawy. Diversity and bioprospecting activities of endophytic Fungi associated with different Egyptian medicinal plants. Scientific Reports, 15. https://doi. org/10. 1038/s41598-025-01202-z Pimentel. Molina. Dionysio. Marystica Junior. , & Pastore. The use of endophytes to obtain bioactive compounds and their application in biotransformation Biotechnology https://doi. org/10. 4061/2011/576286 Pramono. Irawan. Firdaus. Sudarno. Sulmartiwi. , & Mubarak. Bacterial endophytes from mangrove leaves with antibacterial and enzymatic activities. Malaysian Journal of Microbiology, 15. , 543-553. https://doi. org/10. 21161/mjm. Ramalingam. Bharathi . The role of cell to cell interactions and quorum sensing in formation of biofilms in drinking water bacteria. PhD thesis. University of Sheffield. Sahu PK. Tilgam J. Mishra S. Hamid S. Gupta A. K J, et al. Surface sterilization for isolation of endophytes: Ensuring what . to grow. J Basic Microbiol. 62: 647Ae668. https://doi. org/10. 1002/jobm. Sanam. Detha. , & Rohi. Detection of antibacterial activity of lactic acid bacteria, isolated from Sumba mareAos milk, against Bacillus cereus. Staphylococcus aureus, and Escherichia coli. Journal of Advanced Veterinary and Animal Research, 9. , 53Ae58. https://doi. org/10. 5455/javar. Sharma. Verma. , & Sharma. Cationic bioactive peptide from the seeds of benincasa hispida. International Journal of Peptides, 2014. https://doi. org/10. 1155/2014/156060 Siddiqui AH. Koirala J. Methicillin-Resistant S. [Updated 2023 Apr . In: StatPearls [Interne. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. 2025 Jan-. Available from: https://w. gov/books/NBK482221/ Journal of Food and Agricultural Product Vol. 6 No. 1 Tahun 2026 e-ISSN 2807-8446 http://journal. id/index. php/jfap Silhavy. Kahne. , & Walker. The Bacterial Cell Envelope. Cold Spring Harbor Perspectives in Biology, 2. , a000414Aea000414. https://doi. org/10. 1101/cshperspect. Singh. Singh. Kharwar. White. , & Gond. Fungal Endophytes as Efficient Sources of Plant-Derived Bioactive Compounds and Their Prospective Applications in Natural Product Drug Discovery: Insights. Avenues, and Challenges. Microorganisms, 9. , 197. https://doi. org/10. 3390/microorganisms9010197 Sirwan. Safin H. Karzan. Radhwan. Abdulmalik F. Kochr. Mona. , & Gamal. Antimicrobial resistance: Impacts, challenges, and future prospects. Journal of Medicine. Surgery, and Public Health 2. 100081, 1-9 Tahoangako. Santosa. , & Fakhrudin. Study of the Utilization of Medicinal Plants by Traditional Healer of the Tolaki Ethnic Tribe. Southeast Sulawesi. Indonesia. Ethnobotany Research and Applications, 28. https://doi. org/10. 32859/era. Zhang D. Xu H. Gao J. Portieles R. Du L. Gao X. Borroto Nordelo C and Borrys-Hidalgo O . Endophytic Bacillus altitudinis Strain Uses Different Novelty Molecular Pathways to Enhance Plant Growth. Front. Microbiol. 12:692313. https://doi. org/10. 3389/fmicb.