Nursing Arts Vol 18. No 2. Desember 2024 ISSN: 1978-6298 (Prin. ISSN: 2686-133X . HUBUNGAN PERAN KADER DENGAN GANGGUAN KOGNITIF PADA LANSIA Meliana1. Suaib2. Maharani Farah Dhifa Dg. Masikki3 Universitas Widya Nusantara Email Korespondensi: mellymoyo694@gmail. Artikel history Dikirim. November 20th, 2024 Ditinjau. December 10th, 2024 Diterima. December 22nd, 2024 ABSTRACT One of the phenomena that often occur toward elderly is cognitive impairment, this occurs along with aging. Early detection of cognitive impairment is the first step and the role of cadres is needed to recognize the early signs of it. Preliminary studies say that the elderly are often confused about understanding the instructions given by cadres, difficulty in daily activities, causing dependence on others. The purpose of this study was to analyze the correlation between the role of cadres and cognitive impairment toward. This type of research is quantitative analytic by using a cross-sectional study approach. The total of population in this study were 130 elderly that registered at 28 Posyandu in working area of Palolo Public Health Center during 2024 and the total of samples was 57 respondents that taken by using purposive random sampling technique. Analysis using the Chi-Square Test statistical test. The results of the chisquare statistical test showed a value of p = 0. <0. There is a correlation between the role of cadres and cognitive impairment toward elderly in the working area of Palolo Public Health Center. Keywords: Cognitive Impairment. Elderly. Role of Cadres ABSTRAK Fenomena yang sering terjadi pada lanjut usia (Lansi. salah satunya gangguan kognitif, hal ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Deteksi dini gangguan kognitif merupakan langkah awal dan dibutuhkan peran kader untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kognitif. Studi pendahuluan mengatakan bahwa lansia sering bingung memahami instruksi yang telah diberikan oleh kader, kesulitan dalam aktifitas sehari hari sehingga menyebabkan ketergantungan terhadap orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan menggunakan pendekatan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang terdaftar di 28 Posyandu lanjut usia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo sebanyak 130 orang pada tahun 2024 dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 57 responden, dengan teknik pengambilan sampel puposive random sampling. Analisis menggunakan uji statistisk Chi-Square Test. Hasil uji statik chi-square menunjukan nilai p=0,013 . <0,. Kesimpulan ada hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada Kata Kunci: Gangguan Kognitif. Lansia. Peran Kader 117 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 116-122 PENDAHULUAN Penuaan yang sering disebut juga dengan lanjut usia adalah suatu kondisi yang mempengaruhi orang-orang dimana usia 60 tahun ke atas dianggap lanjut usia (Rahardjo, 2. Berdasarkan data World Health Organization . populasi global orang dewasa berusia 60 tahun ke atas meningkat hampir empat kali lipat menjadi 2,1 miliar, sedangkan populasi orang berusia 80 tahun ke atas diperkirakan meningkat tiga kali lipat menjadi 426 juta. Badan Pusat Statistik . Indonesia melaporkan dari sisi demografi, penduduk lanjut usia perempuan memberikan kontribusi dominan terhadap total lanisa, dengan komposisi sekitar 52,28 persen berjenis kelamin perempuan dan sekitar 47,72 persen lansia berjenis kelamin laki-laki. Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2022, dari 13 Kabupaten/ Kota jumlah lanjut usia > 60 tahun sebanyak 301. 564 jiwa Dinkes Sulawesi Tengah . Sedangkan untuk Wilayah Kerja Puskesmas Palolo . , lansia yang aktif mengikuti posyandu hingga bulan April 2024 berjumlah 130 orang. Pada lansia penuaan adalah proses alami yang menyebabkan perubahan kumulatif pada tubuh, termasuk kerusakan molekuler dan seluler yang berkembang seiring waktu. Selain penurunan kapasitas fisik dan mental secara bertahap, proses ini juga berkontribusi pada penurunan kognitif (Fabanyo et al. , 2. Fenomena gangguan kognitif ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Gangguan ini meliputi berbagai masalah terkait fungsi otak, seperti kesulitan dalam mengingat, berpikir, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Peran kader posyandu lansia sangat penting dalam inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lanjut usia serta memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat. Menurut key fact World Health Organization . , saat ini lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan kognitif. Survei prevalensi gangguan kognitif di Indonesia pernah juga dilakukan oleh The Stride Project pada Tahun 2021 dengan laporan hasil prevalensi mencapai 23,4% gangguan kognitif pada lansia (Stride, 2. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yosephine Aemelia Sherry Simbolon . mengenai kader posyandu lansia dalam penanganan Demensia, dengan metode pendekatan fenomenologi, menyatakan hasil sebagian besar kader posyandu lansia kurang memahami terkait tatalaksana dari gangguan kognitif, sehingga mereka belum bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan maksimal dalam mengedukasi lansia dan keluarga lansia. Berdasarkan catatan rekam medik lansia di Puskesmas Palolo . , terdapat 12 orang lansia yang mengalami gangguan kognitif ringan seperti sering lupa akan sesuatu, lambat dalam Meliana dkk. Hubungan Peran Kader dengan Gangguan Kognitif proses berpikir, konsentrasi berkurang, namun belum di diagnosis oleh dokter sebagai gangguan kognitif berat lainnya. Kondisi lansia seperti ini dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti lupa dengan informasi dan bingung memahami instruksi yang telah diberikan oleh kader, kesulitan dalam aktifitas sehari hari sehingga menyebabkan ketergantungan terhadap orang lain. Menurut Noviyanti . penurunan fungsi kognitif menjadi salah satu permasalahan pada lansia, oleh sebab itu perlunya perawatan pada lansia yang berbasis masyarakat oleh para Kader Posyandu lansia merupakan relawan masyarakat yang dipilih dari dalam masyarakat dan bertugas membantu penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Keberadaan kader posyandu lansia merupakan pengingat akan pentingnya solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang sudah lanjut usia. Kader posyandu lansia sering kali menjadi penghubung antara program kesehatan pemerintah dengan masyarakat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yosephine Aemelia Sherry Simbolon . mengenai kader posyandu lansia dalam penanganan Demensia, dengan metode pendekatan fenomenologi, menyatakan hasil sebagian besar kader posyandu lansia kurang memahami terkait tatalaksana dari gangguan kognitif, sehingga mereka belum bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan maksimal dalam mengedukasi lansia dan keluarga lansia. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif yang didasarkan pada studi Cross Sectional, dimana peneliti mengukur dan menilai variabel-variabel secara bersamaan dan menguji apakah ada keterkaitan diantara variabel-variabel tersebut secara bersamaan (Hikmawati, 2. Penelitian in dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo pada tanggal 31 Juli Ae 31 Agustus 2024. Ppulasi dalam penelitian ini yakni seluruh lansia yang terdaftar di 28 Posyandu lanjut usia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo sebanyak 130 orang pada tahun 2024. Sampel pada penelitian ini berjumlah 67 dengan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yakni menggunakan teknik puposive random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan lembar observasi. Alat ukur untuk variabel bebas (Independen. yakni peran kader terdiri dari 20 item pertanyaan dan pernah dipakai oleh peneliti sebelumnya yakni Nurhalizah . , sedangkan alat ukur variable terikat 119 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 116-122 . yakni gangguan kognitif lansia menggunakan lembar pengkajian kognitif Mini Mental Status Exam (MMSE) yang dikembangkan oleh Folstein . Peneliti melakukan analisa terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkrelasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian diuji statistik menggunakan Pearson Chi-Square dengan tabel 2x2 dengan derajat kemaknaan atau tingkat signifikansi <0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden yang Berpendapat Mengenai Peran Kader Peran Kader Frekuensi . Persentase (%) Baik Kurang Baik Jumlah Berdasarkan pada tabel 1 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi peran kader jumlah responden yang berpendapat mengenai peran kader baik sebanyak 41 responden . ,9%) dan yang berpendapat mengenai peran kader kurang baik sebanyak 16 responden . ,1%). Tabel 2. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Fungsi Kognitif Fungsi Kognitif Frekuensi . Persentase (%) Normal Probable Gangguan Kognitif Jumlah Berdasarkan pada tabel 2 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi fungsi kognitif jumlah responden dengan fungsi kognitif normal sebanyak 45 responden . ,9%), responden yang fungsi kognitif probable gangguan kognitif sebanyak 12 responden . ,1%). Tabel 3. Hubungan Peran Kader Dengan Gangguan Kognitif Pada Lansia Peran Kader Baik Kurang Baik Jumlah Fungsi Kognitif Normal Probable Total P-Value 0,013d Meliana dkk. Hubungan Peran Kader dengan Gangguan Kognitif Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa dari 41 . ,9%) responden yang berpendapat mengenai peran kader baik, terdapat responden yang memiliki fungsi kognitif normal sebanyak 29 . ,4%) dan fungsi kognitif probable gangguan kognitif sebanyak 12 responden . %), sedangkan dari 16 . ,1%) responden yang berpendapat mengenai peran kader kurang baik terdapat responden yang memiliki fungsi kognitif normal sebanyak 16 . ,6%) dan fungsi kognitif probable gangguan kognitif 0 responden . ,0%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square, dapat dilihat bahwa nilai p=0,013 . <0,. yang artinya H1 diterima. Ada hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Noviyanti . yang mengatakan bahwa peran kader posyandu secara umum yakni konseling, keterlibatan masyarakat, dan menawarkan dukungan dan layanan kepada warga lanjut usia dan keluarga mereka. Kader memiliki peran penting dalam memastikan lansia yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dapat terhubung dengan layanan kesehatan yang tepat. Kader dapat mengarahkan lansia dan keluarganya untuk mengakses pemeriksaan lebih lanjut di puskesmas atau rumah sakit, serta mendukung dalam mengikuti program rehabilitasi atau terapi yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pAnAlntnn Eng dnlkukn olAh Sari . mengenai peran kader dalam lansia dengan demensia menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen menunjukan hasil bahwa ada hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia, dimana kader memainkan peran penting dalam memberikan informasi kesehatan, pelatihan perawatan, serta dukungan emosional kepada keluarga dan lansia. Kader juga berperan sebagai penghubung antara komunitas dan layanan kesehatan formal, yang membantu dalam deteksi dini dan manajemen demensia secara lebih efektif. Dari hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa para kader mampu menggunakan kuesioner MMSE (Mini Mental State examinatio. dalam mendeteksi lansia dengan demensia. Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian yang menyatakan ada hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo bahwa peran kader dalam mencegah kejadian gangguan kognitif pada lansia sudah baik, dimana kader yang baik mampu memberikan edukasi yang efektif kepada lansia dan keluarganya mengenai pentingnya menjaga kesehatan otak. Kader yang berperan aktif juga akan memberikan pendampingan dan dukungan bagi lansia yang sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan kognitif. 121 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 116-122 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan peran kader dengan gangguan kognitif pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Palolo. Oleh sebab itu, diperlukan upaya asuhan keperawatan yang berfokus pada peningkatan peran kader. Selain itu, promosi kesehatan kepada lansia dan keluarga juga perlu ditingkatkan untuk mencegah dan meminimalkan risiko gangguan kognitif melalui pola hidup sehat dan aktivitas yang mendukung fungsi kognitif. UCAPAN TERIMA KASIH