247 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri Terhadap Student Well-Being pada Siswa SMP Kota Makassar Yulia Citra1. Farida Aryani2. Ahkam Alwi3 Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene. Indonesia1 Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Makassar. Indonesia2 Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia3 *Email: yuliacitra@stainmajene. Abstrak. Student well-being adalah perasaan dan kognisi yang positif dialami secara konsisten oleh siswa, sehingga dapat memiliki keberfungsian secara efektif di lingkungan sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh dukungan sosial orang tua dan efikasi diri terhadap student well- being pada siswa SMP di Kota Makassar. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMP, sebanyak 400 siswa dari 6 sekolah SMP Negeri di Kota Makassar. Pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan multistage cluster random Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga skala, yaitu skala student well-being, skala dukungan sosial orang tua dan skala efikasi diri. Teknik analisis data yang digunakan dalam uji hipotesis yaitu regresi berganda analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial orang tua dan efikasi diri memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap student well-being dengan nilai p= 0,001 <0,05. Berdasarkan hal tersebut, maka semakin tinggi dukungan sosial orang tua dan efikasi diri, maka semakin tinggi pula student well-being pada siswa. Kata Kunci: Student well-being, dukungan sosial orang tua, efikasi diri. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri PENDAHULUAN Salah satu upaya untuk menguasai tugas-tugas perkembangan pada remaja, yaitu dengan menjalani masa pendidikan di sekolah. Pada dasarnya sekolah penting untuk perkembangan remaja baik secara emosional, sosial, dan juga intelektual, karena sekolah merupakan bagian terbesar yang dijalani dalam kehidupan remaja. Sekolah juga memiliki peran dalam mengembangkan unsur kualifikasi tugas perkembangan yang menjadi tempat remaja untuk melatih kemampuan-kemampuan dirinya guna menyesuaikan diri terhadap jenjang selanjutnya yang akan dijalani di masa depan (Hastuti. Soetikno, dan Heng, 2. Selain sekolah yang memberikan fungsi dan peranan bagi remaja, remaja juga memiliki beberapa peran sebagai seorang siswa di sekolah. Antara lain siswa bersikap baik dalam menerima peraturan yang berlaku di sekolah, mengikuti kegiatan sekolah baik dalam bentuk akademik ataupun non akademik, memiliki rasa hormat pada guru dan civitas akademik di sekolah, dan dapat menjalani pertemanan yang baik (Syamsu, 2. Namun kenyataannya terdapat permasalahan pada remaja sebagai siswa yang bertentangan dengan peran-peran yang seharusnya mereka jalani tersebut. Idealnya siswa dengan kesejahteraan yang baik akan menunjukkan perilaku sesuai dengan peran sebagai siswa, seperti berperilaku positif sesuai dengan norma sekolah, memiliki perasaan yang positif di sekolah, serta menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman dalam belajar. Namun kenyataannya masih banyak siswa yang tidak menjalankan perannya dengan baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mubasyiroh et al . menyatakan bahwa sebanyak 8. 477 siswa SMP sampai SMA di Indonesia mengalami permasalahan pada gangguan emosional yang dapat berupa rasa kesepian, kecemasan, serta berhubungan dengan perilaku buruk seperti merokok, melawan guru, bolos, hingga minum-minuman keras. Selain itu, beradasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMPN 26 Makassar, pada tanggal 08 November 2024 kepada 61 siswa menunjukkan bahwa beberapa siswa terlihat kurang antusias dalam pembelajaran di kelas, hal ini terlihat ketika peneliti mengambil data awal, beberapa siswa yang tidak tertib, ribut, bahkan tidur di kelas. Selain itu, di dalam kelas siswa juga saling menganggu satu sama lain, beberapa siswa tidak ingin memberikan data nama orang tua karena takut menjadi bahan ejekan teman-teman Siswa juga menyatakan kurang senang dengan guru karena terkadang memberikan hukuman tanpa mendengarkan penjelasan dan guru suka marah-marah. Berdasarkan wawancara dengan guru BK, tergolong banyak siswa yang melakukan pelanggaran di sekolah seperti merokok, bolos sekolah, perilaku melawan guru, perkelahian antar teman, sering terlambat, tidak mengerjakan tugas dan prestasi akademik buruk, serta memajak siswa lain. Aulia et al . menyatakan bahwa kesejahteraan siswa diartikan sebagai dominasi perasaan positif yang dialami di sekolah, kurangnya emosi negatif terhadap sekolah, dan kepuasan siswa. Domain kesejahteraan siswa meliputi emosi positif, hubungan sosial, kurangnya emosi negatif, keterlibatan dengan sekolah, faktor 249 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 interpersonal, dan prestasi. Fraillon . menyatakan kesejahteraan siswa sebagai suatu kondisi pada siswa yang akan mendorong untuk memberikan peranan efektif dalam komunitas di sekolahnya. Tian, et al . menyatakan bahwa terdapat dua komponen kesejahteraan siswa di sekolah yaitu penilaian siswa terhadap sekolah dan perasaan siswa di sekolah. Jika komponen tersebut terpenuhi dengan baik, maka siswa dapat dikatakan memiliki kesajahteraan di sekolah yang baik pula. Berdasarkan data awal yang dilakukan oleh peneliti di sekolah SMPN 26 Makassar, pada tanggal 08 November 2024 dengan menggunakan kuesioner kepada 61 siswa menunjukkan bahwa terdapat 67,2% siswa yang merasa belum sejahtera di Karyani, et al . menyatakan terdapat aspek- aspek kesejahteraan siswa yaitu, sosial, kognitif, emosi, pribadi, fisik dan spiritual. Berdasarkan data awal menunjukkan aspek sosial sebanyak 51% siswa merasa tidak senang lingkungan sosialnya, kognitif sebanyak 41% merasa kurang dalam hal akademik, emosi sebanyak 45% siswa merasa tidak gembira berada di sekolah, pribadi sebanyak 47% siswa merasa tidak dihargai, fisik atau materi sebanyak 38,5% siswa merasa memiliki kendala dalam memenuhi kebutuhan sekolah, dan spiritual sebanyak 9,7% siswa merasa mudah melakukan ibadah di sekolah. Pengambilan data awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa aspek sosial memiliki persentase besar dalam kesejahteraan siswa disekolah yaitu sebanyak 51% siswa merasa tidak senang dengan lingkungan sosialnya. Aspek sosial ini meliputi teman, guru, dan orang tua. Allen, et al (Santrock, 2. menyatakan bahwa keluarga adalah aspek dukungan sosial yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan remaja. Hanya saja, masih banyak orang tua tidak mempunyai pengetahuan cukup mengenai perubahan yang sesuai dengan karakteristik remaja mereka. Santrock . menyatakan bahwa orang tua sering kali lebih memaksa dan menekan remaja untuk mengikuti standar orang tua. Tetapi pergeseran dari masa kanak-kanak ke masa dewasa adalah masa yang panjang dan melalui berbagai rintangan. Masa awal remaja adalah waktu di mana konflik orang tua dan remaja meningkat Montemayor. Stenberg (Santrock, 2. Piko dan Hamvai (Hastuti. Soetikno, dan Heng, 2. menyatakan bahwa orang tua berperan penting dalam kesejahteraan pada masa remaja. Sarafino . menyatakan dukungan orang tua merupakan bentuk penilaian anak mengenai dukungan sosial yang diterima dari orang tua berupa perhatian, kenyamanan, dan kesediaan memberikan bantuan. Gardon . menyatakan bahwa dukungan orang tua merupakan bantuan orang tua yang diberikan kepada anak dalam bentuk kasih sayang, pemberian materi, dorongan atau nasehat, serta bantuan dalam memecahkan masalah. Noble, et al . menyatakan bahwa lingkungan keluarga, rumah, dan komunitas anak memiliki dampak pengaruh siginifikan terhadap kesejahteraan siswa. Pratama dan Duryati . dalam penelitiannya menyatakan bahwa dukungan sosial yang berasal dari keluarga khususnya orang tua merupakan dukungan yang paling kuat dirasakan oleh siswa usia remaja, sehingga berpengaruh pada kesejahteraan siswa di Putri, et al . dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri yang signifikan dukungan sosial orang tua terhadap student well-being pada siswa SMA di Kota Padang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial orang tua maka semakin tinggi pula student well-being yang dimiliki siswa. Siswa dengan kesejahteraan yang baik di sekolah akan menjalan perannya sebagai siswa secara optimal. Untuk menjalankan peran sebagai siswa dibutuhkan karakteristik pribadi yang dapat memberikan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, sehingga mencapai hasil terbaik di sekolah. Keyes dan Waterman (Khatimah, 2. menyatakan bahwa salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesejahteraan siswa . tudent well-bein. di sekolah adalah karakteristik pribadi. Bandura . menyatakan bahwa efikasi diri merupakan salah satu unsur kepribadian. Efikasi diri merupakan keyakinan siswa terhadap kemampuan diri dalam pengaturan tindakan yang dilakukan berdasakan keyakinan dan penetapan tujuan yang diharapkan. Frailon . menyatakan bahwa salah satu aspek dari dimensi intrapersonal kesejahteraan siswa yaitu efikasi diri. Bandura . menyatakan bahwa efikasi diri memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan. Efikasi diri yang tinggi berhubungan dengan kesejahteraan yang positif, pengaturan stress, harga diri yang lebih tinggi, fisik yang lebih baik, dan kondisi hidup yang lebih baik. Di sisi lain, individu dengan efikasi diri yang rendah sebagaian besar mempunyai perasaan khawatir dan Gibbons . dalam penelitannya menyatakan bahwa terdapat hubungan yang relevan antara efikasi diri dengan kesehatan dan kesejahteraan siswa. Yu dan Luo . dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara efikasi diri dan kesejahteraan pada mahasiswa. Santos, et al . dalam penelitiannya menujukkan hubungan yang signifikan efikasi diri dan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa. Priesack dan Alcock . menyatakan bahwa terdapat hubungan antara efikasi diri dan kesejahteraan yang berguna dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mahasiswa perawat. Garwati . dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara efikasi terhadap dukungan orang tua dan kesejahteraan siswa selama pandemi. Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh dukungan sosial orang tua dan efikasi terhadap student well-being pada siswa SMP Kota Makassar. TINJAUAN PUSTAKA Frallion . menyatakan bahwa student well-being atau disebut kesejahteraan siswa merupakan keberfungsian siswa secara efektif dalam komunitas sekolah, yang dapat dilihat dari dimensi intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal terkait internalisasi perasaan diri sebagai siswa dan efektivitas fungsinya dalam komunitas sekolah, sedangkan interpersonal terkait penilaian siswa terhadap lingkungannya dan keefektifan fungsinya dalam komunias sekolah. Hascher . menyatakan bahwa student well-being merupakan pengalaman kognitif-emosional yang ditandi oleh dominasi perasaan dan kognisi positif terhadap sekolah, orang-orang di sekolah, dan 251 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 konteks sekolah dibandingkan dengan perasaan negatif dan kognisi kehidupan Tian, et al . menyatakan terdapat dua aspek pada kesejahteraan subjektif siswa di sekolah yaitu school statisfaction dan affect in school. School statisfaction merupakan aspek kognitif yang mengacu pada subjektivitas siswa, penilaian secara kognitif terkait dengan lingkungan sekolah sehari-hari yang berdasarkan standar yang ditetapka oleh dirinya sendiri. Affect in school merupakan aspek yang mengukur seberapa sering siswa mengalami dua pengalaman emosi yaitu emosi positif dan negatif di sekolah. Perasaan positif dapat digambarkan dari frekuensi siswa merasakan senang dan bahagia, di lain sisi perasaan negative dapat berupa rasa sebal, kesal ataupun bosan pada kondisi sekolah. Sarafino . menyatakan dukungan orang tua merupakan bentuk penilaian anak mengenai dukungan sosial yang diterima dari orang tua berupa perhatian, kenyamanan, dan kesediaan memberikan bantuan. Gardon . menyatakan bahwa dukungan orang tua merupakan bantuan orang tua yang diberikan kepada anak dalam bentuk kasih sayang, pemberian materi, dorongan atau nasehat, serta bantuan dalam memecahkan masalah. Sarafino . menyatakan terdapat empat aspek dukungan sosial, yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif. Bandura . menyatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu pada kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk kontrol terhadap keberfungsian diri sendiri terhadap kejadian di lingkungannya, sehingga dapat mencapai hasil yang Brannon dan Feist . menyatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu atas kemampuan yang dimiliki untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil yang diinginkan dalam situasi tertentu. Bandura . menyatakan bahwa terdapat beberapa dimensi dalam efikasi diri, yaitu level, strength, dan generality. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan populasi penelitian sebanyak 37. 692 siswa SMP Negeri di Kota Makassar dan sampel penelitian sebanyak 400 siswa yang dipilih dengan teknik multistage cluster random sampling. Adapun instrumen yang digunakan berupa skala dengan model Likert tentang subjective well- being yang diadaptasi dari pengembangan Alwi . yang berjumlah 8 aitem dengan nilai cronbach alpha sebesar 0. Skala dukungan sosial orang tua yang diadaptasi dari pengembangan Fitriani . yang berjumlah 24 aitem dengan nilai cronbach alpha sebesar 0. Skala efikasi diri yang diadaptasi dari pengembangan Alwi . yang berjumlah 27 aitem dengan nilai cronbach alpha Jumlah aitem yang valid sebanyak 59 aitem. Penelitian ini menggunakan teknik statistik deskriptif dan uji regresi berganda. Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Deskriptif Variabel Table 1. Kategorisasi Skor Student Well-Being Interval skor <29 Total Kategori Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 15,50 72,75 11,75 Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat 62 atau 15,50% siswa berada pada kategori rendah, terdapat 291 atau 72,75% siswa berada pada kategori sedang, dan terdapat 47 atau 11,75% siswa berada pada kategori tinggi. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tingkat student well-being pada siswa berada pada kategori sedang. Table 2. Kategorisasi Skor Dukungan Sosial Orang Tua Interval skor <80 Total Kategori Rendah Sedang Tinggi Frekuensi 16,75 70,00 13,25 Tabel 2, menunjukkan bahwa terdapat 52 atau 13% siswa berada pada kategori rendah, terdapat 284 atau 71% siswa berada pada kategori sedang, dan terdapat 64 atau 16% siswa berada pada kategori tinggi. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, besar tingkat efikasi diri pada siswa berada pada kategori sedang. Table 3. Kategorisasi Skor Efikasi diri Interval skor Kategori Frekuensi Percent <63 Rendah 1,00 Sedang 77,00 >99 Tinggi 22,00 Total Tabel 3, menunjukkan bahwa terdapat 4 atau 1% siswa berada pada kategori rendah, terdapat 308 atau 77% siswa berada pada kategori sedang, dan terdapat 88 atau 22% siswa berada pada kategori tinggi. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, besar tingkat efikasi diri pada siswa berada pada kategori sedang. 253 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Uji Korelasi Table 4. Hasil Uji korelasi Student Student Dukungan Sosial Orang Tua Efikasi Diri PersonAos r p-value PersonAos r p-value Dukungan sosial orang Efikasi diri 0,233 <0,001 PersonAos r 0,272 0,392 P- value <0,001 <0,001 Hasil koefisien korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara student well-being dengan dukungan sosial orang tua . Ae 0,233, p < 0,. dan efikasi diri . = 0,272, p <0,. Selain itu, hal yang sama juga di peroleh bahwa terdapat hubungan positf yang signifikan antara dukungan sosial orang tua dan efikasi diri . = 0,392, p <0,. Uji Hipotesis Table 5. Hasil Uji Hipotesis Model Model 1 Model 2 Efek Simultan Jalur Dukungan sosial 0,110 0,022 Dukungan sosial 0,070 0,024 Efikasi well- 0,119 0,029 95% CI CIL CIU 0,064 0,115 4,78 < 0,001 0,022 0,118 2,88 0,004 0,062 0,177 <0,001 F= 16,9, p=0,001 Tabel 5, menunjukkan bahwa dukungan social orang tua secara signifikan berpengaruh terhadap terjadinya student well-being . esejahteraan sisw. dengan nilai signifikansi sebesar ( = 0,070, p= 0,004 < 0,. , sehingga mendukung hipotesis 1. Serupa dengan efikasi diri terhadap student well-being . esejahteraan sisw. yang juga signifikan ( = 0,119, p=0,001 < 0,. , hal tersebut mendukung hipotesis 2. Selanjutnya menunjukkan bahwasannya nilai F= 16,9 dan p= 0,001, sehingga dapat disimpulkan Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri bahwa dukungan sosial orang tua dan efikasi diri secara simultan berpengaruh terhadap student well-being . esejahteraan sisw. pada siswa SMP di Kota Makassar, sehingga mendukung hipotesis 3. Table 6. Model Comparison Comparison yaAyacya Model Model 0,0386 397 <0,001 Tabel 6, menunjukkan bahwa dengan nilai p<0,05 hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara model satu dan model dua. Selain itu, nilai 0,038 pada Adjusted B2 menunjukkan perubahan nilai. Hal tesebut, memiliki arti bahwasannya dukungan sosial orang tua dan efikasi diri secara simultan memberikan sumbangsih sebesar 3,8%. Sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diukur atau diamati dalam penelitian ini. Pembahasan Hascher . menyatakan bahwa student well- being merupakan pengalaman kognitif-emosional yang ditandi oleh dominasi perasaan dan kognisi positif terhadap sekolah, orang-orang di sekolah, dan konteks sekolah dibandingkan dengan perasaan negatif dan kognisi kehidupan sekolah. Karyani, et al . menyatakan bahwa student well-being merupakan suatu suasana atau keadaan yang aman, tentram, damai, tercapainya tujuan hidup, bahagia, dan rukun tanpa adanya perdebatan, serta harmonis atau tolong menolong antar sesama individu. Jarvela . menyatakan bahwa kesejahteraan siswa sangat penting karena berpengaruh signifikan terhadap perkembangan remaja, proses belajar, dan hasil belajar di sekolah. Siswa yang merasa puas terhadap sekolahnya akan mengembangkan sikap positif terhadap proses belajar dan mengajar dan meningkatkan prestasinya. Suldo dan Shaffer . menyatakan bahwa siswa dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi menunjukkan kepuasan terhadap sekolah dan kualitas hubungan sosial yang lebih tinggi, serta lebih sehat secara fisik dan mental. Lovat. Toomey, dan Clement . menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan siswa menunjukkan seberapa siswa mampu menampilkan perilaku yang sesuai dengan perannya dalam fungsi akademik, sosial dan emosianal di sekolah. Awartani (Putri, et , 2. menyatakan bahwa siswa yang memiliki student well-being yang baik dapat dicirikan sebagai siswa yang kooperatif, memiliki kepercayaan diri, memiliki jiwa altruistik, berpikir secara positif dan dapat memahami informasi yang diberikan oleh sekolah secara efektif. Wilkinson (Putri, et al. , 2. menyatakan bahwa siswa dengan student well-being tinggi menunjukkan adanya keinginan untuk memiliki hubungan yang baik dengan teman maupun guru dan dapat menjaga hubungan interpersonal yang baik tersebut. Sarafino . menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan sebuah bentuk kasih sayang, kepeduliaan, penghargaan yang diberikan oleh orang tua, sehingga anak 255 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 yang mendapatkan dukungan sosial akan merasa dicintai, diterima, dan dihargai. Wibhowo, et al . menyatakan sumber-sumber dukungan sosial dapat dari mana saja seperti orang tua, saudara kandung, kerabat, teman di lingkungan pekerjaan atau sekolah, dan masyarakat. Dukungan orang tua merupakan dukungan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya baik secara emosional, penghargaan,informasi ataupun Dukungan orang tua berhubungan dengan kesuksesan akademis remaja,gambaran diri yang positif, harga diri, percaya diri, motivasi, dan kesehatan Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Tian, et al . menyatakan bahwa dukungan sosial orang tua secara tidak langsung mempengaruhi kesejahteraan siswa di sekolah dan juga berhubungan positif dengan aspek kepuasaan sekolah pada siswa remaja awal. Hal sejalan dinyatakan oleh Diener . menyatakan bahwa salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kesejahteraan siswa yaitu dukungan sosial. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial orang tua yang didapatkan maka semakin tinggi pula kesejahteraan siswa di sekolah. Hasil hipotesis penelitian ini juga diperkuat oleh oleh Putri, et al . menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dukungan sosial orang tua terhadap student well-being pada siswa SMA di Kota Padang. Artinya, semakin tinggi dukungan sosial orang tua maka semakin tinggi pula student well- being yang dimiliki oleh siswa. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial orang tua maka akan semakin rendah student well-being yang dimiliki. Pratama dan Duryati . dalam penelitiannya menyatakan bahwa dukungan sosial yang berasal dari keluarga khususnya orang tua merupakan dukungan yang paling kuat dirasakan oleh siswa usia remaja, sehingga berpengaruh pada kesejahteraan siswa di sekolah. Wu dan Lee . menyatakan bahwa dukungan sosial memberikan pengaruh yang penting bagi kesejahteraan subjektif pada remaja. Dukungan sosial orang tua memberikan pengaruh yang paling menonjol terhadap kesejahteraan remaja di delapan wilayah dunia. Noble, et al . menyatakan bahwa lingkungan keluarga, rumah, dan komunitas anak memiliki dampak pengaruh siginifikan terhadap kesejahteraan siswa. Allen, et al (Santrock, 2. menyatakan bahwa keluarga adalah aspek dukungan sosial yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan remaja. Hasil uji setiap aspek dukungan sosial orang tua dan kesejahteraan siswa menunjukkan bahwa aspek dukungan penghargaan memberikan sumbangsih pengaruh terbesar dibanding dengan aspek yang lain yaitu sebesar -92,6% terhadap student well-being atau kesejahteraan siswa di sekolah dengan nilai signifikansi p=0,002 <0,05. Artinya, terdapat pengaruh yang arahnya negatif yaitu semakin rendah aspek penghargaan dari dukungan sosial orang tua, maka student well-being atau kesejahteraan siswa di sekolah tetap tinggi. Hasil uji setiap aspek tersebut kemudian diperkuat oleh penelitian Adani . menunjukkan bahwa dukungan penghargaan memiliki nilai siginifikan . = 0,003<0,. yang artinya terdapat pengaruh terhadap kesejahteraan siswa. Selain itu, aspek dukungan penghargaan juga memberikan Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri sumbangsih pengaruh terbesar 35,7% terhadap kesejahteran pada siswa. Namun, dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan instrumental dan dukungan emosional tidak signifikan atau berpengaruh terhadap kesejahteraan pada siswa. Berdasarkan hasil uji hipotesis 2 diperoleh bahwa efikasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap student well-being pada siswa SMPN Kota Makassar dengan nilai signifikansi sebesar ( = 0,119, p=0,001 < 0,. Artinya, terdapat pengaruh positif yaitu semakin tinggi efikasi diri yang diterima oleh siswa, maka semakin tinggi pula student well- being. Hasil penelitian ini kemudian diperkuat oleh Fraillon . menyatakan bahwa salah satu aspek dari dimensi intrapersonal student well-being yaitu efikasi diri. Bandura . menyatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu pada kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk kontrol terhadap keberfungsian diri sendiri terhadap kejadian di lingkungannya, sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan. Efikasi diri memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan. Dwinanda dan Nugraha . menyatakan bahwa efikasi diri mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kesejahteraan subjektif siswa di Artinya efikasi yang tinggi dapat memberikan kesejahteraan subjektif yang lebih baik di sekolah. Hemasti, et al . menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif efikasi diri terhadap kesejahteraan siswa. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Linsiya . menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif pada mahasiswa. Artinya efikasi diri individu yang tinggi dapat meningkatkan perasaan positif dan memberikan hubungan yang positif dengan kepuasaan hidup. Menurut Citra. Daud. , & Indahari. efikasi diri yang rendah secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan yang sejahtera pada klien yang sedang menjalani rehabilitasi, hal ini terlihat bahwa rasa percaya yang rendah dan selalu adanya keinginan untuk kambuh kembali dalam menggunakan obatobat terlarang. Berdasarkan hasil uji setiap aspek efikasi diri dan kesejahteraan siswa menunjukkan bahwa aspek keluasan . memberikan sumbangsi pengaruh terbesar dibanding dengan aspek yang lain yaitu sebesar 39,1% terhadap student wellbeing atau kesejahteraan siswa di sekolah dengan nilai signifikansi p= 0,001 < 0,05. Artinya, terdapat pengaruh yang arahnya positif yaitu semakin tinggi aspek keluasan . pada efikasi diri siswa, maka semakin tinggi pula student well-being atau kesejahteraan siswa di sekolah. Hasil uji setiap aspek tersebut, kemudian diperkuat oleh penelitian Alam . yang menyatakan bahwa individu yang memiliki tingkat generality tinggi akan optimis dengan kemampuan yang digunakan dalam menyelesaikan masalah, mampu mengontrol pilihannya serta berpedoman pada pengalaman sebelumnya dalam menyelesaikan tugas ataupun masalah. Bandura . menyatakan terdapat tiga aspek efikasi diri yaitu tingkat . evel/magnitud. , kekuatan . , dan keluasan . Keluasan . berkaitan dengan perilaku dimana individu merasa 257 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 yakin terhadap kemampuannya pada situasi atau kegiatan yang terbatas maupun Individu dapat merasa yakin terhadap kemampuan dirinya tergantung pada pemahaman kemampuan dirinya yang terbatas pada suatu kegiatan dan situasi tertentu, atau pada serangkaian kegiatan dan situasi yang lebih luas dan bervariasi. Sejalan yang dikemukan oleh Diener . menyatakan bahwa individu yang mampu menghadapi berbagai masalah atau tugas dengan lebih baik merupakan individu yang memiliki kesejahteraan subjektif yang tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dapat diartikan bahwa semakin tinggi aspek generality pada efikasi diri siswa, maka semakin tinggi pula kesejahteraan subjektif pada siswa di sekolah. Berdasarkan hasil uji hipotesis 3 diperoleh bahwa dukungan sosial orang tua dan efikasi diri secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap student well-being pada siswa SMPN di Kota Makassar, dengan nilai signifikansi sebesar p= 0,001 <0,05 dan nilai Adjusted B2 sebesar 0,0386 atau besar pengaruh 3,8%. Artinya, terdapat pengaruh positif yaitu apabila siswa memiliki dukungan sosial orang tua dan efikasi diri yang tinggi, maka tingkat student well-being juga akan meningkat. Penelitian ini kemudian diperkuat oleh Hemasti, et al . menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara dukungan sosial yang bersumber dari teman sebaya, guru, dan orang tua dan efikasi diri terhadap kesejahteraan siswa SMA di sekolah. Artinya, secara bersama-sama dukungan sosial dan efikasi diri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan siswa di sekolah. Garwati . dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara efikasi terhadap dukungan orang tua dan kesejahteraan siswa selama pandemi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dukungan sosial orang tua dan efikasi diri terhdap student wellbeing. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi 0. 001 < 0. 05, dengan nilai kontribusi Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Model penelitian ini masih belum melakukan kontrol terkait dengan data demograsi siswa, seperti jenis kelamin dan juga status sosial ekonomi keluarga siswa. Kepada pihak pembuat kebijakan dan tenaga pendidik dapat membuat sebuah kebijakan dan program yang tentunya dapat memberikan pengaruh terkait peningkatan kesejahteraan siswa di sekolah Kepada peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian dengan variabel yang sama dengan lebih memperhatikan dan mengontrol karakteristik subjek seperti status sosial ekonomi keluarga dan juga jenis kelamin. Selain itu, penelitian selanjutnya ketika dilapangan melakukan pengambilan subjek penelitian, dapat dilakukan dengan menggunakan randomize, agar subjek di setiap sekolah memiliki sebaran yang lebih luas dan tidak berada pada kelas-kelas tertentu saja. Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua dan Efikasi Diri DAFTAR PUSTAKA