Open Community Service Journal 4 . : 242-251 2025 Contents lists available at openscie. E-ISSN: 2828-1195 Open Community Service Journal DOI: 10. 33292/ocsj. Journal homepage: https://opencomserv. Sharing Session: Transformasi Masyarakat Dalam Era Digital Pengelolaan Organisasi Andromeda Valentino Sinaga 1*. Rimma Sianipar1. Yulita Sirinti Pongtambing1. Jonris Tampubolon2. Eliyah Acantha Manapa Sampetoding3 Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia Universitas Timor. Nusa Tenggara Timur. Indonesia Universitas Hasanuddin. Makassar. Indonesia *Correspondence E-mail: andromedavalentinosinaga@unm. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Artikel: Disubmit 7 Juni 2025 Diperbaiki 7 Agustus 2025 Diterima 7 November 2025 Diterbitkan 10 November 2025 Kata Kunci: Literasi Digital. Organisasi Komunitas. Transformasi Digital. ABSTRAK Latar Belakang: Kemajuan teknologi digital menuntut organisasi berbasis komunitas (OBK) untuk terus beradaptasi, khususnya dalam bidang administrasi, komunikasi, dan transparansi. Namun, masih terdapat berbagai tantangan, termasuk rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur, serta kekurangan sumber daya manusia yang terampil, yang semuanya menghambat proses transformasi. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas digital para pengelola organisasi berbasis komunitas (OBK) agar mereka dapat secara efektif mengintegrasikan teknologi ke dalam manajemen organisasi mereka. Metode: Melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom, kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas digital para pengelola OBK. Program ini disusun dalam bentuk sesi berbagi interaktif yang mencakup topik utama seperti manajemen organisasi digital, komunikasi melalui platform daring, dan keamanan data. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya digitalisasi, yang tercermin dari meningkatnya minat peserta dalam mengadopsi teknologi untuk keperluan manajemen administrasi dan Namun demikian, masih terdapat beberapa hambatan, antara lain keterbatasan akses terhadap perangkat teknologi dan kurangnya pelatihan teknis berkelanjutan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa transformasi digital merupakan kebutuhan mendesak bagi OBK. Pelatihan yang berkesinambungan dan peningkatan akses terhadap teknologi merupakan faktor kunci dalam mempercepat adaptasi mereka di era digital. Untuk mengutip artikel ini: Sinaga. Sianipar. Pongtambing. Tampubolon. Sampetoding. Sharing session: Transformasi pengelolaan organisasi masyarakat dalam era digital. Open Community Service Journal, 4. , 242 Ae 251. Artikel ini berada di bawah lisensi: A Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. License. Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Copyright A2025 by author/s Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara organisasi masyarakat . mengelola kegiatan, berkomunikasi, dan memberikan layanan. Berkat inovasi digital, ormas kini mampu menjalankan operasional secara lebih efisien, menjangkau lebih banyak anggota, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Seperti yang disampaikan oleh Wahyudi et al. transformasi digital juga berdampak nyata terhadap pengelolaan sumber daya manusia dalam Pemanfaatan berbagai teknologi, seperti media sosial, sistem berbasis cloud, hingga aplikasi komunikasi daring, memungkinkan ormas beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat. Menurut Hermiken . , organisasi kemasyarakatan berperan penting dalam kehidupan sosial masyarakat, karena kehadirannya dapat memperkuat kebersamaan, mempererat hubungan antarwarga, serta menjadi wadah partisipasi dalam berbagai kegiatan sosial. Proses transformasi ini tentu tidak lepas dari tantangan dan masalah. Masalah seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, dan resistensi terhadap perubahan masih kerap menjadi penghambat. Strategi yang tepat dibutuhkan agar teknologi digital bisa dioptimalkan untuk mendukung visi dan misi organisasi secara efektif. Fitriyani & Nugroho . menyampaikan bahwa di era abad 21, literasi digital merupakan keterampilan yang sangat penting. Kemampuan ini tidak hanya membantu seseorang berpikir kritis, tetapi juga mendorong untuk bisa berkomunikasi, bekerja sama, dan berkarya secara efektif di dunia digital. Digitalisasi juga membuka peluang besar bagi ormas untuk menjadi lebih inklusif dan responsif. Bahar et al. menyebut bahwa manajemen organisasi yang baik, termasuk dalam perencanaan strategis dan pengelolaan sumber daya, sangat berperan dalam mendorong efektivitas kerja. Teknologi yang memadai dapat mendukung percepatan penyebaran informasi, memperluas jangkauan program, serta membangun sistem administrasi dan keuangan yang lebih transparan. Tak kalah penting, teknologi digital memberi ruang partisipasi lebih luas bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya sulit terjangkau karena kendala geografis maupun sosial. Meskipun digitalisasi membawa banyak manfaat, organisasi masyarakat . masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam proses adopsi teknologi. Aysa . menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya membuka peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan yang perlu diatasi dengan strategi yang tepat. Salah satu kendala utama adalah rendahnya literasi digital di kalangan pengurus dan anggota, yang membuat pemanfaatan teknologi belum bisa berjalan secara maksimal. Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur, seperti akses internet yang belum merata dan kurangnya perangkat memadai, terutama di wilayah terpencil, turut menjadi hambatan signifikan. Tantangan lain datang dari keterbatasan sumber daya manusia, baik dalam hal keterampilan teknis maupun kesiapan mental untuk beradaptasi dengan perubahan. Tanpa dukungan yang memadai, adopsi teknologi dalam pengelolaan ormas cenderung berjalan lambat dan tidak optimal. Karena itu, pelatihan literasi digital, peningkatan akses terhadap teknologi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi langkah penting dalam mempercepat proses transformasi ini. Dalam praktiknya, banyak ormas mengalami kesulitan saat menerapkan teknologi untuk pengelolaan administrasi, manajemen anggota, serta komunikasi internal dan eksternal. Misalnya, pencatatan keuangan dan pengarsipan digital sering kali belum berjalan lancar karena kurangnya kemampuan teknis. Begitu pula dalam manajemen anggota, di mana platform digital belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengorganisir atau meningkatkan keterlibatan anggota ormas. Komunikasi melalui media sosial atau platform kolaborasi juga membutuhkan pemahaman baru yang mungkin belum dimiliki seluruh anggota. Maka dari itu, upaya yang lebih sistematis seperti pelatihan, penyediaan infrastruktur pendukung, dan kebijakan internal yang adaptif sangat dibutuhkan agar proses digitalisasi ormas dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan. Pitrianti et al. menekankan bahwa literasi digital sangat penting karena membantu seseorang memahami dan menggunakan teknologi informasi dengan cara yang bijak dan bermanfaat dalam kehidupan seharihari. Kurangnya pemahaman tentang keamanan data dan pengelolaan informasi digital menjadi tantangan serius bagi banyak organisasi masyarakat . dalam proses transformasi digital. Tidak sedikit ormas yang belum memiliki sistem perlindungan data yang memadai, sehingga berisiko mengalami kebocoran informasi, serangan peretasan, atau penyalahgunaan data anggota. Rendahnya literasi digital di kalangan pengurus dan anggota juga membuat isu-isu penting seperti enkripsi data, penggunaan kata sandi yang kuat, hingga praktik keamanan siber lainnya belum menjadi perhatian Di sisi lain, manajemen informasi digital, termasuk pengarsipan dokumen penting dan penyebaran informasi secara efisien, masih kerap menemui hambatan. Dalam konteks ini, edukasi dan pelatihan mengenai keamanan siber menjadi sangat penting, disertai dengan penerapan kebijakan perlindungan data yang lebih ketat agar ormas dapat beradaptasi dengan lingkungan digital secara aman dan berkelanjutan. Selain tantangan teknis, rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan ormas juga menjadi persoalan yang cukup krusial. Banyak ormas masih bergantung pada metode komunikasi konvensional yang kurang efektif dalam menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi Tanpa pendekatan digital yang menarik dan interaktif, informasi terkait program atau kegiatan tidak selalu sampai ke sasaran dengan baik. Belum lagi, banyak platform digital milik ormas yang kurang aktif atau tidak menyajikan konten yang mampu membangun keterlibatan. Strategi pemasaran digital seperti kampanye yang menarik, pemanfaatan data audiens, dan teknik engagement masih jarang Untuk menjawab tantangan ini, pengurus ormas perlu dibekali kemampuan merancang komunikasi digital yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan pendekatan digital yang tepat, ormas tidak hanya bisa memperluas jangkauan dan meningkatkan transparansi, tetapi juga membangun keterlibatan masyarakat secara lebih bermakna. Seperti yang disampaikan oleh Bangsawan . , percepatan transformasi digital di Indonesia membuka peluang besar dalam mendorong efisiensi dan inklusivitas di berbagai sektor, termasuk organisasi masyarakat. Penerapan teknologi digital dalam pengelolaan organisasi masyarakat . telah membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi di berbagai aspek operasional. Misalnya, sistem database keanggotaan memungkinkan pengelolaan data yang lebih rapi dan mudah diakses, sekaligus mendukung pembaruan informasi secara berkala. Hal ini tentu sangat membantu dalam perencanaan kegiatan, distribusi informasi, serta pemantauan partisipasi anggota. Tidak hanya itu, penggunaan teknologi juga sangat berperan dalam manajemen keuangan. Aplikasi keuangan, layanan e-banking, hingga platform crowdfunding kini dapat dimanfaatkan untuk mencatat, melaporkan, dan mengelola dana dengan lebih transparan. Laporan keuangan pun bisa dihasilkan secara otomatis dan akurat, sehingga mendukung akuntabilitas organisasi di hadapan anggota maupun mitra eksternal. Nizar et al. menekankan pentingnya penguatan kapasitas digital masyarakat melalui pendampingan, agar proses transformasi digital bisa berjalan lebih cepat dan berdampak luas. Karena itu, pelatihan yang relevan dan dukungan berkelanjutan bagi pengurus ormas menjadi kunci agar teknologi benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, pemanfaatan media sosial dan berbagai platform digital kini menjadi strategi penting dalam memperluas jangkauan dan memperkuat hubungan dengan anggota. Platform seperti Instagram. Facebook, dan WhatsApp tak hanya efektif untuk menyebarkan informasi, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih interaktif. Website. Blog, maupun aplikasi komunitas pun berperan dalam menyampaikan pesan organisasi secara lebih utuh dan konsisten. Bahkan, kegiatan daring seperti webinar dan diskusi virtual terbukti mampu meningkatkan keterlibatan anggota, terutama dalam pelatihan, advokasi, atau kampanye sosial. Namun demikian, agar strategi ini benar-benar efektif, ormas juga perlu memahami cara mengelola media digital secara bijak mulai dari merancang konten yang relevan, menjaga keamanan data, hingga memanfaatkan analisis media sosial untuk menyempurnakan pendekatan komunikasi di dalam ormas. Dengan begitu, kehadiran digital ormas bisa menjadi lebih kuat, inklusif, dan berdampak. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana serta kegiatan menjadi langkah penting bagi organisasi masyarakat . di tengah perkembangan digital saat ini. Suhairi et al. menekankan bahwa komunikasi antarpribadi memainkan peran kunci dalam membangun kerja tim yang solid, meminimalkan konflik, serta memperkuat relasi dalam organisasi. Dengan dukungan teknologi, ormas kini memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan sistem keuangan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan berbagai platform digital, seperti aplikasi akuntansi, sistem dompet digital, dan layanan crowdfunding, memungkinkan pencatatan keuangan yang lebih rapi, real-time, dan mudah diakses. Bahkan, transparansi bisa ditingkatkan dengan mempublikasikan laporan keuangan secara berkala di situs resmi atau kanal media sosial, sehingga masyarakat maupun mitra dapat melihat langsung bagaimana dana digunakan. Tak hanya soal keuangan, aspek pemantauan dan evaluasi kegiatan organisasi juga diuntungkan oleh digitalisasi. Sistem berbasis cloud dan database digital memberi ruang bagi anggota untuk mengakses informasi terkait program kerja, perkembangan kegiatan, maupun pencapaian organisasi secara langsung dan Hal ini turut memperkuat akuntabilitas internal dan mendukung kolaborasi yang lebih terbuka dengan donatur, pemerintah, maupun mitra eksternal lainnya. Meski demikian, perlu disadari bahwa upaya digitalisasi ini harus dibarengi dengan perhatian khusus terhadap keamanan data dan literasi digital di kalangan pengurus. Pelatihan menjadi salah satu solusi strategis. Membekali pengurus ormas dengan keterampilan digital bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi juga soal bagaimana memanfaatkannya secara bijak dan aman. Pelatihan dapat mencakup pengelolaan organisasi dengan perangkat lunak khusus, administrasi digital, manajemen keuangan yang transparan, hingga strategi komunikasi berbasis media digital. Tak kalah penting, aspek keamanan siber juga harus menjadi bagian dari pelatihan, seperti perlindungan data pribadi, pengelolaan akses digital, dan pencegahan risiko peretasan. Dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan, pelatihan semacam ini akan membantu ormas menjadi lebih adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus memperkuat transparansi, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan organisasi itu sendiri. Meningkatkan kapasitas digital organisasi masyarakat . menjadi salah satu langkah krusial untuk memperkuat efektivitas dan efisiensi kerja di tengah dinamika era digital. Rahmadyah dan Aslami . menekankan pentingnya strategi manajemen perubahan yang adaptif, khususnya dalam menyelaraskan proses kerja dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Melalui pemanfaatan teknologi secara tepat guna, ormas dapat memperbaiki kinerja operasional, mulai dari administrasi, komunikasi internal dan eksternal, hingga pengelolaan keuangan dan distribusi informasi kepada masyarakat. Upaya peningkatan kapasitas digital ini bisa diwujudkan melalui pelatihan teknologi untuk pengurus dan anggota, penerapan sistem manajemen berbasis digital, serta pemanfaatan media sosial dan berbagai platform daring guna mendorong keterlibatan publik. Tak kalah penting, aspek keamanan data dan pemahaman etika digital juga perlu diperhatikan agar informasi yang dikelola tetap aman, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Transformasi digital yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan akan membuat ormas lebih responsif terhadap perubahan, memperluas jangkauan program, serta memperkuat akuntabilitas dalam pelaksanaan misinya demi kepentingan masyarakat Di sisi lain, dorongan untuk mengadopsi platform digital dalam pengelolaan organisasi juga menjadi strategi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membangun kepercayaan publik. Teknologi memungkinkan ormas mengelola data keanggotaan secara lebih sistematis, mempercepat komunikasi melalui aplikasi pesan dan media sosial, serta menyediakan sistem pelaporan yang transparan dan terdokumentasi secara digital. Melalui pendekatan ini, informasi tentang program kerja dan capaian organisasi dapat disampaikan lebih luas dan terbuka, sehingga partisipasi masyarakat pun semakin terdorong. Transparansi yang ditunjang teknologi berkontribusi besar dalam meningkatkan kredibilitas ormas, sekaligus memperkuat perannya dalam pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan di era digital ini. Teknologi digital yang diadopsi oleh organisasi masyarakat . dapat mengelola kegiatan dan operasionalnya secara lebih modern dan profesional. Proses digitalisasi membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi dalam administrasi, mempercepat komunikasi antaranggota, serta menyederhanakan pengelolaan data keanggotaan. Syahputra et al. menegaskan bahwa sistem informasi manajemen memiliki peran penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Di sisi lain, penerapan teknologi dalam pengelolaan keuangan serta transparansi laporan juga turut mendorong peningkatan kepercayaan publik dan pemangku kepentingan terhadap Melalui pemanfaatan platform digital yang tepat sasaran, program-program kerja ormas dapat dirancang dan dijalankan secara lebih terstruktur, didokumentasikan dengan rapi, dan disebarluaskan ke khalayak luas melalui media sosial dan laman resmi organisasi. Modernisasi dalam tata kelola ini tak hanya memperkuat efektivitas internal, tetapi juga meningkatkan daya saing ormas di tengah arus digitalisasi, sehingga perannya dalam pembangunan sosial menjadi lebih berdampak dan berkelanjutan. Paidil dan Sari . menjelaskan bahwa teknologi berperan besar dalam membentuk cara hidup masyarakat di era digital. Lebih lanjut, teknologi digital juga berperan penting dalam memperkuat keterlibatan anggota secara Platform seperti media sosial, aplikasi komunitas, hingga sistem manajemen keanggotaan daring memungkinkan interaksi yang lebih dinamis antara ormas dan anggotanya. Melalui kanal-kanal ini, anggota dapat mengakses informasi secara real-time, turut serta dalam forum diskusi, bahkan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan melalui fitur seperti jajak pendapat atau forum online. Selain itu, kegiatan ormas seperti perencanaan acara, pendaftaran peserta, hingga pelaporan program dapat dikelola secara lebih praktis dan transparan. Dengan pendekatan digital yang strategis, ormas mampu membangun komunitas yang lebih inklusif, solid, dan partisipatif. Keterlibatan anggota yang aktif menjadi kunci dalam memperkuat loyalitas, memperluas jangkauan dampak sosial, dan menjaga keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, organisasi kemasyarakatan . dituntut untuk beradaptasi agar tetap relevan dan efektif dalam menjalankan fungsi sosialnya. Transformasi digital tidak hanya menjadi tren, tetapi juga kebutuhan mendesak untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan memperluas jangkauan layanan. Sayangnya, banyak ormas masih menghadapi tantangan dalam proses ini, terutama karena keterbatasan literasi digital, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang terampil. Sebagaimana dikemukakan oleh Mawardi et al. , penguatan kapasitas pemuda melalui pelatihan dan pengelolaan organisasi memiliki dampak signifikan terhadap pengembangan keterampilan kepemimpinan serta peningkatan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial. Dalam konteks ini, teknologi digital membuka berbagai peluang bagi ormas untuk meningkatkan efisiensi operasional, transparansi administrasi, serta efektivitas komunikasi dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Melalui pemanfaatan platform digital, seperti media sosial, sistem manajemen berbasis cloud, dan alat komunikasi daring, ormas dapat merancang program yang lebih berdampak dan terukur. Selain itu, digitalisasi memungkinkan keterlibatan yang lebih luas dari masyarakat dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, swasta, maupun organisasi internasional. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang sebagai respon atas kebutuhan tersebut. Metode sharing session secara daring yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis pengelola ormas dalam mengadopsi teknologi digital secara strategis. Inovasi dari kegiatan ini terletak pada pendekatan partisipatif dan interaktif, yang memungkinkan peserta untuk tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga berbagi pengalaman dan solusi konkret. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom, sehingga memungkinkan peserta dari berbagai daerah untuk berpartisipasi tanpa terkendala jarak. Metode yang digunakan adalah sharing session terstruktur, yang mencakup pemaparan materi oleh narasumber ahli dan diskusi interaktif bersama peserta. Sebanyak 42 peserta yang merupakan pengelola atau pengurus aktif organisasi masyarakat . mengikuti kegiatan ini dengan durasi sekitar 2,5 jam. Sesi diawali dengan pengenalan konsep dasar transformasi digital dalam pengelolaan ormas, dilanjutkan dengan studi kasus dan praktik terbaik terkait administrasi digital, komunikasi anggota, pengelolaan data, hingga transparansi organisasi. Kegiatan ini lebih bermakna karena terdapat ruang diskusi yang terbuka, di mana peserta bisa menyampaikan tantangan yang dihadapi serta mencari solusi bersama. Sesi tanya jawab dan mentoring singkat juga disiapkan agar peserta dapat mengangkat masalah spesifik dan mendapatkan masukan yang langsung bisa diterapkan. Sebagai tambahan, seluruh peserta mendapatkan materi penunjang berupa panduan praktis yang dapat digunakan untuk mulai menerapkan transformasi digital dalam organisasinya masing-masing. Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan ini memberikan manfaat, di akhir sesi tim pelaksana juga menyebarkan survei kepuasan. Survei ini bertujuan untuk menangkap kesan peserta terhadap keseluruhan kegiatan mulai dari isi materi, cara penyampaian, hingga relevansinya dengan kebutuhan nyata di lapangan. Hasil survei ini menjadi masukan penting bagi tim untuk menyempurnakan kegiatan serupa ke depannya. Alur kegiatan yang mencakup pemaparan, diskusi, mentoring, dan evaluasi ini terbukti efektif dalam membangun pemahaman serta meningkatkan kesiapan peserta dalam menghadapi tantangan digitalisasi organisasi masyarakat. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan kegiatan pengabdian dalam bentuk sharing session secara daring melalui Zoom memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para peserta, khususnya dalam meningkatkan pemahaman peserta terkait transformasi digital dalam pengelolaan organisasi masyarakat. Antusiasme peserta terlihat jelas dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi serta banyaknya pertanyaan yang diajukan seputar penerapan teknologi digital. Melalui pemaparan narasumber dan studi kasus yang disampaikan, peserta memperoleh perspektif baru mengenai pemanfaatan teknologi untuk mendukung administrasi organisasi, manajemen keanggotaan, komunikasi, serta transparansi dalam pengelolaan dana dan Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses digitalisasi. Beberapa kendala umum yang teridentifikasi antara lain rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta belum optimalnya strategi komunikasi digital. Meskipun demikian, diskusi interaktif yang berlangsung memungkinkan dirumuskannya sejumlah solusi praktis, seperti pemilihan platform digital yang sederhana dan mudah diadopsi oleh ormas. Sebagai bentuk tindak lanjut, peserta juga diberikan materi pendukung berupa panduan praktis mengenai transformasi digital organisasi masyarakat. Secara keseluruhan, hasil dari sesi ini memperlihatkan bahwa pelatihan berbasis daring dapat menjadi sarana yang efektif dalam meningkatkan kapasitas organisasi, serta mendorong adaptabilitas dalam mengelola program dan layanan berbasis teknologi di era digital. Kegiatan sharing session secara daring menunjukkan efektivitas dalam meningkatkan kapasitas organisasi masyarakat, dengan partisipasi aktif peserta dalam diskusi dan tanya jawab. Peserta juga menerima panduan praktis untuk mendukung transformasi digital, mencakup pengelolaan administrasi, komunikasi daring, dan keamanan data. Meskipun hasilnya positif, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan perangkat digital, rendahnya literasi digital, dan kurangnya pendampingan teknis. Untuk pengembangan ke depan, diperlukan pelatihan lanjutan yang lebih teknis serta kolaborasi dengan pemerintah dan LSM. Kegiatan ini juga berpotensi menjadi dasar riset lanjutan di bidang pemberdayaan digital ormas. Diskusi dalam sharing session ini berlangsung secara interaktif, dengan partisipasi aktif dari peserta yang tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga berbagi pengalaman serta mendiskusikan berbagai tantangan dalam proses adopsi teknologi digital di lingkungan organisasi masyarakat. Salah satu isu utama yang diangkat adalah rendahnya literasi digital, terutama di kalangan pengurus yang belum terbiasa menggunakan platform digital untuk keperluan administrasi dan komunikasi organisasi. Selain itu, kekhawatiran terkait keamanan data turut menjadi sorotan. Peserta menekankan pentingnya memahami cara mengelola informasi anggota secara aman dan transparan guna menjaga kepercayaan publik terhadap organisasi. Menanggapi hal tersebut, beberapa narasumber memberikan solusi praktis, seperti pemanfaatan sistem manajemen keanggotaan berbasis cloud, penerapan enkripsi data, serta pelaksanaan pelatihan internal terkait kesadaran keamanan digital. Diskusi juga mencakup pemanfaatan media sosial dan platform digital untuk memperkuat keterlibatan anggota serta memperluas jangkauan program. Beberapa peserta berbagi pengalaman positif dalam menggunakan WhatsApp. Facebook, dan Instagram sebagai sarana menyebarluaskan informasi dan mendorong partisipasi masyarakat. Namun, sebagian lainnya masih menghadapi tantangan dalam merancang strategi komunikasi digital yang efektif. Untuk itu, narasumber memberikan panduan mengenai pembuatan konten yang menarik dan penggunaan fitur analitik untuk mengevaluasi efektivitas kampanye digital. Dari diskusi ini, peserta menyadari bahwa digitalisasi bukan sekadar soal penggunaan teknologi, melainkan juga tentang membangun budaya organisasi yang lebih adaptif dan inovatif. Sebagaimana dikemukakan oleh Fajar et al. , manajemen organisasi memerlukan pendekatan yang terstruktur dalam pengelolaan sumber daya, perencanaan program, dan pengembangan kreativitas agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pengelola ormas dipandang sebagai elemen kunci dalam mewujudkan transformasi digital yang berkelanjutan dalam organisasi masyarakat. Gambar 1. Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Di akhir pelaksanaan kegiatan, tim pengabdian melibatkan seluruh peserta dalam sebuah survei sederhana untuk mengetahui sejauh mana kegiatan ini dirasakan bermanfaat dan menyenangkan bagi Survei dilakukan secara daring, menggunakan formulir yang dibagikan segera setelah acara Tujuan utama dari survei ini adalah untuk menangkap kesan dan pandangan peserta terhadap keseluruhan kegiatan mulai dari materi yang disampaikan, cara penyampaian narasumber, hingga seberapa interaktif dan menarik jalannya sesi. Dari total 40 orang yang mengikuti kegiatan, seluruhnya memberikan tanggapan yang kemudian diolah dan divisualisasikan dalam bentuk grafik batang. Hasil ini menjadi cerminan atas sejauh mana kegiatan telah memenuhi harapan dan kebutuhan peserta. Gambar 2. Survei Kepuasan Peserta Gambar 2 memperlihatkan tanggapan peserta terhadap kegiatan pengabdian yang dilakukan secara Dari total 40 responden, mayoritas memberikan respons yang sangat positif. Sebanyak 22 orang lebih dari setengah jumlah peserta menyatakan sangat puas dengan jalannya kegiatan. Sementara itu, 12 peserta lainnya mengaku puas dan merasa kegiatan ini relevan serta bermanfaat. Ada juga 5 orang yang merasa cukup puas, dan hanya satu peserta yang menyampaikan bahwa kegiatan ini kurang memenuhi harapannya. Menariknya, tidak ada satu pun responden yang merasa tidak puas sama sekali. Secara keseluruhan, data ini mencerminkan bahwa kegiatan pengabdian telah diterima dengan baik dan mampu memberikan pengalaman yang positif bagi sebagian besar peserta. Kesimpulan Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Transformasi Pengelolaan Organisasi Masyarakat dalam Era Digital telah berlangsung secara lancar melalui platform Zoom. Kegiatan ini mengadopsi metode sharing session yang membuka ruang dialog antar peserta dari berbagai organisasi masyarakat . untuk berdiskusi dan saling berbagi pengalaman terkait penerapan teknologi digital dalam tata kelola organisasi. Sesi diawali dengan pemaparan mengenai dinamika perkembangan teknologi digital dan bagaimana hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta keterlibatan anggota dalam organisasi. Peserta dikenalkan pada berbagai solusi digital, seperti sistem manajemen data keanggotaan, pengelolaan keuangan berbasis aplikasi, hingga optimalisasi media sosial untuk publikasi dan pelibatan komunitas. Sebagai implikasi praktis, kegiatan ini menegaskan pentingnya pelatihan lanjutan yang berkesinambungan agar kapasitas digital pengurus ormas terus berkembang. Selain itu, dibutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk kolaborasi dengan pemerintah daerah dan LSM, untuk memperluas akses terhadap teknologi dan mempercepat proses digitalisasi di tingkat akar rumput. Melalui sesi diskusi yang berlangsung aktif, berbagai tantangan dalam proses digitalisasi Di antaranya adalah keterbatasan literasi digital, infrastruktur teknologi yang belum merata, serta rendahnya pemahaman terkait keamanan data dan manajemen informasi digital. Selain itu, kurangnya partisipasi anggota juga menjadi perhatian, yang sebagian besar disebabkan oleh belum optimalnya strategi komunikasi digital yang diterapkan oleh ormas. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, kegiatan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pengurus ormas melalui pelatihan terkait pemanfaatan teknologi digital, khususnya dalam aspek administrasi dan komunikasi organisasi. Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain penggunaan media sosial secara lebih strategis, penerapan sistem manajemen keanggotaan berbasis cloud, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya perlindungan data digital. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap potensi teknologi digital dalam memperbaiki efektivitas dan efisiensi kerja organisasi. Peserta juga mulai menyadari pentingnya transparansi dan akuntabilitas, khususnya dalam pengelolaan dana dan program, yang dapat didukung melalui penggunaan platform digital. Tak hanya itu, sesi berbagi ini turut memotivasi peserta untuk lebih inovatif dalam menyusun strategi komunikasi dan meningkatkan partisipasi anggota, sehingga organisasi dapat tumbuh secara lebih modern, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini memberikan dampak positif yang nyata dalam mendorong pemahaman dan penerapan transformasi digital di kalangan ormas. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal menuju pengelolaan organisasi masyarakat yang lebih efektif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing di era digital. Ucapan Terimakasih