Application Of QRIS Payments On Msmes Business Revenue At Rejang Lebong Regency Yolanda Destiana . Aswin . Faculty of Shariah dan Islamich Economic. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung . Faculty of Shariah dan Islamich Economic. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung Email: . yolandadestiana@iainsasbabel. aswin@iainsasbabel. ARTICLE HISTORY Received . Januari 2. Revised . Februari 2. Accepted . Februari 2. KEYWORDS QRIS. UMKM Kuliner. Pendapatan Bisnis. Efisiensi Transaksi. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai instrumen pembayaran digital pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner di Kabupaten Rejang Lebong. Indonesia. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah terbatasnya adopsi sistem pembayaran digital di kalangan pelaku UMKM lokal, meskipun pemerintah secara konsisten berupaya mempercepat digitalisasi transaksi melalui Gerakan Nasional Non-Tunai. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi sejauh mana penerapan QRIS berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi transaksi, ketepatan pencatatan keuangan, serta kepuasan pelanggan pada usaha berbasis kuliner. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi langsung yang dilakukan pada lima UMKM, yaitu Victoria Mini Resto. Bikin Selero. Tudung Saji. Gulapahit Coffee, dan Dapur Kito. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima UMKM . %) menilai QRIS efektif dalam mendukung kegiatan operasional mereka. Efektivitas tersebut tercermin pada percepatan proses pembayaran, kemudahan pencatatan keuangan, serta peningkatan kepuasan pelanggan, khususnya di kalangan konsumen Generasi Z. QRIS juga dilaporkan mampu mengurangi kesalahan dalam penanganan uang tunai, memperlancar operasional kasir, dan mendorong terjadinya kunjungan ulang pelanggan. Sebaliknya, satu UMKM . %), yaitu Dapur Kito, menilai QRIS kurang efektif karena rendahnya tingkat pemahaman konsumen terhadap pembayaran digital dan keterbatasan literasi digital di antara basis pelanggannya. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi QRIS secara signifikan dipengaruhi oleh faktor persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan pengaruh sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa QRIS memiliki peran penting dalam mendorong efisiensi transaksi, meningkatkan transparansi keuangan, serta memperkuat inklusi keuangan digital pada sektor UMKM kuliner di Kabupaten Rejang Lebong. ABSTRACT This study aims to analyze the effectiveness of the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) as a digital payment instrument in the culinary micro, small, and mediumnenterprises (MSME. sector in Rejang Lebong Regency. Indonesia. The main issue addressed in this research is the limited adoption of digital payment systems among local MSMEs, despite the governmentAos continuous effort to accelerate transaction digitalization through the National NonCash Movement. The study seeks to determine the extent to which QRIS contributes to improving transaction efficiency, financial record accuracy, and customer satisfaction in culinary based enterprises. This research employs a qualitative approach with data collected through indepth interviews and direct observations conducted at five MSMEs : Victoria Mini Resto. Bikin Selero. Tudung Saji. Gulapahit Coffee, and Dapur Kito. The findings reveal that four out of fiveMSMEs 80% perceived QRIS as effective in supporting their operational activities. The effectiveness is evident in the acceleration of payment processes, simplified financial recordkeeping, and enhanced customer satisfaction particularly among Generation Z consumers. QRIS was also reported to reduce cash-handling errors, streamline cashier operations, and encourage repeat customer visits. Conversely, one MSME 20%. Dapur Kito, found QRIS less effective due to low consumer familiarity with digital payments and limited digital literacy among its customer Overall, the results indicate that the adoption of QRIS is significantly influenced by perceived usefulness, perceived ease of use, and social influence factors. The study concludes that QRIS plays an essential role in promoting transaction efficiency, financial transparency, and the advancement of digital financial inclusion within the culinary MSME sector of Rejang Lebong Regency. PENDAHULUAN Selama dua dekade terakhir, kemajuan teknologi digital telah mengubah secara mendasar lanskap ekonomi, khususnya dalam bidang keuangan dan usaha kecil. Salah satu inovasi paling signifikan adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yaitu sistem pembayaran digital yang diperkenalkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2019 untuk menyatukan standar transaksi non-tunai di seluruh Indonesia. Menurut Bank Indonesia . QRIS dirancang untuk mempermudah integrasi berbagai penyedia layanan pembayaran berbasis kode QR, sehingga dapat meningkatkan efisiensi transaksi serta memperluas akses keuangan bagi masyarakat maupun pelaku usaha kecil. Dalam konteks usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). QRIS telah menjadi instrumen penting dalam mendorong digitalisasi ekonomi. Subsektor kuliner yang ditandai dengan frekuensi transaksi Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 6 No. 1 2026 page: 257 Ae 262 | 257 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 harian yang tinggi dan perputaran kas yang cepatmerupakan salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk memperoleh manfaat dari inovasi ini (Anggarini, 2. Melalui penerapan QRIS, pelaku usaha kuliner dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi dompet digital hanya dengan satu kode QR, sehingga mampu mengurangi hambatan transaksi dan mempercepat pelayanan kepada pelanggan. Kabupaten Rejang Lebong, sebagai salah satu daerah berkembang di Provinsi Bengkulu, mengalami pertumbuhan pesat dalam industri kuliner. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM setempat . menunjukkan bahwa lebih dari 2. 300 usaha kuliner beroperasi di berbagai kecamatan. Namun, sebagian besar masih bergantung pada transaksi tunai, sehingga rentan terhadap inefisiensi dan ketidakakuratan dalam pencatatan keuangan. Oleh karena itu, penggunaan QRIS di sektor ini diharapkan dapat menjadi katalis dalam transisi menuju model bisnis yang lebih modern, transparan, dan terintegrasi dengan teknologi. Model Technology Acceptance Model (TAM) yang dikemukakan oleh Davis . mengidentifikasi dua faktor utama yang memengaruhi adopsi teknologi, yaitu perceived usefulness . ersepsi kegunaa. dan perceived ease of use . ersepsi kemudahan penggunaa. Dalam konteks QRIS, pemilik UMKM cenderung mengadopsinya apabila mereka menilai teknologi tersebut dapat meningkatkan efisiensi transaksi, meminimalkan risiko kehilangan uang tunai, dan menyederhanakan dokumentasi penjualan (Sholihah & Nurhapsari, 2. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan dampak positif QRIS terhadap pendapatan dan operasional UMKM. Misalnya. Gainau dkk. menemukan bahwa adopsi QRIS meningkatkan daya saing UMKM melalui perluasan pasar dan percepatan pelayanan. Demikian pula. Elviyanti dan Gulo . menegaskan bahwa usaha mikro yang menggunakan QRIS cenderung memiliki manajemen keuangan yang lebih baik serta tingkat loyalitas pelanggan yang lebih tinggi. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi pembayaran digital tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga merupakan strategi untuk mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Kendati demikian, penerapan QRIS di daerah seperti Rejang Lebong khususnya pada sektor UMKM kuliner masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan infrastruktur internet, rendahnya literasi digital, serta persepsi negatif terkait biaya transaksi menjadi hambatan utama. Amri . berpendapat bahwa keberhasilan adopsi QRIS pada usaha skala kecil sangat bergantung pada dukungan lembaga keuangan lokal, ketersediaan program pelatihan literasi digital, serta upaya promosi berkelanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah daerah. Selain faktor teknis, pergeseran perilaku konsumen juga berperan penting dalam mendorong adopsi QRIS. Generasi muda yang mendominasi pasar kuliner perkotaan cenderung memilih metode pembayaran yang cepat, aman, dan tanpa kontak langsung. Akibatnya. UMKM yang tidak mampu beradaptasi dengan tren digital berisiko kehilangan daya saing. Rahman . menegaskan bahwa persepsi konsumen terhadap kemudahan dan keamanan dalam pembayaran digital merupakan determinan utama terhadap loyalitas pelanggan di industri kuliner. Secara lebih luas, implementasi QRIS pada sektor UMKM kuliner di Kabupaten Rejang Lebong memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Selain meningkatkan efisiensi transaksi, sistem ini memungkinkan para pelaku usaha untuk terhubung dengan lembaga keuangan formal, memperoleh akses terhadap fasilitas kredit, serta membangun rekam jejak transaksi digital yang mendukung keberlanjutan usaha. Oleh karena itu, analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan efektivitas QRIS di sektor ini menjadi sangat penting. Dalam konteks tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi adopsi QRIS sebagai metode pembayaran di kalangan UMKM kuliner di Kabupaten Rejang Lebong, dengan fokus pada pengalaman, persepsi, dan tantangan yang dihadapi para pelaku usaha. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya memberikan pemahaman komprehensif mengenai bagaimana QRIS dipersepsikan sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital di tingkat lokal. Dengan demikian, penggunaan QRIS di kalangan UMKM Rejang Lebong dapat dipandang sebagai intervensi strategis yang menghubungkan tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu: . potensi ekonomi UMKM lokal, . dukungan kebijakan dan alokasi sumber daya pemerintah, serta . tantangan teknis dan struktural seperti literasi digital, konektivitas, dan biaya transaksi. Kajian sistematis terhadap faktorfaktor tersebut sangat relevan untuk mengidentifikasi pendorong, hambatan, dan strategi optimal dalam memperluas adopsi QRIS. LANDASAN TEORI Konsep Dasar UMKM dan Digitalisasi Ekonomi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor penting dalam perekonomian nasional yang berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. UMKM didefinisikan sebagai kegiatan 258 | Yolanda Destiana. Aswin . The Role Of The Basic Education Division Of . ekonomi produktif yang dimiliki oleh perorangan atau badan usaha dengan kriteria tertentu berdasarkan kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan. Menurut Tambunan . UMKM memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah dan pemerataan kesempatan kerja. Digitalisasi UMKM merupakan proses adaptasi terhadap teknologi digital dalam kegiatan produksi, distribusi, dan transaksi keuangan. Dalam konteks sektor kuliner, digitalisasi tidak hanya mencakup promosi dan distribusi produk melalui platform daring, tetapi juga meliputi sistem pembayaran digital yang memungkinkan transaksi dilakukan secara lebih efisien, aman, dan terdokumentasi dengan baik (Kotler & Keller, 2. Teori Sistem Pembayaran dan Inklusi Keuangan Menurut Nopirin . , sistem pembayaran adalah mekanisme yang mengatur pertukaran mata uang antar pelaku ekonomi untuk menyelesaikan kewajiban transaksi. Peralihan dari sistem tunai ke sistem non-tunai menandai perkembangan ekonomi modern yang lebih efisien dan terintegrasi. Bank Indonesia . memperkenalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai langkah strategis untuk menyatukan berbagai standar pembayaran berbasis QR di Indonesia. QRIS memiliki tujuan utama untuk meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas inklusi keuangan, dan mendorong transparansi keuangan bagi pelaku UMKM. Dalam literatur keuangan mikro, inklusi keuangan dipahami sebagai proses pemberian akses terhadap layanan keuangan formal bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk usaha kecil yang sebelumnya belum terjangkau oleh layanan perbankan (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Melalui QRIS. UMKM kuliner di daerah seperti Rejang Lebong dapat terhubung dengan sistem keuangan formal, meningkatkan kepercayaan pelanggan, serta mempermudah pencatatan arus kas, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penguatan struktur ekonomi lokal. Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model/TAM) Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis . merupakan salah satu kerangka teoritis paling relevan untuk menjelaskan perilaku individu dalam mengadopsi teknologi Model ini mengidentifikasi dua variabel utama yang memengaruhi penerimaan teknologi, yaitu: A Perceived Usefulness (PU) : tingkat sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi tertentu dapat meningkatkan kinerjanya. A Perceived Ease of Use (PEOU) : tingkat sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi tersebut mudah dan tidak memerlukan upaya yang besar. Dalam konteks QRIS, pelaku UMKM kuliner lebih cenderung mengadopsi sistem pembayaran digital apabila mereka menilai bahwa QRIS dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan mudah dioperasikan tanpa memerlukan keahlian teknis yang kompleks (Sholihah & Nurhapsari, 2. Pembangunan Ekonomi Daerah dan Inovasi Teknologi Menurut Todaro dan Smith . , pembangunan ekonomi daerah merupakan proses peningkatan kapasitas lokal dalam mengelola sumber daya ekonomi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Inovasi teknologi, termasuk penerapan sistem pembayaran digital, menjadi faktor kunci yang memengaruhi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam konteks Kabupaten Rejang Lebong, adopsi QRIS di kalangan UMKM kuliner tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperluas jangkauan pasar serta memperkuat konektivitas antar pelaku ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan ekonomi lokal, di mana teknologi berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan daya saing dan mendorong kemandirian ekonomi daerah. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Zufriady . , pendekatan analitis ini digunakan untuk mendeskripsikan dan menafsirkan data yang diperoleh dari proses penelitian. Seperti yang dikutip dari Nana Syaodih Sukmadinata, penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan dan memberikan gambaran tentang fenomena yang ada, baik yang terjadi secara alami maupun buatan manusia, dengan menekankan karakteristik, kualitas, dan konteks Dalam jenis penelitian ini, tidak dilakukan manipulasi, perlakuan, atau perubahan variabel. melainkan mencerminkan kondisi yang ada secara objektif sebagaimana adanya. Pengamatan, wawancara, dan dokumentasi menjadi alat utama untuk pengumpulan data. Metode ini menyajikan, menjelaskan, dan menafsirkan secara sistematis data yang diperoleh mengenai penerapan Qris Payment. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 6 No. 1 2026 page: 257 Ae 262 | 259 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Sumber Data dan Informan Penelitian A Sumber Data Primer Data primer diperoleh langsung dari subjek penelitian atau sumber pertama. Data ini memberikan informasi akurat yang dikumpulkan langsung oleh peneliti melalui pengamatan dan wawancara dengan informan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penelitian ini, data primer dikumpulkan dari sektor makanan Rejang Lebong, termasuk Dapur Kito. Victoria Mini Resto. Bikin Selero. Tudung Saji, dan Gulapahit coffee. A Sumber Data Sekunder Data sekunder berfungsi sebagai informasi pendukung untuk data primer dan diperoleh dari pihak terkait atau bahan yang memperjelas fokus penelitian. Dalam penelitian ini, data sekunder dikumpulkan dari situs web resmi, buku, artikel, jurnal, dan dokumen dari Kantor Perdagangan. Koperasi. Usaha Kecil dan Menengah, dan Industri Kabupaten Rejang Lebong. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dengan pelaku UMKM di Kabupaten Rejang Lebong. A Observasi Observasi melibatkan pemantauan dan pencatatan sistematis objek penelitian untuk mengumpulkan informasi relevan. Sugiyono menggambarkan observasi sebagai proses kompleks yang melibatkan unsur biologis dan psikologis. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan sebelum fase wawancara untuk memahami konteks bisnis dan lingkungan operasional informan. A Wawancara Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari responden. Metode ini sesuai ketika peneliti bertujuan untuk memverifikasi temuan dan jumlah responden relatif terbatas. Studi ini menerapkan teknik wawancara tidak terstruktur, memungkinkan fleksibilitas bagi peneliti untuk mengembangkan pertanyaan di luar panduan yang disiapkan guna menangkap wawasan yang lebih Sebelum melakukan wawancara, peneliti menyiapkan panduan wawancara dan menetapkan kriteria spesifik untuk memilih informan, yaitu: UMKM yang memiliki lokasi usaha offline . , dan UMKM yang bergerak di industri makanan dan kuliner. Dokumentasi merujuk pada pengumpulan catatan tertulis, foto, dan bahan lain yang memberikan bukti pendukung untuk penelitian. Metode ini melengkapi observasi dan wawancara, meningkatkan kredibilitas temuan. Dalam studi ini, peneliti menggunakan dokumen, foto, dan rekaman sebagai dokumentasi pendukung untuk memastikan validitas dan reliabilitas hasil. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan setelah semua data dikumpulkan dari informan. Analisis mengikuti model Miles dan Huberman, yang menekankan proses analisis yang berkelanjutan dan interaktif hingga tercapai saturasi data. Aktivitas dalam model analitis ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pengurangan Data Pengurangan data melibatkan fokus pada informasi esensial, merangkum unsur inti, mengidentifikasi pola, dan mengeliminasi data yang tidak relevan. Proses ini bertujuan untuk menyempurnakan, mengkategorikan, dan mengorganisir data secara sistematis agar kesimpulan dapat ditarik dan diverifikasi secara efektif. Penampilan Data Penampilan data merujuk pada proses mengorganisir dan menyajikan data dalam bentuk terstruktur yang memudahkan interpretasi dan penarikan kesimpulan. Data disajikan dalam format deskriptif dan naratif untuk menangkap kondisi nyata yang diamati di lapangan. Verifikasi (Penarikan Kesimpula. Pada tahap akhir, kesimpulan ditarik untuk mengklarifikasi fenomena yang tidak jelas dengan mengidentifikasi hubungan kausal, interaksi, hipotesis, atau teori yang muncul. Setelah pengurangan dan penyajian data, peneliti melakukan triangulasi data dengan informan kunci dan ahli bidang untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner di Kabupaten Rejang Lebong memberikan dampak positif yang signifikan terhadap efisiensi dan efektivitas sistem Berdasarkan wawancara dengan sejumlah pelaku usaha, sebagian besar UMKM melaporkan bahwa QRIS mempercepat proses transaksi dan memfasilitasi interaksi yang lebih lancar 260 | Yolanda Destiana. Aswin . The Role Of The Basic Education Division Of . antara penjual dan pembeli. Dari lima UMKM yang menjadi subjek penelitian, empat di antaranya sekitar 80% menyatakan bahwa QRIS sangat mendukung operasional harian, sementara satu UMKM 20% menilai penerapannya belum sepenuhnya optimal karena kurangnya minat konsumen terhadap pembayaran digital. Hasil wawancara peneliti kepada Salah satu kasir Victoria Mini Resto mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna QRIS berasal dari generasi muda, terutama Generasi Z yang sudah terbiasa dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini memberikan keuntungan bagi pelanggan dan kasir dengan mempercepat pembayaran, khususnya saat jam sibuk seperti makan siang atau akhir pekan ketika arus pelanggan meningkat. Selain itu, metode berbasis QR ini mengurangi kesalahan dalam penanganan uang tunai dan mempercepat rotasi transaksi di kasir, sehingga meningkatkan efisiensi layanan secara keseluruhan. Temuan serupa juga terlihat di Bikin Selero, di mana wawancara menunjukkan QRIS sebagai inovasi keuangan yang menyederhanakan operasional bisnis sekaligus meningkatkan kenyamanan Salah satu anggota keluarga pemilik usaha menjelaskan bahwa QRIS memudahkan pelanggan bertransaksi tanpa perlu menyiapkan uang tunai atau menunggu kembalian, terutama ketika nominal pembayaran tidak tepat dengan harga barang. Penerapan sistem digital ini juga menarik lebih banyak pelanggan, karena banyak konsumen menganggap dompet elektronik lebih praktis daripada uang Temuan yang sejalan muncul pula di Tudung Saji dan Gulapahit Coffee. Kedua pemilik usaha menyoroti peran QRIS dalam menciptakan sistem keuangan yang lebih transparan dan terstruktur. Menurut salah satu pegawai di Gulapahit Coffee. QRIS sangat membantu kasir dalam menyusun laporan transaksi harian, karena semua data penjualan tercatat secara otomatis dalam format digital. Hal ini mengurangi risiko kesalahan pencatatan manual dan mempercepat evaluasi pendapatan harian. Lebih lanjut, penggunaan QRIS mendukung praktik manajemen keuangan yang lebih baik, dengan transaksi langsung masuk ke rekening usaha, sehingga meminimalkan risiko penyimpanan tunai dan kesalahan Berbeda dengan itu, di Dapur Kito, pemilik usaha menyatakan bahwa implementasi QRIS belum memberikan hasil maksimal karena sebagian besar konsumen masih lebih memilih transaksi tunai. Faktor-faktor seperti kebiasaan konsumen yang sudah mendarah daging, tingkat literasi digital yang rendah, serta konektivitas internet yang belum stabil di daerah tersebut menjadi penyebab utama. Pemilik menambahkan bahwa, setidaknya untuk saat ini. QRIS belum berdampak signifikan terhadap peningkatan penjualan atau penyederhanaan proses transaksi. Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa efektivitas QRIS di empat UMKM Victoria Mini Resto. Bikin Selero. Tudung Saji, dan Gulapahit Coffee mencapai sekitar 80%, yang menandakan bahwa mayoritas pelaku usaha mendapatkan manfaat dari sistem pembayaran digital ini. Hanya satu UMKM, yaitu Dapur Kito, yang menilai implementasinya kurang efektif karena preferensi pelanggan terhadap transaksi tunai. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan adopsi QRIS tidak hanya tergantung pada kesiapan pelaku usaha, tetapi juga dipengaruhi oleh karakteristik konsumen dan tingkat literasi digital di masyarakat setempat. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada sektor UMKM kuliner di Kabupaten Rejang Lebong secara umum telah berjalan efektif dan memberikan dampak positif terhadap efisiensi transaksi. Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak empat dari lima UMKM atau sekitar 80% menyatakan bahwa QRIS mempermudah proses pembayaran, mempercepat pelayanan, dan membantu pencatatan keuangan harian secara lebih akurat. Hanya satu UMKM, yaitu Dapur Kito, yang menilai penerapan QRIS belum efektif karena rendahnya minat konsumen terhadap transaksi digital serta keterbatasan jaringan internet di lokasi usaha. Temuan ini mendukung teori Technology Acceptance Model (TAM) yang dikemukakan oleh Davis . , di mana penerimaan teknologi dipengaruhi oleh persepsi terhadap kegunaan . erceived usefulnes. dan kemudahan penggunaan . erceived ease of us. Dalam konteks penelitian ini, pelaku UMKM menilai bahwa QRIS memberikan manfaat nyata bagi operasional usaha, terutama dalam mempercepat transaksi dan mengurangi risiko kesalahan kasir. Selain itu, kemudahan penggunaan QRIS tanpa memerlukan keterampilan teknis yang tinggi juga memperkuat kemauan pelaku usaha untuk terus menggunakan sistem pembayaran digital ini. Penerapan QRIS tidak hanya berdampak pada aspek efisiensi, tetapi juga memperkuat transparansi dan profesionalisme pengelolaan keuangan UMKM. Dengan sistem pencatatan otomatis. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 6 No. 1 2026 page: 257 Ae 262 | 261 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 pelaku usaha dapat melakukan rekapitulasi pendapatan dengan lebih mudah, mengurangi potensi kesalahan, dan meningkatkan akurasi laporan keuangan. Namun demikian, keberhasilan penerapan QRIS tetap bergantung pada faktor eksternal seperti literasi digital, kebiasaan konsumen, dan ketersediaan infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, peningkatan edukasi dan sosialisasi penggunaan QRIS di kalangan masyarakat menjadi langkah penting dalam memperluas adopsi sistem pembayaran digital secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA