Cara Mengutip (Gaya APA): Maulina SaAodiyah, dan Fadhil Purnama Adi. Peningkatan Dimensi Bernalar Kritis Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Materi Pancasila dalam Kehidupanku Melalui Model Group Investigation pada Peserta Didik Kelas 5 Sekolah Dasar. Didaktika Dwija Indria, 14 . , : https://doi. org/10. 20961/ddi. Peningkatan Dimensi Bernalar Kritis Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Materi Pancasila dalam Kehidupanku Melalui Model Group Investigation pada Peserta Didik Kelas 5 Sekolah Dasar Maulina SaAodiyah1,dan Fadhil Purnama Adi2 PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Email penulis korespondensi: maulinasadiyah@student. Dikirim: 1 Januari 2026 Direvisi: 1 Maret 2026 Diterima: 1 April 2026 Kata Kunci: Critical Reasoning. Pancasila Education. Group Investigation. Elementary School. DOI: https://doi. org/10. 20961/ddi. Abstrak One of the 6 dimensions in the Pancasila learner profile that students must have is critical reasoning. The purpose of this study to improve the ability to reason critically in learning Pancasila Education through the application of the group investigation model in grade V elementary school students. The method in this research is a classroom action research method (PTK) carried out in two cycles. The research subjects were students of class VB SDN Nayu with a total of 27 students. The data collection techniques used were observation, interviews, documentation, and tests. Triangulation of techniques and sources is a method of testing Initial conditions showed the percentage of 22%, cycle I meeting 1 increased to 30%, and at meeting 2 the percentage of completeness was 52%, the average in cycle I was 37%. In cycle II meeting 1 the percentage of completeness was 74% and at meeting 2 it increased to 93%, the average in cycle II was 89%. Based on the results of the study, it can be concluded that the application of the group investigation learning model can improve the ability to reason critically in learning Pancasila Education in class VB students of SDN Nayu Jurnal Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. doi: : https://doi. org/10. 20961/ddi. A Penulis. Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons - Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembelajaran pendidikan pancasila merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kurikulum sekolah dasar. Pada dasarnya pendidikan tidak hanya sekadar transfer knowledge atau menyampaikan pengetahuan, akan tetapi juga penanaman karakter kepada peserta didik. Tujuan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yaitu untuk membentuk good citizenship . arga negara yang bai. dan pembentukan karakter bangsa (Zahra & Dewi, 2. Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan pancasila masih mengalami tantangan dalam menanamkan nilai moral dan karakter (Lestari & Arpannudin, 2. Menjawab tantangan besar terkait pengembangan karakter. Kemendikbudristek melalui pelaksanaan kurikulum merdeka mengupayakan penguatan pendidikan karakter peserta didik melalui berbagai strategi yang berpusat pada usaha untuk mewujudkan Pelajar Pancasila (Ismail et al. , 2. Profil pelajar Pancasila merupakan profil lulusan yang diharapkan dapat menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan dapat diraih oleh peserta didik, yang tertuang dalam enam dimensi yakni beriman, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Sufyadi et al. , 2. Salah satu karakter dalam profil pelajar pancasila yaitu bernalar kritis. Kemampuan bernalar kritis peserta didik merupakan kemampuan yang tidak hanya mengerti suatu konsep secara pasif tetapi dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari (Wati et al. , 2. Kemampuan bernalar kritis mendorong peserta didik guna memiliki cara bernalar secara sistematik, mendalam, dan mampu melakukan pengambilan keputusan yang digunakan sebagai pemecahan masalah (Rahmawati & Winanto, 2. Masalah Penelitian Keterampilan bernalar kritis harus benar-benar diperhatikan karena merupakan unsur yang sangat penting bagi peserta didik. Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan keterampilan bernalar kritis adalah dengan mengimplementasikan model-model pembelajaran yang menunjang perkembangan sistem informasi dan teknologi (Ramadhani et al. , 2. Kemampuan bernalar kritis tidak begitu saja dimiliki oleh peserta didik dan mengalami peningkatan, akan tetapi perlu diberikan pembiasaan terhadap masalah yang harus dipecahkan (Aleng et al. , 2. Proses peningkatan kemampuan bernalar kritis pada peserta didik dibutuhkan fasilitator yaitu seorang guru yang memiliki peran penting dalam peningkatan kemampuan bernalar kritis (Sulastri et al. , 2. Hasil observasi dan wawancara terkait kemampuan bernalar kritis peserta didik kelas VB SDN Nayu menyatakan bahwa kemampuan bernalar kritis peserta didik masih rendah. Model pembelajaran yang digunakan hanya berpusat pada guru sehingga peserta didik cenderung pasif terhadap pembelajaran. Kebanyakan peserta didik mendalami pembelajaran hanya dengan metode hafalan. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil tes pra tindakan yang menunjukkan hasil hanya terdapat 6 Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi peserta didik tuntas dengan persentase ketuntasan 22% sedangkan masih terdapat 21 peserta didik belum tuntas dalam tes pra tindakan. Keadaan Terkini Penelitian Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan cara menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat aktif dan mendorong peserta didik mandiri dalam belajar sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik (Kamaulidya et al. , 2. Model pembelajaran yang mencakup aspek-aspek tersebut yaitu model pembelajaran kooperatif group investigation. Model group investigation merupakan model pembelajaran yang menekankan pada partisipasi dan keaktifan peserta didik guna mencari solusi hingga simpulan dari permasalahan yang telah dirumuskan (Pidada et al. , 2. Penerapan model group investigation mengajak peserta didik berperan serta dalam kelompok untuk mengungkapkan pendapatnya dalam proses investigasi. Model ini dituntut untuk melakukan kerja sama dengan para anggota kelompoknya sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan mandiri bagi peserta didik sehingga kemampuan bernalar kritis akan meningkat (Syarvitra, 2022. Pamungkas, 2. Pelaksanaan model group investigation yaitu dengan membentuk kelompok yang terdiri dari 5-6 peserta didik kemudian kelompok melakukan investigasi dengan topik yang berbeda dengan harapan setiap kelompok akan berusaha mencapai tujuan setiap topik yang dituangkan dalam pembuatan laporan akhir dan disampaikan dalam presentasi hasil investigasi (Hidayati et al. , 2. Kebaruan,Kesenjangan Penelitian & Tujuan Menurut penelitian oleh Matje . , hasil belajar IPS dapat ditingkatkan dengan menerapkan model group investigation. Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Matje dengan penelitian ini yaitu pada penelitian Matje variabel terikatnya berupa meningkatkan hasil belajar IPS sedangkan penelitian ini variabel terikatnya meningkatkan dimensi bernalar kritis pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Tujuan penelitian ini ialah untuk meningkatkan kemampuan bernalar kritis dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dengan menerapkan model pembelajaran group investigation pada peserta didik kelas VB SDN Nayu tahun pelajaran 2024/2025. METODE Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan di SDN Nayu sepanjang 5 bulan dimulai Desember 2024 Ae Mei 2025. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus dengan masing-masing siklus 2 pertemuan. Subjek dalam penelitian ini yaitu peserta didik kelas VB SDN Nayu dengan jumlah 27 peserta didik yang terdiri dari 10 perempuan dan 17 laki-laki. Observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi digunakan dalam pengumpulan informasi dalam penelitian ini. Penelitian menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi Teknik sebagai metode uji validitas. Tahapan analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan . Indicator kinerja dalam penelitian ini yaitu persentase peserta didik dengan perolehan nilai tuntas terdapat 85% atau 23 peserta didik dari 27 peserta didik. Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi HASIL Hasil tes peserta didik pada tahap pra tindakan memperlihatkan jika peserta didik masih banyak yang memperoleh nilai < 70. Hasil tes kemampuan bernalar kritis peserta didik dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Ditribusi Frekuensi Nilai Pra Tindakan Kemampuan Bernalar kritis Interval Frekuensi Median . Fi. Persentase (%) . Relatif Kumulatif Jumlah Rata-rata Skor tertinggi Skor terendah Persentase ketuntasan Berdasarkan hasil tes pra tindakan yang menunjukkan hasil bahwa diperlukan peningkatan terhadap kemampuan bernalar kritis peserta didik. Hasil tes kemampuan bernalar kritis pada siklus I dapat dilihat pada tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Tes Siklus I Keterangan Siklus I Skor Rata-Rata Skor Tertinggi Skor Terendah Persentase Tuntas (%) Persentase Tidak Tuntas (%) Pelaksanaan siklus II menghasilkan nilai tes yang menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I. Hasil tes siklus II dapat dilihat dalam tabel 3. Tabel 3. Hasil Tes Siklus II Keterangan Siklus II Skor Rata-Rata Skor Tertinggi Skor Terendah Persentase Tuntas (%) Persentase Tidak Tuntas (%) PEMBAHASAN Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik kelas VB memperoleh nilai pada rentang 58- 64 sebanyak 8 peserta didik, sementara nilai dengan ketuntasan Ou 70 pada rentang 65-71 sebanyak 4 peserta didik dan rentang 72-78 hanya 3 peserta didik. Pada tahap pra tindakan rata-rata nilai tes peserta didik yaitu 58, hal itu membuktikan jika nilai peserta didik < 70 masih banyak. Nilai tersebut masih jauh dari capaian indikator kinerja penelitian, maka harus dilakukan peningkatan dalam siklus 1. Berdasarkan penilaian indikator, pada indikator I mengolah informasi dan gagasan banyak yang kesulitan dalam memahami pokok permasalahan, merumuskan permasalahan dan memberikan jawaban tepat berdasarkan soal. Pada indikator II menganalisis informasi dan gagasan, peserta didik sulit dalam menghubungkan informasi yang pada soal cerita dengan pertanyaan yang disajikan. Indikator i menyimpulkan keputusan, peserta didik masih sulit dalam membuat simpulan yang tepat dan memberikan alasan yang relevan terhadap jawaban yang diberikan. Tabel 2 menunjukkan hasil tes siklus 1 yang mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tes pra tindakan. Hasil memperlihatkan bahwa skor ratarata pada siklus I pertemuan 1 yaitu 62 dengan skor tertinggi 77 dan skor terendah 30, pada siklus I persentase ketuntasan hanya 30% hal itu masih belum mencapai target capaian indikator penelitian maka dilanjutkan pada pertemuan 2. Pada pertemuan 2, nilai menunjukkan adanya peningkatan yang ditunjukkan pada nilai rata-rata yaitu 71 terjadi kenaikan juga pada skor tertinggi dan terendah. Hal itu berpengaruh pada persentase ketuntasan pada pertemuan 2 yaitu 52% akan tetapi nilai tersebut masih belum mencapai indikator kinerja penelitian, sehingga penelitian harus dilanjutkan pada siklus II. Tabel 3 menunjukkan nilai tes kemampuan bernalar kritis pada siklus II pertemuan 1 dan 2. Hasil menunjukkan adanya kenaikan yang dapat dilihat pada persentase tuntas yang meningkat jika dibandingkan siklus I. Siklus II mengalami peningkatan dan telah mencapai capaian indikator kinerja penelitian sebesar 85% dan hasil siklus II menunjukkan hasil 93% sebanyak 25 peserta didik mendapatkan nilai tuntas dan hanya 2 peserta didik yang belum tuntas. Berdasarkan capaian ketuntasan tersebut maka tidak dilakukan penelitian Hasil tes kemampuan bernalar kritis pada peserta didik kelas VB dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila mengalami peningkatan setelah menggunakan model group investigation dari pra tindakan, siklus I hingga siklus II. Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik kelas VB. Dengan menerapkan model group investigation dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik melalui kegiatan investigasi, diskusi, dan secara mandiri memecahkan permasalahan (Devi et al. , 2021, hlm. Hasil ini sejalan dengan (Supriyanto & Mawardi, 2020, hlm. yang menyatakan bahwa model group investigation dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, sehingga relevan dengan penelitian ini bahwa model group investigation dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik. KESIMPULAN Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa penerapan model group investigation dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis peserta didik kelas VB SDN Nayu. Hal itu dibuktikan dengan nilai yang terus meningkat hingga mencapai capaian indikator penelitian. Pada tahap pra tindakan rata-rata nilai peserta didik 58 dengan persentase ketuntasan 22%, dilakukan peningkatan pada siklus I pada pertemuan 1 rata-rata peserta didik meningkat menjadi 62 dan persentase ketuntasan 30% , selanjutnya pada siklus I pertemuan 2 rata-rata meningkat menjadi 71 dan persentase ketuntasan 52%. Berdasarkan hasil siklus I masih belum mencapai capaian indikator kinerja penelitian maka penelitian dilanjutkan pada siklus II. Hasil siklus II pada pertemuan 1 rata-rata nilai 78 dengan persentase ketuntasan 78%, pada pertemuan 2 hasil tersebut meningkat rata-rata menjadi 87 dan persentase ketuntasan sebesar 93%. Implikasi teoritis dalam penelitian ini adalah dapat dijadikan referensi dalam menambah wawasan dan bahan kajian dalam penelitian serupa, selain itu hasil penelitian juga dapat memberikan gambaran bahwa kemampuan bernalar kritis peserta didik dapat ditingkatkan dengan menerapkan model group investigation. Implikasi praktis pada penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran agar menerapkan model group investigation untuk meningkatkan kemampuan bernalar kritis pada pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA