671 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF DAN MOTIVASI KERJA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT Fathurrahim1 & Siluh Putu Damayanti2 1,2 Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram E-mail: 1fathurrahim@gmail. com, 2spdamayanti@gmail. Article History: Received: 30-01-2025 Revised: 31-01-2025 Accepted: 02-02-2025 Keywords: Kepemimpinan yang efektif. Motivasi Kerja. Kinerja Pegawai. BPKAD. Kabupaten Lombok Barat. Abstract: Kinerja pegawai merupakan faktor kunci keberhasilan organisasi, termasuk di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Lombok Barat. Peningkatan kinerja di BPKAD sangat penting karena berpengaruh pada efisiensi pengelolaan keuangan dan optimalisasi aset daerah. Dua faktor utama yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah kepemimpinan yang efektif dan motivasi kerja. Kepemimpinan yang efektif berperan dalam menciptakan visi, memberi arah, dan memotivasi pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan yang baik dapat meningkatkan kepuasan kerja dan mendorong kinerja pegawai. Sebaliknya, kepemimpinan yang kurang baik dapat menurunkan semangat kerja dan menghambat kinerja pegawai. Motivasi kerja juga penting, karena mempengaruhi semangat dan komitmen pegawai dalam menjalankan tugas. Pegawai yang termotivasi cenderung lebih produktif, inovatif, dan berkomitmen terhadap Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh kepemimpinan yang efektif dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai di BPKAD Kabupaten Lombok Barat. Dengan memahami pengaruh kedua faktor ini, dapat ditemukan strategi yang efektif untuk meningkatkan kinerja pegawai, yang pada akhirnya akan mendukung pengelolaan keuangan dan aset daerah serta pembangunan di Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori kuantitatif yang menggunakan kuesioner dengan skala Likert sebagai alat pengumpulan data. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian diharapkan dapat dipublikasikan di jurnal ilmiah nasional. PENDAHULUAN Kinerja pegawai merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah organisasi, baik itu di sektor publik maupun swasta. Pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Lombok Barat, kinerja pegawai menjadi sangat krusial mengingat tanggung jawab besar yang diemban dalam pengelolaan keuangan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 dan aset daerah. Peningkatan kinerja pegawai di BPKAD tidak hanya berimplikasi pada efisiensi administrasi keuangan, tetapi juga pada optimalisasi penggunaan aset daerah yang pada akhirnya berdampak pada terciptanya tata Kelola administrasi dibidang keuangan dan asset daerah yang baik. Dua faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai adalah kepemimpinan yang efektif dan motivasi kerja. Kepemimpinan memiliki peran vital dalam menciptakan visi, memberi arah, dan memotivasi pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan yang efektif dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, meningkatkan kepuasan kerja, dan mendorong kinerja yang lebih baik dari para pegawai. BPKAD Kabupaten Lombok Barat, kepemimpinan yang mampu memberikan bimbingan, dukungan, dan penghargaan kepada pegawai sangat diperlukan untuk memastikan semua tugas dan tanggung jawab dapat terlaksana dengan baik. Berbagai studi menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya mempengaruhi kinerja individu tetapi juga dapat mempengaruhi budaya organisasi secara Pemimpin yang efektif dapat membangun tim yang kuat, meningkatkan komunikasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Gaya kepemimpinan yang transformasional, misalnya, telah terbukti mampu menginspirasi dan memotivasi pegawai untuk bekerja lebih keras dan mencapai hasil yang lebih baik. Di sisi lain, kepemimpinan yang otoriter atau kurang komunikatif dapat menurunkan semangat kerja pegawai dan menghambat kinerja mereka. Motivasi kerja juga merupakan faktor kunci dalam menentukan kinerja pegawai. Motivasi kerja adalah dorongan internal dan eksternal yang mempengaruhi semangat dan komitmen pegawai dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan. Pegawai yang termotivasi cenderung lebih produktif, inovatif, dan berkomitmen terhadap pekerjaannya. Berbagai faktor dapat mempengaruhi motivasi kerja, termasuk imbalan finansial, pengakuan, kesempatan untuk berkembang, dan kondisi kerja yang nyaman. Di BPKAD Kabupaten Lombok Barat, memahami faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja pegawai sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang efektif dalam meningkatkan kinerja pegawai. Dalam konteks BPKAD Kabupaten Lombok Barat, penting untuk mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan dan motivasi kerja dapat bersinergi untuk meningkatkan kinerja Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana kedua faktor ini mempengaruhi kinerja pegawai di BPKAD Kabupaten Lombok Barat. Dengan memahami pengaruh kepemimpinan dan motivasi kerja, diharapkan dapat ditemukan strategi-strategi yang efektif untuk meningkatkan kinerja pegawai. Peningkatan kinerja pegawai di BPKAD akan berimplikasi langsung pada efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan dan aset daerah. Hal ini pada akhirnya akan mendukung upaya pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan yang lebih baik dan mencapai tujuan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya penting bagi BPKAD tetapi juga memiliki dampak yang luas bagi pembangunan di Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan latar belakang terdebut diatas, penulis mengajukan sebuah penelitian dengan judul AuKepemimpinan yang efektif dan motivasi kerja serta pengaruhnya terhadap kinerja pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Lombok BaratAy. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 LANDASAN TEORI Kajian Teoritis Menurut kartono dalam Bahrum dkk . Aypengertian kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuantujuan yang diinginkan kelompokAy. Menurut Rost dalam Delti . Aymemberi definisi kepemimpinan sebagai sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara pemimpinan dan pengikut . yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamaAy. Menurut Robins . Aumendefenisikan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok dalam mencapai tujuan organisasiAy. Menurut Setiawan dan Muhith . , terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepemimpinan, yaitu: Kepribadian . , pengalaman masa lalu, dan harapan pemimpin: Faktor ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan pengalaman yang akan mempengaruhi pilihan gaya kepemimpinan seorang pemimpin. Kepribadian pemimpin, termasuk sifat-sifat seperti keberanian, keterbukaan, dan kejujuran, akan membentuk cara pemimpin tersebut berinteraksi dan memimpin timnya. Harapan dan perilaku atasan: Harapan yang dimiliki oleh atasan terhadap seorang pemimpin akan mempengaruhi bagaimana pemimpin tersebut menjalankan tugasnya. Perilaku atasan yang mendukung atau menekan juga akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilih oleh pemimpin tersebut. Karakteristik, harapan, dan perilaku bawahan: Bawahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, seperti tingkat pendidikan, pengalaman, dan kepribadian. Harapan dan perilaku mereka juga akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang efektif untuk diterapkan. Pemimpin perlu menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik bawahan. Kebutuhan tugas: Setiap tugas yang harus dilakukan oleh bawahan juga akan mempengaruhi gaya Misalnya, tugas yang membutuhkan kreativitas dan inovasi mungkin memerlukan gaya kepemimpinan yang lebih demokratis, sedangkan tugas yang sangat terstruktur mungkin lebih cocok dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Iklim dan kebijakan organisasi: Iklim organisasi mencakup budaya, norma, dan nilai-nilai yang ada dalam organisasi tersebut. Kebijakan organisasi, seperti aturan dan prosedur, juga akan mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang diterapkan. Harapan dan perilaku rekan: Rekan kerja dan kolega dalam organisasi juga mempengaruhi kepemimpinan. Harapan mereka terhadap pemimpin dan perilaku mereka dalam bekerja sama akan membentuk cara pemimpin mengelola tim dan membuat keputusan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap pembentukan gaya kepemimpinan yang efektif dan sesuai dengan konteks organisasi dan tim yang dipimpin. Menurut Martoyo dalam Delti . , indikator-indikator kepemimpinan yang efektif diantaranya: https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 . Kemampuan analitis :Kemampuan menganalisa situasi yang dihadapi secara teliti, matang, dan mantap, merupakan prasyarat untuk suksesnya kepemimpinan . Keterampilan berkomunikasi :Dalam memberikan perintah, petunjuk, pedoman, nasehat, seorang pemimpin harus menguasai teknik-teknik berkomunikasi. Keberanian : Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi ia perlu memiliki keberanian yang semakin besar dalam melaksanakan tugas pokoknya yang telah dipercayakan padanya. Kemampuan mendengar : Salah satu sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin adalah kemampuannya serta kemauannya mendengar pendapat dan atau saransaran orang lain, terutama bawahan-bawahannya. Ketegasan : Ketegasan dalam menghadapi bawahan dan menghadapi ketidak tentuan sangat penting bagi seorang pemimpin. Menurut Wulantika . , motivasi merupakan daya penggerak dalam diri manusia, hal tersebut sangat penting untuk terus didorong, karena dengan motivasi kehidupan manuisa akan lebih baik. Parson . mendefinisikan motivasi adalah bersifat pribadi dapat didasarkan pada dorongan kelompok, dapat bersifat rasional, dapat bersifat emosional, disamping nilai pribadi, dikenal juga istilah ilmiahnya Sosial Refense karena dihayati bersama oleh anggota suatu kelompok sosial tertentu. Robbins . mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan Menurut Hasibuan . metode-metode motivasi ada dua yaitu : Metode langsung . irect motivatio. Motivasi . aterial dan non-materia. yang diberikan secara langsung kepada individu karyawan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan. Metode tidak langsung . ndirect motivatio. Motivasi yang diberikan yaitu merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja/kelancaran tugas, sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan pekerjaannya. Menurut Rozalia & Utami . motivasi kerja karyawan memberikan peningkatan yang sangat berarti bagi peningkatan kinerja setiap karyawan dalam melaksanakan Dalam mengukur kinerja, masalah yang paling pokok adalah menetapkan Kriteria pekerjaan adalah faktor yang terpenting dari apa yang dilakukan orang Menurut Benardin & Russell . ada 6 . kriteria primer yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja: Quality (Kualita. , merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. Quantity (Kuantita. , merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. Timeliness (Ketepatan wakt. , adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Cost Ae effectiveness (Biaya Ae Efektivita. , adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya organisasi . anusia, keuangan, teknologi, materia. dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber daya. Need for supervision (Kebutuhan untuk pengawasa. , merupakan tingkat sejauh mana seseorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. Interpersonal impact (Dampak dalam pribad. , merupakan tingkat sejauh mana karyawan memelihara harga diri, nama baik dan kerjasama diantara rekan kerja dan Hipotesis Penelitian Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Hipotesis yang dapat diambil dari kerangka penelitian ini adalah: H1 : Kepemimpinan yang efektif . berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai . H2 : Motivasi Kerja . berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai . H3 : Kepemimpinan yang efektif . dan Motivasi Kerja . secara simulan berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai . METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian eksplanatori yaitu untuk menganalisis pengaruh antar satu variabel sebagai variabel bebas dan variabel lainnya sebagai variabel terikat. Menurut Sugiyono . penelitian eksplanatori yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan yang lain. Lebih lanjut Sugiyono . menjelaskan, metode kuantitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi suatu sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah Penelitian ini disusun berdasarkan tiga variabel yaitu dua variabel bebas (Kepemimpinan yang efektif dan Motivasi Kerj. dan satu variabel terikat (Kinerja Pegawa. Definisi operasional dari variable tersebut diantaranya: Kepemimpinan yang efektif . Menurut Danim . , kepemimpinan adalah perilaku yang ditunjukkan oleh individu atau kelompok untuk mengoordinasi dan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 memberi arahan kepada individu atau kelompok lain dalam suatu organisasi atau wadah tertentu. Motivasi Kerja . Menurut Konzh . Motivasi adalah suatu rantai reaksi yang diawali dengan adanya kebutuhan, yang menimbulkan keinginan atau upaya mencapai tujuan, yang selanjutnya menimbulkan tensi/ ketegangan . aitu keinginan yang belum terpenuh. , yang kemudian menyebabkan timbulnya tindakan yang mengarah pada tujuan, dan akhirnya memuaskan keinginan. Kinerja Pegawai . Menurut Anwar Prabu Mangkunegara . Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikannya. Penelitian ini ingin melihat pengaruh antaran variabel Kepemimpinan yang efektif . dan Motivasi Kerja . terhadap Kinerja Pegawai . Variabel Kepemimpinan yang efektif . disusun oleh beberapa indikator (Martoyo, 2. yaitu Kemampuan analitis . Keterampilan berkomunikasi . Keberanian . Kemampuan mendengar . dan Ketegasan . Variabel Motivasi Kerja . menurut Bayu Fadillah, et al . memiliki beberapa indikator yaitu Tanggung Jawab . Prestasi Kerja . Peluang Untuk Maju . Pengakuan Atas Kinerja . dan Pekerjaan Yang Menantang . Sedangkan variabel kinerja pegawai . memiliki , indikator (Sulistiyani, 2. yaitu Kualitas . , kuantitas . Ketepatan Waktu . Kehadiran . dan Dampak Interpersonal . Penelitian ini akan menggunakan metode regresi linier berganda dengan formulasi: yc = ycuyu ycyu yce Keterangan: = variabel bebas kinerja pegawai = variabel terikat kepemimpinan = variabel terikat motivasi kerja yu, yu = koefisien = standar error HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 32 orang pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Lombok Barat. Pegawai pada BPKAD tersebar antara rentang usia 31 tahun hingga 50 tahun, dengan berbagai tingkat pendidikan dari SMA. Strata-1 dan Strata-2. Responden penelitian ini sebesar 75% telah bekerja di atas 10 tahun, hal ini menunjukkan bahwa responden telah memiliki banyak pengalaman terkait pekerjaan yang telah dijalani. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Kepemimpinan yang Efektif . dan Motivasi Kerja . terhadap Kinerja Pegawai . dalam analisis regresi linier terlihat dari nilai R Square pada tabel berikut. Mode Tabel 1. Hasil Model Summary Adjusted R Std. Error of R Square Square the Estimate a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Dari luaran di atas diketahui nilai R Square sebesar 0,516. Nilai ini mengandung arti bahwa pengaruh Kepemimpinan yang Efektif . dan Motivasi Kerja . terhadap Kinerja Pegawai . adalah sebesar 51,6 % sedangkan 48,4 % Kinerja Pegawai dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. Hasil analisis data dari responden ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Analisis Data Menggunakan SPSS Coefficientsa Standardize Unstandardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta Sig. (Constan. Kepemimpinan yang Efektif Motivasi Kerja Dari tabel di atas diperoleh persamaan linier dari penelitian ini adalah yc = 0. 435ycu 406yc. Dapat dilihat pada Tabel 2 bahwa nilai Sig. Dari variabel Kepemimpinan yang Efektif . terhadap Kinerja Pegawai . sebesar 0,001 < 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan dapat dinyatakan bahwa Kepemimpinan yang Efektif berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai. Selanjutnya untuk variabel Motivasi Kerja . terhadapr Kinerja Pegawai . diperoleh nilai Sig. Sebesar 0,058 > dari 0,005. Hali ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan dapat dinyatakan bahwa Motivasi Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai. Kepemimpinan merupakan salah satu elemen kunci dalam organisasi yang berfungsi mengarahkan, memotivasi, dan memfasilitasi pencapaian tujuan bersama. Pemimpin yang efektif memiliki kemampuan untuk menginspirasi dan memberdayakan pegawai sehingga mereka mampu memberikan kontribusi terbaiknya. Menurut teori kepemimpinan transformasional, pemimpin yang berorientasi pada visi jangka panjang, memberikan perhatian individual, dan mampu mendorong inovasi sering kali menciptakan lingkungan kerja yang mendukung produktivitas tinggi. Menurut penelitian Liden et al. , kepemimpinan berbasis pelayanan yang efektif meningkatkan keterlibatan pegawai dan menghasilkan kinerja yang lebih baik dengan membangun rasa kepemilikan, komitmen, dan semangat kerja. Pemimpin di organisasi perlu mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang adaptif, melibatkan komunikasi yang efektif, pemberdayaan tim, dan pemberian penghargaan yang sesuai. Program pelatihan kepemimpinan juga menjadi strategi penting untuk memastikan bahwa pemimpin mampu mengarahkan organisasi menuju pencapaian tujuan yang lebih besar melalui peningkatan kinerja pegawai. Motivasi kerja secara umum sering dianggap sebagai pendorong utama dalam meningkatkan kinerja pegawai, namun penelitian modern menunjukkan bahwa pengaruh motivasi terhadap kinerja tidak selalu signifikan. Perspektif ini didukung oleh teori-teori a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 terbaru yang menyoroti pentingnya faktor lain, seperti kompetensi individu, lingkungan kerja, dan peran sistem organisasi. Penelitian pada pegawai pemerintah di Eropa (Bakker, 2. menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak signifikan terhadap kinerja dalam sistem kerja yang rigid dan birokratis. Sebaliknya, kinerja lebih dipengaruhi oleh kejelasan prosedur dan dukungan kepemimpinan. Beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa motivasi kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai meliputi: A Faktor Kontekstual dalam Organisasi. Motivasi kerja mungkin dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja, struktur organisasi, atau budaya perusahaan yang kurang Misalnya, motivasi yang tinggi dari pegawai tidak akan menghasilkan kinerja optimal jika mereka bekerja di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas atau birokrasi yang menghambat produktivitas. A Kebutuhan dan Harapan yang Tidak Terpenuhi. Berdasarkan Expectancy Theory, motivasi kerja berkaitan dengan keyakinan bahwa usaha yang dilakukan akan menghasilkan hasil yang diinginkan. Jika pegawai merasa bahwa usaha mereka tidak dihargai atau imbalan yang diterima tidak sebanding, motivasi yang ada tidak akan terwujud dalam bentuk peningkatan kinerja. A Pekerjaan yang Sifatnya Rutin atau Mekanis. Dalam pekerjaan yang bersifat rutin atau berulang, motivasi kerja sering kali tidak menjadi faktor utama penentu kinerja. Kinerja pegawai dalam konteks ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebiasaan, prosedur, atau sistem kerja yang ada. Meskipun motivasi kerja sering kali dianggap penting, bukti teori dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengaruhnya terhadap kinerja tidak selalu signifikan. Faktor lain, seperti kompetensi individu, efisiensi sistem kerja, dan lingkungan kerja, sering kali memiliki peran lebih besar dalam menentukan kinerja pegawai. Oleh karena itu strategi pengelolaan kinerja sebaiknya didasarkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh faktor yang relevan dalam konteks kerja tertentu. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Lombok Barat. Pemimpin yang mampu memberikan arahan yang jelas, memotivasi, dan memberdayakan pegawai secara optimal dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja pegawai. Selain itu hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Lombok Barat. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun pegawai memiliki motivasi kerja, faktor tersebut belum cukup kuat untuk meningkatkan kinerja pegawai. Kinerja pegawai lebih ditentukan oleh variabel lain, seperti kepemimpinan, sistem kerja, atau ketersediaan sumber daya yang mendukung pelaksanaan tugas. DAFTAR PUSTAKA