Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. NILAI-NILAI SUFISTIK DALAM NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE Muhammad Isnaini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta isnainimuhammadd@gmail. Al Fadhli Tasman Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta fadhli@uinjkt. Abstract Keywords This research discusses the Sufistic values contained in the novel Hafalan Shalat Delisa. Through critical and interpretive reading, this research aims to explore the Sufistic values shown and applied in the Even though this work is not the work of a Sufi, it contains Sufistic values in it. Apart from that, this research will also discuss Sufism and its teachings and values, which can provide insight and guidance for readers on how to live a more balanced and calming life in modern life. This research is library research, using the content analysis method . ontent analys. Based on the results of the research that has been carried out, it was found that in the novel Hafalan Shalat Delisa there are the following things. Sufistic values which include. The values of sh. br, tawakkal, ridha', mahabbah, syukr, and taubah. These values have urgency in the life of modern society. The Sufistic values contained in the novel Hafalan Shalat Delisa can be a turning point for someone in restoring their spiritual condition, especially in the modern Sufistic values. The Novel of Hafalan Shalat Delisa. Spiritual condition of modern society Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pendahuluan Novel Hafalan Shalat Delisa merupakan sebuah karya sastra yang bercorak Islami, novel ini mengangkat tema tentang kekuatan Iman dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. Aspek penting yang tergambar dalam novel ini adalah nilai-nilai sufistik yang tercermin melalui perjalanan spiritual tokoh utama. Delisa. Nilai-nilai yang tercermin di dalamnya dapat dijadikan pembelajaran sekaligus pedoman dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di zaman modern seperti saat ini. Novel ini tidak hanya sekadar sebagai kisah inspiratif, namun juga mengandung nilai-nilai tasawuf yang dapat menjadi pengingat bagi para pembaca akan pentingnya menjaga iman serta hubungan dengan Tuhan, terutama dalam menghadapi tantangan hidup yang berat. Salah satu contoh nilai tasawuf yang terkandung dalam novel ini adalah tawakkal yang ditunjukkan ketika Delisa terdampar di bibir pantai pasca bencana tsunami. Au. Setelah ombak tsunami yang menggulung gadis kecil itu. Delisa akhirnya siuman, namun ia tak bisa bergerak, kaki kanannya hingga ke betis sempurna terjepit di selasela dahan semak. Tubuh mungilnya terbaring dengan bagian sebelah kiri menyentuh tanah. Kaki kirinya hancur, sementara kaki kanannya menggantung tak Muka Delisa biru lebam, sekujur tubunya penuh baret dan luka, sisa guratan benda-benda yang menghantam tubuhnya sepanjang terseret gelombang Tubuh itu sudah sama sekali tidak mirip manusia, biru membengkak Tetapi Delisa masih hidup. Sepanjang hari tubuhnya terpanggang oleh teriknya sinar matahari, semakin hari semakin mengenaskan. Tujuh hari tujuh malam sudah ia terkapar. Delisa memang benar-benar berada di situasi yang tak terelakkan, ia hanya bisa berserah diri kepada Allah dengan segala kondisinya yang seperti ini, menunggu bantuan datang, menunggu keajaiban datang. Ay1 Penggalan redaksi di atas menandakan bahwa betapa tingginya kualitas tawakkal seorang anak yang masih belia dimana ia harus menghadapi cobaan seperti itu. Delisa mengandalkan sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi cobaan hidup. Ia percaya bahwa Allah akan memberikan kekuatan serta perlindungan dalam setiap situasi. Berdasarkan contoh tersebut, novel Hafalan Shalat Delisa ini mengajarkan kepada para pembacanya akan pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Allah dan hanya mengandalkan-Nya dalam menghadapi tantangan hidup, terutama tantangan kehidupan modern seperti sekarang ini. 1 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa (Jakarta: Republika, 2. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Kehidupan modern saat ini menjadikan seseorang mengalami penurunan kualitas kesadaran dalam beragama. Salah satu penyebabnya adalah modernisasi yang tak hanya 2 Gaya hidup yang cenderung materialistis serta media sosial yang menjadikan seseorang terlalu fokus terhadapnya. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan waktu dan kesempatan untuk merenung, beribadah, dan meningkatkan hubungan mereka dengan Allah swt. Ketika hanya mengandalkan ilmu materi saja tanpa diimbangi dengan ilmu agama, manusia akan mudah merasa kehilangan dan kekosongan rohani. 3 Masyarakat berbondong-bondong untuk mengembangkan dirinya, mereka berkompetisi dalam meraih banyak keuntungan, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa dirinya hebat sampai menihilkan kuasa Tuhan. Pada konteks ini, penting untuk mengatasi krisis spiritual Islami dalam masyarakat Secara umum, tasawuf dianggap sebagai kesadaran murni yang mengarahkan jiwa secara benar kepada amal dan kegiatan yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari keduniawian dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. 5 Upaya perbaikan dapat dilakukan melalui pendekatan edukasi yang mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran agama Islam, pengembangan program-program spiritual yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern, dan penyediaan lingkungan yang mendukung dalam memperkuat nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam hal ini tasawuf dapat dijadikan sebagai guidance bagi seseorang yang ingin meningkatkan kualitas kesadarannya dalam beragama agar lebih dekat dengan Allah swt. Tasawuf merupakan latihan-latihan jiwa, oleh karena itu ketika seseorang bertasawuf, secara otomatis ia merubah pribadinya menjadi lebih baik. 6 Tasawuf dan ajaran-ajarannya dapat menjadi tempat pulang bagi orang yang telah payah berjalan, menjadi tempat lari bagi orang yang terdesak, menjadi penguat bagi pribadi yang lemah, dan menjadi tempat berpijak yang teguh bagi orang yang telah 2 Asnawati Matondang. AuDampak Modernisasi Terhadap Kehidupan Sosial MasyarakatAy. Wahana Inovasi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UISU, vol, 8. : 193. 3 M. Khoiruddin. AuPeran Tasawuf Dalam Kehidupan Masyarakat ModernAy. Jurnal IAIT Kediri, 27. : 114. 4 Fitri Rahmawati. AuTasawuf Sebagai Terapi Problematika Masyarakat ModernAy. Irsyaduna: Jurnal Studi Kemahasiswaan, vol. : 132. 5 Asmail Azmy. Akhlak Tasawuf: Sebuah Pengantar (Yogyakarta: K-Media, 2. , h. 6 Hamka. Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kehilangan tempat tegak. 7 Berkehidupan dengan akhlak tasawuf, menjadikan seseorang lebih terarah. Karena tasawuf, selain sebagai guidance, berfungsi sebagai alat pengendali serta pengontrol manusia. Bertujuan agar dimensi kemanusiaan tidak ternodai oleh arus modernisasi yang lebih mengarah pada degradasi moral, sehingga tasawuf akan mengantarkan manusia pada tercapainya kemurnian akhlak. Nilai-nilai sufistik yang tercermin pada novel ini dapat dijadikan pembelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Relevansi nilai-nilai ajaran dalam tasawuf bisa membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat modern, seperti contoh nilai sabar yakni tenangnya hati dalam menghadapi segala sesuatu dapat membantu mengatasi penyakit anxiety, overthinking, dan lain sebagainya. Nilai ridha' yakni sikap hati dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan dapat membentuk sebuah mindset yang bisa mengatasi masalah seperti hopeless, broken home, dan lain-lain. Maka dari itu, nilainilai sufistik ini dapat dikatakan bisa dalam mengatasi masalah seperti tadi termasuk dalam mengatasi masalah penurunan kualitas kesadaran dalam beragama seseorang. Terdapat penelitian terdahulu yang membantu dalam memberikan informasi mengenai penelitian ini oleh peneliti sebelumnya meliputi: Dewi Sri Mulyani. Aplikasi NilaiNilai Sufistik dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Jurnal Riset Agama, vol. : 50-67. Aulia Rahmah. Nilai-Nilai Sufistik Pesan Gurutta Ahmad Karaeng Dalam Novel Rindu Karya Tere Liye. Skripsi S1. Fakultas Ushuluddin. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020. Zulfa Khairunnisa Hasna. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Novel Hafalan Shalat Delisa karya Darwis Tere Liye. Skripsi S1. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan, 2020. Linda Aliffianita. Nilai-nilai Tasawuf dalam Novel Habibie & Ainun Karya Bacharuddin Jusuf Habibie. Skripsi S1. Fakultas Ushuluddin. UIN Syarif Hidayatullah, 2022. Ida Munfarida. Nilai-nilai Tasawuf dan Relevansinya Bagi Pengembangan Etika Lingkungan Hidup. Tesis Program Magister Filsafat Agama. UIN Raden Intan Lampung, 2017. Arif Khoiruddin. Peran Tasawuf Dalam Kehidupan Masyarakat Modern. Jurnal Institut Agama Islam Tribakti, tahun 2016. 7 Hamka. Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya. , h. 8 M. Mahdi. AuUrgensi Akhlak Tasawuf Dalam Kehidupan Masyarakat ModernAy. Jurnal Edueksos, vol. : 160. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan atau lebih dikenal dengan istilah library Penelitian kepustakaan merupakan jenis penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan dalam memperoleh data penelitiannya. Penelitian jenis ini hanya membatasi kegiatannya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan riset lapangan. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah menggunakan metode deskriptif content analyst . nalisis is. , dimana penulis mendeskripsikan serta menganalisis isi dari novel Hafalan Shalat Delisa. Penulis menganalisis nilai-nilai sufistik yang terkandung dalam novel Mencari dan mengaitkan fenomena-fenomena yang terjadi dalam redaksi novel, khususnya pada tokoh utama, yang merepresentasikan nilai-nilai sufistik, serta urgensinya terhadap kehidupan masyarakat modern. Peneliti menggunakan data yang dikumpulkan berdasarkan dua sumber, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan seumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber datanya, dengan kata lain peneliti harus memperoleh sumber data tersebut secara langsung, 10 dan dalam hal ini novel Hafalan Shalat Delisa peneliti jadikan sebagai sumber data primer serta tokoh Delisa sebagai subjek Sumber data sekunder diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada, dan sumber data sekunder ini dapat diperoleh dari berbagai sumber-sumber lain seperti buku, jurnal, artikel penelitian. 11 Peneliti menggunakan buku-buku serta jurnaljurnal penelitian yang sejalan dengan tema tasawuf sebagai sumber data sekunder Terdapat dua langkah yang dilakukan peneliti dalam mengolah data untuk penelitian Pertama, peneliti membaca secara keseluruhan novel Hafalan Shalat Delisa yang menjadi sumber data primer penelitian. Kemudian peneliti menganalisis setiap redaksi yang terdapat di dalam novel tersebut, kemudian mendeskripsikan makna dari redaksi tersebut terhadap keterkaitannya dengan nilai-nilai sufistik yang merujuk pada teori-teori para sufi. 9 Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , h. 10 Sandu Siyoto dan M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2. , h. 11 Sandu Siyoto dan M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Pembahasan Deskripsi Novel Hafalan Shalat Delisa Novel Hafalan Shalat Delisa merupakan sebuah novel garapan penulis novel terkenal Darwis Tere Liye. 12 Sebuah novel yang ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah untuk diimajinasikan, namun sangat menyentuh. Novel ini mengisahkan mengenai perjalanan hidup seorang anak yang masih berumur belia bernama Delisa yang tinggal di sebuah kampung kecil yang bernama Lhok Nga di Aceh. Indonesia. Delisa merupakan seorang anak yang ceria dan penuh semangat. Namun, kebahagaiannya terenggut ketika desanya diguncang sebuah bencana alam yang amat memilukan baginya, juga bagi seluruh rakyat Novel yang dikeluarkan pada tahun 2005 ini berhasil menggugah emosi dan memberikan pesan yang mendalam tentang kekuatan doAoaA kesabaran, dan keteguhan iman. Melalui gaya penulisan yang mengalir dan penuh dengan emosional, novel Hafalan Shalat Delisa menjadi salah satu karya sastra yang menginspirasi serta mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berharga. Nilai-nilai Sufistik dalam Novel Hafalan Shalat Delisa Karya Tere Liye Novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ini erat kaitannya akan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya. Melalui analisis redaksi, peristiwa-peristiwa, serta dialog yang terdapat dalam novel ini, penulis menemukan beberapa nilai sufistik yang tersirat di Berikut nilai-nilai sufistik yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa. Sabar AuTerlihat Abi Usman sedang melangkah patah-patah menuju lokasi bekas rumah Abi tiba di Lhok Nga beberapa menit lalu. AuYa Allah, astaghfirullah! Ya Aziz. Ay Abi Usman hanya bisa berkali-kali menyebut asmaMu saat tiba di komplek perumahan Semua pemandangan ini menyedihkan. Menusuk-nusuk hatinya. Puing-puing rumah, pohon-pohon tercabut. Abi hanya bisa menghela nafas panjang. Setiba di 12 Peneliti kurang mendapatkan informasi lebih mendalam terkait penulis novel ini. Hendak ingin melakukan wawancara kepada Tere Liye selaku penulis novel. Peneliti memberikan sebuah e-mail resmi kepada penulis pada 14 Juni 2024 pukul 08:04 WIB kemudian diberi balasan oleh yang bersangkutan pada 14 Juni 2024 pukul 08:09 WIB, namun sangat disayangkan beliau enggan untuk diwawancarai karena alasan satu dan lain hal. Walaupun begitu, peneliti tetap menghargai keputusan serta hak penulis dalam mengambil langkah tersebut. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 lokasi bekas rumah mereka, yang ia dapati hanyalah kondisi yang amat buruk. Pondasi rumah itu hanya tersisa setinggi mata kaki. Melihat kondisi yang seperti itu. Abi Usman pun jatuh terduduk. Tergugu lama. Tubuhnya bergetar. Abi mengusap rambutnya yang hitam legam seraya menatap langit-langit pagi Lhok Nga dengan udara yang lembut. terdiam, menahan semua rasa itu. Ay 13 Penggalan tersebut memperlihatkan sikap sabar yang ditunjukkan oleh Abi Usman ketika ia pertama kali melihat kondisi rumah dan kampung halamannya pasca tsunami melanda Lhok Nga. Terlihat sikap tenang yang ditunjukkan Abi Usman tersebut sejalan dengan penjelasan Ibn AoAthaillah . 709 H/1309 M) yakni sabar merupakan sebuah sikap tenang ketika tertimpa musibah. AuKetika Abi Usman bertemu untuk pertama kalinya dengan Delisa. Keduanya saling Pertemuan yang teramat haru. Delisa langsung menanyakan ketiga saudarinya dan juga keberadaan Umminya kepada Abi Usman. Pertanyaan yang amat menyakitkan bagi Abi Usman karena kenyataan yang harus diterima olehnya. Terlebih lagi keberadaan Ummi yang jasadnya belum ditemukan. Pertanyaan Delisa muncul bagai tiga roket yang menghujam di lokasi yang sama. Membuat lubang kesedihan semakin lebar. Abi tertunduk. Namun dengan berat hati Abi Usman menceritakan semua realitanya kepada anak sekecil itu. Ketiga saudari dan seorang ibu yang telah meninggalkan Delisa, harus diceritakan oleh ayahnya sendiri. Haru tak terbendung. Lima belas menit kemudian Delisa menceritakan kejadian ketika dia terhempas ombak Seakan realita yang baru didengarnya hilang begitu saja. Hatinya begitu kuat. Hatinya yang bersih mudah menerima segala keputusanMu. Meski hal itu merupakan hal yang paling tidak mengenakkan baginya. Penggalan tersebut menunjukkan sikap sabar yang tidak biasa dari Delisa. Hal itu dapat dilihat ketika ia mengetahui bahwa saudaranya meninggal, terlihat ekspresi yang ditunjukkannya sekadar menangis terisak pelan, dan ini mencerminkan apa yang telah dikemukakan oleh Ibn AoAthaillah . 709 H/1309 M) sebelumnya bahwa sabar merupakan tenangnya sikap dan juga jiwa seseorang ketika mendapat musibah. Sikapnya tersebut juga mengajarkan bahwa setiap jiwa yang bernyawa pasti merasakan kematian, dan hal ini sejalan dengan penjelasan Ibn AoAthaillah . 709 H/1309 M) bahwa tidaklah setiap napas yang dihembuskan melainkan ada takdir yang telah ditetapkan atas diri itu. 15 Lebih lanjut beliau menjelaskan ketika seorang salik telah menyadari baiknya pilihan Allah swt. baginya, ia akan 13 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 14 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 15 Ahmad bin Muhammad bin AoAbdul Karim bin AoAthaillah al-Sakandari. Syarh Al-Hikam (Jeddah: Al-Haramain, 2. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 merasa yakin bahwa Dia tidak akan pernah menghukumi hamba-Nya untuk menderita. Melainkan penderitaan yang Allah swt. berikan kepada seorang salik merupakan karunia serta anugerah yang akan datang sesudahnya. 16 Hal ini tertuang dalam firman Allah taAoala: aA aI aI EaIA a AC aOEaIa a aU NI ENA AOA acEE A a AaUIA a AA a a O a aNaI a a A a AaI aIaEaI aUIa aO aI aIa NA a aU aIEA AOIA AuApa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Ay (Q. S an-Nahl : . 17 AuKetika mengetahui kampung halamannya musnah. Mereka berdua pulang melihat kampung halamannya musnah akibat tsunami melanda. Kotanya tidak bersisa. Abi meneruskan langkahnya menuju bekas rumahnya. Delisa mengikuti. Rumahnya benarbenar tidak ada lagi. Lama Delisa hanya duduk di atas ayunan. Tidak bergerak. Allah, kenangan itu mulai kembali semua di kepalanya, menusuk-nusuk hatinya. Ayunan tersebut sempurna terdiam. Delisa tertunduk. Abi Usman sedang berbincang dengan Koh Acan dan Teuku Dien. Mereka kemudian mendekati Delisa dan mengusap kerudungnya. Delisa hanya tersenyum. AuKita malam ini tidur di tenda darurat. Sayang!Ay Abi mendekatinya. Delisa hanya diam. Siang itu mereka mendatangi tenda darurat. Delisa mengenali satu-satu ibu-ibu yang sedang memasak di dapur Ibu-ibu itu juga mengenali Delisa, dulu mereka bertetangga. Mereka satupersatu memeluk Delisa. Beberapa ada yang menangis. AuSabar. anakku! Allah akan membalas semua kesabaran dengan pahala yang besar. Ay Kalimat itu sering diajarkan Ustadz Rahman. Delisa hanya tersenyum nyengir dalam pelukan. Ay18 Beberapa penggalan redaksi di atas mencerminkan sikap sabar Delisa serta ayahnya Abi Usman yang luar biasa ketika harus menghadapi cobaan yang demikian berat. Tenangnya sikap yang ditunjukkan oleh mereka berdua tersebut berbanding lurus dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Ibn AoAthaillah . 709 H/1309 M) bahwa sabar adalah tetapnya perilaku baik ketika tertimpa musibah,19 dan Dzun Nun al-Mishri bahwa sabar merupakan sikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan. 16 Ahmad ibn Muhammad ibn AoAbdu al-Karim ibn AoAthaillah al-Sakandari. Al-Tanwir fi Isqath Al- Tadbir (Kairo: Maktabah Al-Azhar li Turats, 2. , h. 17 Kementrian Agama Republik Indonesia. Al-QurAoan dan Terjemah (Jakarta: JamiAoat Khadam AlQuran Al-Karim, 2. , h. 18 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 19 Abu al-Qasim AoAbdu al-Karim Hawazin al-Qusyairi al-Naisaburi. Al-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm Al-Tashawwuf ( Kairo: Dar Al ShuAoab, 1. , h. 20 Abu al-Qasim AoAbdu al-Karim Hawazin al-Qusyairi al-Naisaburi. Al-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm Al-Tashawwuf. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Tawakkal AuSetelah ombak tsunami yang menggulung gadis kecil itu. Delisa akhirnya siuman, namun ia tidak bisa bergerak, kaki kanannya hingga ke betis sempurna terjepit di selasela dahan semak. Tubuh mungilnya terbaring dengan bagian sebelah kiri menyentuh Kaki kirinya hancur, sementara kaki kanannya menggantung tidak berdaya. Muka Delisa biru lebam, sekujur tubunya penuh baret dan luka, sisa guratan bendabenda yang menghantam tubuhnya sepanjang terseret gelombang tsunami. Tubuh itu sudah sama sekali tidak mirip manusia, biru membengkak mengerikan. Tetapi Delisa masih hidup. Sepanjang hari tubuhnya terpanggang oleh teriknya sinar matahari, semakin hari semakin mengenaskan. Tujuh hari tujuh malam sudah ia terkapar. Delisa memang benar-benar berada di situasi yang tidak terelakkan, ia hanya bisa berserah diri kepada Allah dengan segala kondisinya yang seperti ini, menunggu bantuan datang, menunggu keajaiban datangAy21 Orang beriman akan selalu berserah diri kepada Allah atas segala sesuatu yang di luar kemampuan seorang hamba dan menjadikan-Nya sebagai pelindung. Seperti dalam firman Allah taAoala sebagai berikut : AEaO NA A NA u acEEa Aa EUa a aO NE aE E aI aIIaOIA a AacEEa EaIa Na aO aI OEa OIa o aOA a a ACaE ENI U aUaIa ua NacE aI aEA AuKatakanlah (Muhamma. Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkal orang-orang yang Ay (Q. S al-Taubah : . 22 Penggalan redaksi di atas menunjukkan nilai tawakkal yang tercermin dari sikap Delisa pasca tsunami yang menimpa dirinya. Ketika mengetahui dirinya terdampar dengan kondisi tubuhnya yang penuh dengan luka, ia hanya bisa berserah kepada Allah swt. , karena bagi Delisa hanya Dia satu-satunya yang bisa menolongnya pada saat itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain berserah kepada Allah swt. , dimana hal itu sejalan dengan penjelasan Imam Al-Ghazali . 505 H/111 M) bahwa tawakkal menyerahkan atau mewakilkan segala urusan yang di luar kemampuan dengan penuh kepercayaan dan sepenuh hati kepada yang diserahkan, yakni kepada Allah swt. RidhaAo Ausetelah melihat kondisi kampungnya yang begitu parah rata dengan tanah, ditambah dengan kondisi Delisa sekarang yang harus menerima kehilangan satu kakinya, ia merasa bahwa kehidupan harus tetap berjalan. Bagi Delisa semua ini telah berlalu, hari 21 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 22 Kementrian Agama Republik Indonesia. Al-QurAoan dan Terjemah. , h. 23 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi. Mukhtasar Ihya AoUlum al-Din. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 lalu sudah tutup buku, ia siap meneruskan kehidupan. Tidak ada yang perlu dicemaskan, tidak ada yang perlu ditakutkan, selama ia punya Allah dan Abi yang Delisa sudah menerima segala apa yang telah menimpanyaAy24 Sikap ridhaAo yang tergambar dalam redaksi tersebut yakni ketika Delisa pulang ke tempat asalnya. Lhok Nga, setelah berminggu-minggu dirawat di rumah sakit Kapal Induk. Ia melihat keadaan kampungnya yang berantakan, luluh lantak akibat tsunami yang Hal ini jelas berbanding lurus dengan apa yang dijelaskan oleh al-Qusyairi . 465 H/1073 M) bahwa ridhaAo merupakan sikap penerimaan terhadap musibah atau cobaan yang menimpa. AuAbi bergetar mendekati ranjang Delisa, gemetar menjulurkan kedua tangannya. Delisa tanpa menunggu, beringsut memeluk. Berguguran pertanyaan itu. Delisa bahkan lebih tabah dengannya. Dia bahkan lebih tegar dengannya. Tidak ada rona sedih di sana. AuAb-i. A-b-i. Ay Delisa masih berseru-seru senang. Kerudung birunya terlepas memperlihatkan kepala botaknya. Abi menelan ludah. Melepas pelukan. Mengusap lembut kepala delisa. Aukaki. kaki Delisa dipotong. Bi!Ay Delisa menyeringai. AuGigi. Delisa lepas dua. Bi!Ay AuSiku. siku Delisa dibungkus. Bi!Ay Abi mengeluh semakin dalam. Ya Allah, pemandangan ini sungguh menyakitkan, teramat sakit menusuk hatinya. Bagaimana mungkin bungsunya yang cantik bagai putri dipenuhi parut luka, dan yang membuat hatinya bagai diaduk-aduk. Delisa ringan saja menyampaikan semua berita itu. Melapor layaknya itu merupakan hal yang biasa, tidak berkeberatan sedikitpun atas keputusanMu. Ay25 Penggalan redaksi di atas mencerminkan nilai ridhaAo seperti apa yang telah dijelaskan oleh al-Ghazali . 505 H/111 M) yakni hilangnya rasa atau tidak merasakan kepedihan atas musibah atau cobaan yang menimpa. Hal ini terlihat ketika Delisa menceritakan segala kejadian serta keadaan yang menimpanya dengan tanpa beban kepada ayahnya. Abi Usman. Sikap seperti Delisa merupakan sikap yang luar biasa yang bisa dimiliki oleh anak seusianya. AuHari menjelang sore. Delisa dan Abi pergi ke kuburan massal. Tempat keluarga mereka dikuburkan. Auyang mana kuburan Kak Fatimah. Bi?Ay Delisa memandang lapangan tersebut. Bingung. Abi menggeleng, menggenggam erat tangan Delisa. AuAbi tidak tahu yang mana kuburannya. Sayang. Mereka menguburkan semuanya di sini. Dalam satu lubang yang besar. Kak Fatimah. Kak Zahra. Kak Aisyah. Tiur. Ummi Tiur. Kakak-kakak Tiur. Ibu Guru NurAy Abi menelan ludah. Terhenti. Daftar itu akan panjang jika diteruskan. Delisa menunduk. Meletakkan bunga-bunga dan kurknya. Aukalau sebanyak itu, berarti Kak Fatimah. Kak Zahra dan Kak Aisyah tidak akan 24 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 25 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kesepian di sana. Bi. Ay Abi Usman tersenyum pahit mendengar kalimat AuringanAy Delisa sungguh tidak sedih dengan kepergian mereka. Delisa tidak sedih karena itu. Hari-hari terakhir, dengan menyaksikan banyak kehilangan. Delisa sudah mulai mengeti soal itu. Mata-mata Delisa mulai berkaca-kaca. Berusaha tetap terkendali. Delisa tertunduk. Setelah lama terdiam. Delisa ingat sesuatu. AuNisan?Ay Lemah jemari Delisa menggapai ranting yang tergeletak di depan kakina. Lantas pelan-pelan Delisa menulis nama-nama Kak Fatimah. Kak Zahra. Kak Aisyah. Abi Usman menghela nafas panjang melihat apa yang dilakukan putri bungsunya. Ay26 Beberapa penggalan redaksi tersebut di atas mencerminkan sikap ridhaAo yang luar biasa dari Delisa dan ayahnya. Terlihat mereka telah kehilangan banyak sekali dari mulai teman-teman, keluarga, sampai tempat tinggal. Kehilangan rumah, sekolah, orang-orang yang sering mendukungnya, dan segalanya. Namun mereka menganggap semua kepergian itu dengan sederhana. Tidak ada penolakan dan juga tidak ada pengingkaran. Hal ini sejalan dengan penjelasan Imam Al-Ghazali . 505 H/111 M) bahwa ridhaAo merupakan sebuah sikap penerimaan segala keputusan Allah, baik menyenangkan ataupun menyedihkan, dengan tidak memprotes terhadapnya,27 serta penjelasan al-Qusyairi . 465 H/1073 M) ialah sebuah ketentraman hati terhadap segala ketentuan dan keputusan Allah. Mahabbah AuGelombang tsunami sudah menghantam bibir pantai Lhok Nga. Delisa tidak melihat betapa menggetarkan sapuan gelombang raksasa itu. Delisa mendengar suara mengerikan itu, tetapi ia sedang khusyuk. Dia ingin menyelesaikan bacaan shalatnya dengan baik. Dia tidak peduli dengan yang terjadi, ia hanya ingin mempersembahkan bacaan shalatnya yang sempurna untuk pertama kalinya kepadaMu. Delisa ingin khusuk. Delisa ingin Satu. Ay29 Pada penggalan tersebut terlihat kecintaannya kepada Allah swt. lewat kekhusyuAoan bacaan shalat tersebut. Dia tidak bergeming sedikitpun ketika sebelumnya serpihan kaca yang menggores lengan kirinya hingga berdarah yang diakibatkan gempa dahsyat yang Sikapnya yang teguh membuat apapun yang di sekitarnya tidak bisa menjadi penghalang Delisa untuk menyelesaikan bacaan shalatnya. Dalam tradisi sufi, keteguhan 26 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 27 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali al-Thusi. Mukhtasar Ihya AoUlum al-Din. , h. 28 Suteja. Tokoh Tasawuf dan Ajarannya (Cirebon: Nurali Press, 2. , h. 29 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 sikap dan hati menjadi salah satu jalan dalam mencapai makrifat. Sikap yang kuat dan teguh hanya akan tumbuh dari qalbu yang terbebas dari kesusahan dan keresahan. AuSudah tujuh hari tujuh malam ia terkapar. Ingatannya perlahan mulai pulih, kesadarannya mulai kembali . aat sebelumnya ia hanya bisa melihat samar keluarga dan teman-temannya pergi meninggalkan dia menuju gerbang taman yang indah it. Delisa ingat ia sedang menghafal bacaan shalat saat semua itu terjadi. Saat tubuhnya terseret derasnya arus air. Delisa tiba-tiba menyadari sesuatu, tubuhnya gemetar. Ya Allah. Delisa mau shalat sekarang. Delisa ingin menyetor hafalan itu langsung kepadaMu. Delisa menggerak-gerakkan jemarinya, ia ingin mengulang hafalan bacaan shalat itu, di tengah-tengah hujan deras ini langsung kepadaMu. Gemetar bibirnya mengucap takbiratul-ihram. Ay31 Di sini terlihat bahwa sikap seorang anak kecil yang hanya ingin menyelesaikan bacaan shalatnya dikarenakan besarnya rasa cinta dia kepada Allah swt. Hal pertama yang dipikirkannya ialah hanya ingin menyelesaikan bacaan shalat tersebut, di samping harus mencari bantuan untuk kondisinya yang sudah terdampar selama seminggu. Ini merupakan rasa cinta yang luar biasa. Dalam ruang lingkup tasawuf, cinta seorang sufi ialah mendahulukan Kekasihnya daripada semua yang menyertainya. Bagi al-Qusyairi . H/1073 M) cinta ibarat sebuah tempat yang berisi air. Tempat tersebut penuh dengan air sehingga tidak ada lagi ruang untuk yang lainnya. AuDelisa melihat Abinya yang sedang menangis di tengah malam. Abi Usman yang hanya tertunduk di atas sajadah. Delisa bergetar melangkah. Lantas memeluk leher Abi dari Abi menoleh, sedikit terkejut. AuMaafkan Abi, kamu jadi terbangun. Ay AuAbi sedang apa?Ay Delisa bertanya. Abi hanya diam. AuAbi ingat Ummi, ya?Ay Abi tersenyum AuAbi ingat Kak Fatimah, ya?Ay AuAbi ingat Kak Zahra dan Kak Aisyah, ya?Ay Abi hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. AuAbi. Ay Delisa berkata lemah. Tersendat. AuAbi. Abi. Delisa cinta Abi karena Allah!Ay kalimat itu meluncur saja dari mulut Delisa. Meluncur dari hati Delisa tanpa tertahankan. Abi tergagap. Ya Allah, gadis kecilnya mengatakan kalimat itu. Kalimat indah itu, kalimat yang melelehkan AuAbi juga cinta Delisa karena AllahAy Bergetar bibir Abi Usman menguntai Hanya itu yang bisa ia katakan. Hati Abi Usman terlanjur mencair oleh perasaan Bungsunya benar-benar mengajarkan hakikat cinta yang sesungguhnya. 30 Abdul Qadir Al-Jailani. Sir Al-Asrar (Damaskus: Dar Sanabil, 1. , h. 31 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 32 Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi Al-Naisaburi. Ar-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm AlTashawwuf. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Mengajarkan hakikat perasaan yang sesungguhnya. Ketika semuanya tumbuh hanya karenaMu, ketika semua terjadi hanya karenaMu. Ay33 Melalui beberapa penggalan redaksi di atas memperlihatkan nilai mahabbah yang sejalan dengan penjelasan para sufi bahwa kecintaan seorang hamba hanyalah kepada Allah Hakikat cinta yang dimiliki oleh seorang hamba kepada Allah swt. lebih besar dibanding kecintaannya terhadap apapun yang dimilikinya, lebih besar terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh al-Qusyairi . 465 H/1073 M) bahwa cinta ibarat sebuah tempat yang berisi air, tempat tersebut penuh dengan air sehingga tidak ada lagi ruang untuk yang lainnya, 34 serta penjelasan Ibnu al-Jauzi . 597 H/ 1201 M) mengenai empat tingkatan mengenai mahabbah, yang tertinggi ialah mencintai Allah swt. , kemudian mencintai seseorang yang cinta kepada Allah swt. mencintai seseorang karena Allah swt. , dan mencintai seseorang yang bersama Allah swt. Syukur AuSetelah berhari-hari Abi Usman mencari kabar mengenai anggota keluarganya yang terisisa, ia melihat sebuah daftar korban tsunami yang di dalamnya terdapat nama anak bungsunya. Delisa. Kemudian ia menghampiri prajurit Amerika itu yang diketahui bernama Salam dan menanyakan bagaimana cara kesana. Prajurit Salam lantas menanyakan siapa dan punya hubungan apa dengan ajaib ini. Abi pun menjawab bahwa dia adalah ayah dari anak itu. Hati prajurit Salam gentar seketika. Beberapa detik kemudian refleks kepala prajurit Salam menunduk dan mencium taAodzim tangan Abi Usman. Saat itu juga Abi segera menumpang helikopter Super Puma. Perjalanan satu setengah jam menuju kapal induk yang membuang sauh di lautan Aceh terasa seperti satu setengah abad. Hatinya buncah. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan semua kebahagiaan itu. AuYa Allah, syukur alhamdulillah, akhirnya keajaiban itu ada. Ay ucap Abi UsmanAy36 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia syukur berarti rasa terima kasih kepada Allah Secara terminologi syukur bermakna sebuah sikap penerimaan dengan gembira atas segala anugerah yang diberikan oleh Allah swt. Al-Syibli . 334 H) mengatakan makna 33 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 34 Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi Al-Naisaburi. Ar-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm AlTashawwuf. , h. 35 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Raudhat Al-Muhibbin Wa Zahrat Al-Musytaqqin (Kuwait: Dar AoAlim alFawaid, t. ), h. 36 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. 37 Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 syukur ialah melihat kepada Sang Pemberi nikmat dan bukan pada kenikmatan tersebut. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam ruang lingkup tasawuf, para sufi menggunakan syukur sebagai cara mereka untuk mengenal Allah swt. melalui segala nikmat dan/atau cobaan yang diterima oleh mereka. 39 Al-Ghazali . 505 H/1111 M) menjelaskan kewajiban seorang hamba terhadap nikmat Allah swt. ialah bersyukur atasnya, karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Sikap syukur yang tercermin oleh Abi Usman merupakan syukur bil lisan, yakni syukur dengan ucapan. Al-Qusyairi . 465 H/1073 M) menjelaskan syukur terbagi menjadi tiga hal: . Syukur dengan lisan, yakni bersyukur dengan mengucapkan kalimat thoyyibah. Syukur dengan badan, yakni bersyukurnya orang yang beribadah. Syukur dengan hati, yakni bersyukurnya ahli maAorifat dengan senantiasa berdzikir kepada Allah swt. AuSetelah Delisa pulang dari kuburan masal, tubuhnya seketika demam. Suhu tubuhnya meningkat drastis. Abi Usman lantas meminta bantuan kepada Ubai untuk membawa Delisa ke dokter PMI. Delisa semakin kejang dalam pangkuan Ubai, matanya mendelik menatap langit-langit ruangan. Butuh beberapa perawat yang menangani. Abi Usman berkali-kali mendesah menyebut asmaMu. Istighfar. AuKalaulah Engkau baik saat itu menjaga Delisa Ya Allah, menjaganya dari selaksa air bah, maka tidak ada sulitnya bagi Engkau akan baik pula saat ini, hamba mohon. Ay Abi Usman tertunduk menghadap dinding UGD, sungguh-sungguh mendesahkan doAoa. Satu jam kemudian dokter keluar dari ruangan UGD. AuBagaimana?Ay Abi Usman gemetar memegang lengan Dokter Peter. Bertanya dengan amat gentar. AuPuji Tuhan, panasnya sudah mereda. Demamnya sudah turun. Usman! Tuhan memang selalu bersama anak-anak. Ay Dokter Peter menyeringai riang. Abi tertunduk. memujiMu. Aualhamdulillah. Ay Sujud syukur, matanya Ia takut sekali. Abi Usman lirih mengucap syukur. Ay42 Nilai syukur bil lisan tercermin pada penggalan tersebut, dan hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh al-Qusyairi . 465 H/1073 M). Terlihat Abi Usman bersyukur setelah mengetahui kondisi Delisa yang membaik setelah demam yang amat parah menimpa 38 Abu Al-Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi Al-Naisaburi. Al-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm Al-Tashawwuf. , h. 39 Abu Ismail Abdullah Al-Anshari Al-Harawi. Manazil Al-Sairin (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1. , h. 40 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali al-Thusi. Minhaj Al-AoAbidin ila Jannat Rabbi al-AoAlamin . , h. 41 Abu Al-Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi Al-Naisaburi. Al-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm Al-Tashawwuf. , h. 42 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 bungsunya tersebut. Perasaan akan takut kehilangan anggota keluarganya menjadi sebab sikap kekhawatirannya. Melalui beberapa penggalan redaksi di atas terlihat nilai syukur yang ditunjukkan lewat sikap Abi Usman yakni syukur bi lisan, yaitu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. dengan mengucapkan kalimat hamdalah. Seperti ketika Abi Usman bersyukur mendapat tumpangan untuk menemui anak bungsunya Delisa dan juga ketika ia bersyukur mengetahui kondisi Delisa sudah normal setelah terkena demam parah. Sikapnya tersebut sesuai dengan yang dijelaskan oleh al-Qusyairi . 465 H/1073 M) bahwa syukur terbagi menjadi tiga hal: . Syukur dengan lisan, yakni bersyukur dengan mengucapkan kalimat thoyyibah. Syukur dengan badan, yakni bersyukurnya orang yang beribadah. Syukur dengan hati, yakni bersyukurnya ahli maAorifat dengan senantiasa berdzikir kepada Allah swt. Taubah AuKetika Delisa bertemu Ummi Salamah di alam mimpi, ia sangat ingin untuk tinggal di Namun Ummi tidak memperbolehkannya karena belum waktunya ia tinggal di sana, terlebih lagi ada hafalan bacaan shalat yang harus Delisa tuntaskan. Delisa Ia ingin untuk tinggal bersama Umminya. Sebelum Delisa sempat protes lagi. Ummi tiba-tiba mengambil sesuatu dari langit-langit dengan tangan kanannya. Sebuah kalung yang indah nan elok. Kalung yang pernah dijanjikan untuknya. Seketika Delisa ingat. Seketika Delisa paham. Seketika Delisa menyadarinya. AuYa Allah, apa yang telah diperbuat selama ini. Ay Delisa jatuh terduduk. Ia menangis. Semua keburukan itu terngiang di kepalanya. AuYa Allah. Delisa jahat sekali. Ay Tergugu mengakui. Ia menipu Ummi hanya untuk sebatang cokelat. Ia juga pernah menipu Abi. Menipu Kak Fatimah. Kak Zahra, juga Kak Aisyah. AuYa Allah Delisa juga sering menipu Tiur. Ustadz Rahman. Ibu Guru Nur. Delisa lebih jahat dibanding siapapun. Dan sekarang. Delisa menipuMu Ya Allah. Delisa hanya menghafal bacaan shalat itu demi seuntai kalung. Ay AuDelisa tidak ingin lagi kalung itu. Delisa hanya ingin hafal shalatnya. Ay Kemudian tidak lama ia terbangun. Sekarang ia bisa merangkaikan semua kejadian itu menjadi sebuah penjelasan yang indah. Sebuah pemahaman yang baik, dan jawaban atas semua AuDelisa menyesal. Ya Allah. Ay Ia tersungkur di atas ranjangnya penuh AuSungguh. Delisa menyesal. Ay44 Berdasarkan redaksi di atas, penyesalan yang dilakukan Delisa tersebut sejalan dengan penjelasan Imam Al-Ghazali . 505 H/1111 M) bahwa rasa sesal di dasar hati akan 43 Abu Al-Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi Al-Naisaburi. Al-Risalah Al-Qusyairiyah fi 'Ilm Al-Tashawwuf. , h. 44 Tere Liye. Hafalan Shalat Delisa. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 mengarahkan seorang hamba kepada sikap selalu memohon dan merendahkan diri di hadapan Allah swt. Terlihat bahwa sebuah sikap penyelasan yang ditunjukkan oleh Delisa. Hal ini merupakan sikap yang luar biasa mengingat Delisa merupakan anak gadis berusia 6 tahun, sudah mengerti sesuatu mengenai yang haq dan yang bathil. Sudah menyadari bahwa perbuatan yang pernah dilakukannya dulu merupakan perbuatan yang tidak pantas, dan hal tersebut menjadi sebab rasa penyesalan yang teramat dalam bagi Delisa. Menyesali dosa adalah sebab dari tumbuhnya taubah dan hal tersebut merupakan sifat-sifat dari orang yang Tasawuf dalam Kehidupan Masyarakat Nilai-nilai sufistik memiliki urgensi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Nilai sabar menjadi penahan jiwa untuk senantiasa menerima serta dapat menahan segala cobaan dan juga musibah. Penerapan nilai tawakkal menjadi bekal dalam tenangnya hati ketika menghadapi sesuatu di luar kemampuan. RidhaAo mengajarkan arti makna takdir, bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah swt. , serta memahami bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Mahabbah memberi pemahaman bahwa tidak diperbolehkan ada cinta yang lebih besar daripada cinta kepada Allah swt. , dan syukur mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya materi, akan tetapi terletak pada kepuasan hati terhadap segala sesuatu yang dimiliki. Pentingnya penerapan nilai taubah pada kehidupan modern ialah sebagai pembatas jiwa terhadap segala yang telah Ketika mengetahui bahwa diri telah melampaui batas, taubah menjadi jalan Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, jiwa akan tenang dalam menjalani kehidupan, khususnya di era modern yang serba klise, zaman dimana menjadi samar di dalamnya yang haq dan yang bathil. Maka dengan begitu tasawuf beserta ajarannya hadir sebagai guidance bagi masyarakat modern. Kesimpulan Penggalan-penggalan redaksi yang ada pada novel Hafalan Shalat Delisa terbukti mengandung nilai-nilai sufistik, dan hal tersebut juga diperkuat dengan sejalannya nilai-nilai 45 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali al-Thusi. Minhaj Al-AoAbidin ila Jannat Rabbi al-AoAlamin. , h. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 11, nomor . April, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 tersebut dengan teori-teori yang dijelaskan oleh para sufi. Nilai-nilai sufistik tersebut mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat modern. Hal tersebut disebabkan banyaknya kejadian atau musibah yang terjadi, ditambah adanya krisis spiritual pada era modern, menjadikan tasawuf berserta ajaran dan nilai-nilainya hadir sebagai jawaban terhadap permasalahan masyarakat modern melalui pembinaan akhlak. DAFTAR PUSTAKA