109 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 Guru sebagai Front Liner: Menghadapi Tantangan dan Permasalahan Siswa di Era Modern Risma Niswaty1. Muh. Darwis2. Novayanti Sopia Rukmana3 Universitas Negeri Makassar1,2,3,4,5 Email: risma. niswaty@unm. Abstrak. Dalam era modern yang penuh dengan tantangan dan perubahan, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai front liner yang menghadapi berbagai permasalahan siswa. Artikel ini membahas tentang peran guru dalam menghadapi tantangan dan permasalahan siswa, termasuk masalah akademik, sosial, dan emosional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus, artikel ini menyoroti bagaimana guru dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk mendukung perkembangan siswa dan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Selain itu, artikel ini juga membahas tentang pentingnya pelatihan dan dukungan profesional bagi guru dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang peran guru sebagai front liner dan memberikan kontribusi pada pengembangan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan efektif. Kata kunci: Guru. Front Liner. Tantangan Siswa. Permasalahan Siswa. Era Modern PENDAHULUAN Pendahuluan dalam artikel pengabdian masyarakat mencakup beberapa poin penting untuk memberikan latar belakang, urgensi, dan tujuan dari kegiatan pengabdian yang dilakukan. Pelaksanaan program PKM ini bermitra dengan SMAN 1 Majene yang terletak di Jl. KH. Daeng. Labuang. Kecamatan Banggae Tim. Kabupaten Majene. Sulawesi Barat. Gambar 1. Pelaksana dan pimpinan mitra PKM Guru sebagai Front Liner: Menghadapi Tantangan dan Permasalahan Siswa A. Kondisi UKM mitra ketika kegiatan diajukan sebagai berikut: Identifikasi Dini Masalah: Seiring dengan berkembangnya berbagai masalah yang dihadapi siswa, guru perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi isyarat awal perubahan perilaku atau masalah secara dini. Peningkatan kompetensi melalui pelatihan frontliner akan memberikan guru alat dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi potensi masalah lebih akurat. Pendekatan Holistik dalam Penanganan Kasus: Kasus-kasus siswa tidak bisa dipahami secara terpisah. Para guru melibatkan aspek-aspek kehidupan siswa yang saling terkait, seperti akademis, sosial, dan emosional. Peningkatan kompetensi melalui pelatihan frontliner akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada guru tentang pendekatan holistik dalam menanggapi masalah siswa. Keterampilan Komunikasi yang Efektif: Pelatihan frontliner perlu memberikan perhatian khusus pada pengembangan keterampilan komunikasi guru. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif menjadi kunci dalam menangani kasus-kasus Guru perlu dapat menyampaikan informasi dengan baik kepada siswa, orang tua, dan staf sekolah. Pemahaman Mendalam tentang Kesehatan Mental Siswa: Menghadapi masalah psikologis pada siswa menuntut pemahaman mendalam tentang kesehatan mental. Pelatihan frontliner dapat menyediakan wawasan dan strategi yang diperlukan untuk membantu siswa yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi. Guru yang terlatih dapat menjadi sumber dukungan efektif bagi siswa dalam mengatasi tantangan mental. Penanganan Kasus Sensitif dan Kompleks: Kasus-kasus yang melibatkan aspek sensitif dan kompleks seperti penyalahgunaan narkoba, bullying, atau tawuran memerlukan pendekatan khusus. Pelatihan frontliner dapat memberikan panduan etika dan strategi penanganan kasus yang sesuai. Guru yang terlatih dengan baik dapat menangani situasi tersebut secara bijaksana dan efektif. Kabupaten Majene menghadapi tantangan serius terkait dengan meningkatnya kasus pelanggaran disiplin, tawuran, penyalahgunaan narkoba, bullying, dan masalah psikologis pada siswa tingkat SMA/SMK. Fenomena ini menciptakan atmosfer yang tidak kondusif untuk pembelajaran dan perkembangan siswa, serta menunjukkan perlunya intervensi yang Kasus pelanggaran disiplin, termasuk ketidakhadiran berulang, penggunaan pakaian seragam yang tidak sesuai, atau perilaku tidak pantas lainnya, menjadi salah satu permasalahan yang menghambat proses pembelajaran. Dampaknya dapat merugikan bagi seluruh komunitas sekolah, menciptakan lingkungan yang tidak fokus pada pembelajaran. Tawuran antar siswa juga menjadi ancaman serius yang memerlukan perhatian serius. Konflik ini tidak hanya mengancam keamanan fisik siswa tetapi juga menciptakan ketegangan yang dapat memengaruhi kesejahteraan emosional para guru. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah eskalasi dan menciptakan lingkungan belajar yang aman. Peningkatan jumlah kasus pelanggaran disiplin, tawuran, penyalahgunaan narkoba, bullying, dan masalah psikologis pada siswa SMA/SMK di Kabupaten Majene menandai sebuah tantangan serius dalam dunia pendidikan. Salah satu akar permasalahan yang perlu diatasi 111 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 adalah belum optimalnya kapasitas dan keterampilan guru dalam menghadapi kompleksitas kasus-kasus tersebut. Sejumlah teori dan sumber referensi mendukung pemahaman akan kepentingan peningkatan kualifikasi guru dalam merespon berbagai permasalahan siswa. Model penanganan kasus siswa memberikan landasan bagi pendekatan sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menangani masalah siswa secara holistik (Geldard & Geldard, 2. Integrasi model ini dalam pelatihan guru memungkinkan pengembangan pendekatan yang terkoordinasi dalam menanggapi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh METODE PELAKSANAAN Dalam rangka merealisasikan kegiatan PKM, pelaksana kegiatan bekerjasama dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat dengan ini Melaksanakan pelatihan terkait Peningkatan Keterampilan Identifikasi dan Intervensi Dini. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan simulasi, tanya jawab dan Melaksanakan pelatihan dan bimbingan terkait Peningkatan Keterampilan Komunikasi yang Efektif. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan simulasi, tanya jawab dan praktek. Melaksanakan pelatihan dan bimbingan terkait Kesiapsiagaan dalam Penanganan Kasus Sensitif dan Kompleks PELAKSANAAN DAN HASIL DAN KEGIATAN Kegiatan pengabdian dilaksanakan terbagi ke dalam tiga kerangka penting dengan rincian kegiatan sebagai berikut: Melaksanakan pelatihan terkait Peningkatan Keterampilan Identifikasi dan Intervensi Dini. Pada tahapan ini tim pengabdi memberikan Pelatihan "Peningkatan Keterampilan Identifikasi dan Intervensi Dini" yang bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendeteksi tanda-tanda awal masalah psikologis, emosional, dan sosial pada siswa di lingkungan sekolah. Materi pelatihan mencakup pemahaman tentang gejala stres, kecemasan, depresi, dan perilaku berisiko pada remaja, serta teknik-teknik praktis untuk intervensi dini. Selain itu, guru belajar cara membangun komunikasi yang efektif dengan siswa, merujuk kasus yang lebih kompleks ke profesional terkait, dan menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan mental. Dengan pelatihan ini, diharapkan guru mampu menangani masalah-masalah tersebut secara lebih proaktif dan tepat waktu. Guru sebagai Front Liner: Menghadapi Tantangan dan Permasalahan Siswa A. Gambar 2. Peningkatan Keterampilan Identifikasi dan Intervensi Dini Melaksanakan pelatihan dan bimbingan terkait Peningkatan Keterampilan Komunikasi yang Efektif. Pelatihan "Peningkatan Keterampilan Komunikasi yang Efektif" bertujuan untuk mengembangkan kemampuan guru dalam berkomunikasi secara jelas, empatik, dan konstruktif dengan siswa, orang tua, serta sesama rekan kerja. Materi pelatihan meliputi teknik mendengarkan aktif, penggunaan bahasa yang tepat dalam situasi yang sensitif, serta strategi untuk mengatasi konflik dan membangun hubungan yang positif. Guru juga diajarkan cara memberikan umpan balik yang efektif dan memotivasi siswa dengan pendekatan komunikasi yang mendukung. Dengan pelatihan ini, diharapkan guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan meningkatkan keterlibatan serta pemahaman siswa. Gambar 3. Peningkatan Keterampilan Komunikasi yang Efektif Melaksanakan pelatihan dan bimbingan terkait Kesiapsiagaan dalam Penanganan Kasus Sensitif dan Kompleks. Pelatihan "Kesiapsiagaan dalam Penanganan Kasus Sensitif dan Kompleks" bertujuan untuk mempersiapkan guru menghadapi situasi yang memerlukan penanganan khusus, seperti kasus kekerasan, bullying, pelecehan, atau masalah mental yang serius di kalangan siswa. Materi pelatihan mencakup pemahaman tentang jenisjenis kasus sensitif, prosedur pelaporan yang benar, dan teknik intervensi yang tepat tanpa melanggar privasi atau memperburuk keadaan. Guru juga akan dilatih untuk mengenali batasan peran mereka dan kapan harus melibatkan profesional lain, seperti konselor atau psikolog. Dengan pelatihan ini, guru diharapkan dapat menangani kasuskasus kompleks secara bijaksana, profesional, dan sesuai dengan protokol yang ada. 113 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 Gambar 4. Penanganan Kasus Sensitif dan Kompleks KESIMPULAN Kegiatan yang telah dilakukan pada akhirnya telah melahirkan pencapaian utama, dampak positif, dan rekomendasi untuk tindak lanjut, sebagai berikut: Guru memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendeteksi tandatanda awal masalah psikologis, emosional, dan sosial pada siswa di lingkungan sekolah. Guru telah memiliki keterampilan dalam berkomunikasi secara jelas, empatik, dan konstruktif dengan siswa, orang tua, serta sesama rekan kerja. Guru telah memperoleh wawasan baru untuk menghadapi situasi yang memerlukan penanganan khusus, seperti kasus kekerasan, bullying, pelecehan, atau masalah mental yang serius di kalangan siswa. DAFTAR PUSTAKA