JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Teologi Rasional Muhammad Abduh sebagai Landasan Filosofis Pembaruan Pendidikan Islam * Muhammad Redha1. Zubaidah2 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Indonesia *Email: muhammadredha922@gmail. ABSTRACT This article examines the rational theology of Muhammad Abduh . as a philosophical foundation for the reform of Islamic education. As a leading figure in the modern Islamic reform movement. AbduhAos influence extended beyond Egypt to the wider Muslim world, including Indonesia. This study aims to analyze the central role of reason (Aoaq. in AbduhAos theological and philosophical system and its implications for the reform of Islamic thought, education, and law. Departing from his critique of the stagnation of the Muslim community characterized by intellectual rigidity . , blind imitation . , and uncritical adherence to tradition Abduh asserted that Islam is inherently compatible with sound reason and rationality. Using a qualitative library research method, based on primary sources such as RisAlat al-Tawud and relevant secondary literature, this study finds that Abduh positions reason as the main epistemological pillar for understanding moral and theological obligations, including knowledge of God. His attributes, the hereafter, and ethical responsibilities. Revelation functions as a confirmation and completion of reason, rather than as its opposite. Furthermore. Abduh strongly rejects fatalism (Jabariyya. and affirms human free will (Qadariyya. through the principles of ikhtiar and moral responsibility. These findings demonstrate that Muhammad AbduhAos rational theology not only represents a theological reform but also constitutes a philosophical foundation for a modern Islamic educational paradigm that is rational, critical, and transformative. Keywords: Rational Theology. Muhammad Abduh. Islamic Education Abstrak Artikel ini menganalisis teologi rasional Muhammad Abduh . 9Ae1905 M) sebagai landasan filosofis pembaruan pendidikan Islam. Sebagai tokoh utama gerakan pembaruan Islam modern, pengaruh Abduh tidak hanya terbatas di Mesir, tetapi meluas ke dunia Islam, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji posisi sentral akal (Aoaq. dalam sistem teologi dan filsafat pemikiran Abduh serta implikasinya terhadap reformasi pemikiran, pendidikan, dan hukum Islam. Berangkat dari kritik terhadap kemunduran umat Islam yang ditandai oleh sikap jumud, taklid, dan ketergantungan pada tradisi tanpa penalaran kritis. Abduh menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang sejalan dengan nalar sehat dan rasionalitas manusia. Melalui metode kajian pustaka terhadap karya primer seperti RisAlah al-Tauud serta literatur sekunder yang relevan, penelitian ini menemukan bahwa Abduh memposisikan akal sebagai pilar epistemologis utama dalam memahami kewajiban moral dan ketuhanan, seperti pengenalan terhadap Tuhan, sifatsifat-Nya, kehidupan akhirat, dan kewajiban etis manusia. Wahyu dipahami sebagai konfirmasi dan penyempurna fungsi akal, bukan sebagai entitas yang bertentangan Selain itu. Abduh menolak paham fatalisme (Jabariya. dan menegaskan konsep kebebasan berkehendak (Qadariya. melalui prinsip ikhtiar dan tanggung jawab JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. moral manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa teologi rasional Muhammad Abduh tidak hanya berfungsi sebagai pembaruan teologis, tetapi juga membentuk fondasi filosofis bagi paradigma pendidikan Islam modern yang rasional, kritis, dan transformatif. Kata Kunci: Teologi Rasional. Muhammad Abduh. Pendidikan Islam *** PENDAHULUAN Dalam kajian keislaman terdapat berbagai bidang ilmu dan pemikiran, salah satunya adalah bidang teologi. Salah satu ciri pemikiran teologi modern adalah teologi Banyak para pemikir Islam yang membahas tentang teologi ini, salah satu dari sekian banyak pemikir rasional itu adalah Muhammad Abduh. Dia adalah seorang tokoh salaf, tetapi tidak menghambakan diri pada teks-teks agama. Ia memegangi teks-teks agama tapi dalam hal ini ia juga menghargai akal. Risalah al-Tauhid adalah karya terbesarnya yang membahas tentang konsep teologinya itu. (Halim & Masykuri, 2. Dalam sejarah pembaharuan Islam Muhammad Abduh adalah salah seorang pemimpin yang penting. Pemikirannya meninggalkan pengaruh, tidak hanya di tanah airnya Mesir dan dunia Arab lainnya di Timur Tengah, tetapi juga di dunia Islam lain, termasuk Indonesia di Asia Tenggara. Umumnya disebut bahwa pembaharuan dalam Islam di Indonesia timbul atas pengaruhnya. (Rz. Ricky Satria Wiranata, 2. Muhammad Abduh dikenal sebagai bapak peletak aliran modern dalam Islam karena kemauannya yang keras untuk melaksanakan pembaharuan dalam Islam dan menempatkan Islam secara harmonis dengan tuntutan zaman modern dengan cara kembali kepada kemurnian Islam (Donohue & Esposito, 1. Muhammad Abduh adalah seorang tokoh yang menempatkan akal pada kedudukan yang sangat tinggi, sehingga corak pemikiran teologinya adalah bersifat rasional. Menurutnya. Islam adalah agama yang rasional, agama yang sejalan dengan akal, bahkan agama yang didasarkan atas akal. Maka penulis menganggap perlu adanya pembahasan yang baik dan bagus tentang teologi rasional Muhammad Abduh tersebut. Dalam lanskap kajian keislaman kontemporer, teologi rasional muncul sebagai respons terhadap tantangan modernitas. Muhammad Abduh, seorang ulama dan reformis dari Mesir, memainkan peran penting sebagai "bapak peletak aliran modern dalam Islam". Pemikirannya tidak hanya meninggalkan jejak di tanah kelahirannya, tetapi juga menyebar luas dan memengaruhi dunia Islam lain, termasuk di Indonesia (Said, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Latar belakang kemunduran umat Islam, yang ditandai oleh sikap jumud . dan ketergantungan pada tradisi tanpa penalaran kritis, mendorong Abduh untuk menawarkan solusi radikal namun tetap berakar pada sumber asli Islam. Ia mengadvokasi kembalinya kemurnian Islam dengan menempatkan akal pada kedudukan yang sangat tinggi, sebuah pendekatan yang mirip dengan kaum Mu'tazilah, namun dengan penekanan pada keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Artikel ini akan menguraikan bagaimana metodologi studi filsafat Abduh, yang berfokus pada hubungan harmonis antara akal dan wahyu, menjadi landasan bagi proyek pembaruan Islam secara METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis kajian pustaka . ibrary researc. (Sugiyono, 2. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-analitis dan historis-filosofis, yang memungkinkan peneliti untuk menelusuri pemikiran teologi rasional Muhammad Abduh dalam konteks sejarah hidupnya serta menganalisisnya melalui kerangka filsafat Islam, khususnya dalam perdebatan antara rasionalisme dan Fokus utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara kritis peran sentral akal dan wahyu dalam sistem teologi Abduh berdasarkan literatur yang Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah karya tulis utama Muhammad Abduh yang menjadi fokus kajian, yaitu Risalah al-Tauhid . alam edisi terjemahan yang digunakan sebagai referens. Sementara itu, sumber data sekunder mencakup berbagai literatur, buku, artikel jurnal, dan disertasi yang relevan dengan pemikiran Abduh, seperti karya dari Harun Nasution. Rasyid Ridha, dan sarjana lainnya yang tercantum dalam daftar pustaka makalah asli. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi literatur . ocumentary analysi. (Bakker, 1. Prosedur pengumpulan data meliputi identifikasi, klasifikasi, pembacaan kritis, dan pencatatan sistematis terhadap semua informasi yang berkaitan dengan peran akal dan wahyu dalam pemikiran Abduh. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis isi . ontent Langkah-langkah analisis ini meliputi reduksi data . emilih dan memfokuskan data yang releva. , penyajian data dalam bentuk deskriptif naratif yang terstruktur, dan verifikasi untuk menarik kesimpulan yang valid mengenai metodologi studi filsafat JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Abduh. Analisis ini memastikan bahwa hubungan antarkonsep, seperti hubungan akalwahyu dan sikap anti-taklid, dijelaskan secara logis dan konsisten. HASIL DAN PEMBAHASAN Riwayat Hidup Muhammad Abduh Nama asli Syekh Muhammad Abduh adalah Muhammad bin Hasan bin Hasan Khairullah. Ia lahir tahun 1849M di desa Mahallat Nasr kabupaten al-Buhairah. Mesir (Rasyid, 1. Muhammad Abduh lahir dari pasangan Abduh bin Khaiullah, seorang petani miskin dari Mahallat Nasr dan Junainah binti Uthman al-Kabir seorang janda dari keturunan terpandang di Tanta (Muhammad Abduh, 1. Muhammad Abduh lahir dalam lingkungan keluarga petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallat Nashr. Karena situasi politik yang tidak stabil menyebabkan orang tuanya menyingkir di daerah Gharbiyah, dan di sanalah ia menikah dengan ibu Muhammad Abduh. Setelah situasi politik mengizinkan orang tuanya kembali ke Mahallat Nashr dan di kota inilah ia tumbuh dan berkembang menjadi remaja. (M Faishal Khoirurrijal et al. , 2. Masa pendidikan Muhammad Abduh dimulai dengan pelajaran dasar menulis dan membaca yang ia pelajari di rumah dengan bimbingan orang tuanya sendiri. Kemudian ia menghafal Al-QurAoan dengan bimbingan seorang guru yang merupakan seorang hafizh. Dalam masa ini Muhammad Abduh telah menunjukkan kemampuannya, hanya dalam waktu dua tahun ia telah menjadi seorang hafizh yang mampu menghafal seluruh isi AlQurAoan. Pendidikan selanjutnya ditempuh di Thanta. Pada tahun 1279 H . 3 M) ia dikirim orang tuanya ke sebuah lembaga pendidikan Mesjid Ahmadi. Setelah dua tahun belajar, ia merasa tidak mengerti apaapa, di tempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan membawanya pada rasa putus asa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti yang diharapkannya. Perasaan yang demikian berpangkal dari metode pengajaran yang diterapkan di sekolah tersebut yang mana guruguru cenderung mencekoki murid-murid dengan kebiasaan menghafal istilah-istilah tentang nahwu atau fiqh yang tidak dimengerti arti-artinya, sama halnya dengan metode pengajaran yang umumnya diterapkan di dunia Islam ketika itu. Ia akhirnya lari meninggalkan pelajarannya dengan niat tidak akan kembali lagi belajar, tidak mau membaca buku-buku lagi, dan pulang ke kampungnya dan berniat bekerja sebagai petani. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Kemudian ia pun menikah pada tahun 1282 H . 6 M) dalam usia 16 tahun. Tetapi empat puluh hari setelah pernikahannya, ia dipaksa orang tuanya kembali ke Tanta. Dalam perjalanannya ke Tanta, ia lari ke desa Kanisah Urin, tempat tinggal salah seorang paman orang tuanya yang bernama Syeikh Darwisy Kadhr, yang banyak mengadakan perjalanan ke luar Mesir, belajar berbagai macam ilmu agama Islam dan pengikut tarikat Al-Syaziliah (Nasution, 1. Selama tinggal bersama Syekh Darwisy ia selalu didorong untuk kembali membaca buku. Darwisy juga berusaha membantu Muhammad Abduh memahami apa-apa yang dibacanya. Atas bantuan pamannya itu, ia akhirnya mengerti apa yang ia baca. Sejak saat itulah minat bacanya mulai tumbuh, dan ia berusaha membaca buku-buku sendiri. Syekh Darwisy membimbingnya dengan tekun untuk menumbuhkan kembali sikap cintanya pada ilmu dan mengarahkannya pada kehidupan (Ajuba, 2. Dengan semangat baru yang ditanamkan Syekh Darwisy padanya, maka pada akhir tahun 1286 H ia kembali ke Thanta untuk meneruskan pelajaran (Nawawi, 2. akan tetapi enam bulan kemudian ia kembali meninggalkan Thanta dan kemudian ia meneruskan studinya ke Al-Azhar di Cairo. Pada tahun 1869, datang ke Mesir seorang alim besar. Said Jamaluddin al-Afghani, terkenal dalam dunia Islam sebagai mujahid . , mujaddid . embaharu, reforme. dan ulama yang sangat alim. Muhammad Abduh bertemu dengan beliau untuk pertama kalinya ketika Muhammad Abduh mendatangi rumahnya dalam pertemuan diskusi tentang ilmu AutasawufAy dan AutafsirAy. Sejak itulah Abduh tertarik kepada Said Jamaluddin, oleh ilmunya yang dalam dan cara berpikirnya yang modern, hingga akhirnya Abduh mengaguminya benarbenar dan menjadi murid Jamaluddin Al-Afghani yang paling setia. Di samping diskusi-diskusi tentang ilmu-ilmu agama. Muhammad Abduh belajar juga kepada Said Jamaluddin pengetahuan-pengetahuan modern, filsafat, sejarah, hukum dan ketata-negaraan dan lainlain. Dan dari Al-Afghani ia memperoleh perubahan cara berpikir, kecintaan yang luar biasa untuk beramal bagi umat, ingin perbaikan dalam bidang agama, akhlak dan pergaulan, berjihad memutus mata rantai kekolotan dan cara-cara berpikir yang fanatik dan merombaknya dengan cara berpikir lebih maju dan kecenderungan yang sungguhsungguh untuk memperbaiki tulisantulisannya hingga mempengaruhi pendapat umum dengan jalan menulis di surat-surat kabar (Ali, 1. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Pada tahun 1877 Muhammad Abduh menyelesaikan studinya di AlAzhar dengan mendapat gelar Alim. Ia kemudian mulai mengajar di Al-Azhar, di Universitas Dar AlUlum dan juga di rumahnya sendiri. Sewaktu Al-Afghani diusir dari Mesir pada tahun 1879, karena dituduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik. Muhammad Abduh juga dipandang turut campur dalam hal ini, sehingga ia dibuang keluar kota Cairo. Tetapi pada tahun 1880 ia boleh kembali ke Cairo dan kemudian diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir Al-WaqaAoI Al-Misriah, dibawah pimpinannya surat kabar ini tidak hanya menyiarkan berita-berita resmi tetapi juga artikel-artikel tentang kepentingan-kepentingan nasional Mesir (Hawi, 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikirannya Berdasarkan uraian di atas, maka ada beberapa faktor yang dapat dianggap mempengaruhi pemikiran Muhammad Abduh termasuk dalam bidang teologi, yaitu:pertama. Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk oleh keluarga dan gurunya, terutama Syekh Darwisy dan Jamaluddin Al-Afghani. Di samping lingkungan sekolah di Tanta dan Mesir tempat ia menemukan sistem pendidikan yang tidak efektif, serta pandangan keagamaan yang statis dan pikiran-pikiran yang fatalistis. Kedua. Faktor politik, yang bersumber dari situasi politik di masanya, sejak ia hidup dalam lingkungan keluarganya di Mahallat Nashr. Dari kezaliman yang dilakukan oleh para pegawai di masa pemerintahan Muhammad Ali sampai kepada gejolakgejolak politik di Mesir disebabkan karena sistem pemerintahan yang absolute, politik rasialisme dan campur tangan asing di negeri Mesir dan ketiga. Faktor kebudayaan, berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama belajar di sekolah-sekolah formal, dari Jamaluddin AlAfghani, serta pengalaman yang ditimbanya di Barat (Lubis, 1. Dalam mengakhiri bagian ini, perlu ditegaskan, bahwa jelas terdapat beberapa pengaruh yang turut mewarnai pemikiran Muhammad Abduh. Sejak mudanya, ia telah menunjukkan kecenderungan untuk mengkaji pemikiran keagamaan yang islami dengan penalaran logis, yang berpijak pada pemahaman dan pengamatan realitas yang ada. Sebagai seorang lulusan Al-Azhar yang berpengetahuan luas dan memiliki pengalaman segudang. Muhammad Abduh terbiasa dengan penalaran logis. Penalaran logisnya itu tidak hanya terbatas dalam bidang keislaman saja, tetapi juga mencakup bidang-bidang yang menjadi perhatian masyarakat. (Asifa, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pendidikan Salah satu isu yang paling penting yang menjadi perhatian Abduh sepanjang hayat dan kariernya adalah pembaharuan pendidikan. Baginya pendidikan itu penting sekali, sedangkan ilmu pengetahuan itu wajib dipelajari, bahkan hal itu juga menjadi tujuan Ia menulis tujuan hidupnya ada dua yaitu (Rasam, 2. Membebaskan pemikiran dari ikatan taqlid dan memahami ajaran agama sesuai dengan jalan yang ditempuh ulama zaman klasik . , zaman sebelum timbulnya perbedaan-perbedaan faham, yaitu dengan kembali kepada sumber utamanya. Memperbaiki bahasa Arab yang dipakai baik oleh instansi-instansi pemerintah, maupun surat-surat kabar dan masyarakat umumnyadalam surat menyurat. Yang juga menjadi perhatiannya adalah mencari alternatif jalan keluar dari stagnasi yang dihadapinya sendiri di sekolah agama Mesir, yang tercerminkan dengan baik sekali dalam pendidikanny di al-Azhar. Dia mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing, dia juga mengkritik sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Katanya di sekolah misionaris, siswa dipaksa mempelajari Kristen sedangkan di sekolah pemerintah, siswa tidak diajar agama sama sekali. Muhammad Abduh memperjuangkan sistem pendidikan fungsional yang bukan import, yang mencakup pendidikan universal bagi semua anak, baik laki-laki maupun Semua harus punya kemampuan dasar seperti membaca, menulis dan Semuanya harus mendapat pendidikan agama yang mengabaikan perbedaan sectarian dan menyoroti perbedaan antara Kristen dan Islam. Dalam sistem Muhammad Abduh, siswa sekolah menengah haruslah mereka mempelajari syariat, militer, kedokteran atau ingin bekerja pada pemerintah. Kurikulumnya harus meliputi antara lain: buku yang memberi pengantar pengetahuan, seni logika, prinsip penalaran dan protokol berdebat. menentukan posisi tengah dalam upaya menghindarkan konflik, pembahasan lebih rinci mengenai perbedaan antara Islam dan Kristen (Nizar, 2. Berbagai dari keinginannya untuk melakukan pembaharuan secara evolusi, bukan revolusi. Ia seorang pendidik yang ingin membawa pembaharuan melalui pendidikan yang memakan waktu panjang, demi mewujudkan dasar yang kuat. (Nawawi. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Teologi Rasional Muhammad Abduh Kata rasional berasal dari kata rasio yang berarti pemikiran secara logis . asuk aka. , akal budi, nalar. Rasional berarti menurut pikiran dan pertimbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan akal. Dengan demikian teologi rasional dapat diartikan dengan teologi menurut pemikiran yang logis dan sehat. (Nizar, 2. Kebalikan dari rasional adalah tradisional, kata ini berasal dari tradisi yang berarti kebiasaan turun temurun . ari nenek moyan. yang masih dijalankan di masyarakat, penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang baik. Tradisional berarti sikap dan cara berfikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun menurut adat. Dapat disimpulkan teologi tradisional adalah teologi yang selalu berpegang teguh pada tradisi. Di samping itu teologi tradisional juga dapat diartikan dengan teologi menurut pada pemikiran yang normatif dan tekstual, yaitu pemikiran yang banyak terikat pada arti lafzhi atau harfiah dari ayat-ayat QurAoan dan Sunnah (Ridha, 2. Teologi diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut Ushul al-Din. Teologi . lmu tauhi. dalam pendapat Abduh adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifatnya dan soal Definisi ini sebenarnya kurang lengkap. Alam ini adalah ciptaan Tuhan, dan oleh karena itu, teologi disamping halhal di atas, juga membahas hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya (Nasution, 1. Muhammad Abduh berpendapat, sikap fanatik terhadap berbagai mazhab dan buku-buku yang ada secara mutlak, tidak hanya berkaitan erat dengan kelemahan kepribadian dan ilmu pengetahuan umat Islam di masa beliau, sehingga tidak lagi selaras dengan al-QurAoan dan Hadits. Tetapi berkaitan erat dengan akidah Jabariyah. Paham Jabariyah ini sama dengan taklid, penganut paham ini hidupnya tergantung kepada prinsip kebetulan . Abduh tidak rela melihat akidah Jabariyah . dianut oleh manusia, sebab melemahkan jiwa, kemauan dan peranan positif manusia. Maka. Abduh berjuang mengikis habis paham Jabariyah, agar manusia berusaha . Dalam menghadapi paham Jabariyah ini. Abduh tidak memakai cara yang dilakukan oleh seorang filosof yang mengemukakan pandangan hanya menurut satu segi pandangan tertentu. mengemukakan pandangan dengan kritik dan pandangannya seperti ahli agama yang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. berpandangan luas. Jadi dasar pemikirannya agama, tujuan yang ingin dicapainya juga tujuan agama, dan saran antara dasar dan tujuannya juga agama (AlAssidieqie, 2. Pendapat Abduh yang menyatakan bahwa manusia itu harus berikhtiar . didasarkan kepada ayat-ayat al-QurAoan, dan nash-nash lainnya, yang menyatakan balasan diakhirat sangat berkaitan erat dengan amal perbuatan yang dilakukan seseorang di dunia. Kepercayaan kepada kekuatan akal membawa Muhammad Abduh kepada paham bahwasanya manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan . ree will and free act atau qadariya. Ia menyatakan bahwa manusia mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan usahanya sendiri, dengan tidak melupakan bahwa di atasnya masih ada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (Nasution, 1. Pemberian pengertian kepada umat Islam, bahwa akal adalah nikmat dari Allah dan harus selaras dengan agama dan risalahNya bagi manusia. Melalaikan kemampuan akal, berarti menutup mata dari nikmat Allah. (Rasyid, 1. Teologi menurut pandangan Muhammad Abduh dapat digambarkan sebagai Tuhan berada di puncak alam wujud dan manusia ada di dasarnya. Manusia yang berada di dasar ini berusaha mengetahui Tuhannya dan Tuhan menurunkan wahyu karena kasihan melihat kelemahan manusia dibandingkan kemahakuasaan-Nya. Manusia yang dimaksud oleh Muhammad Abduh di sini adalah kaum Khawas yakni orang-orang yang terpilih dari golongan awam. Hal ini dikarenakan kemampuan akal yang dimiliki orang Khawas yang mampu mencapai Tuhan serta alam ghaib yang berada pada puncak tertinggi dari alam wujud. Dan untuk mencapai pengetahuan tertinggi ini bisa melalui 2 cara, yaitu: akal dan wahyu. Akal bagi Muhammad Abduh adalah tonggak kehidupan manusia dan dasar dari kelangsungan hidupnya karena ialah yang membedakan manusia dengan makhluk Karena itu, beliau selalu berbicara tentang pentingnya akal dan pentingnya manusia mengembangkan akalnya untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Begitu pun dalam masalah teologi. Ia tidak pernah meninggalkan akal sebagai dasar dari Dalam sistem teologinya Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal mempunyai kekuatan yang tinggi. Menurutnya. Islam adalah agama yang rasional, agama yang sejalan dengan akal, bahkan agama yang didasarkan atas akal. Pemikiran rasional, menurutnya adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. Iman tidaklah sempurna, kalau tidak didasarkan atas akal, iman harus berdasar pada keyakinan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. bukan pada pendapat, dan akallah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan, ilmu, serta kemahakuasaanNya dan pada Rasul. Muhammad Abduh juga menyatakan bahwa Al-QurAoan memerintahkan kita untuk berfikir dan mempergunakan akal serta melarang kita memakai sikap taklid. (Nizar, 2. Melihat kedudukan yang begitu penting diberikannya kepada akal, tidak mengherankan kalau ia amat keras menentang taklid. Taklid, menurut pendapatnya, adalah salah satu sebab penting yang membawa kemunduran umat Islam. Ia mengkritik kaum ulama yang mengajarkan bahwa umat Islam zaman belakangan wajib mengikuti ajaran-ajaran hasil ijtihad ulama masa silam, sehingga pemikiran berhenti dan akal tidak berfungsi lagi di kalangan umat Islam. Beliau sangat menyesalkan timbulnya sikap taklid yang telah menjalar di setiap aspek kehidupan umat pada masa itu. Dengan demikian ia mengharap dapat meyakinkan umat Islam bahwa Al-Quran menentang taklid. berpendapat bahwa dengan membebaskan umat Islam dari kekuasaan taklid dan menanamkan dalam diri mereka kebiasaan memakai akal dalam menghadapi problemaproblema yang mereka hadapi, pembaharuan dapat berjalan dengan baik di dunia Islam. Kalau diikuti jalan pikiran Muhammad Abduh yang demikian agaknya bisa dikatakan, bahwa dalam mencari kebenaran ia bertolak dari pendapat akalnya. Artinya, ia lebih dulu mencari kebenaran dengan akalnya, kemudian baru kembali kepada wahyu. Sulaiman Dunya menilai cara berpikir Muhammad Abduh yang demikian bukan cara berpikir kaum teolog, bahkan para teolog Muktazilah sendiri, tetapi ia telah memasuki cara berpikir kaum filosof yang kembali kepada ayat setelah ia berusaha mencari argumen-argumen dengan akalnya (Lubis, 1. Pemikiran Teologi yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh ini memang berbeda dari teolog-teolog lain pada masanya. Dalam pendapat Muhammad Abduh, fungsi wahyu adalah sebagai berikut: Wahyu memberi keyakinan kepada manusia bahwa jiwanya akan terus ada setelah tubuh mati. Wahyu menolong akal untuk mengetahui akhirat dan keadaan hidup manusia di sana. Wahyu menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya sebagai sumber ketenteraman hidup dalam masyarakat. Wahyu menolong akal agar dapat mengetahui cara beribadah, dan berterimakasih pada Allah. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Wahyu mempunyai fungsi konfirmasi untuk menggunakan pendapat akal melalui sifat kesucian dan kemutlakan yang terdapat dalam wahyu yang bisa membuat orang manfaat (Sakti, 2. Akal dan wahyu mempunyai hubungan yang sangat erat, karena akal memerlukan wahyu, tapi wahyu itu tidak mungkin berlawanan dengan akal. Jika nampak pada lahirnya wahyu itu berlawanan dengan akal, maka Muhammad Abduh memberi kebebasan pada akal untuk memberi interpretasi agar wahyu itu sesuai dengan pendapat akal dan tidak berlawanan dengan akal. Dengan demikian, hubungan antara wahyu dan akal dapat terjalin harmonis. (Rasam, 2. Dari sini, dapat kita lihat bahwa Muhammad Abduh adalah tokoh pemikir yang tidak pernah taklid bahkan pada pemikirannya sendiri. Beliau tidak sematamata mendewakan akal dan kemudian meniadakan wahyu seperti apa yang dituduhkan orang-orang sekitarnya. Beliau tetap menjaga nilai-nilai ajaran agama Islam yang dianutnya dan mencoba menyandingkannya dengan pemikiran rasionalisme yang menurutnya merupakan metode paling efektif dalam mencari kebenaran. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan penting, di antaranya: pertama. Muhammad Abduh adalah seorang tokoh yang menempatkan akal pada kedudukan yang amat tinggi, sehingga corak pemikiran teologinya adalah bersifat Kedua. Muhammad Abduh memberi penghargaan yang tinggi pada kekuatan Meski begitu, ia tetap memandang penting fungsi wahyu bagi akal. Ketiga, konsep teologi yang demikian itu berakibat pada keyakinannya bahwa manusia itu mempunyai kebebasan berfikir dan berbuat. Salah satu buktinya, dia menentang keras terhadap taklid. Muhammad Abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi kepada akal daripada MuAotazilah. Menurut Muhammad Abduh, akal dapat mengetahui hal-hal berikut ini: Tuhan dan sifat-sifat-Nya, adanya hidup di akhirat, kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dengan baik, sedang kesengsaraannya bergantung pada pada tidak mengenal Tuhan dan perbuatan jahat, wajibnya manusia mengenal Tuhan, wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat dan mengetahui Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu. *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. DAFTAR PUSTAKA