JPMIM Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju Vol. No. Desember, 2025, hal 91-97 Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda (Enhancing Medication Adherence Among the Elderly Through the Implementation of the DAGUSIBU Program at Loa Bakung Primary Health Care Center. Samarinda Cit. Vina Maulidya, . Rafika Hasdina, . Nur Azizyah Al-Mukarramah, . Anas Dzikri Imanullah Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia Article Info Abstract Corresponding Author: Vina Maulidya Avina@farmasi. Hypertension and diabetes are common among the elderly. However, elderly compliance in taking medication is still low due to various factors, so the DAGUSIBU (Get. Use. Save. Discar. program is an educational solution to improve This activity was carried out at the Loa Bakung Samarinda Community Health Center which aims to improve the knowledge, attitudes, and behavior of the elderly in using medication through the application of the DAGUSIBU principle and compliance in taking medication. This activity used a quantitative approach method with a one-group pretest and post-test design for 20 elderly participants. The results obtained in the paired t-test showed a p value <0. meaning there was a significant difference between the pretest and post-test results. In other words. DAGUSIBU counseling has proven effective in improving the knowledge of the elderly, as indicated by significant statistical test results, so that DAGUSIBU counseling has proven effective in improving the knowledge of the elderly. This increase in knowledge is expected to continue to change daily behavior in using medication, which will ultimately improve compliance with long-term treatment. Education by pharmacists and the use of tools such as medication boxes and reminders have been shown to be effective in increasing adherence by >70%. DAGUSIBU-based health promotion is essential for preventing complications, improving the quality of life of older adults, and supporting chronic disease management. History: Submitted: 21-10-2025 Review: 26-10-2025 Accepted: 26-11-2025 Published: 30-12-2025 Keyword: DAGUSIBU, adherence, elderly, medication use Kata Kunci: DAGUSIBU, kepatuhan, lansia, penggunaan obat Abstrak Copyright A 2025 by Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Maju. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa Internasional. https://doi. org/10. 33221/jpmim. Hipertensi dan diabetes banyak diderita oleh lansia. Namun, kepatuhan lansia dalam minum obat masih rendah karena berbagai faktor, sehingga program DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. menjadi solusi edukatif untuk meningkatkan kepatuhan. Kegiatan ini dilakukan di Puskesmas Loa Bakung Samarinda yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku lansia dalam penggunaan obat melalui penerapan prinsip DAGUSIBU dan kepatuhan dalam meminum obat. Kegiatan ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test and post-test design terhadap 20 orang peserta lansia. Hasil yang didapatkan yaitu pada Uji paired t-test menunjukkan nilai p < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara hasil pre-test dan post-test. Dengan kata lain, penyuluhan DAGUSIBU terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan lansia, yang ditunjukkan melalui hasil uji statistik yang signifikan, sehingga penyuluhan EISSN: 2722-4341 (Onlin. | 91 JPMIM Ae Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda DAGUSIBU terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan Peningkatan pengetahuan ini diharapkan akan berlanjut pada perubahan perilaku sehari-hari dalam penggunaan obat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan jangka panjang. Edukasi oleh apoteker dan penggunaan alat bantu seperti kotak obat dan pengingat terbukti efektif meningkatkan kepatuhan hingga >70%. Promosi kesehatan berbasis DAGUSIBU penting untuk mencegah komplikasi, meningkatkan kualitas hidup lansia, dan mendukung pengendalian penyakit kronis. Pendahuluan Hipertensi dan diabetes mellitus adalah penyakit kronis dengan tren prevalensi yang terus meningkat, terutama pada kelompok lansia. Seiring bertambahnya usia, risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes juga meningkat, dan kondisi tersebut menjadi beban besar baik secara kesehatan maupun ekonomi. 1 Di Indonesia, prevalensi penderita hipertensi yang terdiagnosis dokter adalah 55,2% pada kelompok usia 55-64 tahun dan 63,2% pada kelompok usia 65-74 tahun. Sedangkan pada penderita diabetes melitus yang terdiagnosis dokter sebanyak 6,3% pada kelompok usia 55-64 tahun, 6% pada kelompok usia 65-74 tahun. Di Indonesia, diabetes melitus dan hipertensi merupakan masalah kesehatan utama. Kedua penyakit ini paling sering ditemukan di fasilitas kesehatan. Hipertensi dan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang harus di berikan terapi secara tepat dan terus menerus, tetapi pasien yang memiliki penyakit kronis rentan tidak mematuhi aturan pengobatan atau terapi yang diberikan. Kondisi pasien yang memiliki penyakit kronis diharuskan untuk terus mengkonsumsi obat secara rutin, sehingga membuat pasien merasa bosan dan jenuh dalam mematuhi pengobatan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keberhasilan terapi. 3 Penderita penyakit hipertensi dan diabetes melitus sering membutuhkan beberapa terapi pengobatan, sehingga memungkinkan pasien mengalami polifarmasi. Pasien dengan status polifarmasi merupakan pasien yang menerima beberapa obat untuk satu indikasi atau beberapa penyakit. 4,5 Prevelensi kejadian polifarmasi pada orang dewasa dengan penyakit diabetes dan hipertensi meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa tanpa penyakit diabetes dan hipertensi. 6 Pada studi sistematis menemukan bahwa penggunaan banyak obat . egimen komplek. menjadi salah satu faktor utama penurunan kepatuhan dalam penggunaan obat. 7 Selain itu, masih banyak lansia yang memiliki tingkat literasi kesehatan rendah sehingga kesulitan memahami cara penggunaan obat yang benar, waktu minum, dosis, serta konsekuensi jika pengobatan dihentikan secara tiba-tiba. Akibatnya, banyak lansia yang hanya mengonsumsi obat saat gejala muncul, menyimpan obat secara tidak tepat atau bahkan mennggunakan kembali obat sisa tanpa konsultasi tenaga kesehatan, yang akhirnya dapat membahayakan kesehatannya. Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang melayani jumlah pasien lansia dengan penyakit kronis cukup tinggi, khususnya hipertensi dan diabetes melitus. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Puskesmas Loabakung Samarinda serta dari data kunjungan rutin lansia yang tercatat di wilayah kerja puskesmas, sebagian besar lansia merupakan peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolani. dan mengonsumsi obat dalam jangka panjang. Kondisi ini menyebabkan sebagian lansia berada pada risiko tinggi mengalami masalah terkait penggunaan obat, seperti kesalahan dosis, ketidaktepatan waktu minum obat, penyimpanan obat yang tidak sesuai, serta pembuangan obat yang belum memenuhi standar keamanan. Hasil wawancara singkat dengan tenaga kesehatan menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat pada lansia masih menjadi tantangan utama dalam keberhasilan terapi penyakit kronis. Banyak lansia yang mengaku sering lupa meminum obat, menghentikan pengobatan ketika merasa sehat, serta EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3 , 2025 | 92 JPMIM Ae Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda menggunakan kembali obat lama tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Selain itu, penyimpanan obat yang kurang tepat juga berpotensi menurunkan mutu obat dan meningkatkan risiko kesalahan penggunaan yang akhirnya berakibat pada efektivitas obat yang digunakan. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar lansia belum memahami prinsip dasar pengelolaan obat yang benar. Lansia cenderung mengetahui cara minum obat secara umum, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam memahami sumber perolehan obat yang tepat, cara penyimpanan yang benar, serta metode pembuangan obat yang aman dan benar. Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi ini adalah rendahnya literasi kesehatan pada sebagian lansia, keterbatasan daya ingat, serta kurangnya edukasi berkelanjutan mengenai penggunaan obat di tingkat layanan primer. Edukasi yang diterima lansia umumnya bersifat singkat dan berfokus pada waktu minum obat, tanpa disertai pemahaman menyeluruh mengenai penggunaan obat yang rasional. Akibatnya, risiko penggunaan obat yang tidak tepat masih cukup tinggi dan berpotensi meningkatkan angka kejadian efek samping serta kegagalan terapi. Dalam kepatuhan minum obat ada beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipetensi dan diabetes mellitus yaitu meliputi pengetahuan, peran petugas kesehatan, motivasi, akses fasilitas kesehatan, umur, status pekerjaan, tingkat pendidikan, kepercayaan, jenis kelamin dan dukungan Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan intervensi edukatif yang sistematis, sederhana, dan mudah dipahami oleh lansia. Program DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Buan. dipandang sebagai pendekatan yang tepat karena mencakup seluruh siklus pengelolaan obat, mulai dari cara mendapatkan hingga membuang obat dengan benar. 10 Implementasi penyuluhan DAGUSIBU di Puskesmas Loa Bakung diharapkan mampu menjawab permasalahan rendahnya kepatuhan penggunaan obat serta meningkatkan kompetensi lansia dalam mengelola obat secara mandiri dan aman. Konsep DAGUSIBU menekankan empat pesan sederhana: pertama, obat harus dapatkan dari sumber yang benar seperti dokter, apotek, atau fasilitas kesehatan resmi agar terjamin keamanan dan kedua, obat harus gunakan sesuai resep dan petunjuk yang diberikan tenaga kesehatan. ketiga, obat perlu simpan di tempat yang tepat, aman, dan sesuai kondisi penyimpanan agar kualitas tidak menurun. dan keempat, obat harus buang dengan cara yang benar jika sudah kedaluwarsa atau tidak digunakan lagi, untuk menghindari dampak buruk pada lingkungan maupun risiko Sebagai komponen integral dari Gerakan Keluarga Sadar Obat, inisiatif ini berfungsi sebagai media edukasi kesehatan praktis yang bertujuan meningkatkan standar hidup masyarakat sekaligus mendorong pencapaian tingkat kesehatan yang lebih baik. Keberadaan program DAGUSIBU tidak hanya mencerminkan komitmen profesi farmasi dalam menjalankan mandat Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, tetapi juga berperan penting dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan nasional sebagaimana tercantum dalam PP IAI . 11 Penggunaan obat yang tepat dan bijaksana sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat serta mencegah efek samping yang Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak orang yang masih belum memahami cara yang benar untuk mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. 12 Tujuan dari pemahaman ini adalah untuk memberi panduan kepada masyarakat mengenai cara memperoleh obat yang aman, memanfaatkan obat sesuai dengan dosis serta anjuran, menyimpan obat dengan cara yang tepat, dan juga melakukan pembuangan obat yang telah kedaluwarsa atau tidak digunakan dengan Oleh karena itu, kegiatan promosi kesehatan dengan tema AuMeningkatkan Kepatuhan Lansia dalam Penggunaan Obat melalui DAGUSIBUAy sangat relevan untuk dilaksanakan. Edukasi yang terstruktur, berkesinambungan, dan berbasis bukti ilmiah diharapkan mampu meningkatkan pemahaman pasien, membangun perilaku rasional dalam penggunaan obat, serta menurunkan angka komplikasi jangka panjang. Metode Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 13 September 2025, pukul 07. 05 WITA di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3 , 2025 | 93 JPMIM Ae Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda desain one group pre-test and post-test design terhadap 20 orang peserta lansia. Sebelum melakukan kegiatan, tim berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Puskesmas Loa Bakung terkait perizinan kegiatan, penentuan jadwal pelaksanaan, serta sasaran kegiatan. Selain itu, penyusunan materi penyuluhan mengenai DAGUSIBU disesuaikan dengan karakteristik lansia berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Puskesmas. Penyampaian materi melalui tema DAGUSIBU ini diharapkan mudah diterima oleh peserta. Tim menyiapkan formulir kuesioner pretest dan postest untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah intervensi. Pada hari pelaksaan kegiatan, sebelum penyampaian materi, tim meminta kepada 20 orang peserta untuk mengisi kuisioner pretest. Pengisian kuisioner dilakukan dengan metode tanya jawab yang dilakukan oleh tim dengan mendatangi satu persatu peserta penyuluhan. Setelah pengisian kuisioner pretest selesai, penyuluhan mengenai materi DAGUSIBU dilakukan. Tim menyampaikan materi secara bergantian. Penyuluhan dilakukan dengan dua arah, peserta diberi kesempatan untuk bertanya terkait materi yang disampaikan. Selanjutnya, dilakukan tahap pengisian kuisioner postest kepada 20 peserta yang sebelumnya telah mengisi kuisioner Setelah itu hasil pretest dan postest dibandingkan untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan peserta. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui adanya perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah edukasi. Selain itu, dilakukan evaluasi kualitatif melalui pengamatan langsung terhadap partisipasi peserta selama kegiatan berlangsung. Sebagai tindak lanjut, peserta dianjurkan untuk menerapkan prinsip DAGUSIBU dalam kehidupan sehari-hari. Pihak puskesmas diharapkan dapat melanjutkan edukasi melalui petugas kesehatan untuk memperkuat hasil intervensi. Selain itu, disarankan adanya kegiatan edukasi berkala sebagai bentuk monitoring dan penguatan perilaku penggunaan obat yang benar. Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Hasil pengisian kuisioner pre-test dan post-test Pertanyaan Apakah anda sudah mengetahui DAGUSIBU Apakah anda mengetahui singkatan DAGUSIBU Apakah anda mengetahui cara mendapatkan obat yang benar? Apakah anda mengetahui penggunaan obat yang Apakah anda mengetahui penyimpanan obat yang Apakah anda mengetahui cara membuang obat yang benar? Nilai Pretest (%) Nilai Posttest (%) Meningkat Meningkat Meningkat Keterangan Meningkat Meningkat Meningkat Kegiatan promosi kesehatan dengan tema AuMeningkatkan Kepatuhan Lansia dalam Penggunaan Obat melalui DAGUSIBUAy yang dilaksanakan di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan para lansia mengenai tata cara penggunaan obat. Hasil pengisian kuesioner pre-test memperlihatkan bahwa sebagian besar responden masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang konsep DAGUSIBU. Dari enam pertanyaan yang diajukan, hanya sebagian kecil lansia yang dapat menjawab dengan benar. Pengetahuan tentang keberadaan DAGUSIBU diketahui oleh 5% responden, sementara tidak ada satupun responden yang mengetahui kepanjangan istilah tersebut. Hanya 35% responden yang mengetahui cara mendapatkan obat dengan benar, 65% memahami cara penggunaan obat, 45% mengetahui cara penyimpanan obat, dan hanya 20% yang memahami cara membuang obat dengan benar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sebelum dilakukan penyuluhan, mayoritas lansia masih memiliki keterbatasan pemahaman mengenai prinsip dasar pengelolaan obat yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam mendukung EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3 , 2025 | 94 JPMIM Ae Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda kepatuhan penggunaan obat. Dalam melakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan analisis uji normalitas untuk menilai apakah data tersebut mengikuti distribusi normal, sehingga dapat memastikan kelayakan analisis 14,15 Hasil uji normalitas memperlihatkan bahwa data hasil pre-test dan post-test berdistribusi normal, sehingga penggunaan uji parametrik berupa uji t berpasangan atau paired t-test dapat dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian, kriteria yang digunakan dapat dikatakan terdistribusi normal apabila mencapai signifikansi >0,05. 12 Paired t-test digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai sebelum dan sesudah penyuluhan. 16 Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dengan nilai p < 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan nilai post-test tidak terjadi secara kebetulan, melainkan benar-benar disebabkan oleh intervensi penyuluhan yang diberikan. Dengan kata lain, penyuluhan DAGUSIBU terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan lansia, yang ditunjukkan melalui hasil uji statistik yang signifikan. Peningkatan pengetahuan lansia mengenai cara mendapatkan obat dengan benar berarti mereka akan lebih memilih untuk memperoleh obat di apotek, puskesmas, atau rumah sakit, sehingga terhindar dari penggunaan obat yang tidak jelas kualitas dan keamanannya. Pemahaman yang meningkat tentang penggunaan obat dengan benar sangat penting karena sebagian besar lansia mengonsumsi obat untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes yang memerlukan kepatuhan jangka panjang. Dengan meningkatnya pengetahuan, lansia diharapkan lebih konsisten dalam meminum obat sesuai dosis, frekuensi, dan waktu yang dianjurkan tenaga kesehatan. Pengetahuan tentang penyimpanan obat yang meningkat menjadi 80% akan membantu menjaga stabilitas dan efektivitas obat, sehingga mengurangi risiko penurunan kualitas akibat penyimpanan yang tidak tepat. Demikian pula, peningkatan pengetahuan mengenai cara membuang obat meskipun belum maksimal, tetap menunjukkan adanya perubahan perilaku menuju praktik yang lebih aman dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil uji yang signifikan, hal ini menjadi relevan dengan teori promosi kesehatan yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku Dengan meningkatnya pengetahuan, seseorang lebih mungkin untuk mengubah sikap dan perilakunya ke arah yang lebih baik. Dalam konteks lansia, pengetahuan yang lebih baik tentang prinsip DAGUSIBU diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan penggunaan obat, yang pada akhirnya akan meningkatkan keberhasilan terapi dan menurunkan risiko komplikasi penyakit kronis. WHO . menegaskan bahwa kepatuhan pasien terhadap pengobatan jangka panjang rata-rata hanya sekitar 50%, terutama pada pasien penyakit kronis. Rendahnya kepatuhan ini berkontribusi besar terhadap meningkatnya angka morbiditas, mortalitas, serta beban biaya kesehatan. Oleh karena itu, intervensi edukasi sederhana namun terarah seperti penyuluhan DAGUSIBU dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan kepatuhan berobat pada lansia. Adapun pertimbangan hasil kuesioner dan uji paired t-test, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan DAGUSIBU memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan lansia di Puskesmas Loa Bakung. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan akan berlanjut pada perubahan perilaku sehari-hari dalam penggunaan obat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan jangka panjang, khususnya pada pasien hipertensi dan diabetes Dampak lebih jauh dari peningkatan kepatuhan ini adalah berkurangnya risiko komplikasi, meningkatnya kualitas hidup, serta menurunnya beban kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan promosi kesehatan seperti ini penting untuk terus dilakukan secara berkesinambungan, tidak hanya di fasilitas kesehatan tetapi juga di tingkat komunitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat lansia. EISSN: 2722-4341 (Onlin. | JPMIM Ae Vol. 6 No. 3 , 2025 | 95 JPMIM Ae Meningkatkan Kepatuhan Lansia Dalam Penggunaan Obat Melalui Dagusibu di Puskesmas Loa Bakung Kota Samarinda Gambar 1. Kegiatan Penyuluhan Prolanis di Puskesmas Loa Bakung Pemberian materi penyuluhan Pengisian Kuesioner pre-test dan post-test Simpulan Penyuluhan kesehatan tentang DAGUSIBU berhasil meningkatkan pengetahuan lansia secara signifikan, terbukti dari hasil uji statistik . <0,. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan dapat mendorong kepatuhan lansia dalam penggunaan obat yang berdampak positif pada keberhasilan terapi, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas hidup penderita penyakit kronis. Hasil dari kegiatan penyuluhan DAGUSIBU ini diharapkan adanya Promosi Kesehatan mengenai DAGUSIBU secara rutin dan berkelanjutan, terutama pada aspek yang belum optimal seperti pembuangan obat yang dapat ditingkatkan melalui demonstrasi dan fasilitas khusus, sehingga para peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Peran apoteker dan tenaga kesehatan juga perlu diperkuat lewat konseling, monitoring, dan edukasi berkelanjutan untuk mendukung kepatuhan lansia. Daftar Pustaka