SESAWI Article Histori: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN KRISTEN VOLUME 6. NO 2 JUNI 2025 Availble at: http://sttsabdaagung. Submited Reviewed Acepted Published : 27/01/2025 : 03/02/2025 : 13/05/2025 : 27/06/2025 PENYESALAN ILAHI: KAJIAN EKSEGETIS TERHADAP KEJADIAN 6:6 Suryowati. Resa Junias. Merlin Chintia Katupu. Jundriwan Yalaling Sekolah Tinggi Teologi Excelsius Email:suryowatiwang@gmail. Abstract The concept of Audivine regretAy in Genesis 6:6 has long been a matter of debate in theology because it seems to contradict the omniscient and unchanging nature of God. The background of this study is the importance of understanding how biblical texts depict GodAs emotional response to human actions. This study aims to explore the meaning of the Hebrew term nacham in the context of Genesis 6:6 and evaluate its theological The approach used is textual exegetical with thematic, linguistic, historical, literary, theological, and cultural analysis methods. The results of the study show that divine regret is not a change in the nature of God, but rather an expression of the dynamic relationship between God and humans. God shows deep moral concern for His creation without changing His eternal essence. This study enriches the understanding of the character of God in the Old Testament and emphasizes the importance of reading the text contextually and intertextually in theological studies. Keywords: Divine Contrition. Genesis 6:6. Exegesis. Abstrak Konsep Aupenyesalan IlahiAy dalam Kejadian 6:6 telah lama menjadi bahan perdebatan dalam teologi karena tampaknya bertentangan dengan sifat Allah yang Mahatahu dan tidak berubah. Latar belakang kajian ini berangkat dari pentingnya memahami bagaimana teks-teks Alkitab menggambarkan respons emosional Allah terhadap tindakan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna istilah Ibrani nacham dalam konteks Kejadian 6:6 serta mengevaluasi implikasi teologisnya. Pendekatan yang digunakan adalah eksegetis tekstual dengan metode analisis tematik, linguistik, historis, sastra, teologis, dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesalan Ilahi bukanlah perubahan dalam hakikat Allah, melainkan ekspresi dari relasi yang dinamis antara Allah dan manusia. Allah menunjukkan kepedulian moral yang mendalam terhadap ciptaan-Nya tanpa mengubah esensi kekal-Nya. Kajian ini memperkaya pemahaman tentang karakter Allah dalam Perjanjian Lama dan menegaskan pentingnya membaca teks secara kontekstual dan intertekstual dalam studi teologi. Kata kunci: Penyesalan Ilahi. Kejadian 6:6. Eksegesis. PENDAHULUAN Dalam Perjanjian Lama, konsep "penyesalan Ilahi" menimbulkan berbagai diskusi teologis, khususnya dalam kaitannya dengan sifat kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah. Fenomena "penyesalan" Allah tampak jelas dalam sejumlah teks, seperti Kejadian CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. 6:6-7 di mana Allah menyesal menciptakan manusia karena kejahatan yang merajalela, dan 1 Samuel 15:11, ketika Allah menyesal telah mengangkat Saul sebagai raja. Kasus-kasus ini menimbulkan pertanyaan teologis penting mengenai bagaimana sifat Ilahi dipahami, khususnya mengenai perubahan atau adaptasi dalam kehendak Allah terhadap tindakan Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa respons Ilahi terhadap tindakan manusia menjadi elemen sentral yang harus dipelajari untuk memahami relasi antara Allah dan manusia dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama mencatat contoh di mana Tuhan AubertobatAy, terutama dalam 1 Samuel dan Yeremia, menunjukkan dewa responsif yang terlibat dengan tindakan manusia. 1 Sebaliknya, ada penegasan bahwa Tuhan tidak bertobat, menunjukkan ketegangan antara kekekalan ilahi dan tanggung jawab relasional. 2 Yeremia menggambarkan dinamika ini, menekankan bahwa pertobatan Tuhan terkait dengan krisis nasional, di mana pertobatan manusia dapat mempengaruhi keputusan ilahi. Konsep "penyesalan Ilahi" dalam Kejadian 6:6 menimbulkan pertanyaan teologis yang mendalam tentang sifat Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa. Ayat ini menyatakan bahwa Tuhan menyesal telah menciptakan manusia akibat kejahatan yang merajalela. Interpretasi terhadap istilah "nacham" dalam teks ini telah menjadi perdebatan panjang dalam studi teologi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis mendalam terhadap Kejadian 6:6 dengan pendekatan eksegetis yang mencakup konteks historis, sastra, teologis, budaya, serta gramatikal. Melalui pendekatan ini, diharapkan kajian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang makna penyesalan Ilahi dalam narasi Perjanjian Lama. Fenomena ini membutuhkan identifikasi dasar teori yang dapat menjelaskan bagaimana penyesalan Ilahi dapat diterjemahkan tanpa melanggar konsep ketidakterubahan Allah. Istilah Ibrani yang sering digunakan, "nacham," memiliki nuansa yang beragam, seperti "menghibur diri" atau "mengubah pikiran. " Gagasan tentang pertobatan ilahi menantang pandangan tradisional tentang kemahakuasaan, karena menyiratkan bahwa Tuhan dapat dipengaruhi oleh tindakan manusia, menimbulkan pertanyaan tentang sifat pengetahuan dan kontrol ilahi. 4 Namun, penerapannya pada Allah menimbulkan kontroversi, mengingat banyak ahli yang menilai bahwa istilah ini tidak seharusnya dimaknai secara antropomorfis karena dapat mengaburkan karakteristik Ilahi yang absolut. Literatur sebelumnya memperlihatkan beberapa pandangan kunci dalam memahami konsep ini. Pendekatan antropomorfis berusaha memaknai teks-teks tersebut sebagai ekspresi emosional Allah yang mendalam dan responsif terhadap umat-Nya. Sebaliknya, teolog klasik menolak interpretasi ini, berpendapat bahwa sifat Allah tidak dapat berubah dan penyesalan-Nya hanyalah metaforis. Beberapa teolog berpendapat bahwa kemahakuasaan Tuhan tidak memerlukan pandangan deterministik, memungkinkan interaksi yang tulus dengan ciptaan. 5 Sementara konsep pertobatan ilahi menunjukkan John T Willis. AuThe ARepentanceA of God in the Books of Samuel. Jeremiah, and Jonah,Ay Horizons in Biblical Theology 16, no. : 156Ae175. Ibid. Mark E. Biddle. AuContingency. God, and the Babylonians: Jeremiah on the Complexity of Repentance,Ay Sage Journals: Review & Expositor 101, no. : 247Ae265. Nico Vorster. AuDivine Power. Justice, and Reconciliation,Ay Stellenbosch Theological Journal 10, 3 . : 1Ae15. Andrew Loke. AuDivine Omnipotence and Moral Perfection,Ay Religious Studies 46, no. 525Ae538. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Tuhan yang relasional, beberapa teolog berpendapat bahwa ini mungkin bertentangan dengan gagasan tentang dewa yang tahu segalanya, yang mengarah pada perdebatan yang sedang berlangsung tentang sifat atribut ilahi dan implikasinya terhadap hak pilihan manusia dan tanggung jawab moral. 6 Dalam kajian Alkitab, beberapa penelitian telah meninjau arti kata "nacham" dalam konteks linguistik dan semantik, sementara studi teologi sistematika lebih menekankan pada sifat ketidakterubahan Allah yang Mahatahu. Terdapat kesenjangan antara kedua pendekatan ini. Pendekatan antropomorfis memberikan ruang bagi dinamika dalam hubungan Ilahi-manusia, tetapi berpotensi membatasi konsep keilahian Allah. Di sisi lain, pendekatan klasik berisiko mengabaikan makna literer teks-teks Perjanjian Lama, yang tampak menggambarkan Allah sebagai sosok yang bereaksi terhadap tindakan manusia. Penelitian ini mengusulkan hipotesis bahwa penyesalan Ilahi dalam Perjanjian Lama tidak menunjukkan perubahan esensial dalam sifat Allah, tetapi memperlihatkan aspek relational yang responsif terhadap perubahan manusia. Hipotesis ini menekankan bahwa penyesalan Ilahi bukan berarti Allah berubah, tetapi menunjukkan interaksi aktifNya dengan umat manusia, yang memperkaya pemahaman akan karakter Allah dalam relasinya dengan manusia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis biblika, yang bertujuan untuk menggali makna teologis dan linguistik dari istilah nacham dalam Kejadian 6:6 secara mendalam. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik penelitian teologis yang menekankan interpretasi teks dalam konteks historis dan sastra. 7 Data primer yang digunakan adalah teks Alkitab dalam bahasa Ibrani, khususnya Kejadian 6:6, serta teks-teks paralel dalam Perjanjian Lama yang menggunakan istilah serupa. Data sekunder diperoleh dari literatur akademik, seperti tafsir Alkitab, leksikon Ibrani (Brown-DriverBrigg. , kamus teologis, serta jurnal-jurnal teologi yang relevan. Prosedur analisis dilakukan melalui beberapa tahapan: Analisis linguistik terhadap istilah nacham dalam bahasa Ibrani menggunakan Hebrew Lexicon dan Theological Wordbook of the Old Testament. Analisis kontekstual dalam narasi Kejadian 6:1Ae8 untuk memahami latar historis, sastra, dan struktur teologis teks. Analisis tematik secara intertekstual, yaitu membandingkan penggunaan istilah nacham di bagian lain Alkitab . isalnya: 1 Sam. 15:11. Yer. 18:7Ae10. Yun. Sintesis teologis dilakukan untuk menarik kesimpulan implikasi makna penyesalan Ilahi dalam kerangka teologi Perjanjian Lama. Metode ini dirancang dengan mengacu pada prinsip-prinsip hermeneutik Alkitabiah dan kajian eksegetis yang dikembangkan oleh Alter, guna menjamin validitas dan keabsahan hasil penafsiran. Jon C. Merkle. AuChallenging the Idea of Divine Omnipotence: Jewish Voices and a Christian Response,Ay Journal of Ecumenical Studies 57, no. : 411Ae431. Brevard S. Childs. Biblical Theology of the Old and New Testaments: Theological Reflection on the Christian Bible (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 25. Wilhelm Brown. Francis. Robinson. Edward. Driver. (Samuel Rolle. Briggs. Charles A. (Charles Augustu. Gesenius. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament : With an Appendix Containing the Biblical Aramaic (Britania Raya: Oxford University Press, 1. , 550. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator Teologis dan Linguistik Penyesalan Ilahi dalam Kejadian 6:6 Pembahasan dalam bagian ini diarahkan untuk menelusuri makna istilah nacham dalam Kejadian 6:6 melalui pendekatan linguistik, historis, sastra, teologis, dan budaya. Tujuannya adalah untuk mengkaji secara mendalam makna teologis dari penyesalan Ilahi serta implikasinya dalam relasi Allah dengan manusia sebagaimana ditampilkan dalam narasi Perjanjian Lama. Analisis ini akan dibagi dalam subbagian kontekstual dan tematik, guna memperlihatkan kekayaan makna dari istilah tersebut dan bagaimana pemahaman teologis dapat ditarik secara bertanggung jawab dari teks Alkitabiah. Penelitian ini mengkaji kata "penyesalan" yang sering muncul dalam Perjanjian Lama sebagai terjemahan dari kata Ibrani A( yAnacha. , yang mencerminkan respon emosional atau perubahan hati Allah dalam beberapa peristiwa penting. Dengan mengeksplorasi penggunaan dan makna kata nacham dalam konteks Perjanjian Lama, mengungkap implikasi teologis mengenai bagaimana Alkitab menggambarkan sifat Ilahi dalam hubungannya dengan umat manusia. Dalam Perjanjian Lama, istilah yang umum digunakan untuk "penyesalan" adalah kata Ibrani A( yAnacha. , yang sering kali diterjemahkan sebagai "menyesal," "menghibur," atau "mengubah pikiran. " Istilah ini muncul dalam beberapa teks penting, seperti Kejadian 6:6-7 dan 1 Samuel 15:11, yang menunjukkan adanya respons Ilahi terhadap tindakan manusia. Ekspresi emosional Allah tentang penyesalan atau kesedihan terbukti dalam berbagai bagian Alkitab seperti Kejadian 6:6-7. Keluaran 32:14. I Samuel 15:11. II Samuel 24:16. Yeremia 18:7,8, 26:13,19, dan Yunus 3:10. Contoh-contoh ini menyoroti sifat kompleks emosi Tuhan dan hubungan-Nya yang intim dengan pengalaman manusia. Konsep simpati ilahi, seperti yang dibahas oleh Platonis Cambridge abad ketujuh belas Ralph Cudworth, menekankan empati Tuhan yang mendalam terhadap individu yang menderita, lebih lanjut menggambarkan kedalaman keterlibatan emosional Tuhan dengan umat manusia. 9 Selain itu, genre ratapan dalam Alkitab Ibrani mencerminkan saat-saat krisis di mana emosi Tuhan terjalin dengan perjuangan manusia, menunjukkan pemahaman yang beragam tentang respon emosional Tuhan terhadap berbagai situasi. 10 Secara keseluruhan, referensi alkitabiah ini menggambarkan Tuhan sebagai makhluk yang penuh kasih dan empati yang mampu mengalami berbagai emosi, termasuk kesedihan dan kesedihan. Bagian-bagian dalam Alkitab menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah menyesal atau mengubah pikirannya, seperti yang terlihat dalam berbagai ayat seperti Bilangan 23:19. I Samuel 15:29. Yeremia 4:28, dan Mazmur 132:11. 11 Gagasan tentang respons Tuhan menggarisbawahi tanggung jawab moral manusia, menunjukkan bahwa individu dapat mempengaruhi hubungan manusia dengan yang ilahi melalui tindakan manusia. Filsuf seperti Buber dan Heidegger James R Beck. AuEmotion as an Integrative Topic: An Analysis of Faithful Feelings,Ay Journal of Psychology and Theology 36, no. : 53Ae57. Jennifer A Herdt. AuThe Rise of Sympathy and the Question of Divine Suffering,Ay Journal of Religious Ethics 29, no. : 367Ae399. Polyxeni Potter. AuAnd the Raven. Never Flitting. Still Is Sitting. Still Is Sitting1. ,Ay Emerging Infectious Diseases 16, no. : 1655Ae1656. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. berkontribusi untuk memahami kesadaran relasional, menekankan pentingnya hubungan interpersonal dalam pendidikan spiritual dan perkembangan moral. Analisis Eksegetis Kejadian 6:6 Konteks Historis Kejadian 6:6 mencatat sebuah pernyataan yang mendalam dari Allah tentang keadaan manusia sebelum air bah: "TUHAN menyesal, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan Ia bersedih hati. " Ayat ini menggambarkan sebuah titik balik dalam sejarah manusia, di mana kejahatan telah mencapai puncaknya, sehingga Allah memutuskan untuk Kejadian 6:6 ditulis dalam latar belakang zaman pra-banjir, di mana manusia telah mengalami kemerosotan moral yang parah. Tradisi Yahudi dan Kristen melihat periode ini sebagai era yang ditandai oleh kejahatan manusia yang melampaui batas, yang akhirnya mendorong keputusan Ilahi untuk mendatangkan air bah sebagai tindakan penghukuman dan pembaruan ciptaan. 13 Kejahatan yang merajalela ini mengindikasikan pergeseran besar dalam hubungan manusia dengan Allah, yang semakin menjauh dari ketaatan kepada-Nya. 14 Dalam konteks teologis. Kejadian 6:6 mengungkapkan kesedihan dan penyesalan Allah atas tindakan manusia. Ini bukanlah penyesalan dalam arti manusiawi, di mana seseorang merasa bersalah atas kesalahan yang telah diperbuat. Penyesalan Allah lebih merupakan ungkapan dari kepedihan hati-Nya melihat ciptaan-Nya yang telah jatuh ke dalam dosa. Konteks Sastra Struktur sastra dari Kejadian 6:6 menunjukkan pola paralelisme Ibrani: (AuTUHAN menyesal telah menciptakan manusia di bumiA. , dan (Audan Ia bersedih hatiA. Kedua klausa ini membentuk struktur parallelismus membrorum, di mana bagian kedua memperkuat dan memperluas makna bagian pertama secara emosional dan teologis. Secara sintaksis, kalimat pertama terdiri dari verba pasif refleksif wayyinnAuem . , subjek eksplisit YHWH, dan klausa kausal ky-Auy et-hAAdAm bAAre ("karena Ia telah menciptakan manusia di bumi"). Fungsi klausa kausal ini memberikan alasan gramatikal dan semantis bagi tindakan emosional Allah. Klausa kedua menggunakan struktur verba aktif wayyitaeb (Ia bersedi. dan frase preposisional el-libby ("ke dalam hati-Nya"). Frase ini memiliki makna idiomatik yang mengindikasikan kesedihan mendalam yang bersumber dari batin, bukan sekadar penyesalan intelektual. Konstruksi verbal ini memperlihatkan intensifikasi emosional terhadap apa yang sudah dinyatakan dalam klausa pertama. Analisis sintaksis ini penting untuk menegaskan bahwa makna teologis dalam Kejadian 6:6 tidak bisa dilepaskan dari susunan gramatikal yang disengaja, yang dimaksudkan untuk menggambarkan respons emosional Allah secara antropopatis namun Ruth Wills. AuBeyond Relation: A Critical Exploration of ARelational ConsciousnessA for Spiritual Education,Ay International Journal of Childrens Spirituality 17, no. : 51Ae60. Robert Alter. The Art of Biblical Narrative (New York: Basic Books, 1. , 124. A G. Beale & Carson. Commentary on the New Testament Use of the Old Testament (Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2. , 250. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Oleh karena itu, pemahaman terhadap makna nacham dan Aab harus dipahami melalui lensa struktur kalimat dan hubungan antar unsur kalimat. Analisis ini sejalan dengan kajian-kajian terbaru yang menekankan pentingnya analisis gramatikal dalam memahami teks Alkitabiah secara mendalam. 15 Penelitian lain juga menyoroti hubungan antara struktur sintaksis dan representasi antropopatis dalam narasi Perjanjian Lama, khususnya dalam Kejadian 6:6. Analisis ini didukung oleh kajian sintaksis dalam Waltke and O'Connor . , serta tafsir morfosintaktis dari GeseniusA Hebrew Grammar dan Joyon-Muraoka Grammar of Biblical Hebrew, yang menekankan pentingnya memperhatikan perubahan bentuk kata kerja . dan fungsi preposisi dalam membentuk nuansa makna yang tepat dalam teks Ibrani. Dua klausa ini menunjukkan bahwa "penyesalan" Tuhan bukan sekadar perubahan pikiran, tetapi suatu respons emosional yang mendalam terhadap kejahatan manusia. Struktur ini memperjelas bahwa Allah bukanlah entitas yang tidak peduli terhadap moralitas ciptaan-Nya. Kejadian 6:6 merupakan bagian dari narasi yang lebih luas dalam Kejadian 1Ae11 yang menjelaskan asal-usul dunia dan interaksi awal antara Allah dan Struktur sastra ayat ini menampilkan bentuk paralelisme, di mana pernyataan tentang "penyesalan" Tuhan disejajarkan dengan "kesedihan" dalam hati-Nya, menunjukkan ekspresi emosi yang kuat dalam respons terhadap kejahatan manusia. Struktur ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan perubahan pikiran atau emosi pada Allah, melainkan untuk menekankan betapa seriusnya kejahatan manusia di mata Allah. Struktur ini memperlihatkan bagaimana Tuhan berinteraksi secara emosional dengan ciptaan-Nya, yang menjadi bagian dari pola intervensi Ilahi dalam sejarah 20 Dari sudut pandang teologis. Kejadian 6:6 mengungkapkan ketegangan antara kebebasan manusia dan kedaulatan Allah. Manusia, sebagai ciptaan yang memiliki kehendak bebas, telah memilih untuk berbuat jahat, yang mengakibatkan kesedihan yang mendalam bagi Allah. Namun, penyesalan Allah di sini tidak berarti bahwa Ia kehilangan kendali atas situasi tersebut. Allah tetap berdaulat dan memiliki rencana untuk menyelamatkan umat manusia melalui Nuh dan bahtera. Mangantar. AuAnalisis Sintaksis Dan Teologis Kata Nacham Dalam Kejadian 6:6,Ay Jurnal Jaffray: Jurnal Teologi dan Studi Pastoral 20, no. : 135Ae150, https://ojs. id/index. php/JJV71/article/view/78. Sipayung. AuTinjauan Teologis Terhadap Penyesalan Allah Dalam Kejadian 6:6,Ay Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Indonesia 4, no. : 22Ae34, https://media. com/media/publications/102878-tinjauan-teologis-allah-menyesal-berdasa-5652f10f. Yetris Elbaar and Peniel C. Maiaweng. AuTinjauan Teologis: Allah Menyesal Berdasarkan Perspektif Kitab Kejadian Pasal 6:6-7,Ay Jurnal Jaffray: Jurnal Teologi dan Studi Pastoral 11, no. 114Ae158. Walter Brueggemann. Theology of the Old Testament: Testimony. Dispute. Advocacy (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 315. Gordon J. Wenham. Genesis 1Ae15: Word Biblical Commentary. Volume 1. (Dallas: Word Books, 1. , 156. Brevard S. Childs. Biblical Theology of the Old and New Testaments: Theological Reflection on the Christian Bible, 276. John H. Walton. The Lost World of the Flood: Geological Interpretations of a Historical Event. (Downers Grove. Illinois: InterVarsity Press, 2. , 123. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Analisis Bahasa dan Gramatika Kata Ibrani . yang diterjemahkan sebagai "menyesal" dalam Kejadian 6:6 memiliki makna yang luas dan kompleks dalam konteks linguistik dan teologis. Secara semantik, nacham dapat berarti "menyesal," "menghibur diri," atau "mengubah pikiran," tergantung pada konteks penggunaannya dalam teks Alkitabiah. Dalam Kejadian 6:6, nacham berfungsi untuk menyatakan respons emosional Tuhan atas kondisi moral manusia yang merosot drastis di bumi sebelum air bah. Namun, penyesalan yang diungkapkan bukanlah perubahan sifat Tuhan secara esensial atau ketidaktahuan-Nya, melainkan ekspresi kesedihan dan keprihatinan yang mendalam terhadap dosa manusia yang Dari segi gramatikal, kata kerja yang dipakai adalah . ayyinnAue. , yaitu bentuk Qal imperfect dengan prefiks waw konversi . , yang menunjukkan aksi yang sedang berlangsung atau hasil yang telah terjadi dalam narasi. Bentuk ini mengindikasikan bahwa tindakan "menyesal" adalah suatu respons aktif dan dinamis dari Tuhan dalam konteks narasi tersebut. Secara sintaksis. Kejadian 6:6 terdiri dari dua klausa paralel yang saling melengkapi, membentuk pola parallelismus membrorum khas sastra Ibrani. Klausa pertama . ayyinnAuem YHWH ki-AAsA et-ham bAAr. , yang dapat diterjemahkan sebagai "TUHAN menyesal, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi. " Dalam klausa ini, verba wayyinnAuem berfungsi sebagai predikat yang mengandung subjek eksplisit yaitu (YHWH), sedangkan klausa kausal ("karena Ia telah menjadikan manusia di bumi") menjelaskan alasan tindakan penyesalan tersebut secara gramatikal dan semantic. Klausa kedua berbunyi . ayyiaeb el-libb. , yang diterjemahkan sebagai "dan Ia bersedih hati. " Di sini, verba bentuk hitpael wayyiaeb mengekspresikan tindakan refleksif yaitu perasaan sedih yang mendalam. Frase preposisional el-libbs ("ke dalam hati-Nya") adalah idiom yang menandakan kesedihan batin yang intens. Pola paralel ini memperkuat makna emosional dan teologis, menyatakan bahwa penyesalan Tuhan bukan sekadar perubahan pikiran, tetapi suatu ekspresi kesedihan yang mendalam dan serius terhadap kondisi manusia yang jahat. Lebih jauh, makna nacham dalam konteks Ilahi tidak dapat dipahami secara antropomorfis secara literal, mengingat ketidakterubahan dan kemahatahuan Tuhan sebagaimana ditegaskan dalam bagian lain Alkitab. Oleh sebab itu, penyesalan Tuhan di Kejadian 6:6 dimaknai sebagai bahasa antropopatis yang menggunakan istilah manusia untuk menggambarkan keterlibatan emosional Allah yang penuh kasih dan keadilan terhadap ciptaan-Nya tanpa mengimplikasikan perubahan dalam esensi hakiki-Nya. Konteks Teologis Narasi dalam Kejadian 6:6 menggambarkan Tuhan yang menyesal telah menciptakan manusia di bumi, sebuah pernyataan yang tampak kontradiktif dengan bagian Mangantar. AuAnalisis Sintaksis Dan Teologis Kata Nacham Dalam Kejadian 6:6. Ay Ibid. Ibid. Elbaar and Maiaweng. AuTinjauan Teologis: Allah Menyesal Berdasarkan Perspektif Kitab Kejadian Pasal 6:6-7. Ay Sipayung. AuTinjauan Teologis Terhadap Penyesalan Allah Dalam Kejadian 6:6. Ay CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. lain dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Tuhan "tidak menyesal" (Bil. 23:19. 1Sam. , yang tampaknya bertentangan dengan Kejadian 6:6. Namun, dalam analisis teologis, hal ini menunjukkan bahwa "penyesalan" Tuhan bukanlah indikasi ketidakpastian atau perubahan karakter-Nya, tetapi merupakan manifestasi dari keadilan dan kasih-Nya dalam menanggapi keadaan manusia. 27 Dalam kajian teologis, "penyesalan" Tuhan bukanlah indikasi ketidakpastian atau perubahan dalam diri-Nya, melainkan sebuah manifestasi dari keadilan dan kasih-Nya yang sempurna dalam merespons situasi konkret dalam sejarah manusia. Istilah "penyesalan" dalam konteks ini mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar emosi manusiawi. Pemahaman ini membantu dalam melihat bagaimana Tuhan tidak berubah dalam natur-Nya tetapi tetap terlibat secara aktif dalam sejarah manusia. Konteks Budaya Konsep "penyesalan" Tuhan . alam bahasa Ibrani, nAcua. dalam Perjanjian Lama sering kali menjadi perdebatan teologis. Konsep Ilahi "menyesal" dalam budaya Timur Dekat Kuno sering dikaitkan dengan relasi antara dewa dan manusia, di mana dewa-dewa digambarkan sebagai makhluk yang bisa berubah pikiran. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, dewa-dewa sering digambarkan sebagai makhluk antropomorfik yang memiliki emosi dan dapat berubah pikiran. Konsep penyesalan ilahi dalam konteks ini lebih berkaitan dengan perubahan suasana hati atau keputusan dewa. Namun, pandangan ini berbeda dengan tradisi Ibrani. Namun, dalam tradisi Ibrani. Tuhan bukanlah entitas yang berubah secara impulsif, melainkan memiliki rencana yang tetap sambil tetap terlibat secara aktif dalam sejarah 30 Tuhan memiliki rencana yang kekal dan tidak berubah (Bil. Namun. Alkitab juga mencatat bahwa Tuhan "menyesal" dalam beberapa kesempatan . Kej. 6:6. Kel. Penjelasan yang paling umum adalah bahwa "penyesalan" Tuhan harus dipahami secara antropopatis, yaitu menggunakan bahasa manusia untuk menjelaskan tindakan Tuhan yang melampaui pemahaman manusia. "Penyesalan" Tuhan bukanlah perubahan pikiran yang sebenarnya, melainkan ungkapan kesedihan atau kekecewaan Tuhan atas tindakan manusia yang berdosa. 31 Ini menunjukkan bahwa makna "penyesalan" lebih berkaitan dengan keterlibatan Ilahi yang dinamis daripada perubahan hakiki dalam diri Tuhan. Penafsiran Alkitab dengan Alkitab Kejadian 6:6, yang menyatakan bahwa Tuhan "menyesal" telah menciptakan manusia, merupakan bagian yang seringkali menimbulkan pertanyaan dalam kalangan Penafsiran literal dapat menimbulkan kesan bahwa Tuhan memiliki emosi yang Victor P. Hamilton. The Book of Genesis. Chapters 1Ae17 (Grand Rapids. Michigan: Eerdmans Publishing, 1. , 290. Gerhard. Kittel. Gerhard & Friedrich. Theological Dictionary of the New Testament. Volume 4 (Grand Rapids. Michigan: Eerdmans Publishing, 1. , 210. Bruce K. Waltke dan Fred G. Zondervan. An Old Testament Theology: Culture. Religion, and Society (Grand Rapids. Michigan: Zondervan, 2. , 345Ae347. Tremper Longman i. How to Read Genesis (Downers Grove. Illinois: InterVarsity Press, 2. Zondervan. An Old Testament Theology: Culture. Religion, and Society, 348Ae350. Nahum M Sarna. Understanding Genesis (New York: Schocken Books, 1. , 98. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. berubah-ubah seperti manusia. Namun, pendekatan intertekstual, yaitu menafsirkan suatu bagian Alkitab dengan merujuk pada bagian lain, dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam. 33 Untuk memahami Kejadian 6:6, perlu melihat bagaimana tema serupa muncul dalam teks lain. Misalnya, dalam Keluaran 32:14. Tuhan "menyesal" atas rencana hukuman terhadap Israel setelah Musa berdoa. Ini menunjukkan bahwa penyesalan Ilahi sering berkaitan dengan respons terhadap tindakan manusia, bukan perubahan hakikatNya. 34 Kata "menyesal" dalam konteks ini tidak berarti bahwa Tuhan mengubah pikiranNya secara fundamental, melainkan lebih kepada respons terhadap tindakan manusia. Dalam teologi Kristen, konsep ini sering dikaitkan dengan kedaulatan Allah dan keadilanNya yang tidak pernah bertentangan. 35 Pemahaman ini memperkaya wawasan tentang bagaimana Tuhan berinteraksi dengan umat-Nya dalam berbagai konteks. Memahami Maksud Penulis Asli Penulis Kejadian menggunakan istilah "nacham" untuk mengekspresikan bagaimana Allah merespons kejahatan manusia dengan kesedihan yang mendalam. Maksud penulis bukan untuk menggambarkan Allah sebagai entitas yang berubah-ubah, tetapi untuk menunjukkan bahwa Allah memiliki relasi yang dinamis dengan ciptaan-Nya. 37 Istilah ini muncul dalam konteks Air Bah (Kej. , di mana dikatakan bahwa "menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan kepiluan hatinya. " Dalam konteks Kejadian 6:6, penggunaan kata ini bertujuan menampilkan hubungan yang dinamis dan personal antara Allah dengan ciptaan-Nya, di mana Allah mengekspresikan kepedulian moral yang intens terhadap kerusakan dan dosa manusia. Maksud penulis bukanlah untuk menggambarkan Allah sebagai entitas yang berubah-ubah atau emosional seperti manusia, tetapi untuk menunjukkan bahwa Allah memiliki relasi yang dinamis dan personal dengan ciptaan-Nya. Penulis asli tampaknya menggunakan bahasa antropomorfis atau antropopatis yaitu bahasa yang menggunakan atribut manusia untuk menggambarkan tindakan dan perasaan ilahi sebagai alat komunikasi untuk menjelaskan realitas ilahi yang sulit dipahami oleh pembaca manusia biasa. 39 Oleh sebab itu, nacham tidak berarti bahwa Allah mengalami perubahan dalam esensi atau kehendak-Nya, melainkan menggambarkan kehadiran kasih dan keadilan Allah yang aktif dan responsif dalam sejarah manusia, yang turut memengaruhi perkembangan narasi keseluruhan tentang interaksi Tuhan dengan umat manusia. Dalam teologi Kristen, konsep "anthropomorphism" sering digunakan untuk menjelaskan bahasa kiasan yang digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan Allah Millard J. Erickson. Christian Theology (Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2. , 350. Ralph L. Smith. Old Testament Theology: Its History. Method, and Message (Nashville: Broadman & Holman, 1. , 345. Bruce K. Waltke dan Tremper Longman i. The Oxford Handbook of the Pentateuch (Oxford: Oxford University Press, 2. , 200Ae205. Kevin J. Vanhoozer. The Drama of Doctrine: A Canonical-Linguistic Approach to Christian Theology (Louisville. Ky: Westminster John Knox Press, 2. , 223. Willis. AuThe ARepentanceA of God in the Books of Samuel. Jeremiah, and Jonah. Ay Mangantar. AuAnalisis Sintaksis Dan Teologis Kata Nacham Dalam Kejadian 6:6. Ay Elbaar and Maiaweng. AuTinjauan Teologis: Allah Menyesal Berdasarkan Perspektif Kitab Kejadian Pasal 6:6-7. Ay Sipayung. AuTinjauan Teologis Terhadap Penyesalan Allah Dalam Kejadian 6:6. Ay CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. dengan atribut manusia. Namun, penting untuk dipahami bahwa penggunaan bahasa ini tidak berarti bahwa Allah memiliki keterbatasan atau emosi yang sama dengan manusia. "Nacham" dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai ungkapan dari kesedihan dan kepedulian Allah terhadap kerusakan moral dan spiritual yang diakibatkan oleh dosa Implikasi Teologis Beberapa implikasi teologis yang muncul dari studi ini adalah: Allah adalah Hakim yang Adil Keputusan Allah untuk mendatangkan air bah bukanlah tindakan impulsif, tetapi konsekuensi dari kejahatan manusia. Allah Menginginkan Relasi dengan Manusia Kejadian 6:6 menunjukkan bahwa Allah tidak sekadar menjalankan hukum tanpa emosi, tetapi peduli terhadap moralitas ciptaan-Nya. Ketegangan antara Kedaulatan dan Kebebasan Manusia Konsep penyesalan Ilahi menunjukkan bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia, tetapi tetap memiliki otoritas penuh atas sejarah. Penyesalan Ilahi dalam Kejadian 6:6 menunjukkan keseimbangan antara keadilan dan belas kasihan Tuhan. Allah tidak berubah dalam hakikat-Nya, tetapi respons-Nya terhadap dosa manusia menunjukkan kepekaan moral dan kasih-Nya terhadap ciptaanNya. 42 Pemahaman ini berimplikasi pada bagaimana umat percaya memahami relasi mereka dengan Tuhan dan tanggung jawab moral mereka. Dapat dilihat bahwa penggunaan nacham dalam Perjanjian Lama menggarisbawahi sifat relational Allah yang responsif terhadap tindakan manusia, tanpa mengubah esensi dan tujuan abadi-Nya. Penyesalan Ilahi dalam Kejadian 6:6 menunjukkan keseimbangan antara keadilan dan belas kasihan Tuhan. Allah tidak berubah dalam hakikat-Nya, tetapi respons-Nya terhadap dosa manusia menunjukkan kepekaan moral dan kasih-Nya terhadap ciptaanNya. 43 Pemahaman ini juga berimplikasi pada bagaimana umat percaya memahami relasi mereka dengan Tuhan dan tanggung jawab moral mereka. Konsep ini menegaskan bahwa meskipun Allah Mahakuasa dan Mahatahu. Dia tetap berinteraksi secara aktif dalam sejarah manusia dengan prinsip keadilan dan kasih. 44 Kata nacham tidak berarti Allah mengalami perubahan dalam kehendak esensial-Nya, tetapi lebih menunjukkan bahwa Allah merespons kejahatan dan pertobatan dengan penuh kasih dan keadilan. Hal ini menggambarkan bahwa, meskipun Allah adalah pribadi yang Mahakuasa dan Mahatahu. Dia tetap terlibat dan merespons dengan mendalam terhadap keadaan moral umat-Nya. Implikasi teologis dari analisis ini adalah bahwa penyesalan Ilahi mencerminkan kasih dan perhatian Allah terhadap manusia dan dunia ciptaan-Nya. Allah tetap setia pada karakter-Nya, tetapi Dia menunjukkan bahwa Dia terbuka terhadap interaksi dinamis dengan manusia. Ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya Hakim yang tak berubah, tetapi juga Bapa yang berempati terhadap penderitaan dan kesalahan umat-Nya. Dengan Bruce Walters. The Anchor Yale Bible Commentary: Genesis 1-11 (New Haven: Yale University Press, 2. , 280. Christoper J. Wright. The Message of Jeremiah (Downers Grove. Illinois: InterVarsity Press, 2. , 201. Wenham. Genesis 1Ae15: Word Biblical Commentary. Volume 1. , 135. Wright. The Message of Jeremiah, 210. CopyrightA 2025. SESAWI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. demikian, nacham dalam Perjanjian Lama memperkaya pemahaman akan sifat Allah yang tidak berubah, namun tetap terlibat secara aktif dalam sejarah manusia. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa penyesalan ilahi dalam narasi Alkitab tidak hanya menyoroti aspek-aspek moralitas dan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menawarkan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat kasih dan kebijaksanaan ilahi. Sebuah studi analitis yang mengeksplorasi penyesalan ilahi tentang pertobatan Tuhan dalam narasi alkitabiah mengungkapkan interaksi tema yang kompleks di berbagai teks Penyesalan Tuhan dalam teks-teks Alkitab seringkali terjadi sebagai respons terhadap kesalahan atau keputusan manusia yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Namun demikian, penyesalan ini juga mencerminkan kesediaan Tuhan untuk memberikan kesempatan bagi pertobatan dan pemulihan hubungan dengan manusia. Penelitian ini menggali konsep pengampunan ilahi, pertobatan, dan pembalasan dalam agama Kristen, menekankan pentingnya memahami pengampunan Tuhan dalam perilaku manusia. Kajian eksegetis terhadap Kejadian 6:6 menunjukkan bahwa penyesalan Ilahi bukanlah tanda perubahan dalam sifat Allah, melainkan manifestasi dari keterlibatan-Nya dalam sejarah manusia. Pemahaman yang lebih dalam terhadap istilah "nacham" membantu menegaskan keseimbangan antara keadilan dan kasih Allah dalam relasi-Nya dengan Sebuah studi analitis yang mengeksplorasi penyesalan ilahi tentang penyesalan Tuhan dalam narasi alkitabiah mengungkapkan interaksi yang kompleks dari interpretasi Penggambaran pengampunan ilahi, pertobatan, dan pembalasan dalam Kitab Suci Ibrani menyajikan pandangan yang beragam tentang Allah. Pendekatan naratif terhadap teologi Kitab Suci Ibrani menunjukkan perkembangan dalam penggambaran Allah, yang berpuncak pada karakter yang selaras dengan pengalaman keagamaan komunitas yang membentuk teks-teks alkitabiah. Analisis komprehensif ini menggarisbawahi sifat multifaset penyesalan dan pertobatan ilahi dalam narasi alkitabiah. DAFTAR PUSTAKA