Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. Internalization of Pancasila Values in Character Formation of Students in the Digital Era: A Review of Ethics. Morals, and Social Responsibility Hairul Amren1. Putri Saragih2. Tri Wahyuni Br Manihuruk3. Yoan Ernesto Carpatia Sihotang4. Reifan Ega Rosandi5. Sartika Magdalena Sibarani6 1,2,3,4,5,6Politeknik Penerbangan Medan. Indonesia Email: hairulamren123@gmail. saragihputri2006@gmail. yunimanihuruk28@gmail. yoansihotang2007@gmail. rosandiega52@gmail. sibmagdalena@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan karakter mahasiswa di era digital, khususnya yang berkaitan dengan aspek etika, moral, dan tanggung jawab sosial. Perkembangan teknologi komunikasi dan budaya digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola interaksi mahasiswa, baik melalui media sosial maupun komunikasi daring, yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam penerapan nilai-nilai Pancasila. Fenomena seperti ujaran negatif, penyebaran hoaks, dan perilaku tidak etis dapat muncul sebagai dampak dari rendahnya literasi etika, lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, serta pengawasan yang belum optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memahami dan menginternalisasi nilai-nilai PancasilaAikhususnya sila Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat IndonesiaAi cenderung lebih mampu berkomunikasi secara terbuka, menghargai perbedaan, serta menunjukkan perilaku yang etis dan bertanggung jawab. Selain itu, regulasi internal dan sistem pengawasan terbukti berperan signifikan dalam menekan potensi munculnya ujaran negatif dan perilaku tidak profesional. Meskipun demikian, tantangan tetap dijumpai, antara lain penggunaan media sosial yang kurang bijak, munculnya konflik perbedaan pendapat, serta praktik etika komunikasi yang belum diterapkan secara Kata kunci: Pancasila. karakter bangsa. revitalisasi nilai. pendidikan karakter ABSTRACT This study aims to examine the internalization of Pancasila values in character formation of students in the digital era, particularly those related to ethics, morals, and social The development of communication technology and digital culture has brought significant changes in student interaction patterns, both through social media and online communication, which presents both opportunities and challenges in the application of Pancasila values. Phenomena such as negative speech, the spread of hoaxes, and unethical behavior can arise as a result of low ethical literacy, weak understanding of Pancasila values, and suboptimal supervision. The results of the study indicate that students who understand and internalize Pancasila valuesAiparticularly the principles of Indonesian Unity. Democracy Guided by the Wisdom of Deliberation/Representation, and Social Justice for All Indonesian PeopleAitend to be more able to communicate openly, respect differences, and demonstrate ethical and responsible behavior. In addition, internal regulations and supervisory systems have been shown to play a significant role in suppressing the potential for negative speech and unprofessional behavior. However, challenges remain, including the unwise use of social media, the emergence of conflicts over differences of opinion, and ethical communication practices that have not been consistently implemented. Keyword: Pancasila. national character. revitalization of values. Corresponding Author: Hairul Amren. Politeknik Penerbangan Medan. Jalan Penerbangan No. Jamin Ginting Km. 8,5. Medan. Indonesia Email: hairulamren123@gmail. Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/HS Jurnal Nasional Holistic Science A INTRODUCTION Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan yang signifikan dalam pola interaksi sosial mahasiswa. Mahasiswa kini dapat berkomunikasi melalui berbagai platform digital, mulai dari media sosial hingga forum akademik daring. Kemudahan tersebut memberikan berbagai manfaat, seperti mempercepat pertukaran informasi, memperluas wawasan, serta mempermudah kolaborasi akademik. Namun, di sisi lain, era digital juga menghadirkan sejumlah tantangan, antara lain penyebaran ujaran negatif, misinformasi, cyberbullying, dan berbagai bentuk perilaku tidak etis lainnya. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki lima nilai utama yang dapat dijadikan pedoman dalam pembentukan karakter mahasiswa. Sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa, menuntut mahasiswa untuk berperilaku jujur, bertanggung jawab, serta menjunjung tinggi integritas moral dalam setiap tindakan. Dalam konteks komunikasi digital, nilai ini mengajarkan mahasiswa untuk tidak menyebarkan konten yang merendahkan martabat orang lain serta menghormati nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Sila kedua. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak dan martabat sesama manusia. Mahasiswa diarahkan untuk menghindari ujaran kebencian, diskriminasi, dan perilaku yang merugikan orang lain. Nilai ini menjadi sangat relevan dalam interaksi daring, di mana pernyataan dan komentar dapat dengan cepat menyebar luas dan menimbulkan dampak sosial yang signifikan. Sila ketiga. Persatuan Indonesia, mengajarkan pentingnya menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, serta mengedepankan semangat gotong royong. Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu mengelola perbedaan pendapat secara konstruktif, mencegah konflik, serta memelihara persatuan, baik di lingkungan kampus maupun dalam komunitas digital yang lebih luas. Sila keempat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menekankan pentingnya musyawarah dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa didorong untuk berdiskusi secara kritis, menyampaikan pendapat secara santun, serta menghargai perspektif orang lain sehingga tercipta budaya akademik yang inklusif dan demokratis. Sila kelima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengajarkan penerapan prinsip keadilan dalam setiap bentuk interaksi. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap tindakan, keputusan, maupun komunikasi harus bersifat adil, tidak diskriminatif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama, baik dalam kegiatan akademik maupun sosial. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila di kalangan mahasiswa masih belum optimal. Masih ditemukan mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengelola komunikasi digital secara etis serta belum sepenuhnya memahami keterkaitan antara moralitas, tanggung jawab sosial, dan etika profesional. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan pendidikan karakter yang sistematis, terstruktur, dan berbasis nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan perguruan tinggi. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa mahasiswa yang mampu menginternalisasi nilainilai Pancasila cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang lebih terbuka, menghargai perbedaan, serta mampu meminimalkan potensi konflik. Integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan akademik dan pembinaan karakter terbukti dapat meningkatkan kesadaran etika, tanggung jawab sosial, dan perilaku profesional mahasiswa, sehingga mendukung terciptanya lingkungan belajar yang harmonis dan kondusif. Era digital juga membawa tantangan tambahan berupa arus informasi yang cepat dan tidak selalu akurat, yang berpotensi memicu kesalahpahaman, konflik, maupun perilaku tidak etis. Oleh karena itu, pendidikan karakter berbasis Pancasila perlu disertai dengan penguatan literasi digital, pemahaman etika komunikasi, serta sistem pengawasan yang konsisten agar mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan bertanggung jawab. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis internalisasi nilainilai Pancasila dalam pembentukan karakter mahasiswa, khususnya terkait aspek etika, moral, dan tanggung jawab sosial di era digital. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis bagi perguruan tinggi dalam memperkuat literasi etika, membangun budaya komunikasi yang santun, serta menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila secara konsisten dalam kehidupan akademik dan sosial mahasiswa. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berorientasi pada analisis konseptual dengan tujuan menggali secara mendalam bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diinternalisasikan dalam pembentukan karakter mahasiswa di era digital. Pendekatan ini dipilih karena kajian mengenai etika, moral, dan tanggung jawab sosial memerlukan penelusuran terhadap makna filosofis, prinsip normatif, serta relevansinya dengan dinamika kehidupan mahasiswa modern. Sumber data utama penelitian diperoleh melalui penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan menghimpun informasi dari berbagai literatur akademik, seperti buku-buku filsafat Pancasila, artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional yang membahas pendidikan karakter dan komunikasi digital, serta dokumen kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan penguatan nilai-nilai ideologi bangsa. Selain itu, penelitian ini (Hairul Amre. A Jurnal Nasional Holistic Science juga memanfaatkan laporan penelitian terdahulu dan publikasi ilmiah yang secara langsung mengkaji perubahan perilaku mahasiswa di era digital. Proses pengumpulan data dilakukan melalui empat tahap utama. Pertama, pemindaian literatur, yaitu kegiatan mencari dan menelusuri berbagai publikasi yang relevan dengan isu nilai-nilai Pancasila dan pembentukan karakter mahasiswa. Kedua, pengelompokan literatur, yakni memilah sumber-sumber yang diperoleh berdasarkan tema-tema tertentu, seperti etika digital, tantangan moral mahasiswa, pengaruh teknologi terhadap perilaku, serta implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan tinggi. Ketiga, analisis tematik, yaitu menelaah isi literatur untuk mengidentifikasi pola pemikiran, argumen utama, dan keterkaitan antarkonsep yang dibahas. Keempat, penyusunan sintesis, yaitu merangkum dan mengintegrasikan temuantemuan tersebut ke dalam suatu kerangka pemikiran yang komprehensif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi kualitatif . ualitative content analysi. Melalui teknik ini, peneliti menafsirkan teks dengan mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila yang relevan, seperti nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Setiap nilai dianalisis keterkaitannya dengan perilaku mahasiswa di lingkungan digital, khususnya dalam konteks komunikasi daring, penggunaan media sosial, dan interaksi akademik. Hasil analisis selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian deskriptif yang menggambarkan posisi Pancasila sebagai landasan etika dalam membentuk karakter mahasiswa di tengah tantangan era digital. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menyusun interpretasi yang lebih luas mengenai urgensi internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam menciptakan karakter mahasiswa yang berintegritas, bertanggung jawab, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi. RESULTS AND DISCUSSION Relevansi Nilai-Nilai Pancasila dalam Era Digital Era digital telah mengubah secara signifikan cara mahasiswa berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Perubahan ini menghadirkan berbagai peluang, seperti kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan, kolaborasi lintas wilayah, serta percepatan inovasi. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga memunculkan tantangan moral, antara lain penyebaran ujaran kebencian, hoaks, cyberbullying, dan penyalahgunaan media sosial. Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila memiliki relevansi strategis sebagai landasan etika bagi mahasiswa untuk bersikap bijak, santun, dan bertanggung jawab. Setiap sila Pancasila memberikan pedoman moral yang menuntun mahasiswa dalam menavigasi kompleksitas kehidupan digital agar tetap berpegang pada nilai-nilai kebajikan. Internalisasi Nilai Ketuhanan dan Penguatan Integritas Moral Sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa, menekankan pentingnya integritas, kejujuran, dan akhlak Di era digital, mahasiswa dihadapkan pada berbagai tantangan etis, seperti plagiarisme daring, manipulasi informasi, dan tindakan tidak bertanggung jawab lainnya. Internalisasi nilai Ketuhanan tercermin dari kemampuan mahasiswa menjaga kejujuran akademik, menghindari penyebaran konten destruktif, serta menunjukkan tanggung jawab moral dalam setiap aktivitas digital. Pendidikan etika berbasis nilai-nilai Pancasila berperan penting dalam membantu mahasiswa memahami batasan moral dalam pemanfaatan teknologi secara bijaksana. Kemanusiaan dan Sensitivitas Sosial dalam Komunikasi Digital Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sangat relevan diterapkan dalam interaksi digital. Mahasiswa kerap terlibat dalam percakapan publik melalui media sosial yang rentan menimbulkan kesalahpahaman dan konflik. Internalisasi nilai kemanusiaan bertujuan membentuk empati, penghargaan terhadap hak dan martabat orang lain, serta kemampuan menghindari perilaku yang merugikan, seperti body shaming, ujaran kebencian, dan sikap meremehkan pendapat pihak lain. Penerapan nilai ini berdampak langsung pada terciptanya lingkungan digital yang lebih humanis, inklusif, dan beradab. Persatuan Indonesia dan Upaya Membangun Kerukunan Digital Arus informasi yang masif di era digital sering kali memperkuat polarisasi dan konflik sosial. Oleh karena itu, internalisasi nilai Persatuan Indonesia menjadi penting agar mahasiswa mampu berperan sebagai agen pemersatu. Nilai persatuan mendorong mahasiswa untuk mengedepankan toleransi, menghargai keberagaman, serta menghindari sikap dan perilaku yang berpotensi memecah belah. Dalam lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa yang mengamalkan nilai persatuan mampu bekerja sama tanpa memandang perbedaan latar belakang, menjaga kerukunan antarkelompok, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bersifat divisif. Musyawarah. Kebijaksanaan, dan Etika Komunikasi Akademik Sila keempat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menekankan pentingnya budaya diskusi yang sehat, kritis, dan berorientasi pada Dalam ruang digital, mahasiswa dituntut untuk mampu berdialog secara konstruktif, menyampaikan Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025: 330 Ae 334 Jurnal Nasional Holistic Science A pendapat dengan santun, serta mempertimbangkan dampak dari setiap pernyataan yang disampaikan kepada Internalisasi nilai musyawarah dan kebijaksanaan membantu mahasiswa mengurangi perilaku impulsif, seperti komentar kasar, perdebatan emosional, dan penyebaran informasi tanpa verifikasi. Selain itu, musyawarah digital yang sehat turut meningkatkan kualitas diskusi akademik dan memperkuat budaya komunikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. Keadilan Sosial dan Profesionalisme Mahasiswa Sila kelima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, berkaitan erat dengan prinsip keadilan, non-diskriminasi, dan tanggung jawab sosial. Mahasiswa dituntut untuk bersikap adil dalam kerja tim, menghargai peran setiap anggota, serta tidak memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pribadi yang dapat merugikan orang lain. Dalam konteks profesionalisme, mahasiswa yang memahami nilai keadilan akan menghindari penyalahgunaan informasi, menjaga keamanan data pribadi, serta menghormati hak cipta dan privasi digital. Penerapan nilai ini menjadi fondasi penting dalam membentuk sikap profesional mahasiswa baik di lingkungan akademik maupun dalam persiapan memasuki dunia kerja. Peran Institusi Pendidikan dalam Menguatkan Internalisasi Nilai Hasil analisis menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memfasilitasi internalisasi nilai-nilai Pancasila pada mahasiswa. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa upaya Integrasi nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum formal. Pembinaan karakter mahasiswa melalui kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi kemahasiswaan. Penerapan regulasi internal yang menegaskan etika komunikasi dan perilaku akademik. Pengawasan terhadap perilaku mahasiswa, termasuk aktivitas di ruang digital. Pelaksanaan pelatihan literasi digital dan etika profesi secara berkelanjutan. Institusi pendidikan yang melaksanakan pembinaan karakter secara konsisten cenderung menghasilkan mahasiswa yang berperilaku lebih disiplin, etis, serta bertanggung jawab dalam kehidupan akademik dan sosial. Tantangan Internalisasi Nilai Pancasila di Era Digital Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam internalisasi nilai-nilai Pancasila di era digital, antara lain: Tingginya paparan konten negatif yang berpotensi memengaruhi pola pikir dan sikap mahasiswa. Rendahnya literasi digital, sehingga mahasiswa mengalami kesulitan dalam membedakan informasi yang valid dan hoaks. Meningkatnya individualisme digital, yang mendorong mahasiswa lebih berorientasi pada kepentingan pribadi. Kurang optimalnya pengawasan terhadap perilaku mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di ruang digital. Perubahan budaya komunikasi yang berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan proses pembinaan Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan perlunya strategi pembinaan karakter yang lebih adaptif, inovatif, dan relevan dengan dinamika perkembangan teknologi. Strategi Penguatan Etika dan Moral dalam Lingkungan Mahasiswa Untuk memperkuat etika dan moral mahasiswa di era digital, beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain: Penerapan kurikulum etika digital berbasis nilai-nilai Pancasila. Pelaksanaan kegiatan literasi media serta pelatihan berpikir kritis. Penguatan budaya dialog melalui forum diskusi akademik yang konstruktif. Penerapan sistem pengawasan digital kampus yang berbasis standar operasional prosedur (SOP) yang Penguatan kolaborasi antara dosen, tenaga kependidikan, pembina kemahasiswaan, dan organisasi Strategi-strategi tersebut diharapkan mampu membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan bertanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi. Internalisasi Nilai Pancasila sebagai Dasar Pembentukan Karakter Profesional Pembahasan ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai kerangka etika profesional bagi mahasiswa. Internalisasi nilai-nilai Pancasila secara konsisten menjadikan mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja, lebih matang dalam berkomunikasi, serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Nilai-nilai tersebut membentuk pribadi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, etos kerja, dan komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat. (Hairul Amre. A Jurnal Nasional Holistic Science CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter mahasiswa di era digital. Pancasila berfungsi sebagai pedoman etika yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan moral yang muncul seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi Mahasiswa yang mampu menginternalisasi nilai Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Musyawarah, dan Keadilan cenderung menunjukkan sikap yang lebih bijak, etis, santun, serta bertanggung jawab dalam interaksi digital maupun aktivitas akademik. Era digital menghadirkan tantangan yang semakin kompleks, seperti maraknya ujaran kebencian, penyebaran misinformasi, dan perilaku tidak profesional. Namun demikian, melalui pendidikan karakter berbasis Pancasila yang terintegrasi secara sistematis ke dalam kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, dan budaya pembinaan di perguruan tinggi, mahasiswa dapat dibentuk menjadi pribadi yang memiliki integritas Temuan penelitian ini juga menegaskan bahwa institusi pendidikan memegang peran strategis dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila melalui penerapan regulasi internal, pengawasan perilaku mahasiswa, serta penguatan literasi etika digital. Secara keseluruhan, internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dipandang sebagai solusi yang efektif dalam membangun karakter mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan aspek moralitas, etika komunikasi, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital berbasis etika Pancasila, peningkatan fasilitas dan program pembinaan karakter, serta pelaksanaan evaluasi berkala terhadap perilaku mahasiswa dalam lingkungan digital guna memastikan terciptanya iklim akademik yang beretika dan berkelanjutan. REFERENCES