JURNAL IKHTIBAR NUSANTARA E-ISSN: 2964-5255 Editorial Address: Jl. Utama Rukoh. Banda Aceh City. Aceh Province Received: 9 Febuari 2026 | Accepted: 5 Maret 2026 | Published: 5 Juni 2026 INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI FANTEN PADA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW DI DESA TEPELEO KABUPATEN HALMAHERA TENGAH Umiyati Badi Institut Agama Islam Negeri Ternate email: umiyatibadi@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Fanten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah, serta mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat setempat sebagai informan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Fanten berlangsung melalui pendekatan kultural dan partisipatif, yaitu: . Melalui pembacaan shalawat, doa bersama, serta pengisahan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW. Proses ini didukung oleh keteladanan tokoh agama dan keterlibatan aktif masyarakat, sehingga nilai-nilai Islam dapat tertanam secara berkelanjutan dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai pendidikan Islam yang terinternalisasi dalam tradisi Fanten meliputi nilai aqidah, nilai ibadah, dan nilai akhlak. Nilai aqidah tercermin dalam penguatan keimanan kepada Allah SWT dan pengakuan terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Nilai ibadah terlihat dalam pelaksanaan shalawat, doa, serta aktivitas sosial yang dilakukan dengan niat karena Allah. Sedangkan nilai akhlak tercermin dalam sikap kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial masyarakat. tradisi Fanten memiliki makna penting sebagai media pendidikan Islam berbasis kearifan lokal yang efektif dalam membentuk kepribadian masyarakat yang religius dan berakhlak mulia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya yang berbasis budaya lokal. Kata kunci: Internalisasi. Pendidikan Islam. Tradisi Fanten. PENDAHULUAN Pendidikan Islam memiliki orientasi yang luas, tidak hanya terbatas pada proses transfer pengetahuan . ransfer of knowledg. , tetapi juga transformasi nilai . ransfer of valu. yang berakar pada ajaran Al-QurAoan dan Sunnah. Nilai-nilai pendidikan Islam berfungsi membentuk kepribadian, moralitas, dan karakter manusia agar sesuai dengan ajaran Islam. Dalam konteks masyarakat Indonesia, internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam tidak hanya berlangsung di lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui tradisi dan Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 2, 2026 377 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwariskan secara turun-temurun dan berfungsi memperkuat identitas sosial. Oleh karena itu, tradisi keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi media penting untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan memperkuat spiritualitas masyarakat. Salah satu tradisi keagamaan yang menarik untuk dikaji adalah tradisi Fanten di Desa Tepeleo. Kecamatan Patani Utara. Kabupaten Halmahera Tengah. Tradisi ini merupakan bagian dari perayaan Maulid Nabi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, diwarnai dengan kegiatan doa bersama, pembacaan Barzanji, pembacaan shalawat, dan arak-arakan makanan . sebagai simbol rasa syukur dan Tradisi Fanten memiliki nilai-nilai pendidikan Islam yang mendalam, seperti ukhuwah . , syukur, keteladanan Nabi, kepedulian sosial, serta gotong Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep akhlakul karimah dan teori pendidikan Islam yang menekankan pembentukan insan kamil. Potensi yang dimiliki manusia itu dapat melahirkan berbagai kebudayaan yang sangat berdampak di dalam ruang Mereka berperan sebagai pencipta budaya, dan pendukung serta pewaris berjalannya kebudayaan secara turun temurun. Manusia merupakan makhluk sosial yang dituntut untuk mampu bekerja sama sehingga tercipta sebuah kehidupan yang damai. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, manusia dalam mengembangkan pengetahuannya tentu memerlukan seorang pendidik baik dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun dari masyarakat yang sangat berperan penting dalam pendidikan karena pendidikan tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi harus dilaksanakan secara bersama-sama. Tidak ada agama yang bebas dari pengaruh budaya, termasuk pengaruhnya pada masyarakat muslim di Tepeleo, salah satu kabupaten di Maluku Utara yang mengadakan perayaan maulid Nabi Muhammad saw. setiap bulan RabiAoul Awwal dengan melakukan tradisi-tradisi tertentu. Perayaan maulid Nabi ini bagi sebagian besar kalangan masyarakat di dunia merupakan salah satu apresiasi bentuk kecintaan mereka kepada Nabi saw. Akan tetapi sebuah perayaan, terutama yang terkait dengan agama tentu tidak akan terlepas dari adanya pro dan kontra. Penelitian ini berangkat dari adanya kesenjangan . antara kajian pendidikan Islam yang selama ini lebih banyak berfokus pada lingkungan formal seperti sekolah, madrasah, dan pesantren dengan realitas social keagamaan masyarakat yang mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui tradisi budaya lokal. Sebagian besar penelitian terdahulu membahas internalisasi nilai Islam dalam konteks pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan di institusi pendidikan, namun belum banyak yang mengkaji proses Muhammad Rusydi Rasyid. Ilmu Pendidikan Islam (Cet. Gowa: Pusaka Almaida, 2. , h 161 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam internalisasi nilai melalui tradisi lokal seperti Fanten dalam peringatan Maulid Nabi di masyarakat Tepeleo. Selain itu, kajian tentang pendidikan Islam berbasis kearifan lokal di kawasan Indonesia Timur, khususnya di Halmahera Tengah, masih sangat terbatas. Tradisi Fanten yang merupakan simbol solidaritas sosial dan penghormatan terhadap Maulid Nabi belum pernah dianalisis dari perspektif pendidikan Islam dan teori internalisasi nilai . Padahal, di dalamnya terdapat proses penanaman nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan sosial yang berjalan secara alami melalui partisipasi, keteladanan, dan interaksi sosial masyarakat. Dari sisi kebaruan . , penelitian ini menawarkan pendekatan baru dalam memahami internalisasi nilai-nilai Islam melalui tradisi budaya lokal . ocal wisdo. Pertama, secara konseptual, penelitian ini mengintegrasikan teori internalisasi nilai tradisi dengan nilai-nilai pendidikan Islam, membentuk model internalisasi berbasis tradisi Fanten. Kedua, secara kontekstual, penelitian ini menampilkan realitas empiris masyarakat Tepeleo yang unik sebagai contoh pendidikan Islam berbasis komunitas. Ketiga, secara empiris, penelitian ini menunjukkan bahwa Fanten bukan sekadar ritual budaya, tetapi menjadi media efektif pembentukan karakter Islami masyarakat, memperkuat nilai kebersamaan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Penelitian ini mengisi kekosongan kajian pendidikan Islam yang berakar pada budaya lokal dan memberikan kontribusi baru berupa model internalisasi nilai-nilai Islam berbasis tradisi keagamaan masyarakat Tepeleo, yang relevan bagi pengembangan pendidikan Islam kontekstual di Indonesia. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, muncul kekhawatiran bahwa tradisi seperti Fanten mulai kehilangan makna spiritualnya dan bergeser menjadi ritual seremonial tanpa nilai edukatif. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menggali secara mendalam bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam diinternalisasikan melalui tradisi Fanten serta bagaimana masyarakat memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. 2 Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Fanten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggali makna, nilai, serta pengalaman yang dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. John W. Creswell. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, 4th ed. (California: SAGE Publications, 2. , p. Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 379 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan 4 Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung rangkaian pelaksanaan tradisi Fanten serta interaksi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Wawancara mendalam dilakukan kepada informan yang dianggap mengetahui dan memahami tradisi Fanten, seperti tokoh agama, tokoh adat, pemerintah desa, panitia pelaksana, serta masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk memperoleh data berupa foto kegiatan, arsip desa, catatan sejarah, serta dokumen lain yang berkaitan dengan tradisi Fanten dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder. 5 Sumber data primer diperoleh secara langsung dari hasil wawancara dengan informan dan hasil observasi lapangan terkait pelaksanaan tradisi Fanten. Adapun sumber data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang relevan, seperti buku, jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu, dokumen desa, serta sumber-sumber tertulis lainnya yang mendukung kajian tentang pendidikan Islam, internalisasi nilai, budaya lokal, dan tradisi Maulid Nabi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang berupa kata-kata, ungkapan, perilaku, tindakan, serta informasi yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. 6 Data tersebut difokuskan pada nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Fanten, proses internalisasi nilai, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pewarisan nilai-nilai tersebut kepada Analisis data dilakukan secara interaktif dengan mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. 7 Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian naratif sehingga memudahkan peneliti memahami pola dan hubungan antar data. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian untuk memperoleh temuan yang valid mengenai internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Fanten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , hlm. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif, hlm. Matthew B. Miles. Michael Huberman, dan Johnny Saldaya. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 4th ed. (California: SAGE Publications, 2. , p. Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambaran Umum Lokasi Penelitian Profil Desa Tepeleo Desa Tepeleo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Patani Utara. Kabupaten Halmahera Tengah. Provinsi Maluku Utara. Desa ini dikenal sebagai wilayah yang memiliki kehidupan sosial keagamaan yang cukup kuat. Mayoritas penduduk Desa Tepeleo beragama Islam dan masih mempertahankan berbagai tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Kehidupan masyarakat Desa Tepeleo sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan adat istiadat lokal. Tradisi keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pengajian, tahlilan, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kondisi Geografis Desa Tepeleo Batu Dua Memiliki Luas Wiyalah 6. 380 Ha yang terbagi menjadi 4 . Dusun, masing-masing di pimpin oleh kepala Dusun. Secara geografis Desa Tepeleo Batu Dua berada pada ketinggian antara 0 s/d 175 M diatas permukaan laut . , sehingga tergolong dataran rendah. Tipologi desa persiapan Epele Adalah tipologi desa Pantai ( desa pesis. dengan suhu rata-rata sekitar 30ycu c , dengan batas-batasan wilayahnya sebagai Sebelah Utara : Laut Pasifik Sebelah Timur : Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara Sebelah Selatan : Desa Kipai Kecamatan Patani Sebelah Barat : Desa Pantura Jaya Kecamatan Patani Utara Dari segi orbitas waktu tempuh dan letak Desa Tepeleo Batu Dua Adalah sebagai A Jarak ke Ibu Kota Kecamatan: 3 KM A Jarak ke Ibu Kota Kabupaten : 161,0 KM A Jarak ke Ibu Kota Provinsi : 257,4 KM Keadaan Kependudukan . Jumlah Kepala Keluarga : 500 KK . Jumlah Jiwa: 2. 016 Jiwa . Jiwa Laki-laki : 996 Jiwa . Jiwa Perempuan: 1. 020 Jiwa . Mata Pencaharian Utama : Petani/Pekebun dan Nelayan, dll. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Masyarakat Desa Tepeleo memiliki tingkat religiusitas yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari berbagai aktivitas keagamaan yang rutin dilaksanakan seperti shalat berjamaah di masjid, kegiatan pengajian, peringatan hari besar Islam, serta tradisi-tradisi keagamaan lainnya. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi Dokumen Desa Tepeleo Batu Dua, diakses pada 10 Maret 2026 waktu 09:30 WIT Dokumen Desa Tepeleo Batu Dua, diakses pada 10 Maret 2026 waktu 09:30 WIT Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 381 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Fanten yang dilaksanakan pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga memiliki makna spiritual dan pendidikan keagamaan bagi masyarakat. Tradisi Fanten dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tepeleo. Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yg masih dilestarikan dan dijalankan oleh masyarakat, penilaian ataupun anggapan bahwa cara cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar. jika didalami lebih detail maka makna tradisi sendiri mungkin dapat diartikan sebagai suatu ciptaan atau sebuah karya yang dibuat oleh manusia baik berupa kepercayaan, atau kejadian yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Tradisi ini meliputi adat istiadat, kesenian dan kegiatan kegiatan lainnya. Negara Indonesia sendiri merupakan negara dengan berbagai macam tradisi. Hal tersebut dikarenakan kemajemukan masyarakatnya, baik dalam agama, ras, suku dan juga Keberagaman inilah yg menyebabkan adanya perbedaan tradisi sesuai daerah, suku serta kepercayaan masing masing. 11 Misalnya tradisi masyarakat Bali yang mayoritas beragama hindu seperti tradisi kremasi jenazah di bali yang dikenal dengan sebutan upacara Ngaben, tradisi mesuryak ditabanan. Ogoh Ogoh, ngusaba buka kak dan sebagainya. masyarakat Tionghoa juga memiliki tradisi tersendiri seperti tradisi barongsai yang biasa dilakukan untuk menyambut Imlek. Masyarakat buddha dengan tradisi festival visakha bucha di thailand dalam menyambut hari raya waisak, pemercikan air di malaysia oleh para biksu dan sebagainya. sebuah tradisi biasanya memerlukan properti atau sarana dan prasarana khusus, karena hal itu merupakan suatu kepercayaan yang telah terdoktrin secara turun temurun kepada seluruh masyarakat pemeluknya Demi terealisasinya sebuah tradisi. sehingga tradisi itu dianggap sah dan dapat diterima menurut adat dan kepercayaan masing masing daerah. Dalam agama Islam sendiri yg merupakan agama mayoitas bangsa indonesia, sudah mulai berkembang tradisi tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan pada Hal ini tak bisa terlepas dari peran para penyebar islam di indonesia seperti walisongo yang telah berusaha mengkolaborasikan kebudayaan indonesia dengan agama islam sehingga setiap tradisi yg berkembang pada saat itu tetap bernilai religius sesuai dengan tuntunan agama islam. karena telah menjadi kepercayaan, tak heran jika tradisi tradisi seperti tahlilan, slametan kandungan, mengirim doa untuk orang meninggal Nahdiyah & Saiffuddin. Maulid Nabi. Antara Islam Dan Tradisi Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist / Volume 4. No. Juni 2021 / p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Nahdiyah & Saiffuddin i Al-Bayan: No. Juni 2021 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam . , dan sebagainya telah menjadi suatu kepercayaan masyarakat sehingga memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan spiritual baik individual maupun sosial. Tradisi Fanten merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Desa Tepeleo yang dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga menjadi sarana penguatan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan Secara umum. Fanten dipahami sebagai praktik membawa dan menyajikan berbagai jenis makanan tradisional yang dihias secara menarik sebagai bentuk ungkapan syukur dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Makanan tersebut biasanya disusun dalam wadah tertentu, kemudian diarak menuju tempat pelaksanaan Maulid, seperti masjid atau rumah tokoh agama. Pelaksanaan tradisi Fanten dalam peringatan Maulid di Desa Tepeleo diawali dengan kegiatan pembacaan shalawat dan dzikir, yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, masyarakat membawa Fanten secara bersama-sama dengan penuh khidmat dan kebersamaan. Prosesi ini mencerminkan nilai gotong royong, solidaritas, dan kekompakan antarwarga. Selain itu, dalam tradisi ini juga terdapat pembacaan riwayat hidup . Nabi Muhammad SAW, ceramah keagamaan, serta doa bersama. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, makanan dalam Fanten kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir sebagai simbol berbagi rezeki dan mempererat tali silaturahmi. dalam waktu yang bersamaan. Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing tradisi ataupun kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan. Dalam banyak tradisi, seringkali terkandung nilai-nilai budi pekerti yang luhur, dan Islam pun datang untuk Oleh karena itu, kita dapati beberapa hukum syariAah dalam Islam diadopsi dari tradisi jahiliah seperti hukum qasamah, diyat Aaqilah, persyaratan kafah . eserasian sosia. dalam pernikahan, akad qiradh . agi hasi. , dan tradisi-tradisi baik lainnya dalam Jahiliyah. Sebagaimana puasa Asyura, juga berasal dari tradisi Jahiliyah dan Yahudi, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih alBukhari dan Muslim. Maka ajaran Islam pun datang tidak untuk menghapus tradisi, tetapi dalam rangka memperbaiki dan menyempurnakan tradisi. Hadits di atas memberikan pesan bahwa Islam itu agama yang memberikan kabar gembira, dan tidak menjadikan orang lain membencinya, memudahkan dan tidak mempersulit, antara lain dengan menerima system dari luar Islam yang mengajak pada Sebagaimana dimaklumi, suatu masyarakat sangat berat untuk meninggalkan tradisi yang telah berjalan lama. Menolak tradisi mereka, berarti mempersulit keislaman Nahdiyah & Saiffuddin. Maulid Nabi. Antara Islam Dan Tradisi Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist / Volume 4. No. Juni 2021 / p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 383 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Perhatian Islam terhadap tradisi juga ditegaskan oleh para sahabat, antara lain Abdullah bin MasAud yang berkata AuTradisi yang dianggap baik oleh umat Islam. Sejarah Tradisi Fanten Pada umumnya, acara perayaan maulid nabi Muhammad SAW selalu identik dengan pembacaan Sholawat atau sanjungan dan pujian dengan tujuan sebagai bentuk dari penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Memang, esensi maulid nabi itu sendiri adalah sebagai penghormatan serta mensyukuri nikmat Allah yang agung yang berupa dilahirkannya Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia. Bersyukur atas nikmat kelahiran Rasulullah telah dicontohkan oleh beliau sendiri dengan cara berpuasa dihari kelahirannya. Acara maulid nabi sering kali dikemas dengan bentuk pengajian umum. umumnya dalam acara maulid nabi diisi dengan pembacaan Ayat suci Al Quran kemudian beberapa kitab maulid seperti kitab Maulid Ad diba'i karangan al imam al jalil Abdurrahman addiba'i yang berisi tentang sholawat, sanjungan serta kisah hidup Rasulullah. terkadang juga kitab al barzanji karya Syaikh JaAfar Al Barzanji Kitab simtidduror karya Al Habib Ali bon Muhammad Al Habsyi dan kitab Maulid Asyroful anam karya As Syaikh Syihabuddin Ahmad Alhariri serta kitab kitab lainnya Yang kesemuanya berisi tentang sholawat sanjungan, pujian dan kisah Rasulullah SAW. Puncak acara peringatan maulid nabi Muhammad saw adalah Qiyam kemudian ditutup dan diakhiri dengan DoAa. namun Tak cukup itu saja, biasanya setiap daerah memiliki cara cara atau tradisi unik yang terus terjaga dan eksis hingga saat ini dalam merayakan hari kelahiran Rasulullah saw tersebut. Tradisi atau cara cara tersebut merupakan bentuk dari ungkapan rasa syukur dan rasa hormat serta kegembiraan mereka dalam meytambut kelahiran sang nabi. Tradisi Coka Iba dan Fanten merupakan budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat Halmahera Tengah dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilakukan dengan berzikir dan iringan shalawat semalam Cokaiba adalah ritual religi masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah (Wed. yang selalu diadakan pada setiap tahun, dalam memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW (Maulid Nab. Ritual Cokaiba telah berkembang sejak dahulu kala, konon 3 orang bersaudara yaitu Sangaji Mobon (Tetua Mab. Sangaji Patani (Tetua Patan. dan Sangaji Weda (Tetua Wed. Pada suatu hari ketiga penguasa ini menggelar Nahdiyah & Saiffuddin. Maulid Nabi. Antara Islam Dan Tradisi Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist / Volume 4. No. Juni 2021 / p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Nahdiyah & Saiffuddin. Maulid Nabi. Antara Islam Dan Tradisi Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist / Volume 4. No. Juni 2021 / p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam rapat untuk membagi zona dalam rangka penyebaran Agama Islam yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awal. Upacara Cokaiba juga mengajarkan kepada masyarakat Halmahera Tengah agar terus bersilaturahim, untuk menjaga mempererat hubungan antara sesama manusia baik sesama masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah, maupun masyarakat di luar masyarakat tersebut. Nilai-nilai sosial yang terlihat adalah kesibukan masyarakat Gamrange (Weda. Patani dan Mab. yang sama-sama melakukan persiapan untuk pelaksanaan upacara Coka Iba dan ikut serta dalam proses upacara, hal ini secara tidak langsung sudah menciptakan dan meningkatkan keeratan kekeluargan diantara anggota masyarakat di Halmahera Tengah. Makna dari upacara Cokaiba ini adalah perayaan Gambar: Cokaiba, pada perayaan fanten Tradisi Coka Iba dan Fanten menjadi sebuah tradisi yang perlu dilestarikan dan Untuk melestarikan dan menjaga tradisi tersebut maka para petuah adat atau petuah asal fagogoru berkonsultasi dan berembuk sebagai langkah menyusun peraturan yang dapat mendorong Pemerintah dan DPRD Kabupaten Halmahera Tengah untuk melestarikan dan menjaga tradisi Coka Iba dan Fanten ini sehigga menjadi budaya yang dapat dipertahankan dan dilestarikan kepada generasi selanjudnya. AuTradisi Cokaiba itu merupakan salah satu adat turun-temurun yang sudah lama ada di masyarakat kami. Dari dulu orang tua-tua sudah melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk kebersamaan masyarakat dalam momentum tertentu, biasanya berkaitan dengan kegiatan adat, keagamaan, atau hubungan kekeluargaan dalam Cokaiba bukan hanya acara biasa, tetapi mengandung makna sosial yang besar karena semua masyarakat ikut terlibat tanpa membedakan status ekonomi maupun kedudukan. https://kikomunal-indonesia. id/home/explore/cultural/31765 diakses 13 maret 2026 waktu 21:30 WIT Wawancara. Udri Ibrahim kepala desa Tepeleo pada 10 Maret 2026 waktu 09:20 WIT Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 385 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Kalau kita lihat lebih dalam, tradisi ini sebenarnya menjadi wadah untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan menjaga persatuan masyarakat. Dulu masyarakat sangat bergantung satu sama lain sehingga budaya kebersamaan seperti ini sangat dijaga. Sampai sekarang, walaupun sudah banyak perubahan zaman, masyarakat masih mempertahankan Cokaiba karena dianggap sebagai identitas budaya daerah. AuKalau berdasarkan cerita orang tua dulu, tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Patani dan daerah sekitarnya. Tidak ada catatan tertulis secara pasti kapan dimulai, tetapi diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Awalnya tradisi ini menjadi bagian dari cara masyarakat membangun hubungan sosial dan memperkuat solidaritas antar keluargaAy17 Masyarakat dulu hidup sederhana dan sering menghadapi tantangan bersama, sehingga muncul kebiasaan untuk berkumpul, saling membantu, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan secara kolektif. Dari situlah tradisi ini berkembang menjadi budaya yang terus dipertahankan sampai sekarang. Tradisi Cokaiba merupakan salah satu warisan budaya masyarakat di Kabupaten Halmahera Tengah yang masih dipertahankan dan dilaksanakan secara turun-temurun. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setahun sekali, terutama pada momentum hari-hari besar Islam, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengenakan pakaian adat atau busana tradisional daerah sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur sekaligus identitas budaya masyarakat setempat. Tradisi Cokaiba menjadi bagian penting dari perayaan keagamaan karena tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budaya, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi religius masyarakat dalam memuliakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada momentum tersebut, masyarakat berkumpul di masjid atau lokasi tertentu untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan, seperti pembacaan salawat, doa bersama, ceramah agama, serta kegiatan adat yang diwariskan oleh leluhur. Dalam praktiknya, masyarakat yang mengikuti tradisi Cokaiba mengenakan pakaian adat khas daerah sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi dan bentuk pelestarian budaya lokal. Penggunaan pakaian adat ini mencerminkan identitas masyarakat Halmahera Tengah yang tetap menjaga nilai budaya di tengah perkembangan Selain itu, pelaksanaan tradisi secara kolektif memperlihatkan kuatnya rasa kebersamaan, solidaritas, dan persaudaraan di antara masyarakat. Tradisi Cokaiba juga mengandung nilai-nilai pendidikan Islam, terutama dalam aspek ukhuwah Islamiyah . , penghormatan kepada tokoh agama dan orang tua, serta penguatan nilai religius melalui kegiatan keagamaan. Pada saat pelaksanaan Maulid Nabi, masyarakat tidak hanya mengikuti prosesi adat, tetapi juga mendengarkan Wawancara. Safar Haruna Tokoh masyarakat pada 10 Maret 2026 waktu 11:00 WIT https://rri. id/ternate/regional/977139/mengenal-tradisi-cokaiba-rayakan-maulidnabi-muhammad-saw diakses pada 15 Maret 2026 waktu 09:00 WIT Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam nasihat agama, pembacaan sejarah Nabi Muhammad SAW, dan pesan moral yang dapat dijadikan pedoman kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan Islam, tradisi seperti Cokaiba dapat dipahami sebagai bentuk pendidikan berbasis budaya lokal . ocal wisdo. , karena nilai-nilai agama ditanamkan melalui kebiasaan masyarakat. Tradisi ini secara tidak langsung menjadi sarana pendidikan nonformal bagi generasi muda untuk mengenal ajaran Islam sekaligus memahami budaya daerah mereka sendiri. Keberadaan tradisi Cokaiba menunjukkan adanya harmonisasi antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Halmahera Tengah. Adat dan agama berjalan secara berdampingan sehingga tradisi yang dilaksanakan tetap berada dalam koridor nilai keislaman tanpa meninggalkan identitas budaya masyarakat Sebenarnya. Pelaksanaan Maulid Nabi sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun lalu oleh Umat Islam di dunia. Menurut AM. Waskito, setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid:20 . Perayaan Maulid pertama kali diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathim. di mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidha. Dinasti ini berkuasa di Mesir pada tahun 362 sampai dengan 567 Hijriyah. Maulid mula-mula diselenggarakan di era kepemimpinan Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Muiz Dinillah. Tidak hanya Maulid Nabi Muhammad SAW saja yang mereka peringati, ada juga hari lainnya, yaitu peringatan Asyura. Maulid Ali bin Abi Thalib. Maulid Hasan dan Husain, dan Maulid Fathimah binti Rasulullah. Peringatan Maulid dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Pada saat peringatan Maulid beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu tamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin. Peringatan Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Shalahuddin AlAyyubi . -622 H), penguasa dinasti Ayyub . i bawah kekuasaan Daulah Abbassiya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis. Terlepas dari beberapa pendapat tersebut. Al Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah https://rri. id/ternate/regional/977139/mengenal-tradisi-cokaiba-rayakan-maulidnabi-muhammad-saw diakses pada 15 Maret 2026 waktu 09:00 WIT Waskito. Pro Kontra Maulid Nabi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2. , hlm. Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 387 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Pelaksaan Tradisi Fanten Tradisi Fanten merupakan salah satu bentuk tradisi lokal masyarakat Desa Tepeleo yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini biasanya dilakukan di masjid atau tempat-tempat tertentu yang telah disepakati oleh masyarakat. Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa berbagai makanan tradisional yang disusun secara khusus sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT serta sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaan tradisi Fanten biasanya diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-QurAoan, dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, kemudian diakhiri dengan doa bersama. Setelah itu makanan yang dibawa oleh masyarakat dibagikan kepada para jamaah sebagai bentuk kebersamaan dan solidaritas sosial. Tradisi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai keislaman bagi masyarakat, terutama generasi muda. Gambar: Perayaan hari besar Maulid Muhammad SAW desa Tepeleo Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Tepeleo, beliau menjelaskan bahwa tradisi Fanten telah dilaksanakan sejak lama oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang disampaikan oleh Udri Ibrahim Kepala Desa Tepeleo:21 AuTradisi Fanten ini sudah ada sejak zaman orang tua dulu. Tujuan utamanya adalah memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan mengajarkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda, agar selalu mencintai Rasulullah serta meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Ay Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antar Hal ini diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Tepeleo. Bapak Safar Haruna, tokoh masyarakat Desa Tepeleo, menyatakan: AuMelalui tradisi Fanten ini masyarakat berkumpul bersama di masjid. Semua orang ikut berpartisipasi, baik dalam menyiapkan makanan maupun dalam kegiatan doa Wawancara. Udri Ibrahim kepala desa Tepeleo pada 10 Maret 2026 waktu 09:20 WIT Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam dan pembacaan Maulid. Dari situ terlihat adanya kebersamaan dan kekompakan Ay22 Tepat pada 12 Rabiul Awal 1445 Hijriah bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan Umat Muslim di seluruh Dunia bahkan di Indonesia. Budaya Fante, menjadi tradisi yang selalu dilaksanakan oleh Masyarakat di Desa Bilifitu dan Desa Santosa Kecamatan Patani Utara, di Setiap Momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Gambar: Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Sepertinya Pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dari Tahun Ke Tahun, dimana Adat Istiadat Fanten Selalu dilaksanakan oleh Masyarakat Weda dan Patani Selalu Bersamaan. Lewat lantunan Ayat Al-Quran, berjanji dan pukulan Arbana mempererat hubungan Silaturahmi sesama Muslim. AuAcara Fanten ini merupakan Bingkai adat dalam setiap Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan adat Fanten ini, bukan hanya sekedar sebagai Simbol perayaan adat semata. Namun, juga sebagai Proses keteguhan Iman Kita kepada Allah SWT, serta sebagai pilar untuk dapat memperkuat Ukhuwah Islamiah di dalam bermasyarakat,Ay23 Wawancara. Safar Haruna Tokoh masyarakat pada 10 Maret 2026 waktu 11:00 WIT Wawancara. Pasi Samsi. Imam Desa Tepeleo pada 11 Maret 2026 waktu 09:20 WIT Ikhtibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 389 Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidkan Islam Dalam momentum Fanten peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, patut dipanjat syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan keluasan Rezeki dan hidayahnya kepada Negeri Fagogoru ini. Gambar: Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW AuMempererat Silaturahmi serta Solidaritas Sosial antar Umat beragama dan Menghargai nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dengan meneguhkan sikap terbuka kepada semua pihak. Untuk hidup dan berkembang dengan mewujudkan masyarakat yang Berbudi re bahasa. Ngaku re Rasai. Sopan Re Hormat. Mitat Re Mimoi,Ay24 Pendidikan Islam menegaskan nilai-nilai yang berasal dari keyakinan agama Islam dan menjadi pijakan utama dalam kehidupan umat Muslim. Tujuan dari nilai-nilai pendidikan agama Islam adalah untuk membawa berkah bagi semua makhluk di dunia ini, dengan mengacu pada ajaran Al-Quran sebagai sumber utama. Secara khusus, terdapat tiga aspek utama dalam nilai-nilai keagamaan, yakni nilai akidah, nilai syariah, dan nilai akhlak. Proses internalisasi nilai-nilai agama melibatkan beberapa tahap, yakni tahap transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi nilai. Implementasi proses internalisasi nilai-nilai agama di lingkungan sekolah yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan akan menjadi landasan bagi terbentuknya lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keagamaan. Menciptakan suasana kehidupan yang penuh dengan spiritualitas di Masyarakat dapat didukung dengan mengadakan berbagai kegiatan Wawancara. Safar Haruna tokoh Masyarakat, pada 10 Maret 2026 waktu 11:00 WIT Umiyati Badi Internalisasi Nilai Pendidikan Islam KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Fanten pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah, dapat disimpulkan sebagai Proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Fanten berlangsung secara alami melalui pendekatan kultural dan partisipatif. Masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam pelaksanaan tradisi. Proses ini dilakukan melalui pembacaan shalawat, doa bersama, serta pengisahan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang mengandung pesan-pesan keislaman. Internalisasi terjadi melalui pembiasaan, keteladanan tokoh agama, serta keterlibatan langsung seluruh lapisan masyarakat, sehingga nilai-nilai Islam tertanam secara Nilai aqidah yang diinternalisasikan dalam tradisi Fanten terlihat dari penguatan keyakinan kepada Allah SWT dan pengakuan terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Hal ini tercermin dalam pembacaan shalawat dan doa yang menumbuhkan kesadaran spiritual serta ketergantungan kepada Allah. Nilai ibadah dalam tradisi Fanten diwujudkan melalui aktivitas keagamaan seperti shalawat, doa bersama, dan partisipasi dalam kegiatan dengan niat karena Allah SWT. Masyarakat memahami bahwa seluruh rangkaian kegiatan, baik ritual maupun sosial, dapat bernilai ibadah apabila dilandasi dengan keikhlasan. Nilai akhlak tercermin dalam sikap kebersamaan, gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian sosial antar masyarakat. Tradisi Fanten menjadi sarana pembentukan karakter yang mencerminkan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Makna pendidikan Islam dalam tradisi Fanten terletak pada fungsinya sebagai media pendidikan nonformal berbasis kearifan lokal. Tradisi ini mampu mentransformasikan nilai-nilai aqidah, ibadah, dan akhlak secara integratif, sehingga membentuk kepribadian masyarakat yang religius dan berakhlak mulia. DAFTAR PUSTAKA